Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2022 Dikirim: 8 September 2021. Diterima: 7 Desember 2021 ISSN: 2527-2772 ANALISIS PENGARUH DERAJAT DESENTRALISASI FISKAL TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI KOTA PEMATANGSIANTAR Sutriani 1 dan Darwin Damanik 2* Program Studi Ekonomi Pembangunan. Fakultas Ekonomi. Universitas Simalungun Jl. Sisingamangaraja Barat. Bah Kapul. Siantar Sitalasari. Kota Pematang Siantar. Sumatera Utara - 21142 *Korespondensi Penulis: darwin. damanik@gmail. Abstract: This study aims to analyze the effect of fiscal decentralization in Pematangsiantar City for the period 2006-2020. The method used in this study is quantitative. The data used is secondary data obtained from the Central Statistics Agency (BPS) Pematangsiantar City. This study uses a simple linear analysis The variables used are economic growth . he dependent variabl. and the degree of fiscal decentralization . he independent variabl. The results show that the average degree of fiscal decentralization in Pematangsiantar City for 2006-2020 is still deficient at 8%. The degree of budgetary decentralization significantly affects economic growth and forecasting . of economic growth in Pematangsiantar City for the period 2021-2020. 2025 has decreased every year. Keywords: Degree of Fiscal Decentralization. Economic growth. Trend ________________________________________________________________________________ PENDAHULUAN Untuk menjalankan roda perekonomian pemerintah membutuhkan modal yang diantaranya didapat dari potensi ekonomi daerah serta transfer yang diberikan dari pemerintah pusat. Melalui otonomi daerah dan desentralisasi fiskal pemerintah daerah memiliki wewenang untuk menggali pendapatan dan peran alokasi secara mandiri dalam menerapkan prioritas pembangunan. Diharapkan dengan adanya otonomi daerah dan desentralisasi fiskal dapat lebih memeratakan pembangunan sesuai dengan keinginan daerah untuk mengembangkan wilayah masing-masing. Pertumbuhan ekonomi yang positif dan signifikan dapat menyimpulkan pembangunan disuatu daerah sangat bagus. Pertumbuhan ekonomi juga menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat disuatu daerah. Pendapatan nasional juga merupakan tolak ukur yang digunakan untuk menilai kondisi perekonomian suatu negara (Basmar,et al, 2. Salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi pada skala regional dalam periode tertentu salah satunya adalah melalui Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Kota Pematangsiantar adalah salah satu daerah otonom di Sumatera Utara yang letaknya strategis karena dilintasi oleh Jalan Raya Lintas Sumatra. Kota ini menjadi kota terbesar kedua setelah Medan. Kota ini sepanjang tahun 2015-2020 mengalami pertumbuhan ekonominya mengalami fluktuasi pada tingkat -1 Ae 6 persen, seperti yang terlihat pada gambar 1 dibawah ini : Gambar 1. Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi Kota Pematangsiantar Tahun 2015-2020 Sumber: BPS Pematangsiantar Tahun 2015-2020 . ata diola. Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2022 Berkaitan dengan pelaksanaan pembangunan, kemampuan keuangan suatu daerah merupakan salah satu ciri utama yang menunjukkan suatu daerah mampu berotonomi. Pemerintah daerah diberikan kemampuan dan kewenangan untuk menggali setiap potensi daerahnya agar daerahnya memiliki sumber-sumber penerimaan daerahnya untuk membiayai pengeluaran pembiayaan pemerintah daerahnya (Muryawan et al, 2. Salah satu alat ukur yang digunakan untuk melihat kinerja keuangan adalah rasio desentralisasi fiskal. Pada derajat desentralisasi fiskal terdapat dua variabel yang dibandingkan yaitu pendapatan