ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 5. No 3. Juli 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/action MODEL PEMBELAJARAN ACTIVE LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KETERLIBATAN DAN MOTIVASI SISWA PADA PEMBELAJARAN IPAS DI SDN TANGUNGGUH 2 Luluk Mauliddiyah1. Serafim Kristianingsih2. Anisa Nur Fadila3. Andika Adinanda Siswoyo4 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Trunojoyo Madura1,2,3,4 e-mail: l57436507@gmail. com, serafimrufus74@gmail. com, nurfadilaanisa965@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana penerapan model pembelajaran Active Learning dapat meningkatkan keterlibatan dan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran IPAS di kelas IV SDN Tangungguh 2. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam tiga siklus, masing-masing meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah 25 siswa kelas IV yang terdiri dari 11 laki-laki dan 14 perempuan. Data dikumpulkan melalui observasi, angket motivasi, dan lembar pengamatan keterlibatan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Active Learning secara signifikan meningkatkan motivasi dan keterlibatan Hal ini ditunjukkan oleh peningkatan skor motivasi dari rata-rata 70,10 pada siklus I menjadi 88,25 pada siklus II, dan mencapai 89,05 pada siklus i. Peningkatan keterlibatan siswa juga terlihat dari indikator keaktifan diskusi, partisipasi aktivitas, serta kedisiplinan dan kehadiran yang menunjukkan tren naik di setiap siklus. Dengan demikian, model Active Learning terbukti efektif dalam menciptakan pembelajaran yang lebih aktif, menyenangkan, dan bermakna bagi siswa. Kata Kunci : Active Learning. Motivasi Belajar. Keterlibatan Siswa. IPAS ABSTRACT This study aims to determine the extent to which the implementation of the Active Learning model can improve student engagement and motivation in IPAS learning among fourth-grade students at SDN Tangungguh 2. This research is a Classroom Action Research (CAR) conducted over three cycles, each consisting of planning, action, observation, and reflection The research subjects were 25 fourth-grade students, including 11 boys and 14 girls. Data were collected through observations, motivation questionnaires, and student engagement observation sheets. The results showed that the implementation of the Active Learning model significantly improved student motivation and engagement. This was evidenced by an increase in motivation scores from an average of 70. 10 in cycle I to 88. 25 in cycle II, and 89. 05 in cycle i. Student engagement also improved in indicators such as discussion participation, activity involvement, and attendance and discipline, all of which showed upward trends across the Thus, the Active Learning model proved effective in creating more active, enjoyable, and meaningful learning experiences for students. Keywords: Active Learning. Learning Motivation. Student Engagement. IPAS PENDAHULUAN Lingkungan belajar yang ideal adalah sebuah ekosistem di mana setiap peserta didik, terlepas dari kecepatan pemahaman individunya, merasa termotivasi, dihargai, dan terdorong untuk berpartisipasi secara aktif (Kahar & Fadhilah, 2019. Subekti et al. , 2. Dalam suasana kelas yang kondusif, semua siswa memiliki kesempatan yang sama untuk terlibat dalam Copyright . 