Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Vol. No. 2 September 2022 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 106-114 PERAN ORANG TUA DALAM BINA LANJUT IMAN ANAK PASCA KOMUNI PERTAMA DI STASI SANTA CLARA BANA-NARUI Simon Sabtaria Putram Juliet STIPAS Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangka Raya Silvester Adinuhgra STIPAS Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangka Raya E-mail: frlouismario@gmail. Abstract. This article reviews the results of our research on how the role of parents in further building the faith of children after the first communion at Santa Clara Bana-Narui Station. Saint Theresia Lisieux Saripoi Parish. Palangkaraya Diocese. The type of research used is descriptive qualitative. This research was carried out at the Santa Clara Bana-Narui Station, in May 2022. A total of 18 informants, consisting of 8 parents, 8 children, community leaders and parish priests. The data obtained were analyzed using the Miles and Huberman method. The results of the study show that parents still pay attention to their children's faith development after first communion, although it is not This is due to the lack of understanding of parents about the meaning of the Eucharist for the growth of children's faith. In response to this fact, it is necessary to carry out family catechesis on the Eucharist, especially for families whose children receive First Communion. Keywords: The Role of Parents. First Communion. Building Faith Abstrak. Tulisan ini mengulas hasil penelitian kami tentang bagaimana peran orang tua dalam bina lanjut iman anak pasca komuni pertama di Stasi Santa Clara Bana-Narui. Paroki Santo Santa Theresia Lisieux Saripoi Keuskupan Palangkaraya. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di Stasi Santa Clara Bana-Narui, pada Mei 2022. Total Informan 18 orang, yang terdiri atas 8 orang tua, 8 anak, ketua umat dan Pastor Paroki. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukan bahwa orang tua tetap memperhatikan pembinaan iman anak setelah komuni pertama walaupun tidak maksimal. Hal itu disebabkan karena kurangnya pemahaman orang tua tentang makna Ekaristi untuk pertumbuhan iman anak. Menyikapi kenyataan ini, maka perlu dilaksanakan katekese keluarga tentang ekarsiti terutama bagi keluarga yang anaknya menerima komuni Kata kunci: Peran Orang Tua. Komuni Pertama. Bina Iman Received Juli 07, 2022. Revised Agustus 2, 2022. September 22, 2022 * Simon Sabtaria Putram Juliet Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Vol. No. 2 September 2022 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 106-114 PENDAHULUAN Orang tua adalah penanggung jawab pertama dan utama bagi anak. Tanggung jawab tersebut diantaranya adalah membina dan mendidik. Kewajiban orangtua untuk mendidik bersifat hakiki, karena berkaitan dengan penyaluran hidup manusiawi (FC . Masa depan anak ditentukan oleh peran orang tua, yang tidak dapat diabaikan begitu Melihat peran orang tua yang begitu kompleks, maka Gereja sebagai institusi yang kelihatan dengan banyak upaya menyerukan berbagai ajaran yang berkaitan dengan kehidupan keluarga, terutama peran orang tua. AuOrang tua memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai pendidik iman pertama dan utama bagi anak-anak merekaAy . Kan 1055- A . Gereja dengan tegas menyerukan kepada setiap orang tua kristiani bahwa pendidikan iman harus dimulai sejak anak-anak, dimulai dengan kebiasaan, bahwa anggota-anggota keluarga saling membantu, supaya dapat tumbuh dalam iman melalui kesaksian hidup yang sesuai dengan injil (KGK 2. Kristus hadir melalui setiap misteri yang dirayakan dan dikenangkan oleh Gereja, salah satu diantaranya adalah sakramen. Dalam peredaran sejarah Gereja diketahui bahwa di antara perayaan liturgi ada tujuh