asli daerah (PAD) dengan total penerimaan daerah (TPD). Besar kecilnya PAD akan menentukan seberapa besar kontribusi PAD terhadap penerimaan daerah ( Pasaribu et al. Derajat desenttralisasi fiskal di Kota Pematangsiantar tahun 2015-2020 juga mengalami fluktuasi pada tingkat 6-12 persen, seperti yang terlihat pada gambar 2 dibawah ini : Gambar 2. Derajat Desentralisasi Fiskal Kota Pematangsiantar Sumber: BPS Pematangsiantar Tahun 2015-2020 . ata diola. Sudah banyak diungkapkan bahwa derajat desentralisasi fiskal berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, yaitu Alisman & Supriadi . Lubis, et al . yang menyatakan bahwa pengaruh derajat desentralisasi fiskal terhadap pertumbuhan ekonomi menunjukkan bahwa derajat desentralisasi fiskal berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Ada juga penelitian Saputra et al, . Astuti, et al . Soleh, et al . yang menunjukkan bahwa yang menunjukkan bahwa derajat desentralisasi fiskal berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan Berdasarkan permasalahan tersebut, maka tujuan peneliti adalah untuk melihat Analisis Pengaruh Derajat Desentralisasi Fiskal terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Kota Pematangsiantar. TINJAUAN PUSTAKA Pertumbuhan Ekonomi Sukirno . , pertumbuhan ekonomi yaitu perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang di produksikan dalam masyarakat bertambah. Pertumbuhan ekonomi juga didefinisikan sebagai perkembangan kegiatan ekonomi yang berlaku dari waktu ke waktu dan menyebabkan pendapatan nasional riil semakin berkembang. Menurut Sukirno . , beberapa yang termasuk dalam teori-teori pertumbuhan ekonomi. Teori Pertumbuhan Klasik, menekankan tentang pentingnya faktor-faktor produksi dalam menaikkan pendapatan nasional dan mewujudkan pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi yang terutama diperhatikan ahli ekonomi klasik adalah tenaga kerja. Teori Schumpeter, menekankan tentang peranan usahawan yyang akan melakukan inovasi dan investasi untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi. Teori Harrod-Domar, menunjukkan peranan investasi sebagai faktor yang menimbulkan Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2022 pertambahan pengeluaran agregat. Teori ini pada dasarnya menekankan peranan segi permintaan dalam mewujudkan pertumbuhan. Teori Neo-Klasik, teori ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi dan peningkatan kemahiran masyarakat merupakan faktor yang terpenting dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi. Beberapa faktor yang menentukan pertumbuhan ekonomi (Rahayu,et al , 2. , yaitu: Faktor Sumber Daya Alam (SDA) Faktor Sumber Daya Manusia (SDM) Faktor Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) Faktor Budaya Sumber Daya Modal Derajat Desentralisasi Fiskal (DDF) Desentralisasi Fiskal Menurut UU No. 32 Tahun 2004. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah pusat kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia ( Rahajeng, 2. Menurut UU No. 33 Tahun 2004. Desentralisasi Fiskal adalah penyerahan kewenangan fiskal dari pemerintah pusat kepada pemerintahan daerah untuk mengurus dan mengatur pemerintahannya sendiri dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menurut Kharisma . ada empat jenis desentralisasi, yaitu : Desentralisasi Politik . olitical decentralizatio. Desentralisasi politik bertujuan meningkatkan keikutsertaan atau partisipasi aktif dari masyarakat, khususnya masyarakat lokal dalam proses pengambilan keputusan secara politis. Hal ini menyiratkan bahwa otoritas lokal yang dipilih harus bertanggung jawab terhadap masyarakat lokal yang telah memilihnya dan mereka