PROGRESSA: Journal of Islamic Religious Instruction P-ISSN 2579-9665 | e-ISSN 2579-9673 Vol. 09 No. 02 Agustus 2025 https://jurnal. id/index. php/pgr/index PEMBENTUKAN MORAL PESERTA DIDIK MENURUT ST. THOMAS AQUINAS DAN IMMANUEL KANT Moh. Khoiruddin Institut Agama Islam Al Khoziny. Sidoarjo alaik59@gmail. Abstrak: Pembentukan moral peserta didik merupakan aspek fundamental dalam pendidikan, karena berkaitan langsung dengan pembentukan karakter dan nilai-nilai etis dalam kehidupan. Pemikiran Thomas Aquinas dan Immanuel Kant menawarkan dua pendekatan filosofis yang berbeda namun saling memperkaya. Thomas Aquinas menekankan bahwa moralitas bersumber dari hukum alam yang berasal dari Tuhan, sehingga pendidikan moral harus mengarahkan peserta didik pada kebajikan dan ketaatan terhadap hukum ilahi melalui akal dan iman. Sementara itu. Immanuel Kant memandang moralitas sebagai hasil dari akal budi manusia yang Ia menekankan pentingnya tindakan berdasarkan kewajiban moral melalui prinsip imperatif kategoris. Dalam konteks pendidikan, pendekatan Aquinas menekankan pembinaan spiritual dan pembiasaan kebajikan. Immanuel Kant menekankan pengembangan rasionalitas dan otonomi moral. Kedua pendekatan ini memberikan kontribusi penting bagi model pendidikan moral yang seimbang antara iman, akal, tanggung jawab, dan kebebasan individu. Aquinas memberikan dasar transendental dan teologis yang menekankan pembentukan watak melalui kebajikan, sedangkan Kant memberikan kerangka etis berbasis rasional yang menumbuhkan kesadaran moral otonom. Kombinasi keduanya relevan dalam konteks pendidikan modern yang membutuhkan keseimbangan antara nilai spiritual dan kebebasan berpikir. Kajian ini diharapkan menjadi rujukan bagi pendidik, pembuat kebijakan, dan peneliti dalam merancang sistem pendidikan moral yang utuh, kontekstual, dan relevan dengan perkembangan zaman. Kata Kunci: Immanuel Kant. Moral. Peserta Didik. Thomas Aquinas Abstract: The formation of studentsAo morality is a fundamental aspect of education, as it is directly related to the development of character and ethical values in life. The thoughts of Thomas Aquinas and Immanuel Kant offer two distinct yet complementary philosophical approaches. Thomas Aquinas emphasizes that morality originates from natural law, which derives from God. therefore, moral education should guide students toward virtue and obedience to divine law through reason and faith. Meanwhile. Immanuel Kant views morality as the product of autonomous human He stresses the importance of acting based on moral duty through the principle of the categorical imperative. In the context of education. Aquinas' approach focuses on spiritual development and the habituation of virtue, whereas the Kantian approach emphasizes the cultivation of rationality and moral autonomy. Both approaches provide significant contributions to a moral education model that balances faith, reason, responsibility, and individual freedom. Aquinas provides a transcendental and theological foundation that emphasizes character formation through virtue, while Kant offers a rationally based ethical framework that fosters autonomous moral awareness. The combination of both approaches is highly relevant in the context of modern education, which requires a balance between spiritual values and freedom of thought. This study is expected to serve as a reference for educators, policymakers, and researchers in designing a moral education system that is holistic, contextual, and relevant to contemporary developments. Keyword : Immanuel Kant. Ethica. StudentAos. Thomas Aquinas PROGRESSA Journal of Islamic Religious Instruction, 2025. Vol. 9 No. 2, 98-110 DOI: 10. 32616/pgr. Diserahkan: 03/07/2025. Diterima: 25/08/2025. Diterbitkan: 29/08/2025 E-mail Redaksi: redaktur@jurnal. Naskah ini berada di bawah kebijakan akses terbuka dan Creative Common Attribution License . ttp://creativecommons. org/licenses/by/4. Oleh karena itu, segala penggunaan, distribusi, dan reproduksi artikel ini, di media apa pun, tidak dibatasi selama sumber aslinya disebutkan dengan Pendahuluan Pembentukan moral peserta didik merupakan aspek fundamental dalam proses pendidikan yang bertujuan membentuk karakter dan integritas individu agar mampu bertindak secara etis dan bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat. Pendidikan moral tidak hanya menanamkan nilai-nilai normatif, tetapi juga membangun kesadaran kritis dan kemampuan reflektif peserta didik dalam menghadapi berbagai dilema moral. Dalam kajian filsafat moral, berbagai tokoh besar memberikan pandangan yang beragam tentang bagaimana moralitas dapat dikembangkan dan dipahami. Dua di antaranya yang memiliki pengaruh besar adalah Thomas Aquinas dan