Vol . 19 No. Oktober Tahun 2025 Hlm. Online version available in : http://ejournal. P-ISSN 1978-631XEISSN 2655-6723 Publication of Poltekkes Kemenkes Aceh Hubungan Beban Kerja Dengan Kualitas Penerapan Service Excellence Perawat Pelaksana Di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Aceh Besar The Relationship Between Workload and the Quality of Service Excellence Implementation of Nurses at the Aceh Besar District General Hospital Eridha Putra1*. Gadis Halizasia2. Ferdi Riansyah3,Nurul Ibrahim4 Program Studi Sarjana Keperawatan. Universitas Bina Bangsa Getsempena. Banda Aceh. Indonesia *Email: eridha@bbg. Received date : 12-09-2025 Revised date : 22-09-2025 Accepted date : 27-09-2025 Abstrak: Perawat pelaksana memiliki peran strategis dalam menjamin mutu pelayanan keperawatan di rumah sakit. Beban kerja yang tinggi sering kali menjadi faktor yang dapat memengaruhi kualitas pelayanan yang diberikan, termasuk dalam penerapan service excellence. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh perawat pelaksana di ruang rawat inap, dengan jumlah sampel sebanyak 34 orang yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner beban kerja perawat dan penerapan service excellence. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan distribusi frekuensi, dan bivariat menggunakan uji Chi-Square untuk mengetahui hubungan antara beban kerja dengan penerapan service excellence. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas perawat pelaksana berusia 31Ae35 tahun, berpendidikan Diploma i Keperawatan, dan telah bekerja kurang dari lima Sebagian besar memiliki beban kerja kategori berat . ,7%) dan kualitas penerapan service excellence pada kategori cukup . ,1%). Uji Chi-Square menghasilkan nilai p = 0,242 (>0,. , menandakan tidak ada hubungan signifikan antara beban kerja dengan penerapan service excellence, meskipun secara deskriptif terlihat kecenderungan bahwa semakin berat beban kerja, semakin rendah kualitas pelayanan prima yang Kesimpulan dari penelitian ini secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan pentingnya pengelolaan beban kerja yang proporsional guna mempertahankan kualitas pelayanan prima. Peningkatan kompetensi dan motivasi perawat melalui pelatihan berkelanjutan diharapkan dapat memperkuat penerapan service excellence meskipun dalam kondisi beban kerja yang tinggi. Kata Kunci: Beban Kerja. Service Excellence. Perawat Pelaksana Abstract: Nurses play a strategic role in ensuring the quality of nursing services in hospitals. A high workload is often a factor that can affect the quality of services provided, including the implementation of service excellence. This study used a descriptive analytical design with a cross-sectional approach. The study population was all nurses in the inpatient ward, with a sample of 34 people selected through a purposive sampling technique. The instrument used was a questionnaire on nurse workload and the implementation of service excellence. Data analysis was performed univariately to describe the frequency distribution, and bivariately using the Chi-Square test to determine the relationship between workload and the implementation of service excellence. The results showed that the majority of nurses were aged 31Ae35 years, had a Diploma i in Nursing, and had worked for less than five years. Most had a heavy workload . 7%) and the quality of service excellence implementation was in the sufficient category . 1%). The Chi-Square test produced Copyright A 2025 Author Publisher: Poltekkes Kemenkes Aceh Page | 111 Vol . 19 No. Oktober Tahun 2025 Hlm. Online version available in : http://ejournal. P-ISSN 1978-631XEISSN 2655-6723 Publication of Poltekkes Kemenkes Aceh a p-value of 0. 