2025 ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 5. No 3. Juli 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/action kegiatan belajar, mengajukan pertanyaan tanpa rasa takut, dan berkolaborasi dengan teman Terciptanya atmosfer yang inklusif dan suportif ini merupakan fondasi utama bagi tercapainya proses pendidikan yang efektif secara menyeluruh. Keberhasilan dalam membangun lingkungan seperti ini tidak hanya akan meningkatkan pencapaian akademis, tetapi juga akan menumbuhkan rasa percaya diri dan kecintaan terhadap proses belajar pada diri setiap siswa (Desyandri, 2018. Rochayati et al. , 2018. Ulya et al. , 2. Meskipun demikian, salah satu tantangan paling umum dan fundamental yang dihadapi oleh para pendidik di dalam kelas adalah adanya perbedaan laju pemahaman di antara siswa. Dalam satu kelompok belajar, sangat wajar ditemukan adanya keragaman dalam kecepatan menyerap dan mengolah informasi. Sebagian siswa mungkin dapat dengan cepat menguasai materi yang diajarkan, sementara sebagian lainnya memerlukan waktu, pengulangan, atau pendekatan yang berbeda untuk mencapai tingkat pemahaman yang sama (Appaji, 2020. Tatontos, 2020. Wikarya et al. , 2. Perbedaan ini bukanlah sebuah indikasi kekurangan, melainkan sebuah cerminan dari keragaman gaya belajar dan latar belakang kognitif yang dimiliki oleh setiap individu, yang menuntut adanya fleksibilitas dalam metode pengajaran. Perbedaan dalam laju pemahaman ini, jika tidak diantisipasi dengan strategi pengajaran yang tepat, sering kali dapat menimbulkan sebuah kesenjangan dalam tingkat motivasi dan keterlibatan siswa. Siswa yang dapat mengikuti pelajaran dengan cepat cenderung akan lebih bersemangat dan terdorong untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan di kelas. Sebaliknya, siswa yang merasa kesulitan atau tertinggal dalam memahami materi cenderung akan menunjukkan tingkat motivasi yang lebih rendah. Mereka mungkin menjadi ragu-ragu untuk bertanya, enggan terlibat dalam diskusi kelompok, dan pada akhirnya menarik diri dari proses pembelajaran. Kondisi ini berisiko menciptakan sebuah lingkungan belajar yang kurang mendukung dan tidak merata (Pratiwi & Maftujianah, 2023. Triyanto et al. , 2. Fenomena ini secara nyata teridentifikasi di kelas IV SDN Tangungguh 2. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan dengan guru kelas, diperoleh informasi bahwa meskipun secara umum siswa memiliki antusiasme yang baik, terdapat permasalahan yang cukup Disebabkan oleh keragaman karakter dan kemampuan siswa, tidak semua dari mereka mampu menerima materi pembelajaran dengan baik pada saat yang bersamaan. Secara spesifik, ditemukan bahwa sekitar 23% siswa mengalami keterlambatan dalam memahami materi Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS), khususnya pada topik metamorfosis. Kondisi ini secara langsung mengakibatkan adanya tingkat keterlibatan siswa yang sangat bervariasi di dalam kelas. Dari paparan tersebut, terlihat sebuah kesenjangan yang jelas antara kondisi yang diidealkan dengan realitas yang terjadi di kelas IV SDN Tangungguh 2. Visi idealnya adalah sebuah proses pembelajaran IPAS di mana seluruh siswa, yang berjumlah 25 orang, dapat terlibat secara aktif dan termotivasi, terlepas dari perbedaan kecepatan pemahaman mereka. Namun, kenyataannya adalah metode pembelajaran yang diterapkan saat ini belum mampu mengakomodasi keragaman tersebut, sehingga menciptakan sebuah kelompok siswa yang kurang termotivasi dan tertinggal. Kesenjangan antara tujuan pembelajaran yang inklusif dengan hasil yang belum merata ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak akan sebuah model pembelajaran yang lebih adaptif. Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, maka diperlukan adanya penerapan sebuah model pembelajaran yang sesuai dengan berbagai macam karakter yang dimiliki oleh siswa. Salah satu model yang sangat relevan untuk mengatasi permasalahan ini adalah model Pembelajaran Aktif atau Active Learning. Active Learning adalah suatu proses pembelajaran yang secara sengaja dirancang untuk mendorong siswa agar terlibat secara penuh dan langsung dalam kegiatan belajar. Dalam pendekatan ini, siswa tidak lagi diposisikan sebagai penerima Copyright . 