AJER Advanced Journal of Education and Religion Vol. 2 No. 3 September 2025 Pola Asuh Orang Tua Karir dalam Menanamkan Karakter Religius Pada Anak di Desa Cungkup Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan Eka Shilatur Rahmah1*. Muchammad Suradji2. Khoirotun NiAomah3 123Fakultas Agama Islam. Universitas Islam Darul Ulum Lamongan *Corresponding author: ekashilatur. 2021@mhs. ARTICLE INFO ABSTRACT Article history Received 05-09-25 Revised 15-09-25 Accepted 18-09-25 Parenting style can be defined as a pattern of interaction between parents and children that includes fulfilling physical needs, psychological needs and teaching socialization of norms in society. In this case, parents have their own ways or patterns in raising children. There are several types of parenting styles, including democratic, permissive, and authoritarian. By implementing an approach based on affection, providing role models, building valuable communication, and utilizing time together effectively, parents can still play a role as the main figures in instilling religious values in children. The objectives of this paper are: . to understand the parenting patterns of career parents in Cungkup Village. Pucuk District. Lamongan Regency . to understand and analyze how career parents instill religious character in children in Cungkup Village. Pucuk District. Lamongan Regency. this study, using a qualitative descriptive method with a phenomenological approach, the data collection was done using interview, observation, and documentation From the results of this study it can be seen that the parenting patterns applied in Cungkup Village. Pucuk District. Lamongan Regency, there are 2 types, namely democratic parenting patterns, and authoritarian parenting patterns. Meanwhile, in instilling religious character in the form of values that include social morals, discipline, and responsibility. In addition, there are several methods applied by career parents including instilling the value of monotheism, instilling morals and ethics, being a role model, and managing time with parents. The parenting style of career parents is not solely hampered by work commitments, but rather demonstrates flexibility and creativity in maintaining children's character education so that it remains in line with Islamic values. Keywords Parenting Style Career Parents Religious Character Ajer Advanced Journal of Education and Religion Vol. No. September 2025 Pendahuluan Manusia pada hakikatnya memiliki sifat yang dinamis, yaitu selalu mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman dan lingkungan sosial budaya di Sifat ini tercermin dalam kemampuan manusia untuk beradaptasi, berinovasi, dan merespons berbagai tantangan kehidupan yang terus berkembang. Dalam teori evolusi sosial yang dikemukakan oleh Auguste Comte, perkembangan masyarakat dan manusia di dalamnya berlangsung melalui tiga tahap: teologis, metafisik, dan positif, yang menunjukkan bahwa manusia secara alami bergerak menuju bentuk kehidupan yang lebih rasional dan ilmiah. Teori ini menegaskan bahwa perubahan adalah bagian dari kodrat manusia dan masyarakat, yang mendorong terjadinya kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam teknologi, pola pikir, dan struktur sosial. Sejalan dengan sifat manusia yang dinamis, modernisasi menjadi salah satu bentuk nyata dari proses perubahan sosial yang terus berlangsung. Modernisasi merupakan suatu transformasi dari kehidupan tradisional menuju kehidupan yang lebih rasional, efisien, dan berbasis pada kemajuan ilmu pengetahuan serta Proses ini tidak hanya memengaruhi pola pikir dan perilaku individu, tetapi juga merombak struktur sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Menurut teori modernisasi yang dikemukakan oleh Samuel P. Huntington, modernisasi adalah proses multidimensional yang mencakup industrialisasi, urbanisasi, peningkatan pendidikan, dan partisipasi