harus lebih baik mempresentasikan kepentingan lokal dalam pengambilan keputusan politis. Desentralisasi Administrasi . dministrative decentralizatio. Desentralisasi administrasi yaitu pelimpahan wewenang guna mendistribusikan wewenang, tanggung jawab, dan sumber-sumber keuangan untuk menyediakan pelayanan publik, terutama yang menyangkut perencanaan, pendanaan dan manajemen fungsi-fungsi pemerintahan dari pemerintah pusat kepada aparat didaerah, pemerintahan yang lebih rendah, badan otoritas tertentu atau perusahaan tertentu. Desentralisasi Ekonomi . conomic or market decentralizatio. Desentralisasi Ekonomi merujuk pada transfer fungsi pemerintah kepada sektor swasta. Artinya, penugasan yang sebelumnya ditangani oleh pemerintah diserahkan kepada perusahaan swasta, kepentingan kelompok, organisasi yang suka rela dan organisasi bukan pemerintah lainnya. Desentralisasi Fiskal . iscal decentralizatio. Desentralisasi fiskal merupakan komponen utama dari desentralisasi, di mana apabila pemerintah daerah melaksanakan fungsinya dan diberikan kebebasan dalam pengambilan keputusan pengeluaran disektor publik maka harus mendapat dukungan dari pemerintah pusat berupa subsidi/bantuan maupun pinjaman dar pemerintah pusat serta sumber-sumber keuangan yang memadai. Ada tiga bentuk variasi desentralisasi fiskal dalam kaitannya dengan derajat kemandirian pengambilan keputusan yang dilakukan didaerah (Alisman & Supriadi, 2. Desentralisasi, yaitu pemberian pelimpahan wewenang tanggung jawab ke instansi vertikal di daerah atau pemerintah daerah. Devolusi, yaitu pelimpahan yang berhubungan dengan suatu instansi yang bukan hanya implementasi tetapi juga kewenangan untuk memutuskan apa yang perlu dikerjakan Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2022 . Delegasi, yaitu daerah dapat bertindak sebagai perwakilan pemerintah pusat untuk melaksanakan fungsi-fungsi dan situasi tertentu atas nama pemerintah pusat. Menurut Suparmoko . , tujuan kebijakan desentralisasi adalah : Mewujudkan keadilan antara kemampuan dan hak daerah. Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan pengurangan subsidi dari pemerintah Mendorong pembangunan daerah sesuai dengan aspirasi masing-masing daerah. Beberapa Dampak Desentralisasi Fiskal terhadap Perekonomian Daerah, yaitu : Secara nasional . , transfer per kapita yang meningkat sangat tajam dari tahun ke tahun selaras dengan pengurangan tingkat kemiskinan dan pengurangan tingkat Pada beberapa daerah yang tingkat transfer per kapita nya sangat tinggi ternyata mengalami penurunan kemiskinan yang lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya. Desentralisasi fiskal telah secara nyata memberikan dampak ketertinggalan . atching-u. bagi daerah-daerah yang sebelumnya yang tertinggal untuk mengejar ketertinggalan nya. Telah terjadi peningkatan output layanan publik didaerah, seperti pendidikan dan Derajat Desentralisasi Fiskal Menurut Sistiana & Makmur . , derajat desentralisasi fiskal merupakan kemampuan daerah dalam kemandirian fiskal. Suatu daerah dikatakan layak menjadi daerah otonom bila salah satu syaratnya memiliki kemampuan pembiayaan yang berasal dari potensi yang dimilikinya Pengukuran derajat desentralisasi fiskal dilakukan dengan menggunakan pendekatan penerimaan, yaitu perbandingan pendapatan asli daerah terhadap total pendapatan daerah ( Marlina, 2014 ), dengan rumus: Dimana: DDF PAD TPD = Derajat Desentralisasi Fiskal = Pendapatan Asli Daerah tahun t = Total Penerimaan Daerah tahun t Selanjutnya,rasio ini dapat dijelaskan dengan melihat skala interval yang ditemukan oleh tim KKPEE UGM (Hanafi dan Mugroho, 2. dalam jurnal Sistiana & Makmur . , yaitu : Tabel 1. Skala Interval Derajat Desentralisasi Fiskal DDF (%) 0,00 - 10,00 % 10,01 Ae 20,00 % 20,01 Ae 30,00 % 30,01 Ae 40,00 % 40,01 Ae 50,00 % >50,00 % Keterangan Sangat Kurang Kurang Sedang Cukup Baik Sangat Baik METODE PENELITIAN Adapun jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data sekunder. Data sekunder ini merupakan data time series. ata berkal. dalam jangka waktu 2006-2020 yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pematangsiantar. Adapun data yang dibutuhkan dalam penelitian ini yaitu . Data Pertumbuhan Ekonomi di Kota Pematangsiantar, dan . Data APBD di Kota Pematangsiantar. Metode yang digunakan pada pengumpulan data penelitian ini melalui dokumentasi. Teknik analisis data adalah : Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2022 Untuk melihat Rasio Tingkat Derajat Desentralisasi Fiskal di Kota Pematangsiantar Pengukuran derajat desentralisasi fiskal dilakukan dengan menggunakan pendekatan penerimaan, yaitu perbandingan pendapatan asli daerah terhadap total pendapatan daerah ( Marlina, 2014:54 ), dengan rumus: DDF PAD TPD = Derajat Desentralisasi Fiskal = Pendapatan Asli Daerah tahun t = Total Penerimaan Daerah tahun t Untuk memperkirakan Peramalan . Pertumbuhan Ekonomi di Kota Pemataangsiantar Analisis trend merupakan suatu metode analisis statistika yang ditujukan untuk melakukan suatu peramalan atau estimasi pada masa yang akan datang. Metode yang digunakan dalan analisis runtun waktu . ime serie. hal yang paling menentukan adalah kualitas dan keakuratan dari data-data yang diperoleh, serta waktu atau periode dari data-data yang dikumpulkan. Metode yang digunakan dalan analisis runtun waktu . ime serie. dengan metode kuadrat terkecil (Least Square Metho. Persamaan garis linier dari analisis time series akan mengikuti: = Variabel dependen = Variabel independen dengan menggunakan waktu . iasa dalam tahu. = Konstanta = Parameter Untuk mencari nilai a dan b dapat dipakai persamaan: Oc = total = banyaknya sampel Untuk Menghitung Pengaruh persamaan regresi menggunakan Regresi Linier sederhana melalui Ordinary Least Squares (OLS) Regresi linier sederhana bertujuan untuk melihat pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen dengan skala pengukuran atau rasio dalam suatu persamaan linier. Y=a e = pertumbuhan ekonomi . alam %) = nilai konstan . = koefisien regresi . =Derajat Desentralisasi Fiskal . alam %) = error term HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis Data Penelitian ini untuk melihat Pengaruh Derajat Desentralisasi Fiskal terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Kota Pematangsiantar. Data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2022 Time Series yaitu dalam rentang waktu mulai dari tahun 2006-2020. Alat pengolahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah perangkat lunak (Softwar. komputer Eviews 11 dengan menggunakan metode analisis regresi linier sederhana. 1 Pertumbuhan Ekonomi Dalam pembahasan ini akan diperhatikan berapa besar pertumbuhan ekonomi di kota Pematangsiantar dari tahun 2006-2020, dimana data yang digunakan untuk melihat pertumbuhan ekonomi adalah data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan. Perkembangan PDRB untuk kota Pematangsiantar selama tahun 2006-2020 terus mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Perkembangan PDRB di kota Pematangsiantar secara umum dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 2. Pertumbuhan Ekonomi Kota Pematangsiantar Tahun Rata-rata PDRB( Juta Rp ) 967,57 113,60 273,45 251,13 877,90 306,10 561,30 859,50 428,82 371,11 773,30 152,85 185,70 738,78 039,35 726,70 Laju Pertumbuhan ( % ) 5,77 5,96 5,12 5,72 7,20 6,80 6,64 6,34 6,34 5,24 4,86 4,41 4,80 4,82 -1,89 5,21 Sumber: BPS Kota Pematangsiantar Tahun 2006-2020 . ata diola. Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa rata-rata pertumbuhan ekonomi di Kota Pematangsiantar selama periode Tahun 2006-2020 adalah sebesar 5,21 %. Angka pertumbuhan ini relatif bervariasi. Angka pertumbuhan ekonomi tertinggi terjadi pada Tahun 2011 sebesar 6,80 %. Sedangkan angka pertumbuhan ekonomi terendah terjadi pada tahun 2020 sebesar -1,89 %. 2 Derajat Desentralisasi Fiskal (DDF) Dari tabel 2 diketahui bahwa Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal di Kota Pematangsiantar selama periode Tahun 2006-2020 yaitu sebesar 8,00 %, yang berarti bahwa anggaran pendapatan di Kota Pematangsiantar selama tahun penelitian dapat dikatakan sangat kurang karena berada sangat jauh dibawah skala 20%. DDF sangat bervariasi jumlahnya karena tidak stabil . aik turu. DDF tertinggi terjadi pada Tahun 2019 yaitu 12,47% dan terendah terjadi pada Tahun 2008 yaitu 5,00%. Tabel 3. DDF Kota Pematangsiantar Tahun 2006-2020 Tahun PAD ( Juta Rp ) 382,88 939,76 656,99 104,49 TPD 405,74 730,69 655,62 655,77 DDF ( %) 5,86 5,09 5,00 5,11 Keterangan Sangat Kurang Sangat Kurang Sangat Kurang Sangat Kurang Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2022 Rata-rata 942,91 749,49 365,99 963,45 498,19 865,28 324,16 993,20 839,19 747,50 931,90 420,36 552,72 738,39 605,53 119,47 871,21 328,40 883,42 314,43 121,28 117,11 102,12 880,12 5,37 7,92 7,46 8,39 10,89 10,16 9,61 10,36 6,79 12,47 9,03 8,00 Sangat Kurang Sangat Kurang Sangat Kurang Sangat Kurang Kurang Kurang Sangat Kurang Kurang Sangat Kurang Kurang Sangat Kurang Sangat Kurang Sumber: BPS Pematangsiantar Dalam Angka Tahun 2006-2020 . ata diola. 3 Perkiraan . Pertumbuhan Ekonomi di Kota Pematangsiantar Analisis trend merupakan suatu metode analisis statistika yang ditujukan untuk melakukan suatu peramalan atau estimasi pada masa yang akan datang. Berikut ini merupakan tabel perhitungan trend dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4. Perhitungan Trend Tahun 5,77 X*Y X^2 -40,39 5,96 -35,76 5,12 -25,6 5,72 -22,88 -21,6 -13,6 6,64 -6,64 6,34 6,34 6,34 5,24 10,48 4,86 14,58 4,41 17,64 4,82 28,92 -1,89 -13,23 -77,74 78,13 Dari tabel diatas, maka dapat dicari nilai a dan b menggunakan rumus berikut ini : Dari perhitungan diatas, diketahui a = 5,29 , dan b = -0,28. Maka untuk mengetahui nilai trend dapat dilihat perhitungan berikut ini : Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2022 Dari hasil perhitungan trend diatas, dapat diketahui trend pada tahun 2021-2025 sebagai Tabel 5. Perkiraan . Pertumbuhan Ekonomi Di Kota Pematangsiantar Tahun Trend 2,97 2,69 2,41 2,13 1,85 Dari tabel diatas, dapat disimpulkan bahwa perkiraan pertumbuhan ekonomi di kota Pematangsiantar periode tahun 2021-2025 mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Berikut ini adalah perkembangan pertumbuhan ekonomi dari tahun 2006-2021 yang dapat dilihat gambar 1 yang menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi di kota Pematangsiantar. Gambar 3. Laju Pertumbuhan Ekonomi di Kota Pematangsiantar Sumber: Pertumbuhan Ekonomi kota pematangsiantar tahun 2006-2025 . ata di ola. Dari gambar diatas, dapat diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi dikota pematangsiantar tertinggi terjadi pada tahun 2010 yaitu sebesar 7,2%, sedangkan terendah terjadi pada tahun 2020 yaitu sebesar -1,89%. Pada tahun 2020 pertumbuhan ekonomi dikota pematangsiantar bernilai negatif karena pandemi covid-19. Sedangkan perkiraan trend pada tahun 2021-2025 juga pertumbuhan ekonomi dikota pematangsiantar mengalami penurunan