Tahun . Vol. Nomor . Bulan (Me. Halaman . https://doi. org/10. 53544/sapa/V9i1. Sikap Saling Menghargai Antarmahasiswa melalui Kegiatan Kelompok Kecil Evangelisasi di Program Studi Pelayanan Pastoral Bernadeta Sri Jumilah1 Wiwin2 Helena Hay Leu3 Sekolah Tinggi Pastoralyayasan Institut Pastoral Indonesia Malang. Indonesia Abstrak Penulis koresponden Nama : Bernadeta Sri Jumilah Surel srivinsensius@gmail. ManuscriptAos History Submit : Februari 2025 Revisi : Maret 2025 Diterima : April 2025 Terbit : Mei 2025 Kata-kata kunci: Kata kunci 1 Kelompok kecil evangelisasi Kata kunci 2 Sikap saling menghargai Copyright A 2025 STP- IPI Malang Sikap saling menghargai merupakan faktor penting dalam menciptakan hubungan harmonis di kalangan mahasiswa, terutama di lingkungan kampus dengan keragaman latar belakang budaya dan agama seperti STP-IPI Malang Program Studi Pelayanan Pastoral. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas kegiatan kelompok kecil evangelisasi dalam meningkatkan sikap saling menghargai Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan desain pretest-posttest control group design, melibatkan dua kelompok mahasiswa: kelompok eksperimen . engikuti kegiatan evangelisas. dan kelompok kontrol . idak mengikuti kegiatan Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pada sikap saling menghargai kelompok eksperimen . ilai pretest 71,14 menjadi posttest 129,05. p-value=1,27E-. , sedangkan kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan signifikan ,. ilai pretest 58,59 menjadi posttest 63,36. p-value=0,. Kesimpulan penelitian ini adalah kegiatan kelompok kecil evangelisasi efektif meningkatkan sikap saling menghargai di kalangan mahasiswa STP-IPI Malang. Kegiatan ini direkomendasikan untuk diintegrasikan dalam kurikulum pastoral guna memperkuat karakter sosial dan spiritual mahasiswa Abstract Corresponding Author Name : Bernadeta Sri Jumilah E-mail srivinsensius@gmai. ManuscriptAos History Submit : February 2025 Revision : March 2025 Accepted : April 2025 Published : May 2025 Keywords: Keyword 1 Mutual respect Keyword 2 Small group evangelization Copyright A 2025 STP- IPI Malang Mutual respect is essential in fostering harmonious relationships among students, especially within diverse campus environments such as STP-IPI Malang Pastoral Ministry Study Program. This study aims to evaluate the effectiveness of small-group evangelization activities in enhancing mutual respect among students. An experimental method with a pretestposttest control group design was utilized, involving two student groups: an experimental group . articipating in evangelization activitie. and a control group . ot participatin. Results showed a significant increase in mutual respect within the experimental group . retest score 71. 14 to p-value=1. 27E-. , whereas the control group did not exhibit significant changes . retest score 58. 59 to posttest 63. pvalue=0. The study concludes that small-group evangelization effectively enhances mutual respect among STP-IPI Malang students. Integrating these activities into the pastoral curriculum is recommended to strengthen students' social and spiritual character development. https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Bernadetha Sri Jumilah, dkk | Sikap Saling Menghargai Pendahuluan Sikap saling menghargai merupakan aspek penting dalam interaksi sosial di berbagai lingkungan, termasuk perguruan tinggi (Feriani, 2. Di lingkungan kampus, sikap ini sangat dibutuhkan untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif dan nyaman, serta memperkuat hubungan antar mahasiswa. Sikap saling menghargai merupakan fondasi penting untuk menciptakan hubungan harmonis dan saling menghormati dalam kehidupan bermasyarakat (Sajadi, 2. Pentingnya sikap menghargai ini juga ditegaskan dalam penelitian yang menunjukkan bahwa menghargai perbedaan secara aktif dapat menciptakan lingkungan yang kondusif dan mendukung bagi kehidupan bermasyarakat (Alwasi et al. STP-IPI Malang Program Studi Pelayanan Pastoral memiliki mahasiswa dengan beragam latar belakang budaya dan suku yang tinggal