JURNAL KEPERAWATAN STIKES HANG TUAH TANJUNGPINANG https://jurnal. stikesht-tpi. P-ISSN 2086 Ae 9703 | E Ae ISSN 2621 Ae 7694 https://DOI. org/10. 59870/jxw70450 Hubungan Perilaku dan Persepsi dengan Kepatuhan Minum Obat Hipertensi pada Nelayan Correlation between Behavior and Perceptions with Compliance with Taking Hypertension Medication in Fishermen Maisyarah 1. Soni Hendra Sitindaon 2. Linda Widiastuti 3 Mawar Eka Putri 4 1,2,3,4 Stikes Hang Tuah Tanjungpinang e-mail Korespondensi: maisarah110388@gmail. Abstrak Hipertensi adalah masalah kesehatan masyarakat utama di seluruh dunia dan meskipun dapat dicegah dan dikendalikan, prevalensinya semakin meningkat. Nelayan, sebagai kelompok rentan, juga terkena dampak. Kondisi ini ditandai dengan tekanan darah tinggi berkelanjutan, meningkatkan risiko berbagai penyakit serius seperti jantung, stroke, dan komplikasi lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku dan persepsi dengan kepatuhan minum obat hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Palmatak pada tahun 2023. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan analisis korelatif menggunakan desain cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 76 nelayan yang menderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Palmatak. Hasil analisis statistik menggunakan spearman rank menunjukkan terdapat hubungan antara perilaku dengan kepatuhan minum obat hipertensi pada nelayan p-value sebesar 0,013 . <0,. Selain itu, penelitian ini juga menemukan terdapat hubungan antara persepsi dengan kepatuhan minum obat pada nelayan di wilayah kerja Puskesmas Palmatak p-value sebesar 0,000 . <0,. Hasil ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan komprehensif yang mencakup edukasi dan peningkatan kesadaran untuk memastikan persepsi yang tepat mengenai pengobatan. Kesimpulannya, penelitian ini menyimpulkan bahwa baik perilaku maupun persepsi memiliki dampak terhadap tingkat kepatuhan minum obat hipertensi pada nelayan di wilayah kerja Puskesmas Palmatak. Kata kunci: Hipertensi. Nelayan. Perilaku. Persepsi Abstract Hypertension is a major public health problem worldwide, and although it can be prevented and controlled, its prevalence is increasing. Fishermen, as a vulnerable group, are also affected. This condition, characterized by persistent high blood pressure, increases the risk of various serious diseases such as heart disease, stroke and other complications. This study aims to determine the relationship between behavior and perceptions with adherence to taking hypertension medication in the working area of the Palmatak Health Center in 2023. The research method used is quantitative research with a correlative analysis approach using a cross-sectional design. The research sample consisted of 76 fishermen who suffer from hypertension in the working area of the Palmatak Health Center. The results of statistical analysis using spearman rank showed that there was a relationship between behavior and Jurnal Keperawatan STIkes Hang Tuah Tanjungpinang Volume 15 No. adherence to taking hypertension medication in fishermen with a p-value of 0. <0. In addition, this study also found that there was a relationship between perception and medication adherence among fishermen in the working area of the Palmatak Health Center with a p-value of 0. <0. These results underscore the importance of a comprehensive approach that includes education and awareness raising to ensure the correct perception of treatment. In conclusion, this study concluded that both behavior and perceptions have an impact on the level of adherence to hypertension medication among fishermen in the working area of the Palmatak Health Center. Keywords: Hypertension. Fishermen Behavior. Perception PENDAHULUAN Hipertensi adalah masalah kesehatan masyarakat utama di seluruh dunia, dan meskipun dapat dicegah dan dikendalikan, prevalensinya semakin meningkat. Hipertensi menempati