Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No. 2 Desember, 2025 : 131-145 THE PRACTICE OF MORAL SUFISM AT DAYAH TUHFATUL BAIDHA AL-AZIZIYAH (MAHFAD ATJEH) Luqmanul Hakim Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh 201009015@student. ar-raniry. Damanhuri Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh damanhuri@gmail. Ernita Dewi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh ernitadewi@gmail. Abstract The purpose of this study is to understand the ethical Sufism practiced at Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah. The research uses a qualitative method with a phenomenological approach, aiming to explore the experiences and understanding of the students regarding the practice of ethical Sufism. Data was collected through observation, interviews, and document analysis. Based on the research findings, it is known that Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah actively implements the practice of ethical Sufism as an integral part of education and the daily life of the students. The results of this study indicate that the ethical Sufism practiced at Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah plays a key role in shaping better individuals. Within this Dayah environment, the practice of ethical Sufism is not only a series of relations between Allah and His servants, but also a path to cultivate various virtues and morality. Finally, the results of this study are expected to provide insights that A deeper understanding of the practice of ethical Sufism at Dayah Tuhfatul Baidha AlAziziyah (Mahfad Atje. as well as the procedures for practicing ethical Sufism, which are carried out daily by the students through various obligatory acts of worship, solely with the aim of seeking the pleasure of Allah. Keywords: Practice. Ethical Sufism. Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah Keyword: Practice. Ethical Sufism. Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah Abstrak Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Tasawuf akhlaqi yang diamalkan di Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis, bertujuan untuk menjelajahi pengalaman dan pemahaman santri terhadap praktik tasawuf akhlaqi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Berdasarkan hasil penelitian yang Luqmanul Hakim, dkk: The Practice Of Moral Sufism At Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. diperoleh diketahui bahwa Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah secara aktif menerapkan praktik tasawuf akhlaqi sebagai bagian integral dari pendidikan dan kehidupan sehari-hari santri. Diperoleh hasil penelitian ini adalah Tasawuf akhlaqi yang diamalkan di Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah memegang peran kunci dalam membentuk individu yang lebih baik. Dalam lingkungan Dayah ini, praktik tasawuf akhlaqi tidak hanya menjadi serangkaian hubungan antara Allah dengan hambanya, tetapi juga merupakan jalan untuk mengasah berbagai kebajikan dan moralitas. Akhirnya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang praktik tasawuf akhlaqi di Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. serta tata cara pengamalan tasawuf akhlaqi yang setiap harinya diamalkan oleh santri melalui berbagai macam ibadah yang diwajibkan kepadanya serta bertujuan semata-mata hanya karena mengharap ridhanya Allah. Kata kunci: Praktik. Tasawuf Akhlaqi. Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah PENDAHULUAN Dayah dan Balai Pengajian merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Aceh yang telah lama berkiprah dalam membangun sumber daya manusia (SDM). Pada permulaannya kegiatan belajar-mengajar ini hanya berlangsung di rangkangrangkang, dengan pelajaran utamanya terfokus pada pelajaran agama dan mengajarkan kitab-kitab Arab tertentu yang telah ditetapkan oleh pimpinan. Perumpamaan pendidikan Dayah setara dengan Madrasah Aliyah (MA) atau sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA), sedangkan untuk kegiatan pengajian yang diselenggarakan di meunasah, setingkat dengan Tsanawiyah atau sekolah lanjutan pertama pada kebanyakan menggunakan kitab rujukan berbahasa Melayu seperti Kitab Fikih. Usuluddin dan lainnya. Peran dayah dalam sebuah lembaga yang telah merakyat telah tumbuh dan berkembang seiring dengan perkembangan zaman menjadi sangat mempengaruhi pola pikir manusia dewasa ini, sehingga dengan adanya kiprah dayah dalam masyarakat sangat menonjol dalam mencetak kader-kader ulama yang berintelektual tinggi dalam bidang Agama Islam dan ilmu pengetahuan lainnya. Dayah memiliki hubungan erat dengan tasawuf, karena di dayah selain mengajarkan bahasa arab, fiqih jinayah (Hukum Pidan. , fiqih munakahat (Hukum Perkawina. , fiqih duali (Hukum Tata Negar. , sejarah Islam, sejarah negaranegara, ilmu mantiq, tauhid, filsafat, ilmu falaq, ilmu tafsir, ilmu hadis, dan juga ilmu tasawuf. Di samping mengajarkan ilmu tersebut, dayah juga mempraktikkan praktik-praktik ilmu tasawuf, seperti akhlak dan budi pekerti yang baik, etika Khadijatul Musanna. AuCannabis Seeds as a Culinary Ingredient: A Sociological Study of the Acehnese Community,Ay SHAHIH: Journal of Islamicate Multidisciplinary 9, no. : 84Ae Departemen Agama RI. Profil Pondok Pesantren MuAoadalah, (Jakarta: Direktorat Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren, 2. , hlm. Marwan Saridjo. Sejarah Pesantren di Indonesia, (Jakarta: LP3ES, 1. , hlm. Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 131-145 Luqmanul Hakim, dkk: The Practice Of Moral Sufism At Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. terhadap guru, berzikir kepada Allah disepertiga malam dan meluangkan waktu khusus untuk mensucikan diri seperti meluangkan waktu untuk Allah dalam waktu Kajian Tasawuf sangat urjens, dan sangat diutamakan dalam masayarakat terutama dalam kehidupan Dayah Tuhfatul Baida Al-Aziziyah yang didirikan oleh Al-Mukarram Tgk. Muhammad atau yang kerap di sapa dengan sebutan Abiya Muhammad yang merupakan menantu dari salah satu ulama karismatik aceh, sekaligus pimpinan pondok pasantren Mudi Mesjid Raya Samalanga Abu Syeh H. Hasanoel Basri HG pada tanggal 02 April 2018 M, yang berlokasi di Gampong Cot Tufah Kec. Gandapura Kab. Bireuen. Saat ini Dayah Mafad Tuhfatul Baida AlAziziyah telah memiliki beberapa fasilitas diantara, satu bangunan musalla, dua bangunan asrama dua lantai semi permanen, satu bangunan asrama, dua lantai permanen santri putra, satu MCK, dan beberapa balai/ruang belajar tempat terselenggaranya kegiatan belajar mengajar. Di samping itu. Dayah mafad Tuhfatul Baida Al-Aziziyah juga telah membentuk satu dapur umum yang berfungsi untuk mencukupi kebutuhan makan Dewan Guru. Santri, dan Jamaah Suluk. Dayah Mahfad Tuhfatul Baida Al-aziziyah menganut sistem Dayah Salafi yaitu mengajarkan kitab kuning. Selain kegiatan belajar mengajar rutin, juga menyelenggarakan kegiatan suluk kitab hingga khatam setiap bulan selama satu minggu yang di asuh sendiri oleh Almukarram Abiya Muhammad selaku pimpinan. Kegiatan suluk kitab ini di buka untuk umum baik dari kalangan santri Dayah Mahfad Atjeh Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah sendiri maupun dari kalangan santri pondok pasantren lain. Dayah mahfad Tuhfatul Baida Al-Aziziyah juga menyelenggarakan Suluk Tarikat Naksyaband dalam setahun tiga kali yaitu sepuluh hari diawal bulan Rabiul Awwal 30 hari di bulan ramadhan, 10 hari di bulan Zulhijjah. Selain itu Dayah Mahad Tuhfatul Baida Al-Aziziyah juga menyelenggarakan kegiatan pengajian majelis taklim mingguan setiap senin malam bersama masyarakat Gandapura dan sekitarnya, yang juga di asuh oleh al-mukarram Abiya Muhammad Baidawi yang bertempat di mussala komplek Mahfad Tuhfatul Baida Al-Aziziyah. Dayah Tuhfatul baida memiliki Visi melahirkan Ulama dan Intelektual yang dilandasi oleh Panca Jiwa yang menjadi Ruhul Mahfad yaitu keikhlasan, kesederhanaan, berdikari. Ukhwah Islamiah dan kebebasan. Serta memiliki Misi menyelenggarakan pendidikan yang berlandaskan Aqidah Ahlu Sunnah Waljamaah dan ibadah berdasarkan Fiqih Syafiiyah, mendidik dan membina kesalihan santri dan ummat melalui Iman. Amal. Dakwah Bil Hikmal Wa al-maw idhat al-Hasanah, menguatkan, memelihara, dan menjaga nilai-nilai islam sesuai dengan pemahaman para Ulama Salaf al-shalih dan mencetak generasi ummat yang mandiri dan mampu berkarya dalam islam, iman dan ikhsan. Tujuan tasawuf Akhlaqi adalah membakar semangat umat Islam untuk kembali memperbaiki akhlaknya, sebab semua hukum Islam berdasarkan landasan Apabila akhlak umat Islam hancur maka hancurlah agama Islam. Tujuan Wawancara singkat dengan salah satu dewan Guru Dayah Tuhfatul baida Al-Aziziyah pada tanggal 25 Februari 2023. Pukul 08. 00 WIB Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 131-145 Luqmanul Hakim, dkk: The Practice Of Moral Sufism At Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. tasawuf adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia, karena tanpa akhlak manusia yang baik, maka mereka tidak bisa maju lebih baik. Sebagaimana Penulis ketahui penyebab kemerosotan akhlak itu sendiri disebabkan oleh orientasi masyarakat yang terlalu berlebihan terhadap adanya Sebagai contoh sering kali ditemukan dalam pergaulan bermasyarakat sebahagian santriwan/I pada saat libur tiba mereka sering menggunakan pakaian yang kurang sopan/tidak menutup aurat dan juga melupakan kewajibannya dalam islam dengan menomorsatukan alat elektronik dan menomorduakan kewajibannya, seperti halnya menunda shalat ataupun melupakan adap . dalam berperilaku. Salah satu ciri khas tasawuf yang diterapkan pada Dayah Tuhfatul Baidha AlAziziyah (Mahfad Atje. yaitu metode Tawajjuh, berdasarkan observasi penulis kebanyakan dayah pada umumnya jarang menggunakan metode Tawajjuh, meskipun ada itu hanya seminggu sekali atau bahkan sebulan sekali dalam Sedangkan pada Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. menerapkan metode Tawajjuh dua kali dalam sehari semalam yaitu setelah salat subuh dan setelah salat insya. Tawajjuh sendiri berperan penting terhadap perubahan akhlak santri dan dapat melatih hati para santri menjadi lebih lembut dimana dalam praktiknya Tawajjuh merupakan upaya yang dilakukan untuk mengingat segala dausa-dausa yang telah dilakukan dan berusaha untuk memperbaiki kesalahan yang diperbuat. Oleh karena demikian praktik tasawuf akhlaqi sangat penting diterapkan di Dayah . embaga pendidikan isla. kerena dengan adanya praktik tasawuf akhlaqi dapat mengubah akhlak para santriwan/I dari akhlak mazmumah menuju akhlak Mahmudah. Untuk itu penulis tertarik mengambil judul Praktik Tasawuf Akhlaqi di Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. METODE PENELITIAN Metode penelitian menggunakan jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif, yaitu metode penelitian digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci. Teknik pengumpulan yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi dan Penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami fenomena tentang apa yang telah dialami oleh subyek penelitian, misalnya pelaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain secara holistik, dengan cara deskripsi dengan bentuk katakata dan bahasa, pada satu konteks khusus yang alamiah dan dengan memenfaatkan berbagai metode alamiah. 6 Penelitian ini arahkan untuk memberikan gejala-gejala, fakta-fakta7. Kejadian-kejadian secara sistematis dan akurat. Rahman. Tasawuf Akhlaqi Ilmu Tasawuf yang Berkonsentrasi dalam Perbaikan Akhlak. Sulawesi Selatan. Kaaffah Learning Center, 2020, hlm. Lexy J. Moleong. Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. Nurul Zuriah. Metodelogi Penelitian Sosial dan Pendidikan. Teori Aplikasi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2. , hlm. Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 131-145 Luqmanul Hakim, dkk: The Practice Of Moral Sufism At Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. KONSEP DASAR Tasawuf adalah jalan menuju pengetahuan tentang Allah dan memerlukan ketenangan dan kesabaran. Tidak ada ruang untuk kelalaian atau adab yang Para penempuh jalan harus terus menerus berjuang menempuh makrifat Allah, seperti lebah yang terbang dari sarangnya menuju bunga dan dari bunga kembali ke sarangnya. Dia harus menyucikan dirinya dari hal-hal selain Allah, dan menahan semua kecenderungan dan keinginan dan nafsu dari jiwa rendahnya juga harus mengarahkan hidupnya untuk mencapai tingkat spiritual yang siap untuk menerima berkah dan ilham dari Allah dan beramal sesuai dengan suri teladan Nabi. Dia harus mengorbankan keinginannya sendiri demi melaksanakan perintah Allah. Tasawuf merupakan jalan menuju kedekatan diri kepada Allah. Seseorang tidak cukup hanya menjalankan ibadah sesuai tuntutan Fikih saja, tetapi tetapi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. kajian ilmu tasawuf memiliki hubungan yang erat dengan ilmu-ilmu lainnya, terutama ilmu keislaman. Tasawuf adalah suatu kajian keilmuan yang mengantarkan seorang hamba untuk lebih seksama dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt. Kedekatan seorang hamba dengan Allah Swt merupakan kajian utama yang dituju oleh ilmu lainnya untuk dapat mengantarkan manusia sebagai hamba yang mematuhi segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya, namun tidak sedalam kajian yang dikaji oleh ilmu tasawuf. Kajian-kajian yang dikaji oleh ilmu selain tasawuf hanya sebagai pengantar kepadaseorang manusia untuk menuju kesuksesan sebagai seorang hamba. Kajian yang dipelajari antaranya adalah ilmu kalam, fikih, jiwa dan ilmu Filsafat. Tasawuf awalnya merupakan ilmu, di tengah-tengahnya ada amal, dan akhirnya adalah anugerah. Ilmulah yang membuka maksud yang dikandungnya, sedangkan amal mewujudkan apa yang dicari, sementara anugerah merupakan penghantar kepada tujuan utamanya. Pemikiran Al-Ghazali tentang tasawuf ini tertuang dalam kitab Ihya Ulumuddin sebuah kitab yang melukiskan suatu fikiran, suatu kesanggupan menghilangkan soal besardalam susunan yang mudah, gabungan kejernihan otak dengan perasaan hati yang murni. Dalam kitab itulah AlGhazali menggabungkan antara fiqh dengan tasawuf dan ilmu kalam, yang semuanya untuk maksud mengokohkan iman dan cinta kepada Allah SWT. Tasawuf akhlaqi bermakna membersihkan tingkah laku atau saling membersihkan tingkah laku. Jika konteksnya adalah manusia, tingkah laku manusia menjadi sasarannya. Tasawuf akhlaqi ini bisa dipandang sebagai sebuah tatanan dasar untuk menjaga akhlak manusia, atau dalam bahasa sosialnya, yaitu moralitas 11 Tasawuf adalah amalan untuk menjaga diri dari perbuatan ria, menjaga amalan ini menjadi penelitian Tasawuf Akhlaqi adalah tasawuf yang beorientasi pada perbaikan akhlak, mencari hakikat kebenaran dan mewujudkan Fathullah Gulen. Kunci-kunci Rahasia Sufi,(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2. , hlm. Ahmad Bangun Nasution. Rayani Hanum Siregar. Ahlak Tasawuf pengenalan, pemahaman dan pengaplikasiannya. (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2. , hlm. Al-Ghazali. Abu Hamid. Ihya Ulumuddin, (Semarang: Toha Putra, 2. , hlm. Asmaran As. Pengantar Studi Tasawuf. Jakarta. RajaGrafindo Persada, 2002, 45. Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 131-145 Luqmanul Hakim, dkk: The Practice Of Moral Sufism At Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. manusia yang dapat makrifat Allah SWT, dengan metode-metode tertentu yang telah dirumuskan. Tasawuf Akhlaqi biasa juga disebut dengan istilah sunni. model ini berusaha untuk mewujudkan akhlak yang mulia dalam diri si sufi, sekaligus menghindari diri dari akhlak mazmumah . tasawuf Akhlaqi ini dikembnagkan oleh ulama salaf as-salih. Dalam diri mausia ada potensi untuk menjadi baik dan ada potensi untuk buruk. tasawuf Akhlaqi tentu saja berusaha mengembangkan potensi baik supaya manusia menjadi baik, sekaligus mengendalikan potensi yang buruk supaya tidak berkembang menjadi perilaku . yang buruk. potensi buruk menjadi baik adalah al-Aql dan al-Qabl. Sementara potensi untuk menjadi buruk adalah an-nafs, nafsu yang dibantu oleh HASIL DAN PEMBAHASAN Tasawuf Akhlaqi di Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah Tasawuf akhlaqi yang diterapkan di Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. merupakan tasawuf yang diajarkan oleh Imam Al-Ghazali, dalam kajian kitab juga merujuk kepada kitab Imam Al-Ghazali salah satunya adalah kitab Ihya Ulumuddin yang diajarkan oleh Pimpinan Dayah kepada dewan Guru/Teungku. Selanjutnya Teungku mengajarkan dalam kehidupan sehari-hari santri baik dalam perkarangan dayah maupun di luar perkarangan dayah. Selanjutnya tasawuf akhlaqi di Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. Kec. Gandapura Kab. Bireuen, penulis melakukan wawancara dengan pimpinan, guru-guru (Teungk. SantRi, tokoh masyarakat sekaligus jamaAoah pengajian umum yang ada di dayah tersebut. Hal ini diukur dengan pertanyaan yaitu: keberadaan tasawuf akhlaqi. 13Dari hasil observasi penulis menyangkut dengan tasawuf akhlaqi di Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. Kec. Gandapura Kab. Bireuen, ditemukan bahwa: Memberikan pengajian untuk memahami Al-QurAoan dan Hadis. Al-Qur'an adalah sumber utama dari segala sumber hukum dalam kehidupan. 