bersama di asrama kampus. Kondisi ini potensial menimbulkan perbedaan pendapat, bahkan konflik di kalangan mahasiswa. Situasi serupa juga ditemukan dalam penelitian yang dilakukan oleh Lamanepa et al. yang menunjukkan bahwa perbedaan latar belakang budaya antar mahasiswi asrama dapat menghambat interaksi sosial dan menyebabkan pengelompokan berdasarkan angkatan atau asal daerah (Lamanepa et al. , 2. Observasi awal menunjukkan bahwa masih terdapat sikap saling tidak menghargai antar mahasiswa, ditunjukkan melalui minimnya interaksi sosial seperti tidak saling menyapa dan kurangnya penerapan etika sosial. Oktawirawan dan Kristiyanti . juga mengungkapkan bahwa perbedaan latar belakang agama dan budaya dapat menimbulkan tantangan dalam membangun keharmonisan relasi sosial, jika tidak diiringi dengan sikap saling memahami dan komunikasi yang baik (Oktawirawan & Kristiyanti, 2. Hal ini mencerminkan penurunan nilai-nilai kristiani dalam komunitas Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan sikap saling menghargai ini, salah satunya melalui kelompok kecil evangelisasi (Jumilah & Dacosta, 2. Kelompok kecil sebagai metode pembinaan iman sangat efektif dalam membantu mahasiswa bertumbuh dalam hubungan dengan Tuhan dan memperkuat kasih terhadap sesama (Sabambam et al. Kegiatan kelompok kecil evangelisasi berkontribusi positif dalam meningkatkan aspek-aspek sosial dan spiritual mahasiswa. Kegiatan dalam kelompok kecil evangelisasi tidak hanya mendorong pertumbuhan iman pribadi, tetapi juga menciptakan ruang dialog dan keterbukaan antaranggota yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Melalui pembacaan Kitab Suci bersama, sharing pengalaman hidup, serta doa bersama secara rutin, mahasiswa dilatih untuk mendengarkan dengan empati dan mengungkapkan pendapat secara terbuka dalam semangat kasih. Proses ini membentuk budaya komunikasi yang sehat, memperkuat solidaritas komunitas, serta membiasakan mahasiswa untuk tidak hanya menerima keberagaman, tetapi juga merayakannya sebagai kekayaan rohani dan sosial dalam kehidupan kampus. https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Bernadetha Sri Jumilah, dkk | Sikap Saling Menghargai Lebih jauh lagi, interaksi yang dibangun dalam kelompok kecil evangelisasi menjadi sarana praktis untuk menginternalisasi nilai-nilai injili seperti kasih, pengampunan, dan kerendahan hati. Nilai-nilai tersebut berperan penting dalam membentuk karakter mahasiswa agar memiliki sikap saling menghargai dalam relasi sosial sehari-hari. Kehadiran komunitas kecil yang bersifat inklusif dan partisipatif ini menjadi tempat pembelajaran hidup bersama dalam perbedaan, yang pada akhirnya mendukung terciptanya lingkungan akademik yang harmonis dan berdaya spiritual tinggi. Konsep penghargaan terhadap keberagaman di lingkungan akademik menjadi semakin relevan mengingat fenomena globalisasi yang menyebabkan semakin tingginya intensitas interaksi antarbudaya. Pendidikan multikultural yang ditekankan di perguruan tinggi membantu mahasiswa untuk menerima perbedaan dengan lebih terbuka dan toleran (Toriyono et al. , 2. Perguruan tinggi yang berhasil menerapkan pendekatan pendidikan multikultural mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik tetapi juga memiliki kecakapan sosial yang tinggi dalam menghargai perbedaan (Rudiyanto et al. , 2. Di samping itu, sikap saling menghargai memiliki keterkaitan erat dengan pengembangan karakter dalam pendidikan tinggi. Pendidikan karakter tidak sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi juga bertujuan untuk mengubah perilaku peserta didik agar memiliki sikap dan nilai-nilai positif (Astuti et al. , 2. Dalam konteks STP-IPI Malang, nilai-nilai Kristiani yang dianut dapat dijadikan sebagai dasar kuat dalam pengembangan karakter mahasiswa, khususnya dalam memperkuat sikap saling menghargai (Dahurandi et , 2. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Elsiana. Ladamay, dan Wadu . mengenai hubungan keberagaman budaya terhadap sikap toleransi antar mahasiswa menunjukkan bahwa keberagaman budaya di kampus dapat menjadi sumber kekuatan jika diolah dengan baik melalui berbagai pendekatan pendidikan, seperti diskusi kelompok dan kegiatan interaktif. Mereka menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara keberagaman budaya terhadap sikap toleransi antar mahasiswa. Hal ini dibuktikan dengan nilai Ftabel sebesar 3,88 dan Fhitung sebesar 1,311, sehingga Fhitung > Ftabel serta nilai signifikan sebesar 0,000. Diketahui bahwa nilai signifikan < 0,005 maka dapat disimpulkan bahwa keberagaman budaya berpengaruh terhadap sikap toleransi antar mahasiswa (Elsiana et al. Lebih lanjut. Khairunnisa . menjelaskan bahwa interaksi sosial yang baik antar anggota kelompok dapat meningkatkan kohesivitas kelompok. Semakin baik interaksi sosial yang terjalin, maka semakin kuat kohesivitas kelompok tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi yang positif dalam suatu kelompok mampu menciptakan keterikatan emosional dan kohesi sosial yang tinggi (Khairunnisa, 2. Kelompok kecil evangelisasi sebagai wadah interaksi rutin mahasiswa memungkinkan terjadinya proses sosialisasi nilainilai positif, termasuk penghargaan terhadap perbedaan. Melalui interaksi yang intensif dan https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Bernadetha Sri Jumilah, dkk | Sikap Saling Menghargai terstruktur ini, diharapkan mahasiswa mampu menginternalisasi sikap saling menghargai dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam perspektif sosial-teologis. Gereja Katolik melalui dokumen Nostra Aetate . menegaskan pentingnya sikap saling menghormati dan berdialog dengan agama dan budaya lain (Second Vatican Council, 1. Dokumen ini menjadi pijakan kuat untuk mengembangkan sikap saling menghargai di lingkungan perguruan tinggi Katolik seperti STP-IPI Malang. Selain itu. Paus Fransiskus melalui ensiklik Fratelli Tutti . mengajak umat Katolik untuk membangun persaudaraan universal melalui dialog, pengertian, dan penghormatan terhadap sesama manusia tanpa memandang perbedaan latar belakang budaya, agama, dan sosial-ekonomi (Francis, 2. Pemahaman yang sama juga ditegaskan oleh Messakh et al. , yang menjelaskan bahwa dialog antarbudaya dan agama merupakan salah satu aspek penting dalam pendidikan agama Kristen yang bertujuan untuk mengembangkan karakter individu secara holistik (Messakh et al. , 2. Dalam konteks pendidikan tinggi, pendekatan ini mampu menumbuhkan kesadaran mahasiswa tentang pentingnya menghormati perbedaan dan memperkuat identitas iman mereka sendiri tanpa menutup diri terhadap keberadaan pihak Dengan demikian, pengembangan sikap saling menghargai menjadi bagian integral dari proses pendidikan agama yang tidak hanya menyangkut aspek spiritualitas tetapi juga moral dan sosial. Lebih lanjut, penelitian sebelumnya oleh Mahsun . menunjukkan bahwa pendekatan dialog interreligius dan interbudaya secara aktif dapat meningkatkan keterbukaan mahasiswa terhadap perbedaan, mengurangi prasangka negatif, serta memperkuat kohesi sosial dalam komunitas akademik (Mahsun, 2. Melalui diskusi dan refleksi mendalam dalam kelompok kecil, mahasiswa diajak untuk memahami bahwa perbedaan bukanlah ancaman melainkan peluang untuk memperkaya pemahaman mereka tentang kehidupan bermasyarakat yang harmonis dan inklusif. Selain itu, menurut penelitian yang dilakukan oleh Darmiany . , pendidikan karakter yang melibatkan interaksi intensif dalam kelompok kecil secara signifikan mampu meningkatkan keterampilan sosial seperti empati, komunikasi efektif, dan kerja sama (Darmiany, 2. Dalam konteks pendidikan, keterampilan ini sangat diperlukan untuk mempersiapkan mahasiswa sebagai individu yang kompeten dan mampu menghadapi berbagai tantangan sosial dalam masyarakat yang semakin beragam. Oleh karena itu, intervensi melalui kelompok kecil evangelisasi menjadi sangat relevan untuk diterapkan sebagai bagian dari strategi pendidikan karakter yang komprehensif di perguruan tinggi Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen. Rancangan yang digunakan adalah true experimental design dengan bentuk pretest-posttest control group design. Pemilihan rancangan ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Bernadetha Sri Jumilah, dkk | Sikap Saling Menghargai kegiatan kelompok kecil evangelisasi dalam meningkatkan sikap saling menghargai di antara mahasiswa Program Studi Pelayanan Pastoral STP-IPI Malang. Rancangan ini dipilih karena mampu menunjukkan perubahan yang terjadi secara jelas antara kondisi sebelum dan setelah intervensi diberikan, serta membandingkan hasil antara kelompok eksperimen dan kelompok Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa tingkat I Program Studi Pelayanan Pastoral STP-IPI Malang yang berjumlah 43 orang. Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik probability sampling berupa simple random sampling, yang menghasilkan dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen sebanyak 21 orang dan kelompok kontrol sebanyak 22 orang. Pemilihan mahasiswa tingkat I sebagai sampel didasarkan pada pertimbangan bahwa mahasiswa ini masih tinggal di asrama kampus dan lebih mudah dikoordinir untuk pelaksanaan kegiatan intervensi. Instrumen penelitian yang digunakan berupa kuesioner sikap saling menghargai yang dikembangkan berdasarkan indikator penghargaan terhadap keberagaman, penghormatan terhadap hak asasi manusia, serta sikap adil dan bijaksana. Instrumen ini menggunakan skala Likert lima poin, mulai dari sangat tidak setuju hingga sangat setuju. Sebelum digunakan, instrumen telah melalui proses uji validitas dan reliabilitas untuk memastikan kualitas data yang diperoleh. Prosedur pengumpulan data diawali dengan pemberian pretest kepada kedua kelompok. Selanjutnya, kelompok eksperimen diberikan perlakuan berupa kegiatan kelompok kecil evangelisasi yang terdiri dari empat pertemuan dengan tema yang relevan dengan indikator Sementara itu, kelompok kontrol tidak mendapatkan perlakuan khusus selama periode intervensi. Setelah periode intervensi selesai, kedua kelompok kembali diberikan posttest untuk mengukur perubahan yang terjadi. Data yang diperoleh kemudian diolah dengan menggunakan bantuan program statistik IBM SPSS versi 25. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis statistik deskriptif dan Statistik deskriptif digunakan untuk menggambarkan data yang diperoleh secara umum, sedangkan analisis inferensial berupa uji-t independen digunakan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dalam peningkatan sikap saling menghargai. Hasil dan Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada sikap saling menghargai antarmahasiswa setelah mengikuti kegiatan kelompok kecil evangelisasi. Kelompok eksperimen menunjukkan peningkatan nilai rata-rata yang cukup besar antara pretest dan posttest, sedangkan kelompok kontrol hanya mengalami sedikit perubahan. Hal ini mengindikasikan bahwa intervensi yang diberikan melalui kegiatan kelompok kecil evangelisasi memiliki dampak nyata dalam meningkatkan sikap saling menghargai https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Bernadetha Sri Jumilah, dkk | Sikap Saling Menghargai Peningkatan yang terjadi pada kelompok eksperimen didukung oleh desain kegiatan evangelisasi yang secara aktif melibatkan mahasiswa dalam berbagai aktivitas interaktif, seperti diskusi kelompok, refleksi pribadi, dan sesi berbagi pengalaman. Proses ini memungkinkan mahasiswa tidak hanya memahami konsep sikap saling menghargai secara teoritis, tetapi juga langsung mengalami dan menginternalisasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa menjadi lebih sensitif dan terbuka terhadap pandangan dan perbedaan yang dimiliki oleh sesama rekannya, yang pada akhirnya membangun hubungan interpersonal yang lebih harmonis di lingkungan kampus. Selain itu, intervensi melalui kelompok kecil evangelisasi juga menciptakan ruang aman bagi mahasiswa untuk berbagi pemikiran dan perasaan secara jujur. Kondisi ini membantu mengurangi kecanggungan sosial yang sebelumnya ada, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri mahasiswa untuk terlibat dalam interaksi sosial yang positif. Melalui aktivitas rutin ini, mahasiswa mulai mengembangkan kebiasaan positif dalam bersikap dan berperilaku yang mencerminkan penghargaan terhadap sesama, termasuk dalam