JURNAL EMPATHY Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. Desember 2024 DOI : https://doi. org/10. 37341/jurnalempathy. Peningkatan Pemahaman Siswa Tentang Swamedikasi Diare Melalui Edukasi Interaktif Haiyul Fadhli1*. Venny Wulandari2. Deswita Sandra Tsalsabila Ananto3. Amanda Putri Pratiwi4. Mohammad Arif Arsaf5 1,2,3,4,5 Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau. Indonesia *Email: haiyulfadhli@stifar-riau. Abstract Background: The practice of self-medication for diarrhea remains irrationally performed by the community, including students. The lack of health education in schools contributes to students' lack of knowledge about self-medication of diarrhea. The purpose of this activity is to improve students' understanding of diarrhea self-medication through an interactive educational approach. Methods: This community service utilized a descriptive observational method, incorporating a pretest and posttest Interventions were conducted through interactive discussions and question-and-answer They are encouraging active student participation. Results: Before the intervention, only three students could correctly answer questions regarding self-medication for diarrhea. After interactive education, the level of understanding increased significantly to 80%. Conclusion: Interactive education has proven effective in enhancing students' knowledge of self-medication for diarrhea. This approach holds potential for sustainable implementation in school health education programs, aiming to raise students' awareness and understanding. Keywords: community service, diarrhea, interactive education, self-medication, students. PENDAHULUAN Swamedikasi adalah bentuk pengobatan mandiri yang dilakukan dengan menggunakan obat bebas tanpa menggunakan resep dokter . Praktik ini menjadi umum di masyarakat sebagai upaya pertama dalam menangani keluhan ringan seperti demam, batuk, sakit kepala, dan diare . Di Indonesia, 35,2% rumah tangga tercatat memiliki obat-obatan untuk swamedikasi . Sebanyak 25,4% obat diare masih digunakan secara tidak rasional dan disimpan di rumah tangga. Oleh karena itu, pengetahuan masyarakat tentang swamedikasi perlu ditingkatkan . Meskipun swamedikasi dapat membantu masyarakat mengatasi masalah kesehatan secara cepat dan efisien, penggunaannya yang tidak tepat berpotensi menimbulkan dampak negatif, terutama jika informasi yang diterima tidak akurat atau tidak memadai. Obat adalah elemen krusial dalam banyak inisiatif kesehatan, berfungsi tidak hanya untuk meredakan gejala penyakit, tetapi juga untuk mencegah dan menyembuhkan penyakit. Swamedikasi adalah penggunaan obat secara independen untuk mengatasi penyakit ringan tanpa resep atau intervensi medis . Swamedikasi telah menjadi praktik umum di masyarakat, terutama di kalangan ibu-ibu dalam mengatasi berbagai penyakit ringan dalam keluarga mereka . Diare terjadi ketika seseorang buang air besar dengan konsistensi lembek, cair, atau hanya air, dan frekuensinya lebih dari biasanya, yaitu tiga kali atau lebih dalam Diare bisa disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, atau parasit seperti Campylobacter. Salmonella, rotavirus, dan Giardia lamblia . Diare, sebagai masalah kesehatan yang umum terjadi, dapat memengaruhi orang dari berbagai kelompok usia. Jika tidak segera ditangani, diare berkepanjangan dapat menyebabkan dehidrasi berat, terutama pada anak-anak. Kejadian diare masih sering ditemukan di Indonesia https://jurnalempathy. com/index. php/jurnalempathy/ | 80 dan membutuhkan penanganan cepat serta pengetahuan dasar yang memadai terkait pengobatan mandiri di rumah . Sayangnya, masih ditemukan praktik swamedikasi diare yang tidak rasional dalam penggunaan obat-obatan . Hal ini menunjukkan pentingnya meningkatkan pengetahuan masyarakat, khususnya generasi muda, terkait swamedikasi yang benar. Malabsorpsi, alergi, keracunan, imunodefisiensi, dan faktor lainnya dapat menjadi penyebab diare. Di lapangan, infeksi akibat rotavirus adalah penyebab yang paling sering ditemukan. Gejala diare bervariasi tergantung pada penyebabnya. Jika disebabkan oleh infeksi, gejala umum meliputi sakit perut, kram, dan