14 Al-Qur'an dipandang sebagai pedoman hidup yang memiliki signifikansi lebih dari sekadar Oleh karena itu, pemahaman terhadap Al-Qur'an perlu dikaji secara Sedangkan hadits merujuk kepada segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw. Hal ini mencakup perkataan beliau, perbuatan beliau, persetujuan atau taqrir beliau terhadap suatu perbuatan, serta sifat-sifat yang dimiliki oleh beliau. Dalam konteks ini, hadits dianggap sebagai sumber tambahan yang penting dalam pemahaman dan penerapan ajaran Islam, selain Al-Qur'an. Cecep Alba. Tasawuf dan Tarekat. Bandung. Remaja Rosdakarya, 2012, 31. Observasi penulis terhadap Penerapan Tasawuf Akhlaqi di Dayah Tuhfatul Baidha AlAziziyah (Mahfad Atje. Kec. Gandapura Kab. Bireuen. JumAoat 02 Juni 2023, pukul 10. 00 WIB Khadijatul Musanna. AuEksistensi Qanun Nomor 10 Tahun 2018 Terhadap Pengelolaan Zakat Di Aceh,Ay Jurnal KASBANA 2, no. ): 1Ae22. Nor Kandir. Al-QurAoan sumber segala ilmu, (Jakarta: Pustaka Al-Mandiri, 2. , hlm. Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 131-145 Luqmanul Hakim, dkk: The Practice Of Moral Sufism At Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. Semua orang dapat membaca Al-QurAoan akan tetapi tidak semua orang dapat membaca dan memahami Al-QurAoan berdasarkan ilmu tajwid, oleh karena demikian pada Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah menggunakan metode membaca Al-QurAoan dan memahami Al-QurAoan berdasarkan hukum bacaan-Nya dilakukan dengan cara mengajarkan tata cara membaca Al-QurAoan berdasarkan ilmu tajwid dan memahami makna yang terkandung dalam Al-QurAoan dan Hadis melalui kitab-kitab yang berujuk kepada mazhab Imam SyafiAoi. Membaca AlQurAoan yang tidak disertai dengan memahami arti dan hukum bacaan maka itu akan sia-sia. Hal tersebut diatas didukung dari hasil wawancara dengan Abiya H. Muhammad Baidawi (Pimpinan daya. , menyatakan bahwa: Tasawuf akhlaqi di Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. Kec. Gandapura Kab. Bireuen. Menerapkan dalam tasawuf akhlaqi cenderung kepada Al-QurAoan dan Sunnah sebagai pendekatan oleh karena itu Abiya mewajibkan ibadah-ibadah sunnah kepada santrinya mulai dari puasa senin kamis sunnah Qabliyah sebelum salat lima waktu dan Wirid sebelum dan sesudah salat, dari pengamalan Al-QurAoan Abiya sangat menekankan kepada santrinya untuk belajar tajwid supaya santri lebih fasih dalam menbaca Al-QurAoan dan memahami kandungan Al-QurAoan yang di ajarkan oleh dewan guru/tgk di dayah melalui kitab-kitab yang termasuk dalam kurikulum Memberikan Pemahaman Tentang Hakikat dan Syariat, hakikat dan syariat adalah dua hal yang tidak bisa di pisahkan, syariat yang di ajarkan di dayah yaitu dengan mengajarkan santri untuk taAoat dalam beribadah kepada Allah Swt dan meninggalkan larangannya dan beribadah karena Allah semata dengan penuh keikhlasan tidak untuk di pamerkan dan tidak untuk di perlihatkan kepada orang hampir semua kegiatan di Dayah tidak Ada waktu yang terbuang semuanya adalah kegiatan ibadah baik santri sedang mengikuti pengajian waktu mejalankan ibadah salat wirid dan bahkan waktu tidur pun di ambil di waktu yang merupakan waktu sunnah untuk tidur seperti waktu qailullah, sedangkan hakikat adalah tujuan dari ibadah itu sendiri dan pengharapan seorang hamba seperti dengan berbuat baik kepada orang lain lalu orang tersebut berharap Allah membalasnya lewat mempertemukannya dengan orang yang akan berbuat baik kepadanya juga contoh lain seperti tujuan ibadah itu sendiri yaitu untuk mengharapkan syurganya Allah SWT. Menurut Teungku Firdaus tujuan ibadah mengharap surganya Allah adalah ketika seseorang dengan harapan untuk memperoleh pahala dan balasan yang baik dari Allah SWT, sehingga kelak di akhirat, ia dapat masuk ke surga-Nya Allah SWT. Karena surga adalah tempat kebahagiaan abadi dan kenikmatan yang tiada Wawancara dengan Abiya H. Muhammad Baidawi pimpinan dayah tentang Penerapan Tasawuf Akhlaqi di Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. Kec. Gandapura Kab. Bireuen. Kamis 01 Juni 2023 Pukul 09:00 WIB Wawancara dengan Teungku Firdaus terkait dengan hakikat dan syariat yang diterapkan di Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. Kec. Gandapura Kab. Bireuen. Kamis 15 Juni 2023 Pukul 09:30 WIB Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 131-145 Luqmanul Hakim, dkk: The Practice Of Moral Sufism At Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. tara bagi orang-orang yang taat beribadah kepada Allah dengan ikhlas. Oleh karena demikian semua santri di Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. menjalankan ibadah harus dengan ikhlas, seperti ibadah salat, puasa, zikir, tawajjuh, suluk dan lain sebagainya. Menjalin hubungan antara manusia dengan tuhan-Nya, upaya yang dilakukan adalah mempraktikkan Praktik tasawuf akhlaqi pada santri terkait dengan menjalin hubungan antara manusia dengan tuhan-Nya, seperti yang dijelaskan oleh Abiya H. Muhammad Baidawi . salah satunya yaitu dengan cara berzikir baik itu zikir lisan . atau dengan sirr . abiya menjelaskan walaupun dalam penerapan tasawuf akhlaki beliau tidak mengunakan metode khusus, tetapi tetap memakai metode imam Al-Ghazali. Dalam metode imam al-ghazali terdapat perbedaan penerapan pada masa dahulu dibandingkan dengan masa sekarang, perbedaan-Nya terlihat pada masa dahulu cara berzikir dilakukan secara Sendirisendiri Atau Menyendiri untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan masa sekarang dalam mempraktikkanya lebih di lakukan Secara BerjamaAoah untuk membiasakan santri berzikir setelah santri mempunyai keilmuan yang cukup barulah mereka akan melakukannya dengan sendiri-sendiri. Hal ini sesuai dengan pandangan tasawuf akhlaqi Imam Al-Ghazali yaitu setiap jiwa manusia dapat diubah, dilatih, dikuasai dan dibentuk sesuai dengan karakter-Nya tersendiri berdasarkan pengamalan nilai-nilai dalam tasawuf akhlaqi. Membina akhlak dan pengobatan jiwa, upaya yang dilakukan dalam mengajarkan tasawuf akhlaqi pada santri terkait dengan membina