242 (>0. , indicating no significant relationship between workload and the implementation of service excellence, although descriptively there was a tendency that the heavier the workload, the lower the quality of excellent service provided. The overall conclusion of this study is that it emphasizes the importance of proportional workload management to maintain excellent service quality. Improving nurse competency and motivation through ongoing training is expected to strengthen the implementation of service excellence, even under high workload conditions. Keywords: Workload. Service Excellence. Nurse Practitioners PENDAHULUAN Perawat pelaksana memegang peran penting dalam mengelola pasien dengan kondisi klinis yang beragam. Mereka bertanggung jawab terhadap perawatan pasien, baik dari segi jumlah pasien yang harus ditangani maupun tingkat keparahan penyakit yang memerlukan perhatian khusus (Walker et al. , 2. Beban kerja perawat semakin meningkat seiring tuntutan yang lebih besar dalam hal tanggung jawab klinis, administrasi, dan manajemen waktu. Tingginya tuntutan kerja ini sangat memengaruhi kualitas perawatan yang diberikan, di mana perawat harus berupaya menjaga keseimbangan antara memberikan perawatan optimal dan mengelola beban kerja yang berat (Galiano et al. , 2. Seiring meningkatnya jumlah pasien, beban kerja perawat pun bertambah, mencakup kuantitas pasien yang ditangani serta kompleksitas kondisi klinis (Nabela et , 2. Perawat tidak hanya memberikan perawatan langsung, tetapi juga memastikan setiap pasien menerima intervensi sesuai kebutuhan medis. Penelitian menunjukkan bahwa beban kerja tinggi dapat berdampak negatif pada kinerja perawat, mengakibatkan kelelahan, burnout, dan pada akhirnya menurunkan kualitas perawatan (Anggraeni et , 2. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kesejahteraan perawat, tetapi Copyright A 2025 Author Publisher: Poltekkes Kemenkes Aceh juga berimplikasi pada keselamatan dan kepuasan pasien. Rumah sakit sebagai fasilitas kesehatan memiliki peran strategis dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Menurut Permenkes No. 3 Tahun 2020, rumah sakit memberikan layanan kesehatan individu maupun kelompok secara menyeluruh, termasuk pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Untuk mempertahankan loyalitas pasien, rumah sakit perlu menawarkan layanan medis unggulan. Salah satunya adalah pelayanan instalasi rawat jalan yang berfokus pada diagnosis dan pengobatan penyakit akut atau kronis yang tidak memerlukan rawat inap (Syamsul, 2. Pelayanan yang baik, memenuhi harapan pasien, bahkan melebihi harapan, dapat mempermudah proses penyembuhan dan mencapai tujuan pelayanan prima . ervice (Pratiwi. Service excellence adalah pelayanan terbaik yang memenuhi harapan dan kebutuhan pelanggan, baik dalam lingkup perusahaan maupun pelayanan publik (Irawati, 2. Dalam konteks rumah sakit, service excellence berdampak langsung pada kepuasan pasien dan citra rumah sakit. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa beberapa layanan belum memenuhi standar harapan pasien (Barus, 2. Page | 112 Vol . 19 No. Oktober Tahun 2025 Hlm. Online version available in : http://ejournal. Dengan layanan dapat menghasilkan kepuasan pelanggan yang lebih besar. Perilaku seperti menguntungkan antara penyedia layanan dan pengguna, meningkatkan toleransi pelanggan terhadap kegagalan layanan, serta mendorong penyebaran informasi positif dari mulut ke mulut tentang rumah sakit merupakan hasil dari kepuasan pelanggan yang lebih tinggi (Rehaman & Husnain, 2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Balinado, et al. , disimpulkan bahwa pelayanan yang baik sangat penting dalam kepuasan pelanggan, terutama untuk layanan purna jual. Penelitian Fida, et al. mengungkapkan bahwa penerapan tiga faktor penting, yaitu kualitas layanan, kepuasan