kadang disertai demam, menggigil, atau tinja berdarah. Dalam banyak kasus, diare sembuh sendiri dalam beberapa hari tanpa pengobatan. Pada orang dewasa, diare biasanya sembuh dalam 2-4 hari, sementara pada anak-anak, penyembuhan sering berlangsung lebih lama, yaitu sekitar 5-7 hari. Diare yang berlangsung lebih dari 2 hari dapat meningkatkan risiko komplikasi serius . Perilaku manusia terbentuk dari hasil akumulasi pengalaman dan interaksi dengan lingkungan, yang tercermin dalam pengetahuan, sikap, serta tindakan. Perilaku adalah respons individu terhadap rangsangan, baik dari luar maupun dari dalam dirinya . Dalam konteks kesehatan, perilaku ini menjadi semakin penting saat anak memasuki usia dewasa. Di Indonesia, terdapat lebih dari 250. 000 sekolah, termasuk negeri, swasta, dan berbasis agama, dari berbagai jenjang pendidikan. Diperkirakan, jumlah anak sekolah mencapai sekitar 30% dari total populasi Indonesia, yaitu sekitar 73 juta orang . Anak-anak usia sekolah adalah aset penting bagi pembangunan masa depan, sehingga mereka perlu mendapat perhatian khusus dalam pemeliharaan, peningkatan, dan perlindungan kesehatan. Sekolah, sebagai rumah kedua bagi anak-anak, berperan penting dalam mendukung perkembangan optimal melalui pendekatan promotif dan preventif . Pendidikan kesehatan di sekolah merupakan salah satu upaya efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa terkait perilaku hidup sehat . Namun, berdasarkan pengamatan awal, hanya 3 orang siswa yang memiliki pemahaman dasar mengenai penanganan diare secara mandiri. Minimnya pendidikan kesehatan formal di sekolah mengenai penyakit sehari-hari dan kurangnya komunikasi tentang swamedikasi di lingkungan keluarga turut mempengaruhi rendahnya pengetahuan ini. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa metode edukasi interaktif dapat meningkatkan pemahaman siswa terkait topik kesehatan . Seperti pengembangan video interaktif untuk meningkatkan perilaku mencuci tangan . , dampak negatif kosmetika . serta bahaya merokok, narkoba, dan seks bebas . Akan tetapi, studi yang menekankan efektivitas pembelajaran interaktif khusus untuk swamedikasi diare di kalangan siswa masih terbatas. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan meningkatkan pemahaman siswa tentang swamedikasi diare melalui intervensi edukasi interaktif. Pendekatan edukasi interaktif menjadi solusi yang efektif untuk mengatasi tantangan ini karena metode ini mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif, berbeda dengan metode ceramah pasif yang cenderung kurang melibatkan siswa secara langsung . Diharapkan dengan metode ini, siswa tidak hanya dapat memahami konsep dasar swamedikasi, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan tersebut dengan tepat dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan pengabdian ini menawarkan pendekatan edukasi interaktif sebagai solusi untuk mengatasi kurangnya pengetahuan siswa tentang swamedikasi diare. Berbeda https://jurnalempathy. com/index. php/jurnalempathy/ | 81 dengan metode ceramah pasif, pendekatan ini dirancang agar siswa aktif berpartisipasi, sehingga konsep yang disampaikan lebih mudah dipahami. Selain itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan program pendidikan kesehatan di sekolah-sekolah, terutama dalam aspek promosi kesehatan yang lebih aplikatif dan partisipatif. METODE Pengambilan data pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan pendekatan pretest dan posttest. Desain ini bertujuan untuk mengevaluasi perubahan pengetahuan siswa sebelum dan setelah diberikan intervensi edukasi interaktif terkait swamedikasi diare. Populasi dalam kegiatan ini yaitu seluruh siswa. Sampel dipilih secara purposive dengan kriteria yaitu siswa yang bersedia mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, termasuk sesi pretest dan posttest (Gambar . Prosedur Pelaksanaan Persiapan Kegiatan Pelaksana kegiatan pengabdian mengidentifikasi dan mengumpulkan referensi terkait swamedikasi diare. Materi edukasi yang didapatkan lalu disusun dengan format interaktif yang melibatkan diskusi dan tanya jawab. Selain itu dilakukan penyusunan agenda kegiatan