akhlak dan pengobatan jiwa, yang juga merupakan cirikhas dari tasawuf aqhlaki pada dayah tuhfathul baidha seperti yang dijelaskan oleh Abiya H. Muhammad Baidawi . yaitu dewan guru/tgk didayah yang harus berperilaku baik terlebih dahulu dengan cara mengedepankan sopan santun terhadap santri memperlakukan santri seperti raja yang harus selalu di urus sehingga lambat laun mereka juga akan berperilaku sebaliknya. Mengajarkan kitab yang bekaitan dengan akhlak seperti : Taisir Akhlaq,dan TaAoalim MutaAoalim, terhadap guru/tgk di dayah Abiya sangat menekankan kebersamaan baik itu dari segi pengajian dan bergotong royong yang di lakukan bersama-sama oleh santri dan Guru/tgk. Selanjutnya tasawuf akhlaqi yang dilakukan melalui pengobatan jiwa yang di sampaikan Abiya yaitu menggunakan metode tawajjuh atau pelaksanaan kegiatan kebatinan yang selalu dilakukan setiap selesai wirid salat insya dan subuh yang dipimpin langsung oleh Abiya sendiri, pengawalan tawajjuh di isi dengan doAoa dalam tarikat naksyabandiah di lanjutkan dengan membaca Surat Al-Fatihan menghadiahkan doa kepada pendiri tarikah naksyabandiah dan juga shalawat kepada Nabi Muhammad SAW selanjutnya mulai merenungi sedalam-dalam-Nya Wawancara dengan Teungku Hildan terkait dengan hubungan manusia dengan tuhan-Nya yang diterapkan di Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. Kec. Gandapura Kab. Bireuen. Kamis 15 Juni 2023 Pukul 11:30 WIB Wawancara dengan Teungku M. Mustaqim terkait dengan akhlak dan pengobatan jiwa yang diterapkan di Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. Kec. Gandapura Kab. Bireuen, jumAoat 16 Juni 2023 Pukul 09:30 WIB Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 131-145 Luqmanul Hakim, dkk: The Practice Of Moral Sufism At Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. tujuan hidup di dunia, amalan apa saja yang telah dilakukan dan dausa apa yang telah diperbuat di setiap harinya, selanjut-Nya merenungi tentang perihal kematian dan hidup setelah mati dengan demikian diharapkan supaya hati santri menjadi lembut dan lambat laun jiwa santri terlatih untuk menjadi lebih baik dari Praktik Tasawuf Akhlaqi di Kalangan Santri Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (MahfadAtje. Praktik Akhlak Sabar: pentingnya kesabaran dalam hidup seorang mukmin. Seorang mukmin dituntut untuk memiliki kesabaran dalam menghadapi penderitaan dan cobaan karena keyakinan kepada Allah. Sabar ini melibatkan kemampuan untuk melatih diri dan menerima dengan ikhlas segala hal yang tidak disukai, terutama yang berkaitan dengan ibadah. Konsep akhlak sabar sangat penting dalam membentuk karakter seorang santri agar mampu menjalani hidup dengan baik. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang mungkin akan menghadapi berbagai tantangan, kesulitan, atau penderitaan. Sebagai seorang mukmin, kesabaran menjadi kualitas yang sangat diperlukan. Sabar dalam menderita adalah kemampuan untuk tetap tegar dan tabah dalam menghadapi ujian-ujian hidup, tanpa mengeluh atau putus asa. Kesabaran ini didasarkan pada keyakinan bahwa semua yang terjadi adalah kehendak Allah, dan dengan sabar kita dapat menghadapinya dengan ikhlas. Selain itu, sabar juga melibatkan latihan diri untuk menerima halhal yang tidak disukai, terutama dalam konteks ibadah. Terkadang, ada kewajiban atau tuntutan agama yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan atau keinginan pribadi seseorang. Dalam hal ini, memiliki kesabaran untuk melaksanakan kewajiban tersebut dengan rela adalah tanda keikhlasan dan kesetiaan terhadap Allah. Bagi seorang santri, konsep akhlak sabar memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk kepribadian dan karakter yang kuat. Dalam lingkungan pesantren, santri diajarkan untuk bersabar dalam menghadapi segala macam tantangan dan kesulitan, baik dalam aspek akademik, sosial, maupun spiritual. Kesabaran ini membantu mereka mengatasi rintangan dan memperkuat keteguhan iman dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam kesimpulannya, kesabaran dalam menderita karena Allah merupakan salah satu kualitas yang harus dimiliki oleh seorang mukmin. Sabar melibatkan kemampuan untuk melatih diri, menerima hal-hal yang tidak disukai, terutama dalam konteks ibadah. Dalam pembentukan karakter santri, konsep akhlak sabar memainkan peran penting dalam membantu mereka menghadapi berbagai tantangan dan menjalani kehidupan dengan penuh keteguhan iman. Terkait dengan konsep akhlak sabar penulis melakukan wawancara dengan teungku FS, menurut-Nya konsep sabar yang diajarkan kepada santri-Nya Ibid Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 131-145 Luqmanul Hakim, dkk: The Practice Of Moral Sufism At Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. adalah:21Sebagai teungku di dayah, kami selalu menanamkan nilai akhlak sabar kepada setiap santri. Kami percaya bahwa tanpa kesabaran, santri tidak akan berhasil dalam menuntut ilmu di dayah. Maka dari itu, kesabaran menjadi landasan penting dalam pendidikan di dayah. Salah satu contoh penerapan kesabaran adalah sabar terhadap hukuman yang diberikan oleh para teungku ketika santri melakukan Hukuman tersebut bukanlah untuk menyakiti atau merendahkan santri, melainkan sebagai pembelajaran dan pengingat atas kesalahan yang dilakukan. Dengan bersabar menerima hukuman tersebut, santri dapat belajar dari kesalahan dan meningkatkan diri dalam mengembangkan akhlak dan pengetahuan agama. Selain itu, santri juga diajarkan untuk bersabar menetap di dayah meskipun mungkin menghadapi keterbatasan biaya. Dayah merupakan tempat yang diperuntukkan bagi santri untuk menuntut ilmu agama, dan kesabaran diperlukan untuk menghadapi segala keterbatasan dan tantangan yang mungkin muncul dalam hal tersebut. Dengan bersabar, santri dapat menjalani kehidupan di dayah dengan penuh