ISSN (Onlin. : 3046-5966 Volume 2 Nomor 1 Desember 2024 DOI: 10. 47575/mb. Page: 15-22 Standardisasi Ekstrak Etanol Daun Ciplukan (Physalis angulata L. Arfian Rizki Fauzi. Amanda Dwi Aprilia. Fauziah Noer Jannah. Rahma Ais Aziza Putri. Viona Ratu Cahyani Program Studi Farmasi. STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun. Indonesia Recieved: Juni 2024 | Revised: September 2024 | Published: Desember 2024 ABSTRAK Daun ciplukan (Physalis angulata L. ) sering digunakan oleh masyarakat karena memiliki banyak khasiat sebagai obat tradisional, sehingga diperlukan standardisasi untuk menghasilkan simplisia berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk memastikan bahawa ekstrak daun ciplukan memenuhi parameter standar Parameter standar simplisia daun ciplukan meliputi parameter spesifik dan non-spesifik. Secara organoleptik, ekstraknya berbentuk hijau kehitaman, berbau aromatik/khas, dan rasanya pahit. Ekstrak daun ciplukan mengandung senyawa alkaloid, steroid, dan saponin. Kandungan senyawa larut air dalam simplisia adalah 17,1%, sedangkan kandungan senyawa larut etanol adalah 16%. Simplisia memiliki kadar air sebesar 6,4% dan susut pengeringan sebesar 1,08%. Bobot jenis ekstrak dari simplisia adalah 0,832 g/ml, sedangkan bobot jenis air adalah 0,98 g/ml. Kadar abu total dalam simplisia adalah 2,79%, dan kadar abu yang tidak larut dalam asam adalah 0,97%. Kata kunci: Ciplukan (Physalis angulata L. Standardisasi. Parameter Spesifik. Parameter Non Spesifik. ABSTRACT Ciplukan leaves (Physalis angulata L. ) are often used by the community because they have many benefits as traditional medicine so it is necessary to standardize to get good simplisia. This study aims to ensure that the ciplukan leaf extract meets the standard extract parameters. The standard parameters of ciplukan leaf simplicia include specific and non-specific parameters. Organoleptically, the extract is blackish green, has an aromatic/distinctive odor, and tastes bitter. The ciplukan leaf extract contains alkaloid, steroid, and saponin compounds. The content of water-soluble compounds in the drug is 17. 1%, while the content of ethanol-soluble compounds is 16%. The drug has a water content of 6. 4% and a drying loss of 1. The specific gravity of the extract from the drug is 0. 832 g/ml, while the specific gravity of water is 0. 98 g/ml. The total ash content in the drug is 2. 79%, and the ash content that is insoluble in acid is 0. Keywords: Ciplukan (Physalis angulata L). Standardization. Specific Parameters. Non-Specific Parameters. Corresponding Author: Email : arfianfauzi456@gmail. Address : Jl. Taman Praja No. Mojorejo. Kec. Taman. Kota Madiun. Jawa Timur This article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Arfian Rizki Fauzi dkk. Standardisasi Ekstrak Etanol Daun Ciplukan (Physalis Angulata L. PENDAHULUAN Tanaman memiliki peran penting sebagai sumber bahan pangan, dan beberapa jenis sangat diperlukan untuk kesehatan manusia. Indonesia memiliki banyak keragaman tumbuhan yang dapat digunakan untuk pengobatan. Dari 30. 000 jenis tumbuhan, 7. 