Volume 1 Issue 1 . Pages 111-123 Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran ISSN: 2721-1169 (Onlin. , 2721-1150 (Prin. IMPLEMENTASI BUDAYA MODERASI BERAGAMA MADRASAH DALAM MEMBANGUN SIKAP Ridwan Yulianto Madrasah Ibtidaiyah Negeri . Magetan email: ridwan. wakasis@gmail. Abstract: Diversity in religion is a necessity, it cannot be eliminated. Extremism, radicalism, hate speech, to the breaking of relations between religious communities, are a major problem for the nation that must obtain intelligent solutions. This research is included in library research, therefore the steps to be taken are exploration of a number of data from various literatures, both primary data and secondary data. The method of data collection is done by collecting books, articles, journals, scientific opinions in which reveal and examine the madrasas and wasatiyahThe purpose of strengthening religious moderation-based religious education in madrasa are some values which are the foundation of behavior, tradition, and doing daily habits that are practiced in madrasas. Values and beliefs will not be present in a short time, it needs a long and continuous process. Abstrak: Keragaman dalam beragama itu sebuah keniscayaan, tidak mungkin Ekstremisme, radikalisme, ujaran kebencian . ate speec. , hingga retaknya hubungan antar umat beragama, merupakan problem besar bangsa yang harus mendapatkan solusi cerdas. Penelitian ini termasuk library research, karena itu langkah-langkah yang akan dilakukan adalah eksplorasi terhadap sejumlah data dari berbagai literatur, baik data primer, maupun data sekunder. Metode pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan buku-buku, artikel, jurnal, opini ilmiah yang didalamnya mengungkap dan mengkaji wasatiyah dan budaya madrasah. Tujuan dari penguatan pendidikan moderasi beragama berbasis budaya madrasah adalah beberapa nilai yang menjadi pondasi berperilaku, bertradisi, dan melakukan kebiasaan keseharian yang di praktekkan di madrasah. Nilai-nilai dan keyakinan tidak akan hadir dalam waktu singkat, maka perlu proses panjang dan Keywords: Implementasi, moderasi agama, budaya madrasah Copyright . 2020 Ridwan Yulianto Received 10 Nopember 2019. Accepted 5 Februari 2020. Published 1 Maret 2020 Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 111 Implementasi Budaya Madrasah dalam Membangun Sikap Moderasi Beragama PENDAHULUAN Kehidupan beragama di Indonesia akhir-akhir ini mendapatkan sorotan dari berbagai pihak, baik dari dalam negeri sendiri, maupun dari luar. Hal ini tak lepas dari terus bermunculannya konflik sosial berlatarbelakang agama di tengah masyarakat. Mulai dari ekstremisme, radikalisme, ujaran kebencian . ate speec. , hingga retaknya hubungan antar umat beragama, merupakan problem yang harus mendapatkan solusi cerdas. Menjamurnya fenomena-fenomena ini mau tidak mau semakin mempertajam sentimen keagamaan di Indonesia. Sebagai akibatnya, kerukunan dan rasa kekeluargaan sebagai satu bangsa menjadi renggang dan terkotak-kotak berdasarkan agama dan kepercayaan masing-masing. Konflik-konflik sosial berlatarbelakang agama sebagaimana disinggung di atas, jika ditelisik sebenarnya berakar dari kegagalan dalam mendialogkan pemahaman agama dengan realitas sosial di Indonesia yang beragam, plural dan multikultural. Hal ini terutama dialami oleh kelompok-kelompok garis keras yang tidak mau mentolelir dan sulit berkompromi dengan pemahaman agama lain yang berbeda. Bagi mereka, beragama yang benar adalah beragama yang seperti mereka lakukan. Sikap dan pemahaman ini didukung dengan realita bahwa Islam menjadi agama mayoritas di Indonesia. Moderasi Islam . akhir-akhir ini dipertegas sebagai arus utama keislaman di Indonesia. Ide pengarusutamaan ini disamping sebagai solusi untuk menjawab berbagai problematika keagamaan dan peradaban global, juga merupakan waktu yang tepat generasi moderat harus mengambil langkah yang lebih agresif. Jika kelompok radikal, ekstrimis, dan puritan berbicara lantang disertai tindakan kekerasan, maka