Immanuel Kant. Thomas Aquinas menekankan pentingnya integrasi antara akal dan hukum alam sebagai dasar pembentukan moral. Menurutnya, moralitas bersumber dari hukum ilahi yang dapat diketahui melalui akal manusia dan berorientasi pada tujuan akhir . manusia, yaitu kebahagiaan dan kesempurnaan spiritual 1. Sementara itu. Immanuel Kant mengedepankan prinsip otonomi dan rasionalitas manusia dalam menentukan tindakan moral melalui konsep imperatif kategoris, yaitu tindakan yang dilakukan berdasarkan kewajiban moral yang universal dan tanpa memandang konsekuensi2. Konteks pendidikan saat ini menuntut pendekatan pembentukan moral yang tidak hanya berfokus pada pengajaran norma-norma perilaku, tetapi juga pada pengembangan kesadaran moral peserta didik sebagai individu yang mampu mengambil keputusan secara bertanggung jawab dan reflektif. Pendekatan filosofis yang dikemukakan oleh Thomas Aquinas dan Immanuel Kant menawarkan landasan teoretis yang kuat dalam membangun kerangka kerja pendidikan moral yang holistik. Aquinas dengan konsep hukum alamnya memberikan penekanan pada harmonisasi antara kodrat manusia dan tujuan akhir hidup, sedangkan Kant menekankan pentingnya prinsip moral yang bersifat universal dan otonomi rasional sebagai dasar etika. Penerapan konsep-konsep tersebut dalam konteks pendidikan diharapkan dapat membantu peserta didik tidak hanya memahami apa yang benar dan salah secara normatif, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai moral yang bersifat universal dan relevan dalam kehidupan Wahono. AuPerjalanan Menuju Kebahagiaan Sejati,Ay Jurnal Filsafat, 50Ae57, https://journal. id/wisdom/article/viewFile/31651/19182. 2 Nigel Warburton. AuImmanuel Kant Groundwork of the Metaphysic of Morals,Ay Philosophy: The Classics, 2020, 151Ae 58, https://doi. org/10. 4324/9781315849201-22. Vol. 09 No. 02 Agustus 2025 . Selain itu, integrasi kedua perspektif ini dapat memperkaya pendekatan pembentukan karakter, di mana moralitas tidak hanya dikaitkan dengan aspek religius atau normatif, tetapi juga dengan rasionalitas dan kebebasan individu. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana kedua filsuf ini memandang proses pembentukan moral, serta bagaimana pandangan tersebut dapat diterapkan secara praktis dalam dunia pendidikan. Penelitian ini juga bertujuan untuk memberikan rekomendasi yang bermanfaat bagi pendidik dan pembuat kebijakan dalam merancang kurikulum dan metode pengajaran yang efektif untuk pembentukan moral peserta didik. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka . ibrary researc. untuk menganalisis dan membandingkan teori-teori moral dari Thomas Aquinas dan Immanuel Kant dalam konteks pembentukan moral peserta didik. Metode kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk memahami konsep-konsep filosofis secara mendalam dan merefleksikan implikasinya dalam pendidikan moral. Sumber data dalam penelitian ini, dengan menggunakan data utama penelitian berasal dari teks-teks primer karya Thomas Aquinas seperti Summa Theologica3 dan karya Immanuel Kant seperti Groundwork of the Metaphysics of Morals 4. Selain itu, digunakan juga sumber-sumber sekunder berupa buku, jurnal, artikel, dan literatur lain yang relevan dengan tema pembentukan moral dan pendidikan karakter. Dalam Teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti, yaitu data dikumpulkan melalui studi literatur dengan teknik dokumentasi. Peneliti mengidentifikasi, mengumpulkan, dan menyeleksi bahan-bahan tertulis yang berkaitan dengan teori moral Aquinas dan Kant serta aplikasi pendidikan moral. Proses ini meliputi membaca, mencatat, dan mengklasifikasikan data sesuai dengan fokus penelitian. Analisis data dengan cara data yang telah terkumpul dianalisis secara deskriptif-kritis dengan cara membandingkan dan menginterpretasikan teori moral kedua filsuf Analisis diarahkan pada pemahaman konsep dasar moralitas, prinsip-prinsip pembentukan moral, serta relevansi dan aplikasinya dalam konteks pendidikan peserta didik. Hasil analisis kemudian disintesiskan untuk menghasilkan kesimpulan yang dapat memberikan gambaran teoretis dan praktis bagi pendidikan moral. Hasil dan Pembahasan Kajian Pembentukan Moral Peserta Didik menurut St. Thomas Aquinas Biografi S. Thomas Aquinas . St. Thomas Aquinas lahir di Roccasecca. Italia pada tahun 1225 dari keluarga bangsawan baik bapak maupun ibunya 5. Pada masa mudanya ia hidup bersama pamannya yang menjadi pemimpin ordo di Monte Cassino. Ia berada di sana pada tahun 1230-1239. 3 Muhamad Basyrul Muvid. AuPemikiran Thomas Aquinas: Relevansi Pendidikan Spiritual Dan Moral Aquinas Dengan Pendidikan Islam Di Tengah Era Disrupsi,Ay Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam 6, no. : 131Ae58, https://doi. org/10. 