500 jenis dapat dimanfaatkan sebagai tanaman obat, 000 simplisia telah digunakan sebagai obat tradisional, 63 simplisia sebagai obat herbal terstandar, dan hanya 24 simplisia yang menjadi fitofarmaka (Amir & Abna, 2. Salah satu tanaman di Indonesia yang bisa dimanfaatkan untuk tujuan pengobatan adalah ciplukan (Physalis angulata L). Tanaman ini telah teruji dan terbukti digunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai obat alternatif untuk kanker payudara, mencegah batu ginjal . , dan berfungsi sebagai antioksidan alami (Maliangkay dkk. , 2. Tanaman ini banyak tumbuh liar di kebun atau tanah kosong yang kondisinya sedikit Ciplukan (Physalis angulata L) tersebar di seluruh Indonesia dengan berbagai nama Ciplukan telah digunakan sebagai sumber buah atau obat tradisional, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku dalam bidang biofarmasi maupun nonbiofarmasi (Fadhli dkk. , 2. Banyak penelitian telah dilakukan terhadap tanaman ciplukan, baik dalam hal keanekaragaman varietas maupun manfaatnya. Penelitian ini mencakup penggunaannya dalam pengobatan, terutama untuk diabetes dan asma, serta sebagai bahan baku makanan seperti Selain itu, ada juga studi yang meneliti hubungan filogenetik antar spesies ciplukan (Fadhilla dkk. , 2. Tanaman ini telah digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengobati diabetes, gusi berdarah, bisul, maag, dan menurunkan demam. Selain itu, daun ciplukan juga bermanfaat sebagai antipiretik, analgesik, diuretik, antiinflamasi, dan detoksifikasi. Tanaman ini mengandung senyawa aktif seperti steroid, alkaloid, flavonoid, dan saponin (Fadhilla dkk. , 2. Skrining fitokimia adalah langkah awal dalam penelitian fitokimia yang bertujuan untuk mengidentifikasi kelompok senyawa yang terdapat di dalam tanaman yang sedang Metode skrining fitokimia dilakukan dengan mengamati reaksi perubahan warna menggunakan pereaksi warna. Faktor penting yang mempengaruhi skrining fitokimia adalah pemilihan pelarut dan metode ekstraksi yang digunakan (Koch dkk. , 2. Kandungan senyawa fitokimia dalam tanaman bisa bervariasi tergantung pada pelarut ekstraksi yang digunakan, waktu panen, dan lokasi Setiap bagian tanaman seperti biji, daun, kulit akar, dan kulit batang memiliki kadar senyawa fitokimia yang berbeda-beda. Proses pengeringan, baik menggunakan sinar matahari, angin, pembekuan, maupun oven, juga dapat mempengaruhi komposisi kuantitatif senyawa fitokimia. Standarisasi ekstrak etanol daun ciplukan (Physalis angulata L) dilakukan untuk memastikan kualitas dan keamanannya sebagai bahan obat herbal. Standarisasi ekstrak meliputi uji spesifik dan non spesifik. Uji spesifik berfokus pada senyawa atau golongan senyawa yang bertanggung jawab terhadap aktivitas Sedangkan, parameter non spesifik berfokus pada aspek kimia, mikrobiologi, dan fisis yang akan mempengaruhi keamanan dan stabilitas (Utami, 2. Ekstrak ini dapat digunakan untuk mengobati penyakit seperti kanker payudara, mencegah batu ginjal . , dan juga sebagai antioksidan alami (Maliangkay dkk. , 2. Tujuan penelitian ini adalah untuk menstandarisasi kandungan senyawa yang ada pada daun ciplukan, serta dapat memberikan dasar ilmiah untuk pengembangan obat herbal yang aman dan efektif dari daun ciplukan (Physalis angulata L). METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai bulan Mei 2024 di Laboratorium Teknologi Farmasi. STIKES Bhakti Husada Mulia. Madiun. Alat Alat yang digunakan adalah, pisau, kertas saring, spatel, corong (Pyre. , wadah maserasi . otol gela. , cawan porselin, krus porselin, pipet volume, beaker glass (Iwak. , gelas ukur (Iwak. , erlenmeyer (Pyre. , labu ukur (Iwak. , desikator, timbangan analitik . Mantra Bhakti, 2. 