muslim moderat harus berbicara lebih lantang dengan disertai tindakan damai. Pendidikan agama islam adalah usaha sadar menyiapkan siswa untuk mengimani, meyakini, dan mengamalkan ajaran agama islam dengan sepenuh hati, melalui kegiatan bimbingan dan pengajaran dengan tetap memperhatikan tuntunan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat demi mewujudkan persatuan nasional. Penataan kembali pendidikan ini harus dilakukan dengan sungguh sungguh menghadirkan pendidikan islam yang moderat dengan konsep rahmatallilalamin dengan pendekatan-pendekatan uswatun hasanah. Untuk itu makaperlu dimelakukan moderasi Khlaed Abou El-Fadl. Selamatkan Islam dari Muslim Puritan, terj. Helmi Mustofa (Jakarta: Serambi, 2. , 343 Muhaimin Ali. Guru dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Agensindo: 2. , 75-76. 112 Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 Implementasi Budaya Madrasah dalam Membangun Sikap Moderasi Beragama dalam pendidikankan Islam dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Islam-itu sendiri. Budaya madrasah adalah beberapa nilai yang menjadi pondasi berperilaku, bertradisi, dan melakukan kebiasaan keseharian yang di praktekkan di madrasah. Nilai-nilai dan keyakinan tidak akan hadir dalam waktu singkat. Mengingat pentingnya sistem nilai yang diinginkan untuk perbaikan madrasah, maka langkah-langkah kegiatan yang jelas perlu disusun untuk membentuk budaya madrasah. budaya madrasah dalam membangun sikap moderasi KAJIAN TEORI Moderasi Islam Moderasi Islam berasal dari dua kata, yaitu Moderasi dan Islam. Kata Moderasi sendiri dalam KBBI Kemdikbud mempunyai arti pengurangan kekerasan. 3 Moderasi Islam berasal dari dua kata, yaitu Moderasi dan Islam. Kemudian kata Islam sendiri berasal dari bahasa arab aslama- yuslimu-islaman,yang memiliki arti semantic tunduk dan patuh. Sedangkan moderasi Islam dalam bahasa arab disebut dengan al-Wasathiyyah al- Islamiyyah. Al-Qaradawi menyebut beberapa kosakata yang serupa makna dengannya termasuk Tawazun. IAotidal. TaAoadul dan Istiqamah. Sementara dalam bahasa inggris sebagai Islamic Moderation. Moderasi Islam adalah sebuah pandangan atau sikap yang selalu berusaha mengambil posisi tengah dari dua sikap yang berseberangan dan berlebihan sehingga salah satu dari kedua sikap yang dimaksud tidak mendominasi dalam pikiran dan sikap seseorang. Indikator moderasi beragama yang akan digunakan adalah empat hal,yaitu:. anti-kekerasan. akomodatif terhadap kebudayaan lokal. Keempat indikator ini dapat digunakan untuk mengenali seberapa kuat moderasi beragama yang dipraktikkan oleh seseorang di Indonesia, dan seberapa besar kerentanan yang dimiliki. Kerentanan tersebut perlu dikenali supaya kita bisa menemukenali dan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk melakukan penguatan moderasi beragama. Moderasi beragama menjadi muatan nilai dan praktikyang paling sesuai untuk dipraktikkan agar terwujud kemaslahatan bumi Indonesia. Sikap mental moderat, adil, danberimbangmenjadikunciuntukmengelolakeragaman bangsa Indonesia. Dalam berkhidmat https://kbbi. id/entri/moderasi Abd. Rauf Muhammad Amin. AuPrinsip dan Fenomena Moderasi Islam dalam Tradisi Hukum IslamAy. Jurnal Al-Qalam ,Volume20, (Desember2. , 24. Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 113 Implementasi Budaya Madrasah dalam Membangun Sikap Moderasi Beragama membangun bangsa dan negara, setiap warga Indonesia memiliki hak dan kewajiban yang seimbang untuk mengembangkan kehidupan bersama yang tenteram dan menentramkan. Bila ini dapat diwujudkan, setiap warga negara niscaya dapat menjadi manusia Indonesia seutuhnya sekaligus menjadi manusia yang menjalankan agama seutuhnya. Nilai-Nilai Moderasi Islam Untuk mewujudkan implementasi budaya madrasah dalam membangun moderasi Islam, maka ada beberapa nilai-nilai Islam yang perlu dipahami dan laksanakan, diantaranya: Tawasuth, adalah sikap tengah-tengah atau sedang diantara dua sikap, tidak terlalu jauh kekanan . dan terlalu jauhkekiri . 