46963/alliqo. 4 Warburton. AuImmanuel Kant Groundwork of the Metaphysic of Morals. Ay 5 Ahmad Tafsir, 2000. Filsafat umum : Akal dan Hati sejak Thales sampai Capra. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Vol. 09 No. 02 Agustus 2025 . Pada tahun 1239-1244 ia belajar di Universitas Napoli, tahun 1245-1248 di universitas Paris di bawah bimbingan Albertus Magnus (St. Albertus Magnu. Sampai tahun 1252 ia dan Albertus Magnusberada di Cologne. Tahun 1252 ia kembali belajar di Universitas Paris pada Fakultas Teologi, tahun 1256 ia diberi ijazah licentia Docendi dalam bidang teologi dan ia mengajar sampai tahun 1259. Tahun 1269-1272 ia kembali ke Universitas Paris untuk menyusun tantangan terhadap Ibnu Rusyd. Sejak tahun 1272 ia mulai mengajar di Universitas Napoli. Ia meninggal pada tahun 1274 di Lyons. Karyanya yang paling penting ialah suma contra gentiles . dan summa theologica . Thomas Aquinas adalah filsuf dan teolog abad pertengahan Eropa terbesar. Pikirannya sampai sekarang masih sangat Thomas aquinas berhasil mempersatukan ajaran-ajaran Augustinus yang sampai saat itu menentukan pemikiran di Eropa dengan filsafat Aristoteles dan demikian memberikan impuls-impuls bagi kehidupan intelektual di Baratsejak Thomas aquinas, filsafat mulai berkembang sebagai ilmu sendiri6. Kajian Pendidikan Menurut Thomas Aquinas Moral Nilai etika yang tertinggi pada etika aquinas ialah kebaikan tertinggi. Kebaikan tertinggi itu menurutnya tidak mungkin dapat dicapai dalam kehidupan sekarang. Kita harus menunggu hari kelak ketika kita memperoleh pandangan yang sempurna tentang Tuhan. Pandangan etika aquinas menekankan superioritas kebaikan keagamaan. Karenanya ia banyak membahas tentang iman. Ia toleran terhadap orang-orang yang tidak beriman dan bekerja sama dengan mereka, tetapi ia juga terang-terangan menuduh mereka kafir 7. Dasar kebaikan ialah kemurahan hati . yang menurut Aquinas lebih dari sekedar kedermawanan atau belas kasihan. Kemurahan hati itu terdapat di dalam jiwa yang penuh cinta. Cinta kepada Tuhan datang pertama kali, dari situ muncul cinta selain Tuhan. Kehidupan pertapa . memainkan peranan yang kuat di dalam etikanya. Oleh karena itu ia setuju kepada St. Augustinus yang mengajarkan bahwa kehidupan membujang lebih baik dari pada kawin. Hidup dalam perkawinan itu rendah8. Mengenai kebebasan kemauan ia menyatakan bahwa manusia berada dalam kedudukan yang berbeda dari tuhan. Tuhan selalu benar sedangkan manusia kadangkadang salah. Manusia selalu dihadapkan kepada bermacam-macam pilihan. Dalam memilih itu manusia dihinggapi keraguan sebagaimana sering kita meragukan adanya kehidupan di akhirat. Oleh karena itu, manusia sering memilih sesuatu yang rendah, dan itu membimbing manusia menjauhi Tuhan. Kita dapat memperoleh kebebasan sempurna dengan cara memilih sesuatu yang akan membawa kepada kebahagiaan abadi dan mendekatkan kita kepada sifat-sifat Ilahi. Kemauan manusia tidak ditentukan oleh sesuatu di luar dirinya, oleh karena itu bila kita memilih yang salah, layaklah kita mendapatkan hukuman. Manusia itu pada akhirnya akan mampu mengenal tuhan jika 6 Muvid. AuPemikiran Thomas Aquinas: Relevansi Pendidikan Spiritual Dan Moral Aquinas Dengan Pendidikan Islam Di Tengah Era Disrupsi. Ay 7 Ulil Hidayah. AuRekonstruksi Evaluasi Pendidikan Moral Menuju Harmoni Sosial,Ay Jurnal Pedagogik 05, no. : 69Ae81, http://ejournal. id/index. php/pedagogik/article/view/220. 8 Wahono. AuPerjalanan Menuju Kebahagiaan Sejati. Ay Vol. 09 No. 02 Agustus 2025 . Itu dapat dicapai dengan akal, wahyu atau dengan intuisi. Namun ia hanya tertarik sedikit pada pembahasan tentang intuisi, karena itu ia tidak percaya kepada adanya pencerahan Ilahi . lmu mukasyafah dalam tashawuf Isla. Pikiran lebih penting dari pada kemauan, demikian pendapatnya. Melalui pikiran itulah kita akan sampai kepada kepastian. Menurut Thomas Aquinas, tujuan manusia adalah kebahagiaan. Seperti menurut Aristoteles, kebahagiaan tertinggi tercapai dalam theoria, dalam renungan filsuf tentang tuhan, begitu menurut Thomas manusia mencapai kebahagiaan dalam contemplatio, dalam memandang yang Ilahi 9. Namun ia tidak berhenti pada pemikiran filsafati. Pemikiran filsuf tidak sungguh-sungguh dapat memuaskan manusia. Satu-satunya pemandangan yang memuaskan manusia sepenuhnya adalah pemandangan nilai tertinggi dan abadi. Tuhan sendiri. Aquinas menyusun teori moral berdasarkan hukum alam . atural la. , di mana tindakan dianggap bermoral jika sesuai dengan rasio yang tertuju pada kebaikan akhir . dan kehendak Tuhan. Teori inilah yang dijadikan pedoman oleh Thomas Aquinas, sehingga dengan memakai teori ini beliau termasuk dalam kategori penganut perenialisme dalam filsafat 10. Karena