JURNAL AKADEMI FARMASI PRAYOGA, 10. , 2025 Analisis Penggunaan Obat Off-Label Antikonvulsan Pada Pasien Non-Epilepsi Di RSUD Kabupaten Pekalongan Musa Fitri Fatkhiya *. Irda Rizky Wiharti. Wiwik Indanah. Reza Divia Fakultas Farmasi. Universitas Pekalongan. Pekalongan. Indonesia *E-mail : musafitri29@email. Diterima: Agustus 2025 Direvisi: Oktober 2025 Disetujui: Oktober 2025 Abstrak Antikonvulsan tidak hanya digunakan untuk terapi epilepsi, tetapi juga banyak diresepkan secara off-label pada pasien non-epilepsi seperti gangguan kecemasan, nyeri neuropatik, fibromyalgia, dan insomnia. Penggunaan di luar indikasi ini perlu dikaji dari segi rasionalitas dan kesesuaiannya dengan pedoman klinis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan obat antikonvulsan secara off-label pada pasien non-epilepsi. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif retrospektif dengan pengumpulan data rekam medis pasien non-epilepsi yang menerima terapi antikonvulsan selama periode JanuariAeDesember 2024. Data meliputi usia, jenis kelamin, diagnosis, jenis obat, dosis, dan lama penggunaan, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 4 diagnosis utama penggunaan antikonvulsan pada pasien gangguan kecemasan, nyeri neuropaty, fibromyalgia dan insomnia. Pasien gangguan kecemasan menunjukkan penggunaan antikonvulsan tertinggi . ,7%) dengan dominasi benzodiazepin . lprazolam, diazepam, lorazepam, clobaza. Nyeri neuropatik ditangani dengan pregabalin . %), sedangkan fibromyalgia dengan gabapentin dan kombinasi diazepam. Pada insomnia, benzodiazepin kembali mendominasi . ,4%) dengan durasi terapi bervariasi, bahkan lebih dari 30 hari. Penggunaan antikonvulsan off-label pada pasien non-epilepsi masih tinggi, terutama pada gangguan kecemasan dan Meskipun gabapentinoid telah digunakan secara tepat pada nyeri neuropatik dan fibromyalgia, penggunaan benzodiazepin perlu diawasi ketat karena risiko toleransi dan ketergantungan. Diperlukan intervensi farmasi klinik untuk memastikan penggunaan obat yang aman, efektif, dan rasional. Kata Kunci: Gangguan Kecemasan. Nyeri neuropatik. Fibromyalgia. Insomnia Abstract Anticonvulsants are not limited to epilepsy management but are increasingly prescribed off-label for non-epileptic conditions such as anxiety disorders, neuropathic pain, fibromyalgia, and insomnia. The rationale and safety of such use require critical evaluation to ensure evidence-based and rational prescribing. This study aimed to analyze the pattern and rationality of off-label anticonvulsant use among non-epileptic patients based on demographic characteristics, drug types, dosages, and duration of therapy. A descriptive-retrospective study was conducted using medical records of non-epileptic patients who received anticonvulsant therapy between January and December Data collected included patient age, sex, diagnosis, drug name, dosage, and duration of treatment. The data were analyzed descriptively and compared to current clinical guidelines. Among the four diagnostic groups, anxiety disorders showed the highest rate of anticonvulsant use . 7%), predominantly benzodiazepines such as alprazolam, diazepam, lorazepam, and clobazam. Neuropathic pain was exclusively treated with pregabalin, while fibromyalgia therapy involved gabapentin and diazepam in varying combinations. In insomnia, benzodiazepines were also the most frequently prescribed drugs . 