Keberadaan Jenis Kacapi dalam Ganre Kesenian Tradisional Sunda Keberadaan Jenis Kacapi dalam Ganre Kesenian Tradisional Sunda Tardi Ruswandi. Asep Nugraha. Dody Satya Ekagustdiman Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung Jalan Buahbatu No 212. Bandung 40265 Email: tardiA_ruswandi@isbi. id, kangasepnugraha@gmail. com, dody_satya_ekagustdiman@isbi. ABSTRACT The Sundanese traditional stringed instruments known as the kacapi have appeared through a long journey of space and time. These instruments have passed down musical aesthetic values AUAUin Karawitan music in Sunda. However, some traditional stringed instruments in Sunda are marginalized nowadays because they are no longer useful and functional in social and cultural life, even though not all Sundanese are familiar with every traditional stringed instrument. This paper aims to provide an overview of the existence of traditional stringed instruments in Sunda or Kacapi. The method used is qualitative with a descriptive analysis approach, intending to make research work efficient in solving problems in research because of the description and analysis work. This research results in a synthesis that traditional musical instruments in Sunda are the Kacapi Baduy. Kacapi Jentryng Rancakalong and Cibalong Tasikmalaya. Kacapi Pantun. Kacapi Indung in cianjuran style, and Kacapi Wanda Anyar. The recommendation from the research results is creative work so that this musical instrument can exist across time in the future. Keywords: kacapi, prospecting. Sundanese ABSTRAK Alat musik petik tradisional di Sunda dikenal dengan sebutan kacapi telah tampil melewati perjalanan ruang dan waktu yang sangat panjang. Instrumen ini telah berhasil mewariskan nilainilai estetik musikal pada musik Karawitan di Sunda. Namun pada masa sekarang disenyalir beberapa alat musik petik tradisional di Sunda ini ada yang sedikit termarginalkan karena tidak lagi digunakan dan difungsikan dalam kehidupan sosial budaya masyarakatnya. Padahal tidak semua orang Sunda yang sudah mengenal dengan baik setiap alat musik petik tradisional yang mereka miliki. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai keberadaan alat musik petik tradisional di Sunda atau kacapi. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis, bermaksud agar kerja penelitian menjadi efisien dalam memecahkan masalah dalam penelitian, karena adanya pendeksripsian dan analisis. Penelitian ini menghasilkan sintesa bahwa alat musik tradisional yang ada di Sunda adalah kacapi baduy, kacapi jentryng Rancakalong dan Cibalong Tasikmalaya, kacapi pantun, kacapi indung cianjuran, dan kacapi wanda anyar. Rekomendasi dari hasil penelitian adalah kerja kreatif agar alat musik ini tetap eksis mengarungi waktu di masa yang akan datang. Kata kunci: kacapi, penelusuran. Sunda. PENDAHULUAN ragam jenis, bentuk, struktur, karakter laras. Keragaman kacapi . lat petik Sund. dan garap. Sangat membanggakan, namun beserta keseniannya diibaratkan Aotaman bunga seperti halnya siklus kehidupan, ada yang kacapi . lat petik Sund. yang luas, beraneka bertahan dan tidak mampu bertahan, ada Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Tardi Ruswandi. Asep Nugraha. Dody Satya Ekagustdiman yang berkembang dan sebaliknya punah atau Catatan mengenai alat musik petik mendekati kepunahan karena ditinggalkan di