itu. Thomas Aquinas mendobrak keterbatasan etika Aristoteles pada dunia ini. Tidak mungkin manusia mencapai tujuan akhirnya dalam dunia ini. Apapun yang diciptakan tidak dapat membahagiakan manusia sepenuhnya karena manusia, berkat akal budinya, terarah kepada yang tak terbatas. Etika Thomas Aquinas adalah etika yang berkaitan erat dengan iman kepada tuhan pencipta. dalam arti, etika thomas memiliki uncur teologis. Namun unsur itu tidak menghilangkan cirinya yang khas filosofis, bahwa etika itu memungkinkan orang menemukan garis hidup yang masuk akal, tanpa mengandaikan kepercayaan atau keyakinan agama tertentu. Thomas berhasil mengkombinasakan dua pola etika, yaitu etika teonom dan etika eudimonisme 11. Taat kepada Tuhan secara instrinsik menjadikan manusia bahagia karena dengan demikian ia menemukan kepenuhan dan Sebagai upaya mewujudkan manusia yang memiliki moral, menurut perspektif Thomistik, keluarga adalah lembaga pendidikan utama. Orang tua menjadi teladan moral sekaligus mentor bagi anak, membimbing mereka berkembang secara intelektual dan spiritual demi mencapai tujuan tertinggi: kebahagiaan abadi. Nilai dan impilkasinya untuk pendidikan Thomas aquinas menyetujui bahwa hukum moral dapat ditangkap oleh akal budi manusia, tetapi mereka menegaskan bahwa hukum tersebut merupakan hukum yang telah ditetapkan oleh Tuhan sang pencipta. Dia juga berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui hukum tersebut tanpa bantuan Ilahi, tetap karena manusia telah jatuh ke dalam dosa. Dalam prakteknya hukum tersebut tidak dapat dijalankan tanpa bantuan rahmat Tuhan. Aquinas lebih mendasarkan pandangannya pada ilmu-ilmu empiris, 9 Maghfira Haniefaty Tamimy. AuPendidikan Moral Pada Anak Usia Dini,Ay JECIE (Journal of Early Childhood and Inclusive Educatio. 7, no. : 326Ae30, https://doi. org/10. 31537/jecie. 10 Nuqul Fathul Lubabin. AuPesantren Sebagai Bengkel Moral: Optimalisasi Sumber Daya Pesantren Untuk Menanggulangi Kenakalan Remaja,Ay PsikoIslamika 5, no. : 1Ae20. 11 Muvid. AuPemikiran Thomas Aquinas: Relevansi Pendidikan Spiritual Dan Moral Aquinas Dengan Pendidikan Islam Di Tengah Era Disrupsi. Ay Vol. 09 No. 02 Agustus 2025 . menolak pandangan bahwa hukum moral mengandung sangsi adi-kodrati. Baginya, yang baik adalah apa yang dapat membuat manusia berkembang dan bahagia dalam Sedangkan hal-hal yang mengasingkan dari lingkungannya dan yang menyengsarakan adalah buruk 12. Sistem pendidikan mesti diarahkan untuk mengejar nilai-nilai tertentu yang bersifat objektif dan tetap, maka tujuan pendidikan juga relatif tetap. Tolak ukur moral yang diajarkan kepada para peserta didik tidak tergantung dari siap yang menjadi pendidik dan pengajarnya, karena tolak ukur tersebut bersifat objektif dan tetap pula. Pendidikan moral seharusnya menekankan pengembangan kebajikan . seperti keadilan, kesederhanaan, dan persahabatan. Hal ini menciptakan fondasi karakter yang stabil dan selaras dengan hukum alam. Peserta didik mesti dibantu untuk mengenali tolak ukur moral yang bersifat mutlak dan terbukti merupakan nilai yang langgeng dalam perjalanan sejarah. Penting juga bahwa mereka dilatih untuk membiasakan diri berbuat baik, karena keutamaan tidak muncul secara otomatis, melainkan melalui Pemikiran Thomas Aquinas ini merupakan pemikiran yang bersifat realis. Dalam pemikiran yang bersifat realis terkait dengan nilai dan Implikasi dalam pendidikan. Ismail Thoib13 membagi kaum realis menjadi 2, yaitu : Kaum realis religius, menyatakan bahwa keutamaan kodrati belumlah mencukupi. Menurut mereka, manusia telah diciptakan sedemikian rupa . ersifat ruhan. untuk mengatasi yang kodrati dan mencapai yang adi kodrati. Maksud pokok pendidikan agama dan moral di sekolah menurut mereka adalah untuk menjaga kemurnian Mereka perlu dibantu untuk mengerti bahwa kalau mereka melaksanakan hukum moral itu sekaligus mereka melaksanakan apa yang menjadi kehendak Tuhan Pendidikan perlu diarahkan bukan hanya untuk memperkembangkan kemampuan intelektualitas peserta didik, tetapi juga kemampuan kehendak mereka. Peserta didik harus dilatih untuk membiasakan diri mengambil keputusan secara Untuk itu disiplin diperlukan, karena disiplin bisa membantu menghilangkan kebiasaan yang buruk dan menanmkan kebiasaan yang baik. Kaum realis alami . , mengajarkan bahwa baik buruk itu didasarkan atas pengertian manusia akan kodratnya sendiri sebagai manusia, dan bukan atas dasar prinsip-prinsip keagamaan. Menurut mereka, moralitas mesti didasarkan apa yang menurut penyelidikan ilmiah telah terbukti menguntungkan untuk manusia. Apa saja yang membuat hidup manusia sehat dan sejahtera dalam lingkungannya inilah yang baik dan perlu diusahakan. Pendidikan mesti membekali peserta didik untuk