Jurnal Pendidikan. Bahasa dan Budaya Volume. Nomor. Tahun 2025 e-ISSN : 2962-1143. dan p-ISSN : 2962-0864. Hal. DOI: https://doi. org/10. 55606/jpbb. Available online at: https://journal. id/index. php/jpbb Penerapan Metode Free Expression untuk Meningkatkan Kreativitas Peserta Didik dalam Pembelajaran Seni Rupa Kelas II Sekolah Dasar Negeri 165/Vi Sumber Arum Kabupaten Tebo 1, 2 Putri Khoiriah1*). Rhesti Laila Ulfa. Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Indonesia Email : putricantiknasution@gmail. com1, rhestilailaulfa@uinjambi. Korespondensi penulis : putricantiknasution@gmail. Abstract : This research aims to describe the application of the Free Expression method in improving the learning process and increasing students' creativity in Class II Fine Arts Learning at State Elementary School 165/Vi Sumber Arum. Tebo Regency. This type of research is Classroom Action Research. This research includes planning, implementation, observation and reflection stages. The subjects of this research were students in class II of State Elementary School 165/Vi Sumber Arum. Tebo Regency. The instruments of this research are educator observation sheets, student observation sheets, performance tests, and documentation. The data analysis technique for this research uses qualitative and quantitative analysis techniques. The results of the research are: There was an increase in the learning process which can be seen from the observation sheet in Cycle I Meeting 1, namely 72. 5, the value of Cycle I Meeting II, namely 80, the value of Cycle II Meeting I, namely 85, and the value of Cycle II Meeting II, namely 90. Furthermore, the value of the results of the student observation sheet for Cycle I Meeting 1, namely 70, the value of Cycle I Meeting II, namely 77. 5, the value of Cycle II Meeting I, namely 85, and the value of Cycle II Meeting II, namely 92. 5, . There has been an increase in student creativity in Fine Arts Learning which can be seen in the performance test scores. At the Pre-cycle stage the average score was 6 in the poor category, increasing in Cycle I, namely 78 in the Fairly Good category and increasing in Cycle II, namely 87 in the Good category. So, it can be concluded that the application of the Free Expression method can increase students' creativity in Class II Fine Arts Learning at State Elementary School 165/Vi Sumber Arum. Tebo Regency. Keywords: Free. Expression. Method, student, creativity. Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan metode Free Expression dalam meningkatkan proses belajar dan meningkatkan kreativitas peserta didik pada Pembelajaran Seni Rupa kelas II Sekolah Dasar Negeri 165/Vi Sumber Arum Kabupaten Tebo. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian ini meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini, yaitu peserta didik kelas II Sekolah Dasar Negeri 165/Vi Sumber Arum Kabupaten Tebo. Instrumen penelitian ini, yaitu lembar observasi pendidik, lembar observasi peserta didik, tes unjuk kerja, dan dokumentasi. Teknik analisis data penelitian ini dengan teknik analisis kualitatif dan kuantitatif. Adapun hasil penelitian, yaitu 1. Terjadi peningkatan proses pembelajaran yang dapat dilihat dari lembar observasi pada Siklus I Pertemuan 1, yaitu 72,5, nilai Siklus I Pertemuan II, yaitu 80, nilai Siklus II Pertemuan I, yaitu 85, dan nilai Siklus II Pertemuan II, yaitu Selanjutnya, nilai hasil lembar observasi peserta didik Siklus I Pertemuan 1, yaitu 70, nilai Siklus I Pertemuan II, yaitu 77,5, nilai Siklus II Pertemuan I, yaitu 85, dan nilai Siklus II Pertemuan II, yaitu 92,5, . Terjadi peningkatan kreativitas peserta didik dalam Pembelajaran Seni Rupa yang dapat dilihat pada hasil nilai tes unjuk Pada tahap Pra-siklus nilai rata-rata 68,6 pada ketegori kurang baik, meningkat pada Siklus I, yaitu 78 pada kategori Cukup Baik dan meningkat pada Siklus II, yaitu 87 pada ketegori Baik. Jadi, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode Free Expression dapat meningkatkan kreativitas peserta didik pada Pembelajaran Seni Rupa kelas II Sekolah Dasar Negeri 165/Vi Sumber Arum Kabupaten Tebo. Kata Kunci: Metode. Free. Expression, kreativitas, peserta didik. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan proses penting dalam mengembangkan potensi peserta didik secara holistik, meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Salah satu aspek yang memiliki peran strategis dalam pendidikan dasar adalah pengembangan kreativitas peserta Received Januari 15, 2025. Revised Februari 05, 2025. Accepted Februari 24, 2025. Online Available Februari 26, 2025 Penerapan Metode Free Expression untuk Meningkatkan Kreativitas Peserta Didik dalam Pembelajaran Seni Rupa Kelas II Sekolah Dasar Negeri 165/Vi Sumber Arum Kabupaten Tebo Kreativitas menjadi keterampilan esensial yang harus ditumbuhkan sejak dini, karena memiliki peran penting dalam pembentukan kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, serta inovasi di berbagai bidang kehidupan. Oleh karena itu, berbagai mata pelajaran, termasuk Seni Rupa, berperan besar dalam menumbuhkan dan mengembangkan kreativitas peserta didik (Pane, 2. Salah satu aspek yang memiliki peran strategis dalam pendidikan dasar adalah pengembangan kreativitas peserta didik. Kreativitas tidak hanya penting dalam bidang seni, tetapi juga merupakan keterampilan dasar yang mendukung berbagai aspek kehidupan. Kreativitas memungkinkan peserta didik untuk melihat masalah dari berbagai sudut pandang, menghasilkan ide-ide baru, serta menemukan solusi yang inovatif Dalam konteks dunia yang terus berkembang, kemampuan untuk berpikir kreatif menjadi kunci dalam menghadapi tantangan yang kompleks dan berubah dengan cepat. Oleh karena itu, pendidikan dasar memegang peranan penting dalam menanamkan dasar-dasar kreativitas pada peserta didik (Hayaturraiyan, 2. Pendidikan Seni Rupa di sekolah dasar menjadi salah satu sarana