4%), with treatment durations often exceeding 30 days. The offlabel use of anticonvulsants in non-epileptic patients remains prevalent, particularly for anxiety and insomnia. Although gabapentinoids were appropriately used for neuropathic pain and fibromyalgia, benzodiazepine use requires closer monitoring due to the risks of tolerance and dependence. Strengthening clinical pharmacy involvement is essential to ensure safe, effective, and rational medication use in non-epileptic conditions. Keywords: Anxiety. Neuropathic pain. Fibromyalgia. Insomnia Analisis Penggunaan Obat Off-Label Antikonvulsan Pada Pasien Non-Epilepsi Di RSUD Kabupaten Pekalongan PENDAHULUAN Obat antikonvulsan atau yang dikenal juga sebagai antiepileptik merupakan jenis obat yang digunakan untuk mengendalikan atau mencegah kejang epilepsi. Epilepsi adalah gangguan saraf yang ditandai oleh kejang yang berulang akibat aktivitas listrik yang abnormal di otak. Obat-obatan ini bekerja dengan mengatur aktivitas listrik di otak untuk mengurangi kejang atau mencegah terjadinya kejang (Yang et al. Obat kelompok obat yang pada awalnya dikembangkan untuk mengontrol kejang pada pasien dengan epilepsi. Seiring dengan berkembangnya ilmu kedokteran dan farmakologi, ditemukan bahwa beberapa antikonvulsan memiliki mekanisme kerja yang juga dapat memengaruhi jalur neurologis lainnya, seperti yang berkaitan dengan nyeri, suasana hati, dan kecemasan. Hal ini membuka peluang bagi penggunaan antikonvulsan dalam menangani kondisi non-epilepsi, kecemasan, nyeri neuropatik, migrain, gangguan bipolar, serta gangguan tidur (Yuen. Hui. , & Kwan. Penggunaan obat untuk indikasi yang tidak secara resmi disetujui oleh Badan Pengawas Obat, seperti BPOM atau FDA, dikenal dengan istilah off-label. Dalam praktik klinis, penggunaan off-label sering kali dianggap sebagai bagian wajar dari penanganan pasien, terutama jika pilihan terapi yang disetujui terbatas atau jika obat tersebut telah terbukti secara empiris memberi manfaat pada kondisi tertentu. Contohnya, gabapentin dan pregabalin yang merupakan antikonvulsan, saat ini banyak digunakan untuk nyeri neuropatik dan gangguan kecemasan meskipun tidak semua indikasi tersebut terdaftar secara resmi pada label obat (Goodman. , & Brett, 2. Namun, penggunaan off-label juga memiliki implikasi serius, terutama terkait dengan keamanan, efektivitas, serta tanggung jawab etis dan hukum. Penggunaan tanpa dukungan bukti ilmiah yang kuat atau tanpa Fatkhiya M F pemantauan yang ketat dapat meningkatkan risiko efek samping, interaksi obat, serta penggunaan yang tidak rasional. Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan evaluasi terhadap penggunaan off-label, khususnya di instalasi rawat jalan di mana pengawasan terhadap penggunaan obat mungkin tidak seketat di instalasi rawat inap (Eguale et al, 2. Penelitian terdahulu di Indonesia yang secara spesifik mengkaji penggunaan offlabel antikonvulsan pada pasien non-epilepsi masih terbatas. Sebagian besar kajian fokus pada satu obat atau satu kondisi saja, seperti penggunaan gabapentin untuk nyeri neuropatik atau pregabalin untuk gangguan cemas umum. Misalnya, studi oleh Putri et . menunjukkan bahwa 65% penggunaan gabapentin di salah satu RS swasta di Jakarta adalah untuk indikasi nyeri, bukan epilepsi. Sementara itu, penelitian oleh Wulandari et al. mengidentifikasi adanya ketidaksesuaian penggunaan pregabalin pada pasien dengan gangguan kecemasan yang tidak tercantum dalam label BPOM, namun lazim dilakukan oleh dokter spesialis. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana penggunaan offlabel obat antikonvulsan terjadi di instalasi kesesuaiannya dengan bukti klinis yang Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk peningkatan mendukung penyusunan kebijakan farmasi klinik di fasilitas pelayanan kesehatan. METODE Metode Penelitian Penelitian retrospektif deskriptif. Data dikumpulkan dari rekam medis pasien di instalasi rawat jalan rumah sakit untuk menganalisis pola penggunaan off-label obat antikonvulsan pada pasien non-epilepsi. Jurnal Akademi Farmasi Prayoga. Vol 10 No 2, 2025 Analisis Penggunaan Obat Off-Label Antikonvulsan Pada Pasien Non-Epilepsi Di RSUD Kabupaten Pekalongan Fatkhiya M F Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Instalasi Rawat Jalan RSUD Kraton selama periode JanuariDesember 2024. Pengambilan