Pengetahuan Ibu tentang Stimulasi BerhubunganA (Mirna Rahayu. Arantika Meidya Pratiwi, dk. Pengetahuan Ibu tentang Stimulasi Berhubungan dengan Perkembangan Balita Usia 3-5 Tahun Mother's Knowledge of Stimulation Associated with the Development of Toddlers 3-5 Years of Age Mirna Rahayu1. Arantika Meidya Pratiwi1. Claudia Banowati Subarto1. Lia Dian Ayuningrum1. Prasetya Lestari1. Eka Nurhayati1 Universitas Alma Ata Yogyakarta. Yogyakarta. Indonesia Korespondensi Penulis: arantika. meidya@almaata. ABSTRACT Child development in Indonesia is still a serious concern. Based on UNICEF data. Indonesia ranks third with the highest number of children with developmental disorders, after Thailand and Argentina. Data from the Indonesian Pediatric Association (IDAI) in 2019 reported that the rate of child delays in Indonesia was 5-10%. The 2018 Riskesdas data found that 39. 9% of children aged 36-59 months experienced questionable development. One of the things that causes child development disorders is stimulation. Mother as the closest individual to the child, determines the success of providing stimulation. This study aims to determine the relationship between the level of maternal knowledge about stimulation and the development of toddlers aged 3-5 years. This research is an analytic survey research with cross sectional design. The population in this study were mothers who had toddlers aged 3-5 years and toddlers aged 3-5 years in the area of the Gamping I Yogyakarta health center. The sample size of 103 respondents was taken by cluster random sampling. The instruments used were questionnaire of mother's knowledge level and KPSP. The relationship between the two variables was analyzed using Kendall's tau The statistical test results obtained a p-value . <0. 05 and has a relationship closeness value of 0. 460 which means sufficient. This shows that there is a relationship between the level of maternal knowledge about stimulation and the development of toddlers aged 3-5 years. Keywords : Knowledge, stimulation, development, toddlers ABSTRAK Perkembangan anak di Indonesia masih menjadi perhatian yang cukup serius. Berdasarkan data UNICEF. Indonesia menempati urutan ketiga dengan jumlah anak yang mengalami gangguan perkembangan terbanyak, setelah Thailand dan Argentina. Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Tahun 2019 melaporkan angka keterlambatan anak di Indonesia sebesar 5-10%. Data Riskesdas 2018 didapatkan hasil bahwa 39,9% anak usia 36-59 bulan mengalami perkembangan yang meragukan. Salah satu hal yang menyebabkan gangguan perkembangan anak adalah stimulasi. Ibu sebagai individu terdekat anak, menjadi penentu keberhasilan pemberian stimulasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang stimulasi dengan perkembangan balita usia 3-5 tahun. Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang mempunyai balita usia 3-5 tahun dan balita yang berusia 3-5 tahun di wilayah kerja puskesmas Gamping I Yogyakarta. Jumlah sampel sebanyak 103 responden diambil dengan cluster random sampling. Instrument yang digunakan kuesioner tingkat pengetahuan ibu dan KPSP. Hubungan kedua variabel dianalisis menggunakan uji kendallAos tau dengan hasil nilai p-value . <0,05 dengan nilai keeratan hubungan 0,460 yang artinya cukup. Hal ini menunjukkan terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang stimulasi dengan perkembangan balita usia 3-5 tahun. Kata Kunci: Pengetahuan, stimulasi, perkembangan, balita Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 13 No. April 2024, hal 144-151 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Pengetahuan Ibu tentang Stimulasi BerhubunganA (Mirna Rahayu. Arantika Meidya Pratiwi, dk. PENDAHULUAN Anak mempunyai fase kehidupan disebut dengan fase perkembangan dan pertumbuhan(Kemenppa RI. Anak adalah amanah, yang harus diberikan hak yang penuh dan hak perkembangannya termasuk fisik dan Kemajuan perkembangan teknologi ini dapat kita manfaatkan memengaruhi cara orang tua untuk mengasuh anaknya (Suwardi, 2. Berdasarkan data United Nations ChildrenAos Fund (UNICEF). Indonesia menduduki posisi urutan keempat dengan jumlah anak terbanyak pada Posisi pertama dengan jumlah anak terbanyak di dunia adalah India sebesar 448,3 juta jiwa, kemudian urutan kedua diduduki oleh