AJER Advanced Journal of Education and Religion Vol. 2 No. 3 September 2025 Pembentukkan Karakter Religius Siswa Kelas Vi Melalui Kegiatan Shalat Dhuha di SMP NU Simo Eka Nur Hidayati1*. Khotimah Suryani2. Mahbub Junaidi3 123Fakultas Agama Islam. Universitas Islam Darul Ulum Lamongan *Corresponding author: ekanur. 2021@mhs. ARTICLE INFO ABSTRACT Article history Received 05-09-25 Revised 15-09-25 Accepted 18-09-25 Religious education has an important role in shaping the character of students, especially religious character which is the moral foundation in life. The habit of worship, such as the dhuha prayer, is one of the concrete efforts made by schools to instill religious values in students. SMP NU Simo, dhuha prayer activities are made a routine before learning begins as a means of forming students' religious character. However, in its implementation, there are still several obstacles, such as the lack of discipline of some students in participating in the dhuha prayer, low awareness of the importance of this sunnah worship, the influence of the environment and peers who are less supportive, and the lack of variety of coaching methods that make some students carry out worship only as a formal obligation without understanding its meaning in The results of the study show that the dhuha prayer activities carried out regularly at SMP NU Simo are able to form students' religious character, such as discipline, responsibility, and spiritual awareness. Students become more accustomed to carrying out worship independently and have an attitude that reflects the value of religious values in daily life. Inhibiting factors in the implementation of this activity include lack of student awareness, environmental influences, as well as limited time and teacher supervision. Keywords: Formation. Religious Character. Dhuha Prayer. Kata Kunci Ecucation. Religious character. Shalat Dhuha Pendahuluan Pendidikan adalah dasar utama dalam membentuk karakter dan kepribadian generasi mendatang. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, tujuan pendidikan telah dinyatakan dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu "mencerdaskan kehidupan bangsaAy. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. AuUndang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945Ay 105, no. : 129Ae Seiring dengan tujuan tersebut, pengembangan karakter siswa menjadi salah Ajer Advanced Journal of Education and Religion Vol. No. September 2025 satu perhatian utama dalam dunia pendidikan saat ini. Pendidikan juga berfungsi sebagai pilar utama untuk melahirkan generasi yang berkualitas, baik dari segi intelektual maupun moral. Pendidikan yang baik tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga pada pengembangan karakter Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3 mengenai Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan memiliki tujuan untuk "Mengembangkan potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak baik, sehat, berilmu, terampil, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawabAy. undang-Undang Republik Indonesia And Nomor 20 Tahun 2003. AuTentang Sistem Pendidikan Nasional,Ay Zitteliana 19, no. : 159Ae70. Di zaman modern ini, perkembangan tuntutan zaman membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pembentukan karakter generasi muda. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah bagaimana menumbuhkan karakter religius siswa di tengah dampak globalisasi dan kemajuan teknologi yang cepat. (Utomo & Rizqa, 2. Masuknya budaya asing yang tidak selaras dengan nilai-nilai agama, maraknya penggunaan media sosial tanpa kontrol, dan pengaruh pergaulan bebas menjadi faktor yang dapat mengikis sikap religius generasi muda. Selain itu, rendahnya kesadaran sebagian siswa terhadap pentingnya ibadah, lemahnya pengawasan dari lingkungan keluarga, dan kurangnya pembiasaan nilai-nilai keagamaan di sekolah turut menjadi hambatan yang perlu mendapat perhatian. Karakter religius menjadi dasar penting dalam menciptakan kepribadian yang berakhlak baik, bertanggung jawab, dan mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial yang beragam. Pendidikan karakter religius di sekolah memiliki peran penting dalam membentuk perilaku siswa agar sesuai dengan nilai-nilai moral dan agama. Salah satu langkah konkret yang bisa diambil adalah melalui kebiasaan beribadah, seperti pelaksanaan shalat dhuha secara rutin di lingkungan sekolah. Kegiatan shalat dhuha bukan hanya sekadar bentuk ibadah, tetapi juga sebagai sarana untuk menginternalisasi serta tanggung jawab. (Chusniatun, 2. Berdasarkan data Kementerian Agama Republik Indonesia . , implementasi program pembiasaan ibadah di sekolah, termasuk shalat dhuha, menunjukkan peningkatan positif terhadap perilaku keagamaan siswa. Hasil survei di beberapa sekolah menengah pertama di Jawa Tengah menunjukkan bahwa 78% siswa yang rutin mengikuti shalat dhuha memiliki tingkat kedisiplinan dan tanggung jawab yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang tidak mengikuti kegiatan tersebut. Kemenag. AuLaporan Kementrian Agama 2024,Ay . Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya karakter religius siswa dapat berasal dari lingkungan internal dan eksternal. Faktor internal meliputi motivasi pribadi, pemahaman agama, serta pengalaman spiritual yang dimiliki Sementara itu, faktor eksternal mencakup peran keluarga, lingkungan sekolah, serta pengaruh teman sebaya. 7 Lingkungan sekolah yang kondusif dan didukung oleh program keagamaan yang terstruktur akan sangat membantu dalam Ajer Advanced Journal of Education and Religion Vol. No. September 2025 membentuk karakter religius siswa. Sholat dhuha adalah sunnah muakadah. Abu Hurairah r. dia bercerita. AuKekasihku Rasulullah SAW mewasiatkan tiga hal kepadaku . ang aku tidak akan meninggalkannya sampai aku mati kela. , yaitu puasa tiga hari pada tiap bulan, dua rakaat dhuha dan shalat witir sebelum tidur. (Siti Nor Hayati, 2. Dikutip dibuku Muhammad Hasan Husein. Menurut Ubaid Ibnu Abdillah, yang dimaksud dengan Shalat Dhuha adalah Aushalat sunnah yang dikerjakan ketika pagi hari pada saat matahari sedang naik. (Husein, 2. Menurut para ahli, pengertian shalat Dhuha dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, baik secara istilah maupun fiqih. Pengertian Sholat Dhuha menurut para ulama. Imam An-Nawawi dalam kitabnya AualMajmuAy menjelaskan bahwa sholat Dhuha adalah salat sunnah yang dilakukan pada waktu pagi hari, yang dilakukan antara waktu terbitnya matahari hingga sebelum waktu dzuhur. Dalam hal ini SMP NU SIMO merupakan sekolah yang memiliki tujuan untuk menghasilkan lulusan yang berkarakter, salah satu karakter yang akan peneliti bahas yaitu karakter religius. SMP NU SIMO sangat peduli terhadap pembentukan karakter religius seperti membiasakan siswa untuk disiplin dengan peraturan di sekolah, menyelenggarakan bimbingan dan keteladanan yang diterapkan melalui kegiatan keagamaan yakni kegiatan sholat dhuha. Di SMP NU Simo, kegiatan shalat dhuha telah dilaksanakan secara rutin, khususnya di kelas Vi. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pembentukan karakter religius siswa. Namun, dalam pelaksanaannya masih dijumpai berbagai tantangan, seperti kurangnya pemahaman siswa tentang makna shalat dhuha, motivasi yang belum merata, serta konsistensi dalam pelaksanaan yang masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis lebih lanjut mengenai bagaimana pelaksanaan kegiatan ini mampu berkontribusi dalam membentuk karakter religius siswa. Metode Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian Penelitian kualitatif pada dasarnya menggunakan latar alamiah sebagai sumber data utama dengan interpretasi fenomena yang terjadi secara mendalam. Dalam konteks penelitian ini, peneliti berupaya memahami dan mendeskripsikan proses pembentukan karakter religius siswa melalui kegiatan shalat dhuha di SMP NU SIMO. Penelitian kualitatif juga menghasilkan prosedur analisis yang tidak menggunakan prosedur analisis statistik. (Kusumastuti, 2. Jelas bahwa penelitian ini memperlihatkan perbedaannya penelitian kualitatif dengan kuantitatif yaitu dengan menonjolkan bahwa usaha kuantifikasi apapun tidak perlu digunakan pada penelitian kualitatif. Oleh sebab itu, berkaitan dengan data yang tidak berbentuk angka, dengan fokus pada pengumpulan dan analisis data yang bersifat naratif. Metode penelitian kualitatif terutama digunakan untuk mendapatkan jumlah data yang signifikan dan informasi mendalam mengenai isu atau masalah yang ingin dipecahkan. Metode ini melibatkan penggunaan Ajer Advanced Journal of Education and Religion Vol. No. September 2025 wawancara mendalam, observasi, dan pengumpulan data. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dua jenis sumber data, yaitu data primer dan data sekunder, yang akan dijelaskan sebagai berikut: . Sumber data utama . yaitu data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data dan sumber data ini diperoleh secara langsung dari lapangan. Sumber data sekunder bisa berupa buku, laporan penelitian, artikel ilmiah, maupun arsip yang relevan dengan fokus dan tujuan penelitian. Data sekunder digunakan untuk mendukung dan memperkuat temuan yang diperoleh dari data Hasil dan Pembahasan Sejarah Singkat Berdirinya SMP NU SIMO SMP NU Terakreditasi A berdasarkan SK Badan Akreditasi tingkat SMP Nomor 04/07/BASKAB-MN/XI/2011 merupakan salah satu bagian dari lembaga-lembaga pendidikan formal dalam lingkungan Pondok Pesantren Matholi'ul Anwar Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan yang berciri khas Islam yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Sebagai Sekolah Menengah Pertama (SMP) kurikulum SMP NU disusun sesuai dengan kurikulum yang berlaku tanpa ada pengurangan, baik mata pelajaran maupun alokasi waktu, bahkan SMP NU menmbah mata Pelajaran Agama Islam yang dikondisikan dengan Lingkungan. SMP NU didirikan pada tahun 1986 oleh Almarhum Drs. MASYKURI SHODIQ. SH menantu Almaghfurllah KH. SOEFYAN ABDUL WAHAB Pendiri Pondok Pesantren Matholi'ul Anwar Simo. SMP NU Berlatar belakang Pondok Pesantren agar para Siswa/santri memiliki kemampuan Umum dan Agama sehingga dapat mewujudkan lulusan yang memiliki karakter kecakapan, ketrampilan yang kuat dan bermanfaat dalam lingkungan masyarakat, berbangsa dan beragama. SMP NU mengembangkan kecakapan siswa yang bermuatan unsur pemikiran, penalaran, pengendalian diri ketrampilan hidup . ife skil. untuk mewujudkan hal tersebut diatas. SMP NU menyediakan berbagai sarana dan prasarana serta kegiatan yang menghasilkan lulusan yang bermuatan IPTEK dan IMTAQ dengn ciri khas pendidikan Islam Ala Ahlussunah Wal Jama'ah. Data Sekolah dan Struktur Sekolah Jadwal Kegiatan Shalat Dhuha Beserta Imamnya Tabel 1. Jadwal Imam Shalat Dhuha HARI SABTU AHAD SENIN SELASA RABU KAMIS KELAS VII VII IMAM SHOLAT DHUHA MOH. KHAFIDHULLOH. ALAMUL MASRUR. AFFAN SOFI RONALDO SUPRIANTO. SUHLI. Pd. FARIS NAUFAL HAMDANY. Ajer