Sunda sangat minim dan sulit untuk masyarakat pendukungnya. Moh. Hasim Kebiasaan berpikir taken for granted menggambarkan siklus kehidupan tersebut dan oral tradition yang mewarnai aktivitas dalam teks berikut ini: seniman kacapi . lat petik Sund. di masa Mun ningal kembang ros, kasawang ti kaanggangan aya kulucu-lucu teuing, nu bodas nyacas siga kapas, mencenges koneng, nu beureum euceuy, diteuteup beuki lila beuki anteb, ku saha jeung iraha dipulasna, isuk-isuk kudu keneh henteu kitu, ayeuna geus mekar salin rupa. Deudeuh teuing nu itu mah geuning layu, nungtutan marurag. Teu aya nu mirosea sanajan katincakan. Ras inget kana kakawasaanNa, geuning teu lana ngaraja di patamanan teh (Hasim, 1984, hlm . Terjemahan: Jika kita mengamati bunga rose, terlihat dikejauhan begitu lucu, ada yang berwarna putih seperti kapas, ada yang warna kuning, juga merah menyala, semakin lama dilihat semakin pantas, oleh siapa dan kapan diberikan warna, karena tadi pagi tidak seperti itu, sekarang sudah berganti rupa merekah mekar. Namun sa-yang, ada yang mulai layu, satu demi satu berjatuhan. Tidak ada yang peduli meskipun terinjak. Lalu kita teringat pada kekuasaan-Nya, ternyata tidak ada yang abadi, ketika menjadi raja di taman bunga. lampau, menyebabkan hal yang bersifat teoritik dan konsep pada kacapi belum sempat diklasifikasikan, dianalisis, ditata, dan dikonsep-tualisasikan ke dalam bentuk tulisan yang sistematis berdasar prinsip kerja METODE Untuk Sunda ragam laiknya Aotaman bungaAo. Namun pada perkembangannya, kacapi di Sunda ada yang bertahan untuk survive dan ada pula yang tidak mampu bertahan dan mendekati kepunahan metode, yang tujuannya untuk membantu penulis dalam mencari jawaban. Metode yang diimplementasikan yaitu Metode deskriptif analisis merupa- Kondisi kacapi . lat petik Sund. tidak kan salah satu metode penelitian untuk jauh berbeda dengan nasib Aotaman bungaAo yang memecahkan masalah yang diakukan dengan digambarkan teks di atas. Fenomena beberapa alat musik petik yang mendekati kepunahan Menurut David Williams . , penelitian menjadi urgen untuk didokumentasikan, kualitatif adalah pengumpulan data pada karena para pelaku yang menyimpan pengeta- suatu latar alamiah, dengan menggunakan huan . erutama seniman alat peti. yang rata- metode alamiah, dan dilakukan oleh orang rata berusia uzur, pengetahuan, dan skill- atau peneliti yang tertarik secara alamiah. nya belum ditransmisikan kepada generasi Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Peneliti kreatif dan pengembangan yang ditelorkan Keberadaan Jenis Kacapi dalam Ganre Kesenian Tradisional Sunda seniman kacapi menjadi pondasi utama yang diterjemahkan dan tersimpan di Museum menyebabkan entitas alat musik petik ini Sri Baduga Maharaja Jawa Barat. Pemerintah mumpuni melewati perjalanan ruang dan waktu untuk tampil multiface hingga eksis termanifestasikan pada masa sekarang. sebesar Rp 600 juta untuk biaya penerjemahan Kreativitas Jawa Barat Disbudpar 40 naskah kuno. Naskah tersebut belum kemampuan untuk mengidentifikasi masalah diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda. dan memberi jawaban yang tepat atas masalah Di dalamnya memuat informasi penting itu menjadi pondisi kajian terhadap keber- mengenai sejarah, kebudayaan, teknologi adaan entitas kacapi yang teraktualisasi hingga pertanian, dan kehidupan