urutan pertama diantara penyebab kematian yang dapat dicegah di seluruh dunia. Jumlah pasien dengan hipertensi terus meningkat di negara berkembang dan kurang berkembang. Sementara kesadaran tentang hipertensi dan pengobatan dan kontrol relatif rendah di seluruh dunia dan ada perbadaan yang siginfikan antar negara (Boratas & Kilic, 2. Meningkatkan pengetahuan penderita hipertensi mengenai hipertensi dapat membantu mengurangi angka kejadian hipertensi di Indonesia. Pengetahuan kesehatan mempengaruhi perilaku penderita, yang pada gilirannya berdampak pada meningkatnya indikator kesehatan masyarakat. Faktor predisposisi, termasuk pengetahuan dan sikap mengenai hipertensi, merupakan faktor penentu perubahan perilaku kesehatan. Pengetahuan individu mengenai hipertensi dapat mempengaruhi kepatuhan minum obat, sehingga semakin tinggi pengetahuan, semakin tinggi keinginan untuk patuh minum obat (Karmitasi, 2. Indonesia adalah negara maritim dengan sekitar 95. 000 km garis pantai dan ribuan pulau yang tersebar di seluruh wilayahnya, sektor perikanan dan kelautan memainkan peran penting dalam perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Namun, kehidupan nelayan di Indonesia seringkali dipengaruhi oleh berbagai tantangan, seperti kemiskinan, kurangnya akses ke pelayanan kesehatan, dan masalah kesehatan yang mempengaruhi produktivitas dan kualitas hidup mereka. Nelayan adalah salah satu kelompok masyarakat yang rentan terhadap masalah kesehatan, termasuk penyakit hipertensi. Hipertensi adalah kondisi kesehatan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi yang terus menerus, dan dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan komplikasi kesehatan lainnya. Pengobatan hipertensi seringkali memerlukan penggunaan obat-obatan untuk menurunkan tekanan darah, namun kepatuhan minum obat pada nelayan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk perilaku dan persepsi mereka. Nelayan memainkan peran penting dalam perekonomian dan keberlanjutan Indonesia. Namun, sebagai kelompok yang rentan terhadap penyakit, kesehatan nelayan seringkali menjadi perhatian yang serius. Penyakit hipertensi, sebagai salah satu masalah kesehatan yang umum pada nelayan, dapat mempengaruhi produktivitas dan kualitas hidup mereka. Salah satu faktor yang mempengaruhi pengobatan hipertensi pada nelayan adalah perilaku dan kepatuhan mereka dalam minum obat. Penelitian terbaru yang dilakukan pada tahun 2022 menunjukkan bahwa hanya sekitar 40% nelayan di Indonesia yang patuh dalam minum obat hipertensi secara teratur. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan nelayan dalam minum obat meliputi kurangnya pemahaman tentang pentingnya Jurnal Keperawatan STIkes Hang Tuah Tanjungpinang Volume 15 No. pengobatan, persepsi negatif tentang obat-obatan, serta kurangnya dukungan sosial dan akses ke layanan kesehatan (Kurniawati, et. al, 2. Perilaku nelayan juga berperan penting dalam kepatuhan minum obat hipertensi. Sebuah penelitian pada tahun 2020 menemukan bahwa perilaku sehari-hari, seperti pola makan yang tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik, dapat mempengaruhi kontrol hipertensi pada nelayan. Nelayan yang memiliki perilaku sehat cenderung memiliki kontrol hipertensi yang lebih baik dan lebih patuh dalam minum obat (Sitorus, et. al, 2. Upaya untuk meningkatkan kepatuhan nelayan dalam minum obat hipertensi perlu dilakukan. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah pendekatan yang melibatkan keluarga nelayan dan dukungan sosial dalam pengobatan. Selain itu, edukasi kesehatan dan perubahan perilaku yang berfokus pada pola makan dan aktivitas fisik juga dapat membantu meningkatkan kepatuhan nelayan dalam minum obat hipertensi (Kurniawati, et. al, 2. Pada tahun 2019, sebuah studi yang dilakukan di wilayah pesisir Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi pada nelayan cukup tinggi, mencapai 52,2%. Faktor-faktor risiko yang mempengaruhi hipertensi pada nelayan meliputi faktor usia, indeks massa tubuh (IMT), dan konsumsi garam yang tinggi (Nasution, et. al, 2. Selain itu, kepatuhan minum obat pada nelayan juga menjadi masalah yang perlu diperhatikan. Sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2020 menunjukkan bahwa hanya sekitar 50% nelayan yang patuh dalam mengonsumsi obat hipertensi yang diresepkan oleh dokter. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan minum obat pada nelayan meliputi kurangnya pengetahuan tentang kondisi kesehatan mereka, kesulitan dalam mengakses pelayanan kesehatan, dan persepsi negatif terhadap obat-obatan (Wibowo, 2. Namun, beberapa upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan minum obat pada nelayan. Sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2020 menunjukkan bahwa edukasi kesehatan yang diberikan kepada nelayan dapat meningkatkan pengetahuan mereka tentang hipertensi dan kepatuhan minum obat. Selain itu, dukungan keluarga juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan kepatuhan minum obat hipertensi pada nelayan (Rusli, 2. Menurut data yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Indonesia pada tahun 2021, jumlah penderita hipertensi di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2018, terdapat sekitar 17,9 juta penderita hipertensi di Indonesia. Jumlah ini meningkat menjadi sekitar 19,3 juta pada tahun 2019, dan meningkat lagi menjadi sekitar 20,4 juta pada tahun 2020 (Kementerian Kesehatan RI, 2. Data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Indonesia pada tahun 2021 ini menunjukkan bahwa hipertensi merupakan masalah kesehatan yang cukup serius di Indonesia dan perlu mendapatkan perhatian yang serius dari semua pihak. Upaya-upaya untuk mencegah dan mengatasi hipertensi di Indonesia perlu terus ditingkatkan, termasuk upaya untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang hipertensi, serta upaya-upaya untuk meningkatkan akses dan pelayanan kesehatan bagi penderita hipertensi. Kepulauan Anambas adalah sebuah kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau yang terdiri dari pulau-pulau kecil di lepas pantai timur Sumatera. Sebagian besar penduduk di Kepulauan Anambas merupakan Jurnal Keperawatan STIkes Hang Tuah Tanjungpinang Volume 15 No. nelayan dan petani, dengan sektor perikanan sebagai salah satu sektor utama dalam perekonomian daerah tersebut. Menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Kepulauan Anambas pada tahun 2021, sektor perikanan di Kabupaten Kepulauan Anambas memberikan kontribusi sebesar 23,55% terhadap PDRB (Produk Domestik Regional Brut. daerah tersebut pada tahun 2020. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya sektor perikanan dalam perekonomian daerah Kepulauan Anambas, serta menunjukkan bahwa nelayan merupakan kelompok yang sangat penting dalam sektor tersebut. Sebuah studi yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2018 menunjukkan bahwa Provinsi Kepulauan Riau, termasuk Kepulauan Anambas, memiliki prevalensi hipertensi sebesar 30,1%. Menurut data yang dikeluarkan oleh puskesmas Palmatak, penyakit pada sistem peredaran darah di wilayah kekrja puskesmas Palmatak pada tahun 2021 tercatat 549 kasus pada penyakit hipertensi, dan pada tahun 2022 tercatat 640 kasus pada penyakit hipertensi Prevalensi hipertensi yang cukup tinggi ini menunjukkan pentingnya upaya pencegahan dan pengendalian hipertensi di Kepulauan Anambas, terutama pada kelompok nelayan yang cenderung memiliki risiko lebih tinggi terkena hipertensi. Berdasarkan uraian latar belakang dan studi-studi terbaru menunjukkan bahwa perilaku dan persepsi nelayan sangat mempengaruhi kepatuhan mereka dalam minum obat hipertensi, oleh karena itu peneliti berkeinginan untuk menemukan atau menunjukkan perilaku dan persepsi nelayan dalam mengkonsumsi obat hipertensi berkaitan atau berhubungan erat dengan kepatuhan mereka dalam mengomsumsi obat hipertensi, dengan