Penerapan Learning Organization dan Collaborative Learning untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Guru di Sd Krista Gracia Klaten Fajar Iswadi1. Melitina Tecoalu2. Takim Andriono3 SD Krista Gracia Klaten1 FEB Universitas Kristen Krida Wacana2,3 fajariswadi3@gmail. com1, melitina@ukrida. id2, andriono2509@gmail. ABSTRAK Penelitian ini merupakan penelitian tindakan sekolah yang menggunakan metode learning organization dan collaborative learning untuk meningkatkan kualitas pembelajaran guru di SD Krista Gracia Klaten. Subyek penelitian adalah 7 guru kelas di SD Krista Gracia Klaten. Peneliti menggunakan lembar supervisi untuk menilai kualitas mengajar guru saat melakukan proses pembelajaran di dalam kelas. Selain menggunakan lembar supervisi, peneliti juga menggunakan kuisioner personal mastery, shared vision, mental models, system thinking dan collaborative learning untuk mengukur efektifitas tindakan yang sudah dilakukan. Penelitian dilakukan dengan metode Kemmis dan McTaggart. hingga 2 siklus. Hasil akhir siklus II menyatakan bahwa dari ketujuh subyek semuanya mengalami peningkatan kualitas Keenam subyek memenuhi standar nilai yang sudah ditentukan yaitu 70. Satu subyek belum mencapai standar nilai yang ditentukan walaupun mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan dapat disimpulkan bahwa penerapan learning organization dan collaborative learning dapat meningkatkan kualitas guru di SD Krista Gracia Klaten Kata Kunci: Learning organization, collaborative learning, kualitas pembelajaran KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JULI - DESEMBER 2021 | 111 Pendahuluan Pandemi Covid 19 membuat dunia mengalami berbagai macam perubahan. Perubahan yang terjadi tersebut mulai dari perubahan perilaku sampai perubahan ekonomi bahkan perubahan di dunia Sekolah banyak yang tutup dikarenakan pandemi yang berkepanjangan. Di Indonesia sendiri sekolah banyak yang berhenti beroperasi. Sekolah yang berhenti beroperasi bukan hanya sekolah swasta namun juga sekolah negeri. Walaupun sekolah yang berhenti beroperasi lebih banyak sekolah swasta dibandingkan dengan sekolah negeri. Penyebab sekolah swasta banyak yang tutup dikarenakan penurunan minat orang tua siswa terhadap sekolah swasta, terutama karena biaya yang dianggap terlalu mahal dibandingkan dengan kualitasnya. Penyebab utama dari sekolah yang berhenti beroperasi adalah sekolah tidak mau melakukan proses pengembangan Proses pengembangan diri mestinya dilakukan jika sekolah tidak mau tutup. Cara yang dapat dilakukan adalah sekolah harus terus mau belajar menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Sekolah harus menjadi organisasi pembelajar agar mampu Sekolah yang mau terus belajar dan menjadi organisasi pembelajarlah yang akan bertahan. Pengembangan diri guru yang utama adalah bagaimana guru menciptakan proses pembelajaran yang menarik, menyenangkan dan tingkat keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran tersebut tinggi. Tetapi masih banyak guru yang tidak mau belajar. Kebanyakan guru hanya mengikuti alur buku teks tanpa ada pengembangan dan inovasi mengikuti perkembangan yang ada. Hal ini yang menyebabkan hasil pembelajaran kurang Diperlukan strategi yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut sebagai strategi alternative yang tepat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan learning organisation dan collaborative learning dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di SD Krista Gracia Klaten. Tinjauan Literatur 1 Learning Organization Menurut Wahyudi . organisasi pembelajar . earning organizatio. adalah semua instansi atau perusahaan yang mau terus berubah serta menyesuaikan diri dengan keadaan yang sedang terjadi. Ciri adanya proses perubahan tersebut melalui Pembelajaran dapat dilakukan dengan menentukan strategi inovasi terbaru, adanya proses perbaikan, adanya komitmen. Organisasi yang mau terus belajar dapat dilihat dari adanya keterbukaan, pertumbuhan serta pengambilan resiko pada organisasi tersebut. Senge dalam Kaswan . , mendefinisikan organisasi pembelajar adalah instansi atau perusahaan yang terus mau berubah untuk meningkatkan kualitasnya agar memperoleh hasil yang maksimal. