Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (JTIIK) Vol. No. Desember 2024, hlm. Akreditasi KEMENRISTEKDIKTI. No. 36/E/KPT/2019 DOI: 10. 25126/jtiik. p-ISSN: 2355-7699 e-ISSN: 2528-6579 MIGRASI DATA HASIL OPTIMALISASI PEMUATAN KONTAINER PADA LEGACY SYSTEM KE SYSTEM APPLICATIONS AND PRODUCTS DENGAN BATCH DATA COMMUNICATION Rehulina Tarigan*1. Ely Nuryani2. Susy Katarina Sianturi3. Nur Hidayanti4. Widyawati5 1,2,4,5 Universitas Banten Jaya. Serang, 3Sekolah Tinggi Teknologi Ilmu Komputer Insan Unggul. Cilegon Email: 1rtarigan@unbaja. id, 2elynuryani@unbaja. id, 3susykatarina@insanunggul. nurhidayanti@unbaja. id, 5widyawati@unbaja. Penulis Korespondensi (Naskah masuk: 11 Juni 2023, diterima untuk diterbitkan: 19 November 2. Abstrak Modul SAP yang diimplementasi di PT. Indah Kiat Pulp & Paper, tidak mempunyai sistem untuk optimalisasi pemuatan order ke kontainer. Sebelum implementasi SAP, proses memasukkan data order, optimalisasi pemuatan data order ke kontainer dan pembuatan surat jalan dilakukan semuanya pada sistem CSO (Container Stuffing Optimizatio. , sehingga data order pasti sinkron dengan data surat jalan atau sesuai dengan aktual pengiriman. Setelah implementasi SAP, data order untuk optimalisasi pemuatan kontainer dimasukkan pada CSO . egacy syste. sedangkan proses pembuatan surat jalan dilakukan pada SAP. Dua proses yang berbeda dilakukan pada dua sistem dengan platform berbeda. Penggunaan dua sistem yang berbeda mengakibatkan aktual pengiriman pada dokumen surat jalan tidak sesuai dengan data order dari pelanggan yang mengakibatkan komplain pelanggan. Solusi untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan melakukan migrasi data order hasil optimalisasi pemuatan pada CSO ke SAP sehingga data order terintegrasi dengan data surat jalan. Metode BDC dipergunakan untuk melakukan migrasi ke SAP yaitu dengan mentransfer data order hasil optimalisasi pemuatan dari CSO ke SAP serta mengotomatisasi proses picking dan packing di SAP untuk menghasilkan surat jalan. Hasil dari penelitian berupa sinkronisasi data order dan data surat jalan serta percepatan proses pembuatan surat jalan menjadi 3 kali lebih cepat dari semula sehingga dapat mengurangi komplain pelanggan dan mempercepat proses pengiriman. Hasil pengujian black box memperlihatkan fungsional sistem berjalan dengan baik. Kata kunci: BDC, migrasi data, otomatisasi, pengujian black box. SAP DATA MIGRATION OF CONTAINER LOADING OPTIMIZATION ON LEGACY SYSTEM TO THE SYSTEM APPLICATIONS AND PRODUCTS USING BATCH DATA COMMUNICATION Abstract SAP module implemented at PT. Indah Kiat Pulp & Paper does not have a system for optimizing the loading of orders into containers. Before implementing SAP, the process of entering order data, optimizing loading of order data into containers and creating delivery note was all done in the CSO (Container Stuffing Optimizatio. system, so that order data was definitely in sync with delivery note data or in accordance with actual delivery. After implementing SAP, order data for optimizing container loading is entered into CSO . egacy syste. while the delivery note creation process is carried out in SAP. Two different processes are carried out on two systems with different platforms. The use of two different systems resulted in the actual delivery of the delivery note document not matching the order data from the customer which resulted in customer complaints. The solution to overcome this problem is to migrate the order data resulting from loading optimization in CSO to SAP so that the order data is integrated with the delivery note data. The BDC method is used to migrate to SAP, namely by transferring order data resulting from loading optimization from CSO to SAP and automating the picking and packing process in SAP to produce delivery note. The results of the research are in the form of synchronizing order data and delivery note data as well as accelerating the process of making delivery note documents to 3,775 times faster than before, thereby reducing customer complaints and speeding up the delivery process. The black box testing results show that the system functionality is running well. Keywords: automation. BDC, black box testing, data migration. SAP 1214 Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (JTIIK). Vol. No. Desember 