dan analisis data dilakukan pada bulan Agustus 2025. Populasi dan Sampel Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien non-epilepsi yang mendapatkan resep obat antikonvulsan di instalasi rawat jalan selama periode studi. Teknik Sampling yang digunakan pada penelitian ini dengan menggunakan Total sampling terhadap seluruh data pasien yang sesuai dengan Sampel penelitian yaitu pasien non epilepsi yang menerima obat golongan antikonvulsan yang memenuhi kriteri Kriteria Inklusi dan Eksklusi Kriteria Inklusi: Pasien rawat jalan yang menerima obat Pasien dengan diagnosis utama selain Tersedia data lengkap dalam rekam medis . iagnosis, terapi, dan identitas Kriteria Eksklusi: Pasien dengan diagnosis epilepsi. Data pasien tidak lengkap atau tidak Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa data rekam medis dan salinan resep pasien. Sumber data penelitian yaitu Instalasi Rekam Medis dan Instalasi Farmasi Rumah Saki Definisi Operasional Variabel Obat Antikonvulsan Definisi Operasional Skala Obat yang diklasifikasikan sebagai antiepileptik menurut Nominal WHO/BNF Penggunaan Label Off- Penggunaan obat untuk indikasi yang tidak tercantum dalam Nominal informasi resmi (BPOM/FDA) Pasien Epilepsi Non- Pasien dengan diagnosis selain epilepsi yang mendapat Nominal Teknik Pengumpulan Data Data dikumpulkan melalui penelusuran dan pencatatan informasi dari dokumen rekam medis dan resep pasien yang memenuhi kriteria inklusi, kemudian dicatat ke dalam lembar kerja yang telah disusun. Teknik Analisis Data Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil dianalisis menggunakan persentase dan distribusi frekuensi, untuk mengetahui jenis antikonvulsan yang paling sering digunakan secara off-label. Indikasi non- epilepsi yang menjadi dasar pemberian, kelompok usia dan jenis kelamin terbanyak HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan Penelitian yang dilakukan pada bulan Januari-Desember 2024 menunjukkan bahwa penggunaan antikonvulsan diberikan pada pasien dengan diagnosa gangguan kecemasan. Nyeri Neuropatik. Fibromyalgia dan Insomnia. Jurnal Akademi Farmasi Prayoga. Vol 10 No 2, 2025 Analisis Penggunaan Obat Off-Label Antikonvulsan Pada Pasien Non-Epilepsi Di RSUD Kabupaten Pekalongan Fatkhiya M F Table 1. Penggunaan Antikonvulsan Pada Pasien gangguan kecemasan Karakteristik Jumlah Persentase (%) Laki-laki Perempuan Usia <45 tahun >45 tahun Terapi. Dosis dan Diazepam 1x5 mg, 30 hari Durasi Diazepam 2x5 mg, 30 hari Alprazolam 1x0,5 mg, 3 Alprazolam 1x0,5 mg, 7 Alprazolam 1x0,5 mg, 30 Alprazolam 1x1 mg, 7 hari Jenis kelamin Alprazolam 2x0,5 mg, 14 Clobazam 1x10 mg, 7 hari Lorazepam 1x1 mg, 30 hari Lorazepam 1x2 mg, 7 hari Diazepam 1x5 mg, 10 hari Alprazolam 1x0,25 mg, 8 Total Berdasarkan hasil penelitian terdapat 21 kecemasan yang menerima Golongan Benzodiazepin Diazepam. Aprazolam. Lorazepam dan Clobazam. Obat antikonvulsan melalui modulasi reseptor GABA-A yang akan menghasilkan efek utamanya yaitu ansiolitik dan sedatif hipnotik (Sanabria et al. , 2. Pedoman standar seperti American Psychiatric Association . merekomendasikan bahwa terapi lini pertama yang diberikan pada pasien dengan gangguan kecemasan adalah golongan Selective Seretonin Reuptake Inhibitor (SSRI). Seretonin Norephineprine Reuptake Inhibitor (SNRI), dan psikoterapi berbasis Penggunaan golongan obat benzodiazepin hanya disarankan untuk penggunaan jangka pendek (<4 mingg. , apabila terapi lini pertama yang diberikan tidak menunjukkan efektivitas yang baik atau tidak dapat ditoleransi (Bandelow. Michaelis & Wedekind, 2. Tingginya benzodiazepin pada pasien gangguan kecemasan mengindikasikan preferensi klinis terhadap efek cepat . apid relie. dari menimbulkan toleransi, ketergantungan, dan sindrom putus obat (Angela C. Regina. Srinivasa B. Gokarakonda. Fibi N. Attia. Penggunaan gabapentinoid seperti pregabalin atau gabapentin dapat