yang sesungguhnya ditetapkan Tuhan sebagai Sakramen (KGK 1. Lebih lanjut lagi ketujuh sakramen tersebut ditetapkan dalam konsili Lyon oleh Paus Gregorius X pada tahun 1274 (Sudarto, 2009: . Ketujuh sakramen tersebut adalah Baptis. Krisma. Ekaristi. Tobat. Pengurapan Orang sakit. Perkawinan dan Imamat. Komuni pertama bukan sekedar perayaan seremonial belaka, namun dibalik semua itu sungguh memiliki makna yang sangat penting bagi setiap individu yang Seperti diajarkan oleh Paus Emeritus Benediktus XVI. AuEkaristi sangatlah penting untuk dapat menjalankan misi panggilan kekudusan sebab dalam Ekaristi umat kristiani disatukan menjadi satu daging dan dalam komuni suci umat kristiani menjadi satu Roh dengan Kristus (Astuty, 2020: . Dari ajaran tersebut dapat dimengerti bahwa penerimaan komuni pertama memerlukan persiapan yang matang baik dari pembinaan maupun setelah diterimakannya. Fenomena yang terjadi di lapangan, khususnya di Stasi Santa Clara Bana-Narui Paroki Santa Theresia Lisieux Saripoi, setelah seorang anak menerima komuni pertama, sering terjadi bahwa hubungan yang berkelanjutan dengan anak yang menerima komuni PERAN ORANG TUA DALAM BINA LANJUT IMAN ANAK PASCA KOMUNI PERTAMA DI STASI SANTA CLARA BANA-NARUI pertama tidak ada atau ada asumsi bahwa tugas tersebut sudah selesai di tangan para pekerja pastoral yang melaksanakan pembinaan iman pasca komuni pertama. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, kami terdorong melakukan penelitian untuk melihat lebih jauh bagaimana pemahaman orang tua tentang Komuni Pertama dan apa bentuk keterlibatan mereka dalam membina iman anak-anak mereka yang sudah menerima Komuni Pertama di Stasi Santa Clara Bana-Narui. KAJIAN PUSTAKA Sakramen berasal dari bahasa Yunani AumysterionAy yang diterjemahkan dalam bahasa Latin menjadi AuSacramentumAy (Putranto, 2019: . Istilah sakramen digunakan oleh Gereja untuk menunjukan karya Allah yang bersifat misteri atau rahasia bagi setiap Melalui sakramen Allah hadir dalam Gereja-Nya, dalam berbagai tanda dan sarana yang dirayakan oleh Gereja sebagai perpanjangan tangan Allah di dunia ini. Menurut Udemandu dan Umezi ( 2017: . tentang ekaristi mengatakan bahwa Au This is the sacrament in which Christ the Lord himself is contained, offered and received, and by which the Church continually lives and growAy . ni adalah sakramen di mana Kristus Tuhan sendiri terkandung, dipersembahkan dan diterima, dan dengannya Gereja terus hidup dan bertumbu. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa dalam sakramen Ekaristi. Kristus sendirilah yang hadir, dan karenanya, menjadikan sakramen tersebut memiliki kedudukan yang istimewa di antara sakramen-sakramen lainnya. Dalam sakramen Ekaristi, yakni dalam roti dan anggur yang telah dikonsekrasi. Kristus hadir secara aktual dalam hidup manusia . AG . Dalam Sakramen Ekaristi penerimaan Komuni Suci tidak hanya diterima oleh mereka yang berusia dewasa tetapi juga diterima oleh mereka yang sudah dirasa cukup untuk menerimanya. Hal ini menunjukan bahwa anak-anak yang sudah dianggap layak sudahlah dapat menyambut komuni suci tersebut. Sambut komuni suci untuk pertama kali dikenal dengan sebutan komuni pertama. Syarat untuk menerima komuni pertama dalam kan. 913 - A 1 menyebutkan bahwa : AuAgar anak-anak boleh sambut Ekaristi mahasuci, haruslah mereka itu memiliki cukup pengertian dan telah dipersiapkan dengan seksama, sehingga dapat memahami misteri Kristus sesuai dengan daya-tangkap mereka, dan mampu menyambut Tubuh SEPAKAT - VOLUME 8. NO. SEPTEMBER 2022 Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Vol. No. 2 September 2022 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 106-114 Tuhan dengan iman dan hormat dan memiliki batas usia untuk bisa menerima komuni pertamaAy. Kamus besar