2024, hlm. PENDAHULUAN SAP (Systems. Applications and Product. merupakan salah satu merek spesifik dari perangkat lunak ERP (Enterprise Resource Plannin. yang dikembangkan oleh perusahaan perangkat lunak Jerman SAP SE. Ada berbagai modul SAP yang dirancang untuk berbagai keperluan perusahaan mulai dari keuangan hingga manajemen rantai SAP menjangkau jauh dan luas, termasuk perusahaan lokal dan perusahaan global (Red Global. Sistem SAP mengintegrasikan semua proses fungsional pada perusahaan mulai dari penjualan produk atau jasa sampai menghasilkan uang . rder to Pada kenyataannya, implementasi SAP dapat membutuhkan waktu yang lama . atu atau dua tahu. karena harus dilakukan beberapa penyesuaian dengan proses bisnis di organisasi atau perusahaan. Ada kalanya ditemukan kasus yaitu proses bisnis yang masih dibutuhkan perusahaan dalam menjalankan bisnisnya, tidak ada pada modul SAP. Modul yang tidak ada di SAP itu merupakan bagian legacy system . ub legacy syste. yang masih harus dipertahankan Terhadap legacy system itu sendiri, akan dilakukan transformasi/modernisasi ke sistem SAP. Menurut (R. Khadka, 2. , bahwa perusahaan dengan legacy system . istem warisa. dihadapkan pada dilema. Meskipun legacy system sudah tidak sesuai dengan perkembangan teknologi di era digital bahkan membutuhkan biaya pemeliharaan yang besar, perusahaan tidak dapat begitu saja menyingkirkan sistem perangkat lunak lama karena perangkat lunak ini merupakan bagian dari sistem inti yang dipergunakan untuk menjalankan bisnis seharihari. Oleh karena itu, perlu dilakukan modernisasi perangkat lunak dengan tetap menggunakan proses bisnis dari perangkat lunak lama tetapi dalam lingkungan teknologi baru. Beberapa organisasi yang memiliki legacy system, tetap menggunakan beberapa bagian darinya karena mendukung pengiriman layanan kepada Sistem ini penting bagi organisasi karena telah dioperasikan selama bertahun-tahun dan memiliki nilai bisnis yang tinggi (Abu Bakar. Humairath KM. Razali. Rozilawati. Jambari. Dian Indrayani. , 2. Data pada legacy system dan SAP perlu diintegrasikan dengan melakukan migrasi data dari legacy system ke SAP. Hal yang sama dialami oleh PT. Indah Kiat Pulp & Paper pada saat implementasi SAP yaitu ada sistem yang dipergunakan untuk melakukan optimalisasi pemuatan kontainer tetapi sistem ini tidak ada di SAP. Sistem aplikasi optimalisasi pemuatan kontainer yang biasa disebut Container Stuffing Optimization (CSO) memaksimalkan pemuatan paper sheet atau paper roll ke dalam kontainer berdasarkan data order yang tercantum pada dokumen Sales Order (SO). Pemuatan optimal ini untuk mengurangi biaya pengiriman ke pelanggan, terlebih pengiriman ke luar negeri . Hasil dari sistem ini berupa pemuatan optimal yang memberikan data berupa jumlah kontainer minimal yang diperlukan, jumlah dan spesifikasi barang serta susunan barang di dalam setiap kontainer Sebelum dimuat ke dalam kontainer, dilakukan scan label yang ada pada setiap barang pada sistem CSO. Hasil scan label akan digunakan untuk mencetak DN pada sistem CSO, sehingga dapat dikatakan bahwa data ini adalah aktual pengiriman ke pelanggan yang sesuai dengan data order pada dokumen SO. Pada saat SAP sudah diimplementasikan, maka proses cetak surat jalan (DN) dilakukan di SAP. Sebelum mencetak DN, data hasil scan label pada sistem CSO dimasukkan ke sistem SAP melalui proses picking dan packing pada transaction code VL02N. Hasil scan label sebagai output sistem CSO merupakan input bagi sistem SAP. Berdasarkan uraian di atas, menjadi jelas bahwa ada dua sistem dengan platform . atabase dan sistem aplikas. berbeda yang dipergunakan untuk menghasilkan surat jalan atau DN yang sesuai dengan data order. Keterlibatan dua sistem dengan platform berbeda ini menyebabkan beberapa hal: Berpotensi menimbulkan ketidaksinkronan antara data order dengan aktual pengiriman karena terjadi human error saat input data hasil sistem CSO ke SAP. Hal ini menambah biaya pengiriman karena salah kirim spesifikasi barang. Pembuatan DN pada sistem SAP melalui banyak langkah . pada proses picking dan packing di transaction code . VL02N. Transaction code pada SAP digunakan untuk mendapatkan akses mudah ke aplikasi khusus atau untuk memanggil proses tertentu yang direpresentasikan dengan screen berupa user interface tertentu. Berbagai kategori tcode ditentukan menurut area aplikasi dan modul pada SAP seperti tcode SE11Dictionary defenition. SHDB Ae Batch input recorder atau VL02N Ae Logistcs Execution Shipping (Tutorialspoint. Untuk membuat surat jalan satu kontainer menghabiskan waktu 15 Satu SO terdiri dari 20 sampai 25 kontainer yang diharapkan berjalan ke pelabuhan secara bersamaan sehingga semua kontainer dapat dimuat ke satu kapal untuk dikirim ke pelanggan. Proses picking dan packing yang cukup lama menyebabkan pencetakan DN lama, sehingga pengiriman berpotensi terlambat. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu dibuat program aplikasi untuk mengintegrasikan data sistem CSO dan SAP serta mengotomatisasikan proses picking dan packing pada SAP sehingga: Data order yang ada pada Sales Order sinkron atau sesuai dengan data aktual pengiriman pada dokumen Delivery Note (DN). Proses pembuatan Delivery Note (DN) lebih cepat karena program aplikasi dapat mengotomasikan proses picking dan packing dengan cara mengurangi step atau langkah proses yang ada. Tarigan, dkk. Migrasi Data Hasil A 1215 Nama program aplikasi untuk mengintegrasikan data CSO ke SAP adalah Data Migration Interface. METODE PENELITIAN Secara umum, beberapa tahap proses yang dilakukan pada penelitian, dapat digambarkan pada diagram berikut: Gambar Tahap proses penelitian Identifikasi masalah berupa komplain pelanggan karena sering terjadi ketidaksesuaian data order dan aktual pengiriman pada surat jalan. Pengiriman ke pelanggan lambat karena pembuatan surat jalan di SAP untuk satu kontainer membutuhkan waktu lama yaitu melalui banyak step . pada proses picking dan packing. Pengumpulan data dan informasi dilakukan dengan observasi secara langsung ke user untuk mengetahui secara detail proses optimalisasi pemuatan ke kontainer pada sistem CSO dan melakukan proses picking dan packing di SAP untuk membuat surat jalan. Metode pengembangan program aplikasi menggunakan Model waterfall membagi siklus hidup pengembangan perangkat lunak menjadi satu set fase yang dapat dimulai setelah fase sebelumnya selesai Dengan demikian proses pengembangan dilakukan secara berurutan . equence linie. (GeeksforGeeks, 2. Model waterfall secara umum terdiri dari (Sommerville Ian, 2. Analisa kebutuhan sistem Analisa kebutuhan sistem dilakukan berdasarkan data yang diperoleh pada saat observasi dan wawancara serta diskusi dengan pengguna. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di lapangan, diperlukan sistem untuk dapat mengintegrasikan data dari CSO ke SAP. Perancangan sistem Perancangan input berupa user interface yaitu screen untuk mengumpulkan data dari sistem CSO sebagai hasil optimalisasi pemuatan data order ke kontainer (Gambar . Data tersebut disimpan dalam format flat file . dan disimpan ke local disc untuk selanjutnya ditransfer ke SAP. Migrasi data dari CSO ke SAP dilakukan melalui screen seperti pada Gambar 8. Proses yang ada pada screen ini akan mentransfer data order di sistem CSO untuk menghasilkan surat jalan di SAP melalui proses picking dan packing. Perancangan proses meliputi proses pembuatan flat file, proses perekaman . untuk picking dan packing di SAP dengan Tcode SHDB serta perancangan blok program otomatisasi proses pembuatan surat jalan (Gambar 6. Program atau sistem yang dibangun tidak menghasilkan output dalam bentuk laporan . , melainkan menghasilkan sinkronisasi data aktual pengiriman di SAP dengan hasil optimalisasi pemuatan data order ke kontainer di CSO. Programming Tahap pembuatan kode untuk dijalankan sehingga menghasilkan program aplikasi sesuai dengan analisa dan perancangan. Program dibuat dengan menggunakan bahasa khusus untuk SAP yaitu ABAP. Program dibuat sesuai dengan blok program pada Gambar 6. Pengujian . ntegration testin. Pengujian terintegrasi meliputi pengumpulan data dari CSO, disimpan ke lokasi tertentu pada local Ada kalanya terjadi error apabila jenis dan tipe data yang akan ditransfer dari CSO tidak sesuai dengan yang dibutuhkan di SAP. Pengujian berikutnya dilakukan pada proses otomatisasi pembuatan surat jalan di SAP. Proses ini memastikan bahwa program sudah dibuat sesuai dengan hasil perekaman terhadap semua langkah sebanyak 26 step yang dilakukan untuk picking dan packing pada Tcode