Wika Sepiwiryanti, dkk HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU NIFAS TERHADAP PENERIMAAN TERAPI KOMPLEMENTER BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI POSKESDES SANTAPAN TIMUR TAHUN 2023 Wika Sepiwiryanti1. Vivi Dwi Putri2. Puspita Rini3. Marchatus Soleha4 Dosen Tetap S1 Kebidanan ,1 Dosen Tetap Prodi Profesi Kebidanan ,2 Mahasiswa Prodi S1 Kebidanan ,3 STIKES Abdurahman Palembang1,2,3 Email : wikasepiwiryanti@gmail. com1, vividwip@gmail. com2, puspita_rini@gmail. ABSTRACT The postpartum period . is the period that begins after the birth of the placenta and ends when the bladder returns to its original state before pregnancy, which lasts for 6 weeks or A 40 days. Complementary midwifery services are part of the application of complementary and alternative medicine in midwifery services. It is recorded that in the province of South Sumatra, one example of complementary therapy based on local wisdom, namely, the use of pilis in the community has begun to be abandoned, this is proven by the low community acceptance of pilis, namely 11. The aim of this research was to determine the relationship between knowledge and attitudes of postpartum mothers towards receiving complementary therapy based on local wisdom. The population in this study was all postpartum mothers totaling 75 people. The sample in this research was 43 respondents taken using primary data. Based on chi square analysis, it shows that there is knowledge of postpartum mothers regarding the acceptance of complementary therapy based on local wisdom . value = 0. , while the attitude of postpartum mothers towards acceptance of complementary therapy based on local wisdom . value = 0. The conclusion is that there is a significant relationship between the knowledge of postpartum mothers towards accepting complementary therapy based on local wisdom and there is no relationship between the attitude of postpartum mothers towards accepting complementary therapy based on local wisdom. Keywords: Knowledge. Attitude. Acceptance of Complementary Therapy ABSTRAK Masa nifas . adalah masa dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat kandung kembali seperti semula sebelum hamil, yang berlangsung selama 6 minggu atau A 40 hari. Pelayanan kebidanan komplementer merupakan bagian dari penerapan pengobatan komplementer dan alternatif dalam pelayanan kebidanan. Tercatat di provinsi Sumatera Selatan, salah satu contoh terapi komplementer berbasis kearifan lokal yaitu, penggunaan pilis di masyarakat sudah mulai di tinggalkan, hal ini terbukti bahwa penerimaan masyarakat tentang pilis yang rendah yaitu 11,3%. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap ibu nifas terhadap penerimaan terapi komplementer berbasis kearifan lokal. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu nifas berjumlah 75 orang. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 43 responden yang di ambil menggunakan data primer. Berdasarkan analisis chi square menunjukan adanya pengetahuan ibu nifas terhadap penerimaan terapi komplementer berbasis kearifan lokal . value = 0. , sedangkan sikap ibu nifas terhadap penerimaan terapi komplementer berbasis kearifan lokal . value = 0. Kesimpulanya adalah ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu nifas terhadap penerimaan terapi komplementer berbasis kearifan lokal dan tidak ada hubungan antara sikap ibu nifas terhadap penerimaan terapi komplementer berbasis kearifan lokal. Kata Kunci: Pengetahuan. Sikap. Penerimaan Terapi Komplementer Jurnal Kesehatan Abdurahman Palembang Volume 13 Nomor 1 Maret 2024 Wika Sepiwiryanti, dkk PENDAHULUAN Masa nifas . adalah masa dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat kandung kembali seperti semula sebelum hamil, yang berlangsung selama 6 minggu atau A 40 hari (Fitri, 2. Masa nifas merupakan masa yang penting, karena risiko kesakitan dan kematian ibu dan bayi meningkat pada masa ini. Perdarahan merupakan penyebab utama kematian ibu di dunia dan sebagian besar terjadi sebelum 24 jam pasca persalinan. Oleh karena itu penolong persalinan harus memastikan bahwa uterus berkontraksi dengan baik, sehingga tidak terjadi perdarahan. Masa nifas dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya adalah sosial budaya. Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagaai suku dan budaya yang mempunyai tradisi kesehatan masing-masing. Tidak semua tradisi yang ada mempunyai efek yang buruk terhadap kesehatan namun ada juga beberapa yang mempunyai dampak positif bagi kesehatan (Widaryanti & Riska, 2. Berdasarkan RISKESDAS . Provinsi Sumatera Selatan penggunaan pilis di masyarakat sudah mulai di tinggalkan, hal ini terbukti bahwa penerimaan masyarakat tentang pilis yang rendah yaitu 11,3%. Banyak ibu nifas terutama yang ditinggal di perkotaan sudah tidak lagi menggunakan pilis hal ini di karenakan kurangnya pengetahuan tentang manfaat dari pilis selain itu penggunaan pilis juga kurang diminati karena cara penggunaan yang tidak praktis dan dirasa tidak fashionable. Pilis harus dioleskan pada dahi setelah ibu nifas selesai mandi, warrna dari pilis juga mencolok sehingga membuat ibu nifas tidak percaya diri untuk menggunakan nya. Padahal banyak manfaat yang diperoleh dari penggunaan pilis antara lain menghilangkan rasa pusing yang diakibatkan kelelahan saat proses persalinan. Pilis terbuat dari pala dan cengkeh sehingga menimbulkan rasa hangat yang dapat meningkatkan rasa nyaman di bagian kepala. Pasca persalinan pandangan mata ibu menjadi berkurang karena proses mengedan, hal ini dapat diatasi dengan menggunakan pilis selama masa nifas (Fuadi, 2. Keengganan untuk minum jamu biasanya disebabkan karena rasa dan aromanya. Padahal, jamu menjadi salah satu pilihan populer perawatan tradisional usai melahirkan. Hal ini dapat disiasati dengan menutup hidung saat minum jamu tersebut atau dapat menambah aroma terapi di dalam ruangan sehingga aroma jamu tidak dominan. Sebagai catatan, meminum jamu tradisional hanya bagi yang mengalami persalinan normal. Untuk mereka yang menjalani operasi sesar, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan metode alami terbaik (Redaksi Ruang mom, 2. Menurut (Ika Zuliyanti et al. , n. , 2. terapi komplementer memiliki banyak manfaat namun belum digunakan secara maksimal di masyarakat karena belum banyak masyarakat yang mengetahui tentang khasiat dari terapi tersebut, selain itu terapi komplementer yang ada di masyarakat belum tersedia dalam bentuk yang modern dan praktis sehingga belum banyak yang menggunakan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang berjudul pelaksanaan pelayanan komplementer pada masa nifas di praktik mandiri bidan kabupaten pringsewu dilakukan oleh (Putri et , 2. , bahwa pelaksanaan pelayanan kebidanan komplementer di Indonesia tidak hanya dilakukan oleh sektor swasta/mandiri, namun juga pemerintah (Puskesmas dan Rumah Saki. Akan tatapi, pelaksanaan pada sektor pemerintah terhambat prosedur tetap yang masih harus mengacu pada pelayanan kebidanan konvensional, sehingga pelaksanaan pelayanan kebidanan komplementer lebih banyak dijumpai pada sektor swasta. Dengan demikian pengaruh informasi yang beredar di masyarakat sangat menentukan pemanfaatan terapi komplementer, terutama pada masa nifas dimana masyarakat mengacu kepada kebiasaan dan budaya setempat. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan bersifat kuantitatif dengan pendekatan retrospektif yaitu pengetahuan dan sikap ibu nifas terhadap penerimaan terapi komplementer berbasis kearifan lokal. Populasi pada penelitian ini Jurnal Kesehatan Abdurahman Palembang Volume 13 Nomor 1 Maret 2024 Wika Sepiwiryanti, dkk adalah seluruh ibu nifas . -40 har. pada bulan Januari-Maret tahun 2023 di Poskesdes Santapan Timur berjumlah 75 ibu. Teknik pengambilan sample dalam penelitian ini menggunakan metode Purposive Sampling dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini setelah dihitung menggunakan rumus slovin yaitu sebanyak 43 ibu nifas. Penelitian ini menggunakan data primer atau secara langsung yang di peroleh, instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini untuk penerimaan terapi komplementer berbasis kearifan lokal dengan wawancara menggunakan check list. Sedangkan untuk pengetahuan dan sikap ibu nifas yaitu dengan cara wawancara menggunakan kuesioner. HASIL Hasil Penelitian Analisi Univariat Tabel 1 Distribusi Frekuensi penerimaan ibu nifas terhadap terapi komplementer berbasis kearifan lokal No. Penerimaan Tereapi Komplementer Menerima Tidak Menerima Jumlah Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa dari 43 responden yang menerima terapi komplementer berbasis kearifan lokal yaitu 36 Frekuensi Presentasi 83,7% 16,3% ,7%) dan yang tidak menerima terapi komplementer berbasis kearifan lokal yaitu 7 ,3%) Tabel 2 Distribusi Frekuensi pengetahuan ibu nifas tentang terapi komplementer berbasis kearifan lokal No. Pengetahuan Frekuensi Presentasi Baik 16,3% Cukup 67,4% Kurang 16,3% Jumlah Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa dari total 43 responden sebagian besar dari responden, mempunyai pengetahuan baik tentang terapi komplementer berbasis kearifan lokal 7 . ,3%), pengetahuan cukup tentang terapi komplementer berbasis kearifan lokal 29 . ,4%) dan pengetahuan kurang tentang terapi komplementer berbasis kearifan lokal yaitu 7 . ,3%). Tabel 3 Distribusi Frekuensi sikap ibu nifas tentang terapi komplementer berbasis kearifan lokal No. Frekuensi Presentasi Sikap Positif 60,4% Negatif Jumlah 39,6% Jurnal Kesehatan Abdurahman Palembang Volume 13 Nomor 1 Maret 2024 Wika Sepiwiryanti, dkk Berdarkan tabel diatas menunjukan bahwa dari total 43 responden, sebagian dari responden yang mempunyai sikap positif yaitu 26 . ,4%) dan yang mempunyai sikap negatif yaitu 17. ,6%). Analisi Bivariat Tabel 4 Hubungan Pengetahuan ibu nifas terhadap penerimaan terapi komplementer berbasis kearifan lokal Pengetahuan Kurang Cukup Terapi Komplementer Tidak Menerima Menerima Baik Jumlah Berdasarkan tabel 4 dari 43 responden yang mempunyai pengetahuan cukup dan menerima terapi komplementer berbasis kearifan lokal berjumlah 23 responden . 5 %) dan responden yang mempunyai pengetahuan cukup dan tidak menerima terapi komplementer berbasis kearifan lokal berjumlah 6 responden . %), sedangkan yang mempunyai pengetahuan kurang dan menerima terapi berjumlah 7 responden . 3 %) dan responden Total Value yang mempunyai pengetahuan baik dengan menerima terapi komplementer berbasis kearifan lokal berjumlah 6 responden . %). Berdasarkan uji statistic chi square diperoleh nilai p value =0,012 . O0,. Sehingga Ho1 ditolak dan Ha1 diterima, maka dapat disimpulkan ada hubungan antara pengetahuan ibu nifas terhadap penerimaan terapi komplementer berbasis kearifan lokal dii Wilayah Kerja Poskesdes Santapan Timur. Tabel 5 Hubungan sikap ibu nifas terhadap penerimaan terapi komplementer berbasis kearifan lokal Negatif Terapi Komplementer Tidak Menerima Menerima Positif Sikap Total P Value responden yang mempunyai bersikap positif Berdasarkan tabel 5 dari 43 responden dalam tidak menerima terapi komplementer yang mempunyai sikap positif dalam menerima berbasis kearifan lokal berjumlah 5 responden terapi komplementer berbasis kearifan lokal . 6 %), sedangkan yang mempunyai sikap berjumlah 21 responden . 8 %) dan negatif dalam menerima terapi komplementer Jumlah Jurnal Kesehatan Abdurahman Palembang Volume 13 Nomor 1 Maret 2024 Wika Sepiwiryanti, dkk berbasis kearifan lokal berjumlah 15 responden . 9 %) dan responden yang mempunyai sikap negatif dengan tidak menerima terapi berjumlah 2 responden . 