2025 ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 5. No 3. Juli 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/action informasi yang pasif, melainkan sebagai subjek yang aktif dalam memperoleh dan mengolah pengetahuan melalui pengalaman yang mereka alami sendiri, baik melalui diskusi, eksperimen, maupun pemecahan masalah (Bhardwaj et al. , 2025. Goodwin, 2024. Sari et al. , 2. Nilai kebaruan atau inovasi dari penelitian ini terletak pada penerapan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang sistematis untuk mengimplementasikan dan mengevaluasi efektivitas model Active Learning secara langsung di dalam kelas. Penelitian ini dirancang dalam tiga siklus, di mana setiap siklusnya meliputi tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Pendekatan PTK ini memungkinkan peneliti dan guru untuk berkolaborasi secara erat dalam mengatasi masalah nyata yang ada di kelas. Subjek penelitian ini adalah 25 siswa kelas IV yang terdiri dari 11 laki-laki dan 14 perempuan. Melalui proses yang berulang ini, strategi pembelajaran dapat terus disempurnakan berdasarkan data dan observasi yang diperoleh. Tujuan utama dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui secara konkret sejauh mana penerapan model pembelajaran Active Learning dapat meningkatkan keterlibatan dan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran IPAS di kelas IV SDN Tangungguh 2. Data mengenai tingkat motivasi dan keterlibatan siswa akan dikumpulkan secara sistematis melalui observasi, penyebaran angket, serta analisis lembar pengamatan. Kontribusi yang diharapkan dari penelitian ini adalah tersedianya bukti empiris yang kuat, seperti yang ditunjukkan oleh peningkatan skor motivasi siswa di setiap siklusnya, yang membuktikan bahwa model Active Learning efektif dalam menciptakan pembelajaran yang lebih aktif, menyenangkan, dan METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dirancang secara kolaboratif dan berlangsung dalam tiga siklus. Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan partisipasi dan motivasi belajar siswa pada pembelajaran IPAS dengan konten IPA. Setiap siklus mengikuti empat tahapan utama: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas IV SD Negeri Tanggugguh 2 yang berjumlah 28 orang, terdiri dari 11 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan. Tindakan yang diterapkan dalam setiap siklus adalah model pembelajaran Active Learning, yang diimplementasikan melalui kombinasi metode ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan sesi tanya jawab untuk merangsang keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tiga instrumen utama untuk memperoleh data kuantitatif dan kualitatif secara komprehensif. Pertama, lembar observasi terstruktur digunakan oleh peneliti dan kolaborator untuk mengamati dan mencatat tingkat partisipasi siswa selama proses pembelajaran. Aspek yang diamati meliputi keaktifan dalam diskusi, keterlibatan dalam aktivitas, kehadiran, dan kedisiplinan. Kedua, angket motivasi belajar dengan skala Likert diberikan kepada siswa pada akhir setiap siklus untuk mengukur perubahan pada aspek motivasi, seperti pencapaian dan tanggung jawab. Ketiga, wawancara singkat dan tidak terstruktur dilakukan dengan beberapa siswa dan guru kolaborator untuk mendapatkan umpan balik serta refleksi mendalam mengenai proses pembelajaran yang telah Analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif pada tahap refleksi di akhir setiap siklus. Data kuantitatif dari lembar observasi dan angket motivasi dianalisis dengan menghitung skor rata-rata dan persentase siswa yang menunjukkan peningkatan partisipasi serta motivasi. Data kualitatif dari catatan hasil observasi dan wawancara dianalisis secara deskriptif untuk mengidentifikasi keberhasilan, kendala, dan dinamika kelas yang terjadi selama penerapan model Active Learning. Hasil dari kedua analisis tersebut kemudian disintesis Copyright . 