judul penelitian yang akan diangkat berjudul: AuHubungan Perilaku dan Persepsi Dengan Kepatuhan Minum Obat Hipertensi Pada Nelayan di Wilayah Kerja Puskesmas PalmatakAy. METODE Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan metode korelatif analitik dengan pendekatan cross sectional study. Lokasi dan waktu penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Palmatak pada bulan Desember 2022 sampai dengan Januari 2023. Populasi penelitian ini adalah seluruh nelayan penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Palmatak sebanyak 76 orang. Jumlah Sampel dalam penelitian ini seluruh nelayan penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Palmatak sebanyak 76 orang. Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan metode nonprobability sampling dengan teknik total sampling. Instrumen pada penelitian ini menggunakan lembar kuesioner. Pada penelitian ini variabel yang diteliti adalah perilaku dan persepsi sebagai variabel independen dan kepatuhan minum obat hipertensi sebagai variabel dependen. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL UNIVARIAT Tabel 1 Distribusi Karakteristik Respoden Berdasarkan Usia. Pendidikan Terakhir dan Lama Menderita Hipertensi Karakteristik 32,40 51,30 14,50 Usia Dewasa . Ae 44 Tahu. Pra Lansia . Ae 59 Tahu. Lansia (Ou 60 Tahu. Pendidikan Terakhir Jurnal Keperawatan STIkes Hang Tuah Tanjungpinang Volume 15 No. Tidak Sekolah SLTP SLTA Lama Menderita Hipertensi Ou 2 Tahun < 2 Tahun 36,80 47,40 11,80 3,90 57,90 42,10 Total : Sumber: Data Primer, 2023 Berdasarkan tabel 1 didapatkan bahwa sebagian besar . ,30%) nelayan di wilayah kerja Puskesmas Palmatak yang menjadi responden dalam penelitian ini berada pada kelompok pra lansia . Ae 59 Ditinjau dari tingkat Pendidikan terakhir, sebagian besar . ,40%) responden memiliki tingkat pendidikan sekolah dasar (SD) dan diikuti oleh 36,80% tidak sekolah. Berdasarkan waktu atau lamanya menderita hipertensi, sebagian besar . ,90%) nelayan di wilayah kerja Puskesmas Palmatak yang menjadi responden dalam penelitian ini sudah menderita hipertensi Ou 2 tahun. Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Perilaku Pada Nelayan di Wilayah Kerja Puskesmas Palmatak Tahun 2023 Perilaku Baik Buruk 44,70 55,30 Sumber: Data Primer, 2023 Berdasarkan tabel didapatkan bahwa sebagian besar . ,30%) nelayan di wilayah kerja Puskesmas Palmatak yang menjadi responden dalam penelitian ini memiliki perilaku yang baik. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Persepsi Pada Nelayan di Wilayah Kerja Puskesmas Palmatak Tahun 2023 Persepsi Positif Negatif 52,60 47,40 Sumber: Data Primer, 2023 Berdasarkan tabel 3 didapatkan bahwa sebagian besar . ,60%) nelayan di wilayah kerja Puskesmas Palmatak yang menjadi responden dalam penelitian ini memiliki perilaku persepsi yang positif. Tabel 4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kepatuhan Minum Obat Hipertensi Pada Nelayan di Wilayah Kerja Puskesmas Palmatak Tahun 2023 Kepatuhan Patuh Tidak Patuh Total : Sumber: Data Primer, 2023 53,90 46,10 Jurnal Keperawatan STIkes Hang Tuah Tanjungpinang Volume 15 No. Berdasarkan tabel 4 didapatkan bahwa sebagian besar . ,90%) nelayan di wilayah kerja Puskesmas Palmatak yang menjadi responden dalam penelitian ini patuh dalam minum obat hipertensi. HASIL BIVARIAT Tabel 5 Hubungan Perilaku Dengan Kepatuhan Minum Obat Hipertensi Pada Nelayan di Wilayah Kerja Puskesmas Palmatak Tahun 2023 Kepatuhan Minum Obat Hipertensi Koefisien PKorelasi Patuh Tidak Patuh Total Value Perilaku Baik Buruk Total 0,284 0,013 Sumber: Data Primer, 2023 Berdasarkan tabel 4. 