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan 4 disiplin dari 5 disiplin yang dikemukakan oleh Peter Senge yaitu personal mastery, shared vision, mental models dan system 112 | PENERAPAN LEARNING ORGANIZATION COLLAB. (Fajar Iswadi. Melitina Tecoalu. Takim Andrion. Sedangkan disiplin team learning diganti dengan collaborative learning. 2 Collaborative Learning Pembelajaran kolaboratif adalah pedagogi yang berpusat pada asumsi bahwa manusia selalu menciptakan makna bersama dan dalam prosesnya dapat memperkaya dan memperluas wawasan mereka Matthews . ia Barkley, 2. Dalam penelitian subyek melakukan proses belajar secara bersamasama dalam satu kelompok. Subyek saling bertukar wawasan sehingga semua subyek bertambah pengetahuannya. Ada berbagai model diskusi Collaborative Learning untuk meningkatkan diskusi di dalam proses pembelajaran. Berikut pembahasan singkat dan tujuan utama dari enam teknik diskusi Collaborative Learning yang disajikan dalam Tabel 1. Tabel 1 Macam Diskusi Collaborative Learning (Barkley, 2. Teknik Karakteristik Tujuan Collaborative Learning Think-PairShare (Bertukar Pikiran Secara Berpasanga. Round Robin (Merespon Bergilira. Buzz Group (Kelompok Desas-Desu. Talking Chips (Keping Bicar. Three Step Interview (Wawancara Tiga Taha. Critical Debates (Debat Kriti. Berpikir secara mandiri selama beberapa waktu, selanjutnya berdiskusi dan membandingkan tanggapan mereka dengan pasangannya sebelum berbagi dengan seluruh kelas. Memunculkan gagasan dan berbicara secara berurutan dari siswa satu ke siswa Mendiskusikan pertanyaanpertanyaan yang ada hubungannya dengan perkuliahan secara informal dalam diskusi Berpartisipasi dalam diskusi kelompok dan meyerahkan sebuah tanda setiap kali Saling mewawancarai satu sama lain dan melaporkan apa yang mereka pelajari kepada Mengasumsikan dan mendiskusikan satu sisi dari sebuah persoalan yang berlawanan dengan pandanganpandangan pribadi mereka. Meningkatkan keterlibatan siswa dalam mengikuti proses M en i n g kat ka n dalam memunculkan Memperluas wawasan dan ide dalam beberapa saat demi keaktifan diskusi kelas. Membatasi keterlibatan siswa agar tidak Melatih komunikasi. Mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan mendorong mahasiswa untuk menantang asumsi yang sudah mereka miliki. KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JULI - DESEMBER 2021 | 113 3 Kualitas Pembelajaran Kualitas adalah tolok ukur bagus dan tidaknya suatu hal. Pembelajaran adalah metode yang dilakukan untuk membuat orang mau belajar. Jadi kualitas pembelajaran adalah tolok ukur keberhasilan metode yang dilakukan untuk membuat orang mau belajar. Keberhasilan proses belajar dapat ditentukan melalui kegiatan proses pembelajaran yang dilakukan dan seberapa besar capaian dari kompetensi dasar dan indikator serta peran guru untuk mencapai keberhasilan tersebut (Susanto, 2. Metode Penelitian 1 Rancangan Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan . ction researc. Action research atau penelitian tindakan merupakan salah satu bentuk rancangan Penelitian tindakan yang dilakukan oleh peneliti akan menguraikan, kondisi social secara bersama-sama dengan melakukan transformasi untuk proses Action research adalah aktivitas dan atau respon pembaharauan suatu