keikhlasan dan semangat untuk menimba ilmu agama. Kami percaya bahwa kesabaran adalah kunci sukses bagi santri dalam menuntut ilmu agama. Dalam proses pendidikan di dayah, ada berbagai macam ujian dan cobaan yang mungkin dihadapi oleh santri. Hanya dengan kesabaran yang kuat, mereka dapat melewati tantangan-tantangan tersebut dan mencapai kesuksesan dalam memperoleh ilmu agama. Kami mengungkapkan bahwa sebagai teungku di dayah, kami selalu menanamkan akhlak sabar kepada Kesabaran menjadi kunci penting dalam menuntut ilmu di dayah, dan contohnya adalah sabar terhadap hukuman dan kesulitan finansial. Dengan kesabaran, santri dapat membangun karakter yang kuat dan meraih kesuksesan dalam ilmu agama. Berdasarkan hasil paparan di atas penulis berpendapat konsep pembinaan pendidikan akhlak yang bertujuan untuk menghasilkan santri yang mukmin dan sejalan dengan agama Islam. Tujuan utamanya adalah agar santriwan tersebut memiliki iman dan taqwa kepada Allah dan Nabi Muhammad SAW. Mereka diharapkan menjadi teladan yang diinginkan dan dihormati oleh masyarakat. Konsep pembinaan pendidikan akhlak dalam lingkungan pesantren/dayah bertujuan untuk membentuk karakter santri yang kuat dalam iman dan taqwa. Dalam proses pendidikan, santri diajarkan nilai-nilai agama Islam yang meliputi keyakinan kepada Allah, penghormatan terhadap Nabi Muhammad Saw, dan ketaatan terhadap ajaran agama. Dengan memiliki iman dan taqwa yang kokoh, santri diharapkan menjadi contoh yang baik dalam masyarakat. Mereka diharapkan mampu menjalankan perintah agama dengan baik, mempraktikkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, dan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi lingkungan Praktik Ibadah Sunnah dan Zikir: pentingnya ibadah sunnah dan zikir dalam kehidupan santri, yang memiliki pengaruh positif terhadap jiwa mereka. Ibadah Hasil wawancara dengan teungku Firdaus. Terkait dengan Konsep Akhlak Sabar yang diterapkan pada santri. (Guru Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. Kec. Gandapura Kab. Bireuen, pada selasa 06 Juni 2023, pukul 09. 00 WIB Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 131-145 Luqmanul Hakim, dkk: The Practice Of Moral Sufism At Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. sunnah dan zikir dipercaya dapat memberikan ketenangan, kedamaian, dan keamanan jiwa, karena Allah SWT berfirman bahwa siapa pun yang mengingatNya. Allah akan mengingatinya dengan lebih baik. Ibadah sunnah merujuk pada perbuatan ibadah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW dan tidak diwajibkan secara langsung oleh agama Islam. Santri, sebagai individu yang berkecimpung dalam pendidikan agama, dianjurkan untuk melaksanakan ibadah sunnah sebagai bentuk kedekatan dengan Allah dan upaya untuk meningkatkan kualitas spiritual. Ibadah sunnah ini dapat berupa shalat sunnah, puasa sunnah, membaca Al-Qur'an, atau melakukan perbuatan baik lainnya yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Selain ibadah sunnah, zikir juga memainkan peran penting dalam kehidupan seorang santri. Zikir adalah pengingatan dan pengucapan kalimat tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil yang dirujuk pada perbuatan mengingat dan menyebut nama Allah secara terus-menerus. Dalam berzikir, santri berusaha untuk selalu menghadirkan Allah dalam pikiran dan hati mereka, sehingga menciptakan ketenangan, kedamaian, dan keamanan jiwa. Kesimpula-Nya adalah Ibadah sunnah dan zikir memiliki pengaruh positif pada santri. Melalui pelaksanaan ibadah sunnah, mereka dapat meningkatkan kualitas spiritual dan mendekatkan diri kepada Allah. Sementara itu, zikir menjadi sarana untuk mengingat dan menyebut nama Allah secara kontinu, menciptakan ketenangan, kedamaian, dan keamanan jiwa. Terkait dengan praktik ibadah sunnah dan zikir penulis melakukan wawancara dengan pimpinan dayah, menurut-Nya konsep sabar yang diajarkan kepada santriNya adalah:22 Berdasarkan hasil wawancara dengan pimpinan Dayah Tuhfatul Baidha AlAziziyah (Mahfad Atje. , para santri diwajibkan untuk melaksanakan segala sunnah Qabliyah dan Ba'diyah, serta melakukan zikir seperti bacaan istighfar minimal 3 kali dan maksimal 100 kali setiap sesudah salat. Tujuan dari pelaksanaan salat sunnah dan zikir ini adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, meningkatkan kesadaran diri, keimanan, serta menguatkan hati dan pikiran. Dalam Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah, santri diarahkan untuk melaksanakan semua sunnah Qabliyah dan Ba'diyah, yaitu salat-salat sunnah sebelum dan setelah salat Hal ini sebagai upaya untuk memperoleh keutamaan dan keberkahan dari pelaksanaan ibadah yang lebih banyak. Selain itu, zikir juga menjadi bagian penting dalam kehidupan santri di dayah tersebut. Salah satu bentuk zikir yang diwajibkan adalah membaca istighfar minimal 3 kali dan maksimal 100 kali setelah setiap salat. Dengan melaksanakan zikir ini, para santri diharapkan dapat mendekatkan diri kepada Allah, meningkatkan kesadaran diri, memperkuat keimanan, dan menguatkan hati serta pikiran. Terkait dengan zikir Dayah Tuhfatul Baida Al-Aziziyah, zikir yang diajarkan kepada santri mengikuti pedoman tarikat Naksyabandiyyah. Dalam tarikat ini, terdapat dua jenis zikir yang diajarkan, yaitu zikir dengan menggunakan lisan Hasil wawancara dengan Pimpinan Dayah. Terkait dengan Praktik yang diterapkan Ibadah Sunnah dan Zikir pada santri. (PimpinanDayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. Kec. Gandapura Kab. Bireuen, pada selasa 01 Juni 2023, pukul 08. 