setiap tahunnya, tetapi sudah bernilai positif. Pengujian Asumsi Klasik 1 Uji Autokorelasi Autokorelasi dalam konsep regresi linier berarti komponen error atau residual berdasarkan urutan waktu ( time series ). Untuk mendapatkan hasil yang baik, seharusnya model terbebas dari autokorelasi yang diketahui melalui Uji Breusch-Godfrey ( LM Test ), dimana jika nilai prob < 0,05 maka terjadi gejala autokorelasi, sedangkan jika nilai prob > 0,05 maka tidak terjadi gejala Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2022 Tabel 6. Uji Autokorelasi Menggunakan LM Test Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic Obs*R-squared 516101 Prob. 286799 Prob. Chi-Square. Sumber: Eviews 11 Dari hasil uji autokorelasi diatas dengan menggunakan LM Test dapat diketahui bahwa prob 0,53 > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi gejala autokorelasi dalam model 2 Uji Heterkedastisitas Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi atau terdapat ketidaksamaan variance dan residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dan residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedasitis dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Syarat yang harus dipenuhi dalam model regresi adalah tidak terjadi gejala heteroskedastisitas. Jika nilai prob < 0,05 maka terjadi gejala heteroskedastisitas, sedangkan jika nilai prob > 0,05 maka tidak terjadi heteroskedastisitas. Tabel 7. Uji Heteroskedastisitas Menggunakan White Test Heteroskedasticity Test: White F-statistic 736581 Prob. Obs*R-squared 698488 Prob. Chi-Square. Scaled explained SS 899447 Prob. Chi-Square. Sumber: Eviews 11 Dari tabel diatas diketahui bahwa prob adalah 0,10 > 0,05, artinya tidak terjadi gejala 3 Uji Heterkedastisitas Bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi variabel independen, variabel dependen, atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Suatu model yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Cara melakukan uji normalitas dapat dilakukan dengan pendekatan analisis grafik Normal Probability Plot. Pada pendekatan ini residual terdistribusi secara normal apabila garis . itik-titi. yang menggambarkan data yang sesungguhnya akan mengikuti atau merapat ke garis diagonal nya. Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2022 Series: Residuals Sample 2006 2020 Observations 15 Mean Median Maximum Minimum Std. Dev. Skewness Kurtosis Jarque-Bera Probability Gambar 4. Uji Normalitas Menggunakan Normal Probability Plot Sumber: Eviews 11 Dari hasil pengujian diatas dapat diketahui bahwa nilai probability sebesar 0,68 > 0,05, artinya residual data penelitian terdistribusi secara normal. Regresi Linear Sederhana Tabel 8. Analisis Regresi Linier Sederhana Dependent Variable: Pertumbuhan Ekonomi Method: Least Squares Date: 07/22/21 Time: 20:52 Sample: 2006 2020 Included observations: 15 Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. DDF Mean dependent var dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter. Durbin-Watson stat R-squared Adjusted R-squared of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statisti. Sumber: Eviews 11 Y=a e Y = 13. 226490 X1 e Persamaan regresi menunjukkan bahwa variabel X (Derajat Desentralisasi Fiska. berpengaruh positif terhadap variabel Y (Pertumbuhan Ekonom. Dari regresi di atas maka dapat di interpretasikan hasil penelitian: Nilai koefisien konstanta sebesar 13. 66267, artinya jika variabel DDF bernilai 0% maka Pertumbuhan Ekonomi akan meningkat sebesar 13. Nilai koefisien DDF sebesar 0. 226490, artinya jika DDF meningkat 1% maka diharapkan Pertumbuhan Ekonomi akan meningkat sebesar 0. 