masyarakat Sunda Artinya, ada seniman praktisi di masa lampau. yang menjadi agent of change pada masanya Ironisnya keberadaan naskah Sunda memberikan jawaban yang tepat atas perma- kuno tidak pada satu tempat, berceceran salahan entitas alat petik di Sunda pada masa di tangan kolektor benda antik, sebagian itu, misal dengan menambah jumlah dawai diangkut ke Belanda, sehingga berbuah atau melengkapi permainan kacapi menjadi kendala bagi peneliti lokal, dibutuhkan biaya lebih kompleks. Hasil kreativitas tersebut besar untuk mempelajari naskah kuno yang ternyata tersimpan dalam perjalanan ruang tersimpan di negeri Kincir Angin. dan waktu, sehingga di masa sekarang Pada Hindia warisan atas eksistensi kacapi itu tampil dan Belanda, data-data sejarah dan transkip dikenal sebagai tradisi. penting mengenai kehidupan sosial budaya masyarakat Sunda dan Jawa banyak yang diboyong ke luar negeri (Iskandar, 1984, hlm. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian peneliti asing pada masa Proses transmisi skill dan knowledge di itu dibawa pulang ke negara mereka. Tak kalangan seniman kacapi berlangsung secara heran, jika di luar negeri. Kulsum menemukan Tulis-menulis belum membudaya dan naskah Sunda yang terpelihara di museum di bukan aktivitas penting, menyebabkan feno- berbagai negara, seperti di Inggris. Swedia, mena perkembangan kacapi banyak yang Belanda. Australia. Jerman, dan Polandia luput terekam dalam naskah kuno masyarakat (Kulsum, 2007, hlm. Sunda. Kalau pun ada naskah kuno yang Gambaran memuat informasi tersebut, kebanyakan rusak seniman pelakunya ditulis Jaap Kunst pada karena dimakan usia sehingga sulit untuk Kunst meneliti gambar relief dinding Candi Jago . 0 M), yang menyerupai Koran Pikiran Rakyat pada tanggal instrumen kacapi di Sunda. Namun divisualkan 23 februari 2006, memberitakan bahwa 120 dengan posisi tangan pemain yang berbeda naskah kuno yang ditulis dan diterbitkan dengan yang lazim diterapkan pemain kacapi pada abad 7 - 19, sampai saat ini belum sempat di Sunda (Zanten, 1987, hlm. Perbedaan Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Tardi Ruswandi. Asep Nugraha. Dody Satya Ekagustdiman itu menyebabkan Ernst L. Heins berasumsi Kacapi Baduy bahwa secara organologi dan permainan. Catatan peneliti Belanda yang membu- kacapi di Sunda bukan berasal dari kebudayaan ka keberadaan kacapi dan senimannya, adalah Zithers Hindu-Jawa, akan tetapi berhubungan laporan Van Hoevell pada tahun 1845, yang langsung dengan kebudayaan Zithers di Asia menulis aktivitas anggota masyarakat suku Timur (Zanten, 1987, hlm. Baduy yang dipanggil juru pantun kerap Keberadaan pemain kacapi disinggung memainkan alat musik yang disebut kacapi. Sanghyang Siksa Kandang Karesian, naskah Juru Pantun Baduy dituntut memiliki kuno masyarakat Sunda yang dibuat pada wawasan pengetahuan dan keterampilan masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja menabuh kacapi agar bisa memenuhi tugasnya . , ditulis dengan candra sangkala, dengan baik. Proses transmisi pengetahuan berbunyi nora . awasan, menabuh kacapi, cerita, lagu-lagu . , menunjukan tahun 1440 saka atau tahun dan mantr. dilakukan dari Aomulut ke mulutAo 1518 M, berisinya ajaran moral, etika, dan antar tukang Pantun. Kini, masyarakat Baduy informasi mengenai kehidupan sosial budaya hanya memiliki enam tukang Pantun, yakni Beberapa