pelanggan, dan loyalitas pelanggan, berhubungan secara signifikan satu sama lain. Standar Pelayanan Minimal (SPM) Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) pada Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Aceh Besar ditetapkan melalui Peraturan Bupati Aceh Besar Nomor 17 Tahun 2024. SPM ini disusun sebagai bentuk tanggung jawab Pemerintah Kabupaten dalam menjamin mutu layanan kesehatan dasar yang wajib diperoleh setiap warga masyarakat. SPM RSUD Aceh Besar memiliki maksud untuk menjadi pertanggungjawaban pelayanan rumah sakit. Adapun tujuannya adalah meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan menjamin kepastian mutu pelayanan yang diberikan secara berkesinambungan. Hasil survei awal di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Aceh Besar yang menunjukkan bahwa 7 orang perawat belum P-ISSN 1978-631XEISSN 2655-6723 Publication of Poltekkes Kemenkes Aceh pernah mengikuti pelatihan service excellence dan sering mendapat komplain dari pasien akibat pelayanan yang kurang maksimal. Sementara itu, 3 perawat yang telah mengikuti pelatihan memberikan pelayanan lebih tenang dan berkualitas. Berdasarkan fenomena penting dilakukan penelitian mengenai hubungan antara beban kerja perawat dengan kualitas penerapan service excellence. Penelitian ini diharapkan memberikan pertimbangan bagi pihak rumah sakit dalam mengelola beban kerja perawat dan meningkatkan mutu pelayanan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross Penelitian dilaksanakan di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Aceh Besar. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling yang berjumlah 34 orang perawat. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Beban Kerja Perawat dan Penerapan Service Excellence. Uji statistik dalam penelitian ini menggunakan Uji Chi-Square. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam penelitian ini, lokasi yang menjadi fokus adalah Ruang Rawat Inap, yang merupakan salah satu unit pelayanan utama di RSUD Kabupaten Aceh Besar. Ruang rawat inap dilengkapi dengan tenaga perawat pelaksana yang bertugas memberikan asuhan keperawatan langsung kepada pasien. Jumlah perawat pelaksana di unit ini adalah 34 orang, yang tersebar di berbagai ruangan perawatan. Page | 113 Copyright A 2025 Author Publisher: Poltekkes Kemenkes Aceh Vol . 19 No. Oktober Tahun 2025 Hlm. Online version available in : http://ejournal. Tabel 1. Data Demografi Perawat Pelaksana Umur 21-25 Tahun 26-30 Tahun 31-35 Tahun 36-40 Tahun Total Pendidikan Profesi D i Total Lama Bekerja Baik Cukup Kurang Total Frequency Frequency Frequency Percent Percent Percent Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada kelompok umur 31Ae35 tahun sebanyak 12 orang . ,3%), diikuti umur 26Ae30 tahun sebanyak 10 orang . ,4%). Kelompok umur 21Ae25 tahun dan 36Ae40 tahun masing-masing berjumlah 6 orang . ,6%). Sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan Diploma i Keperawatan sebanyak 27 orang . ,4%), sedangkan sisanya memiliki pendidikan Profesi Ners sebanyak 7 orang . ,6%). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar perawat pelaksana memiliki pendidikan vokasi yang memadai untuk melaksanakan pelayanan, pendidikan profesi relatif kecil. P-ISSN 1978-631XEISSN 2655-6723 Publication of Poltekkes Kemenkes Aceh Responden dengan lama bekerja <5 tahun berjumlah 13 orang . ,2%), >10 tahun sebanyak 12 orang . ,3%), dan 5Ae10 tahun sebanyak 9 orang . ,5%). Tabel 2. Distribusi Beban Kerja Beban Kerja Berat Sedang Ringan Total Frequency Percent Mayoritas responden menilai beban kerja pada kategori berat sebanyak 22 orang . ,7%), diikuti kategori sedang 9 orang . ,5%), dan ringan hanya 3 orang . ,8%). Tingginya beban kerja ini berpotensi memengaruhi kualitas pelayanan yang Tabel 3. Distribusi