Advanced Journal of Education and Religion Vol. No. September 2025 Jumlah Siswa SMP NU Simo Jumlah peserta didik SMP NU Simo pada tahun pelajaran 2025-2026 dengan total 250 siswa, dengan rincian sebagai berikut : Tabel 2. Jumlah Kelas dan Siswa KELAS VII A VII B VII C Vi A Vi B Vi C Vi D IX A IX B IX C IX D JUMLAH SISWA Sarana dan Prasarana Sarana dan Prasarana adalah fasilitas penunjang yang dibutuhkan dalam pecapaian menuntut ilmu. SMP NU Simo telah menyediakan sarana dan prasarana yang sangat memadai. Sarana dan prasarana meliputi : Tabel 3. Sarana dan Prasarana SARANA PRASARANA UNIT KETERANGAN Gedung Sekolah Baik Ruang guru dan staf Baik Lab. Komputer Baik Musholla Baik Kelas Baik Perpustakaan Baik Kantin Baik Karakter Religius Pembentukkan karakter religius siswa melalui kegiatan shalat dhuha di SMP NU Simo sudah berlangsung sejak awal sekolahan ini berdiri yakni tahun 1986 hingga saat ini. Sehingga kegiatan ini melatih peserta didik untuk terbiasa dengan kegiatan shalat dhuha yang berdampak positif pada karakter siswa. Melalui kegiatan shalat Dhuha yang dilakukan secara berjamaah, siswa tidak hanya diajak untuk melaksanakan ibadah sunnah, tetapi juga dilatih dalam hal kedisiplinan waktu, ketaatan terhadap perintah agama, serta kebersamaan dalam lingkungan Proses inilah yang secara perlahan menumbuhkan karakter religius dalam diri siswa. Maka dari itu, pelaksanaan shalat Dhuha tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga menjadi media pembinaan karakter yang efektif dalam konteks Ajer Advanced Journal of Education and Religion Vol. No. September 2025 Berdasarkan hasil wawancara dengan waka kurikulum dan penjamin mutu SMP NU Simo, guru fiqih SMP NU Simo, guru piket harian, serta siswa kelas Vi. Berikut hasil wawancara mengenai pembentukkan karakter religius melalui kegiatan shalat dhuha dengan Bapak Syaiful Arif selaku waka kurikulum dan penjamin mutu SMP NU Simo : AuUntuk pelaksanaan kegiatan shalat dhuha di SMP NU Simo ini dilaksanakan secara berjamaah setiap jam istirahat yakni dimulai Kami melibatkan guru piket sebagai pembimbing untuk memastikan siswa melaksanakan shalat dengan penuh kekhusyukan dan Selain itu kami menerapkan sistem pengawasan dengan adanya absensi kehadiran siswa dan memeberikan sanksi kepada siswa yang tidak mengikuti shalat dhuha berjamaah, agar siswa bisa istiqomah dalam mengikuti kegiatan shalat dhuha berjamaah ini. Ay(Syaiful Arif. Waka Kurikulum Dan Penjamin Mutu SMP NU Simo. Wawancara Pribadi, 4 Juni 2025, n. Hasil wawancara dengan Bapak Syaiful Arif, selaku waka kurikulum dan penjamin mutu SMP NU Simo menunjukkan bahwa pelaksanaan kegiatan shalat dhuha di sekolah ini dilakukan secara berjamaah setiap jam istirahat, dimulai pukul 20 hingga 09. Kegiatan ini melibatkan guru piket sebagai pembimbing untuk memastikan siswa melaksanakan shalat dengan penuh kekhusyukan dan Selain itu. SMP NU Simo menerapkan sistem pengawasan melalui kehadiran siswa dan memberikan sanksi kepada siswa yang tidak mengikuti shalat dhuha berjamaah. Pendekatan ini terbukti efektif dalam membangun kedisiplinan dan rasa tanggung jawab siswa, yang merupakan bagian integral dari karakter Implementasi Pembiasaan Shalat Dhuha dalam Membentuk Karakter Religius di SMP NU SIMO Pelaksanaan shalat Dhuha berjamaah di SMP NU Simo dilakukan secara terjadwal dan bergantian antar jenjang kelas, yakni kelas VII. Vi, dan XI. Hal ini menunjukkan adanya sistem yang terstruktur dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan di lingkungan sekolah. Pada awal pelaksanaannya, siswa merasa terburu-buru karena waktu pelaksanaan bertepatan dengan jam istirahat. Namun, perubahan sikap