VL02N. Implementasi Sistem go-live dan siap dipakai oleh pengguna untuk memasukkan data sebenarnya. Penelitian menggunakan metode waterfall untuk program aplikasi karena sistem yang akan dikerjakan mempunyai ruang lingkup yang sudah jelas dan tidak terlalu luas serta tidak perlu ada banyak perubahan selama proses pembuatannya. Pada prinsipnya waterfall model cocok dipergunakan jika persyaratan perangkat lunak yang dibutuhkan sudah dapat dipahami dengan baik dan tidak ada perubahan secara radikal selama proses pengembangan sistem (Sommerville Ian, 2. Hasil penelitian dilaporkan dalam bentuk karya ilmiah yang dipublikasikan pada jurnal nasional terakreditasi. Modernisasi Legacy System Organisasi yang masih menggunakan legacy system harus memeriksa kemampuan sistem yang ada untuk mendukung bisnis organisasi. 1216 Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (JTIIK). Vol. No. Desember 2024, hlm. Gambar 2. Diagram solusi modernisasi sistem Modernisasi legacy system perlu dilakukan untuk memastikan sistem dapat memenuhi harapan yang dibutuhkan. Menurut (Lizbeth Wilkins, 2. , solusi untuk modernisasi legacy system dapat dikelompokkan menjadi: Complete Replacement dan Partial Retention seperti Gambar 2. Complete Replacement Penggantian menyeluruh sistem lama dapat dilakukan dengan perangkat lunak standar atau perangkat lunak yang dikembangkan sendiri dengan menulis ulang kode program pada sistem lama baik secara manual maupun otomatis. Partial Retention Perusahaan tetap mempertahankan sistem lama tapi melakukan modernisasi dengan mengganti arsitektur platform. Modernisasi dilakukan pada komponen sistem seperti user interface atau melakukan upgrade database. Sedangkan menurut (Shannon J. Barnes, 2. , bahwa pendekatan untuk melakukan modernisasi legacy system terdiri dari: Replace legacy system Cara ini melibatkan penggantian sistem lama dengan baru, misalnya ke SAP Rebuild legacy system Membangun kembali sistem lama dengan menggunakan teknologi terbaru dan menambah fitur baru sesuai dengan kebutuhan terkini dari Rehost legacy system Memindahkan sistem lama ke lingkungan hosting baru . sehingga dapat diakses dari mana Re-platform legacy system Modernisasi terkait dengan pemindahan platform sistem lama ke platform baru, seperti dari Unix ke Windows. Refactor and re-architect legacy system Opsi hibrid merupakan teknik yang melibatkan penambahan teknologi baru pada sistem lama untuk meningkatkan kinerja sistem pada level security, safety dan compliance. Retain or retair legacy system Pendekatan ini memungkinkan organisasi untuk dapat mempertahankan sistem lama atau menghentikan sepenuhnya. Jika organisasi mempertahankan sistem lama maka harus ada rencana untuk mengoptimalkan fungsi paling penting dari sistem sehingga dapat bekerja lebih Jika menghentikan sepenuhnya sistem lama, berarti organisasi mentransmisikan semua user ke sistem lain yang sudah ada. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penggantian atau modernisasi legacy system, seperti yang dikemukakan oleh (E. Langbauer, 2. , di antaranya adalah: Keinginan untuk modernisasi secara cepat. Hal ini biasa terjadi pada manajemen tingkat atas yang ingin mengganti sistem lama secara cepat. Ada tekanan untuk penggantian perangkat lunak misalnya, sistem lama sudah tidak mendukung bisnis yang ada, resiko sistem keamanan atau perubahan undang-undang dan peraturan. Pengalaman dari tim proyek yang mendorong untuk melakukan modernisasi sistem Biaya perawatan yang tinggi pada sistem lama Tujuan perusahaan juga dapat mempengaruhi modernisasi sistem. Misalnya jika standarisasi adalah tujuan bisnis, maka perangkat lunak standar merupakan pilihan yang tepat. Migrasi Data ke SAP Michael & Johann . alam Syaiful Bakhri, 2. mengatakan migrasi data adalah proses transfer data bisnis dari sistem non-SAP ke SAP. Migrasi data terkait dengan legacy system dan legacy data. Legacy system adalah sistem aplikasi yang mempunyai data yang ditransfer ke SAP. Data ini disebut legacy data. Migrasi data dalam sistem SAP dilakukan dengan pemrograman untuk mengubah data yang heterogen dari sistem lain ke SAP. Berbagai jenis proyek migrasi data dapat dijelaskan dari berbagai sudut pandang seperti berikut ini (Densborn. F et al. , 2. Tarigan, dkk. Migrasi Data Hasil A 1217 Initial Goal (Green Fiel. Migrasi data dilakukan ke dalam sistem SAP yang baru diimplementasikan. Data berasal dari sistem sumber yang berbeda. Upgrading an Existing System (Brown Fiel. Dengan memutakhirkan sistem yang ada, data baru atau proses bisnis baru di SAP diperluas dengan cara melakukan migrasi data ke SAP dari sumber Phased Roll-Out Tahap ini merupakan kombinasi initial load dan upgrading an existing system. Proyek migrasi data dilakukan jika terjadi restrukturisasi lanskap teknologi informasi. Jenis ini biasanya dilakukan jika ada merger dan akuisisi anak perusahaan lokal atau internasional sehingga dilakukan pemusatan sistem di SAP. Big Bang Implementasi big bang adalah peluncuran bertahap dalam satu fase tunggal. Hal ini biasa dilakukan jika terdapat sejumlah anak perusahaan menggunakan proses bisnis yang sama tanpa atau sedikit melakukan perubahan pada proses perusahaan induk. Resiko kegagalan implementasi big bang lebih tinggi dibandingkan dengan bertahap . hased roll-ou. System Optimization Jika sistem produksi SAP harus dipindahkan sepenuhnya ke sistem SAP yang lain, harus digunakan teknik khusus yang disebut system optimizations . ystem landscap optimization. Hal yang paling umum dilakukan untuk pengoptimalan sistem adalah menjual anak perusahaan atau mengakuisisi perusahaan lain. Cloud Migration Merupakan proses migrasi data dari sistem perusahaan ke cloud publik sebagai Software as a Service (SaaS). Untuk solusi cloud. SAP menawarkan tools untuk memigrasikan data perusahaan, sehingga data dari file Excel atau XML dapat dimigrasikan ke sistem cloud. Menurut (Kellton Tech, 2. , tools ETL (ExtractTransform-Loa. merupakan alat yang menyediakan langkah-langkah praktis untuk migrasi data ke SAP. Extract Ini adalah langkah awal dalam menyediakan data yang valid dari sistem sumber. Penggalian data bisnis dilakukan, diidentifikasi, diekstrak dan dibersihkan sehingga proses transfer data ke SAP berjalan dengan baik. Pada penelitian ini, data yang sudah valid dari sistem CSO disediakan dalam bentuk flat file yang akan ditransfer ke sistem SAP. Transform Langkah ini memfasilitasi harmonisasi antara legacy system dan SAP. Selama proses ini, kita dapat mengolah data menjadi format SAP melalui pembuatan sejumlah function atau procedure untuk mentransfer data ke SAP. Pada penelitian ini proses transfer data dari CSO ke SAP dilakukan dengan membuat program ABAP untuk mengambil data dari flat file yang disimpan di local disk untuk selanjutnya ditransfer ke sistem SAP. Load Memuat data yang sepenuhnya sudah diproses dan divalidasi ke modul SAP yang sesuai. Pada penelitian ini, data CSO ditransfer ke modul Sales & Distribution menggunakan transaction code . VL02N dan melakukan proses picking dan packing untuk setiap kontainer secara otomatis. Metode Migrasi Batch Input Session SAP menyediakan beberapa metode untuk melakukan migrasi data dari sistem non-SAP . egacy syste. ke sistem SAP (S. Markandeya, 2. Direct Input Metode ini memerlukan modul untuk melakukan validasi terhadap data yang diinput dari sistem non-SAP. Migrasi data dengan metode direct input dapat dikelompokkan ke metode Legacy System Migration Workbench (LSMW) yang terdiri dari: Standard batch/direct input . Batch input recording . Business object method (BAPI) . IDoc . ntermediate documen. Batch Input Session atau BDC Aktivitas diawali dengan melakukan perekaman . traksaksi, misalnya untuk membuat data pelanggan menggunakan transaction code . XD01. Setelah selesai melakukan perekaman, dibuat program ABAP berdasarkan hasil perekaman tersebut. Ketika program ABAP dieksekusi untuk melakukan migrasi, data tidak secara langsung dimasukkan ke table modul fungsional SAP tetapi data dimasukkan terlebih dahulu ke dalam antrian atau sesi tabel basisdata . ession database tabl. Selanjutnya session dapat dijalankan secara background dengan menggunakan sebuah tcode untuk mentransfer data dari session ke tabel basisdata fungsional pada SAP. Call Transaction Program ABAP yang sama seperti pada metode BDC dapat dipergunakan pada metode call Perbedaannya adalah bahwa pada metode call transaction, data secara langsung ditransfer ke dalam tabel basis data modul fungsional SAP. Metode batch input session akan mengeksekusi sebuah session, tidak dengan cara interaktif satu per satu, tetapi