tiga orang dari Baduy Dalam dan tiga orang keterangan mengenai keberadaan kacapi dan dari Baduy Luar. Juru Pantun dari Baduy senimannya ditulis sebagai berikut: Dalam biasanya ditanggap di kampungnya Sunda Hayang nyaho di pantun ma: Langgalarang. Banyakcatra. Siliwangi. Haturwangi. prepan-tun tanya. Aya ta deui. Lamun urang nyeu-eung nu ngawayang, ngadengekeun nu ma. tun, nemu siksaan tina carita, ya kangkeh guru panggung ngara. na (Warnaen, 1987, hlm. Terjemahannya: masing-masing dan tukang pantun dari Baduy Luar biasanya ditanggap untuk berpuluhpuluh kampung Ae jumlah kampung di Baduy Luar sekarang terdapat sebanyak 50 lebih kampung. Hal yang menarik dari tukang pantun dari Baduy dalam dan Baduy luar, adalah wilayah tanggapan bagi tukang Tukang pantun dari Baduy Dalam bisa Bila ingin tahu tentang pantun, seperti Langgalarang. Banyakcatra. Siliwangi. Haturwangi, tanyalah juru pantun. Ada Kalau kita menonton wayang, mendengarkan juru pantun, lalu menemukan pelajaran dari kisahnya, itu disebut guru panggung. diundang untuk mantun di wilayah kampung Naskah di atas menerangkan pantun dan panjang dengan enam utas dawai yang tebal juru pantun eksis pada masa itu . , yaitu dan panjang tidak sama (Zanten, 1987, hlm orang yang dikenal bisa menabuh kacapi sambil Laporan Hoevell ditindaklanjuti Meijer membawakan cerita pantun. Keberadaa-n juru dalam penelitian berjudul De BadoejAos . pantun ini sekurang-kurangnya telah ada Pada waktu itu Meijer menyaksikan di sekitar sebelum naskah kuno tersebut dibuat. pemu-kiman Baduy Luar ada juru pantun Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Baduy Luar, tetapi sebaliknya belum pernah terjadi tukang pantun dari Baduy Luar mantun di Baduy Dalam (Permana, 2006, hlm. Kacapi Baduy yang digunakan juru pantun dideskripsikan Hoevel sebagai jenis gitar yang Keberadaan Jenis Kacapi dalam Ganre Kesenian Tradisional Sunda padi huma (Ekadjati, 1984, hlm. Menanggap pantun merupakan bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada Dewi Padi atau Nyai Sri atas hasil panen yang telah diperoleh (Suhaety, 2019, hlm. Cerita yang biasa dibawakan adalah Nyi Pohaci Sanghyang Sri, mengete-ngahkan asal usul dan cara merawat tanaman padi (Atmadibrata, 1999, hlm. Gambar 1. Kacapi Baduy (Sumber: Enoch Atmadibrata, 1. Mayarakat yang me-mainkan kacapi, berkeliling semacam ngamen untuk mencari uang (Meijer, 1891, hlm . Kacapi Baduy dianggap representasi kacapi masyarakat Sunda pada masa lampau, sekurang-kurangnya mendekati yang asli (Sukanda, 1996, hlm . Asumsi tersebut beralasan, karena masyarakat Baduy . erutama Baduy Dala. kukuh dan taat menjaga nilai ketradisiannya. Mereka menolak semua kebudayaan yang berasal dari luar (Ekadjati, 1984, hlm. 75% tatanan kehidupannya masih relatif asli dan representasi berdasarkan tatanan kehidupan masyarakat Sunda lama (Sukanda, 1996, hlm. Kacapi Baduy perahu, panjang antara 70-80 cm, lebar 15-20 cm, tinggi 12-15 cm, dan jumlah dawai antara 9-12 utas (Suryana, 1975, hlm. Soepandi, 1976, hlm. dan Ekadjati, 1984, hlm. Kacapi ini tidak mengalami pengecatan, warnanya putih dari warna alami kayu. Kacapi ini digunakan mengiringi sajian cerita pantun pada malam hari (Zanten, 1987 hlm 91 dan Sukanda, 1996, hlm . , sebagai ritual yang berkaitan dengan praktik mata pencaharian orang baduy, sebagai peladang Baduy masih hidup bersahaja