Excellent Service Excellent Service < 5 Tahun 5-10 Tahun >10 Tahun Total Frequency Percent Hasil penelitian menunjukkan bahwa penilaian terhadap penerapan service excellence berada pada kategori cukup sebanyak 16 orang . ,1%), kurang sebanyak 13 orang . ,2%), dan baik hanya 5 orang . ,7%). Tabel 4. Hubungan Beban Kerja Dengan Excellent Service Beban Kerja Berat Sedang Ringan Total Baik Excellent Service Cukup Berdasarkan uji Chi-Square, diperoleh nilai p = 0,242 (>0,. , yang berarti tidak Kurang Total 0,242 terdapat hubungan yang signifikan antara beban kerja perawat dengan pelaksanaan Page | 114 Copyright A 2025 Author Publisher: Poltekkes Kemenkes Aceh Vol . 19 No. Oktober Tahun 2025 Hlm. Online version available in : http://ejournal. service excellence. Pada kategori beban kerja berat, sebagian besar responden menilai service excellence pada kategori cukup . ,0%) dan kurang . ,5%), dengan hanya 4,5% yang menilai baik. Pada kategori beban kerja sedang, penilaian cukup mencapai 44,4%, baik 33,3%, dan kurang 22,2%. Pada kategori beban kerja ringan, proporsi penilaian baik, cukup, dan kurang masingmasing sama . ,3%). PEMBAHASAN Beban Kerja Perawat Pelaksana di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Aceh Besar Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden menilai beban kerja pada kategori berat . ,7%), diikuti kategori sedang . ,5%), dan ringan . ,8%). Tingginya beban kerja ini dapat disebabkan oleh tingginya jumlah pasien yang harus ditangani, kompleksitas kondisi pasien, serta tuntutan administratif yang harus diselesaikan oleh perawat. Jika dikaitkan dengan karakteristik responden, mayoritas perawat berada pada rentang usia 26Ae35 tahun, yang umumnya memiliki kondisi fisik prima namun mungkin belum memiliki pengalaman kerja yang cukup lama untuk menangani beban kerja yang Jenis kelamin perempuan yang mendominasi juga mencerminkan tren umum dalam profesi keperawatan (Indrawati et al. , di mana perempuan sering kali menghadapi tantangan tambahan dalam menyeimbangkan pekerjaan dan tanggung jawab rumah tangga. Tingkat pendidikan sebagian besar responden adalah Diploma i Keperawatan, yang berarti latar belakang akademiknya memadai, namun kemampuan manajerial dan klinis masih dapat P-ISSN 1978-631XEISSN 2655-6723 Publication of Poltekkes Kemenkes Aceh ditingkatkan melalui pelatihan berkelanjutan (Levi et al. , 2. Penelitian sebelumnya oleh Brzozowski et al. menyatakan bahwa beban kerja sedang hingga berat pada perawat seringkali terkait dengan tingginya tuntutan pelayanan dan kompleksitas pasien. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian ini, di mana beban kerja berat mengindikasikan adanya masalah seperti kekurangan tenaga perawat, jumlah pasien yang tinggi, serta tuntutan administratif yang besar (Park & Choi, 2. Secara konsep, beban kerja yang berat memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan mental dan fisik perawat. Perawat yang terus-menerus mengalami beban kerja tinggi cenderung menghadapi risiko kelelahan fisik akibat tuntutan pekerjaan yang intens, seperti menangani banyak pasien dan menghadapi tugas-tugas administratif yang membebani (Maghsoud et al. , 2. Kelelahan ini sering kali diikuti dengan tekanan mental yang berkepanjangan, yang berkontribusi pada terjadinya burnout, suatu kondisi di mana perawat merasa kehabisan energi, kehilangan motivasi, dan merasa kurang efektif dalam menjalankan tugas mereka (Ahmadi et al. , 2022. Shan et al. Burnout tidak hanya berdampak pada perawat, tetapi memengaruhi hubungan interpersonal mereka dengan rekan kerja dan pasien, yang pada akhirnya mengganggu kualitas perawatan (Maghsoud et al. , 2. Kondisi ini juga meningkatkan kemungkinan turnover, di mana perawat yang mengalami burnout meninggalkan profesinya atau berpindah ke institusi lain dengan harapan mendapatkan lingkungan kerja yang lebih baik (Vincent et , 2. Page | 115 Copyright A 2025 Author Publisher: Poltekkes Kemenkes Aceh Vol . 