2025 ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 5. No 3. Juli 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/action untuk mengevaluasi efektivitas tindakan pada siklus tersebut. Peningkatan persentase partisipasi dan skor motivasi dari siklus ke siklus menjadi indikator utama keberhasilan penelitian dalam mencapai tujuannya. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian ini akan dilaksanakan dengan tiga siklus dan menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK) Kurt Lewin yang meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Pada tahap prasiklus, peneliti melakukan perencanaan tindakan dengan wawancara bersama guru kelas 4 untuk mendapatkan informasi dan hasil pengamatannya yang kemudian direfleksikan sebagai acuan untuk melaksanakan tindakan selanjutnya. Pada pelaksanaan tindakan, peneliti melakukan wawancara pada guru kelas 4 agar dapat menyusun rencana pembelajaran yang efektif. Proses observasi memanfaatkan lembar wawancara untuk guru kelas 4 serta didukung oleh seorang pengamat yang mencatat hal-hal yang terjadi di lapangan selama proses berlangsung. Pada tahap refleksi, guru dan peneliti bekerja sama untuk melakukan refleksi, merencanakan perbaikan dalam meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa, serta memberikan masukan untuk upaya peningkatan motivasi dan keterlibatan siswa dengan menggunakan model pembelajaran active learning, mengingat selama pembelajaran di kelas guru belum pernah menggunakan model pembelajaran ini sebelumnya. Diharapkan bahwa penerapan model ini dapat meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa. Ketuntasan Klasikal Tabel 1. ketuntasan klasikal No. Siklus 1 70,10 Tidak Tuntas Siklus 2 88,25 Tuntas Siklus 3 89,05 Tuntas Tabel yang ditampilkan menunjukkan data hasil belajar siswa selama tiga siklus pembelajaran yang dilakukan dalam rangka penelitian tindakan kelas. Peningkatan ketuntasan klasikal dari nilai rata-rata 70,10 pada siklus I . elum tunta. , menjadi 88,25 di siklus II dan 89,05 di siklus i . , mencerminkan keberhasilan penerapan model pembelajaran Active Learning dalam meningkatkan keterlibatan dan hasil belajar siswa secara kolektif. Hal ini sejalan dengan temuan Mulyani . dalam jurnalnya yang menunjukkan bahwa penggunaan strategi guru yang variatif, seperti ice breaking dan semangat belajar di awal pembelajaran, mampu meningkatkan motivasi dan ketuntasan belajar siswa secara signifikan. Selanjutnya. Mustamiah dan Widanti . juga mengungkapkan adanya hubungan positif antara motivasi belajar dan keterlibatan siswa, yang menjadi faktor penting dalam pencapaian hasil belajar klasikal di kelas. Dukungan tambahan datang dari Yuanita . dalam penelitiannya yang menemukan bahwa penerapan strategi pembelajaran aktif di MI Syarifuddin dapat meningkatkan motivasi belajar, interaksi kelas, dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran secara menyeluruh. Ketiga sumber tersebut secara konsisten menunjukkan bahwa pembelajaran aktif efektif mendorong siswa untuk berpartisipasi secara maksimal dan berdampak pada meningkatnya ketuntasan belajar secara klasikal. Setiap siklus dalam proses pembelajaran merepresentasikan tahap evaluatif terhadap perkembangan pemahaman siswa sebagai respons terhadap intervensi atau strategi perbaikan yang diterapkan oleh pendidik. Pada tahap pertama (Siklus . , nilai rata-rata yang diperoleh peserta didik adalah 70,10. Nilai ini belum memenuhi standar ketuntasan minimal yang ditetapkan, sehingga dianggap belum mencapai target pembelajaran. Kondisi ini mencerminkan bahwa pendekatan awal dalam proses belajar belum berhasil sepenuhnya mendukung siswa Copyright . 