mengusahakan kesehatan dan kesejahteraan hidup tersebut. Kurikulum pendidikan Secara umum, kaum realis berpendapat bahwa dunia material merupakan dunia yang riil . bukan sesuatu yang maya. Manusia sebagai subjek pengamat dapat berkontak langsung dengan objek yang diamatinya, bukan hanya dengan kesan-kesan dan gagasan tentang objek itu dari subjek sendiri. Manusia mengetahui secara riil dan 12 Hidayah. AuRekonstruksi Evaluasi Pendidikan Moral Menuju Harmoni Sosial. Ay CZ Harun - Jurnal pendidikan karakter and undefined 2013. AuManajemen Pendidikan Karakter,Ay Journal. Uny. Ac. Id, accessed October 14, 2022, https://journal. id/index. php/jpka/article/view/2752. Vol. 09 No. 02 Agustus 2025 . bukan representasi atau bayangan dari sesuatu. Panca indra dan akal budi manusia sepenuhnya ditentukan oleh benda atau objek luar dan bukan sebaliknya. Bagi kaum realis, gagasan dan pengetahuan seseorang itu benar kalau ada kesesuaian antara apa yang ada dalam pikiran dan yang kenyataannya terdapat di luar pikiran. Objek pengetahuan sebagai realitas di luar subjek menjadi penentu terakhir pengetahuan benar atau salah. Metode ilmiah sedapat mungkin dipakai dalam cabang ilmu. Kurikulum pendidikan dalam pandangannya, sangat menekankan pentingnya ilmu-ilmu empiris dan praktis serta memandang rendah ilmu-ilmu yang bersifat spekulatif dan teoritis. Para realis rasional, khususnya yang religius, menolak pemakaian metode ilmiah yang diterapkan pada semua cabang ilmu karena yang real tidak hanya dibuktikan secara ilmiah oleh ilmu pengetahuan, tetapi juga yang dapat ditegaskan secara rasional. Pendidikan pada dasarnya memang melatih kemampuan dan kepekaan akal budi untuk menangkap kebenaran objektif tidak sama dengan apa yang bisa diverifikasi secara Implikasi dalam pendidikan, teori Thomas Aquinas lebih menekankan pendidikan karakter berbasis keluarga: sekolah dan orang tua perlu bersinergi dalam membina kebajikan. Pendekatan holistik: kombinasi pendidikan agama, etika, dan spiritualitas untuk membentuk peserta didik yang utuh. Pembentukan Moral Peserta Didik Menurut Thomas Aquinas Thomas Aquinas merupakan salah satu tokoh filsafat dan teologi yang memiliki pengaruh besar dalam pemikiran moral dan etika, khususnya dalam konteks pembentukan moral individu. Dalam pandangan Aquinas, moralitas tidak dapat dipisahkan dari hukum alam . atural la. yang bersumber pada kodrat manusia dan hukum ilahi. Pembentukan moral peserta didik menurut Aquinas menekankan integrasi antara akal budi dan kehendak bebas dalam menjalankan kebaikan sesuai dengan tujuan akhir manusia, yaitu kebahagiaan dan kesempurnaan rohani. Aquinas berpendapat bahwa manusia memiliki kemampuan rasional untuk mengenali hukum alam, yaitu prinsip-prinsip moral yang bersifat universal dan abadi, yang menjadi dasar perilaku yang benar. Oleh karena itu, pendidikan moral harus menuntun peserta didik untuk memahami dan menginternalisasi hukum alam tersebut melalui pengembangan akal dan kebajikan . Kebajikan menjadi aspek penting dalam pembentukan moral karena melalui kebajikan, peserta didik akan mampu mengendalikan dorongan nafsu dan bertindak sesuai dengan akal yang Menurut Aquinas, pembentukan moral juga terkait erat dengan habituasi atau pembiasaan melakukan perbuatan baik secara konsisten sehingga terbentuk karakter yang kuat dan stabil. Pendidikan moral tidak sekadar mengajarkan norma-norma, tetapi membentuk kebiasaan moral yang mendasar bagi pengambilan keputusan etis dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu. Aquinas menekankan peran otoritas dan teladan dalam proses pendidikan Guru dan pendidik harus menjadi figur yang menunjukkan integritas moral dan mampu membimbing peserta didik dalam memahami tujuan hidup yang benar. Dengan demikian, pembentukan moral peserta didik menurut Thomas Aquinas adalah proses komprehensif yang mengintegrasikan akal, kebiasaan kebajikan, dan orientasi spiritual untuk mencapai kehidupan yang bermakna dan selaras dengan hukum alam. Pembentukan moral dalam pandangan Aquinas 14 Muvid. AuPemikiran Thomas Aquinas: Relevansi Pendidikan Spiritual Dan Moral Aquinas Dengan Pendidikan Islam Di Tengah Era Disrupsi. Ay Vol. 09 No. 02 Agustus 2025 . juga menekankan pentingnya keseimbangan antara akal praktis . ractical reaso. dan kehendak bebas dalam menentukan tindakan moral. Akal praktis berfungsi sebagai penuntun dalam mengevaluasi tindakan mana yang sesuai dengan hukum alam dan nilai-nilai kebaikan. Peserta didik diajak untuk menggunakan akalnya secara aktif dalam membedakan baik dan buruk, sehingga moralitas bukan hanya sekadar kepatuhan terhadap aturan, tetapi hasil dari pertimbangan rasional yang matang. Selain itu. Aquinas menyoroti pentingnya kebajikan teologis