di pegunungan pedaleman Banten Selatan, tepatnya berada di Desa Kanekes. Kecamatan Leuwi Damar. Kabupaten Lebak. Propinsi Banten (Dulu bagian Propinsi Jawa Bara. Masyarakat Baduy terbagi menjadi tiga bagian, yaitu Tangtu. Panamping, dan Dangka. Tangtu dan Panamping berada pada wilayah Desa Kanekes, sedangkan Dangka terdapat di luar desa Kanekes. Bila dilihat dari ketaatan kepada adat. Tangtu lebih tinggi dibanding Pangamping. Pangamping lebih tinggi dibandingkan Dangka. Namun pembagian yang sering digunakan yaitu Tangtu merujuk pada masyarakat Baduy Dalam, sedangkan Pangamping dan Dangka merujuk pada masyarakat Baduy Luar (Permana, 2006, hlm. Kacapi Pantun Pada tahun 1884. Coolsma melaporkan aktivitas juru pantun yang melakukan penambahan jumlah dawai, menyebabkan varian kacapi pantun beragam dari aspek jumlah dawai, yakni antara enam hingga empat belas Penambahan dawai adalah bentuk reaksi juru pantun yang tidak puas menggunakan kacapi pantun konvensional dengan jumlah Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Tardi Ruswandi. Asep Nugraha. Dody Satya Ekagustdiman kalangan juru pantun muda, di mana mereka menampilkan keragaman variasi tabuhan (Plyte, 1906, hlm. Para juru pantun generasi tua tetap bertahan menggunakan kacapi berdawaikan 6-7 utas, dipastikan permainan mereka tidak seatrak-tif para juru pantun muda (Plyte, 1906, hlm. Gambar 2. Kacapi pantun pada Festival Seni Pantun Sunda yang mencari bibit muda juru pantun, diselenggarakan Proyek Penunjang Peningkatan Kebudayaan Jawa Barat (Sumber: Enoch Atmadibrata, 1. Selain menambah jumlah dawai para juru pantun berusaha kreatif mengkemas tampilan agar tidak monoton. Pengkemasan apresiator kaum muda yang tidak mengalami jaman keemasan pantun sebagai pertunjukan teater tutur dan hiburan orang tua mereka pada masa lampau. Pengkemasan pada iringan cerita pantun, dilakukan dengan tarawangsa Ae tarawangsa adalah sejenis alat musik gesyk yang memiliki dua dawai yang terbuat dari kawat bekas kopling motor. Gambar 3. Pemain kacapi pantun yang umumnya telah uzur dan tuna netra pada tahun 1978 (Sumber: Enoch Atmadibrat. dawai antara 5-6 utas, hanya menyusun satu oktaf susunan nada pentatonis. Permainan melodi yang dibawakan otomatis minim variasi dan bermain di seputar wilayah nada pada oktaf tersebut. Berbeda ketika jumlah dawai ditambah menjadi 14-15 utas, juru pantun terstimulus untuk kreatif mengembangkan permainan melodi kacapi yang menjelajah wilayah nada hingga tiga gembyang . (Zanten, 1987, hlm. Semenjak penambahan jumlah dawai, tabuhan juru pantun semakin kompleks. Pleyte melihat kecenderungan penggunaan kacapi ber-dawai sebanyak 11, 13, 15 utas, merebak di Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 digysyk menggunakan injuk yang banyak dihasilkan dari pohon enau Ae yang mana fenomena ini Enoch Atmadibrata tahun 1976 di daerah Ciranjang Cianjur, juru pantun bernama Aki Hanafi menyajikan cerita pantun diiringi petikan kacapi dan tarawangsa. Kreativitas yang dilakukan Aki Hanafi sebelumnya dilakukan seniman lain, terekam dalam foto pertunjukan pantun di pendapha kabupaten Bandung pada tahun 1920. Juru pantun yang menyajikannya dibantu seniman sebagai pembawa melodi. Keativitas hingga tahun 1960-an, mengikutsertakan perangkat gamelan berikut sindyn ke dalam pertunjukan pantun (Hazmirullah, 2006, hlm. Keberadaan