30 WIB Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 131-145 Luqmanul Hakim, dkk: The Practice Of Moral Sufism At Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. (Jha. dan zikir dengan menggunakan hati (Qalb. Kedua jenis zikir ini memiliki dasar yang diambil dari sumber hukum Islam, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah. Zikir dengan menggunakan lisan (Jha. adalah zikir yang dilakukan dengan mengucapkan dzikir dan kalimat-kalimat pujian kepada Allah secara nyaring. Santri diajarkan untuk mengucapkan zikir-zikir yang diambil dari Al-Qur'an dan Sunnah, seperti kalimat tasbih, tahmid, takbir, dan lain sebagainya. Melalui zikir ini, santri berusaha untuk mengingat dan menyebut nama Allah secara nyata dan Sementara itu, zikir dengan menggunakan hati (Qalb. adalah zikir yang dilakukan dengan mengarahkan perhatian dan kesadaran pada hati. Santri diajarkan untuk membaca zikir dalam hati, tanpa mengucapkannya secara keras. Zikir ini mencakup berbagai dzikir dan doa yang diambil dari Al-Qur'an dan Sunnah. Melalui zikir ini, santri berusaha untuk menghadirkan Allah dalam hati mereka dan memperkuat hubungan spiritual dengan-Nya. Para santri diwajibkan untuk melaksanakan segala sunnah Qabliyah dan Ba'diyah bertujuan untuk mendapatkan pahala tambahan dan meningkatkan keberkahan dalam beribadah serta melakukan zikir dan wirit seperti bacaan istighfar minimal 3 kali dan maksimal 100 kali setiap sesudah salat. Tujuan dari pelaksanaan salat sunnah dan zikir ini adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, meningkatkan kesadaran diri, keimanan, serta menguatkan hati dan pikiran. Selanjutnya para santri juga di bimbing untuk melakukan ibadah suluk bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan kesadaran akan kehadiran Allah dalam segala aktifitas kehidupan. Dalam proses suluk seorang santri berusaha membersihkan hati dari sifat-sifat tercela seperti keserakahan, iri hati, kedengkian, serta mengisi jiwa dengan sifat-sifat mulia seperti sifat kasih sayang, peduli terhadap penderitaan orang lain, patuh dan taat terhadap guru dan lain sebagainya. Ibadah suluk yang dilakukan oleh santri Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. berpedoman pada tarekat Naqsyabandiyah. Penulis berpendapat terkait hasil wawancara dengan pimpinan, dan teungku Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. , terkait dengan praktik ibadah sunnah dan zikir yaitu para santri diwajibkan melaksanakan salat sunnah dan zikir sesuai dengan tuntunan yang diberikan. Salat sunnah termasuk sunnah Qabliyah dan Ba'diyah, sedangkan zikir melibatkan bacaan istighfar setelah setiap salat. Tujuan pelaksanaan salat sunnah dan zikir adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, meningkatkan kesadaran diri, keimanan, serta memperkuat hati dan pikiran di Dayah Tuhfatul Baida Al-Aziziyah, zikir yang diajarkan kepada santri mengikuti pedoman tarikat Naksyabandiyyah. Terdapat dua jenis zikir, yaitu zikir dengan menggunakan lisan (Jha. dan zikir dengan menggunakan hati (Qalb. Kedua jenis zikir ini memiliki dasar yang diambil dari Al-Qur'an dan Sunnah. Zikir dilakukan dengan tujuan untuk mengingat dan menyebut nama Allah serta memperkuat hubungan spiritual dengan-Nya. Hasil wawancara dengan Teungku Virdaus. Hasan Sanusi. Mustaqim, dan Riski (TeungkuDayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. Kec. Gandapura Kab. Bireuen, pada Rabu, 20 Juni 2023, pukul 09. 30 WIB Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 131-145 Luqmanul Hakim, dkk: The Practice Of Moral Sufism At Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. Praktik Suluk dan Tawajjuh: Suluk dan Tawajjuh merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam perjalanan spiritual. Suluk dapat diartikan sebagai upaya seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak ibadah, serta bertujuan untuk menyucikan diri dari berbagai bentuk kesalahan dan Salah satu aspek penting dalam suluk adalah memperbanyak zikrullah, yaitu mengingat Allah melalui zikir dan dzikir. Tawajjuh, di sisi lain, adalah pelaksanaan nyata dari kegiatan suluk. Tawajjuh melibatkan interaksi dan hubungan antara seorang hamba dengan Allah. Melalui tawajjuh, seseorang mengarahkan perhatian, fokus, dan hati mereka kepada Allah dalam segala aspek kehidupan. Tawajjuh melibatkan pemantauan, introspeksi, serta perbaikan diri secara terus-menerus. Kesimpulan-Nya adalah suluk dan tawajjuh adalah dua hal yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan dalam perjalanan spiritual. Suluk merupakan upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah dan zikir, sementara tawajjuh adalah pelaksanaan nyata dari suluk dalam kehidupan sehari-hari. Kedua konsep ini sangat bermanfaat jika diterapkan dalam kehidupan para santri, karena dapat membantu mereka dalam memperbaiki diri, meningkatkan kesalehan, dan mendekatkan diri kepada Allah. Berdasarkan hasil wawancara dengan Teungku MR Dayah Tuhfatul Baidha AlAziziyah (Mahfad Atje. , menjelaskan bahwa suluk yang diterapkan kepada santri di Dayah Tuhfatul Baida Al-Aziziyah terutama ditujukan untuk santri kelas 4 sampai kelas 8, yang dianggap sudah mempunyai keilmuan yang cukup dan mengerti dalam menjalani ibadah suluk. Ibadah suluk tersebut diadakan pada bulan puasa, haji, dan bulan maulid. Selain diterapkan kepada santri, masyarakat sekitar juga dapat melaksanakan ibadah suluk ini jika mereka berkeinginan. Ibadah suluk ini mengikuti tata cara dan panduan yang berpedoman pada tarikat Naksyabandiyyah. Namun, tata cara atau panduan pengerjaannya tidak diberitahukan kepada khalayak umum, kecuali bagi mereka yang benar-benar mau menjalankan ibadah suluk tersebut. Informasi mengenai tata cara ibadah suluk hanya diberikan kepada mereka yang bersedia melaksanakannya. Selain suluk, tawajjuh juga merupakan ibadah yang diwajibkan bagi para santri. Para santri di Dayah Tuhfatul Baida Al-Aziziyah diwajibkan melaksanakan tawajjuh setelah salat subuh dan salat Isya. Sedangkan untuk jama'ah pengajian umum, kegiatan tawajjuh dilakukan setelah selesai pengajian di setiap malam