menjadi alternatif off-label dengan bukti efektivitas penyalahgunaan (Greenblatt & Greenblatt. Dengan demikian, pada kelompok antikonvulsan belum sepenuhnya sejalan Jurnal Akademi Farmasi Prayoga. Vol 10 No 2, 2025 Analisis Penggunaan Obat Off-Label Antikonvulsan Pada Pasien Non-Epilepsi Di RSUD Kabupaten Pekalongan Fatkhiya M F dengan prinsip penggunaan rasional dan berbasis bukti, terutama karena dominasi benzodiazepin yang bukan lini utama dalam terapi jangka panjang. Table 2. Penggunaan Antikonvulsan Pada Pasien Nyeri Neuropaty Jenis kelamin Usia Terapi, dosis dan Karakteristik Jumlah Persentase (%) Laki-laki Perempuan <45 tahun >45 tahun Pregabalin 1 x 75 mg, 30 Total Pada pasien dengan nyeri neuropatik sejumlah 1 pasien didapatkan menggunakan Pregabalin dengan penggunaan sekali sehari 75 mg selama 30 hari. Penggunaan obat ini sesuai dengan rekomendasi, hal ini dikarenakan golongan gabapentinoid seperti gabapentin dan pregabalin merupakan obat lini pertama yang digunakan sebagai terapi farmakologis pada pasien dengan nyeri neuropatik, penggunaan obat ini dapat dikombinasikan bersama dengan golongan lain seperti trisiklik (TCA) dan SNRI (Fitzmaurice BC, 2. Pregabalin memiliki mekanisme kerja dengan mengikat subunit 2 dari saluran voltage gated calsium channel, sehingga dapat menghambat pelepasan neurotransmiter eksitatori seperti glutamat dan noradrenalin, apabila neurotransmiter menurunkan transmisi sinyal nyeri di sistem saraf pusat dan dapat mengurangi nyeri pada pasien dengan nyeri neuropaty (Xiao et al. Dosis pemberian pregabalin 75 mg/hari merupakan tahap awal pemberian dosis yang lazim dengan dosis yang paling rendah sebelum dilakukan titrasi secara bertahap sesuai respons pasien. Dengan demikian, penggunaan pregabalin dalam konteks nyeri neuropatik menggambarkan penggunaan antikonvulsan yang tepat secara indikasi dan mekanisme kerja. Table 3. Penggunaan Antikonvulsa Pada Pasien Fibromyalgia Karakteristik Jumlah Persentase (%) Laki-laki Perempuan Usia <45 tahun >45 tahun Terapi. Dosis dan Diazepam 2x2 mg, 3 hari Durasi Gabapentin 1x 300 mg, 30 Diazepam 2x2 mg 3 hari Gabapentin 1x100 mg, 20 Jenis kelamin Total Berdasarkan menunjukkan bahwa pasien non epilepsi yang menggunakan antikonvulsan yaitu pasien dengan diagnosa fibromyalgia dengan obat gabapentin dan diazepam, baik dalam bentuk pemberan tunggal maupun Jurnal Akademi Farmasi Prayoga. Vol 10 No 2, 2025 Analisis Penggunaan Obat Off-Label Antikonvulsan Pada Pasien Non-Epilepsi Di RSUD Kabupaten Pekalongan pemberian secara kombinasi. Fibromialgia (FM) sindrom nyeri kronik yang umum dijumpai, ditandai dengan nyeri muskuloskeletal yang tersebar luas disertai hiperalgesia. Gejala utama FM adalah nyeri muskuloskeletal kronik yang tersebar luas di seluruh bagian Fibromialgia sering di sertai penyakit lain dalam bidang reumatologi, neurologi, dan psikologi sehingga mem bingungkan. Gejala penyerta FM yang sering dijumpai antara lain cepat lelah, insomnia, depresi, nyeri kepala, parestesia, dan irritable bowel syndrome (IBS) (Purwata, 2. Gabapentin merupakan salah satu obat dengan bukti moderat sebagai terapi farmakologis lini kedua untuk fibromyalgia, terutama untuk mengurangi nyeri kronik dan memperbaiki kualitas tidur dari pasien Fatkhiya M F (Sturlese & Vinzent, 2. Sebaliknya, ketergantungan tinggi. Menurut American College of Rheumatology/EULAR Remission Criteria Rheumatoid Arthritis . menyebutkan bahwa pengobatan dapat intervensi non-farmakologis dan terapi seperti penggunaan duloxetine, pregabalin maupun gabapentin. Oleh karena itu, penggunaan gabapentin pada penelitian ini mencerminkan praktik klinik yang cukup, memerlukan evaluasi ulang karena tidak direkomendasikan dalam jangka panjang. Table 4. Penggunaan Obat Antikonvulsan Pada Pasien Insomnia Karakteristik Laki-laki Perempuan Usia <45 tahun >45 tahun Terapi. Dosis dan Alprazolam 1x1 mg, 20 