Jenis Kacapi dalam Ganre Kesenian Tradisional Sunda yang mendengarkan akan terpacu untuk menggerakan tubuhnya Ae psikomotorik Ae dan merubah detak jantung dan memacu Hal tingkat konsentrasi. Sajian Pantun semacam itu disebut pantun beton. Keberadaan sekarang Gambar 4. Kacapi pantun yang diiringi tarawangsa oleh Aki Hanafi di Ciranjang Cianjur (Sumber: Enoch Atmadibrata, 1. nyaris punah, hanya berada di Bandung. Sumedang. Subang, dan Tasikmalaya. Kacapi Jentreng Rancakalong Keberadaan kacapi yang ditulis Plyte . dan Coolsma . , masih tersaksikan hingga sekarang (Atmadibrata, 1999, hlm. Kacapi ini terpelihara oleh masyarakat adat di Desa Rancakalong Kabupaten Sumedang. Gambar 5. Pantun di Kabupaten Bandung pada tahun 1920 (Sumber: Enoch Atmadibrat. menjadi pengiring upacara penghormatan Dewi Padi, pada saat prosesi penyimpanan padi ke leuit . umbung pad. Kacapi ini disebut dengan istilah Jentryng, terdiri atas 12 utas dawai. Bentuk dan ukuran kacapi jentreng relatif sama dengan kacapi Baduy, namun lebih halus dalam pembuatan dan teknik pertukangan Gambar 6. Pantun beton dengan menggunakan kacapi dan perangkat gamelan juga sindyn (Sumber: Enoch Atmadibrata, 1. yang lebih maju . enggunakan hampelas, cat, dempul, dan sebagainy. Tidak heran jika secara fisik penampilan jentryng lebih rapih lagu-lagu yang dibawakan sindyn dengan dari pada kacapi masyarakat Baduy. iringan gamelan disajikan sebagai selingan. Jentryng dibawakan bersama dengan Lagu-lagu tersebut diharapkan menyegarkan tarawangsa, menyajikan lagu-lagu pada laras kembali kon-sentrasi penonton. enyebutan laras melog ditujukan untuk Musik yang dihadirkan bersifat afektif . , mirip dengan laras pelog di wilayah budaya Sund. Konon perpaduan melodi jentryng (Djohan, 2005, hlm. Dalam konteks ini, dan tarawangsa dipercaya menghadirkan Nyai ketika seseorang mendngarkan musik yang Sri (Dewi Pad. turun ke bumi dan berkenan memberikah berkah atas kesuburan tanah dan sebutan tangga nada yang kedengarannya yang relatif cepat seperti yang dibawakan gamelan dan sindyn. Secara tidak sadar orang hasil panen pada musim yang akan datang. Tabuhan jentryng Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Tardi Ruswandi. Asep Nugraha. Dody Satya Ekagustdiman sederhana, banyak pengulangan . Namun dinamika, di mana sesekali dawai ditabuh . ntensitas halus . ntensitas tekanan lema. Fungsi musikalisasi kacapi jentryng adalah sebagai pembawa garis besar alur lagu dan menjadi patokan atau pijakan bagi pemain tarawangsa untuk mengisi dan membawakan melodi Hasil perpaduan musikalitas tersebut membawa penghayatan tersendiri bagi yang Gambar 7. Personil seniman calung tarawangsa Tasikmalaya, semua sudah lanjut usia (Sumber: Asep Nugraha, 2. khusus terlibat dalam upacara. Tak jarang, di antara penari mengalami kerasukan. Tafsir fenomena kerasukan ini adalah sebagai tanda bahwa Nyai Sri dan para leluhur ikut hadir dan merestui upacara tersebut. Kacapi Jentreng Cibalong dan Cipatujah Tasikmalaya Jenis kacapi yang mirip dengan kacapi Gambar 8. Kacapi Jentreng pada seni calung tarawangsa di Cibalong dan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya (Sumber: Enoch Atmadibrata, 1. Baduy dan Jentryng Ae masih hidup hingga sekarang Ae adalah kacapi pada kesenian seiring tutup usianya para seniman yang calung tarawangsa masyarakat Cibalong