2024: 15-22 | 17 waterbath (Faithfu. , oven, rotary evaporator, botol timbang, tanur . hermo scientif. , blender, piknometer . , moisture analyzer (Ohau. , tabung reaksi, rak tabung reaksi, ayakan mesh Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu daun ciplukan (Physalis angulate L), aquadest, etanol 96%. HCL. Mg. KOH. FeCl3, pereaksi Liberman-Burchard. Pembuatan Simplisia dan Ekstrak Daun ciplukan (Physalis angulate L) diperoleh dari Kabupaten Ngawi. Jawa Timur. Kemudian daun ciplukan disortasi basah untuk menghilangkan kotoran atau bahan asing lainnya dari daun tersebut. Ini dilakukan dengan mencucinya menggunakan air bersih yang mengalir, kemudian meniriskannya dan memotongnya kecil-kecil dengan pisau kemudian dilakukan pengeringan dengan cara diangin-anginkan ditutup kain hitam. Setelah daun ciplukan kering. Langkah berikutnya mengubah menjadi serbuk menggunakan blender dan menyaringnya menggunakan ayakan mesh nomor 40 (Sari, 2. Ekstrak dibuat dengan cara maserasi. Serbuk simplisia sebanyak 400 gram direndang dengan etanol 96% sebanyak 4 liter selama 5 hari dengan pengadukan satu kali setiap Filtrat yang dihasilkan kemudian dilakukan penyaringan dengan kain flannel sebanyak 2 kali dan menggunakan kertas saring sebanyak 1 kali. Hasil filtrat dilakukan pemekatan menggunakan rotatory evaporator dengan suhu 60AC. Selanjutnya dilakukan pemekatan kembali menggunakan waterbath dengan suhu 60AC hingga didapatkan ekstrak yang kental. Simpan ekstrak pada wadah tertutup rapat (Sari, 2. Standarisasi Ekstrak Parameter Spesifik Organoleptis Uji organoleptis meliputi bentuk, warna, bau, dan rasa menggunakan panca indera (Wijanarko , 2. Kadar Sari Larut Air Sebanyak 0,25 gram ekstrak dilarutkan dalam 25 mL aquadest, disaring menggunakan kertas Hasil filtrat diuapkan pada waterbath dengan suhu 100AC hingga kering. Timbang hasil ekstrak kering yang diperoleh (Kesehatan , 2. Kadar Sari Larut Etanol Sebanyak 2,5gram ekstrak, dilarutkan dengan etanol 96% 50 ml. Setelah dilarutkan masukkan kedalam labu ukur ad 50 ml, lalu saring ekstrak yang telah dilarutkan. Hasil dari penyaringan diambil sebanyak 25 ml, lalu dikeringkan diatas waterbath dengan suhu 100AC. Timbang hasil ekstrak kering yang diperoleh (Djoko , 2. Uji Senyawa Tanin 0,5 gram ekstrak dicampur dengan FeCl3 sebagai pereaksi. Kehadiran senyawa tanin dapat diketahui dari perubahan warna menjadi biru tua atau hijau kehitaman. Uji Senyawa Steroid Terpenoid 0,5 gram ekstrak dicampur dengan 1 mL pereaksi Liberman-Burchard. Keberadaan senyawa terpenoid menghasilkan warna biru tua, sementara senyawa steroid menghasilkan warna hijau. Uji Alkaloid 0,5 gram ekstrak dilarutkan dalam 2 mL HCl 2%, dipanaskan selama 5 menit, dan disaring. Filtratnya diteteskan dengan 2-3 tetes pereaksi mayer untuk mendeteksi keberadaan senyawa alkaloid, ditandai dengan endapan putih. Uji Flavonoid Melarutkan 0,5 gram ekstrak dalam 2 mL methanol, kemudian menambahkan serbuk Mg dan 5 tetes HCl pekat. Keberadaan senyawa flavonoid menghasilkan warna merah atau Uji Saponin 0,5 gram ekstrak dilarutkan dalam air destilata di tabung reaksi, ditambah dengan 10 tetes KOH, dipanaskan dalam penangas air 50AC selama 5 menit, kemudian dikocok selama 15 menit. Jika terbentuk busa setinggi 1cm yang stabil selama 15 menit, ini menunjukkan keberadaan saponin. Arfian Rizki Fauzi dkk. Standardisasi Ekstrak Etanol Daun Ciplukan (Physalis Angulata L. Uji Senyawa Polifenol