226490% dengan asumsi variabel lain Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2022 Uji Hipotesis 1 Uji Parsial (Uji . Dari hasil analisis regresi pada tabel 4 diketahui bahwa t-statistic DDF sebesar 4. dengan Prob sebesar 0,0008 dimana < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 diterima, artinya DDF berpengaruh parsial terhadap pertumbuhan ekonomi. Tabel 9. Hasil Uji Hipotesis Variable Uji t Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. DDF R Square (R ) Koefisien Determinasi Sumber: Eviews 11 . ata diola. Adjusted R Square (Adj. R ) 2 Uji Koefisien Determinasi (R. Koefisien Determinasi bertujuan untuk melihat seberapa besar kemampuan variabel independen secara bersama-sama dan memberi penjelasan terhadap variabel dependen. Dalam menghitung nilai koefisien determinasi diukur dengan menggunakan R-squared. Dari tabel 4 dapat dilihat bahwa nilai variabel R-squared pada tabel regresi linier sederhana menunjukkan bahwa besarnya yaitu 0. 5924, menunjukkan bahwa proporsi pengaruh variabel DDF terhadap Pertumbuhan Ekonomi sebesar 59,24%. Artinya DDF terhadap Pertumbuhan Ekonomi memiliki pengaruh sebesar 59,24%, sedangkan sisanya 40,76% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak ada dalam model regresi. Pembahasan 1 Derajat Desentralisasi Fiskal di Kota Pematangsiantar Derajat desentralisasi fiskal merupakan tingkat kemampuan daerah dalam kemandirian fiskal. Suatu daerah dikatakan layak menjadi daerah otonom bila salah satu syaratnya memiliki kemampuan pembiayaan yang berasal dari potensi yang dimilikinya sendiri. Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal di Kota Pematangsiantar selama periode Tahun 2006-2020 yaitu sebesar 8,00 %, yang berarti bahwa anggaran pendapatan di Kota Pematangsiantar selama tahun penelitian dapat dikatakan sangat kurang karena berada sangat jauh dibawah skala 20%. DDF tertinggi di kota Pematangsiantar yaitu pada tahun 2019 sebesar 12,47%. Sedangkan DDf terendah di kota Pematangsiantar yaitu pada tahun 2008 sebesar 5,00%. Dari skala interval derajat desentralisasi fiskal, daerah otonom harus memiliki tingkat derajat desentralisasi fiskal minimal Rata-rata tingkat derajat desentralisasi fiskal di kota Pematangsiantar dalam kurun waktu 15 tahun yaitu tahun 2006-2020 hanya 8%. Hasil penelitian yang sama yaitu Enceng, et al . yang menunjukkan bahwa derajat desentralisasi fiskal di kabupaten Purworejo masih sangat rendah. Yang diukur dengan menggunakan tingkat DDF dari rasio PAD terhadap TPD rata-rata sebesar 7,99% selama 3 tahun . Sama juga dengan hasil penelitian Sistiana & Makmur . yang menunjukkan bahwa DDF kabupaten/kota di jawa timur tahun 2006-2010 termasuk kategori sangat rendah dengan rata-rata persentase DDF sebesar 8%. Sama juga dengan penelitian Al-Aksari . yang menunjukkan bahwa nilai DDF di Kabupaten Bungo periode 2003-2013 termasuk kategori sangat rendah yaitu dengan rata-rata persentase DDF sebesar 8,6%. Penelitian Soleh, et al . yang menunjukkan bahwa nilai DDF di Kota Jambi termasuk kategori kurang yaitu dengan rata-rata persentase DDF sebesar 12,11%. Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2022 2 Pengaruh Derajat Desentralisasi Fiskal Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Kota Pematangsiantar Dari hasil analisis regresi dapat disimpulkan bahwa H1 diterima H0 ditolak, artinya DDF berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Pematangsiantar. Apabila semakin tinggi desentralisasi fiskal, maka semakin rendah pertumbuhan ekonominya, begitu pula sebaliknya. Dengan kata lain pertumbuhan domestik dari sektor ini dapat digunakan untuk mengestimasi besarnya PAD yang akan diterima dan membandingkannya