dan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya. Jumlah Kekhawatiran itu menjadi beralasan dawai sebanyak tujuh utas, kayunya dicat, karena kesenian yang erat dengan ritual dan digunakan mengiringi lagu dan tari penghormatan Dewi Padi semakin terasing dalam upacara yang berhubungan dengan dalam lokusnya. Mereka mulai ditinggalkan penghormatan Dewi Padi (Suryana, 1975, hlm. masyarakat pendukungnya. Lahan pertanian 10 dan Atmadibrata, 1999, hlm. yang menyempit karena didirikan pabrik Mak Enar yang menabuh kacapi . uga berganti dari bermatapencaharian bertani lanjut, jika dihitung hingga tahun 2022 menjadi buruh pabrik (Rohmat, 2017, hlm. usianya 80 tahun. Mak Enar menabuh kacapi Kesenian yang berhubungan dengan sambil menyanyikan lagu berbahasa Sunda pertanian mendapatkan dampaknya, jarang dengan laras yang disebut laras rindu. Usia ada yang menanggap. Fenomena tersebut lanjut para personil tidak ditindaklanjuti proses regenerasi. Dipastikan kondisi ini kesenian sebagai bagian hidup, mulai bergeser menyebabkan kesenian calung tarawangsa dan bukan menjadi bagian hidup lagi. Dulu. Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Sri Hastanto Keberadaan Jenis Kacapi dalam Ganre Kesenian Tradisional Sunda orang tidak puas kalau berbuat sesuatu tanpa kesenian. Auyen durung nggantung gong kuwi ora resmiAy, artinya, tidak nanggap kesenian semua kegiatan terasa belum lengkap. Sekarang kehidupan mulai berubah, orang sudah merasa lengkap tanpa kesenian, asalkan sudah bisa hidup, punya rumah, punya kendaraan, dan sebagainya, mereka tidak perlu memikirkan kesenian yang dulunya pernah menjadi bagian penting dari kehidupan mereka (Devereaux, 1989, hlm. Kacapi indung, jenis alat musik berdawai pada tembang sunda cianjuran, telah menemani kehadiran genre musik ini sejak awal kelahiran hingga sekarang. Kacapi indung mengalami perkembangan pada jumlah dawai, bentuk dan teknik pembuatannya, juga tabuhannya. jumlahnya seiring waktu, dari 5, 9, 15 dawai, dan hingga sekarang berjumlah 18 utas dawai (Plyte, 1906, hlm. Teknik pembuatannya mengalami perkembangan juga. Hasilnya adalah kacapi yang bentuk rupanya lebih halus dan apik karena kemajuan pertukangan dan sistem pewarnaan cat yang merata. Ukuran Namun Mengenai bagaimana ukuran, warna berserta bahan warnanya, dan motif ukiran yang menghias pada kacapi indung, semuanya Kacapi Indung Tembang Sunda Cianjuran Dawai Gambar 9. Kacapi indung dengan jumlah dawai yang dikembangkan dari kacapi jentryng dan pantun (Sumber: Asep Nugraha, 2. antara 135-150 cm, lebar 24-26 cm, tinggi 21 cm. Pewarnaan biasanya menggunakan pelitur, cat kayu, dan ada yang menggunakan cat mobil, umumnya berwarna hitam. Tapi ada pula yang berwarna coklat, abu-abu, putih, dan merah. Di Cigugur, kabupaten Kuningan. Jawa Barat, kacapi ini mendapatkan sentuhan kreatif, diukir pada bagian tertentu, seperti gelung, wangkis, pureut, dan lain sebagainya. kembali dan bergantung pada selera pemilik, seniman, maupun pengrajin instrumen ini. Teknik tabuhan kacapi indung sama dengan kacapi pantun dan kacapi jentreng, yakni disintreuk, ditoel, dan dikait. Namun permainan kacapi indung lebih kompleks karena menjelajah wilayah nada yang luas pada delapan belas utas dawai. Kacapi Wanda Anyar Kacapi Wanda Anyar ditelorkan seniman Koko Koswara, maestro Karawitan Sunda dan seniman yang mengalami Auempat jaman,Ay