penting untuk mengembangkan kreativitas dan keterampilan estetika peserta didik sejak dini. Melalui Seni Rupa, peserta didik dapat mengekspresikan perasaan, pemikiran, dan imajinasinya secara Selain itu, pembelajaran Seni Rupa juga berperan dalam mengasah kemampuan motorik halus, daya cipta, dan kepekaan peserta didik terhadap keindahan. Oleh karena itu. Seni Rupa memegang peranan penting dalam pembentukan karakter dan pengembangan kepribadian peserta didik di jenjang pendidikan dasar. Selain sebagai media ekspresi, pembelajaran Seni Rupa juga berperan penting dalam mengasah berbagai keterampilan lainnya. Salah satu keterampilan yang paling berkembang melalui kegiatan Seni Rupa adalah kemampuan motorik halus. Ketika peserta didik menggambar, melukis, atau membuat karya tiga dimensi, mereka belajar mengontrol gerakan tangan dan jari-jari mereka, yang sangat penting untuk perkembangan motorik halus. Kegiatan seni ini juga menuntut koordinasi mata dan tangan yang baik, sehingga peserta didik terbiasa dengan aktivitas yang membutuhkan ketepatan dan kesabaran (Shoimin, 2. Seni Rupa juga mengajarkan daya cipta, yakni kemampuan untuk berpikir kreatif dan menghasilkan ide-ide baru. Dalam proses berkarya, peserta didik diajak untuk berpikir out of the box, mengeksplorasi berbagai bentuk, warna, dan komposisi yang tidak hanya mengandalkan aturan yang sudah ada, tetapi juga menciptakan sesuatu yang orisinal. Proses ini tidak hanya mengembangkan kemampuan artistik, tetapi juga melatih cara berpikir kreatif yang dapat diaplikasikan di berbagai bidang kehidupan. Peserta didik yang terbiasa berpikir JPBB - VOLUME. NOMOR. TAHUN 2025 e-ISSN : 2962-1143. dan p-ISSN : 2962-0864. Hal. kreatif melalui Seni Rupa akan lebih siap dalam menghadapi tantangan yang membutuhkan solusi inovatif di masa depan (Mansyur, 2. Selain keterampilan motorik dan daya cipta. Seni Rupa juga memainkan peran dalam mengembangkan kepekaan estetika dan apresiasi peserta didik terhadap keindahan. Melalui pembelajaran Seni Rupa, peserta didik diajarkan untuk memperhatikan detail, harmoni, dan proporsi dalam karya seni. Hal ini tidak hanya meningkatkan rasa seni mereka, tetapi juga membangun kemampuan untuk menghargai karya seni orang lain. Dengan demikian. Seni Rupa tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga nilai-nilai keindahan dan estetika yang akan berdampak pada cara peserta didik memandang dunia di sekitar mereka (Wahyuni, 2. Seni Rupa memegang peranan penting dalam pembentukan karakter dan pengembangan kepribadian peserta didik di jenjang pendidikan dasar. Melalui kegiatan seni, peserta didik belajar tentang pentingnya kerja keras, kesabaran, dan ketekunan dalam menghasilkan karya. Mereka juga belajar menghargai proses, bukan hanya hasil akhir, serta bagaimana menghadapi tantangan dengan kreatif. Seni Rupa, dengan segala aspek yang diajarkannya, menjadi pondasi kuat dalam membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kreatif, empatik, dan berjiwa estetis. Dalam jangka panjang, pendidikan Seni Rupa berkontribusi pada perkembangan individu yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan kreatif, yang sangat penting bagi kehidupan mereka di masa depan. (Mansyur, 2. Berdasarkan observasi awal di Sekolah Dasar Negeri 165/Vi Sumber Arum. Kabupaten Tebo, ditemukan bahwa pembelajaran Seni Rupa di Kelas II belum berjalan dengan maksimal. Peserta didik cenderung pasif dan hanya mengikuti instruksi pendidik tanpa menunjukkan kreativitas atau ekspresi pribadi dalam karya seni. Mereka lebih fokus pada hasil akhir yang seragam, tanpa adanya upaya untuk mengembangkan ide-ide atau imajinasi secara mandiri. Hal ini mengindikasikan bahwa pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran Seni Rupa masih terbatas pada teknik dasar tanpa memberi ruang bagi kreativitas peserta Pembelajaran Seni Rupa yang diterapkan lebih mengutamakan keterampilan teknis daripada pengembangan imajinasi dan ekspresi diri. Sebagian besar waktu pelajaran dihabiskan untuk mengikuti langkah-langkah yang telah ditentukan pendidik sehingga peserta didik tidak memiliki kesempatan untuk bereksperimen dan mengekspresikan ide-ide mereka secara bebas. Kondisi ini menyebabkan rendahnya minat peserta didik dalam pelajaran Seni Rupa yang seharusnya bisa menjadi media untuk mengembangkan kreativitas dan keterampilan artistik Penerapan Metode Free Expression untuk Meningkatkan Kreativitas Peserta Didik dalam Pembelajaran Seni Rupa Kelas II Sekolah Dasar Negeri 165/Vi Sumber Arum Kabupaten Tebo Masalah lain yang teridentifikasi adalah keterbatasan fasilitas dan media yang tersedia di Meskipun terdapat beberapa peralatan seni, namun jumlahnya terbatas dan tidak cukup mendukung untuk memberi kesempatan kepada setiap peserta didik dalam berekspresi. Akibatnya, peserta didik terpaksa berbagi alat atau tidak dapat sepenuhnya mengembangkan kreativitas mereka karena adanya kendala dalam hal fasilitas dan bahan ajar. Ini menghambat proses belajar yang seharusnya bisa lebih optimal dan menyenangkan. Berdasarkan hasil tes formatif peserta didik ditemukan bahwa nilai peserta didik masih Dari 22 peserta didik terdapat 9 peserta didik yang nilainya sudah mencapai KKTP (Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajara. sedangkan 13 diantaranya belum memahami pembelajaran sehingga nilainya belum mencapai KKTP. Nilai terendah yang dicapai peserta didik adalah 45 dan nilai tertinggi adalah 80. Nilai KKTP Pembelajaran Seni yaitu 75. Ditinjau dari segi pendidik terlihat bahwa pendidik masih menggunakan metode pembelajaran yang monoton. Pendidik hanya memberikan instruksi langkah demi langkah untuk membuat karya seni tanpa memberi ruang bagi peserta didik untuk berkreasi. Pendekatan yang terlalu terstruktur ini tidak memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk mengekspresikan imajinasi dan ide-ide mereka secara bebas sehingga kreativitas mereka menjadi terhambat. Peserta