2025 ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 5. No 3. Juli 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/action dalam meraih kompetensi yang diharapkan. Ketika memasuki tahap kedua (Siklus . , terlihat adanya lonjakan nilai rata-rata siswa menjadi 88,25, yang menandai tercapainya kriteria Hal ini mengindikasikan bahwa langkah-langkah korektif yang diterapkan pasca siklus pertama memberikan pengaruh yang nyata terhadap peningkatan performa belajar siswa. Selanjutnya, pada tahap ketiga (Siklus . , nilai rata-rata siswa meningkat sedikit menjadi 89,05. Meskipun peningkatannya tidak terlalu besar, tingkat ketuntasan tetap terjaga, menunjukkan adanya kestabilan dalam pencapaian akademik siswa. Secara keseluruhan, data ini mengilustrasikan tren peningkatan yang konsisten dari siklus ke siklus, sekaligus menegaskan keberhasilan pendekatan pembelajaran yang diimplementasikan. Motivasi Siswa PENCAPAIAN PENGAKUAN PEKERJAANNYA SENDIRI 83,8095 83,0476 82,8571 SIKLUS 3 83,619 SIKLUS 2 85,5238 85,1429 86,2857 85,1429 SIKLUS 1 TANGGUNG JAWAB Gambar 1. Hasil Penelitian Motivasi Siswa Berdasarkan Gambar 1 yang menyajikan hasil penelitian motivasi siswa, dapat dianalisis adanya peningkatan yang konsisten pada empat dimensi motivasi selama tiga siklus Secara umum, visualisasi data dalam bentuk diagram batang ini menunjukkan efektivitas intervensi yang diterapkan. Pada dimensi pertama, yaitu pencapaian, terlihat adanya pertumbuhan yang stabil dalam motivasi siswa. Dimulai dari skor yang sudah cukup tinggi pada Siklus 1, yaitu sebesar 80,2, motivasi yang berkaitan dengan hasrat untuk berprestasi ini meningkat menjadi 85,1429 pada Siklus 2. Peningkatan ini terus berlanjut pada Siklus 3, di mana skornya mencapai puncak pada angka 86,2857. Tren positif ini mengindikasikan bahwa intervensi yang dilakukan berhasil secara bertahap memperkuat dorongan internal siswa untuk meraih keberhasilan dan menyelesaikan tugas-tugas akademik dengan standar yang lebih tinggi dari waktu ke waktu. Dimensi kedua yang diukur adalah pengakuan, yang menunjukkan salah satu lonjakan paling signifikan dalam penelitian ini. Pada Siklus 1, skor untuk dimensi ini berada di angka 69,2, salah satu yang terendah pada tahap awal. Namun, terjadi peningkatan yang sangat drastis pada Siklus 2, di mana skornya melonjak tajam hingga mencapai 85,1429. Pertumbuhan masif ini mengisyaratkan bahwa strategi yang diimplementasikan pada siklus kedua sangat efektif dalam membuat siswa merasa dihargai dan diakui atas usaha serta kontribusi mereka. Pada Copyright . 2025 ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 5. No 3. Juli 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/action Siklus 3, skor ini mengalami sedikit peningkatan lebih lanjut menjadi 85,5238, yang menandakan bahwa tingkat motivasi yang didorong oleh pengakuan berhasil dipertahankan dan sedikit dioptimalkan. Lompatan besar antara siklus pertama dan kedua menjadi temuan kunci pada aspek motivasi ini. Selanjutnya, pada dimensi motivasi yang berasal dari pekerjaannya sendiri, yang dapat diartikan sebagai minat atau kepuasan terhadap tugas itu sendiri, juga tercatat adanya peningkatan yang substansial. Dimensi ini memiliki titik awal yang rendah pada Siklus 1 dengan skor 66,8, menunjukkan bahwa pada awalnya siswa kurang termotivasi secara intrinsik oleh kegiatan pembelajaran. Mirip dengan dimensi pengakuan, terjadi peningkatan yang sangat besar pada