untuk memastikan kelancaran pelaksanaan pengabdian. Tahap Pretest Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada tanggal 24 Juli 2024. Kegiatan diawali dengan sesi pretest. Sesi pretest dilakukan dengan metode menjawab daftar pertanyaan untuk mengukur pengetahuan awal siswa terkait swamedikasi diare. Pertanyaan dalam pretest mencakup definisi diare, penyebab, pencegahan, dan penanganan awal. Intervensi Edukasi Penyuluhan dilakukan dalam bentuk pemaparan materi yang bersumber dari pedoman tatalaksana diare oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia dan jurnal . dan diskusi interaktif. Siswa diajak berpartisipasi aktif dengan mengajukan pertanyaan dan menjawab persoalan terkait topik diare. Tahap Posttest Setelah edukasi, dilakukan posttest menggunakan format soal yang sama dengan Sesi ini juga mencakup pertanyaan cepat untuk mendorong siswa menjawab secara spontan dan meningkatkan keterlibatan. Evaluasi dan Pemberian Hadiah: Hadiah diberikan kepada siswa yang berpartisipasi aktif dan memberikan jawaban tercepat dalam posttest sebagai bentuk apresiasi. Analisis Data Data hasil pretest dan posttest dianalisis secara deskriptif untuk melihat perubahan tingkat pemahaman siswa. Peningkatan pengetahuan diukur dari perbandingan antara skor pretest dengan posttest. Hasil analisis disajikan dalam bentuk persentase untuk menggambarkan dampak dari intervensi edukasi interaktif yang telah dilakukan. https://jurnalempathy. com/index. php/jurnalempathy/ | 82 Persiapan Kegiatan (Identifikasi Referensi & Penyusunan Materi Pretest . engukur Pengetahuan Awal Sisw. Intervensi Edukasi (Penyuluhan & Diskusi Interakti. Posttest . valuasi Peningkatan Pengetahua. Evaluasi & Pemberian Hadiah (Apresiasi Bagi Siswa Akti. Gambar 1. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan HASIL Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengevaluasi pemahaman siswa tentang swamedikasi diare sebelum dan setelah intervensi edukasi Hasil pretest menunjukkan bahwa hanya 30% dari 120 siswa yang mampu menjawab pertanyaan dengan benar mengenai swamedikasi diare. Sebagian besar siswa tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang konsep dasar, penyebab, dan penanganan diare secara mandiri. Setelah intervensi edukasi, posttest dilaksanakan dengan format yang sama. Hasil posttest menunjukkan peningkatan yang signifikan, di mana 80% siswa dapat menjawab pertanyaan dengan benar. Beberapa siswa bahkan menunjukkan antusiasme tinggi dengan memberikan jawaban tercepat secara langsung. Peningkatan ini mencerminkan efektivitas metode tanya jawab interaktif dalam meningkatkan pemahaman siswa tentang swamedikasi diare. Tabel 1. Hasil Pretest dan Posttest Kegaiatan Pengabdian Aspek yang Dinilai Pengetahuan tentang definisi diare Pengetahuan tentang penyebab diare Jumlah Siswa = . Persentase Pretest (%) Persentase Posttest (%) https://jurnalempathy. com/index. php/jurnalempathy/ | 83 Pengetahuan tentang pencegahan diare Pengetahuan tentang penanganan dan pengobatan diare Total Rata-rata Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengevaluasi pemahaman siswa mengenai swamedikasi diare melalui metode tanya jawab. Kegiatan dilakukan secara langsung, dimana siswa ditanya tentang berbagai aspek terkait diare dan swamedikasi. Hasil pretest menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil siswa yang dapat menjawab pertanyaan dengan benar. Dari banyaknya siswa yang diuji, hanya 3 siswa yang mampu menjelaskan apa itu diare dan cara penanganannya. Hal ini mengindikasikan kurangnya pemahaman awal mengenai topik tersebut di kalangan Setelah intervensi pendidikan berupa diskusi dan pemaparan mengenai swamedikasi diare, dilakukan posttest dengan format yang sama. Pada sesi ini, siswa tidak hanya diberikan pertanyaan, tetapi juga diundang untuk menjawab dengan cepat, mendorong interaksi yang lebih aktif. Hasil posttest menunjukkan peningkatan yang signifikan, sebagian besar siswa dapat menjawab pertanyaan dengan tepat dan beberapa siswa bahkan bisa memberikan jawaban tercepat. Peningkatan ini menunjukkan efektivitas metode tanya jawab dalam meningkatkan pengetahuan siswa. Meskipun hanya