didik cenderung merasa bosan karena tidak ada variasi dalam kegiatan pembelajaran yang membuat mereka kurang antusias dalam mengikuti pelajaran seni Pendidik juga sering kali tidak memanfaatkan media pembelajaran yang dapat mendukung proses belajar seni rupa secara maksimal. Penggunaan alat dan bahan yang terbatas serta kurangnya inovasi dalam pemilihan media membuat peserta didik hanya terfokus pada teknik dasar yang diajarkan oleh pendidik, tanpa adanya eksplorasi lebih lanjut. Pendidik cenderung mengandalkan papan tulis dan contoh karya seni sederhana sebagai media pembelajaran, yang tentunya tidak cukup untuk menginspirasi peserta didik. Padahal, penggunaan media pembelajaran yang variatif, seperti bahan-bahan seni yang berbeda atau teknologi visual, dapat membantu peserta didik untuk lebih memahami konsep-konsep seni dengan cara yang lebih menyenangkan dan efektif. Dengan demikian, keterbatasan dalam penggunaan media ini menjadi salah satu faktor yang menghambat peningkatan kreativitas peserta didik dalam pelajaran seni rupa. Dengan adanya masalah tersebut, diperlukan perubahan dalam pendekatan pembelajaran Seni Rupa. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, pendidik perlu memanfaatkan metode pembelajaran yang lebih inovatif dan mendukung kreativitas peserta didik (Nursito, 2. JPBB - VOLUME. NOMOR. TAHUN 2025 e-ISSN : 2962-1143. dan p-ISSN : 2962-0864. Hal. Salah satu metode yang diyakini dapat meningkatkan kreativitas peserta didik adalah metode Free Expression . kspresi beba. Metode ini memberi ruang yang lebih luas bagi peserta didik untuk mengekspresikan ide dan perasaannya tanpa batasan yang terlalu kaku. Dalam pembelajaran Seni Rupa, metode Free Expression memungkinkan peserta didik untuk mengeksplorasi berbagai teknik dan media dengan lebih bebas, sehingga mereka dapat mengembangkan ide-ide kreatif secara lebih leluasa. Dengan penerapan metode ini, peserta didik diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri, keberanian berekspresi, dan kemampuan berinovasi dalam karya seni mereka (Fatma, 2. Metode Free Expression juga mendorong peserta didik untuk berpikir di luar batasbatas tradisional, menantang cara berpikir yang biasa, dan menciptakan sesuatu yang benarbenar orisinal. Ini bukan hanya tentang menghasilkan karya seni, tetapi juga tentang menumbuhkan pola pikir yang terbuka dan fleksibel, yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, penerapan metode ini tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis dalam Seni Rupa, tetapi juga membantu membentuk peserta didik yang lebih kreatif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan dengan pendekatan yang unik dan penuh percaya diri (Shoimin, 2. Berdasarkan permasalahan yang ada di atas, peneliti memfokuskan penelitian ini tentang AuPenerapan Metode Free Expression dalam Meningkatkan Kreativitas Peserta Didik Pada Pembelajaran Seni Rupa Kelas II Sekolah Dasar Negeri 165/Vi Sumber Arum Kabupaten TeboAy. METODE Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas ini merupakan penelitian yang dilakukan secara sistematis terhadap berbagai tindakan yang dilakukan . eserta didi. kemudian peneliti . , sejak disusunnya suatu perencanaan sampai penilain terhadap tindakan nyata didalam kelas berupa kegitan belajar mengajar, untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukan. Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah suatu penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan perbaikan dalam pembelajaran yang bertujuan untuk mengatasi masalah yang sedang terjadi di kelas dalam proses pembelajaran. Penelitian tindakan kelas (PTK) dilakukan dalam upaya untuk memperbaiki praktik pembelajaran menjadi lebih efektif (Rifanty, 2. Model yang digunakan pada penelitian tindakan kelas ini adalah model yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Tanggrat. Penelitian tindakan kelas (PTK) model Kemmis dan Mc Taggart pada hakikatnya berupa perangkat-perangkat atau untaian-untaian Penerapan Metode Free Expression untuk Meningkatkan Kreativitas Peserta Didik dalam Pembelajaran Seni Rupa Kelas II Sekolah Dasar Negeri 165/Vi Sumber Arum Kabupaten Tebo dengan satu perangkat terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan Keempat tahap merupakan satu kesatuan dalam siklus. Konsep dasar oleh Kemmis & Mc. Taggart ini dengan komponen tindakan . dengan pengamatan . disatukan dengan alasan kedua kegiatan itu tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena kedua kegiatan haruslah dilakukan dalam satu kesatuan waktu. Begitu berlangsung suatu kegiatan dilakukan, kegiatan observasi harus dilakukan sesegera mungkin . utridiyanti, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Penerapan Metode Free Expression dalam Meningkatkan Pembelajaran Seni Rupa Kelas II Sekolah Dasar Negeri 165/Vi Sumber Arum Kabupaten Tebo Penelitian ini dimulai dengan tahap pra-siklus yang bertujuan untuk melihat seberapa besar tingkat kreativitas peserta didik dalam pembelajaran seni rupa sebelum menerapkan metode Free Expression. Tahap Prasiklus dilakukan pada hari Jumat, 3 Januari 2025, alokasi waktu 2 x 35 menit. Kompetensi dasar yaitu membuat karya seni dua dimensi. Tahap pra-siklus ini sangat penting sebagai langkah awal untuk mengetahui kondisi awal peserta didik dalam hal kreativitas, kemampuan teknis, dan pemahaman terhadap materi seni rupa. Dengan begitu, hasil yang diperoleh dari tahap ini akan menjadi dasar perbandingan untuk menilai perubahan atau perkembangan peserta didik setelah penerapan metode yang akan digunakan pada siklussiklus selanjutnya. Kompetensi dasar yang digunakan dalam tahap ini adalah kemampuan untuk membuat karya seni dua dimensi. Tugas tersebut diberikan dengan harapan peserta didik dapat menunjukkan keterampilan mereka dalam mengolah elemen-elemen seni rupa seperti garis, bentuk, warna, dan tekstur. Dalam pelaksanaan tugas ini, peserta didik diharapkan dapat