situasi yang melibatkan perbedaan latar belakang budaya, agama, dan pendapat. Sebaliknya, kelompok kontrol yang tidak menerima intervensi spesifik tersebut cenderung tidak menunjukkan perubahan yang berarti dalam sikap saling menghargai. Hal ini mempertegas bahwa tanpa adanya strategi yang terstruktur dan interaktif, mahasiswa tidak secara otomatis mengembangkan sikap positif yang diinginkan. Temuan ini sekaligus menunjukkan pentingnya peran institusi pendidikan dalam merancang dan menerapkan program intervensi yang jelas dan berkelanjutan untuk membangun karakter mahasiswa yang menghargai keberagaman. Data hasil pretest dari kelompok eksperimen dan kontrol disajikan dalam tabel berikut: Tabel 1 Data Hasil Pretest Kelompok Eksperimen dan Kontrol Pretest (Mea. Eksperimen 71,14 Standar Deviasi Pretest 11,09 Kontrol 58,59 10,50 Kelompok Berdasarkan Tabel 1, kelompok eksperimen memiliki nilai rata-rata pretest yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol, namun keduanya masih berada dalam kategori yang memerlukan peningkatan. Hal ini menunjukkan bahwa sebelum intervensi diberikan, kedua kelompok memiliki potensi yang relatif sama untuk berkembang dalam aspek sikap saling Namun, perbedaan awal ini juga memberikan indikasi bahwa mahasiswa dalam kelompok eksperimen mungkin sudah memiliki pemahaman awal yang sedikit lebih baik tentang pentingnya sikap saling menghargai, yang berpotensi memberikan keuntungan saat menerima intervensi. Lebih lanjut, meskipun kedua kelompok memiliki nilai awal yang berbeda, perlu ditekankan bahwa intervensi yang diberikan dirancang khusus untuk mendorong https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Bernadetha Sri Jumilah, dkk | Sikap Saling Menghargai pengembangan sikap saling menghargai secara signifikan. Dengan demikian, intervensi tidak hanya ditujukan untuk memperbaiki sikap yang rendah tetapi juga memperkuat sikap positif yang sudah dimiliki. Hal ini memastikan bahwa setiap mahasiswa dalam kelompok eksperimen mendapatkan manfaat maksimal dari kegiatan yang diikuti. Selain itu, meskipun kelompok kontrol memiliki nilai awal lebih rendah, situasi ini menegaskan pentingnya intervensi yang terarah dan terencana. Tanpa adanya intervensi, perubahan sikap yang signifikan sulit tercapai, meskipun mahasiswa berada dalam lingkungan yang sama. Oleh karena itu, hasil ini menegaskan bahwa perencanaan intervensi berbasis kelompok kecil evangelisasi sangat efektif dalam menciptakan perubahan positif pada sikap saling menghargai mahasiswa. Setelah intervensi melalui kegiatan kelompok kecil evangelisasi, hasil posttest menunjukkan peningkatan yang signifikan pada kelompok eksperimen seperti yang ditampilkan dalam Tabel 2. Tabel 2. Data Hasil Posttest Kelompok Eksperimen dan Kontrol Kelompok Mean Posttest Standar Deviasi Pretest Eksperimen 129,05 7,00 Kontrol 63,36 8,09 Tabel 2 menunjukkan bahwa kelompok eksperimen mengalami peningkatan yang signifikan dengan rata-rata posttest sebesar 129,05 dibandingkan kelompok kontrol yang hanya mencapai 63,36. Peningkatan ini memperlihatkan bahwa kegiatan evangelisasi dalam kelompok kecil berhasil membantu mahasiswa dalam mengembangkan sikap yang lebih terbuka terhadap sesama, terutama dalam konteks perbedaan yang ada. Lebih lanjut, peningkatan yang signifikan ini menunjukkan efektivitas metode intervensi yang digunakan dalam penelitian. Mahasiswa dalam kelompok eksperimen tidak hanya mampu meningkatkan pemahaman teoritis mereka, tetapi juga secara nyata memperlihatkan perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini membuktikan bahwa pendekatan interaktif yang menekankan refleksi dan diskusi terbuka sangat efektif dalam pembentukan karakter mahasiswa. Sebaliknya, kelompok kontrol yang tidak mendapatkan intervensi hanya menunjukkan sedikit peningkatan nilai posttest. Hal ini memperkuat asumsi bahwa perubahan signifikan pada sikap sosial mahasiswa membutuhkan upaya khusus dan intervensi yang dirancang dengan cermat. Tanpa intervensi semacam itu, peningkatan sikap sosial yang signifikan menjadi sulit untuk dicapai. Tabel 3 berikut menyajikan hasil