7 Sikap tawasuth yang yang berintikan kepada prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan adil danlurus di tengahtengah kehidupan bersama bertindak lurus dan selalu bersifat membangun serta menghindari segala bentuk pendekatan ekstrimisme. Penerapan sikap tawasuth dengan berbagai dimensinya bukan berarti bersifat serbaboleh . dengan mencampuradukan semua unsur . Juga bukan mengucilkan diri dan-menolak pertemuan dengan unsur lain. Karakter tawasuth dalam Islam adalah titik tengah diantara dua ujung dan hal itu merupakan kebaikan yang sejak semula telah diletakkan Allah Swt. Prinsip dan karakter ini yang sudah-menjadi karakter islam ini harus diterapkan dalam segala bidang, supaya agama islam dan sikap serta tingkah laku umat islam selalu menjadi saksi dan pengukur kebenaran bagi semua sikap dan tingkah laku manusia pada umumnya. IAotidal. Pengertian dari kalimat IAotidal secara bahasa artinya lurus dan tegas, maksudnya yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya dan melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban secara proporsional. Islam mengedepankan keadilan bagi semua pihak. Banyak ayat Al-QurAoan yang menunjukkan ajaran luhur ini. Tanpa mengusung keadilan,nilainilai agama berasa kering tiada makna, karena keadilan inilah ajaran agama yanglangsung menyentuh hajat hidup orang banyak. Tanpanya, kemakmuran dan kesejahteraan hanya akan menjadi angan. 9 Dalam beragama IAotidal sangat dibutuhkan karena tanpa IAotidal nanti akan memunculkan pemahaman islam yang terlalu liberal atau radikal. Peran pendidik dalam moderasi pendidikan Islam sangat dibutuhkan untuk mewujudkan pemahaman yang lurus dan Balai Litbang Kemenag RI. Moderasi Beragama, , (Jakarta. Balai Litbang Kemenag RI 2. Ibid, 103 Abdul Mannan. Ahlussunnah Wal Jamaah Akidah UmatIslamIndonesia, (Kediri: PP. Al Falah Ploso Kediri, 2. ,h. Achmad Siddiq. Khitan Nahdliyah. Cet. i, (Surabaya: Kalista-LTNU, 2. , h. Nurul H. Maarif. Islam Mengasihi Bukan Membenci (Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2. , 143 114 Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 Implementasi Budaya Madrasah dalam Membangun Sikap Moderasi Beragama tegas dalam beragama. Secara etimologi, kataAutasAmuuAy berasal dari bahasaArab AA U yang artinya berlapang dada, toleransi. 10 TasAmuu secara etimologis adalah mentoleransi atau menerima perkara secara Secara terminologis berarti menoleransi atau menerima perbedaan dengan ringan TasAmuu merupakan pendirian atau sikap yang termanifestasikan pada kesediaan untuk menerima berbagai pandangan dan pendirian yang beranekaragam, meskipun tidak sependapat dengannya. Budaya Madrasah Madrasah sebagai sistem memiliki tiga aspek pokok yang sangat berkaitan erat dengan mutu madrasah, yakni: proses belajar mengajar, kepemimpinan dan manajemen sekolah, serta budaya madrasah. Budaya merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Budaya dapat dilihat sebagai perilaku, nilai-nilai, sikap hidup dan cara hidup untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan, dan sekaligus untuk memandang persoalan dan memecahkannya. Oleh karena itu suatu budaya secara alami akan diwariskan oleh satu generasi kegenerasi berikutnya. Budaya sekolah/Madrasah merupakan sesuatu yang dibangun dari hasil pertemuan antara nilai-nilai . yang dianut oleh guru-guru dan para karyawan yang ada dalam sekolah /madrasah tersebut. Nilai-nilai tersebut dibangun oleh pikiran-pikiran manusia yang ada dalam sekolah/madrasah. Pertemuan pikiran-pikiran manusia tersebut kemudian menghasilkan apa yang disebut dengan Aupikiran organisasiAy . Dari pikiran organisasi itulah kemudian muncul dalam bentuk nilai-nilai tersebut akan menjadi bahan utama pembentuk budaya sekolah/madrasah. Dari budaya tersebut kemudian muncul dalam berbagai simbol dan tindakan yang kasat indra yang dapat diamati dan dirasakan dalam kehidupan sekolah/madrasahsehari-hari. Nilai-nilai dan keyakinan tidak akan hadir dalam waktu singkat. Mengingat pentingnya sistem nilai yang diinginkan untuk perbaikan madrasah, maka