Melarutkan 0,5 gram ekstrak dalam 10 mL air destilata, dipanaskan selama 5 menit, dan Filtratnya ditambahkan dengan 4-5 tetes FeCl3 5% . Keberadaan fenol ditunjukkan oleh warna biru tua atau hijau kehitaman yang terbentuk. Parameter Non Spesifik Uji Kadar Air Sebanyak 3 gram ekstrak ciplukan ditimbang. Dimasukkan kedalam alat moisture analyzer. Tekan tombol start pada alat. Tunggu hingga alat berhenti membaca kadar air dalam ekstrak. Catat hasil kadar air ekstrak (Rukmawati dkk. Uji Susut Pengeringan Sebanyak 1 gram ekstrak ditimbang dan dimasukkan ke dalam krus porselin tertutup yang sebelumnya dipanaskan pada suhu 105AC selama 30 menit dan telah ditimbang terlebih dahulu (Fadhilla dkk. , 2. Sebelum ditimbang, ekstrak disebar rata dalam krus porselin, kemudian dimasukkan ke dalam oven dan dikeringkan pada suhu 105AC hingga bobotnya stabil. Setelah itu, didinginkan dalam Proses ini diulangi beberapa kali hingga diperoleh bobot yang konsisten. Uji Bobot Jenis Ekstrak ditimbang sebanyak 2,5 gram, dilarutkan dengan etanol 96% 50 ml. Setelah dilarutkan masukkan kedalam labu ukur ad 50 ml. Timbang piknometer kosong, lalu masukkan ekstrak yang telah dilarutkan kedalam piknometer. Setelah dimasukkan timbang kembali piknometer yang telah diisi ekstrak yang telah dilarutkan (Andi dkk. , 2. Uji Kadar Abu Sebanyak 2 gram ekstrak dimasukkan kedalam krus porselin yang telah ditimbang sebelumnya. Masukkan kedalam alat tanur dengan suhu 600AC. Abu yang dihasilkan ditimbang (Narulita, 2. Penetapan kadar abu tidak larut asam Menimbang 1 kertas saring kosong catat Mengambil abu ekstrak yang telah dijadikan abu lalu dilarutkan dalam 25ml asam sulfat. Panaskan diatas hot plate selama 5 menit kemudian dilakukan penyaringan dengan kertas saring yang telah diketahui Selanjutnya dilakukan pencucian menggunakan 25 ml air panas yang dilakukan sebanyak 2 kali. Kertas saring yang berisi filtrat dimasukkan dalam cawan porselen dioven selama 15 menit pada suhu 80AC. Kertas saring ditimbang dan dicatat beratnya. Pengovenan dilakukan sebanyak 2 kali kemudian ditimbang kembali, apabila berat konstan maka dapat dihentikan. Apabila belum konstan maka lakukan pengovenan kembali hingga berat konstan (Narulita, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini sampel daun ciplukan (Physalis angulata L) didapatkan dari Desa Jambangan. Kecamatan Paron. Kabupaten Ngawi. Berdasarkan penelitian daun ciplukan dapat digunakan sebagai obat tradisional sehingga diperlukan standardisasi. Standardisasi adalah proses penjaminan produk akhir obat harus memenuhi syarat tertentu. Tujuan standardisasi adalah menjamin keamanan, mutu dan khasiat tanaman obat dengan penetapan standar mutu spesifik dan non spesifik. Pada pembuatan ekstrak etanol daun ciplukan (Physalis angulata L) didapatkan berat ekstrak 44,2 gram dan rendemen 11,05% (Tabel . Hasil ini memenuhi syarat Farmakope Herbal Indonesia yaitu tidak kurang dari 10% (Lailatul & Dewi, 2. Tabel 1. Rendemen Ekstrak Etanol Daun Ciplukan (Physalis angulata L) Berat Simplisia 400 gram Berat Hasil 44,2 gram Sumber: Data Diolah Rendemen 11,05 % Uji fitokimia bertujuan untuk mengetahui keberadaan golongan senyawa aktif yang ada dalam ekstrak. Pada uji alkaloid terdapat endapan putih yang menandakan ekstrak positif ( ) alkaloid. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh (Wijanarko dkk. , 2. yang menyatakan bahwa ada senyawa alkaloid dalam ekstrak Mantra Bhakti, 2. 