rancangan, implementasi, dan evaluasinya yang dilakukan secara terstruktur sehingga validitas dan reliabilitasnya mencapai tingkatan riset. (Gunawan, 2. Model penelitian yang digunakan dikembangkan oleh Kemmis & McTaggart. Model action research yang dikemukakan oleh Kemmis & McTaggart terdiri dari empat tahap kegiatan, yaitu plan . , act . elaksanaan tindaka. , observe (Pengamata. , reflect . Penelitian melalui 2 siklus, setelah siklus pertama selesai dilakukan dengan mengacu pada refleksi maka akan dilanjutkan pada siklus II. Tahapan siklus dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1 Model Penelitian Kemmis dan Mc Taggart Sumber : Kemmis. Stephen. Robin McTaggart and Rhonda Nixon . AuThe Action Research PlannerAy. hal:19 114 | PENERAPAN LEARNING ORGANIZATION COLLAB. (Fajar Iswadi. Melitina Tecoalu. Takim Andrion. 1 Waktu Penelitian Waktu penelitian dilaksankan selama 4 bulan dimulai bulan Agustus sampai bulan November 2021. 2 Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di SD Krista Gracia Klaten, jl Seruni No 8. Tonggalan. Klaten Tengah. Klaten. 2 Subyek dan Obyek Penelitian 1 Subyek Penelitian Subyek penelitian adalah guru SD Krista Gracia Klaten yang berjumlah 7 ( tuju. orang, terdiri dari 2 . guru lakilaki dan 5 . guru perempuan. 2 Obyek Penelitian Adapun obyek penelitian dalam penelitian tindakan sekolah ini adalah meningkatkan kualitas pembelajaran guru 3 Prosedur dan Instrument Penelitian 1 Prosedur Penelitian 1 Perencanaan Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah pembuatan jadwal observasi guru, sosialisasi materi Learning Organization dan Collaborative learning, pembentukan Collaborative Learning, instrument penelitian. Selain kegiatan tersebut akan dilakukan juga pelatihan kepada subyek dengan materi Learning Organization dengan indikator disiplin dari Peter Senge dan Collaborative Learning. 2 Pelaksanaan Tindakan yang akan dilakukan selama siklus I dan siklus II yang berlangsung pada saat subyek mengajar di dalam kelas. Selain itu tindakan juga akan dilakukan ketika subyek melaksanakan collaborative learnig. Tahap yang sama berlaku untuk siklus i jika masih diperlukan. 3 Pengamatan Pada tahap ini meliputi supervisi tujuh guru pada saat mengajar di dalam kelas dengan jadwal disesuaikan dengan jadwal mengajar masing-masing guru. Selain itu tahap ini akan dilakukan supervisi saat guru melakukan collaborative learning. Supervisi dilakukan oleh peneliti. Sarana yang digunakan adalah kamera, angket learning organization, angket pelaksanaan collaborative learning, dan lembar supervisi 4 Refleksi Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah mengkaji ulang, mempertimbangkan hasil dari berbagai kriteria atau indikator keberhasilan. Refleksi ini dilakukan berdasarkan hasil supervisi dan catatan-catatan yang sudah dibuat melalui Refleksi dilaksanakan setelah satu siklus berakhir, sebagai langkah untuk pertimbangan menuju siklus berikutnya. 2 Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yang akan digunakan adalah sebagai berikut: Kuisioner personal matery Kuisioner ini digunakan untuk mengukur masing-masing kemampuan subyek. Aspek yang dinilai adalah komitmen diri, kemampuan memecahkan masalah dan kinerja. Kuisioner shared vision KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JULI - DESEMBER 2021 | 115 Kuisioner ini digunakan untuk mengukur masing-masing kemampuan subyek dalam keterampilan untuk menggali gambaran masa depan organisasi. Aspek yang dinilai adalah keterbukaan ide, kemampuan pemecahan masalah dan cara pandang terhadap visi, misi. Kuisioner mental models Kuisioner ini digunakan untuk mengukur masing-masing kemampuan subyek tentang asumsi-asumsi yang sangat dalam melekat, umum, atau merupakan