siswa yang semula merasa terdesak waktu menjadi lebih tenang menandakan adanya proses internalisasi nilai religius melalui pembiasaan. Selain itu, siswa juga menyampaikan bahwa dirinya menjadi lebih rajin berdoa dan merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga ibadah, yang merupakan indikator terbentuknya karakter religius, khususnya pada aspek kesadaran spiritual dan tanggung jawab personal dalam menjalankan ajaran agama Kegiatan shalat dhuha berjamaah berperan penting dalam pembentukan karakter religius siswa. Melalui pembiasaan ini, siswa diajarkan untuk disiplin dalam mengatur waktu, khusyuk dalam beribadah, serta memiliki kesadaran diri dalam menjalankan kewajiban spiritual dengan ikhlas. Bapak Suhli menekankan bahwa perbuatan baik harus dipaksakan sedini mungkin agar siswa terbiasa melaksanakan shalat dhuha, tidak hanya di sekolah tetapi juga di rumah. Hal ini membantu siswa memahami bahwa agama tidak hanya sekadar dipelajari, tetapi Ajer Advanced Journal of Education and Religion Vol. No. September 2025 juga harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Hasil wawancara dengan memastikan Bapak M. Faris Naufal Hamdany yang menjabat sebagai guru piket dan pengawas shalat dhuha di SMP NU Simo, menunjukkan bahwa peran guru piket sangat penting dalam pelaksanaan shalat dhuha berjamaah berjalan dengan baik. Bapak Faris menjelaskan bahwa ia bersama rekan-rekan guru lainnya bertugas untuk mengabsen kehadiran siswa dan mendampingi mereka selama proses ibadah berlangsung. Pengawasan ini dilakukan secara langsung untuk memastikan keterlibatan aktif siswa dan menjaga kekhusyukan dalam pelaksanaan shalat dhuha. Ia menekankan bahwa pembiasaan positif yang dilakukan secara konsisten akan tertanam menjadi bagian dari pelatihan kedisiplinan sekaligus pembentukan karakter religius siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Lickona yang menyebutkan bahwa pembentukan karakter melibatkan aspek moral knowing, moral feeling, dan moral action, di mana rasa tanggung jawab merupakan bagian dari moral feeling yang mendukung tindakan nyata dalam beragama. (Lickona, 1. Dengan kata lain, karakter tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui latihan dan pembiasaan yang konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Dari hasil wawancara dengan siswa di SMP NU Simo menunjukkan bahwa meskipun banyak siswa yang mengikuti kegiatan shalat dhuha berjamaah, terdapat beberapa siswa yang mengaku belum sepenuhnya mampu melaksanakan shalat dhuha secara konsisten. Nur Dini Saidah menyatakan bahwa motivasinya untuk mengikuti shalat dhuha lebih didorong oleh rasa takut akan hukuman akibat pencatatan kehadiran, sementara Desi Ananda Karina Putri mengungkapkan bahwa ia mengikuti jadwal shalat dhuha bukan karena kesadaran pribadi, tetapi untuk menghindari rasa malu akibat tidak hadir. Dari semua paparan diatas, dapat disimpulkan bahwa sebagian siswa telah melaksanakan shalat Dhuha dengan landasan kesadaran pribadi. Namun demikian, hal ini tetap memerlukan peran aktif dari pihak guru melalui berbagai upaya, seperti sosialisasi, pemberian himbauan, serta pengawasan yang dilakukan secara berkelanjutan. Langkah-langkah tersebut penting agar siswa memahami urgensi shalat Dhuha bukan semata mata karena keharusan administratif, tetapi sebagai bentuk pengamalan ajaran Islam secara utuh. Dengan demikian, diharapkan karakter religius siswa dapat terbentuk secara mandiri tanpa ketergantungan pada absensi maupun pengawasan langsung dari guru. Kesimpulan dari wawancara dengan Bapak Syaiful Arif selaku waka kurikulum dan penjamin mutu SMP NU Simo menunjukkan bahwa kegiatan shalat