menggambarkan ide atau tema tertentu melalui karya dua dimensi yang mereka buat, meskipun tidak diberikan arahan yang spesifik mengenai tema atau bentuk karya yang diinginkan. Penting untuk dicatat bahwa tahap pra-siklus ini juga berfungsi sebagai media observasi untuk melihat seberapa besar minat, pemahaman, dan keterampilan peserta didik dalam dunia seni JPBB - VOLUME. NOMOR. TAHUN 2025 e-ISSN : 2962-1143. dan p-ISSN : 2962-0864. Hal. Adapun hasil penilaian tingkat kreativitas karya seni dua dimensi yang dihasilkan peserta didik dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 1 Hasil Kreativitas Karya Seni Peserta Didik Kelas II Kode Siswa Aspek Penilaian Skor Nilai S10 S11 S12 S13 S14 S15 S16 S17 S18 S19 S20 S21 S22 Total Skor Tuntas Tidak Tuntas Nilai Ket Kurang Baik Penerapan Metode Free Expression untuk Meningkatkan Kreativitas Peserta Didik dalam Pembelajaran Seni Rupa Kelas II Sekolah Dasar Negeri 165/Vi Sumber Arum Kabupaten Tebo Tabel 1 di atas menunjukkan hasil kreativitas karya seni peserta didik kelas II di Sekolah Dasar Negeri 165/Vi yang dipertimbangkan berdasarkan total skor yang diperoleh selama Dari hasil evaluasi tersebut, terdapat 10 peserta didik yang sudah tuntas dalam membuat karya seni. , sedangkan 12 peserta didik tidak tuntas, yang menunjukkan bahwa mereka belum berhasil mencapai kriteria yang diharapkan dalam hal kreativitas dan kualitas karya seni. Rata-rata nilai yang diperoleh oleh peserta didik dalam tahap ini adalah 68,6. Nilai ini mencerminkan hasil keseluruhan yang masih berada di bawah tingkat yang diharapkan. Nilai tingkat kreativitas peserta didik ini menjadi acuan untuk melakukan perbaikan di siklussiklus berikutnya. Berdasarkan angka rata-rata ini, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar peserta didik masih perlu mendapatkan bimbingan lebih lanjut untuk meningkatkan keterampilan dan kreativitas mereka dalam seni rupa. Penilaian terhadap hasil karya seni ini menunjukkan bahwa tingkat kreativitas peserta didik kelas II di Sekolah Dasar Negeri 165/Vi pada tahap pra-siklus masih terbilang kurang baik. Dengan kata lain, meskipun beberapa peserta didik telah menunjukkan hasil yang tuntas, banyak yang belum mencapai standar yang diinginkan. Oleh karena itu, penerapan metode Free Expression pada siklus selanjutnya diharapkan dapat mendorong peserta didik untuk lebih kreatif dan meningkatkan kemampuan mereka dalam menciptakan karya seni yang lebih baik. Perencanaan Siklus I ini yaitu peneliti terlebih dahulu menyiapkan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), lalu modul ajar. Dalam modul ajar memuat pembelajaran Seni Budaya, kelas II SDN 165/Vi Sumber Arum Kab. Tebo, pada hari Selasa tanggal 7 Januarii 2025, alokasi waktu 2 x 35 menit. Kompetensi dasar yaitu membuat dan menghias karya seni dua Perencanaan Siklus I ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang maksimal bagi peserta didik dalam mempelajari seni budaya, khususnya dalam pembuatan dan penghiasan karya seni dua dimensi. Dengan menyusun Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) yang terperinci, peneliti berharap dapat memberikan arah yang jelas dalam proses pembelajaran. Modul ajar yang disiapkan juga mencakup langkah-langkah pembelajaran yang sistematis agar peserta didik dapat mengembangkan keterampilan mereka secara bertahap. Pertemuan I Siklus I dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 2 Januari 2025 yang berlangsung selama 2x35 menit . x pertemua. di SDN 165/Vi Sumber Arum Kab. Tebo. Peneliti dibimbing oleh pendidik kelas II yang bertugas mengamati proses belajar mengajar di Kegiatan pembelajaran yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan menerapkan Metode pembelajaran Free Expression. Pendidik menjelaskan konsep dasar bahwa karya seni JPBB - VOLUME. NOMOR. TAHUN 2025 e-ISSN : 2962-1143. dan p-ISSN : 2962-0864. Hal. dua dimensi. Karya seni dua dimensi adalah karya yang hanya memiliki dua dimensi, yaitu panjang dan lebar, tanpa kedalaman atau ruang. Setelah menjelaskan konsep dasar seni dua dimensi, pendidik melanjutkan dengan memberikan contoh-contoh karya seni dua dimensi berupa gambar yang dapat memberikan gambaran yang lebih jelas kepada peserta didik mengenai jenis-jenis karya seni tersebut. Dalam penerapan metode Free Expression, pendidik akan memberikan kebebasan penuh kepada peserta didik untuk menentukan tema, sketsa, dan warna yang akan mereka gunakan dalam karya seni mereka. Pendidik hanya bertindak sebagai fasilitator yang memberikan bimbingan teknis jika diperlukan, tetapi tetap memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengekspresikan ide dan perasaan mereka secara bebas. Pelaksanaan tindakan pembelajaran Siklus I pertemuan II dilakukan pada hari Selasa 7 Januari 2025 dengan alokasi waktu 2 x 35 menit. Pada pertemuan kedua ini, kegiatan pembelajaran peseta didik yaitu menghias karya seni dua dimensi. Tahap awal yang dilakukan yaitu pemilihan bahan hiasan. Pendidik akan memperkenalkan berbagai bahan yang tersedia, seperti kertas warna-warni, stiker, glitter, dan potongan kain. Selama proses menghias, pendidik tidak hanya membiarkan peserta didik bekerja secara mandiri, tetapi juga berkeliling dari meja ke meja untuk memberikan bimbingan dan dukungan. Pendidik mengamati setiap peserta didik untuk memastikan bahwa mereka bekerja dengan nyaman dan merasa didukung dalam proses kreatif mereka. Jika ada peserta didik yang membutuhkan bantuan, pendidik siap memberikan tips tentang bagaimana cara menempelkan bahan dengan rapi atau teknik-teknik lainnya yang dapat memperbaiki hasil karya. Selain itu, pendidik juga memberikan motivasi agar peserta didik tidak merasa terburu-buru dan dapat fokus pada detail dan ketelitian. Hal ini sangat penting agar peserta didik dapat mengembangkan keterampilan motorik halus mereka dan meningkatkan hasil karya seni yang mereka buat. Setelah proses menghias selesai, kegiatan berlanjut