transfer data ke SAP dilakukan sekaligus dalam jumlah besar. Gambar 3. menjelaskan alur proses migrasi data ke SAP (SAP Documentation, 1218 Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (JTIIK). Vol. No. Desember 2024, hlm. Gambar 4. Diagram usecase Program Data Migration Interface Proses pembuatan program Data Migration Interface pada SAP mempunyai beberapa tahap seperti yang dijelaskan pada penjelasan sub bab Gambar 3. Proses batch input session Sequential file adalah flat file berupa file. Batch input program merupakan program untuk mengambil data dari flat file yang dibuat dengan menggunakan ABAP. Queue dataset berupa data yang disimpan sementara pada tabel BDCDATA yang ada dan sudah didefinisikan pada batch input program. Selain data dari flat file. BDCDATA juga berisi sejumlah kode instruksi yang diperoleh dari hasil perekaman tcode Proses batch input adalah program pemanggilan transaction code dengan sintaks: CALL TRANSACTION 'VL02N' USING BDCDATA MODE 'E' UPDATE 'S' sehingga semua data yang ada pada BDCDATA dapat ditransfer ke sistem SAP. Struktur tabel BDCDATA terdiri dari nama kolom: PROGRAM. DYNPRO. DYNBEGIN. FNAM, FVAL seperti pada Tabel 1. (TCodeSearch. Tabel 1. Struktur tabel BDCDATA Column Name PROGRAM DYNORO DYNBEGIN FNAM FVAL Description BDC module Dynpro value BDC Dynpro Start Field Name Field Value Data Element BDC_PROG BDC_DYNR BDC_START Data Type CHAR NUMC CHAR Length FNAM BDC_VAL CHAR CHAR HASIL DAN PEMBAHASAN Pemodelan Proses Keseluruhan proses dalam perancangan program Data Migration Interface digambarkan dalam bentuk pemodelan visual dengan usecase User admin mempersiapkan data flat file pada aplikasi CSO melalui proses scan label. Usecase Proses Integrasi Data Packing dilakukan pada program SAP. Sebelum menjalankan program Data Migration Interface, admin mengetikkan tcode untuk program Data Migration Interface yaitu: YSRQ301T. Program akan melakukan proses picking dan packing secara otomatis . Proses Pembuatan Flat File Data flat file berasal dari hasil scan label pada aplikasi CSO (Container Stuffing Optimizatio. sebagai legacy system (Gambar 5. Gambar 5. Screen input kontainer dan scan label Hasil scan label disimpan ke local disc sebagai flat file yang dibagi menjadi dua file dengan nama DataPacking. txt dan DataMaterial. Setiap file mempunyai struktur seperti pada Tabel 2. dan Tabel Struktur tabel ini akan di-copy ke struktur temporary table yang ada di program Data Migration Interface untuk menampung data dari flat file. Tabel 2. Struktur tabel DataPacking Nama Field Tipe Data Keterangan DlvNo Text Nomor order ContrNo Text Nomor kontainer ContrType Text Tipe kontainer SeqNo Text Nomor urut kontainer CarNo Text Nomor mobil ContrWeight Text Berat maksimum Driver Text Nama supir SealNo Text Nomor seal Tabel 3. Struktur tabel DataMaterial Nama Field Tipe Data Keterangan Item Text Nomor item Matnr Text Nomor material Qty Text Jumlah roll Weight Text Berat roll HUMaterial Text Handling unit material Tarigan, dkk. Migrasi Data Hasil A 1219 2 Proses Perekaman (Recordin. dengan Tcode SHDB Pembuatan Batch Input Program (Data Migration Interfac. Perekaman transaksi proses picking dan packing dilakukan dengan tcode SHDB. Pada saat melakukan proses perekaman, hal yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa proses tidak boleh mengalami Jika pada saat perekaman, ada sedikit saja proses yang mengalami kesalahan, maka perekaman harus diulang dari awal. Supaya diperoleh hasil perekaman yang valid, harus dilakukan simulasi beberapa kali sampai diperoleh hasil perekaman . tanpa kesalahan. Semua hasil perekaman disimpan sementara pada tabel BDCDATA yang didefinisikan pada program Data Migration Interface. Semua hasil perekaman transaksi proses picking dan packing pada VL02N akan dieksekusi secara background. Tabel 4. menjelaskan langkahlangkah . proses picking dan packing pada tcode VL02N yang dilakukan secara manual yang terdiri dari 26 langkah. Gambar 6. menjelaskan tentang struktur program Data Migration Interface. Terdapat dua blok Blok pertama merupakan blok untuk program Blok ke dua berisi sejumlah sub procedure yang dipanggil pada program utama. Sub procedure FILE_UPLOAD1 berfungsi untuk melakukan upload data DataPacking. txt dari local disk dan melakukan insert ke internal