langkah-langkah kegiatan yang jelas perlu disusun untuk membentuk budaya madrasah. Segenap warga madrasah perlu memiliki wawasan bahwa ada unsur kultur yang bersifat positif, negatif. Dalam kaitannya dengan visi dan misi madrasah mengangkat persoalan mutu, moral. Kasir Ibrahim. Kamus Arab Indonesia Indonesia Arab, (Surabaya:Apollo Lestari, t. , 122 Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 115 Implementasi Budaya Madrasah dalam Membangun Sikap Moderasi Beragama dan multikultural. madrasah harus mengenali aspek-aspek kultural yang cocok dan menguntungkan, aspek-aspek yang cenderung melemahkan dan merugikan, serta aspek-aspek lain yang cenderung netral dan tak terkait dengan visi dan misimadrasah. Budaya menurut Deal dan Peterson dalam Supardi adalah kumpulan dari nilai-nilai yang menjadi landasan untuk berprilaku, bertradisi, pembiasaan sehari-hari dan simbol-simbol yang secara bersama-sama dilakukan oleh elemen yang berpengaruh dalam membentuk budaya dilingkungannya. 11 Budaya madrasah adalah suatu karakter dan ciri khas yang telah terbentuk dan telah menjadi citra dari madrasah tersebut. Budaya adalah kultur yang telah dibentuk secara bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang meliputi pola berfikir, bertindak, dan nilai-nilai yang tercermin dalam bentuk fisik maupun abstrak. 12 Budaya yang telah terbentuk dapat dilihat sebagai pembiasaan tingkah laku yang dilakukan dengan menyesuaikan kondisi lingkungan sekitar. Oleh karena itu, budaya akan secara alamiah akan diwariskan secara turun temurun dari satu genarasi ke genarasiselanjutnya. Muhaimin menjelaskan, bahwa budaya madrasah dapat terbentuk dengan mebentuk sebuah values yang sama-sama dilakukan oleh guru, pegawai, serta peserta didik di madrasah. Nilai-nilai yang dibentuk adalah hasil dari buah pikir manusia-manusia yang ada di dalam 13 Dari akulturasi budaya yang dilakukan itu memunculkan berbagai simbol dan beberapa tindakan yang akhirnya menjadi sebuah pembiasaan yang dapat diamati dan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari di madrasah. pikiran- pikiran individu di dalam madrasah lah yang membentuk suatu budaya yang berlaku di madrasah, pengaruh pikiran individu terbesar dalam membentuk suatu budaya madrasah adalah berasal dari pikiran individu seorang kepala madrasah. 14 Dalam membentuk budaya madrasah, diperlukan prioritas nilai- nilai utama yang akan menjadi pilar dari budaya madrasah. Prioritas nilai- nilai utama tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi dari setiap madrasah, sehingga budaya madrasah menjadi penting, karena budaya madrasah merupakan salah satu media dalam meningkatkan prestasi peserta didik dalam proses pembelajaran yang efektif di madrasah15 Supardi. Sekolah Efektif : Konsep Dasar Dan Praktiknya, (Jakarta. Raja Grafindo Persada. Eva Maryamah. AuPengembangan Budaya SekolahAy. Jurnal Tarbawi vol 02 no 02 juli 2016. Muhaimin. Dkk. Manajemen Pendidikan. (Jakarta : Kencana Prenada Media Group. , 48. Muhaimin. Dkk. Manajemen Pendidikan, 52. George A. Marcoulides. AuStudent Perceptions Of School Culture And Achievement: Testing The Invariance Of A ModelAy. International Journal of Educational Management Vol. 19 No. 2, . 116 Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 Implementasi Budaya Madrasah dalam Membangun Sikap Moderasi Beragama HASIL DAN PEMBAHASAN Keharusan Menggunakan Perspektif Moderasi Beragama Ide dasar moderasi adalah untuk mencari persamaan dan bukan mempertajam Keragaman dalam beragama itu sebuah keniscayaan, tidak mungkin dihilangkan. Menjadi moderat bukan berarti menjadi lemah dalam beragama. Jika dielaborasi lebih lanjut, ada setidaknya tiga alasan utama mengapa kita perlu moderasi beragama: Pertama, salah satu esensi kehadiran agama adalah untuk menjaga martabat manusia sebagai makhluk mulia ciptaanTuhan, termasuk menjaga untuk tidak menghilangkan nyawanya. Itu mengapa setiap agama selalu membawa misi damai dan keselamatan. Untuk mencapai itu, agama selalu menghadirkan ajaran tentang keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan. agama juga mengajarkan bahwa menjaga nyawa manusia harus menjadi prioritas. menghilangkan satu nyawa sama artinya dengan menghilangkan nyawa keseluruhan umat manusia. Moderasi beragama menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Orang yang ekstrem tidak jarang terjebak dalam praktik beragama atas nama Tuhan hanya untuk membela keagungan-Nya saja seraya mengenyampingkan aspek kemanusiaan. Orang beragama dengan cara ini rela merendahkan sesama manusia Auatas nama TuhanAy, pada hal menjaga kemanusiaan itu sendiri adalah bagian dari inti ajaran agama. Kedua, ribuan tahun setelah agama-agama lahir, manusia semakin bertambah dan beragam, bersuku-suku, ber- bangsa-bangsa, beraneka warna kulit, tersebar diberbagai negeri dan wilayah. Seiring dengan perkembangan dan persebaran umat manusia, agama juga turut berkembang dan tersebar. Karya-karya ulama terdahulu yang ditulisdalam bahasa Arab tidak lagi memadai untuk mewadahi seluruh kompleksitas persoalankemanusiaan. Ketiga, khusus dalam konteks Indonesia, moderasi beragama diperlukan sebagai strategi kebudayaan kita merawat keindonesiaan. Sebagai bangsa yang sangat heterogen, sejak awal para pendiri bangsa sudah berhasil mewariskan satu bentuk kesepakatan dalam berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang telah nyata berhasil menyatukan semua kelompok agama, etnis, bahasa, dan budaya. Indonesia disepakati bukan negara agama, tapi juga tidak memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari warganya. Nilai-nilai agama dijaga, dipadukan dengan nilai-nilai kearifan dan adat-istiadat lokal, beberapa hukum agama dilembagakan oleh negara ,ritual agama dan budaya berjalin Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 117 Implementasi Budaya Madrasah dalam Membangun Sikap Moderasi Beragama berkelindan dengan rukun dan damai16 Pendidikan bukanlah sesuatu yang sederhana. Banyak aspek yang turut berpengaruh terhadap keberhasilan progam pendidikan. Tidak hanya aspek yang ada di madrasah saja, melainkan juga lingkungan yang ada di sekitar madrasah. Semua keadaan, situasi, sarana, fasilitas. SDM, dan semua yang ada di madrasah turut memberikan kontribusi bagi kelancaran dan keberhasilan program pendidikan . Pembahasan selanjutnya mengacu pada rumusan masalah yang telah dipaparkan. Secara normatif, pada prinsipnya tidak ada satu pun ajaran agama yang mendorong dan menganjurkan pemeluknya untuk melakukan tindak kekerasan dan kerusuhan terhadap pemeluk agama lain di luar kelompoknya. Sejumlah diskursus menunjukkan bahwa beberapa persoalan kebangsaan tersebut, lahir karena lemahnya kesadaran dan penghargaan atas perbedaan yang ada dan sikap keberagamaan yang Dampak dari berbagai kasus tersebut sangat dirasakan oleh berbagai pihak, karena itu, untuk mengatasi persoalan ini, atau paling tidak untuk mengantisipasi terjadinya kasus serupa, maka diperlukan usaha yang sungguh-sungguh dan sadar dari berbagai pihak untuk mencermati, mengevaluasi dan merekonstruksi setiap upaya yang telah dilakukan di masa lalu dalam hal pola pengkajian agama Islam, baik yang berlangsung di lembaga pendidikan formal . maupun masyarakat, mengingat selama ini Islam justru menjadi elemen keIndonesiaan, yangkuat. Tidak dapat dipungkiri, bahwa munculnya sikap keberagamaan yang menyimpang semacam ini kemudian melahirkan sikap teror, untuk sebagaian adalah cermin ketidakberdayaan sistim pendidikan di negeri ini, khususnya pendidikan agama. Ketidakberdayaan sistim pendidikan agama di Indonseia sebagai bagian dari sistim pendidikan nasional kita secara keseluruhan, tampaknya disebabkan oleh pendidikan agama selama ini lebih menekankan pada proses transformasi ilmu agama kepada anak didik, bukan pada proses transformasi nilai-nilai luhur keagamaan kepada anak didik untuk membimbingnya agarmenjadi manusia yang berkepribadian kuat dan beakhlak mulia sehingga tidak ada yang salah pada pola dan keyakinankeberagamaan. Tujuan dari moderasi beragama berbasis budaya madrasah adalah untuk menciptakan kultur lingkungan yang mendukung dalam proses penekanan pada kegiatan pembiasaan yang mampu membentuk karakter peserta didik di madrasah. Hal ini tentunya Balai Litbang Kemenag RI. Moderasi Beragama, (Jakarta. Litbang Kemenag, 2. 