suatu gambaran dari bayangan atau citra yang berpengaruh pada bagaimana anggota organisasi memahami dunia. Aspek yang dinilai adalah cara menghargai pendapat, penerimaan terhadap kritik dan karakter diri. Kuisioner berfikir sistemik/ system Kuisioner ini digunakan untuk mengukur masing-masing kemampuan subyek dalam konsep berfikir. Aspek yang di nilai adalah cara berfikir terhadap organisasi, identifikasi masalah dan perbaikan diri. Kuisioner collaborative learning Berfungsi untuk menggambarkan kriteria penilaian yang akan di capai oleh subyek dalam melakukan kolaborasi dan diskusi dengan rekan kerja. Aspek yang dinilai adalah sumbang sih pemikiran, bahasa dan kesopanan dalam keterlibatan pembelajaran kolaboratif. Intrumen supervisi pembelajaran Berfungsi untuk mengukur pencapaian kualitas dalam proses pembelajaran. Aspek yang dinilai adalah kegiatan awal, inti dan penutup pada saat subyek melakukan proses pembelajaran. Teknik pengumpulan data pada setiap instrumen adalah sebagai berikut: Kuisioner personal matery Kuisioner akan diisi sebelum siklus I dimulai sebagai data awal dan akan diisi lagi pada saat siklus I dan Siklus II. Kuisioner ini diisi oleh subyek, rekan sejawat dan peneliti. Kuisioner ini diisi sebelum subyek melakukan proses pembelajaran di dalam kelas. Kuisioner shared vision Kuisioner akan diisi sebelum siklus I dimulai sebagai data awal dan akan diisi lagi pada saat siklus I dan Siklus II. Kuisioner ini diisi oleh subyek, rekan sejawat dan peneliti. Kuisioner ini diisi sebelum subyek melakukan proses pembelajaran di dalam kelas. Kuisioner mental models Kuisioner akan diisi sebelum siklus I dimulai sebagai data awal dan akan diisi lagi pada saat siklus I dan Siklus II. Kuisioner ini diisi oleh subyek, rekan sejawat dan peneliti. Kuisioner ini diisi sebelum subyek melakukan proses pembelajaran di dalam kelas. Kuisioner berfikir sistemik/ system 116 | PENERAPAN LEARNING ORGANIZATION COLLAB. (Fajar Iswadi. Melitina Tecoalu. Takim Andrion. thinking Kuisioner akan diisi sebelum siklus I dimulai sebagai data awal dan akan diisi lagi pada saat siklus I dan Siklus II. Kuisioner ini diisi oleh subyek, rekan sejawat dan peneliti. Kuisioner ini diisi sebelum subyek melakukan proses pembelajaran di dalam kelas. Kuisioner collaborative learning Rubrik akan diisi sebelum siklus I dimulai sebagai data awal dan akan diisi lagi pada saat siklus I dan Siklus II. Rubrik ini diisi oleh subyek, rekan sejawat dan peneliti. Rubrik ini diisi sebelum subyek melakukan proses pembelajaran di dalam kelas. Intrumen supervisi pembelajaran Intrumen supervisi akan diisi sebelum siklus I dimulai sebagai data awal dan akan diisi lagi pada saat siklus I dan Siklus II. Intrumen supervisi ini diisi oleh peneliti. Intrumen supervisi ini diisi pada saat subyek melakukan proses pembelajaran di dalam kelas. Teknik dan Analisis Data 1 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data pada setiap instrumen adalah sebagai berikut: Kuisioner personal matery Kuisioner akan diisi sebelum siklus I dimulai sebagai data awal dan akan diisi lagi pada saat siklus I dan Siklus II. Kuisioner ini diisi oleh subyek, rekan sejawat dan peneliti. Kuisioner ini diisi sebelum subyek melakukan proses pembelajaran di dalam kelas. Kuisioner shared vision Kuisioner akan diisi sebelum siklus I dimulai sebagai data awal dan akan diisi lagi pada saat siklus I dan Siklus II. Kuisioner ini diisi oleh subyek, rekan sejawat dan peneliti. Kuisioner ini diisi sebelum subyek melakukan proses pembelajaran di dalam kelas. Kuisioner mental models Kuisioner akan diisi sebelum siklus I dimulai sebagai data awal dan akan diisi lagi pada saat siklus I dan Siklus II. Kuisioner ini diisi oleh subyek, rekan sejawat