5 diatas, dapat diketahui, bahwa dari 42 responden yang memiliki perilaku baik, sebanyak 18 responden . ,7%) patuh dan 14 responden . ,3%) tidak patuh minum obat hipertensi. Dari 34 responden yang memiliki perilaku buruk, sebanyak 13 responden . ,2%) patuh dan 21 responden . ,8%) tidak patuh minum obat hipertensi. Hasil uji statistik dengan menggunakan uji spearman rank diperoleh koefisien korelasi bernilai positif sebesar 0,284, yang bermakna memiliki hubungan antar variabel yang searah dengan kekuatan hubungan cukup . ,26-0,50: hubungan cuku. , dan diperoleh p value 0,013 . < 0,. , dengan demikian Ho ditolak. Maka dapat disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara perilaku dengan kepatuhan minum obat pada nelayan di wilayah kerja Puskesmas Palmatak. Tabel 6 Hubungan Persepsi Dengan Kepatuhan Minum Obat Hipertensi Pada Nelayan di Wilayah Kerja Puskesmas Palmatak Tahun 2023 Persepsi Patuh Tidak Patuh Total Koefisien Korelasi Value 0,932 0,000 Positif Negatif Total : Sumber: Data Primer, 2023 Berdasarkan tabel 6 didapatkan bahwa dari 40 responden yang memiliki persepsi positif, sebanyak 29 responden . ,5%) patuh dan 11 responden . ,5%) tidak patuh minum obat hipertensi. Dari 36 responden yang memiliki persepsi negatif, sebanyak 12 responden . ,3%) patuh dan 24 responden . ,7%) tidak patuh minum obat hipertensi. Hasil uji statistik dengan menggunakan uji spearman rank, diperoleh koefisien korelasi bernilia positif sebesar 0,932, yang bermakna memiliki hubungan yang searah antar variabel dengan kekuatan hubungan cukup p value 0,000 . < 0,. , dengan demikian H0 ditolak. Maka dapat disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara persepsi dengan kepatuhan minum obat hipertensi pada nelayan di wilayah kerja Puskesmas Palmatak. Jurnal Keperawatan STIkes Hang Tuah Tanjungpinang Volume 15 No. PEMBAHASAN KARAKTERISTIK RESPONDEN Hasil penelitian bertujuan untuk mengetahui distribusi responden berdasarkan usia, pendidikan trakhir dan lama menderita hipertensi di wilayah kerja puskesmas palmatak tahun 2023. Hasil penelitian menunjukkan, responden berdasarkan usia lebih banyak pada pra lansia dengan rentang usia 45-59 tahun sebesar 51,30%. Menurut Heriziana . , usia mempengaruhi sistem di dalam tubuh antara lain seperti elastisitas pembuluh darah yang berkurang dan fungsi ginjal sebagai penyeimbang tekanan darah akan menurun. Insiden hipertensi yang makin meningkat dengan bertambahnya usia disebabkan oleh perubahan alamiah dalam tubuh yang mempengaruhi jantung, pembuluh darah dan hormon. Arteri akan kehilangan elastisitas atau kelenturan sehingga pembuluh darah akan berangsurangsur menyempit dan menjadi kaku. Di samping itu, pada usia lanjut sensitivitas pengatur tekanan darah yaitu refleks baroreseptor mulai berkurang. Hal ini mengakibatkan tekanan darah meningkat seiring dengan bertambahnya usia (Lilies, 2. Berdasarkan tingkat pendidikan terakhir lebih banyak tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD) sebesar 47,40%. Dalam penelitian ini pasien penderita hipertensi mayoritas memiliki tingkat pendidikan Proses pendidikan dapat melibatkan serangkaian aktivitas, maka seorang individu akan memperoleh kepatuhan, pemahaman dan wawasan yang lebih baik termasuk dalam hal kepatuhan dan sikap atas informasi obat (Larasti, 2. Risiko terserang penyakit hipertensi lebih tinggi pada pendidikan yang rendah. Hal ini dikarenakan orang yang pendidikannya rendah maka akan memiliki pengetahuan yang kurang juga terhadap kesehatan dan tentunya akan kesulitan dan lambat dalam menerima informasi, contohnya penyuluhan tentang hipertensi serta bahaya-bahaya dari hipertensi dan pencegahannya yang diberika oleh petugas sehingga berdampak pada perilaku/pola hidup sehat (Anggara, 2. Berdasarkan lama menderita hipertensi lebih banyak Ou2 tahun sebesar 57,90%. Penelitian lain yang mendukung hasil penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Ramadona . yang menunjukkan bahwa pasien yang telah mengalami hipertensi selama satu hingga lima tahun cenderung lebih mematuhi proses dalam mengonsumsi obat karena adanya rasa ingin tahun yang besar dan keinginan untuk sembuh besar, sedangkan pasien yang telah mengalami hipertensi lebih dari lima tahun memiliki kecenderungan