2024: 15-22 | 19 Hasil uji flavonoid pada ekstrak etanol daun ciplukan negative (-) karena tidak terdapat perubahan warna merah atau jingga pada larutan setelah ditambahkan reagen. Hasil ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Wijanarko dkk. , 2. yang menyebutkan bahwa ada senyawa flavanoid dalam ekstrak ciplukan. Hal ini dapat disebabkan karena proses meserasi dan simplisia yang terkontaminasi. Tabel 2. Pengamatan Fitokimia Golongan Hasil Pengamatan Alkaloid Terdapat endapan putih dalam larutan Flavonoid Tidak terdapat warna merah atau jingga dalam larutan Saponin Terdapat busa dalam larutan ekstrak setinggi Polifenol Tidak terdapat warna hijau kehitaman dalam Tannin Tidak terdapat warna hijau kehitaman dalam Steroid Terdapat warna hijau dalam larutan Terpenoid Tidak terdapat warna biru tua dalam larutan Sumber: Data Diolah Dalam uji saponin pada larutan ekstrak etanol daun ciplukan menunjukkan hasil positif ( ) yang dibuktikan dengan adanya busa setinggi 1cm pada larutan ekstrak daun Hasil ini sesuai dengan uji yang dilakukan oleh (Wijanarko dkk. , 2. yang menyatakan bahwa ada senyawa saponin dalam ekstrak ciplukan. Pada pengujian polifenol menunjukkan hasil negatif (-) yang ditandai dengan tidak terbentuknya warna hijau kehitaman dalam larutan ekstrak etanol daun ciplukan. Hasil ini sesuai dengan uji yang dilakukan oleh (Wijanarko dkk. , 2. yang menyatakan bahwa ada senyawa polifenol dalam ekstrak Uji tanin pada larutan ekstrak etanol daun ciplukan menunjukkan hasil negatif (-) yang ditandai dengan tidak adanya perubahan warna menjadi hijau kehitaman setelah penambahan FeCl3. Hasil ini konsisten dengan uji yang dikerjakan oleh (Wijanarko dkk. , 2. bahwa ekstrak etanol ciplukan tidak mengandung senyawa tannin. Pengujian steroid pada larutan ekstrak etanol daun ciplukan menunjukkan hasil positif ( ) yang dibuktikan dengan perubahan warna menjadi hijau pada larutan. Sedangkan pada uji terpenoid menunjukkan hasil yang negative (-) yang dibuktikan dengan tidak terbentuknya warna biru tua dalam larutan. Hasil ini sesuai dengan uji yang dilakukan oleh (Wijanarko , 2. Pemeriksaan organoleptik bertujuan pengenalan awal terhadap ekstrak menggunakan panca indera meliputi bentuk, warna, bau, dan rasa. Hasil uji organoleptik ekstrak etanol daun ciplukan diperoleh ekstrak kental berwarna hijau kecoklatan dengan bau khas aromatis dan rasa pahit (Tabel . Hasil uji mirip dari penelitian (Istiqomah dkk. , 2. yang menyatakan bahwa ekstrak etanol daun ciplukan berupa cairan kental dan berwarna hijau kehitaman. Tabel 3. Organoleptis Ekstrak Etanol Daun Ciplukan Uji Organoleptis Bentuk Ekstrak Kental Warna Hijau Kehitaman Bau Khas Aromatis Rasa Pahit Sumber: Data Diolah Pengujian kadar sari terdiri dari kadar sari larut air dan kadar sari larut etanol. Pengujian kadar sari larut air bertujuan untuk mengetahui kadar jumlah sari yang dapat larut dalam pelarut yang lebih polar. Sementara itu, pengujian kadar sari larut etanol bertujuan untuk mengetahui jumlah sari yang larut dalam pelarut etanol, senyawa polar maupun semi polar (Saifudin, 2. Arfian Rizki Fauzi dkk. Standardisasi Ekstrak Etanol Daun Ciplukan (Physalis Angulata L. Tabel 4. Uji Parameter Spesifik Kadar Uraian Ekstrak Kadar Sari Larut Air 17,1% Kadar Sari Larut Etanol 96% Sumber: Data Diolah Syarat Ou 5% Ou 5% Hasil penelitian pada tabel 4 diperoleh kadar sari