bahasa Indonesia mendefinisikan orang tua sebagai ayah dan ibu kandung . KBBI Daring ), lebih lanjut lagi orang tua dapat dimengerti sebagai suatu komponen dalam keluarga yang terdiri atas ayah dan ibu, disatukan karena ikatan perkawinan yang sah kemudian membentuk sebuah keluarga (Ruli, 2020: . Hal ini membina iman tentu peran orang tua sangat penting dalam membimbing dan memberikan didikan kepada anaknya setelah komuni pertama . Amsal 1:. Pelaksanaan pembinaan iman merupakan yang harus dilakukan dalam satu proses bantuan rohani yang diberikan sadar kenapa anak-anak oleh para orang tua ataupun petugas pastoral supaya iman anak semakin bertumbuh, berkembang dan mampu menghayati panggilan hidup yang harus mereka jalani dalam mengikuti Yesus serta menyerahkan diri kepada Allah melalui Yesus Kristus. Bina iman anak menjadi bagian terpenting dalam peran orang tua untuk mendidik anak-anaknya sesuai dengan ajaran Gereja Katolik seperti mengasihi, mengampuni , cinta kasih dan mampu mengenal jadi diri mereka hanya didalam Allah melalui Yesus Kristus. Tujuan bina iman anak Katolik ini untuk mendewasakan diri dalam iman. Peran orang tua sangat penting dalam membina anak-anaknya suapaya mereka bisa mendewasa dalam iman dan melibatkan diri mereka dalam kegiatan Gereja, sekolah dan masyarakat (GE . Ada beberapa perang orang tua dalam membina iman anak pasca komuni pertama sebagai berikut : Orang tua membina kerohanian anak Orang tua membimbing anak-anaknya menuju kesucian Orang tua mendukung anaknya dalam hidup menggereja Dari anjuran tersebut dapat dipahami bahwa orang tua tidak dapat melepaskan tugasnya setelah anaknya menerima komuni pertama. Keterlibatan anak dalam hidup menggereja seperti rutin menyambut Ekaristi, ikut ambil bagian menjadi putera-puteri altar, rekoleksi dan berbagai kegiatan pembinaan iman lainnya haruslah didukung oleh pihak orang tua. PERAN ORANG TUA DALAM BINA LANJUT IMAN ANAK PASCA KOMUNI PERTAMA DI STASI SANTA CLARA BANA-NARUI METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskritif kualitatif. Penelitian deskritif kualitatif merupakan sebuah penelitian yang bertujuan untuk mengungkapkan sebuah fakta empiris secara langsung dilapangan dengan berlandaskan pada prosedur dan didukung oleh metode teoritis yang kuat. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 19-30 mei 2022 di Stasi Santa Clara Bana-Narui . Pengumpulan data dilakukan dengan mewawancarai 18 informan, dan mengumpul berbagai doukumen-dokumen yang berkaitan dengan pembinaan iman dan data umat. Informan dalam penelitian ini yaitu 8 orang tua, 8 anak, ketua umat di Stasi Santo Clara Bana-Narui dan Pastor Paroki Santa Theresia Lisieux Saripoi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model Miles and Huberman yang terbagi menjadi 3 bagian : redukdi data. Penyajian data dan Penarikan kesimpulan. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Singkat Stasi Santa Clara Bana-Narui Stasi Santa Clara Bana-Narui terletak di kecamatan Laung Tuhup Kabupaten Murung Raya. Kalimantan Tengah. Total kepala keluarga yang beragama Katolik Pada awalnya stasi ini termasuk bagian dari wilayah pastoral Paroki Santo Klemens Puruk Cahu. Tetapi karena ada upaya untuk pemekaran Paroki, sejak tanggal 22 November 2017 bersamaan dengan berdirinya Paroki Santa Theresia Lisieux Saripoi diresmikan reksa pastoralnya di layani oleh Tim Pastoral Paroki Santa Theresia Lisieux Saripoi. Secara Ekonomi, umat stasi Santa Clara Bana-Narui sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani karet. Sedangkan yang lainnya, bekerja sebagai aparatur desa, guru, karyawan tambang, karyawan sawit dan wirausaha. Keadaan cuaca juga mempengaruhi pendapatan bagi warga yang bekerja sebagai petani karet karena itu kegiatan berladang dan menanam sayur dilakukan agar