politik yang lebih luas. Dengan demikian, modernisasi menjadi konsekuensi logis dari sifat manusia yang terus berkembang dan beradaptasi terhadap perubahan zaman. Perubahan-perubahan pada kehidupan masyarakat tersebut merupakan fenomena sosial yang wajar, oleh karena setiap manusia mempunya kepentingan yang tak terbatas. Perubahan sosial itu adalah suatu proses yang melahirkan perubahan-perubahan di dalam struktur dan fungsi dari suatu sistem kemasyarakatan (Rosana, 2. Ada tiga tahap utama proses perubahan yaitu berawal dari diciptakannya atau lahirnya sesuatu, mungkin sesuatu yang diidamkan atau sesuatu kebutuhan, yang kemudian berkembang menjadi suatu gagasan . dea, concep. yang baru. Bila gagasan itu sudah menggelinding seperti roda yang berputar pada sumbunya, sudah tersebar di kalangan anggota masyarakat, proses perubahan tersebut sudah memasuki tahapan yang kedua. Tahapan berikutnya sebagai tahapan ketiga yang disebut sebagai hasil . esult, concequence. yang merupakan perubahanperubahan yang terjadi dalam sistem sosial yang bersangkutan sebagai akibat dari diterimanya atau ditolaknya suatu inovasi (Sugihen, 1. Salah satu bentuk nyata dari modernisasi adalah perubahan serta peningkatan tuntutan hidup, yang berdampak signifikan pada peran ekonomi keluarga. Hal ini bukan semata terjadi di kota-kota besar melainkan sudah merambah ke wilayah Dahulu, sebagian besar ibu di desa berperan sebagai pengasuh anak di rumah, sementara ayah menjadi pencari nafkah utama. Namun, kondisi ekonomi yang semakin menantang saat ini mendorong kedua orang tua, baik ayah maupun ibu, untuk sama-sama bekerja di luar rumah. Mereka terlibat baik di sektor formal, seperti pegawai, guru, dan buruh pabrik, maupun di sektor informal, seperti petani. Ajer Advanced Journal of Education and Religion Vol. No. September 2025 pedagang pasar, atau buruh harian. Kondisi ini berdampak langsung pada pola pengasuhan dan pendidikan anak Pentingnya penerapan pola asuh orang tua pekerja sangat mempengaruhi pada karakter disiplin anak usia dini (Irawanto. Karakter disiplin pada anak merupakan fondasi penting dalam pembentukan kepribadian yang bertanggung jawab dan mandiri. Disiplin tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga mencerminkan kemampuan anak dalam mengendalikan diri, mengatur waktu, serta mengambil keputusan yang Menurut teori perkembangan moral (Kohlberg, 1. , disiplin berkaitan erat dengan tahap perkembangan moral anak, di mana pada tahap awal anak mematuhi aturan karena takut akan hukuman, namun seiring bertambahnya usia dan bimbingan yang tepat, anak akan mulai memahami nilai dari kepatuhan dan tanggung jawab secara internal. Oleh karena itu, pembentukan karakter disiplin harus dimulai sejak dini melalui pola asuh yang konsisten, pemberian contoh yang baik, serta lingkungan yang mendukung pertumbuhan moral dan sosial anak. Karakter disiplin anak untuk mencerminkan sikap kepatuhan terhadap aturan, kesadaran akan rasa tanggung jawab, serta kemampuan mengendalikan diri dalam berbagai situasi. Orang tua yang memiliki pekerjaan di luar rumah cenderung menerapkan pola asuh yang berbeda dibandingkan dengan orang tua yang tidak Hal ini disebabkan karena orang tua yang tidak bekerja lebih banyak meluangkan waktu untuk mendidik anak-anak mereka. Dengan demikian, perilaku dan akhlak anak akan dipengaruhi oleh apa yang dilakukan oleh orang tua. Menurut pendapat Amin dan Alimni, pendidikan karakter religius adalah bentuk nyata dari sikap dan perilaku yang mencerminkan ketaatan dalam menjalankan ajaran agama yang diyakini. Di saat yang sama, hal ini juga mencerminkan sikap toleran dan harmonis dalam membina hubungan dengan pemeluk agama lainnya. Mengingat betapa pentingnya pembentukan karakter religius pada anak, sehingga orang tua perlu memberikan perhatian ekstra dalam menerapkan pola asuh (Amin & Alimni, 2. Pentingnya pola asuh yang dilakukan oleh orang