Tiongkok dengan jumlah sebesar 295,1 juta jiwa, di urutan tiga Nigeria dengan 93,9 juta United Nations ChildrenAos Fund (UNICEF) juga mengungkapkan bahwa semua tidak luput dari permasalahan Gangguan perkembangan anak di dunia memiliki angka yang cukup tinggi yaitu urutan pertama negara Thailand dengan 24%, nomor dua negara Argentina dengan angka 22%, dan yang ketiga diduduki oleh negara Indonesia dengan angka 1318% gangguan perkembangan anak (Riyadi and Sundari, 2. World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa 5-25% anak-anak usia prasekolah menderita disfungsi otak minor, termasuk juga gangguan motorik halus (Widyawaty, 2. Anak di bawah usia 5 tahun, sebanyak 54% anak lakilaki perkembangan pada tahun 2016. Sekitar 95% anak yang mengalami gangguan menengah(Inggriani. Rinjani Susanti, 2. Pada tahun 2016 prevalensi gangguan perkembangan pada anak usia di bawah 5 tahun di Indonesia adalah 7. 512,6 kasus per 000 penduduk . ,51%) oleh WHO pada tahun 2016. Sementara itu di Amerika Serikat prevalensi gangguan perkembangan pada anak usia 3-17 tahun mengalami peningkatan dari tahun 2014 sebesar 5,76% dan di tahun 2016 sebesar 6,9% (Zablotsky. Black and Blumberg, 2. Perkembangan anak di Indonesia menjadi perhatian yang cukup serius. Angka masih cukup tinggi sekitar 5-10% perkembangan umum. Populasi anak di Indonesia menunjukkan sekitar 33% dari total populasi yaitu sekitar 83 juta dan setiap tahunnya jumlah populasi anak terus meningkat(Sugeng. Tarigan and Sari, 2. Data nasional pada tahun 2016 menunjukkan bahwa 45,12% anak mengalami gangguan perkembangan sekolah(Agustia. Setyaningsih and Suharno, 2. Data Rikesdas 2018 melaporkan bahwa 39,9% anak usia 36-59 bulan meragukan(Kemenkes RI, 2. Data Kementerian Kesehatan RI tahun 2019 menunjukkan bahwa 16% anak usia dini Indonesia perkembangan motorik kasar dan halus, keterlambatan bicara (Hening Prastiwi. Faktor motorik kasar, motorik halus, bahasa dan personal sosial ialah pola asuh, gizi anak, dan stimulasi (Tjandrajani et al. Berdasarkan profil kesehatan Kabupaten Sleman pada tahun 2019 prevalensi gizi buruk di Kabupaten Sleman sebesar 0,51% . Dapat dibandingkan dengan prevalensi tahun 2018 mengalami penurunan 0,01% dari 0,52% . , jika dibandingkan dengan renstra tahun 2019 yaitu 0,43%, maka prevalensi mencapai Prevalensi gizi buruk meningkat 0,34% pada tahun 2019 dibandingkan tahun 2018, dari 7,32% . 032 balit. menjadi 7,66% . 483 balit. Prevalensi balita meningkat 0,84% pada tahun 2019 dibandingkan tahun 2018, dari 7,33% . 044 balit. menjadi 8,17% . 781 balit. , namun masih 17% dari target kinerja program gizi. Prevalensi gizi kurang di Puskesmas Gamping berada diurutan ke 3 tertinggi dengan 8,64%(Timiyatun Oktavianto. Keterlambatan dengan pemberian stimulasi. Anak yang memperoleh stimulasi terarah akan lebih Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 13 No. April 2024, hal 144-151 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Pengetahuan Ibu tentang Stimulasi BerhubunganA (Mirna Rahayu. Arantika Meidya Pratiwi, dk. cepat berkembang dibanding dengan stimulasi(KHAIRANI,. and BERLINDA. Stimulasi diberikan sejak dalam kandungan, saat anak lahir rangsangan terus-menerus secara optimal(Khadijah et al. , 2. Manfaat diberikannya stimulasi pada perkembangan otak. Kurangnya berdampak pada kesiapan bersekolah. Adapun dampak yang anak akan terjadi antaranya anak akan menjadi hiperaktif, dilakukan, tidak percaya diri, dan tidak sebayanya maupun dengan lingkungan sekitarnya(PH. Armitasari and Susanti. Perkembangan anak usia 3-5 tahun tergolong gold period, dimana perkembangan di usia dini tidak bisa berulang, tahap perkembangan yang perkembangan anak prasekolah. Anak prasekolah mengacu pada usia 3-5 Pada tahap tersebut, anak sangat perkembangan(Wahyuningsih. Kualitas masa pra sekolah memberikan kontribusi 85% terhadap perkembangan anak dimasa mendatang sekaligus sebagai masa kritis terjadinya gangguan Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memaksimalkan anak(Hati and Pratiwi, 2. Kesadaran dan kemampuan ibu dalam memberikan stimulasi, lingkungan mempengaruhi proses tumbuh kembang anak(Zukhra and Amin, 2019. Tingkat pengetahuan ibu menjadi faktor penting untuk mempengaruhi stimulasi tumbuh kembang balita(Saputri. Rustam and Sari, 