tetap bisa menjalankan roda Dari segi sosio religius, secara umum masyarakat Desa Narui dan Tumbang Bana bersifat heterogen dengan aliran Hindu Kaharingan sebagai mayoritas. Setelah itu, umat beragama Katolik, dengan jumlah yang cukup lumayan banyak. Agama Protestan dan Islam juga dianut di dua desa ini, meskipun hanya sedikit saja. Karena masih banyak SEPAKAT - VOLUME 8. NO. SEPTEMBER 2022 Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Vol. No. 2 September 2022 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 106-114 yang menganut kepercayaan Hindu Kaharingan budaya dan adat di tempat ini masih sangat kental walaupun beberapa sudah pindah ke agama yang berbeda, acara adat dan budaya tetap dilaksanakan oleh penduduk setempat. HASIL PENELITIAN Berdasarkan data yang kami peroleh, mengenai peran orang tua dalam bina lanjut iman anak pasca komuni pertama di stasi santa Clara Bana-Narui, bahwa sebenarnya Orang tua tetap berperan melaksanakan pembinaan lanjutan bagi anak-anak mereka setelah menerima komuni pertama, namun tidak maksimal. Hal ini dilatar belakangi oleh pemahaman orang tua mengenai komuni pertama yang masih minim. Pemahaman yang kurang tentang komuni pertama disebabkan oleh tingkat pendidikan orang tua yang masih rendah, selian itu juga disebabkan oleh tidak adanya pekerja pastoral yang menetap di stasi ini. Hal lain yang menyebabkan terjadi kendala dalam pembinaan faktor pekerjaan Orangtua setiap hari ke kebun karet ataupun ke perusahan sawit. Pergi pagi, pulang sore. Hampir tidak ada waktu khusu untuk anak dalam pembinaan iman. Ditambah lagi pengetahuan mereka tentang iman katolik sangat minim, maka tidak memungkinkan terjadinya pembinaan yang baik. Pembinaan-pembinaan diberikan orangtua lebih pada memberikan keteladanan hidup dan mengajarkan doa-doa pokok seperti: mengajak anak untuk ikut dalam kegiatan menggereja (Misa. Ibadat Sabda dan juga kegiatan gereja lainny. Dibalik kekurangan dan keterbatasannya para orang tua selalu mengajarkan keteladanan hidup bagi anak-anak hal ini dimaksudkan agar anak mampu menampilkan citra sebagai anggota Gereja yang baik di lingkungan masyarakat. Wilhelmus . 4: . mengatakan bahwa Aukeluarga sejati dapat tercipta jika di dalam kehidupannya selalu membangun sikap doa, ibadah, membaca serta menghayati Sabda Tuhan secara bersama dan rutin di tengah keluargaAy Peran orang tua untuk mendidik dan membina seorang anak itu sifatnya hakiki, atau tidak dapat dilepaskan begitu saja. Ketika seorang anak tidak mendapat pembinaan dan pengajaran dari orang tua maka hal yang ditakutkan di kemudian hari anak tersebut tidak bisa memahami akan pentingnya hidup menggereja. Pola kehidupan orang tua yang kadang mengabaikan hal-hal yang berhubungan dengan hidup menggereja lambat laun PERAN ORANG TUA DALAM BINA LANJUT IMAN ANAK PASCA KOMUNI PERTAMA DI STASI SANTA CLARA BANA-NARUI akan mempengaruhi kehidupan seorang anak dan jika dibiarkan maka hal ini akan menjadi habitus yang tak terputuskan. Langkah Pastoral Langkah-langkah pastoral yang dapat mendukung pembinaan lanjutan pasca komuni pertama seperti pengajaran katekese terkhususnya mengenai ekaristi. Hal ini diharapkan dapat menunjang kebutuhan umat mengingat latar belakang pendidikan para orang tua yang beragam. Model katekese yang dapat digunakan adalah katekese berbasiskan analisa sosial dimana pekerja pastoral tersebut harus memahami kondisi umat secara menyeluruh agar materi atau katekese yang dilakukan tepat sasaran dan memang memberikan daya guna. Metode katekese analisis sosial dan shared christian praxis (SCP) merupakan alternatif yang memang dirasa cocok untuk wilayah stasi Santa Clara Bana-Narui. Hal ini dipilih mengingat kondisi sumber daya manusia yang masih belum bisa dikatakan mampu memahami katekese berbasiskan ajaran