analisis statistik deskriptif untuk mengetahui besarnya peningkatan yang dialami kedua kelompok. https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Bernadetha Sri Jumilah, dkk | Sikap Saling Menghargai Tabel 3. Hasil Analisis Statistik Deskriptif (Posttest - Pretes. Kelompok Mean Pretest Mean Posttest Peningkatan (%) Eksperimen 71,14 129,05 81,4% Kontrol 58,59 63,36 8,1% Data dari Tabel 3 memperlihatkan peningkatan yang jelas pada kelompok eksperimen sebesar 81,4%, sedangkan kelompok kontrol hanya mengalami peningkatan minimal sebesar 8,1%. Peningkatan yang besar ini menandakan bahwa intervensi yang diterapkan melalui kelompok kecil evangelisasi memiliki pengaruh yang kuat dalam merubah perilaku sosial mahasiswa secara positif. Perbedaan yang mencolok ini dapat diatribusikan kepada efektivitas pendekatan evangelisasi yang bersifat partisipatif dan interaktif, yang memungkinkan mahasiswa mengeksplorasi dan merefleksikan sikap dan perilaku mereka secara mendalam. Interaksi yang terjadi dalam kelompok kecil menciptakan kesempatan yang luas bagi mahasiswa untuk saling belajar dan menerima pandangan-pandangan baru yang sebelumnya belum mereka kenali atau pahami. Sebaliknya, minimnya peningkatan pada kelompok kontrol mencerminkan bahwa sekadar berada dalam lingkungan yang sama tanpa intervensi yang disengaja tidak secara otomatis akan membawa perubahan yang signifikan dalam sikap sosial mahasiswa. Temuan ini memperkuat pentingnya peran aktif institusi pendidikan dalam memfasilitasi dan mendorong pembentukan karakter melalui program-program khusus yang dirancang secara Hasil uji normalitas Kolmogorov-Smirnov untuk memastikan data memenuhi syarat analisis statistik disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Hasil Uji Normalitas Data Kelompok Eksperimen dan Kontrol Kelompok Data Rata-rata Eksperimen Eksperimen Kontrol Kontrol Pretest Posttest Pretest Posttest 71,14 129,05 58,59 63,36 Simpangan Baku 11,09 7,00 11,90 8,09 Nilai D 0,230 0,130 0,250 0,161 Nilai K . 0,287 0,287 0,281 0,281 Keterangan Normal Normal Normal Normal Hasil uji normalitas Kolmogorov-Smirnov pada Tabel 4 memperlihatkan bahwa nilai D untuk pretest dan posttest pada kelompok eksperimen maupun kontrol semuanya lebih kecil dari nilai K . Hal ini menunjukkan bahwa semua data penelitian memenuhi asumsi https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Bernadetha Sri Jumilah, dkk | Sikap Saling Menghargai distribusi normal, sehingga valid untuk digunakan dalam analisis statistik inferensial lebih Kondisi normalitas data ini penting karena menjamin bahwa uji statistik lanjutan, seperti uji-t independen, dapat dilakukan dengan akurat tanpa bias yang signifikan akibat penyimpangan distribusi data. Dengan data yang normal, kesimpulan penelitian menjadi lebih terpercaya dan dapat digeneralisasikan secara lebih luas pada populasi yang relevan. Lebih lanjut, hasil uji normalitas ini juga memperkuat validitas temuan penelitian. Dengan terjaminnya normalitas data, intervensi yang dilakukan dan hasil peningkatan sikap saling menghargai yang diamati pada kelompok eksperimen memiliki dasar statistik yang kuat, memastikan bahwa peningkatan tersebut bukan hasil dari kebetulan semata melainkan dampak nyata dari intervensi yang diterapkan. Selanjutnya, hasil uji-t independen untuk membuktikan signifikansi perbedaan antara kedua kelompok disajikan pada Tabel 5 berikut: Tabel 5. Hasil Uji-t Kelompok Eksperimen dan Kontrol Kelompok Eksperimen Kontrol t-hitung -20,23 -1,55 Sig. -taile. 