dan peneliti. Kuisioner ini diisi sebelum subyek melakukan proses pembelajaran di dalam kelas. Kuisioner berfikir sistemik/ system Kuisioner akan diisi sebelum siklus I dimulai sebagai data awal dan akan diisi lagi pada saat siklus I dan Siklus II. Kuisioner ini diisi oleh subyek, rekan sejawat dan peneliti. Kuisioner ini diisi sebelum subyek melakukan proses pembelajaran di dalam kelas. Kuisioner collaborative learning Rubrik akan diisi sebelum siklus I dimulai sebagai data awal dan akan diisi lagi pada saat siklus I dan Siklus II. Rubrik ini diisi oleh subyek, rekan KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JULI - DESEMBER 2021 | 117 sejawat dan peneliti. Rubrik ini diisi sebelum subyek melakukan proses pembelajaran di dalam kelas. Intrumen supervisi pembelajaran . Kuisioner shared vision Kuisioner diisi oleh peneliti, rekan sejawat dan subyek itu sendiri. Masingmasing skor perhitungan diberi bobot Penskoran akan dijumlahkan dan dibagi tiga. Subyek yang memiliki kriteria baik minimal mendapatkan nilai 70. Adapun perhitungan skor akhir yaitu: Intrumen supervisi akan diisi sebelum siklus I dimulai sebagai data awal dan akan diisi lagi pada saat siklus I dan Siklus II. Intrumen supervisi ini diisi oleh peneliti. Intrumen supervisi Nilai akhir = ini diisi pada saat subyek melakukan proses pembelajaran di dalam kelas. Keterangan : X 100 2 Teknik Analisis Data Sangat baik : 90-100 . Kuisioner personal matery Baik Kuisioner ini digunakan untuk mengukur masing-masing kemampuan subyek. Kuisioner diisi oleh peneliti, rekan sejawat dan subyek itu sendiri. Masingmasing skor perhitungan diberi bobot Penskoran akan dijumlahkan dan dibagi tiga. Subyek yang memiliki kriteria baik minimal mendapatkan nilai 70. Adapun perhitungan skor angket yaitu: Nilai akhir = : 80-89 Cukup baik : 70-79 Kurang : 60-69 . Kuisioner mental models Kuisioner diisi oleh peneliti, rekan sejawat dan subyek itu sendiri. Masingmasing skor perhitungan diberi bobot Penskoran akan dijumlahkan dan dibagi tiga. Adapun perhitungan skor akhir yaitu: X 100 Keterangan : Keterangan : Sangat baik : 90-100 Sangat baik : 90-100 Baik Baik : 80-89 : 80-89 Cukup baik : 70-79 Cukup baik : 70-79 Kurang Kurang : 60-69 : 60-69 118 | PENERAPAN LEARNING ORGANIZATION COLLAB. (Fajar Iswadi. Melitina Tecoalu. Takim Andrion. Kuisioner berfikir sistemik/ System Kuisioner ini digunakan untuk mengukur masing-masing kemampuan subyek kemampuan untuk secara konsisten melihat organisasi secara keseluruhan, bukan sebagai komponen yang terpisahpisah. Kuisioner diisi oleh peneliti, rekan sejawat dan subyek itu sendiri. Masing-masing skor perhitungan diberi bobot satu. Penskoran akan dijumlahkan dan dibagi tiga. Adapun perhitungan skor akhir yaitu: Cukup baik : 70-79 Kurang : 60-69 . Supervisi pembelajaran Supervisi dilakukan untuk membantu guru mengembangkan kemampuan profesionalisme dalam pelaksanaan tugasnya. Aspek yang dinilai ada 24, jumlah skor maksimal dalam setiap aspek 5 dan jumlah skor minimum 1 Supervisi dilakukan oleh peneliti. Adapun perhitungan skor akhir yaitu: Keterangan : Keterangan : Sangat baik : 90-100 Sangat baik : 90-100 Baik : 80-89 Cukup baik : 70-79 Kurang Baik : 80-89 Cukup baik : 70-79 Kurang : 60-79 : 60-69 Rubrik collaborative learning Rubrik ini digunakan untuk menggambarkan kriteria penilian yang akan di capai oleh subyek. Masing-masing skor perhitungan diberi bobot satu. Penskoran akan dijumlahkan dan dibagi tiga. Adapun perhitungan skor akhir yaitu: Keterangan : Sangat baik : 90-100 Baik : 80-89 Indikator Keberhasilan Dalam penelitian ini, peneliti melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan oleh peneliti. Adapun indikator keberhasilan adalah kualitas mengajar guru yang diukur