Dhuha berjamaah di sekolah memiliki sistem absensi yang ketat. Absensi ini bertujuan untuk menyatukan kehadiran siswa dan memberikan sanksi bagi yang terlambat, yaitu dengan melaksanakan shalat Dhuha secara individu di depan teman-teman sekelas saat apel pagi. Selain itu, rekap absensi dikumpulkan setiap akhir bulan dan diserahkan kepada guru Bimbingan dan Konseling. Jika ada siswa yang tidak mengikuti shalat Dhuha lebih dari lima kali dalam sebulan tanpa alasan yang jelas, pihak sekolah akan memanggil orang tua atau wali murid untuk melakukan pembinaan. Ajer Advanced Journal of Education and Religion Vol. No. September 2025 Faktor Pendukung dan Penghambat Pembiasaan Shalat Dhuha dalam Membentuk Karakter Religius Faktor Pendukung . Fasilitas kegiatan yang memadai Salah satu indikator keberhasilan program di lingkungan pendidikan adalah tersedianya sarana dan prasarana yang memadai. Khususnya, kondisi lingkungan sekolah yang bersih sangat berkontribusi dalam menciptakan suasana yang tenang dan kondusif bagi pelaksanaan . Peran guru Salah satu faktor yang mendukung keberhasilan pelaksanaan shalat dhuha di lingkungan sekolah adalah adanya motivasi yang diberikan oleh guru serta peran aktif mereka dalam membimbing dan mendampingi siswa. Guru tidak hanya bertugas sebagai pengajar, tetapi juga sebagai motivator dan teladan dalam membentuk karakter religius peserta didik. Faktor Penghambat . Kurangnya kesadaran diri siswa dalam menghargai waktu salah satu faktor penghambat dalam pelaksanaan kegiatan shalat dhuha adalah rendahnya kesadaran siswa dalam menghargai waktu, terutama ketika pelaksanaannya dijadwalkan pada jam istirahat. Banyak siswa yang lebih memilih menggunakan waktu istirahat untuk aktivitas lain seperti makan di kantin, bersantai, atau berbincang dengan teman, daripada segera melaksanakan shalat dhuha. Pengaruh lingkungan dan teman sebaya kondisi sosial di lingkungan tempat tinggal siswa juga turut Misalnya, dalam keluarga yang aktivitas paginya sangat sibuk atau bahkan tidak menerapkan kebiasaan ibadah bersama, siswa cenderung tidak terbiasa untuk bangun pagi atau mempersiapkan diri secara spiritual sebelum ke sekolah. Tabel 4. Faktor Pendukung dan Penghambat NO Faktor Pendukung Faktor Penghambat Fasilitas kegiatan yang Kurangnya kesadaran diri siswa dalam menghargai waktu. Peran guru yang Pengaruh lingkungan dan teman memberi contoh Kesimpulan Berdasarkan dari hasil penelitian data wawancara dan observasi mengenai Ajer Advanced Journal of Education and Religion Vol. No. September 2025 Pembentukkan Karakter Religius Siswa kelas Vi melalui Kegiatan Shalat Dhuha di SMP NU Simo peneliti dapat mengambil kesimpulan Pembentukkan karakter religius siswa kelas Vi melalui kegiatan shalat dhuha di SMP NU Simo terbukti efektif dalam membentuk karakter religius siswa kelas Vi, terutama melalui pembiasaan yang terstruktur, peran aktif guru, dan pengawasan yang konsisten. Keberhasilan pembentukan karakter religius siswa kelas Vi melalui kegiatan shalat dhuha di SMP NU Simo dipengaruhi oleh berbagai faktor pendukung dan Faktor pendukungnya antara lain tersedianya fasilitas ibadah yang memadai, peran aktif guru sebagai motivator dan pengawas dalam pelaksanaan shalat dhuha, serta dukungan lingkungan sekolah yang kondusif, yang secara bersama-sama menumbuhkan kedisiplinan dan motivasi siswa untuk rutin melaksanakan ibadah. Sebaliknya, faktor penghambat muncul dari kurangnya kesadaran siswa dalam menghargai waktu pelaksanaan shalat dhuha, pengaruh negatif lingkungan keluarga yang minim memberikan dukungan, serta tekanan teman sebaya yang mengurangi semangat siswa dalam beribadah. Referensi