Siklus 2, dengan skor yang naik hingga 83,0476. Hal ini menunjukkan bahwa metode atau materi pembelajaran yang diterapkan berhasil membuat tugas menjadi lebih menarik, relevan, atau memberikan otonomi lebih kepada siswa. Pada Siklus 3, motivasi intrinsik ini terus menguat secara inkremental hingga mencapai skor 83,619, mengukuhkan keberhasilan intervensi dalam membuat proses belajar itu sendiri menjadi sumber motivasi. Dimensi terakhir yang diukur, yaitu tanggung jawab, menunjukkan pola peningkatan yang serupa dan sangat positif. Aspek ini memiliki skor terendah pada Siklus 1, yaitu 64,2, yang mengindikasikan bahwa rasa tanggung jawab merupakan area motivasi yang paling lemah pada tahap awal penelitian. Namun, intervensi yang dilakukan memberikan dampak yang luar biasa pada Siklus 2, di mana skornya melesat naik menjadi 82,8571. Peningkatan signifikan ini menunjukkan bahwa siswa berhasil mengembangkan rasa kepemilikan dan akuntabilitas yang lebih besar terhadap tugas dan peran mereka dalam proses pembelajaran. Pada Siklus 3, skor ini kembali meningkat menjadi 83,8095. Secara keseluruhan, peningkatan yang terjadi di keempat dimensi ini, terutama lonjakan besar dari Siklus 1 ke Siklus 2, secara meyakinkan membuktikan keberhasilan program intervensi dalam meningkatkan motivasi siswa secara Pembahasan Hasil penelitian ini secara meyakinkan menunjukkan keberhasilan penerapan model pembelajaran Active Learning dalam mentransformasi dinamika kelas IV di SDN Tangungguh Tujuan utama untuk meningkatkan keterlibatan dan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPAS tercapai dengan sangat baik, sebagaimana dibuktikan oleh data kuantitatif yang menunjukkan tren peningkatan positif secara konsisten selama tiga siklus penelitian. Keberhasilan ini menggarisbawahi bahwa pergeseran dari metode pembelajaran konvensional yang cenderung pasif menuju pendekatan yang berpusat pada siswa merupakan strategi yang efektif untuk mengatasi tantangan keragaman pemahaman dan rendahnya partisipasi. Implementasi metode yang melibatkan siswa secara langsung dalam proses penemuan pengetahuan, seperti diskusi dan aktivitas kelompok, terbukti mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih hidup, inklusif, dan bermakna. Pada dasarnya, temuan ini memberikan validasi empiris yang kuat bahwa ketika siswa diberi peran aktif, bukan hanya sebagai penerima informasi, motivasi internal dan keterlibatan mereka dalam pembelajaran akan meningkat secara signifikan(Utami et al. , 2025. Wang, 2. Analisis mendalam terhadap data ketuntasan klasikal menyajikan bukti konkret mengenai dampak positif intervensi yang dilakukan. Peningkatan nilai rata-rata dari 70,10 pada siklus pertama, yang masih berada di bawah standar ketuntasan, menjadi 88,25 pada siklus kedua merupakan sebuah lompatan yang sangat signifikan. Lonjakan ini mengindikasikan bahwa refleksi dan perbaikan strategi yang dilakukan setelah siklus pertama telah berhasil mengatasi kendala-kendala awal dan secara efektif meningkatkan pemahaman siswa terhadap Peningkatan lebih lanjut, meskipun kecil, menjadi 89,05 pada siklus ketiga Copyright . 2025 ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 5. No 3. Juli 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/action menunjukkan bahwa tingkat pemahaman yang tinggi tersebut dapat dipertahankan dan bahkan sedikit dioptimalkan. Data ini secara jelas menggambarkan bahwa model Active Learning tidak hanya mampu mengangkat performa siswa yang kesulitan, tetapi juga berhasil menciptakan standar pencapaian kolektif yang tinggi dan stabil di dalam kelas, membuktikan efektivitasnya dalam mendorong penguasaan materi secara merata (Li et al. , 2024. Naseer & Khawaja, 2. Peningkatan