teologi yang perlu pemahaman yang Penyederhanaan materi katekese juga turut mendukung berhasilnya langkah- langkah pastoral yang diambil. Upaya Pastoral lain yang juga sangat urgen adalah pentingnya kehadiran seorang tenaga pastoral yang dapat tinggal dan menetap bersama umat. Selain hal tersebut intensitas pelayanan dari paroki sangat dirindukan oleh seluruh umat. Pola katekese sederhana yang sudah diolah dengan bahasa yang membumi diyakini jugasangat diperlukan, memang mengaktualisasikan teologi Gereja dengan realita yang dihadapi bukanlah hal yang mudah. Metode sharing dan diskusi yang berkelanjutan ketika pastor paroki mengunjungi umat juga merupakan salah satu upaya yang dapat menunjang pengetahuan umat wilayah Ketika seorang imam tinggal untuk beberapa waktu dan memahami realita yang terjadi niscaya umat akan merasa diperhatikan. Pun hal penting lain yang perlu perhatian secara serius adalah sebelum melaksanakan komuni pertama pembinaan terhadap para orang tua adalah hal yang tak bisa dilupakan atau ditinggalkan, mengingat situasi dan keadaan umat tidak sama dengan wilayah yang sudah maju, hal ini yang akhirnya menjadi perhatian khusus dari para tenaga pastoral. SEPAKAT - VOLUME 8. NO. SEPTEMBER 2022 Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Vol. No. 2 September 2022 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 106-114 SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Orang tua Kristiani memiliki tugas dan tanggung jawab untuk mendidik dan membina kehidupan anaknya (FC . Dalam kehidupan keluarga, orang tua berusaha semaksimal mungkin agar anaknya dapat memahami dengan benar iman yang diwariskan pada dirinya yang sudah diterima melalui rahmat pembaptisan. Setelah seorang anak dibaptis dimulailah pengajaran akan doa-doa pokok sesuai dengan usia anak yang nantinya berguna agar anak tersebut siap untuk menerima sakramen-sakramen yang ada dalam Gereja Katolik, salah satu sakramen yang diterima adalah Ekaristi. Ekaristi yang diterima pertama kali oleh anak dikenal sebagai komuni pertama. Ketika anak sudah menerima komuni pertama tanggung jawab orang tua tidaklah selesai, para orang tua tetaplah harus membina iman anaknya dan hal ini juga merupakan keberlanjutan pendidikan iman anak yang dikenal dengan sebutan Mystagogi. Peran orang tua mengenai pembinaan iman anak pasca komuni pertama masih bisa dikatakan kurang, hal ini terjadi bukan karena kelalaian yang disengaja namun diakibatkan oleh berbagai faktor, seperti pemahaman orang tua yang masih minim tentang berbagai ajaran gereja, tingkat pendidikan orang tua yang masih minim, keadaan sosial ekonomi wilayah yang bisa dikatakan belum merata. Hal-hal inilah yang menjadi faktor belum tercapainya pembinaan berkelanjutan setelah komuni pertama. Saran Bagi Pastor Paroki St. Theresia Lisieux Saripoi Semakin giat dalam kegiatan reksa pastoral dan menjalin kerjasama yang baik dengan para orang tua, membangun dialog yang sejatinya dapat menemukan masalah utama mengapa sampai ditemukan halangan atau permasalahan dalam pembinaan iman anak. Melakukan pelatihan kepada tenaga pastoral awam yang dirasa mampu menunjang kekurangan tenaga pastoral di wilayah bersangkutan sehingga proses pembinaan tetap dapat berjalan walaupun jauh dari pusat paroki. Bagi seluruh umat Stasi Santa Clara Bana-Narui. Berusaha untuk selalu bersikap terbuka akan adanya berbagai kebijakan yang dibuat oleh Para Tenaga Pastoral, mengkomunikasikan harapan dan keinginan tanpa menutup mata terhadap berbagai kekurangan yang masih ada. Selalu berdiskusi dengan Pastor paroki jika mengalami PERAN ORANG TUA DALAM BINA LANJUT IMAN ANAK PASCA KOMUNI PERTAMA DI STASI SANTA CLARA BANA-NARUI kendala yang ditemui tanpa harus adanya rasa takut karena tidak memahami prosedur yang berlaku. DAFTAR PUSTAKA