melalui kompetensi utama guru berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Guru Dan Tenaga Kependidikan Nomor 6565/B/Gt/2020 tentang Model Kompetensi Dalam Pengembangan Profesi Guru. KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JULI - DESEMBER 2021 | 119 Hasil Dan Pembahasan Observasi Awal Hasil observasi awal menunjukkan bahwa ketujuh subyek penelitian perlu meningkatkan kualitas dalam melakukan proses pembelajaran. Adapun hasil observasi sebagai berikut: Metode pembelajaran yang dilakukan kurang bervariatif Media pembelajaran yang digunakan juga kurang bervariatif Proses pembelajaran yang dilakukan tidak runtut Pembelajaran tidak kontekstual Apersepsi dan refleksi tidak dilakukan Skor hasil observasi pra siklus terhadap subyek yang sudah diambil dapat diamati melalui Gambar 4. Gambar 2 Hasil Observasi Pra Siklus Terhadap Subyek Berdasarkan temuan dari hasil observasi awal maka peneliti akan menerapkan learning organization dengan pendekatann disiplin yang dikemukan oleh Peter Senge dan menerapkan collaborative learning untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Adapun disiplin yang diambil adalah disiplin personal mastery, shared vision, mental models, dan system thingking Siklus Pertama Peneliti melakukan pengukuran learning organization dan collaborative learning melalui pengerjaan kuisioner. Learning organization menggunakan pendekatan disiplin yang dikemukan oleh Peter Senge yang meliputi disiplin personal matery, shared vision, system thingking dan mental models. Hasil kuisioner disajikan dalam gambar berikut: 120 | PENERAPAN LEARNING ORGANIZATION COLLAB. (Fajar Iswadi. Melitina Tecoalu. Takim Andrion. Gambar 3 Skor Learning Organization dan Collaborative Learning Subyek EW Siklus I Gambar 4 Skor Learning Organization dan Collaborative Learning Subyek YA Siklus I Gambar 5 Skor Learning Organization dan Collaborative Learning Subyek HD Siklus I Gambar 6 Skor Learning Organization dan Collaborative Learning Subyek WW Siklus I KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JULI - DESEMBER 2021 | 121 Gambar 7 Skor Learning Organization dan Collaborative Learning Subyek YW Siklus I Gambar 8 Skor Learning Organization dan Collaborative Learning Subyek FB Siklus I Gambar 9 Skor Learning Organization dan Collaborative Learning Subyek JT Siklus I Hasil pengisian kuisioner leraning organization dan collaborative learning menunjukkan belum semua subyek mendapatkan skor yang ditentukan oleh peneliti. Walaupun keenam subyek belum memenuhi standart nilai yang ditentukan, ada satu subyek yang sudah memenuhi standart nilai yang ditentukan oleh peneliti yaitu subyek JT. Skor kuisioner yang diperoleh oleh subyek JT semuanya sudah melebihi nilai 70. 122 | PENERAPAN LEARNING ORGANIZATION COLLAB. (Fajar Iswadi. Melitina Tecoalu. Takim Andrion. Dari hasil penelitian yang dilakukan pada Siklus I, ketujuh subyek mengalami peningkatan di dalam kompetensinya sebagai guru. Ketujuh subyek berada pada kategori Baik, cukup baik dan kurang. Subyek EW memperoleh skor 70 dan JT memperoleh skor 73. Kedua subyek tersebut termasuk dalam kategori baik dan sudah memenuhi kompetensi yang diharapkan. Subyek YA memperoleh skor 66, subyek HD memperoleh skor 65. Subyek YW memperoleh skor 60 dan subyek FB memperoleh nilai 65. Keempat subyek tersebut termasuk dalam kategori cukup baik namun belum memenuhi kompetensi yang diharapkan. Sedangkan subyek WW memperoleh skor 54, hal ini menunjukkan bahwa subyek WW masih dalam kategori kurang meskipun mengalami peningkatan skor. Perbandingan skor pra siklus dan Siklus I pada kompetensi guru dapat dilihat pada Gambar 4. 