tua karir terletak pada kemampuannya dalam menjaga keseimbangan antara tuntutan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan kewajiban moral terhadap anak dengan menerapkan pendekatan yang dilandasi kasih sayang, memberikan keteladanan, membangun komunikasi yang bernilai, serta memanfaatkan waktu bersama secara efektif, orang tua tetap dapat berperan sebagai figur utama dalam menanamkan nilai-nilai religius kepada anak. Pentingnya pola asuh yang seimbang sebagaimana dilakukan oleh orang tua karier juga ditekankan dalam ajaran Islam, di mana orang tua memiliki tanggung jawab penuh dalam mendidik anak, baik secara lahir maupun Dalam Al-QurAoan. Allah berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka" (QS. At-Tahrim: . , yang menunjukkan kewajiban orang tua untuk membimbing anak dalam nilai-nilai keimanan dan akhlak. Rasulullah SAW juga bersabda, "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi. Nasrani, atau Majusi" (HR. Bukhari dan Musli. , menegaskan bahwa peran orang Ajer Advanced Journal of Education and Religion Vol. No. September 2025 tua sangat menentukan arah perkembangan spiritual dan moral anak. Dengan demikian, meskipun sibuk dalam aktivitas ekonomi, orang tua tetap berkewajiban menjaga dan membentuk karakter religius anak melalui pendekatan kasih sayang, keteladanan, dan komunikasi yang bermakna sebagaimana dituntunkan dalam Islam. Oleh karena itu, peran dan strategi orang tua dalam mendidik religiusitas anak sangatlah penting, akan tetapi belum banyak penelitian yang secara khusus membahas tentang bagaimana adaptasi orang tua karir dalam menyeimbangkan pekerjaan dan pendidikan karakter religius anak. Hal ini mendasari peneliti untuk melakukan penelitian khususnya tentang pola asuh orang tua karir dalam menanamkan karakter religius pada anak yang dilakukan di Desa Cungkup Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan. Metode penelitian Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Menurut (Sugiyono, 2. metode penelitian kualitatif adalah salah satu pendekatan penelitian yang didasarkan pada filsafat Metode ini tergolong baru sehingga tingkat popularitasnya belum sebanding dengan metode kuantitatif yang bersifat positivistik. Peneliti menerapkan pendekatan deskriptif, yakni upaya untuk menguraikan dan menjelaskan berbagai persoalan yang berkaitan langsung dengan inti permasalahan yang diteliti. Pendekatan ini bertujuan menggambarkan secara rinci suatu gejala, peristiwa, atau kejadian yang tengah berlangsung, sehingga memberikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap situasi yang dikaji. Pada penelitian ini, data diperoleh langsung dari orang tua yang bekerja dengan berbagai profesi dan anak-anak mereka yang berusia 6-12 tahun. Teknik Pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang diterapkan dalam penelitian kualitatif lapangan ini mengacu pada pendapat Miles dan Huberman yang dikutip oleh Sugiyono, yakni melalui tahapan pengumpulan data . ata collectio. , penyederhanaan data . ata reductio. , penyajian data . ata displa. , serta penarikan kesimpulan dan verifikasi . onclusion drawing/verificatio. (Sugiyono, 2. Hasil dan Pembahasan Pola Asuh Orang Tua Karir di Desa Cungkup Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa sebagian orang tua di Desa Cungkup Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan menerapkan 2 tipe yakni pola asuh demokrasi dan pola asuh otoriter, sedangkan tipe permisif tidak ditemukan karena tipe ini dianggap kurang mendisiplinkan anak dan pola asuh permisif tidak selalu efektif ketika digunakan dalam menanamkan pendidikan karakter. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas orang tua di desa Cungkup menerapkan pola asuh demokratis dalam menanamkan karakter religius pada Hal ini terlihat dari hasil wawancara yang menyatakan bahwa orang tua seringkali mengajak anak berdiskusi tentang nilai-nilai keagamaan dan memberikan ruang bagi anak untuk mengajukan pertanyaan seputar agama. Selain Ajer Advanced Journal of Education and Religion Vol. No. September 2025 itu, mereka juga membiarkan anak menjalankan ibadah dengan leluasa, sambil tetap membimbing dan menasihati apabila terdapat perilaku anak yang dianggap tidak selaras dengan ajaran agama. Temuan tersebut sejalan dengan teori Baumrind yang menyatakan bahwa pola asuh demokratis membantu anak mengembangkan rasa tanggung jawab, disiplin diri, serta internalisasi nilai-nilai moral, termasuk nilai religius. (Al. Tridhonanto dan Brenda Ageny, 2. Menurut Baumrind, pola asuh ini efektif dalam mencetak anak yang mandiri, percaya diri, dan mampu mengontrol diri. Hal ini relevan dalam pendidikan nilai agama, karena anak diajak bukan sekadar taat aturan, melainkan memahami esensi ajaran tersebut. Penelitian ini juga didukung oleh penelitian Sari yang mengatakan bahwa pola asuh demokratis memiliki pengaruh signifikan terhadap pembentukan karakter religius pada anak. Melalui pola ini, nilai-nilai religius dapat tertanam lebih baik karena adanya komunikasi hangat dan timbal balik antara orang tua dan anak, serta penjelasan mendalam tentang dasar ajaran agama. (Wardani et al. , 2. Pola asuh demokratis memfasilitasi proses internalisasi nilai religius melalui komunikasi yang hangat, dialog terbuka, serta pemberian penjelasan tentang nilainilai agama. Hal ini terlihat nyata dalam praktik orang tua di Desa Cungkup yang secara konsisten mengatur waktu anak untuk belajar agama, seperti mengaji, lalu belajar, sambil tetap memberi ruang kebebasan untuk anak bermain atau menggunakan gadget. Penelitian ini juga selaras dengan temuan Indrawati . , yang menyatakan bahwa orang tua karir cenderung memilih pola asuh demokratis sebagai cara mengatasi keterbatasan waktu yang mereka miliki. Indrawati menegaskan bahwa pola demokratis memungkinkan orang tua tetap menjalankan peran pengasuhan dengan baik, meskipun mereka memikul tanggung jawab ganda sebagai pekerja profesional. Hal ini tampak nyata pada beberapa informan penelitian ini, seperti W. 8 dan W. 13, yang meskipun memiliki kesibukan tinggi dalam pekerjaan, tetap mengutamakan pembentukan karakter religius pada anakanak mereka. Hal tersebut juga ditanggapi oleh anak, seperti ungkapan W. ketika orang tua pergi bekerja biasanya sudah diingatkan terlebih dahulu untuk tidak melupakan waktu sholat dan mengaji. Berdasarkan hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa pola asuh orang tua karir pada anak berbeda-beda, ada orang tua yang memberi kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan dengan batasan tertentu atau disebut demokrasi dan ada juga orang tua yang mengontrol perilaku anak sepenuhnya atau otoriter. Tetapi dalam penelitian ini pola asuh orang tua karir lebih spesifik menggunakan pola pengasuhan demokratis. Pola Asuh Orang Tua Karir Dalam Menanamkan Karakter Religius Pada Anak di Desa Cungkup Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan Berdasarkan hasil pengamatan yang telah peneliti lakukan di Desa Cungkup Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan, ditemukan bahwa berdasarkan hasil wawancara dan observasi di lapangan, diketahui anak-anak di desa Cungkup mendapatkan penerapan budaya religius yang diperoleh dari orang tua karir. Hasil penelitian mengenai pola asuh orang tua karir dalam menanamkan karakter Ajer Advanced Journal of Education and Religion Vol. No. September 2025 religius pada anak di Desa Cungkup menunjukkan bahwa orang tua tetap mampu menjalankan perannya secara signifikan, meskipun menghadapi keterbatasan waktu akibat kesibukan bekerja. Hal tersebut dibuktikan dengan kebiasaan orang tua di Desa Cungkup dalam mengajari anaknya sholat lima waktu, mengaji, mengajak beribadah di Masjid, menanamkan nilai religius kepada anak, dan caracara lain yang paling efektif digunakan dalam mendidik anak meskipun sibuk Penelitian