beberapa siswa yang bisa menjawab dengan baik pada pretest, antusias dan keterlibatan mereka selama proses pembelajaran sangat terlihat, yang mungkin berkontribusi pada hasil positif di posttest. Gambar 2. Penyuluhan Swamedikasi Diare PEMBAHASAN Rendahnya hasil pretest . %) siswa yang mampu menjawab pertanyaan dengan benar menujukkan kurangnya pengetahuan dasar siswa tentang penanganan diare. Minimnya pendidikan di sekolah belum optimal dalam memberikan materi kesehatan terutama terkait dengan penyakit sehari-hari seperti diare, dan persepsi masyarakat terhadap swamedikasi cenderung kurang memahami pentingnya swamedikasi yang https://jurnalempathy. com/index. php/jurnalempathy/ | 84 benar. Sehingga pengetahuan ini tidak disampaikan secara memadai kepada siswa di rumah, dan ini merupakan beberapa penyebabnya. Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa pendidikan kesehatan di sekolah merupakan salah satu cara efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan perilaku kesehatan pada anak usia sekolah . Selain itu, metode tanya jawab interaktif yang digunakan selama penyuluhan terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa. Pendekatan ini memungkinkan siswa untuk secara aktif berpartisipasi dalam proses belajar, memperjelas konsep-konsep yang mereka kurang pahami, dan memberikan kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan Penerapan pendidikan berbasis diskusi interaktif di institusi pendidikan merupakan strategi penting untuk meningkatkan pemahaman siswa. Pendekatan ini mendorong keterlibatan aktif, memfasilitasi kemampuan pemecahan masalah, dan membuat konsep-konsep terkait kesehatan menjadi lebih mudah diakses dan diterapkan. Pendekatan ini secara efektif mengatasi kendala yang terkait dengan pembelajaran pasif, kelangkaan materi terkait, kurangnya akses ke informasi kesehatan, rendahnya motivasi siswa, dan pengaruh keadaan sosial ekonomi. Melalui diskusi interaktif, siswa mengembangkan kesadaran yang tinggi akan pentingnya kesehatan dan lebih siap untuk membuat keputusan yang tepat, sehingga berkontribusi pada keberhasilan inisiatif promosi kesehatan di lingkungan sekolah . Penyuluhan dilaksanakan 26 Juli 2024 di salah satu sekolah di desa Sungai Petai, diikuti oleh semua siswa/siswi sebanyak 120 peserta. Kegiatan dimulai dengan sesi tanya jawab sebagai pretest, setelah itu dilanjutkan dengan pemaparan materi (Gambar 2 dan Peningkatan pengetahuan yang signifikan dari pretest ke posttest menunjukkan bahwa banyak siswa yang awalnya kurang memahami topik diare dapat mengadaptasi pengetahuan baru setelah diberikan informasi yang komprehensif. Diskusi langsung dan sesi tanya jawab memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengeksplorasi pengetahuan mereka lebih dalam, serta mengoreksi kesalahan pemahaman yang ada Gambar 3. Foto bersama siswa dan siswi yang berpatisipasi dalam pretest dan posttest https://jurnalempathy. com/index. php/jurnalempathy/ | 85 Rendahnya hasil pretest menunjukkan bahwa ada kebutuhan mendesak untuk meningkatkan pendidikan kesehatan di sekolah. Hal ini juga mencerminkan bahwa pendidikan kesehatan di sekolah-sekolah saat ini belum optimal dalam memberikan materi yang relevan dan praktis, terutama mengenai swamedikasi yang seharusnya bisa dilakukan secara mandiri oleh siswa di rumah. Terjadinya peningkatan pengetahuan, diharapkan siswa tidak hanya mampu menangani masalah kesehatan ringan seperti diare tetapi juga menjadi agen perubahan di komunitas mereka. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman siswa mengenai swamedikasi diare masih rendah sebelum intervensi. Namun, setelah dilakukan intervensi edukasi melalui metode tanya jawab yang interaktif, terjadi peningkatan signifikan pada hasil Hal ini menegaskan bahwa metode pembelajaran interaktif adalah strategi yang efektif untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang swamedikasi diare. Oleh karena itu, disarankan agar metode ini diterapkan secara berkelanjutan dalam program pendidikan kesehatan di sekolah-sekolah untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan siswa mengenai penanganan diare yang tepat. UCAPAN TERIMA KASIH