2. Optimalisasi ini memerlukan interaksi antara orang tua dan balita, terutama ibu yang mana peranannya perkembangan balita secara keseluruhan dari aspek fisik, mental dan sosial(Hati and Lestari, 2. METODE Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Gamping I. Kecamatan Gamping. Kabupaten Sleman dengan Desa Desa Ambarketawang dan Desa Balecatur pada tanggal 15 Juni sampai 23 Juni Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang mempunyai balita usia 3-5 tahun dan balita yang berusia 3-5 Jenis penelitian survei analitik Responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita usia 3-5 tahun. Teknik sampel dengan metode probability sampling dengan teknik cluster random sampling dengan jumlah sampel 103 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan Kriteria inklusi pada penelitian ini ialah balita usia 3-5 tahun, ibu berusia 23-35 tahun, dan balita yang masih aktif dalam penimbangan dalam posyandu. Kriteria eksklusi anak yang menderita penyakit konginetal. Instrumen pada pengetahuan ibu tentang stimulasi dan KPSP. Analisis bivariat menggunakan kendallAos tau. HASIL Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Ibu. Pendidikan, dan Pekerjaan Ibu Karakteristik Usia ibu 23-26 Tahun 27-30 tahun 31-35 Tahun Total Pendidikan SMP SMA SARJANA Frekuensi . Presentase% Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 13 No. April 2024, hal 144-151 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Pengetahuan Ibu tentang Stimulasi BerhubunganA (Mirna Rahayu. Arantika Meidya Pratiwi, dk. Total Pekerjaan Pegawai Negeri Sipil Pegawai Swasta Ibu Rumah Tangga lainnya . uruh, petani, penjahi. Total Tabel 2. Hasil Uji Bivariat Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Stimulasi dengan Perkembangan Balita 3-5 Tahun Variabel Pengetahuan Ibu Cukup Kurang baik Total Perkembangan Balita Sesuai Meragukan Total PValue Berdasarkan tabel 1 dari total 103 responden diperoleh karakteristik usia ibu dalam penelitian ini lebih banyak ibu pada usia 27- 30 tahun 47 orang . 6%). Sedangkan usia ibu paling sedikit yaitu 23-26 tahun sebanyak 12 orang . 7%). Berdasarkan frekuensi Pendidikan berdasarkan tabel 1 dari 103 responden terbanyak pada lulusan SMA dengan jumlah 69 orang . 0%), sementara ibu pendidikan terakhir paling sedikit lulusan SD sebanyak 1 orang . 0%). Frekuensi Pekerjaan responden paling banyak menjadi ibu rumah tangga 58 orang . 3%), untuk pekerjaan ibu paling sedikit menjadi Pegawai Negeri Sipil dengan jumlah 3 orang . 9%). Tabel 2. Menunjukkan hasil analisis uji statistik Kendall tau dimana diperoleh nilai p-value 0. <0. maka dapat dinyatakan hipotesis dalam penelitian ini diterima, yang berarti Ada Hubungan antara tingkat Pengetahuan Ibu Stimulasi Perkembangan Balita, menunjukkan arah korelasi yang positif dan keeratan hubungan . = 0. yang berarti cukup karena direntang 400- 0. PEMBAHASAN Karakteristik Responden Berdasarkan karakteristik umur mayoritas berusia 27-30 tahun sebanyak 6%, 27- 30 tahun ini merupakan usia yang masih dapat dikatakan produktif dan rasa keingintahuan tinggi sehingga usia ini dapat mencari informasi lebih Usia ibu yang masih produktif ini diharapkan mampu memberikan stimulasi pada anak sesuai dengan usia perkembangannya(Saputri. Rustam and Sari, 2. Berdasarkan pendidikan untuk lulusan SMA sebanyak 69 responden . 0%). Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan adalah pendidikan ibu yang sebagian besar sudah cukup tinggi (SMA) sebesar Pendidikan yang dijalani seseorang memiliki pengaruh pada peningkatan kemampuan berfikir. seseorang yang berpendidikan SMA atau lebih tinggi dapat mengambil keputusan yang lebih rasional, lebih terbuka untuk menerima perubahan atau hal baru dibandingkan dengan individu yang berpendidikan lebih rendah. Gaya hidup dan perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh memotivasi. (Septiani and Kejora. Berdasarkan pekerjaan yang bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga sebanyak 58 responden . 