dengan total pendapatan daerah sebagai gambaran dari derajat desentralisasi fiskal. Artinya peranan PAD kota Pematangsiantar terhadap pendapatan daerah masih rendah sehingga kota Pematangsiantar dikatakan belum mandiri secara fiskal. Dengan rendahnya PAD maka daerah dihadapkan pada permasalahan yang rumit dan dikatakan belum berhasil dalam pelaksanaan otonomi daerah. DDF salah satu aspek penting dalam pelaksanaan otonomi daerah secara keseluruhan, karena DDF menggambarkan kemampuan pemerintah dalam meningkatkan PAD seperti pajak, retribusi, dan lain-lain. Namun, harus diakui DDF di kota Pematangsiantar masih rendah, artinya daerah belum mampu membiayai pengeluaran daerahnya secara mandiri. Karena itu otonomi daerah bisa diwujudkan apabila disertai keuangan yang efektif. Hasil penelitian Faridi . Alisman & Supriadi . menunjukkan bahwa derajat desentralisasi fiskal berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Tetapi dalam penelitian Soleh, et al . Astuti, et al . menunjukkan bahwa derajat desentralisasi fiskal berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. 3 Trend Pertumbuhan Ekonomi di kota Pematangsiantar Dari hasil perhitungan dengan menggunakan rumus yang ada, diketahui bahwa trend pertumbuhan ekonomi di kota Pematangsiantar terjadi kenaikan setiap tahunnya selama 5 tahun yaitu tahun 2021-2025. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan Derajat Desentralisasi Fiskal (DDF) di Kota Pematangsiantar masih sangat jauh dari skala 20%, yaitu hanya 8,00% artinya masih tergolong sangat kurang. Derajat Desentralisasi Fiskal (DDF) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Kota Pematangsiantar. Nilai koefisien DDF sebesar 0. 097838, artinya jika DDF meningkat maka Pertumbuhan Ekonomi akan meningkat sebesar 0. 097838 dengan asumsi variabel lain tetap. Koefisien Determinasi (R. menunjukkan bahwa nilai variabel R-squared pada tabel regresi linier sederhana menunjukkan bahwa besarnya yaitu 0. 5934, menunjukkan bahwa proporsi pengaruh variabel DDF terhadap Pertumbuhan Ekonomi sebesar 59,34%. Artinya DDF terhadap Pertumbuhan Ekonomi memiliki pengaruh sebesar 59,34%, sedangkan sisanya 40,66% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak ada dalam model regresi. Perkiraan . Pertumbuhan Ekonomi Di Kota Pematangsiantar dalam 5 Tahun kedepan yaitu tahun 2021-2025 mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Saran Pemerintah kota Pematangsiantar seharusnya melakukan upaya yang intensif untuk meningkatkan pendapatan asli daerahnya terutama yang bersumber dari pajak dan retribusi daerah agar derajat desentralisasi fiskal semakin meningkat. Dengan cara melakukan uji coba pembayaran retribusi pengujian kendaraan bermotor (KIR) dan uji coba pembayaran retribusi parkir dengan menggunakan aplikasi Qren . embayaran non tunai berbasis Quick Response atau QR) agar tidak terjadi pembodongan parkir. Pemerintah kota Pematangsiantar perlu menetapkan kebijakan pembangunan dengan prioritas produk unggunan, dan sektor unggulan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah yang diukur dari tingkat penerimaan PDRB kota Pematangsiantar. Pemerintah kota Pematangsiantar perlu menetapkan kebijakan Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2022 pembangunan dengan prioritas produk unggulan dengan mengingat sektor jasa memiliki pengaruh yang besar terhadap sektor-sektor lainnya. Dengan cara melengkapi sarana dan prasarana, mendukung jalannya kurikulum atau proses belajar mengajar, menambah tenaga didik yang berpengalaman, dan melakukan berbagai kegiatan pendidikan lainnya untuk menciptakan kualitas pendidikan yang baik dikota Pematangsiantar. DAFTAR PUSTAKA