16 berikut ini: Gambar 10 Perbandingan Skor Pra Siklus dengan Siklus I Refleksi Di akhir Siklus I, peneliti melihat proses pembelajaran sebelumnya. Namun subyek masih perlu melakukan peningka- bahwa penggunaan learning organization dan collaborative learning yang dilakukan mampu meningkatkan kualitas mengajar masing-masing subyek. Ketujuh subyek mampu merancang proses pembelajaran dengan baik. Ketujuh subyek dapat menggunakan metode pembelajaran yang variatif serta media yang digunakan juga variatif sehingga pembelajaran dapat lebih menyenangkan bagi siswa dibandingkan dengan tan dalam apersepsi saat mengawali proses Selain itu subyek masih perlu meningkatkan dalam mengkaitkan materi yang disampaikan dalam proses pembelajaran dengan realitas kehidupan . Subyek juga masih perlu meningkatkan dalam melakukan refleksi pembelajaran sehingga subyek dapat menentukan tindak lanjut yang akan dilakukan pada pembelajaran yang akan dilakukan berikutnya. KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JULI - DESEMBER 2021 | 123 Siklus kedua Pada siklus II, peneliti melakukan pengukuran learning organization dan collaborative learning setelah subyek mendapatkan tambahan materi melalui diskusi personal dan kelompok serta pelatihan. Pengukuran meliputi disiplin personal matery, shared vision, system thingking, mental models dan collaborative learning. Hasil perbandingan kuisioner siklus I dan siklus II disajikan dalam gambar berikut: Gambar 11 Perbandingan Skor learning organization dan collaborative learning Subyek EW Siklus I dan Siklus II Gambar 12 Perbandingan Skor learning organization dan collaborative learning Subyek YA Siklus I dan Siklus II Gambar 13 Perbandingan Skor learning organization dan collaborative learning Subyek HD Siklus I dan Siklus II Gambar 14 Perbandingan Skor learning organization dan collaborative learning Subyek WW Siklus I dan Siklus II 124 | PENERAPAN LEARNING ORGANIZATION COLLAB. (Fajar Iswadi. Melitina Tecoalu. Takim Andrion. Gambar 15 Perbandingan Skor learning organization dan collaborative learning Subyek YW Siklus I dan Siklus II Gambar 16 Perbandingan Skor learning organization dan collaborative learning Subyek FB Siklus I dan Siklus II Gambar 17 Perbandingan Skor learning organization dan collaborative learning Subyek JT Siklus I dan Siklus II Hasil pengisian kuisioner leraning organization dan collaborative learning menunjukkan bahwa semua subyek mengalami peningkatan secara signifikan. Walaupun masih ada satu subyek yang belum memenuhi standart nilai yang ditentukan. Subyek yang belum emmenuhi nilai standart yang ditentukan adalah subyek YW. Hasil penelitian yang dilakukan pada Siklus II, ketujuh subyek mengalami peningkatan di dalam kualitas mengajarnya sebagai guru. Ketujuh subyek berada pada kategori sangat baik dan baik. Subyek YA memperoleh skor 88, subyek YA termasuk dalam kategori sangat baik. Subyek EW memperoleh skor 83, subyek HD memperoleh skor 78, subyek WW memperoleh skor 77, subyek FB memperoleh skor 80 dan subyek JT memperoleh skor 83. Kelima subyek termasuk dalam kategori baik. Subyek YW memperoleh skor 63, subyek YW termasuk dalam kategori baik namun belum memenuhi KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JULI - DESEMBER 2021 | 125 standart kompetensi yang ditentukan. Berdasarkan hasil seluruh penelitian dari pra siklus, siklus I dan siklus II dari ketujuh subyek, enam subyek sudah memenuhi kompetensi yang diharapkan dan satu subyek belum memenuhi kompetensi yang diharapakan. Perbandingan skor pra siklus, siklus I dan Siklus II pada kompetensi guru dapat dilihat pada Gambar 4. 