7 %). Berdasarkan uji statistic chi square diperoleh nilai p value =0,082 . Ou0,. Sehingga Ha2 ditolak dan Ho2 diterima, maka dapat disimpulkan tidak ada hubungan antara sikap ibu nifas terhadap penerimaan terapi komplementer berbasis kearifan lokal dii Wilayah Kerja Poskesdes Santapan Timur. PEMBAHASAN ANALISIS UNIVARIAT Penerimaan Ibu nifas terhadap terapi komplementer berbasis kearifan lokal. Dari data laporan RISKESDAS . Provinsi Sumatera Selatan penggunaan pilis di masyarakat sudah mulai di tinggalkan, hal ini terbukti bahwa penerimaan masyarakat tentang pilis yang rendah yaitu 11,3%. Banyak ibu nifas terutama yang ditinggal di perkotaan sudah tidak lagi menggunakan pilis hal ini di karenakan kurangnya pengetahuan tentang manfaat dari pilis selain itu penggunaan pilis juga kurang diminati karena cara penggunaan yang tidak praktis dan dirasa tidak fashionable. Pilis harus dioleskan pada dahi setelah ibu nifas selesai mandi, warrna dari pilis juga mencolok sehingga membuat ibu nifas tidak percaya diri untuk menggunakan nya. Padahal banyak manfaat yang diperoleh dari penggunaan pilis antara lain menghilangkan rasa pusing yang diakibatkan kelelahan saat proses persalinan. Pilis terbuat dari pala dan cengkeh sehingga menimbulkan rasa hangat yang dapat meningkatkan rasa nyaman di bagian kepala. Pasca persalinan pandangan mata ibu menjadi berkurang karena proses mengedan, hal ini dapat diatasi dengan menggunakan pilis selama masa nifas (Fuadi, 2. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Widaryanti . dengan judul Pengetahuan dan Penerimaan Terapi Komplementer pada Ibu Nifas Berbasis Kearifan Lokal. Sebagian besar tingkat pengetahuan ibu nifas tentang terapi komplementer rendah yaitu 52,8%. komplementer yang sering ada dimasyarakat yaitu penggunaan pilis, tapel, parem, jamu uyup-uyup dan bengkung atau gurita. Penerimaan terapi komplementer tertinggi yaitu pada jamu uyup uyup 71,7% dan penerimaan terendah yaitu pada parem yaitu 1,9%. Peneliti berasumsi untuk menjadikan hal tersebut sebagai masukan bagi ibu untuk mendapatkan informasi Ae infromasi yang bermanfaat berkaitan dengan perawatan dilakukan setelah melahirkan terutama yang berbasis kearifan lokal ini agar memilih mana yang bisa di terima disesuaikan pada kondisi tubuh ibu sehingga tidak menimbulkan kerugian jika ada hal yang tidak bisa diterima pada kondisi yang ada, berdasarkan penelitian maka peneliti menyarakan untuk para bidan memberikan pelayanan komplementer yang bertujuan untuk memberikan asuhan tambahan dalam bidang perawatan masa nifas. Contohnya untuk pelatihan bagi tenaga kesehatan khususnya bidan didapatkan pengalaman belajar dan informasi baru dalam bekerja yang dikembangkan akan memberikan pengetahuan dan keterampilan professional (Riyanto, 2. Keikutsertaan bidan dalam pelatihan - pelatihan praktik komplementer khususnya kebidanan melakukan praktik kebidanan komplementer. Pengetahuan Ibu nifas terhadap terapi komplementer berbasis kearifan lokal Berdasarkan hasil penelitian dilakukan pada 43 responden, yang mempunyai pengetahuan baik sebanyak 7 ibu . ,3%), sedangkan yang mempunyai pengetahuan cukup tentang terapi komplementer berbasis kearifan lokal yaitu 29 ibu . ,4%), dan yang mempunyai pengetahuan kurang sebanyak 7 ibu . ,3%). Seperti merupakan segala sesuatu yang diketahui oleh manusia yang ditangkap dari berbagai sumber (Ihsan, 2. Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dimana terjadi setelah orang melakuakan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Proses pengindraan terjadi melalui panca indra manusia yaitu melalui indra pengelihatan. Jurnal Kesehatan Abdurahman Palembang Volume 13 Nomor 1 Maret 2024 Wika Sepiwiryanti, dkk pendengaran, penciuman, perasa, dan peraba (Notoadmodjo. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Hayati . , yang berjudul Pendidikan kesehatan tentang terapi komplementer pada masa nifas. Setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang terapi komplementer dalam pengetahuan ibu nifas tentang terapi komplementer dalam meningkatkan pemulihan ibu selama nifas serta mendukung proses menyusui sehingga ibu menjalani masa nifas dengan nyaman dan proses laktasi sukses memenuhi kebutuhan bayinya. Menurut asumsi peneliti, untuk meningkatkan pengetahuan sesorang dibutuhkan proses pembekalan ilmu seperti halnya memberikan Pendidikan kesehatan yang dibutuhkan dengan durasi yang lebih banyak dan sering agar dapat mencapai tujuan pencapaian kesehatan yang baik. Ibu nifas terhadap terapi komplementer berbasis kearifan lokal Salah satu praktik kesehatan berbasis budaya pada masyarakat Jawa terkenal memiliki adat dan tradisi yang sangat dipatuhi oleh masyarakatnya. Karakteristik individu orang jawa yang cenderung lebih AonrimoAo . terhadap berbagai kondisi membat masyarakat Jawa sangat mematuhi adat dan tradisi yang berhubungan dengan praktik kesehatan pada masa nifas. Beberapa praktik kesehatan yang dilakukan oleh ibu pada nifas di daerah Jawa diantaranya adanya tradisi ibu nifas menggunakan bengkung / stagen. Tujuan penggunaan bengkung secara tradisi adalah untuk mengembalikan bentuk perut ke bentuk sebelum hamil (Evi Nur,2. Budaya berpantang yang lain di masyarakat Aceh adalah budaya berpantang aktivitas, dimana ibu nifas yang belum sampai 40 hari dilarang beraktivitas di luar rumah karena dipercaya akan diganggu oleh makhluk Secara medis pembatasan aktivitas fisik ibu dapat diterima karena ibu pada masa nifas sedang mengalami berbagai proses perubahan dari masa hamil ke masa seperti sebelum hamil, termasuk juga perubahan peran ibu. Sehingga ibu pada masa ini disarankan untuk banyak beristirahat, lebih banyak waktu bersama dengan bayinya untuk dapat belajar mendalami perannya sebagai ibu, dan dengan ibu berisitirahat dalam waktu yang cukup dapat membantu pemulihan kondisi ibu ke keadaan seperti sebelum hamil. Adanya kondisi yang khususnya bidan harus dapat lebih pro aktif untuk dapat melakukan observasi dan pemeriksaan keadaan ibu pada masa nifas. Salah satunya dengan menggunakan teknik kunjungan pada Mengenal terapi komplementer dalam kebidanan pada ibu nifas, ibu menyusui, bayi dan balita masa nifas (KF) yang dilakukan minimal 3 kali pada ibu di masa nifas (Evi Nur. Peneliti berasumsi dari berbagai contoh tersebut yang mempengaruhi sikap seseorang dalam mengambil tindakan yang menurut mereka ada yang bisa diterima secara positif dan ada juga yang tidak bisa mengikuti budaya tersebut karena merasa rugi dan tidak modern. Sikap ANALISI BIVARIAT Hubungan Sikap ibu nifas terhadap penerimaan terapi komplementer berbasis kearifan lokal Berdasarkan hasil penelitian hubungan penerimaan terapi komplementer berbasis kearifan lokal menggunakan uji statistic analisis chi square diperoleh nilai p value =0,082 . Ou0,. Sehingga Ha ditolak disimpulkan tidak ada hubungan antara sikap ibu nifas terhadap penerimaan terapi komplementer berbasis kearifan lokal dii Wilayah Kerja Poskesdes Santapan Timur. Sikap perilaku dalam pengobatan sendiri dengan menggunakan obat tradisional merupakan salah satu perilaku kesehatan. Health belief model (HBM) digunakan untuk memprediksi perilaku preventif dalam bentuk perilaku sehat dan juga respon perilaku terhadap pengobatan yang akan dilakukan, dengan fokus pada sikap dan kepercayaan . pada Konsep mendasar dari model kepercayaan kesehatan yang asli adalah Jurnal Kesehatan Abdurahman Palembang Volume 13 Nomor 1 Maret 2024 Wika Sepiwiryanti, dkk perilaku kesehatan ditentukan oleh kepercayaan individu atau persepsi tentang penyakit dan cara yang tersedia untuk mengurangi kejadiannya. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa teori health belief model (HBM) dapat digunakan untuk menjelaskan perilaku persepsinya (Taylor D, 2. Seperti dari hasil penelitian yang dilakukan oleh MuthiAoah . tentang perilaku penggunaan obat tradisional pada ibu pasca melahirkan di Desa Kailolo Kabupaten Maluku Tengah menyatakan bahwa masyarakat Desa Kailolo menggunakan obat tradisional untuk pengobatan nifas didasarkan oleh pengalaman yang diberikan dari nenek moyang melalui praktek langsung dan diturunkan kepada generasi berikutnya dan sampai saat ini masih dilestarikan. Dan hal ini juga tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Astri Widiarti . yang berjudul Analisis pengaruh faktor perilaku terhadap pemanfaatan kearifan lokal sebagai obat tradisional oleh masyarakat di kota Palangka Raya, dengan hasil uji statistik diperoleh nilai p-value = 0,000 dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara sikap dengan perilaku masyarakat dalam pemanfaatan kearifan lokal sebagai obat tradisional. Menurut asumsi peneliti, hal ini bisa sebagai bukti untuk tingkat kepercayaan masyarakat terhadap obat tradisional untuk menyembuhkan atau memelihara kesehatan sangat tinggi, sehingga masyarakat memilih obat tradisional sebagai pilihan pengobatan pertama. Kepercayaan ini bisa timbul dari sebelumnya atau pengalaman dari orang lain yang telah merasa sembuh ketika menggunakan obat tradisional. Ada perbedaan antara sikap masing-masing masyarakat yang dapat menerima dengan sikap positif dan negatif dari berbagai macam daerah yang berbeda yang dipengaruhi oleh budaya dan teknologi yang semakin canggih saat ini. Dan dari berbagai macam sumber teori yang berkaitan, saat ini bisa saja masyarakat tetap menggunakan terapi komplementer berbasis kearifan lokal berdampingan dengan pengobatan konvensional yang ada, hanya perlu dilakukan edukasi terhadap masyarakat untuk dapat memilih pengobatan dan perawatan yang tidak merugikan kesehatan ibu nifas. Hubungan Pengetahuan ibu nifas komplementer berbasis kearifan lokal Berdasarkan hasil penelitian hubungan pengetahuan ibu nifas terhadap penerimaan terapi komplementer berbasis kearifan lokal menggunakan uji statistic analisis chi square diperoleh nilai p value =0,012 . O0,. , maka Ho ditolak dan Ha diterima, maka dapat disimpulkan ada hubungan antara pengetahuan ibu nifas terhadap penerimaan terapi komplementer berbasis kearifan lokal dii Wilayah Kerja Poskesdes Santapan Timur. Penelitian ini sejalan dengan yang dilakukan oleh Rosita & Wani . , yang berjudul hubungan sosial budaya dan mendapatkan informasi terhadap penggunaan pengobatan tradisional pada ibu nifas. Hasil uji statistik menggunakan uji chi square diperoleh p value 0,041 . < 0,. berarti ada hubungan antara sosial budaya dengan penggunaan pengobatan tradisional di Kecamatan Terangun Kabupaten Gayo Lues. Hasil penelitian diketahui bahwa terdapat hubungan antara sosial budaya dan keterpaparan informasi dengan penggunaan pengobatan tradisional pada ibu nifas di Kecamatan Teragun Kabupaten Gayo Lues. PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu nifas terhadap penerimaan terapi komplementer berbasis kearifan lokal di Poskesdes Santapan Timur maka dapat disimpulkan sebagai berikut : Terdapat distibusi frekuensi responden yang menerima terapi komplementer berbasis kearifan Jurnal Kesehatan Abdurahman Palembang Volume 13 Nomor 1 Maret 2024 Wika Sepiwiryanti, dkk lokal yaitu 36 . ,7%) di wilayah kerja Poskesdes Santapan Timur. Terdapat distribusi frekuensi responden yang mempunyai pengetahuan cukup tentang terapi komplementer berbasis kearifan lokal yaitu 29 . ,4%) di wilayah kerja Poskesdes Santapan Timur. Terdapat distribusi frekuensi responden yang mempunyai sikap positif yaitu 26 . ,4%) di Poskesdes Santapan Timur. Hasil uji statistic bivariate diperoleh hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu nifas terhadap penerimaan terapi komplementer berbasis kearifan lokal di Wilayah Kerja Poskesdes Santapan Timur dengan nilai p value =0,012. Hasil uji statistic bivariate diperoleh tidak ada hubungan antara sikap ibu nifas terhadap penerimaan terapi komplementer berbasis kearifan lokal di Wilayah Kerja Poskesdes Santapan Timur dengan nilai p value =0,082. Saran