kepatauhan mengomsumsi obat yang lebih buruk. Hal ini disebabkan pengalaman pasein yang lebih banyak, dimana pasien yang telah mematuhi prosess pengobatan tetapi hasil yang didapatkan tidak memuaskan, sehingga pasien cenderung pasrah dan tidak mematuhi proses pengobatan yang dijalani DISTRIBUSI RESPONDEN BERDASARKAN PERILAKU Hasil penelitian bertujuan untuk mengetahui distribusi responden berdasarkan perilaku pasien penderit hipertensi dalam kapatuhan minum obat hipertensi. Hasil penelitian menunjukkan responde lebih banyak perilaku baik sebesar 44,70%. Kepatuhan pengobatan merupakan faktor penting dalam penatalaksanaan perawatan bagi penderita hipertensi. Masalah ketidapatahuan sering dijumpai dalam pengobatan penyakit yang memerlukan pengobatan jangka panjang seperti hipertensi. Kepatuhan dalam pengobatan dapat diartikan sebagai perilaku pasien dalam mentaati semua nasehat dan petunjuk yang dianjurkan tenaga kesehatan. Kepatuhan didefinisikan sebagai perilaku positif penderita dalam mencapai tujuan terapi (Degresi, 2. Jurnal Keperawatan STIkes Hang Tuah Tanjungpinang Volume 15 No. DISTRIBUSI FREKUENSI BERDASARKAN PERSEPSI Hasil penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi responden berdasarkan persepsi. Hasil penelitian menunjukkan lebih banyak responden berpersepsi positif sebesar 52,60%. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berpersepsi baik sebesar 76,3%. Penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi . , persepsi penyakit hipertensi mendapat hasil positif yang lebih banyak yaitu 79,66%. Semakin pasien menyadari bahwa penyaktinya serius dan parah, semakin besar kebutuhan untuk tindakan pencagahan. Pasien akan merubah perilakunya tergantung dari resiko penyakitnya, sehingga menimbulkan persepsi yang positif terhadap penyakitnya (Nurlaila, 2. Kepatuhan dalam mengonsumsi obat seringkali disebabkan oleh beberapa pasien yang memiliki kebiasaan minum obat yang tidak teratur, pasien menghentikan pengobatannya sendiri lantaran bosan meminum obat, tidak memiliki keluhan tekanan darah tinggi atau merasa telah sembuh. Lebih lanjut, anggapan bahwa persepsi tekanan darah tinggi atau merasa telah sembuh. Lebih lanjut, anggapan bahwa persepsi tekanan darah tinggi tidak dapat disembuhkan dengan alasan masalah keuangan atau biaya yang tidak mencukupi, dan alasan kepatuhan terlalu kompleks, kepribadain umur, dukungan sosial yang dan masalah psikologis (Ayucheceria, 2. DISTRIBUSI FREKUENSI BERDASARKAN KEPATUHAN MINUM OBAT HIPERTENSI Hasil penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi responden berdasarkan kepatuhan minum obat hipertensi. Dari hasil penelitian responden lebih banyak patuh dalam kepatuhan minum obat hipertensi sebesar 53,90%. Tingginya tingkat kepatuhan pasien responden didasari dari program Upaya Kesahatan Masyarakat (UKM) yang diprogramkan di wilayah kerja Puskemas Palmatak melalui program edukasi lansia, dan posyandu lansia yang dilakukan rutin setiap bulannya, sehingga memudahkan pasien dalam menerima pelayanan kesehatan tanpa harus berkunjung di pusat pelayanan kesehatan Masyarakat (Puskema. Penelitian yang dilakukan oleh Rizki Maryanti . , menunjukkan sebagain besar responden patuh dalam meminum obat hipertensi sebesar 92,6%. Kepatuhan merupakan selaku sikap guna menaati saran-saran dokter ataupun prosedur dari dokter tentang pemakain obat, yang tadinya didahuli oleh proses konsultasi antara penderita . eluarga penderita selaku orang kunci dalam kehidupan penderit. dengan dokter selaku penyedia jasa kedokteran (Lailatushifah, 2. Kepatuahn penderita dalam memakai obat mempengaruhi terhadap keberhasilan pengobatan penyembuhan. Terdapatnya ketidakpatuhan penderita hipertensi dalam minum obat bisa membagikan dampak negatif yang sangat besar, semacam timbulnya komplikasi (Muhlis & Jihan Prameswari, 2. HUBUNGAN PERILAKU DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT HIPERTENSI Hasil penelitian bertujuan unutk mengetahui hubungan perilaku dengan kepatuhan minum obat hipertensi pada nelayan di Wilayah Kerja Puskesmas Palmatak. Dari hasil uji analisis statiska menggunakan uji spearman rank diperoleh p-value 0,013 . <0,. , maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara perilaku dengan kepatuhan minum obat hipertensi pada nelayan di wilayah kerja Puskesmas Palmatak tahun 2023. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wahyudi . , hasil penelitian ini menghasilkan p-value sebesar 0,000 . <0,. , perihal ini menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara perilaku dengan kepatuhan minum obat Hipertensi merupakan penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan, namun bisa dikontrol. Hipertensi dapat dikontrol dengan cara pemberian obat antihipertensi. Terapi hipertensi merupakan Jurnal Keperawatan STIkes Hang Tuah Tanjungpinang Volume 15 No. pengobatan jangka panjang, hal ini memerlukan peran perilaku individu untuk patuh meminum obatnya (Lewanczuk, 2. Kepatuhan minum obat dapat memiliki dampatk besar terhadap kualitas dan lama hidup, hasil kesehatan, dan biaya perawatan kesehatan seseorang (Kim, 2. Perilaku ditetapkan oleh kepercayaan orang mengenai konsekuensi tersebut. Perilaku sebagai aspek yang sangat kokok, sebab dengan perilaku mau sembuh serta kemauan guna melindungi keadan tubuh senantiasa sehat hendak mempengaruhi terhadap pengidap guna mengedalikan diri dalam berperilaku sehat (Irianty & Meylin, 2. HUBUNGAN PERSEPSI DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT HIPERTENSI Hasil penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi dengan kepatuhan minum obat hipertesni pada nelayan di wilayah kerja Puskesmas Palmatak. Dari hasil uji analisis statiska menggunakan uji spearman rank diperoleh p-value 0,000 . <0,. , maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara persepsi dengan kepatuhan minum obat hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Palmatak tahun 2023. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wahyuni . , hasil penelitian diperoleh p-value sebesar 0,004 . <0,. , perihal ini menunjukkan bahwa ada hubungan persepsi dengan kepatuhan minum obat pada pasein hipertensi. Responden dengan persepsi yang positif dapat menjaga kepatuhan dalam minum obat antihipertensi, dan sesuai dengan teori yang disampaikan bahwa persepsi mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku seseorang (Notoatmojo, 2. Persepsi yang benar akan meningkatkan kualitas kesadaran seseorang dalam berperilaku. Pasien yang memiliki persepsi positif memiliki kemungkinan patuh dalam pengobatan sebesar 21,41 kali besar daripada pasien yang memiliki persepsi negatif (Pasek, 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dengan mengacu kepada tujuan khusus dan hipotesis, maka dapat diambil kesimpulan sebagian besar . ,30%) responden berada pada kelompok usia pra lansia . Ae 59 tahu. Ditinjau dari tingkat pendidikan terakhir, sebagian besar . ,40%) responden memiliki tingkat pendidikan sekolah dasar (SD) diikuti oleh 36,80% tidak sekolah. Sebagian besar . ,90%) nelayan di wilayah kerja Puskesmas Palmatak sudah menderita hipertensi Ou 2 tahun. Sebagian besar . ,30%) nelayan di wilayah kerja Puskesmas Palmatak memiliki perilaku yang baik terkait penyakit hipertensi. Sebagian besar . ,60%) nelayan di wilayah kerja Puskesmas Palmatak memiliki persepsi yang positif terhadap penyakit hipertensi. Hasil uji analisis statistik diperoleh p-value sebesar 0,013 . <0,. , maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku dengan kepatuhan minum obat pada nelayan di wilayah kerja Puskesmas Palmatak tahun 2023. Hasil uji analisis statistik diperolah p-value sebesar 0,000 . <0,. , maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi dengan kepatuhan minum obat pada nelayan di wilayah kerja Puskesmas Palmatak tahun 2023. Jurnal Keperawatan STIkes Hang Tuah Tanjungpinang Volume 15 No. DAFTAR PUSTAKA