21 berikut ini: Gambar 18 Perbandingan Skor Pra Siklus. Siklus I dan Siklus II Pembahasan Interpretasi Hasil Analisis Data Siklus Pertama Penerapan learning organization dan collaborative learning dengan subtek sudah dilaksankan pada siklus I dan menunjukkan hasil yang baik. dari hasil pra siklus peneliti melakukan beberapa tindakan untuk menunjang penerapan learning organization dan collaborative learning, misalnya memberikan materi yang berkaitan dengan learning organization dan collaborative learning, melakukan diskusi baik secara personal dan Diskusi dilakukan selain membangun diri pada subyek juga digunakan untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan subyek dalam mengajar. Keterampilan yang dibidik misalnya membuat RPP dan melakukan proses pembelajaran. Dengan tindakan yang dilakukan peneliti, kemampuan subyek mengalami peningkatan secara perlahan dan bertahap pada siklus I. Interpretasi Hasil Analisis Data Siklus Kedua Siklus II dilakukan dengan mengadakan diskusi personal, kelompok dan pelatihan. Ketujuh subyek mengalami peningkatan dan sudah memenuhi standart yang ditentukan. Walaupun satu subyek belum memenuhi nilai standart yang ditentukan. Maka peneliti tetap melakukan pembinaan dan coaching secara personal agar kedepan memiliki kualitas yang baik. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, dapat diambil kesimpulan Penerapakan learning organization dan collaborative learning dapat meningkatkan kualitas pembelajaran guru di SD Krista Gracia Klaten. Dengan penerapan learning organization dan collaborative learning, kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh 126 | PENERAPAN LEARNING ORGANIZATION COLLAB. (Fajar Iswadi. Melitina Tecoalu. Takim Andrion. subyek mengalami peningkatan mulai dari merancang proses pembelajaran sampai pada implementasinya di dalam Penerapan dan collaborative learning, mampu meningkatkan alur proses pembelajaran yang dilakukan subyek runtut, semua langkah yang direncanakan dilakukan dengan baik, mulai dari apersepsi, mengkaitkan materi dengan realitas kehidupan, pemantauan, dan refleksi dilakukan dengan baik oleh subyek saat melakukan pembelajaran. Dengan penerapan learning organization dan collaborative learning, metode dan media yang digunakan dalam proses pembelajaran semakin beragam sehingga pembelajaran di dalam kelas sangat menyenangkan. Melalui penerapan learning organization dan collaborative learning, subyek mengalami peningkatan diri secara personal, memiliki pandangan yang baik terhadap organisasi, memiliki visi yang kuat,memiliki konsep dan model berfikir yang baik serta semakin memiliki keberanian dan kemampuan dalam melakukan diskusi dalam Saran Melalui penelitian ini, peneliti menyarankan kepada pihak sekolah untuk dapat terus meningkatkan kualitas pembelajaran guru di dalam kelas. Peningkatan kualitas pembelajaran dapat dilakukan melalui berbagai pelatihan, workshop, studi banding antar guru atau membentuk kelompok-kelompok kecil. Jika kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru baik, maka siswa tidak akan mengalami kebosanan di dalam kelas. Selain itu jika kualitas pembelajaran semakin baik, maka prestasi sekolah akan semakin meningkat dampak selanjutnya sekolah akan diminati oleh masyarakat. Untuk guru disarankan untuk semakin lebih meningkatkan lagi kualitas pembelajaran yang dilakukan didalam kelas, bukan hanya ketika ada supervis pembelajaran dilakukan dengan baik namun sepanjang guru melakukan proses pembelajaran harus dilakukan dengan Guru juga harus membekali diri dalam bidang teknologi sebagai pendukung melaksanakan proses pembelajaran dan selalu memabngun kreativitas dalam melakukan proses pembelajaran. Dengan adanya penerapan learning learning, peneliti berharap kepada guru-guru yang telah menjadi subyek penelitian dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas masing-masing. KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JULI - DESEMBER 2021 | 127 DAFTAR PUSTAKA