118 Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 Implementasi Budaya Madrasah dalam Membangun Sikap Moderasi Beragama haruslah melibatkan seluruh komponen warga madrasah dalam membentuk suatu pembiasaan, mulai dari guru, kepala madrasah, pegawai, komite, dan orangtua harus sama-sama bersinergi dalam membentuk suatu kultur yang baik dalam membentuk budaya madrasah yang baik dan efektif dalam penguatan karakter peserta didik di madrasah. Fokus dari penguatan pendidikan karakter berbasis budaya madrasah adalah membentuk pembiasaan-pembiasan di lingkungan madrasah yang merepresentasikan nilainilai utama yang dibangun dalamekosistem madrasah. kegiatan pembiasaan ini terintegrasi dengan seluruh kegiatan yang ada di madrasah, mulai dari proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Hal ini mendesak untuk dilakukan karena melalui proses pendidikan terjadi sosialisasi dan internalisasi nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketika sebuah generasi mentransmisikan nilai dengan cara yang keliru akan mempunyai dampak panjang . terhadap pola perilaku generasiberikutnya. IMPLEMENTASI BUDAYA MADRASAH Tujuan dari penguatan pendidikan moderasi beragama berbasis budaya madrasah adalah untuk menciptakan kultur lingkungan yang mendukung dalam proses penekanan pada kegiatan pembiasaan yang mampu membentuk karakter peserta didik di madrasah. Hal ini tentunya haruslah melibatkan seluruh komponen warga madrasah dalam membentuk suatu pembiasaan, mulai dari guru, kepala madrasah, pegawai, komite, dan orangtua harus samasama bersinergi dalam membentuk suatu kultur yang baik dalam membentuk budaya madrasah yang baik dan efektif dalam penguatan karakter peserta didik di madrasah. Lingkungan dan budaya madrasah mempengaruhi perkembangan tingkah laku siswa dalam kesehariannya. Budaya madrasah merupakan salah satu faktor pendukung dalam penguatan pendidikan karakter peserta didik di madrasah. Dengan adanya lingkungan dan budaya yang mendukung penguatan pendidikan karakter, diharapkan pembiasaan-pembiasaan yang secara sengaja akan terjadi di lingkungan madrasah oleh peserta didik, seganap guru turut memberikan contoh teladan yang baik dalam kesehariannya di madrasah. membentuk budaya madrasah perlu dukungan dan keikutsertaan seluruh warga dan elemen yang ada di madrasah. Fokus dari penguatan pendidikan moderasi beragama berbasis budaya madrasah adalah membentuk pembiasaan-pembiasan di lingkungan madrasah yang merepresentasikan nilai-nilai utama yang dibangun dalamekosistem. Pendidikan moderasi beragama melalui Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 119 Implementasi Budaya Madrasah dalam Membangun Sikap Moderasi Beragama Budaya Madrasah dapat dilakukan dalam berbagai bentuk. Beberapa model budaya madrasah yang dapat diterapkan dengan memaksimalkan aspek-aspek yang digunakan dalam penerapan kehidupan sehari-hari di madrasah, yaitu 18: Proses pembelajaran di dalamkelas Kegiatan belajar mengajar yang dimaksud disini adalah Pengembangan nilai-nilai yang sudah dirumuskan madrasah diintegrasikan dalam setiap mata pelajaran. Nilai-nilai tersebut dicantumkan dalam silabus dan RPP dan selanjutnya akan dikembangkan. Pembiasaan Nilai Positif dalam Kehidupan Sehari-Hari di Madrasah Pembiasaan nilai positif dapat dilakukan semenjak siswa-siswi memasuki lingkungan madrasah, seperti dengan mencium tangan Bapak Ibu guru . Membaca doAoa ketika sebelum memulai pelajaran dan mengakhiri pelajaran. Pembiasaan disiplin dengan tidak datang terlambat, menghindarkan diri dari perbuatan tercela dan mematuhi semua peraturan madrasah. Pembiasaan bersih diri, kelas dan madrasah. Pembiasaan kreatif dengan menghasilkan karya-karya baru baik gambar, tulisan motivasi, puisi ataupun pantun yang di tempel di