larut air sebesar 17,1% dan kadar sari larut etanol sebesar 16%. Kadar sari larut air lebih besar dari kadar sari larut etanol sehingga penggunaan etanol 96% pada proses ekstraksi kurang tepat karena diharapkan akan lebih banyak sari yang terlarut dalam etanol daripada dalam air. Berdasarkan penelitian (Fadhilla dkk. , 2. hasil dari kadar sari larut etanol lebih besar daripada kadar sari larut Perbedaan hasil kadar tersebut mungkin disebabkan saat proses pengeringan daun belum sepenuhnya kering. Penetapan kadar air bertujuan untuk menentukan batasan minimal atau rentang besarnya kandungan air dalam bahan, dimana nilai maksimal atau rentang yang diperbolehkan terkait dengan kemurnian dan kontaminasi (Listina, 2. Pada penelitian ini diperoleh persentase kadar air sebesar 6,47% (Tabel Persentase tersebut masih dalam batas normal dikarenakan syarat untuk kadar air dalam ekstrak tidak boleh melebihi 10% agar ekstrak tidak mudah terkontaminasi oleh jamur (Listina, 2. Tabel 5. Uji Parameter Non Spesifik Jenis Hasil Syarat Parameter Kadar Air 6,47% O 10 % Susut 1,08% O 10 % Pengeringan Bobot Jenis 0,832g/ml Mendekati 1 Ekstrak Bobot Jenis 0,98g/ml Mendekati 1 Air Kadar Abu 2,79 % O 11 % Total Kadar Abu 0,97 % O1% Tidak Larut Asam Sumber: Data Diolah Nilai susut pengeringan yang diperoleh yaitu 1,08%. Persyaratan yang baik uji susut pengeringan adalah kurang dari 10%. Semakin banyak nilai susut pengeringan menandakan bahwa senyawa yang terkandung dalam ekstrak mudah menguap. Senyawa mudah menguap kemungkinan memiliki aktivitas (Listina. Bobot jenis didefinisikan sebagai rasio antara kerapatan suatu zat dengan kerapatan air, diukur dalam satuan massa per volume. Penentuan bobot jenis bertujuan untuk memberikan batasan mengenai massa per volume, yang merupakan parameter khusus untuk ekstrak cair hingga menjadi ekstrak kental yang masih bisa dituangkan. Bobot jenis juga berkaitan dengan kemurnian ekstrak dari kontaminasi (Depkes RI, 2. Hasil dari penelitian ini didapatkan bobot jenis ekstrak sebesar 0,832 g/ml hasil tersebut masih didalam batas normal uji parameter non spesifik yang baik karena tidak lebih dari 1 g/ml sama halnya dengan bobot jenis air yang diperoleh yaitu 0,98g/ml masih dalam batas normal karena tidak melebihi syarat yaitu 1g/ml. Penetapan kadar abu total pada ekstrak etanol daun ciplukan bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai kandungan mineral di dalamnya yang terkandung dalam Prinsip dari uji ini adalah memanaskan sampel pada suhu tertentu sehingga senyawa organik dan turunannya terurai, menyisakan unsur mineral dan senyawa anorganik. Hasil kadar abu total yang diperoleh yaitu 2,79% memenuhi syarat uji parameter non spesifik yang baik dikarenakan kurang dari 11%. Kadar abu tidak larut asam yang diperoleh yaitu 0,97% kadar tersebut memenuhi syarat uji parameter non spesifik yang baik dikarenakan masih dibawah 1%. Dari hasil uji tersebut, dapat disimpulkan bahwa hanya terdapat sedikit pengotor atau kontaminan pada ekstrak daun ciplukan (Listina, 2. SIMPULAN Bedasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa uji parameter spesifik dan non spesifik daun ciplukan yang memenuhi nilai standar adalah alkaloid, saponin, steroid, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, kadar air, susut Mantra Bhakti, 2. 2024: 15-22 | 21 pengeringan, bobot jenis, kadar abu total dan kadar abu tidak larut asam. DAFTAR PUSTAKA