19 No. Oktober Tahun 2025 Hlm. Online version available in : http://ejournal. Asumsi peneliti, tingginya beban kerja yang dialami perawat pelaksana di RSUD Kabupaten Aceh Besar meningkatkan risiko kelelahan . , serta memengaruhi kualitas interaksi dengan Hal ini konsisten dengan pendapat Norhidayat et al. bahwa beban kerja ringan memungkinkan perawat memberikan perawatan yang lebih optimal, sedangkan beban kerja berat dapat mengurangi efektivitas dan ketepatan pelayanan. Penerapan Service Excellence Perawat Pelaksana di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Aceh Besar Penelitian ini menemukan bahwa kualitas penerapan service excellence berada pada kategori cukup . ,1%), diikuti kategori kurang . ,2%), dan baik . ,7%). Hal ini menunjukkan bahwa kualitas pelayanan prima belum optimal dan masih memerlukan peningkatan, khususnya pada aspek sikap, kemampuan, dan kecepatan respon perawat terhadap kebutuhan pasien. Penelitian terdahulu oleh Irawati . menunjukkan bahwa penerapan pelayanan prima berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pasien, terutama dalam dimensi sikap ramah, keterampilan teknis, dan perhatian terhadap pasien. Hasil penelitian ini berbeda dengan temuan Alim . yang menyatakan bahwa sikap ramah perawat tidak memiliki hubungan signifikan dengan kepuasan pasien di RSUD Makassar. Perbedaan hasil ini dapat disebabkan oleh variasi karakteristik responden, budaya kerja, serta sistem pelayanan yang berbeda pada masing-masing rumah sakit. Secara konsep, service excellence merupakan pendekatan strategis dalam P-ISSN 1978-631XEISSN 2655-6723 Publication of Poltekkes Kemenkes Aceh pelayanan yang menekankan pada pemberian layanan berkualitas tinggi, yang tidak hanya memenuhi tetapi juga melebihi harapan pasien (Rehaman & Husnain, 2. Penerapan service excellence melibatkan . ikap komunikas. , dan kecepatan layanan . Penelitian oleh Balinado et al. menegaskan bahwa pelayanan yang baik merupakan faktor kunci dalam meningkatkan kepuasan, terutama pada layanan purna jual atau tindak lanjut Selain itu. Fida et al. mengungkapkan bahwa terdapat hubungan yang saling memengaruhi antara kualitas layanan, kepuasan pasien, dan loyalitas Artinya, ketika service excellence diterapkan secara konsisten, hal ini tidak hanya meningkatkan kepuasan pasien tetapi juga membangun hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan antara rumah sakit dan pasien, serta menciptakan citra positif rumah sakit melalui rekomendasi dari mulut ke mulut . ord of mout. Asumsi peneliti, penerapan service excellence di RSUD Kabupaten Aceh Besar belum maksimal karena dipengaruhi oleh beban kerja yang tinggi, keterbatasan jumlah perawat, dan minimnya pelatihan pelayanan prima yang berkelanjutan. Hal ini manajemen rumah sakit berupa penambahan tenaga perawat, pelatihan rutin service excellence, dan sistem monitoring kualitas pelayanan untuk memastikan standar pelayanan prima dapat dipertahankan. Page | 116 Copyright A 2025 Author Publisher: Poltekkes Kemenkes Aceh Vol . 19 No. Oktober Tahun 2025 Hlm. Online version available in : http://ejournal. Hubungan antara Beban Kerja Perawat dengan Kualitas Penerapan Service Excellence Berdasarkan uji Chi-Square diperoleh nilai p = 0,242 (>0,. , yang berarti tidak terdapat hubungan signifikan antara beban kerja dengan penerapan service excellence. Walaupun demikian, analisis deskriptif menunjukkan adanya kecenderungan bahwa semakin berat beban kerja, semakin rendah kualitas penerapan service excellence. Pada kategori beban kerja berat, sebagian besar responden menilai service excellence pada kategori cukup . ,0%) dan