yakni jaman Belanda. Jepang. Orde Lama, dan jaman Orde Baru. Koko banyak terpengaruh unsur-unsur musikal dari empat jaman yang diala-minya itu. Pada zaman Belanda, secara paedagogik. Koko konteks-tual keilmuan musik khususnya dari Eropa (Beland. Ia mahir memainkan gitar, biola, dan nyanyian lagu Barat. Nuansa ini tumbuh secara harmonis dan dinamis melatarbelakangi Koko Koswara. Pada jaman Jepang dalam kurun waktu tiga setengah tahun, seniman lokal mengalami Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Tardi Ruswandi. Asep Nugraha. Dody Satya Ekagustdiman musik Barat, namun alunan melodi yang tercipta tetap bernuansa idiom karawitan Sunda. SIMPULAN Kacapi (Alat Musik Peti. di Sunda sangat sebaliknya, mampu menelorkan lagu dalam lagu Kulu-Kulu Barang dengan menggunakan lirik bahasa Jepang. Bukti bahwa dalam kekisruhan suasana perang dunia kedua tidak Koko untuk berkarya Koko wanda anyar yang berbeda permainannya dengan genre kacapi indung, pantun, dan jentryng. Kacapi . yang berjumlah 20 dawai dimanfaatkan Koko untuk menciptakan teknik dan tabuhan kacapi yang relatif baru. Petikannya bersumber pada pengalaman Koko semasa kanak-kanak, remaja, dan pemuda yang akrab dengan lingkungan pendidikan Belanda dan musiknya. Tidak heran jika arransemen petikan kacapi gaya Koko Koswara, banyak dipengaruhi harmoni AuarpegioAy dan irama AumarsAy. Selain itu dengan cerdas Koko meluruhkan fenomena triakord diatonik yang dimasukan dalam permainan kacapi namun ditutupi dengan nuansa tradisi pada karawitan Sunda yang ditonjolkan seperti aksen AukempyungAy. Aumi-laAy. Ayda-tiAy. Ayda-naAy yang menjadi ciri khas tabuhan kacapi gaya AuKokoAy, sehingga walaupun dipengaruhi Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 profan, hingga hiburan. Perkembangan kacapi kevakuman dalam berkarya. Namun Koko sosial budaya masyarakatnya, untuk ritual. Gambar 10. Mang Koko tengah memetik kacapi wanda anyar di Sunda dihubungkan benang merah, yang Bentuk fisik dan jumlah dawainya semakin berkembang, dari yang sederhana hingga yang kompleks, dari dawai yang sedikit hingga banyak, dari tabuhan yang didominasi pengulangan . hingga yang mengandung kompleksitas dengan tingkat kerumitan tinggi. Bahkan ada tabuhan permainan kacapi yang dipengaruhi aksentuasi musik Barat (Kacapi Zither yang memainkan repertoar musik non tradisi (Bara. , dengan cara melaras tangga nada pada dawai dengan tangga nada diatonis . on Karawita. Hal itu adalah bukti konkret bahwa kacapi sebagai produk budaya tampil dinamis beradaptasi dengan jaman yang dilaluinya. Tidak menutup mata, pasang surut pada instrumen kacapi di Sunda memang terjadi, sebagai konsekuensi logis produk budaya: untuk beradaptasi dengan jamannya. yang mengalami proses regenerasi yang tidak berjalan dengan wajar. dan ada yang sehingga kurang mendapatkan kesempatan untuk tampil di ruang publik luas. Namun catatan bagi peneliti yang Keberadaan Jenis Kacapi dalam Ganre Kesenian Tradisional Sunda mencoba menginventaris kacapi di Sunda, disimpulkan suatu pernyataan bahwa kacapi hingga kini masih eksis, hidup, dan berkembang dengan baik, terlepas beberapa di antaranya mengalami masalah dalam Kacapi Sunda tersimpan di museum, tetapi sebuah benda yang terus berkembang dan beradaptasi, yang menunjukan percepatan kinerja dan keberlangsungan dari waditra ini. *** DAFTAR PUSTAKA