ini menemukan bahwa mayoritas orang tua karir menerapkan pola demokratis dan komunikatif. Mereka berupaya menanamkan nilai-nilai religius bukan sekadar melalui instruksi verbal, melainkan melalui keteladanan . ole modelin. dalam perilaku sehari-hari. Karena sejatinya anak itu mencontoh perilaku orang tuanya seperti peribahasa berikut yang berbunyi Al Ummu Madrasatul Ula, orang tua adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya, dan pendidikan orang tua juga dapat menentukan pendidikan anak. Orang tua senantiasa harus membimbing, mengajari dan mengawai anaknya terutama dalam menanamkan nilai agama pada anak. Hal ini terlihat dalam kebiasaan orang tua melaksanakan shalat tepat waktu, membaca Al-QurAoan, hingga bersikap jujur dan Temuan ini juga sejalan dengan teori Thomas Lickona yang menekankan pentingnya moral knowing, moral feeling, dan moral action. (Fauziah, 2. Diperkuat dengan penelitian Zakiah Daradjat yang menyatakan bahwa pendidikan agama tidak semata-mata berfokus pada pemberian pengetahuan secara kognitif, tetapi harus mengarahkan peserta didik untuk menginternalisasi nilai moral dan membentuk perilaku yang sesuai dengan ajaran agama. (Daradjat, 1. Pola asuh juga diwujudkan melalui pembiasaan ibadah. Orang tua membangun rutinitas seperti shalat berjamaah, mengaji rutin, hingga menghafal surah pendek. Seperti yang dilakukan. 3 dalam membiasakan anak menghafal tiga ayat Surah Yasin setiap hari. Lalu ada W. 9 yang mengikutkan anak-anak untuk belajar di Taman Pendidikan Al-QurAoan (TPQ). Hal tersebut diperkuat dengan tanggapan W. 11 yaitu mengaji di TPQ setiap hari jam 14. 00, dan dia berinisatif berangkat sendiri, karena sudah terbiasa ditinggalkan orang tua bekerja. Hal ini memperkuat pandangan Marzuki bahwa pembentukan karakter religius memerlukan kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus agar menjadi sikap (Marzuki & Ag, 2. Kesibukan kerja tidak sepenuhnya menjadi penghalang bagi orang tua karir. Mereka menerapkan strategi pengelolaan waktu dengan berbagi peran antara suami dan istri, seperti yang dilakukan W. 1, yang bergantian mendampingi anak mengaji dan belajar. Selain itu, pemanfaatan teknologi menjadi sarana penting dalam mendukung pengawasan religius, seperti menunjukkan video ceramah Hal ini menjadi bukti bahwa orang tua karir mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa mengabaikan tanggung jawab religius terhadap anak. Temuan ini memperluas temuan penelitian terdahulu yang lebih banyak memotret pola pengasuhan konvensional, dengan menambahkan dimensi pemanfaatan teknologi sebagai medium penanaman nilai religius. Ajer Advanced Journal of Education and Religion Vol. No. September 2025 Kesimpulan Berdasarkan hasil Penelitian ini bisa disimpulkan bahwa pola asuh orang tua karir di desa Cungkup Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan dilakukan dalam 2 tipe yakni demokrasi dan otoriter karena pola asuh tersebut terbilang efektif untuk digunakan dalam mendidik anak. Pola asuh demokratis yang diterapkan orang tua karir seperti anak diberikan kebebasan dalam bermain dan bergaul, tetapi masih diberikan batasan dan harus displin ketika waktunya belajar dan mengaji. Sedangkan pola asuh otoriter ini diterapkan menyesuaikan situasi dan kondisi yang dilakukan atau fleksibilitas. Pola asuh otoriter diterapkan karena diharapkan anak bisa belajar disiplin dan mandiri sejak dini. Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa terdapat beberapa dasar-dasar nilai agama yang diajarkan orang tua karir kepada anak yaitu sifat jujur, adil, dan bertanggung jawab terhadap Tidak hanya itu saja, orang tua karir di desa Cungkup juga menerapkan beberapa cara yang digunakan di tengah padatnya aktifitas bekerja yaitu dengan cara penanaman nilai tauhid, menanamkan akhlak dan moral. Keteladanan sebagai metode penanaman nilai, dan Pengelolaan waktu meski orang tua sibuk bekerja. Referensi