seperti iman, harapan, dan kasih sebagai landasan moral yang melampaui kebajikan kardinal . ebijaksanaan, keberanian, pengendalian diri, dan keadila. Pembentukan moral peserta didik dalam kerangka ini melibatkan dimensi spiritual yang mendalam, sehingga moralitas tidak hanya bersifat duniawi tetapi juga berorientasi pada tujuan ilahi. Dengan demikian, pendidikan moral menurut Aquinas adalah proses holistic yang menggabungkan aspek intelektual, moral, dan spiritual. Dalam konteks pendidikan kontemporer, pemikiran Aquinas dapat diimplementasikan melalui pendekatan pembelajaran yang menekankan pembiasaan nilai-nilai kebajikan dan refleksi kritis atas tindakan. Pendekatan ini dapat membantu peserta didik tidak hanya mengetahui norma moral, tetapi juga menginternalisasikannya sehingga menjadi karakter yang kokoh dan mampu menghadapi tantangan moral secara bijaksana. Kajian Pembentukan Moral Peserta Didik Menurut Menurut Immanuel Kant Biografi Immanuel Kant . 4 Ae 1804 M) Immanuel Kant lahir di jerman, tepatnya di wilayah Konigsberg pada 22 April 1724 Ae 12 Februari 1804 M15. Kant dikenal sebagai salah seorang filsuf eksistensialis Jerman yang berpengaruh dan produktif menulis banyak buku. Karyanya yang terpenting adalah Kritik der Reinen Vernunft, 1781. Immanuel Kant lebih dikenal sebagai tokoh kritisisme. Filsafat kritis yang ditampilkannya bertujuan untuk menjembatani pertentangan antara kaum rasionalisme dengan kaum empirisme. Bagi kant, baik rasionalisme maupun empirisme belum berhasil membimbing kita untuk memperoleh pengetahuan yang pasti, berlaku umum dan terbukti dengan jelas. Kedua aliran itu memiliki kelemahan yang justru merupakan kebaikan bagi kelanjutan masing-masing. Karya Immanuel Kant Beberapa karya penting Immanuel Kant ditulis dalam bahasa Jerman, di antaranya 1755 : Allgemeine Naturgeschichte und Theori des Himmels 1755 : Meditatonium quaerandam de igne saccincta delinetatio 1755 : neue erhellung der ersten grundsatze metaphysicher erkenntnisse 1756 : physische monadologie 1756 : neue anmerkungen zur erlauterung der theorie der winde 1762 : die falsche spitzfindigkeit der vier syllogistichen figuren 1763 : versuch, den begriff der negativen grofen in der weltweisheit einzufuhren 1763 : untersuchung uber die deutlichkeit der gundsatze der naturlichen theologie und moral 1763 : der einzige mogliche beweisground zu einer demontration fur da dasein gottes 15 Ari Gusmian. Islah. Hikmawati. AuSejarah Immanuel Kant,Ay Jurnal Pemikiran Islam Dan Filsafat XI, no. 56Ae66. Vol. 09 No. 02 Agustus 2025 . 1764 : uber die krankheit des kopfes 1775 : uber die verchiedenen der menschern 1784 : beantwortung der frage : was ist aufklarung 1785 : grundlegung der metaphysik der sitten 1786 : methaphysische anfangsgrunde der naturwissenschaft 1788 : kritik der urteilskraft 1794 : das ende aller dinge 1795 : zum ewigen frieden 1797 : die metaphysik der sitten 1798 : der streit der fakultaten 1798 : anthropologie in pragmatischer hinsicht abgefasst16, dan lain-lain Adapun karya monumental filsafat kritis Immanuel Kant seperti dijelaskan dalam The critique of pure reason, dimaksudkan untuk menjawab persoalan yang dikemukakan Hume. Kant berupaya keras untuk menunjukkan bagaimana seseorang dapat memadukan pandangan yang terbaik dari pihak rasionalis dan empiris. Kajian Pendidikan Menurut immanuel Kant Moral Etika diperlukan untuk mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan manusia. Secara metodologis, etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi. Sehingga etika merupakan suatu ilmu dengan objeknya adalah tingkah laku manusia dengan sudut pandang normatif. Filsafat moral Kant menyatakan kesadaran moral merupakan fakta yang tidak dapat dibantah meskipun bukan obyek inderawi, namun membuka kenyataan bidang realitas adi inderawi. Sehingga satu-satunya cara untuk klaim moralitas atas keabsahan universal melalui subyek itu sendiri 17. Karya Kant tentang filsafat moral antara lain The Foundations of the Methaphysics of Morals . Critique of Practical Reason . , dan Metaphysics of Morals . Dua buku pertama meletakkan etika dasar etika. Metafisika moral menguraikan norma dan keutamaan moral. Kant mengembangkan prinsip etika dari paham akal budi praktis. Kant mengandaikan baik bukan hanya dari beberapa segi, tetapi baik secara mutlak. Menurut Kant, yang baik tanpa pembatasan sama sekali adalah kehendak baik. Kehendak baik selalu baik dan dalam kebaikannya tidak tergantung pada sesuatu di luarnya . Orang berkehendak baik karena menguntungkan, tergerak oleh perasaan belas kasih, memenuhi kewajiban demi kewajiban. Kehendak baik karena memenuhi kewajiban demi kewajiban disebut Kant sebagai moralitas. Pengukuran moralitas menurut Kant bukan pada hasil. Karena perbuatan baik tidak membuktikan kehendak baik. Tetapi pada kehendak pelaku apakah ditentukan oleh kenyataan bahwa perbuatan itu kewajibannya. Mohammad Dahlan. AuPEMIKIRAN FILSAFAT MORAL IMMANUEL KANT (Deontologi. Imperatif Kategoris Dan Postulat Rasio Prakti. ,Ay Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin 8, no. : 37, https://doi. org/10. 