Durasi Alprazolam 1x1 mg, 15 Alprazolam 1x0,5 mg, 8 Alprazolam 1x0,5 mg, 14 Lorazepam 1x0,5 mg. Lorazepam 1x2 mg, 60 hari Lorazepam 1x2 mg, 30 hari Diazepam 2x2 mg, 7 hari Diazepam 2x2 mg, 7 hari Alprazolam 1x0,5 mg, 28 Clobazam 2x10 mg Diazepam 1x2 mg Alprazolam 2x 0,5 mg . Total Jenis kelamin Pada pasien insomnia yang terdiri dari 19 pasien menerima golongan obat Jumlah Persentase (%) benzodiazepin, yaitu alprazolam, lorazepam, diazepam, dan clobazam, dengan variasi Jurnal Akademi Farmasi Prayoga. Vol 10 No 2, 2025 Analisis Penggunaan Obat Off-Label Antikonvulsan Pada Pasien Non-Epilepsi Di RSUD Kabupaten Pekalongan dosis dan durasi 7Ae60 hari. Sebagian besar pasien berusia >45 tahun . %), kelompok yang paling rentan terhadap efek samping obat sedatif seperti gangguan kognitif, kantuk di siang hari, dan risiko jatuh (Mendra et al. , 2. Menurut American Academy of Sleep Medicine (AASM) dalam Sateia et al . , menyebutkan bahwa terapi lini pertama pada pasien insomnia kronis adalah Cognitive Behavioral Therapy for Insomnia (CBT-I), sedangkan pemberian obat secara farmakoterapi hanya diberikan bila terapi non-farmakologi yang diberikan gagal. Jika obat dibutuhkan pada konisi insomnia, maka nonbenzodiazepin . olpidem, eszopiclone, zaleplo. atau agonis melatonin . Penggunaan benzodiazepin hanya boleh digunakan jangka pendek (O4 mingg. (Ramos et al. , 2. Durasi penggunaan benzodiazepin yang cukup panjang . isalnya lorazepam 2 mg selama 60 har. dan kombinasi obat berpotensi meningkatkan risiko dependensi dan efek aditif depresan SSP (Winkelman et al. Lancet Neurology, 2. Oleh karena itu, meskipun benzodiazepin penggunaannya pada insomnia sebaiknya dibatasi dan digantikan dengan pendekatan berbasis perilaku atau agen hipnotik yang lebih selektif. Benzodiazepin merupakan obat yang kecemasan, insomnia, dan kejang, namun ketergantungan, toleransi, serta efek samping pada fungsi kognitif dan risiko jatuh, terutama pada usia lanjut. Pedoman AASM dan FDA menganjurkan penggunaan tidak lebih dari 2Ae4 minggu, banyak pasien melanjutkan konsumsi jangka panjang, terutama mereka yang sudah berusia tua atau memiliki riwayat gangguan kecemasan Hal ini menimbulkan kekhawatiran terhadap risiko ketergantungan, gangguan memori, dan peningkatan risiko jatuh meskipun benzodiazepin merupakan obat yang umum digunakan untuk gangguan Fatkhiya M F kecemasan, insomnia, dan kejang (Ritvo et , 2. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan obat antikonvulsan pada pasien non-epilepsi masih didominasi oleh benzodiazepin, khususnya pada gangguan kecemasan dan insomnia, sedangkan pada nyeri neuropatik dan fibromyalgia terlihat penerapan yang lebih sesuai dengan pedoman berbasis bukti, . abapentin/pregabali. Untuk meningkatkan rasionalitas dan evaluasi prescribing pattern, penerapan Drug Use Evaluation (DUE) secara berkala, serta edukasi interprofesional antara dokter dan apoteker klinik terkait batasan penggunaan obat antikonvulsan off-label. Penguatan implementasi pedoman nasional memastikan bahwa terapi non-epileptik menggunakan antikonvulsan dilakukan dengan indikasi yang tepat, dosis yang aman, dan durasi yang terbatas. KESIMPULAN Berdasarkan disimpulkan bahwa penggunaan obat antikonvulsan pada pasien non-epilepsi menunjukkan pola yang beragam pada diagnosa gangguan kecemasan, nyeri neuropaty, fibromyalgia dan insomnia. Penggunaan benzodiazepin pada gangguan kecemasan dan insomnia belum sepenuhnya sesuai dengan pedoman terapi, sementara pregabalin dan gabapentin pada nyeri neuropatik dan fibromyalgia lebih rasional dan sejalan dengan rekomendasi klinis Temuan ini menegaskan perlunya pengawasan terapi yang lebih ketat, evaluasi rasionalitas penggunaan obat off-label, serta optimalisasi kolaborasi dokter dan apoteker dalam memastikan pemilihan obat yang aman, efektif, dan sesuai indikasi untuk pasien non-epilepsi. UCAPAN TERIMA KASIH