ke tahap presentasi karya. Peserta didik diminta untuk memperlihatkan hasil karya mereka kepada teman-teman sekelas. Sesi ini sangat penting karena memberi kesempatan bagi peserta didik untuk berbagi dan menunjukkan hasil kerja keras mereka. Presentasi ini juga menjadi ajang bagi mereka untuk merasakan apresiasi dari teman-teman sekelas dan pendidik atas kreativitas yang telah mereka tunjukkan. Berdasarkan hasil persentase hasil observasi pendidik Siklus I Pertemuan I dilakukan observer dalam kegiatan proses pembelajaran menggunakan metode Free Expression diperoleh data bahwa dari 10 point yang diobservasi, terdapat 2 point pada kategori Sangat Baik, 5 point pada kategori Baik, 3 point pada kategori Kurang Baik. Perolehan nilai Penerapan Metode Free Expression untuk Meningkatkan Kreativitas Peserta Didik dalam Pembelajaran Seni Rupa Kelas II Sekolah Dasar Negeri 165/Vi Sumber Arum Kabupaten Tebo observasi pendidik Siklus 1 Pertemuan i, yaitu 72,5 pada kategori Cukup Baik. Datanya juga dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 2 Lembar Observasi Pendidik Siklus I Pertemuan I Aspek yang Diamati Pemilihan Tema Membuat Sketsa Mewarnai Sketsa Presentasi Karya Penutup Total Skor Nilai Kategori Skor Cukup Baik Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa aspek yang diamati meliputi pemilihan tema, pembuatan sketsa, mewarnai sketsa, presentasi karya, dan penutupan, dengan total skor 28 dan nilai 70 yang menunjukkan bahwa meskipun ada beberapa aspek yang sudah berjalan dengan baik, masih ada ruang untuk perbaikan. Hal ini memberikan gambaran bahwa masih diperlukan penguatan dalam beberapa aspek untuk mencapai hasil yang lebih optimal pada pertemuan Hasil observasi pendidik Siklus I Pertemuan II yang dilakukan observer dalam kegiatan proses pembelajaran menggunakan metode Free Expression diperoleh data bahwa dari 10 point yang diobservasi, terdapat 2 point pada kategori Sangat Baik, dan 8 point pada kategori Baik. Perolehan nilai observasi pendidik Siklus I Pertemuan II, yaitu 80 pada kategori Baik. Perolehan nilai observasi pendidik Siklus 1 Pertemuan II, yaitu 80 pada kategori Baik. Datanya juga dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 3 Lembar Observasi Pendidik Siklus I Pertemuan II Aspek yang Diamati Pemilihan Tema Pemilihan Bahan Hiasan Menghias Karya Presentasi Karya Penutup Total Skor Nilai Kategori JPBB - VOLUME. NOMOR. TAHUN 2025 Skor Baik e-ISSN : 2962-1143. dan p-ISSN : 2962-0864. Hal. Berdasarkan Tabel 3 yang disajikan, aspek yang diamati mencakup pemilihan tema, pemilihan bahan hiasan, menghias karya, presentasi karya, dan penutupan, dengan total skor 32 dan kategori Baik. Secara keseluruhan terdapat peningkatan yang baik dibanding perolehan skor pada pertemuan sebelumnya, seperti pada aspek pemilihan bahan hiasan dan menghias karya yang menunjukkan adanya kemajuan dalam proses pembelajaran dibandingkan dengan pertemuan sebelumnya. Hasil observasi peserta didik Siklus I Pertemuan I yang dilakukan observer dalam kegiatan proses pembelajaran menggunakan metode Free Expression diperoleh data bahwa dari 10 point yang diobservasi, terdapat 1 point pada kategori Sangat Baik, 6 point pada kategori Baik, 3 point pada kategori Kurang Baik. Perolehan nilai observasi peserta didik Siklus 1 Pertemuan I, yaitu 70 pada kategori Cukup Baik . Datanya juga dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4 Lembar Observasi Peserta Didik Siklus I Pertemuan I Aspek yang Diamati Pemilihan Tema Membuat Sketsa Mewarnai Sketsa Presentasi Karya Penutup Total Skor Nilai Kategori Skor Cukup Baik Berdasarkan Tabel 4 yang disajikan menunjukkan bahwa aspek yang diamati mencakup pemilihan tema, pembuatan sketsa, mewarnai sketsa, presentasi karya, dan penutupan, dengan total skor 28 dan nilai 70 berada pada kategori Cukup Baik. Meskipun sebagian besar poin berada pada kategori Baik, masih ada beberapa area, seperti penutupan yang perlu mendapat perhatian lebih agar peserta didik dapat mencapai hasil yang lebih optimal pada siklus Selanjutnya, hasil observasi peserta didik Siklus I Pertemuan II yang dilakukan observer dalam kegiatan proses pembelajaran menggunakan metode Free Expression diperoleh data bahwa dari 10 point yang diobservasi, terdapat 3 point pada kategori Sangat Baik, 5 point pada kategori Baik, 2 point pada kategori Kurang Baik. Perolehan nilai observasi peserta didik Siklus 1 Pertemuan II, yaitu 77,5 pada kategori Cukup Baik . Datanya juga dapat dilihat pada tabel berikut. Penerapan Metode Free Expression untuk Meningkatkan Kreativitas Peserta Didik dalam Pembelajaran Seni Rupa Kelas II Sekolah Dasar Negeri 165/Vi Sumber Arum Kabupaten Tebo Tabel 5 Lembar Observasi Peserta Didik Siklus I Aspek yang Diamati Pemilihan Tema Pemilihan Bahan Hiasan Menghias Karya Presentasi Karya Penutup Total Skor Nilai Kategori Skor Cukup Baik Berdasarkan Tabel 5 yang disajikan, hasil observasi peserta didik pada Siklus I Pertemuan II menunjukkan adanya sedikit peningkatan dibandingkan dengan pertemuan sebelumnya, meskipun masih berada dalam kategori Cukup Baik dengan nilai 77,5. Peningkatan terlihat pada aspek menghias karya, yang memperoleh skor tertinggi yaitu 11, serta pemilihan bahan hiasan dengan skor 7 yang menunjukkan bahwa peserta didik mulai lebih percaya diri dalam memilih dan menggunakan bahan untuk menghias karya seni mereka. Namun, pemilihan tema dan presentasi karya masih mendapatkan skor 5 yang menunjukkan bahwa peserta didik perlu lebih fokus dan kreatif dalam memilih tema serta menyampaikan karya mereka dengan lebih baik. Secara keseluruhan, meskipun ada kemajuan, masih terdapat beberapa aspek yang memerlukan perhatian lebih agar peserta didik dapat mencapai hasil yang lebih optimal pada pertemuan berikutnya. Hasil penilaian karya seni peserta didik Siklus I diperoleh data bahwa mayoritas peserta didik berada pada kategori baik dan cukup baik. Dari total 22 peserta didik, terdapat 