18592/jiiu. 17 Warburton. AuImmanuel Kant Groundwork of the Metaphysic of Morals. Ay Vol. 09 No. 02 Agustus 2025 . Kant selalu merasa bahwa perbedaan antara benar dan salah adalah masalah akal, bukan Teori moralitas Kant disebut Imperatif Kategoris 18. Akal budi merupakan semboyan pencerahan yang menjadi landasan filsafat Kant yang sangat rasional. Dalam menjawab berbagai kritik atas pemikirannya itu, kant mulai mencoba menentang hume, bahwa ilmu akan dibenarkan secara rasional. Moralitas akan diperlihatkan terdiri dari hukum-hukum moral yang wajib secara universal. Bahkan iman yang dianggap irrasionalitas akan dibela sebagai kepercayaan yang dapat dibenarkan secara Arti paling dasar etika kant adalah bahwa ia memasukkan ke dalam filsafat moral suatu modell alternatif terhadap model etika sebelumnya yang sangat diperlukan. Etika pra-Kant bersifat eudemonistik. Hakikat moralitas menurut Kant adalah kesadaran akan kewajiban, kewajiban yang mutlak. Namun, hal kewajiban mutlak tidak ada kaitan sama sekali dengan kebahagiaan kita. Secara sederhana, menurut Kant, orang tidak dinilai sebagai orang baik karena ia berhasil menjadi bahagia, melainkan karena ia memenuhi Etika Kant sejak semula sudah dituduh merupakan rigorisme artinya berlebihan Tuduhan tersebut mengacu kepada tuntutan Kant agar kewajiban dilakukan bukan karena hati kita bergerak - karena terdorong suatu kecenderungan, misalnya perasaan simpati - melainkan semata-mata demi kewajiban. Kant mendasarkan moralitas pada prinsip imperatif kategoris: bertindak berdasarkan prinsip yang dapat dijadikan hukum universal. Kunci moral terletak pada apakah tindakan itu baik di dirinya sendiri, bukan akibatnya. Otonomi moral berpikir dan bertindak secara mandiri berdasarkan akal budi merupakan landasan utama. Kritik akal budi Murni Akal budi adalah kemampuan untuk mengatasi medan panca indra, medan alam. Akal budi itu adalah murni, apabila ia bekerja tanpa penentuan oleh unsur-unsur empiris dari medan panca indra, tak tergantung pada pengalaman dan faktor-faktor empiris. Akal budi yang mengenai pengertian adalah akal budi teoritis, sedangkan yang mengenai tindakan adalah akal budi praktis. Karena itu kita mendapat akal budi teoritis murni . ang dikritik dalam kritik akal budi murn. dan akal budi praktis murni . ang dikritik dalam kritik akal budi prakti. Fungsi teoritis akal budi berkenaan dengan objek-objek dari kemampuan kognitif semata, dan kajian kritis tentang kemampuan ini dengan mengacu pada fungsi tersebut benar-benar hanya berkenaan dengan kemampuan kognitif murni. Sebab, kemampuan kognitif murni melahirkan kecurigaan, yang kemudian ditegaskan bahwa kemampuan ini dapat dengan mudah melampaui batas-batasnya sendiri dan lenyap di antara obyek-obyek yang tak tergapai atau di antara konsep-konsep yang kontradiktif. Hal ini sangat berlainan dengan fungsi praktis akal budi. Dalam fungsi praktisnya, akal budi berkenaan dengan dasar-dasar yang menentukan kehendak, yakni sebuah kemampuan yang melahirkan obyek-obyek yang berhubungan dengan konsepsi-konsepsi 18 Dahlan. AuPEMIKIRAN FILSAFAT MORAL IMMANUEL KANT (Deontologi. Imperatif Kategoris Dan Postulat Rasio Prakti. Ay 19 Difla Iklila and Ahmad Fauzi. AuRelevansi Prinsip Pesantren SamiAona Wa AthoAona Dalam Filsafat Etika Immanuel Kant,Ay Jurnal Al-Aqidah 16, no. : 104Ae19, https://doi. org/10. 15548/ja. 20 Deny Setiawan. AuPeran Pendidikan Karakter Dalam Mengembangkan Kecerdasan Moral,Ay Jurnal Pendidikan Karakter 4, no. : 53Ae63, https://doi. org/10. 21831/jpk. Vol. 09 No. 02 Agustus 2025 . atau menentukan dirinya sendiri, yaitu kausalitasnya untuk mempengaruhi obyek-obyek Di sini akal budi dapat setidaknya mempunyai kuasa sejauh untuk menentukan kehendak dan sejauh menyangkut masalah kemauan saja, akal budi selalu mempunyai realitas obyektif. Kant menyadari bahwa pengetahuan manusia itu penuh dengan Keterbatasan tersebut mengilhami Kant dalam melihat realitas. Realitas kata Kant, selalu memiliki hal yang empiris dan transedental. Keduanya bagai dua sisi mata uang, jika satu tak ada yang lain pasti musnah. Sesuatu yang transedental adalah sesuatu yang pasti benar. Yang transeden ini berada di luar tapal batas pengetahuan kita. Sesuatu yang transeden biasa disebut sebagai noumena atau das ding an sich. Akan tetapi, transeden ini memiliki hal-hal yang terbuka untuk dipelajari melalui refelkssi empiris, dengan melihat apa yang nampak atau yang tidak diketahui. Kritik akal praktis Bagian ini berbicara mengenai moral. Tujuan hakikat filsafat moral adalah membantu kita menjadi orang yang lebih baik. Kant menunjukkan bagaimana kebebasan manusia dan hukum moral membentuk garis tapal batas yang diperlukan secara mutlak demi tindakan moral. Kritik penimbangan Kritik ini lebih berkaitan dengan estetika. Secara umum kita menganggap penimbangan didasrkan pada pendapat pribadi belaka. Kant menyatakan bahwa kritik ini merupakan jembatan antara dua kritik sebelumnya, teoritis dan praktik. Pembentukan Moral Peserta Didik Menurut Imanuel Kant Immanuel Kant . 