3%). Pekerjaan mempengaruhi perilaku ibu dalam stimulasi perkembangan balita usia 3-5 Ibu bekerja mempunyai peran ganda selain sebagai wanita karir juga Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 13 No. April 2024, hal 144-151 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Pengetahuan Ibu tentang Stimulasi BerhubunganA (Mirna Rahayu. Arantika Meidya Pratiwi, dk. sebagai ibu rumah tangga. Salah satu dampak negative dari ibu yang bekerja perhatian yang penuh pada anaknya ketika anak dalam tahap tumbuh kembang yang pesat hal inilah yang dapat mempengaruhi bagaimana cara ibu bisa menstimulasi perkembangan balita dengan baik(Imelda, 2. Hubungan Pengetahuan Ibu tentang Stimulasi dengan Perkembangan Balita Pemberian penting untuk perkembangan pada anak, oleh karena itu, tanpa adanya stimulasi maka perkembangan anak menjadi Balita sangat membutuhkan stimulasi yang diberikan bertahap supaya dapat terlihat bagaimana balita sebayanya maupun dengan ibu. Ibu merupakan salah satu media interaksi memberikan pengaruh pada stimulasi perkembangan balita, memainkan peran dalam mendidik anak, terutama dalam masa balita(Susanti and Adawiyah. Dalam menjalankan pola asuh dibutuhkan interaksi antara ibu dan anak sehingga selain memberikan pola asuh yang baik ibu dituntut baik juga dalam Salah satu faktor yang terpenting yaitu komunikasi dalam Perkembangan emosi anak interaksi dan pola komunikasi dalam Komunikasi antara ibu dengan anak merupakan suatu hal yang sangat penting, dimana komunikasi sebagai alat atau sebagai media penjembatan dalam keluarga(Akmalia, 2. Perkembangan dipengaruhi oleh faktor internal dan Stimulasi termasuk faktor eksternal yang berperan penting dalam dalam perkembangan pada balita. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Putra bahwa balita yang mendapat stimulasi terarah akan lebih cepat berkembang dibandingkan anak yang Kurangnya stimulasi akan mempengaruhi perkembangan balita dan Namun jika balita yang mendapatkan stimulasi yang optimal dari ibu memiliki perkembangan motorik kasar yang normal(Putra. Yudiemawat and Maemunah, 2. Pendidikan seseorang memiliki pengaruh pada Tingkat Pengetahuan responden dapat diidentifikasi berdasarkan karakteristik pendidikan merupakan salah satu hal yang dapat mempengaruhi tingkat seseorang(Kuntum Pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara . engalaman, . asilitas, sosial budaya dan tingkat Seorang ibu mendapatkan pengalaman dari lingkungannya melalui radio, televisi, majalah, koran, buku maupun dari orang lain mengenai perkembangan bahasa anak usia 1-3 tahun saling bertukar informasi yang mengaplikasikannya kepada anaknya, dan seorang ibu yang tingkat pendidikan tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan seorang ibu yang tingkat pendidikannya rendah(Setiawati, 2. Pengetahuan peranan penting di dalam memberikan Hal dikarenakan pada usia anak-anak sangat membutuhkan perhatian yang cukup untuk membantu perkembangan anak yang optimal. Dengan pengetahuan ibu akan memperoleh informasi meliputi bagaimana cara pengasuhan anak yang baik, menjaga kesehatan anak, dan Pengetahuan dan pemahaman yang baik diperoleh dari suatu pendidikan yang baik melalui proses dan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan (Susanti and Adawiyah. Tenaga Kesehatan kemampuan ibu melalui pemberian edukasi dengan berbagai metode. Misalnya menggunakan media disertai disertai dengan konseling terbukti dapat lebih baik dalam meningkatkan kemampuan Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 13 No. April 2024, hal 144-151 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Pengetahuan Ibu tentang Stimulasi BerhubunganA (Mirna Rahayu. Arantika Meidya Pratiwi, dk. ibu (Herawati et al. , 2. Pengetahuan dan pengalaman yang baik didapatkan dari suatu pendidikan yang baik melalui berbagai macam proses dan metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan tingkah laku yang sesuai (Zukhra and Amin. SIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang stimulasi dengan perkembangan balita usia 3-5 Semakin baik pengetahuan ibu baik/sesuai perkembangan anak. SARAN Pihak terkait perlu memberikan memiliki balita tentang tumbuh kembang Perguruan tinggi dapat memberikan kontribusi melalui kegiatan penelitian ataupun pengabdian kepada masyarakat yang dengan memberikan pelatihan atau penyuluhan tentang cara melakukan stimulasi perkembangan anak kepada ibu, kader, dan guru-guru KB/PAUD. Setiap ibu hendaknya juga aktif stimulasi perkembangan anak dengan mencari informasi melalui internet, tenaga kesehatan, ataupun media cetak. DAFTAR PUSTAKA