0,000 0,127 Keterangan Signifikan Tidak Signifikan Berdasarkan hasil uji-t, hipotesis nol (H. ditolak untuk kelompok eksperimen dan diterima untuk kelompok kontrol, yang menunjukkan bahwa kegiatan kelompok kecil evangelisasi menyebabkan peningkatan signifikan dalam sikap saling menghargai pada kelompok eksperimen. Hasil ini sejalan dengan konsep pendidikan karakter oleh Lickona, yang menegaskan pentingnya pendekatan interaktif dalam pembentukan karakter sosial. Lickona mengidentifikasi tiga elemen utama dalam pendidikan karakter: mengetahui yang baik . nowing the goo. , mencintai yang baik . oving the goo. , dan melakukan yang baik . cting the goo. Elemen-elemen ini menekankan pentingnya pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku moral yang saling terhubung dan perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (Munawarsyah et al. , 2. Selain itu, hasil penelitian ini mengonfirmasi temuan sebelumnya oleh Munawarsyah et . , yang menemukan bahwa pendidikan karakter berbasis komunitas memberikan dampak signifikan terhadap sikap sosial mahasiswa. Mereka menekankan bahwa pendidikan karakter yang efektif harus mengintegrasikan teknologi dengan nilai-nilai moral melalui pendekatan komprehensif, melibatkan semua elemen masyarakat, dan menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pengembangan karakter yang baik (Munawarsyah et , 2. Secara praktis, hasil penelitian ini menggarisbawahi perlunya kegiatan yang dirancang secara spesifik dan terstruktur dalam pengembangan karakter mahasiswa. Hasil ini memberikan kontribusi yang jelas terhadap pengembangan teori pendidikan multikultural https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Bernadetha Sri Jumilah, dkk | Sikap Saling Menghargai yang menekankan pentingnya pendidikan interaktif dan reflektif dalam menciptakan lingkungan kampus yang kondusif bagi pengembangan sikap saling menghargai. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kegiatan kelompok kecil evangelisasi efektif meningkatkan sikap saling menghargai di kalangan mahasiswa Program Studi Pelayanan Pastoral STP-IPI Malang. Hal ini dibuktikan melalui analisis data yang menunjukkan peningkatan signifikan pada kelompok eksperimen dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hasil uji-t independen menunjukkan bahwa hipotesis nol (H. ditolak untuk kelompok eksperimen dan diterima untuk kelompok kontrol, menegaskan efektivitas intervensi melalui kegiatan kelompok kecil evangelisasi dalam mengembangkan karakter sosial mahasiswa. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa pendekatan interaktif dan reflektif dalam kelompok kecil evangelisasi secara nyata mampu membantu mahasiswa dalam memahami, menghargai, serta menerima keberagaman, yang merupakan aspek penting dalam pendidikan karakter dan pembinaan pastoral. Lebih lanjut, temuan penelitian ini menegaskan perlunya lembaga pendidikan pastoral untuk mengintegrasikan program-program yang bersifat interaktif dan reflektif ke dalam kurikulum mereka secara konsisten dan berkelanjutan. Hal ini penting agar mahasiswa tidak hanya memahami nilai-nilai saling menghargai secara teori, tetapi juga dapat menerapkannya dalam praktik kehidupan sehari-hari. Institusi pendidikan juga disarankan agar secara rutin mengevaluasi efektivitas kegiatan evangelisasi yang dilakukan untuk memastikan bahwa pendekatan yang digunakan tetap relevan dan berdampak positif bagi perkembangan Selain itu, hasil penelitian ini membuka peluang bagi penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi berbagai aspek lain dalam pendidikan karakter melalui pendekatan kelompok kecil evangelisasi. Penelitian mendatang dapat memperluas cakupan variabel yang diteliti, seperti dampak jangka panjang dari kegiatan evangelisasi terhadap perilaku sosial dan spiritual mahasiswa, atau membandingkan efektivitas pendekatan ini dalam konteks yang berbeda. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi praktis bagi pengembangan program pembinaan karakter tetapi juga memberikan dasar bagi pengembangan teori pendidikan multikultural dalam konteks pastoral. Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian ini. Terima kasih secara khusus disampaikan kepada Sekolah Tinggi Pastoral-Yayasan Institut Pastoral Indonesia Malang (STP-IPI Malan. yang telah memberikan izin dan fasilitas selama penelitian berlangsung. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Program Studi Pelayanan Pastoral dan seluruh mahasiswa Program Studi Pelayanan Pastoral yang telah berpartisipasi aktif sebagai responden dalam penelitian ini. https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Bernadetha Sri Jumilah, dkk | Sikap Saling Menghargai Referensi