table PTAB. Sedangkan sub procedure FILE_UPLOAD2 berfungsi untuk melakukan upload data DataMaterial. txt dan melakukan insert ke internal table MTAB. Sub procedure BDC_DYNPRO dengan parameter PROGRAM dan DYNPRO merupakan prosedur untuk melakukan insert nomor dan nama screen berdasarkan hasil rekaman ke dalam table BDCDATA. Sub procedure BDC_FIELD dengan parameter FNAM dan FVAL merupakan prosedur untuk melakukan insert nama field dan nilai field berdasarkan hasil rekaman ke dalam table BDCDATA. Kedua sub prosedur ini dipanggil dari sub prosedur CREATE_BDC. Jadi pengisian table BDCDATA berdasarkan hasil rekaman dilakukan pada sub procedure CREATE_BDC. Setelah dilakukan insert ke BDCDATA terhadap semua hasil rekaman, maka dipanggil transaksi VL02N untuk menjalankan proses secara background. Tabel 5 merupakan contoh data yang dimasukkan ke tabel BDCDATA pada program ABAP untuk transaksi mengganti satuan TO . ke KG . Data itu diperoleh dari hasil perekaman transaksi VL02N. Tabel 4. Urutan step . perekaman proses picking dan packing pada tcode VL02N Step Keterangan Step Keterangan Masukkan nomor order misalnya 3340030503 Klik tombol PackHus Tekan Enter Cari nomor material . yang sesuai pada report Packing List Ganti satuan berat dari TO menjadi KG untuk setiap item Tekan Enter setiap selesai mengganti TO menjadi KG. step 3 dan 4 diulang untuk setiap item Pilih menu Edit E Pack. Klik tombol Pack Material Pada sub screen All existing Hus available for packing isi kolom Packing Materials dengan dummy 900000 Tekan Enter Cari material yang bersesuaian untuk dummy tersebut pada sub screen Material to be Packed Isi total berat pada kolom Partial Qty Pilih dummy pada sub screen All existing Hus . vailable for packin. bersamaan dengan material yang sesuai pada sub screen Material to be Packed Klik pack icon, ulangi mulai step 7 untuk semua item Create kontainer misalnya BSIU9032500 pada sub screen All existing Hus . vailable for packin. Masukkan item yang di-pack ke dalam kontainer dengan cara pilih kontainer beserta dengan semua handling unit yang dibuat Klik icon pack Double click nomor kontainer dan masuk screen baru Cari nomor kontainer yang sedang diproses Klik tab Status Klik User Status Pilih no. Isi Contents dengan nomor seal Klik tab Means of transp. Data Isi Driver dengan nama supir Isi Alt. Driver dengan nomor mobil Klik icon save untuk menyimpan hasil transaksi 1220 Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (JTIIK). Vol. No. Desember 2024, hlm. Tabel 5. Contoh isi tabel BDCDATA berdasarkan perekaman proses ganti TO ke KG PROGRAM SAPMV50A SAPMV50A SAPMV50A DYNPRO DYNBEGIN FNAM FVAL KETERANGAN BDC_OKCODE LIKP-VBELN /00 Tekan enter Entry nomor order BDC_OKCODE LIPS-VRKME. /00 Tekan enter Ganti TO ke KG pada baris 9 BDC_OKCODE /00 Tekan enter Gambar 6 Block diagram program Data Migration Interface Terdapat dua user interface yaitu user interface pada program CSO dan user interface pada program Data Migration Interface di SAP. User interface pada program CSO untuk proses penyiapan data packing material atau pembuatan flat file yang berisi data yang akan diintegrasikan ke SAP. Pada interface ini, user cukup memasukkan nomor order lalu klik OK, maka akan dibentuk flat file untuk menampung semua data yang akan diintegrasikan ke SAP (Gambar . Gambar 8. User interface integrasi data ke SAP User interface program Data Migration Interface (Gambar 8. ) yang ada pada sistem SAP dipergunakan untuk proses integrasi atau migrasi data dari program CSO ke SAP. Pengujian Sistem 1 Pengujian Black Box Gambar 7. User interface pada program CSO Pengujian black box hanya dilakukan dengan mengeksekusi unit atau modul pada program, lalu diamati apakah hasil dari modul itu sesuai dengan proses bisnis yang diharapkan. Pengujian dilakukan untuk memastikan bahwa suatu event atau modul akan menjalankan proses yang tepat dan menghasilkan output sesuai dengan rancangan. Tarigan, dkk. Migrasi Data Hasil A 1221 Tabel 8. Hasil pre test kuesioner . ebelum implementas. Pertanyaan Nama Hendri Wijokongko (A) Gozali Tamam (B) Agus Dwi (C) Effendi (D) Rata-rata 15 menit 20 menit 20 menit 20 menit Tabel 9. Hasil post test kuesioner . esudah implementas. Pertanyaan No. Nama Hendri Wijokongko (A) Gozali Tamam (B) Agus Dwi (C) Effendi (D) Rata-rata