4Ae1. adalah seorang filsuf Jerman yang terkenal dengan etika deontologisnya, yakni etika yang menekankan pada kewajiban moral dan prinsip. Dalam pandangan Kant, tindakan moral adalah tindakan yang dilakukan bukan karena dorongan emosional atau kepentingan pribadi, melainkan karena kesadaran akan kewajiban moral. Prinsip utama etika Kant terletak pada apa yang ia sebut sebagai imperatif kategoris, yakni perintah moral yang bersifat universal dan tidak bersyarat 21. Salah satu rumusan imperatif kategoris Kant yang paling terkenal adalah: AuBertindaklah hanya menurut asas yang memungkinkan kamu pada saat yang sama menghendakinya menjadi hukum universal. Ay Dengan kata lain, tindakan seseorang dapat disebut bermoral jika dapat dijadikan prinsip umum yang berlaku untuk semua orang dalam situasi serupa. Pandangan Kant memiliki implikasi yang kuat dalam pendidikan moral, terutama dalam membentuk peserta didik sebagai individu yang mandiri, bertanggung jawab, dan rasional secara etis 22. 21 Warburton. AuImmanuel Kant Groundwork of the Metaphysic of Morals. Ay 22 Dahlan. AuPEMIKIRAN FILSAFAT MORAL IMMANUEL KANT (Deontologi. Imperatif Kategoris Dan Postulat Rasio Prakti. Ay Vol. 09 No. 02 Agustus 2025 . Pengembangan Akal Budi Pendidikan moral harus mengarahkan peserta didik untuk menggunakan akal budinya secara Moralitas menurut Kant berasal dari kemampuan untuk berpikir secara rasional dan menentukan prinsip hidup secara mandiri. Otonomi Moral Pendidikan tidak boleh hanya menanamkan kepatuhan buta terhadap aturan, tetapi harus membina otonomi peserta didikAikemampuan untuk menentukan sendiri mana yang baik dan benar berdasarkan prinsip moral universal. Penanaman Tanggung Jawab Dalam semangat Kantian, peserta didik perlu didorong untuk bertanggung jawab atas pilihan moralnya, bukan karena takut hukuman atau iming-iming hadiah, melainkan karena sadar bahwa itu adalah kewajiban moral. Pembiasaan Bertindak karena Kewajiban Guru dan lingkungan pendidikan perlu membentuk kebiasaan bertindak berdasarkan kewajiban moral, bukan karena dorongan emosional, tekanan sosial, atau imbalan. Hal ini akan menumbuhkan karakter yang konsisten dan berintegritas. Guru, dalam pandangan Kant, memiliki tugas penting sebagai pendidik moral, bukan sekadar pengajar. Guru harus: Menjadi teladan moral dalam tindakan dan keputusan sehari-hari. Mendorong dialog etis yang kritis dan terbuka. Mengembangkan kemandirian berpikir peserta didik. Tidak memaksakan nilai, tetapi membimbing peserta didik untuk menemukan nilai melalui nalar. Kesimpulan Pembentukan moral peserta didik menurut Thomas Aquinas dan Immanuel Kant memiliki kesamaan dalam tujuan, yaitu menciptakan individu yang bertindak secara etis. Namun, keduanya memiliki pendekatan yang berbeda dalam dasar dan proses pembentukan moral. Thomas Aquinas memandang moralitas sebagai bagian dari tatanan ilahi. Moral peserta didik dibentuk melalui pengenalan terhadap hukum moral alamiah . atural la. , yang merupakan pancaran dari hukum Tuhan. Dalam pandangan ini, pendidikan moral menekankan pentingnya iman, akal, dan kebajikan . sebagai dasar tindakan yang baik. Guru berperan sebagai pembimbing spiritual dan intelektual yang menanamkan nilai-nilai kebaikan berdasarkan kehendak Tuhan. Sementara itu. Immanuel Kant menekankan bahwa moralitas bersumber dari akal budi manusia yang otonom dan rasional. Moral peserta didik terbentuk melalui kemampuan untuk bertindak atas dasar kewajiban . , bukan karena rasa takut atau imbalan. Pendidikan moral menurut Kant bertujuan membentuk individu yang mampu berpikir etis secara mandiri, dengan menjadikan imperatif kategoris sebagai tolok ukur tindakan. Secara ringkas. Thomas Aquinas menekankan dimensi teologis dan kebajikan ilahi dalam pembentukan moral, sedangkan Immanuel Kant menekankan dimensi rasional dan otonomi moral. Keduanya dapat saling melengkapi: Aquinas menekankan fondasi transenden moral, sementara Kant mengedepankan tanggung jawab pribadi dan rasionalitas dalam tindakan etis. Vol. 09 No. 02 Agustus 2025 . DAFTAR PUSTAKA