2 peserta didik yang mendapatkan kategori sangat baik dengan nilai antara 90-100, yang mencerminkan kreativitas dan kualitas karya yang luar biasa. Sebagian besar peserta didik, yaitu 12 orang . %), berada pada kategori baik dengan nilai antara 80-89, menunjukkan bahwa mereka mampu menghasilkan karya seni yang memadai dengan tingkat kreativitas yang cukup baik. Sementara itu, 6 peserta didik . %) berada pada kategori cukup baik dengan nilai antara 7079, yang menunjukkan bahwa karya mereka masih memiliki potensi untuk dikembangkan lebih Hanya 2 peserta didik . %) yang masuk dalam kategori kurang baik dengan nilai antara 60-69, yang menunjukkan bahwa mereka perlu lebih banyak bimbingan dan latihan untuk meningkatkan kualitas karya mereka. JPBB - VOLUME. NOMOR. TAHUN 2025 e-ISSN : 2962-1143. dan p-ISSN : 2962-0864. Hal. Adapun rincian data penilaian kreativitas karya seni peserta didik Siklus I dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 6 Penilaian Kreativitas Karya Seni Peserta Didik No Interval Skor Katerangan Jumlah Peserta didik % Sangat baik Baik Cukup Kurang >60 Jumlah Nilai Rata-rata Keterangan Cukup Baik Sangat kurang Setelah pembelajaran selesai, dilakukan tahapan refleksi. Refleksi merupakan melihat, mengkaji, dan mempertimbangkan hasil atau tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan proses pendidik dan lembar pengamatan peserta didik yang diisi oleh observer. Untuk perbaikan di masa mendatang, pendidik perlu memberikan lebih banyak ruang bagi peserta didik untuk bereksperimen dan mengambil keputusan secara mandiri, terutama dalam hal pemilihan tema, warna, dan teknik menggambar. Pendidik bisa lebih berfokus pada memberi dukungan dan dorongan agar peserta didik merasa lebih percaya diri dengan pilihan mereka sendiri, tanpa terlalu banyak intervensi. Melalui pendekatan yang lebih terbuka dan mendukung, peserta didik diharapkan dapat lebih bebas dalam mengekspresikan ide-idenya, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan lebih efektif dan sesuai dengan prinsip metode Free Expression. Dengan refleksi ini, diharapkan proses pembelajaran di siklus selanjutnya dapat lebih optimal dalam mengembangkan kreativitas peserta didik. Berdasarkan hasil pelaksanan Siklus I, maka penelitian masih perlu dilanjutkan pada Siklus II. Hasil penelitian secara kuantitif telah menunjukkan terjadi peningkatan proses pembelajaran dan peningkatan kreativitas peserta didik dengan menerapkan Metode Free Expression. Nanun, peningkatan tersebut belum signifikan. Oleh karena itu, penelitian ini dilanjutkan pada Siklus ke II. Perencanaan Siklus II dimulai dengan menyiapkan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) yang jelas dan terstruktur untuk memastikan bahwa setiap langkah pembelajaran dapat tercapai sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Setelah itu, langkah selanjutnya adalah menyusun modul Penerapan Metode Free Expression untuk Meningkatkan Kreativitas Peserta Didik dalam Pembelajaran Seni Rupa Kelas II Sekolah Dasar Negeri 165/Vi Sumber Arum Kabupaten Tebo ajar yang memuat detail kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan untuk kelas II SDN 165/Vi Sumber Arum Kab. Tebo pada hari Selasa, 14 Januari 2025. Alokasi waktu 2x35 Kompetensi dasar yang akan dicapai adalah kemampuan untuk membuat dan menghias karya seni tiga dimensi. Materi pembelajaran dalam Siklus II berfokus pada pembuatan dan penghiasan karya seni tiga dimensi. Pertemuan I Siklus II dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 14 Januari 2025 yang berlangsung selama 2x35 menit . x pertemua. di SDN 165/Vi Sumber Arum Kab. Tebo. Peneliti dibimbing oleh pendidik kelas II yang bertugas mengamati proses belajar mengajar di Kegiatan pembelajaran yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan menerapkan Metode pembelajaran Free Expression. Pendidik menjelaskan konsep dasar bahwa karya seni tiga dimensi adalah karya seni yang memiliki panjang, lebar, dan tinggi. Karya seni ini memiliki volume dan bisa dilihat dari berbagai sisi. Karya seni ini biasanya berupa objek atau patung yang bisa dilihat dari depan, belakang, samping, dan atas/bawah. Untuk membantu peserta didik memahami, pendidik memberikan contoh-contoh yang familiar berupa karya dalam bentuk AuBungaAy dan peserta didik melanjutkan membuat karya tigga dimensi sesuai konsep yang telah mereka tentukan. Pelaksanaan tindakan pembelajaran Siklus II pertemuan II dilakukan pada hari Kamis tanggal 16 Januari 2025 dengan alokasi waktu 2 x 35 menit. Pada pertemuan kedua Siklus II ini, kegiatan pembelajaran peseta didik yaitu menghias karya seni tiga dimensi. Tahap awal yang dilakukan yaitu pemilihan bahan hiasan. Pendidik akan memperkenalkan berbagai bahan yang tersedia, seperti kertas warna-warni, stiker, glitter, potongan kain, dan pita. Berdasarkan hasil observasi pendidik Siklus II Pertemuan I menunjukkan adanya peningkatan yang baik dalam proses pembelajaran. Skor yang diperoleh pada aspek pemilihan tema . dan pembuatan sketsa . menunjukkan bahwa peserta didik mulai lebih kreatif dan percaya diri dalam merencanakan dan menggambar karya seni mereka. Pada aspek mewarnai sketsa dan presentasi karya masing-masing memperoleh skor 6 yang menunjukkan bahwa peserta didik masih perlu lebih mengasah keterampilan dalam memberikan sentuhan akhir pada karya mereka dan menyampaikan karya dengan lebih baik. Secara keseluruhan, nilai total 34 dan kategori "Baik" dengan nilai 85 menunjukkan bahwa meskipun ada beberapa aspek yang perlu ditingkatkan, proses pembelajaran berjalan dengan baik dan menunjukkan perkembangan positif dibandingkan siklus sebelumnya. JPBB - VOLUME. NOMOR. TAHUN 2025 e-ISSN : 2962-1143. dan p-ISSN : 2962-0864. Hal. Tabel 7 Lembar Observasi Pendidik Siklus II Pertemuan I Aspek yang Diamati Pemilihan Tema Membuat Sketsa Mewarnai Sketsa Presentasi Karya Penutup Total Skor Nilai Kategori Skor Baik Selanjutnya, hasil observasi