hasil belajar tersebut secara fundamental didorong oleh lonjakan motivasi siswa yang terdokumentasi dengan jelas pada data penelitian. Grafik motivasi menunjukkan adanya pertumbuhan yang luar biasa, terutama antara siklus pertama dan siklus kedua, pada keempat dimensi yang diukur. Skor pada aspek pengakuan, pekerjaan itu sendiri, dan tanggung jawab yang awalnya berada pada level yang relatif rendah, semuanya melonjak drastis setelah intervensi disempurnakan. Hal ini mengisyaratkan bahwa strategi pembelajaran aktif berhasil menyentuh kebutuhan psikologis dasar siswa, seperti kebutuhan untuk merasa dihargai, menemukan makna dalam tugas, dan memiliki rasa kepemilikan atas proses belajar mereka. Peningkatan motivasi ini adalah mesin penggerak di balik meningkatnya keterlibatan. Ketika siswa merasa termotivasi, mereka secara alami akan lebih proaktif, berani bertanya, dan antusias berpartisipasi, yang pada akhirnya membuahkan hasil belajar yang jauh lebih baik (Mayasari et al. , 2023. Selviana et al. , 2. Secara spesifik, keberhasilan model Active Learning dapat diatribusikan pada kemampuannya untuk menstimulasi setiap dimensi motivasi. Dimensi pencapaian diperkuat ketika siswa berhasil menyelesaikan tantangan dalam diskusi kelompok atau aktivitas. Dimensi pengakuan terpenuhi saat guru memberikan apresiasi atas pendapat siswa atau ketika teman sebayanya mendengarkan ide mereka. Motivasi yang berasal dari pekerjaan itu sendiri tumbuh subur karena pembelajaran IPAS menjadi lebih menarik melalui eksperimen sederhana atau pemecahan masalah nyata, bukan sekadar menghafal fakta. Terakhir, dimensi tanggung jawab dipupuk dengan memberikan peran yang jelas kepada setiap anggota kelompok, membuat mereka merasa berkontribusi dan akuntabel terhadap keberhasilan tim. Kombinasi dari rangsangan-rangsangan ini menciptakan sebuah siklus positif di mana siswa merasa lebih kompeten, dihargai, dan tertarik, yang secara holistik membangun fondasi motivasi yang kuat dan berkelanjutan (Hamidah, 2. Proses Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang digunakan dalam penelitian ini juga memegang peranan krusial dalam mencapai kesuksesan. Sifat siklikal dari PTK yang terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi memungkinkan guru dan peneliti untuk secara dinamis menyesuaikan strategi pembelajaran. Siklus pertama berfungsi sebagai tahap diagnostik yang penting, di mana kelemahan dan tantangan dalam penerapan awal Active Learning dapat diidentifikasi. Berdasarkan temuan pada tahap ini, perbaikan yang terarah dan spesifik dapat dirancang dan diimplementasikan pada siklus kedua. Lompatan hasil yang signifikan antara siklus pertama dan kedua adalah bukti nyata dari efektivitas proses reflektif Pendekatan ini memastikan bahwa model pembelajaran tidak diterapkan secara kaku, melainkan diadaptasi secara cermat agar sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik unik dari 25 siswa di kelas IV SDN Tangungguh 2. Penerapan model pembelajaran aktif ini secara langsung menjawab permasalahan awal yang diidentifikasi, yaitu adanya kesenjangan pemahaman di antara siswa dan partisipasi yang tidak merata. Dalam metode ceramah tradisional, siswa yang lebih lambat dalam memahami materi sering kali tertinggal dan kehilangan motivasi. Namun, dalam kerangka Active Learning, mereka mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk belajar melalui interaksi dengan teman sebaya dalam kelompok diskusi. Proses ini memungkinkan terjadinya peer tutoring secara alami, di mana siswa yang lebih cepat memahami dapat membantu temannya. Selain itu, variasi aktivitas memastikan bahwa ada berbagai cara untuk terlibat, mengakomodasi gaya belajar Copyright . 