mading kelas sehingga bisa dilihat oleh semua siswa. Dalam rentang waktu yang panjang lingkungan tersebut bisa membentuk suatu pola budayamadrasah. Diantara nilai tersebut adalah: . Nilai keberagamaan berupa Keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, . Keramahan dan Sopan Santun, . Toleransi, . Kesetaraan, . Keadilan, . Humanis, . Tolong menolong, . Kebangsaan, . Kebersamaan, . Kekeluargaan, . Kesalehan sosial, dan . Penghargaan terhadap prestasi. Implementasi nilai keimanan diwujudkan dalam bentuk budaya relegius yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari melalui program ritual keagamaan wajib dan reguler. Diantaranya. Pembiasaan shalat tepat waktu dan pembiasaan shalat dhuha dan dhuhur berjamaah, . Gemar membaca al-quran, yang dikembangkan melalui kegiatan hafalan surat-surat pendek, membaca surat pendek dengan tartil sebelum shalat jamaah dhuha dan dhuhur, kelas tahfidz, dan tradisi khotmil qurAoan, serta pembiasaan tiada hari tanpa membaca al-qurAoan. Pembiasaan amal ibadah sunnah . uasa sunnah di hari senin dan kami. , sholat tahajud, berdzikir dan mendoakan orang tua. Selain ketiga budaya relegius di atas, nilai keimanan ini juga tercermin KEMENDIKBUD RI. Konsep dan Pedoman . , 15. Moh Haidar Abdillah. AuPengembangan Budaya Sekolah di Madrasah IbtidaiyahAy. Jurnal Halaqa Juni Abdullah Alam and Mushtaq Ahmad. AuThe Role Of TeachersAo Emotional Intelligence In Enhancing Student AchievementAy. Journal Of Asia Business Studies Vol. 12 No. 120 Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 Implementasi Budaya Madrasah dalam Membangun Sikap Moderasi Beragama dari kebersihan dan keindahan lingkungan fisik-material di Madrasah. Konsep keadilan menurut Yulia Riswanti20 berarti pengakuan dan perlakuan yang sama antara hak dan kewajiban. Dengan kata lain keadilan dapat juga diartikan sebagai keseimbangan atau keharmonisan antara menuntut hak, dan menjalankan kewajiban. Indikator tumbuh dan berkembangnya nilai kesetaraan dan keadilan di dibuktikan dengan adanya fasilitas pembelajaran yang memadai, sarana, prasarana, serta wadah pengembangan diri melalui kegiatan ekstrakurikuler pilihan yang diberikansama kepada peserta didik tanpa adanya diskriminasi. Semua diperlakukan setara dan seimbang. Implementasi Nilai Kebangsaan. Indonesia adalah negara yang memiliki keragaman budaya cukup tinggi. Dalam konteks ini membutuhkan adanya kekuatan yang menyatukan . ntegrating forc. seluruh keragaman/pluraritas tersebut. Oleh karenanya, pendidikan mempunyai peran penting untuk membangun keutuhan bangsa . Sebab itulah penanaman nilai kebangsaan merupakah hal yang mutlak. UU Sistem Pendidikan Nasional RI No. 20 tahun 2003 pasal 3, menjelaskan bahwa tujuan pendidikan Indonesia mengarahkan warganya kepada kehidupan yang beragam. Gagasan integrasi . ilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah ai. merupakan sebuah kebutuhan mendesak yang harus dijalankan. Pentingnya integrasi pendidikan nilai tersebut menjadi satu kerangka normatif dalam merumuskan tujuan Islam sebagaimana diungkapkan Asraf dalam Muhaimin, bahwa tujuan pendidikan Islam membekali anak didik dengan berbagai kemampuan pengetahuan dan kebajikan, baik pengetahuan praktis, kesejahteraan, lingkungan sosial, dan pembangunan Nilai kekeluargaan merupakan salah satu nilai yang menjadi basis hubungan warga dalam kondisi yang plural. Melalui dimensi hubungan sosial ini setiap individu dapat saling melengkapi dan menguatkan terhadap yang lain. Dengan kekeluargaan timbul semangat kerjasama, rasa menghormati kepada yang lebih tua, dan menyayangi yang lebih muda. Islam memberi perhatian terhadap nilai kekeluargaan sebagaimana dalam bentuk perhatian, kepedulian, hubungan yang akrab, dan merasa seperjuangan. Muhaimin menyatakan dengan kekeluargaan maka terciptalah ukhuwah fi ubudiyah, ukhuwah fi insaniyah, ukhuwah fi wathaniyah dan ukhuwah fi din al-Islam. Yulia Riswanti,. Urgensi Pendidikan Islam dalam Membangun Multikulturalisme. Jurnal Pendidikan Islam. Vol. No. 2, 2008,31. Muhaimin. Nuansa Baru Pendidikan Islam. (Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2. , 136-138. Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 121 Implementasi Budaya Madrasah dalam Membangun Sikap Moderasi Beragama KesalehanSosial, sebagai mahluk sosial manusia tidak dapat jauh dari manusia lainnya karena tidak dapat lepas dari hubungan yang satu dengan hubungan yang lainnya. Nilai kesalehan sosial tercermin dari kepedulian warga madrasah terhadap lingkungan sekitarnya, yakni peduli sosial. Implementasi nilai kesalehan sosial, diwujudkan melalui sikap Yakni peduli lingkungan dan sesama yang diwujudkan dalam bentuk kegiatan bhakti sosial, beramal, menjaga kebersihan menjaga lingkungan dan sebagainya. Melalui sikap tersebut, maka relevan dengan visi misi pendidikan Islam, yakni membentuk kesalehan pribadi sekaligus kesalehan sosial. Sehingga pendidikan agama tidak menimbulkan sikap memperlemah kerukunan hidup persatuan dan PENUTUP Berdasarkan hasil paparan di atas, maka implementasi moderasi beragama melalui budaya madrasah terejawantahkan dalam 4 nilai. Diantara nilai tersebut adalah: . tawasuth, . Tawazun, . IAotidal . Tasamuh. Indikator moderasi beragama yang akan digunakan adalah empat hal, yaitu:. komitmen kebangsaan. anti-kekerasan. akomodatif Sedangkan diimplementasikan melalui. pengelolaan kondisi ekologi . aterial cultur. meliputi lingkungan fisik . ondisi bangunan gedung, sarana prasarana serta tata ruang madrasa. , madrasah hijau, madrasah adiwiyata maupun madrasah ramah anak adalah bagian dari itu Demikian juga melalui struktur madrasah . ehaviour cultur. yang tercermin dari budaya relegius, budaya akhlak mulia, budaya berprestasi dan budayanasionalis harus tetap DAFTAR PUSTKA Abdillah. Moh Haidar. AuPengembangan Budaya Sekolah di Madrasah IbtidaiyahAy. Jurnal Halaqa Juni 2018. Ahmad. Abdullah Alam and Mushtaq. AuThe Role Of TeachersAo Emotional Intelligence In Enhancing Student AchievementAy. Journal Of Asia Business Studies Vol. 12 No. Ali. Muhaimin. Guru dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Agensindo: 2002. Al-Qadiry. Seimbanglah dalam Beragama. Jakarta: GIP,tt Amin. Abd. Rauf Muhammad. AuPrinsip dan Fenomena Moderasi Islam dalamTradisi Hukum IslamAy. Jurnal Al-Qalam,Volume 20, (Desember 2. Ibid hal 138 122 Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 Implementasi Budaya Madrasah dalam Membangun Sikap Moderasi Beragama El-Fadl. Khlaed Abou. Selamatkan Islam dari Muslim Puritan, terj. Helmi Mustofa. Jakarta: Serambi, 2005. https://kbbi. id/entri/moderasi Kasir Ibrahim. Kamus Arab Indonesia Indonesia Arab. Surabaya: Apollo Lestari, tt. Maarif. Nurul H. Islam Mengasihi Bukan Membenci. Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2017. Mannan. Abdul. Ahlussunnah Wal Jamaah Akidah UmatIslamIndonesia. Kediri: PP. Falah Ploso Kediri, 2014. Maryamah. Eva AuPengembangan Budaya SekolahAy. Jurnal Tarbawi Vol 02 no 02 (Juli 2. Misrawi. Zuhairi. Membumikan Toleransi al-Quran. Inklusivisme. Pluralisme dan Multikulturalisme. Jakarta: Moslem Moderate Society. Muhaimin. Nuansa Baru Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2006. Muhaimin. Dkk. Manajemen Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Muhammad Joko Susilo. Strategi Menciptakan Budaya Sekolah Kondusif. Prosidding Syimbion. Riswanti. Yulia. AuUrgensi Pendidikan Islam dalam Membangun MultikulturalismeAy. Jurnal Pendidikan Islam. Vol. No. 2, . Siddiq. Achmad. Khitan Nahdliyah. Cet. Surabaya: Kalista-LTNU, 2013. Supardi. Sekolah Efektif: Konsep Dasar Dan Praktiknya. Jakarta. Raja Grafindo Persada. Tim Redaksi Majalah Pendis. AuLaporan Utama: Pengarusutamaan Islam Moderat di Lembaga Pendidikan Islam,Ay Majalah Pendis Kementerian Agama. Edisi No. 8/tahun V (Jakarta: Dirjen Pendis Kemenag, 2017. Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Sinar Grafika, 2006. Wasik. Moh Ali. AuIslam Agama Semua Nabi dalam Perspektif Al-QuranAy. Esensia. Vol 17 No. 2 (Maret, 2. Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 123