pendidik Siklus II Pertemuan II menunjukkan pencapaian yang sangat baik dalam proses pembelajaran. Skor yang diperoleh pada aspek pemilihan tema . dan pemilihan bahan hiasan . mencerminkan kemampuan peserta didik dalam memilih elemen-elemen yang sesuai untuk mendukung karya seni mereka, serta menunjukkan kreativitas yang berkembang dengan baik. Aspek menghias karya memperoleh skor tertinggi, yaitu 12 yang menandakan bahwa peserta didik berhasil mengimplementasikan ide mereka dengan sangat baik dalam bentuk karya tiga dimensi. Ssecara keseluruhan, total skor 37 dan nilai 95 yang berada pada kategori "Sangat Baik" menunjukkan bahwa peserta didik telah mencapai hasil yang luar biasa dan menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam keterampilan seni mereka dibandingkan dengan pertemuan sebelumnya. Tabel 8 Lembar Observasi Pendidik Siklus II Pertemuan II Aspek yang Diamati Pemilihan Tema Pemilihan Bahan Hiasan Menghias Karya Presentasi Karya Penutup Total Skor Nilai Kategori Skor Sangat Baik Hasil observasi peserta didik Siklus II Pertemuan I menunjukkan bahwa peserta didik telah menunjukkan kemajuan yang baik dalam beberapa aspek pembelajaran. Aspek pemilihan tema dan pembuatan sketsa masing-masing memperoleh skor 7 yang menunjukkan bahwa peserta didik cukup kreatif dalam memilih tema dan merencanakan desain karya seni mereka. Pada aspek mewarnai sketsa, peserta didik memperoleh skor yang lebih tinggi, yaitu 11 yang menunjukkan peningkatan keterampilan dalam memberi warna pada karya seni mereka. Penerapan Metode Free Expression untuk Meningkatkan Kreativitas Peserta Didik dalam Pembelajaran Seni Rupa Kelas II Sekolah Dasar Negeri 165/Vi Sumber Arum Kabupaten Tebo Namun, aspek presentasi karya . masih perlu diperhatikan lebih lanjut dan menunjukkan adanya ruang untuk perbaikan dalam cara menyampaikan karya dan menyelesaikan Dengan total skor 34 dan nilai 85 pada kategori "Baik", ini mencerminkan hasil yang cukup memuaskan, meskipun ada beberapa area yang perlu ditingkatkan di pertemuan Tabel 9 Lembar Observasi Peserta Didik Siklus II Aspek yang Diamati Pemilihan Tema Membuat Sketsa Mewarnai Sketsa Presentasi Karya Penutup Total Skor Nilai Kategori Skor Baik Selanjutnya, hasil observasi peserta didik Siklus I Pertemuan II menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam perkembangan keterampilan peserta didik. Aspek pemilihan tema dan pemilihan bahan hiasan masing-masing memperoleh skor 8 yang mencerminkan bahwa peserta didik semakin terampil dalam memilih tema yang relevan dan bahan yang sesuai untuk karya seni mereka. Pada aspek menghias karya, peserta didik memperoleh skor tertinggi, yaitu 12, yang menunjukkan kemampuan luar biasa dalam mengimplementasikan ide-ide kreatif mereka dalam bentuk karya seni tiga dimensi. Total skor 37 dan nilai 92,5 yang berada pada kategori "Sangat Baik" menunjukkan pencapaian yang sangat baik dan menandakan bahwa peserta didik telah menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam berbagai aspek pembelajaran Hasil penilaian karya seni peserta didik Siklus I diperoleh data bahwa terdapat 12 peserta didik yang nilainya pada kategori sangat baik, 8 peserta didik pada kategori baik, dan 2 peserta didik pada kategori cukup baik. Nilai rata-rata karya seni peserta didik pada Siklus II, yaitu 87 pada kategori Baik. Adapun rincian data penilaian kreativitas karya seni peserta didik pada Siklus II dapat dilihat pada tabel berikut. JPBB - VOLUME. NOMOR. TAHUN 2025 e-ISSN : 2962-1143. dan p-ISSN : 2962-0864. Hal. Tabel 10 Penilaian Kreativitas Karya Seni Peserta Didik No Interval Skor Katerangan Jumlah Peserta didik % Sangat baik Baik >60 Cukup Kurang Sangat kurang Jumlah Nilai Keterangan Baik Berdasarkan hasil penelitian Siklus II terlihat bahwa pembelajaran seni rupa menggunakan Metode Free Expression mengalami peningkatan baik dari segi Metode Free Expression dengan optimal. Pendidik memberi kesempatan peserta didiknya menentukan sendiri tema karya seninya, menentukan sketsa, pewarnaan, sampai pada menghias karya Pendidik hanya bertugas membimbing peserta didik saja. Pada Siklus II, peserta didik menunjukkan perkembangan signifikan dalam mengekspresikan ide dan kreativitas mereka. Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan SiklusII proses belajar dan hasil belajar peserta didik telah memenuhi indikator keberhasilan penelitian. Oleh karena itu, penelitian ini dapat dihentikan pada Siklus II. Peningkatan Kreativitas Peserta Didik Menggunakan Metode Free Expression Pada Pembelajaran Seni Rupa Kelas II Sekolah Dasar Negeri 165/Vi Sumber Arum Kabupaten Tebo Tahap ini dilaksanakan pada Jumat, 3 Januari 2025, dengan alokasi waktu 2 x 35 menit. Hasil penilaian menunjukkan bahwa hanya 10 peserta didik yang tuntas dalam membuat karya seni, sementara 12 lainnya belum tuntas. Rata-rata nilai yang diperoleh peserta didik adalah 68,6, yang mencerminkan bahwa sebagian besar masih berada di bawah tingkat yang Hasil ini menunjukkan bahwa banyak peserta didik yang belum mencapai kriteria yang diinginkan dalam hal kreativitas dan kualitas karya seni. Berdasarkan hasil tahap pra-siklus, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar peserta didik masih membutuhkan bimbingan untuk meningkatkan keterampilan dan kreativitas mereka dalam seni rupa. Dengan demikian, penerapan metode Free Expression pada siklus Penerapan Metode Free Expression untuk Meningkatkan Kreativitas Peserta Didik dalam Pembelajaran Seni Rupa Kelas II Sekolah Dasar Negeri 165/Vi Sumber Arum Kabupaten Tebo berikutnya diharapkan dapat mendorong peserta didik untuk lebih kreatif dan meningkatkan kemampuan mereka dalam menciptakan karya seni yang lebih baik. Penelitian ini pada setiap siklus terdiri atas tiga kegiatan belajar, yaitu pendahuluan, inti, dan penutup. Pembelajaran menggunakan metode Free Expression. Penelitian ini mengkaji kegiatan pembelajaran seni rupa dua dimensi yang