Selasa. Tata cara pelaksanaan tawajjuh dengan cara mematikan semua lampu, menutup mata dan menutup kepala dengan menggunakan kain berwarna putih, agar fokus dalam merenungi apa yang disampaikan. Bacaan tawajjuh dimulai dengan membaca surat Al-Fatihah. Al-Ikhlas, bacaan zikir, dan diniatkan untuk pemilik tarikat Naksyabandiyyah. Selanjutnya, santri merenungi tawajjuh yang disampaikan oleh pimpinan dayah, seperti merenungi perbuatan di dunia, kematian, hari pembalasan, amalan baik dan jahat yang dilakukan, dan lain sebagainya. Para pengikut tawajjuh seringkali menangis dengan keras karena teringat pada dosadosa, kematian, hari pembalasan, dan hal-hal lain yang direnungkan. Tujuan dilaksanakan tawajjuh ini adalah untuk melembutkan hati para santri dan jama'ah pengajian umum, serta mendorong mereka untuk menjauhi perbuatan maksiat dan terus beramal dengan amalan kebaikan. Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 131-145 Luqmanul Hakim, dkk: The Practice Of Moral Sufism At Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. Dari hasil wawancara tersebut, penulis berpendapat terkait dengan pelaksanaan suluk dan tawajjuh di Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah. Suluk diperuntukkan khusus bagi santri tertentu, sementara tawajjuh wajib dilakukan oleh para santri dan jama'ah pengajian umum. Kedua ibadah ini memiliki tujuan yang sama, yaitu memperbaiki diri, merenungi perbuatan, dan mendekatkan diri kepada Allah. Praktik Salat Qiyamul Lail dan Salat Tahajud: Salat Qiyamul Lail atau Salat Sunat Malam yang dilakukan oleh santri di Dayah. Salat ini dilakukan pada waktu malam atau sekitar jam 01:00 WIB, atau sebelum tidur malam. Meskipun tidak diwajibkan dilakukan secara berjama'ah di Dayah, para santri melaksanakan salat ini secara mandiri di dalam bilik mereka dan sesekali tgk/guru akan melakukan pengecekan dan apabila terdapat santri yang langsung tidur belum melakukan salat malam maka santri tersebut akan di berikan sangsi biasanya berupa hafalan surat Al-QurAoan. Salat Qiyamul Lail melibatkan membaca Al-Qur'an dan berzikir. Tujuan para santri melaksanakan Salat Qiyamul Lail sebelum tidur adalah agar tidur mereka terjaga dari godaan syaitan. Dengan melakukan Salat ini sebelum tidur, diharapkan para santri dapat lebih mudah bangun untuk melaksanakan Salat Tahajut, yang merupakan salah satu bentuk ibadah sunat yang sangat dianjurkan. Salat Tahajud dilakukan di waktu malam menjelang fajar dan memiliki keutamaan yang besar dalam mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan salat Tahajud yang dilakukan oleh santri di Dayah Tuhfatul Baida Al-Aziziyah. Salat Tahajut di sini khususnya dilaksanakan pada jam 04:30 WIB dengan syarat bahwa para santri harus tertidur terlebih dahulu sebelum melaksanakan salat tersebut. Tujuan para santri dalam melaksanakan Salat Tahajut adalah untuk melatih kekhusyukan dalam beribadah. Dengan melaksanakan salat ini, para santri berharap dapat mempertebal keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Salat Tahajud memiliki keutamaan yang besar dalam agama Islam, karena dilaksanakan di waktu malam menjelang fajar, di mana umumnya orang lain sedang Melalui Salat Tahajud, para santri dapat mendapatkan keberkahan, kekhusyukan, dan kedekatan dengan Allah. Perbedaan utama antara Salat Qiyamul Lail dengan Salat Sunat Tahajud adalah waktu pelaksanaannya. Salat Sunat Tahajut dilakukan setelah tidur, sedangkan Salat Qiyamul Lail dilaksanakan sebelum tidur. Berdasarkan wawancara terkait dengan salat sunat Qiyamul Lail dan salat sunat Tahajut adalah praktik Salat Qiyamul Lail berpedoman pada tarekat naqsyabandiyah yang dilakukan oleh para santri di Dayah. Salat ini dilakukan secara individu di dalam bilik pada waktu malam sebelum tidur, dengan tujuan menjaga tidur dari gangguan syaitan dan mempermudah para santri untuk bangun dan melaksanakan Salat Tahajut. Sedangkan pelaksanaan Salat Tahajut yang khusus dilakukan oleh para santri di Dayah Tuhfatul Baida Al-Aziziyah pada jam 04:30 WIB. Tujuan melaksanakan salat ini adalah untuk melatih kekhusyukan dalam beribadah dan memperkuat keimanan serta ketaqwaan kepada Allah. PENUTUP Tasawuf akhlaqi di antara santri Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (MahfadAtje. menggambarkan komitmen kuat Dayah ini terhadap pengembangan Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 2. Desember, 2025: 131-145 Luqmanul Hakim, dkk: The Practice Of Moral Sufism At Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah (Mahfad Atje. moral dan etika. Praktik tasawuf akhlaqi yang diwujudkan di sini tidak hanya menjadi elemen tambahan dalam pendidikan, tetapi merupakan pusat perhatian yang strategis. Dayah ini telah berhasil menciptakan sebuah lingkungan yang tidak hanya mendorong, tetapi juga memahami pentingnya kesalehan dalam kehidupan sehari-hari santri. Dengan menerapkan nilai-nilai akhlaqi seperti kesabaran, rendah hati, rasa syukur, dan kasih sayang, praktik akhlak sabar, praktik ibadah sunnah dan zikir, praktik suluk dan tawajjuh dan praktik salat qiyamul lail dan tawajjuh. Dayah Tuhfatul Baidha Al-Aziziyah menjalankan perannya sebagai lembaga pendidikan yang berfokus pada pembentukan karakter. Santri di sini tidak hanya belajar tentang Islam, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai yang diwujudkan melalui praktik tasawuf akhlaqi. Hasilnya adalah generasi santri yang bukan hanya kompeten dalam agama, tetapi juga menjunjung tinggi akhlak mulia. Mereka bukan hanya menjadi teladan bagi masyarakat sekitar, tetapi juga membawa perubahan positif dalam budaya dan moralitas di Aceh. Dengan demikian, eksistensi tasawuf akhlaqi di Dayah ini membuktikan bahwa pendidikan Islam yang berfokus pada moralitas dapat menjadi kekuatan penting dalam membentuk masa depan yang lebih baik. DAFTAR PUSTAKA