kurang . ,5%), sedangkan kategori beban kerja ringan menunjukkan distribusi penilaian yang lebih Hasil ini berbeda dengan temuan Yuliatin . yang menyatakan bahwa beban kerja yang tinggi memiliki hubungan erat dengan penurunan kinerja perawat, khususnya dalam pencegahan risiko jatuh. Yuliatin menjelaskan bahwa beban kerja berat dapat membuat perawat kesulitan menjalankan tugas secara optimal karena adanya tugas administratif non-keperawatan, tingginya jumlah pasien, dan kurangnya tenaga perawat. Penelitian ini sejalan dengan hasil Pratiwi . yang berjudul AuPengaruh Pelayanan Prima terhadap Kepuasan Pasien Rawat Jalan RSUD Labuang Baji MakassarAy, yang menunjukkan bahwa indikator pelayanan . ikap, penampilan, kemampuan, dan tanggung jawa. berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pasien. Namun, penelitian ini tidak sejalan dengan Rahmatiqa . yang meneliti AuFaktor-faktor yang Berhubungan Dengan Pelayanan Prima pada Petugas Pendaftaran Rawat Jalan di RSUD Sultan Thaha Saifuddin Kabupaten TeboAy, yang P-ISSN 1978-631XEISSN 2655-6723 Publication of Poltekkes Kemenkes Aceh menemukan tidak ada hubungan bermakna antara perhatian petugas pendaftaran dengan pelayanan yang diberikan. Secara konsep, kualitas pelayanan keperawatan tidak terlepas dari peran klasifikasi pasien di ruang rawat inap. Dengan klasifikasi yang tepat, pasien dapat memperoleh pelayanan sesuai kebutuhannya, dan pihak rumah sakit dapat mengetahui kondisi serta beban kerja perawat pada masing-masing unit (Runtu & Hamel, 2018. Beban kerja perawat meliputi seluruh kegiatan yang dilakukan selama bertugas, baik beban kerja fisik maupun mental. Beban kerja yang terlalu berat atau tidak seimbang dengan kapasitas fisik dan mental perawat dapat mengakibatkan gangguan kesehatan, penurunan kinerja, dan penurunan kualitas Beban kerja perawat dapat diukur melalui berbagai aspek seperti: jumlah pasien yang dirawat, kompleksitas kondisi pasien, tindakan langsung maupun tidak langsung yang dibutuhkan, waktu yang diperlukan kelengkapan fasilitas pendukung (Barahama. Katuuk, & Oroh, 2. Analisis beban kerja yang tepat akan membantu menentukan kebutuhan jumlah dan kompetensi tenaga perawat yang ideal, sehingga kualitas service excellence dapat terjaga. Asumsi peneliti, meskipun hasil analisis statistik menunjukkan tidak adanya hubungan signifikan, secara praktis beban kerja tetap memiliki dampak terhadap penerapan service Tingginya beban kerja dapat mengurangi waktu interaksi efektif antara perawat dan pasien, menurunkan empati, serta memperlambat respons terhadap kebutuhan Hal ini sejalan dengan Moghadam et . yang menegaskan bahwa beban kerja melebihi kapasitas akan memengaruhi Page | 117 Copyright A 2025 Author Publisher: Poltekkes Kemenkes Aceh Vol . 19 No. Oktober Tahun 2025 Hlm. Online version available in : http://ejournal. kualitas interaksi perawat-pasien, meskipun kompetensi teknis perawat tetap terjaga KESIMPULAN Mayoritas perawat pelaksana di Ruang Rawat Inap RSUD Kabupaten Aceh Besar memiliki beban kerja kategori berat. Penerapan service excellence oleh perawat umumnya berada pada kategori cukup. Hasil hubungan yang signifikan antara beban kerja dengan kualitas penerapan service excellence . = 0,. , meskipun secara deskriptif terdapat kecenderungan bahwa peningkatan beban kerja diikuti dengan penurunan kualitas pelayanan prima. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis menyampaikan terima kasih kepada Rektor Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) dan LPPM UBBG atas dukungan serta fasilitas yang diberikan dalam pelaksanaan penelitian ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Direktur Rumah Sakit Kabupaten Aceh Besar atas izin dan kerja sama yang memungkinkan penelitian ini dapat terlaksana dengan baik. DAFTAR PUSTAKA