dilaksanakan dalam dua pertemuan. Kegiatan pembelajaran dimulai dengan membimbing peserta didik memilih tema gambarr, kemudian membuat sketsa, pewarnaan, dan penghiasan karya seni. Hasil penilaian karya seni peserta didik pada Siklus I, diperoleh data yang memberikan gambaran tentang sejauh mana pemahaman dan keterampilan peserta didik dalam bidang seni. Dari hasil penilaian, terdapat 2 peserta didik yang memperoleh nilai pada kategori Sangat Baik, menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan yang sangat baik dalam menerapkan konsep seni yang diajarkan. Selain itu, 12 peserta didik berada dalam kategori Baik, yang mengindikasikan bahwa mayoritas peserta didik sudah cukup memahami materi dan menerapkannya dengan baik. Sebanyak 6 peserta didik berada pada kategori Cukup Baik, yang menunjukkan bahwa mereka masih membutuhkan pembimbingan lebih lanjut untuk mencapai pemahaman yang lebih mendalam. Adapun 2 peserta didik yang berada pada kategori Kurang Baik menunjukkan bahwa ada beberapa area yang masih perlu perhatian khusus. Nilai rata-rata peserta didik pada Siklus I, yaitu 78, berada pada kategori Cukup Baik, yang menunjukkan hasil yang cukup memadai namun masih terdapat ruang untuk perbaikan. Data ini akan menjadi dasar bagi pendidik untuk melakukan evaluasi lebih lanjut dan merencanakan strategi pembelajaran yang lebih efektif pada siklus berikutnya guna mencapai hasil yang lebih optimal. Penelitian ini mengkaji kegiatan pembelajaran seni tiga dimensi yang berlangsung dalam dua pertemuan, di mana peserta didik diberi kesempatan untuk membuat dan menghias karya seni menggunakan berbagai bahan kreatif. Pembelajaran ini bertujuan untuk mengembangkan keterampilan motorik halus dan kreativitas peserta didik melalui eksplorasi bentuk tiga dimensi yang memiliki panjang, lebar, dan tinggi, berbeda dengan karya dua dimensi yang hanya memiliki panjang dan lebar. Hasil penilaian karya seni peserta didik pada Siklus II, diperoleh data yang menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam keterampilan seni peserta didik. Terdapat 12 peserta didik yang mendapatkan nilai pada kategori Sangat Baik, yang mencerminkan kemampuan mereka dalam menerapkan konsep dan teknik seni dengan sangat baik. Selain itu, 8 peserta didik memperoleh nilai pada kategori Baik, yang menunjukkan bahwa mereka sudah cukup memahami materi dan mampu menerapkannya dengan baik. Sementara itu, 2 peserta didik JPBB - VOLUME. NOMOR. TAHUN 2025 e-ISSN : 2962-1143. dan p-ISSN : 2962-0864. Hal. berada pada kategori Cukup Baik, yang menunjukkan bahwa meskipun mereka sudah memahami dasar-dasar seni, masih perlu pembimbingan lebih lanjut untuk mencapai hasil yang lebih optimal. Nilai rata-rata karya seni peserta didik pada Siklus II yang mencapai 87 pada kategori Baik menunjukkan pencapaian yang sangat baik secara keseluruhan, mengindikasikan bahwa proses pembelajaran berjalan efektif dan sebagian besar peserta didik mampu mengembangkan keterampilan seni mereka dengan baik. Data ini menjadi dasar yang baik untuk merencanakan langkah-langkah pembelajaran selanjutnya, agar peserta didik yang masih berada pada kategori Cukup Baik dapat memperoleh perhatian dan bimbingan yang lebih intensif. Adapun gambaran peningkatan proses pembelajaran yang diukur menggunakan lembar observasi pendidik dan peserta didik dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 1 Diagram Peningkatan Hasil Lembar Observasi Pendidik SI PI SI PII SII PI SII PII Gambar 2 Diagram Peningkatan Hasil Lembar Observasi Peserta Didik Adapun gambaran peningkatan kreativtas peserta didik dalam pembelajaran seni rupa dalam menghasilkan karya seni yang diukur menggunakan lembar tes unjuk kerja dapat dilihat pada gambar berikut. Penerapan Metode Free Expression untuk Meningkatkan Kreativitas Peserta Didik dalam Pembelajaran Seni Rupa Kelas II Sekolah Dasar Negeri 165/Vi Sumber Arum Kabupaten Tebo Gambar 3 Diagram Peningkatan Kreativtas Peserta didik dalam Pembelajaran Seni KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas (PTK) yang telah dilakasanakan dalam dua siklus dengan topik penelitian Penerapan Metode Free Expression untuk Meningkatkan Kreativitas Peserta didik dalam Pembelajaran Seni Rupa Kelas Ii Sekolah Dasar Negeri 165/Vi Sumber Arum Kab. Tebo dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut Penerapan metode Free Expression dalam meningkatkan pembelajaran Seni Rupa kelas II Sekolah Dasar Negeri 165/Vi Sumber Arum Kabupaten Tebo diperoleh hasil bahwa terjadi peningkatan proses pembelajaran yang dapat dilihat dari lembar observasi pada Siklus I dan Siklus II. Hal ini dibuktikan dari data yang diproleh dari proses pembelajaran yang didapat melalui nilai lembar observasi pendidik pada Siklus I Pertemuan 1, yaitu 72,5, nilai Siklus I Pertemuan II, yaitu 80, nilai Siklus II Pertemuan I, yaitu 85, dan nilai Siklus II Pertemuan II, yaitu 90. Selanjutnya, nilai hasil lembar observasi peserta didik Siklus I Pertemuan 1, yaitu 70, nilai Siklus I Pertemuan II, yaitu 77,5, nilai Siklus II Pertemuan I, yaitu 85, dan nilai Siklus II Pertemuan II, yaitu 92,5. Semua nilai sudah mencapai indikator keberhasilan penelitian. Peningkatan pembelajaran Seni Rupa menggunakan metode Free Expression dalam kelas II Sekolah Dasar Negeri 165/Vi Sumber Arum Kabupaten Tebo diperoleh hasil bahwa terjadi peningkatan kreativitas peserta didik dalam Pembelajaran Seni Rupa yang dapat dilihat pada hasil nilai tes unjuk kerja. Adapun perolehan nilai peserta didik pada Pra-siklus yaitu 68,6 pada kategori kurang baik. Setelah menggunakan metode Free Expression terjadi peningkatan Siklus I, yaitu 78 pada kategori Cukup Baik dan meningkat pada Siklus II, yaitu 87 pada ketegori Baik. Perolehan nilai kreativitas peserta didik dalam Pembelajaran Seni Rupa sudah mencapai indikator keberhasilan penelitian. JPBB - VOLUME. NOMOR. TAHUN 2025 e-ISSN : 2962-1143. dan p-ISSN : 2962-0864. Hal. DAFTAR PUSTAKA