Tabel 6. menjelaskan pengujian black box yang dilakukan terhadap modul pembentukan flat file dan modul pada program Data Migration Interface. Pada sistem CSO tersedia tombol OK pada user Jika tombol itu diklik, maka sistem akan menjalankan proses pembentukan flat file yang berisi data dari CSO yang akan ditransfer atau dimigrasikan ke sistem SAP. Pada user interface di sistem SAP terdapat tombol yang berupa icon jam. Jika icon itu diklik, maka sistem SAP akan menjalankan tcode YSRQ301T untuk melakukan otomatisasi proses picking dan packing untuk menghasilkan surat jalan sesuai dengan data yang dimigrasikan dari sistem CSO. Input Penekan Penekana Tabel 6. Hasil pengujian black box Proses Siste Output Menghasilkan Private Sub CSO n flat file cmdOK_Cli ck () Eksekusi YSRQ301T SAP Otomatisas picking dan Hasil Sesuai Sesuai 2 Acceptance Testing Untuk mengetahui perbandingan kinerja sistem sebelum dan sesudah implementasi khususnya dalam hal kecepatan proses picking dan packing untuk mencetak surat jalan, maka diberikan kuesioner kepada user. Kuesioner cukup diisi oleh empat orang admin yang mewakili setiap kelompok shift dan grup (A. C dan D) pada bagian pengiriman barang. Daftar pertanyaan berupa waktu proses dan tingkat kesalahan input data yang diberikan kepada responden pada waktu sebelum dan sesudah implementasi program seperti yang ada pada Tabel 7. Jawaban terhadap pertanyaan tersebut akan dianalisa sehingga diperoleh angka berapa lama ratarata user melakukan proses picking dan packing untuk pembuatan satu surat jalan untuk setiap Tabel 8. pada kolom 6, menampilkan 5 menit 5 menit 5 menit 5 menit Total Waktu/kontainer . x 15 = 270 . x 20 = 400 . x 20 = 480 . x 20 = 360 Total Waktu/kontainer . x 5 = 90 . x 5 = 100 . x 5 = 120 . x 5 = 90 angka waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan surat jalan per kontainer. No. Tabel 7. Kuesioner kinerja sistem Pertanyaan Berapa rata-rata order yang harus ditangani setiap shift? Berapa rata-rata kontainer yang harus dimuat untuk setiap order? Berapa rata-rata item yang harus dimuat untuk setiap Berapa rata-rata dalam satu bulan terjadi kesalahan input jumlah dan spesifikasi barang yang dimuat ke dalam Berapa rata-rata dalam satu bulan terjadi komplain dari pelanggan karena salah dalam pengiriman barang? Berapa rata-rata waktu yang diperlukan untuk membuat satu surat jalan? Jika pada grup A ada 3 order dan setiap order ratarata terdiri dari 6 kontainer . surat jala. serta pembuatan surat jalan untuk 1 kontainer rata-rata 15 menit, maka total waktu yang diperlukan adalah . x 15 menit = 270 menit. Rata-rata waktu yang diperlukan untuk membuat satu surat jalan setiap hari 875 menit. Tabel 9. merupakan hasil jawaban kuesioner setelah implementasi program. Pada kolom 4 dan 5 tentang rata-rata terjadi kesalahan input dan komplain pelanggan sudah tidak ada. Rata-rata waktu yang diperlukan untuk membuat satu surat jalan adalah 5 menit termasuk proses cetak surat jalan. Berdasarkan waktu rata-rata untuk membuat satu surat jalan sebelum dan sesudah implementasi, maka terdapat peningkatan kecepatan . peed u. sebesar 875/5 = 3. 775 kali. Terjadi efisiensi waktu sebesar 3 kali setelah implementasi, juga tidak terjadi lagi kesalahan dalam memasukkan data ke sistem, karena sudah terjadi sinkronisasi data order dari sistem CSO ke SAP. KESIMPULAN Migrasi data order hasil pemuatan kontainer pada sistem CSO . egacy syste. ke SAP dapat melakukan sinkronisasi data order pada Sales Order (SO) dengan aktual pengiriman pada surat jalan atau Delivery Note (DN). Hal ini akan meningkatkan 1222 Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (JTIIK). Vol. No. Desember 2024, hlm. keakuratan dan konsistensi data. Migrasi data mengurangi jumlah komplain pelanggan karena data pada SO sudah sesuai dengan DN. Otomatisasi proses picking dan packing pada SAP untuk mempercepat proses pembuatan surat jalan karena program dapat mengurangi langkah proses yang semula 26 langkah (Tabel . menjadi hanya 3 langkah dengan memasukkan Plant dan Shipping Point pada program di SAP. Terjadi efisiensi waktu atau peningkatan kecepatan pembuatan surat jalan sebesar 3 kali lebih cepat setelah implementasi. Proses migrasi dan otomatisasi ini efektif untuk mendukung On Time Delivery ke pelanggan. DAFTAR PUSTAKA