2025 ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 5. No 3. Juli 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/action yang berbeda. Dengan demikian, model ini berhasil menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif, di mana setiap siswa merasa memiliki kesempatan untuk berkontribusi dan berhasil, sehingga kesenjangan pemahaman dapat diminimalkan. Secara keseluruhan, penelitian ini menyajikan implikasi praktis yang sangat berharga dan relevan bagi para pendidik di era modern. Temuan yang ada secara tegas menggarisbawahi urgensi pergeseran paradigma dalam peran guru, dari yang semula menjadi pusat dan satusatunya sumber pengetahuan, menjadi seorang fasilitator yang cakap dalam memandu proses Model pembelajaran Active Learning menawarkan kerangka kerja yang kokoh dan teruji untuk mewujudkan transisi fundamental ini, dengan menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam konstruksi pengetahuannya sendiri. Keberhasilan nyata yang telah didemonstrasikan dalam konteks SDN Tangungguh 2 dapat berfungsi sebagai inspirasi sekaligus model percontohan yang aplikatif bagi sekolah-sekolah lain. Terutama bagi institusi yang menghadapi tantangan serupa terkait rendahnya motivasi dan keterlibatan siswa, studi kasus ini memberikan bukti konkret bahwa perubahan metode dapat menghasilkan dampak yang signifikan. Lebih dari sekadar adopsi sebuah model, penelitian ini juga menyoroti pentingnya penanaman budaya praktik reflektif di kalangan para guru. Kemampuan untuk secara jujur dan berkala mengevaluasi efektivitas metode pengajaran, serta kemauan untuk terus menyempurnakannya berdasarkan respons dan kebutuhan siswa, merupakan kunci dari kemajuan pendidikan yang berkelanjutan. Dengan secara sadar mengadopsi pendekatan yang benar-benar berpusat pada siswa dan memiliki komitmen kuat terhadap perbaikan yang tiada henti, institusi pendidikan dapat mencapai lebih dari sekadar peningkatan nilai sesaat. Pendekatan holistik ini berpotensi untuk meningkatkan kualitas pengalaman belajar secara drastis, menjadikannya lebih bermakna, menarik, dan relevan, yang pada akhirnya akan bermuara pada peningkatan hasil akademik siswa secara fundamental dan dapat dipertahankan dalam jangka panjang. KESIMPULAN Pelaksanaan pembelajaran berbasis active learning di kelas IV SDN Tangungguh 2 yang dilakukan secara bertahap melalui beberapa siklus terbukti mampu meningkatkan partisipasi aktif serta semangat belajar siswa dalam mata pelajaran IPAS. Temuan penelitian memperlihatkan adanya tren kenaikan skor motivasi siswa pada berbagai aspek, seperti dorongan untuk berprestasi, keinginan mendapatkan pengakuan, kemandirian dalam belajar, dan rasa tanggung jawab. Skor motivasi yang awalnya berada pada angka 78% di Siklus I mengalami peningkatan yang cukup mencolok di siklus-siklus berikutnya. Penerapan strategi pembelajaran ini mendorong siswa untuk lebih proaktif, terlibat secara langsung dalam proses belajar, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab individu, menjadikan pembelajaran lebih hidup dan sesuai dengan tuntutan perkembangan teknologi di era digital. Tak hanya itu, pendekatan ini juga berkontribusi dalam mengakomodasi perbedaan karakteristik dan tingkat pemahaman antar siswa, menciptakan suasana kelas yang lebih nyaman dan mendukung, serta mendorong peningkatan mutu proses pembelajaran secara menyeluruh. Oleh karena itu, penggunaan model active learning layak dijadikan pedoman bagi para pendidik dalam merancang proses belajar yang kreatif, menyenangkan, serta adaptif terhadap kebutuhan masa Copyright . 2025 ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 5. No 3. Juli 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/action DAFTAR PUSTAKA