Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 1 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Harmoni Manusia. Alam, dan Tuhan dalam Praktik Tri Hita Karana pada Pendidikan Lingkungan Hidup di Desa Krisik Sukirno Hadi Raharjo*. Siti Utami Dewi Ningrum. Faizal Akhmad Adi Masbukhin Universitas Terbuka. Tangerang Selatan. Indonesia sukirno@ecampus. Abstract Environmental awareness poses a significant challenge for many communities in Indonesia, including the Hindu community in Krisik Village. Gandusari District. Blitar Regency. The concept of Tri Hita Karana, which emphasizes harmony between humans, nature, and God, offers a holistic approach to environmental education. This study aims to explore the implementation of Tri Hita Karana in environmental education and how community collaboration can strengthen this harmony. Using a qualitative method with a case study approach, data was collected through in-depth interviews with community leaders, teachers, and community members, and through participatory observation and document analysis. The findings reveal that the application of Tri Hita Karana in environmental education in Krisik Village has significantly increased community awareness and involvement in environmental conservation. Practices such as waste management, reforestation, and religious ceremonies that honor nature have become integral parts of daily life. Collaboration between schools, village government, and the local community has proven effective in supporting sustainable environmental initiatives. Furthermore, the values of Tri Hita Karana have helped the community develop a more sustainable approach to the environment, strengthening social and spiritual bonds within the community. This study concludes that a local wisdom-based approach like Tri Hita Karana can serve as an effective model in environmental education, contributing significantly to the development of sustainable and culturally rooted environmental education policies. Keywords: Tri Hita Karana. Environmental Education. Community Collaboration. Krisik Village. Environmental Conservation Abstrak Kesadaran akan pentingnya lingkungan hidup menjadi tantangan bagi banyak komunitas di Indonesia, termasuk masyarakat Hindu di Desa Krisik. Kecamatan Gandusari. Kabupaten Blitar. Konsep Tri Hita Karana, yang menekankan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan, menawarkan pendekatan holistik dalam pendidikan lingkungan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi implementasi Tri Hita Karana dalam pendidikan lingkungan hidup dan bagaimana kolaborasi masyarakat dapat memperkuat harmoni tersebut. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat, guru, dan anggota komunitas, serta observasi partisipatif dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Tri Hita Karana dalam pendidikan lingkungan hidup di Desa Krisik telah secara signifikan meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam pelestarian lingkungan. Praktik-praktik seperti pengelolaan sampah, penghijauan, dan upacara keagamaan yang menghormati alam menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Kolaborasi antara sekolah, pemerintah desa, dan masyarakat lokal terbukti efektif dalam mendukung inisiatif lingkungan yang berkelanjutan. Selain itu, nilai-nilai Tri Hita Karana membantu masyarakat mengembangkan pendekatan yang https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH lebih berkelanjutan terhadap lingkungan, memperkuat ikatan sosial dan spiritual dalam Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan berbasis kearifan lokal seperti Tri Hita Karana dapat menjadi model efektif dalam pendidikan lingkungan hidup, memberikan kontribusi penting bagi pengembangan kebijakan pendidikan lingkungan yang berkelanjutan dan berbasis budaya lokal. Kata Kunci: Tri Hita Karana. Pendidikan Lingkungan Hidup. Kolaborasi Masyarakat. Desa Krisik. Pelestarian Lingkungan Pendahuluan Tri Hita Karana adalah sebuah filosofi hidup yang berakar dari kearifan lokal masyarakat Bali, yang secara harfiah berarti tiga penyebab kesejahteraan. Konsep ini menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dan harmoni antara manusia dengan Tuhan (Parahyanga. , manusia dengan alam (Palemaha. , dan manusia dengan sesama manusia (Pawonga. Dalam konteks pendidikan lingkungan hidup. Tri Hita Karana menawarkan pendekatan holistik yang tidak hanya berfokus pada aspek ekologis, tetapi juga memperhatikan hubungan spiritual dan sosial yang menjadi bagian integral dari keberlanjutan lingkungan (Sukarma, 2. Pentingnya Tri Hita Karana dalam pendidikan lingkungan hidup terletak pada kemampuannya untuk mengintegrasikan nilainilai spiritual dan budaya dalam upaya pelestarian alam. Filosofi ini mendorong individu dan komunitas untuk tidak hanya bertindak sebagai pelestari lingkungan, tetapi juga sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari alam itu sendiri. Dalam praktiknya. Tri Hita Karana menuntun masyarakat untuk menjalankan kehidupan yang selaras dengan alam, memelihara hubungan harmonis dengan sesama, dan menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual sebagai fondasi dalam menjaga kelestarian Relevansi Tri Hita Karana dalam pendidikan lingkungan hidup semakin signifikan di tengah tantangan global terhadap kerusakan lingkungan dan perubahan Dengan mengadopsi pendekatan yang berbasis kearifan lokal ini, masyarakat dapat mengembangkan kesadaran dan tindakan yang lebih mendalam dalam menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Hal ini tidak hanya berkontribusi pada pelestarian lingkungan, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dan spiritual yang menjadi landasan bagi keberlanjutan komunitas di masa depan (Setiawan et al. , 1. Pada era modern ini, tantangan terkait lingkungan hidup semakin nyata dan Pemanasan global, kehilangan biodiversitas, dan perubahan iklim adalah isuisu global yang semakin memprihatinkan, mempengaruhi kehidupan manusia, dan membahayakan kelestarian alam. Parmajaya . menyatakan bahwa fenomena yang digambarkan di atas tidak hanya terjadi pada manusia. Dampak perbuatan manusia tidak dapat diabaikan, terutama di era global saat ini, di mana banyak fenomena alam terjadi yang mempengaruhi tidak hanya kehidupan manusia, tetapi juga binatang dan tumbuhan. Dalam aspek manusia, kemajuan atau globalisasi memengaruhi cara berpikir, berbicara, dan berperilaku. Banyak tindakan manusia yang semakin tidak ramah terhadap sesama manusia, binatang dan alam lingkungan ini. Di samping itu, upaya untuk melestarikan alam sering kali bertentangan dengan kemajuan ekonomi dan pembangunan sosial. Oleh karena itu, penting untuk mencari pendekatan holistik yang dapat mengintegrasikan kehidupan manusia, alam, dan dimensi spiritual dalam upaya melestarikan lingkungan hidup. Agama Hindu mengajarkan agar manusia mengharmoniskan alam semesta dengan segala isinya yaitu buana agung . dengan buana alit . Buana agung adalah alam semesta dan buana alit adalah manusia (Sarjana, 2. Konsep ini menggaris bawahi pentingnya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Dalam konteks lingkungan hidup, konsep ini dapat menjadi dasar bagi pendidikan dan tindakan yang mendukung pelestarian alam https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH sambil menjaga kesejahteraan manusia dan koneksi spiritual. Budiantara . menyatakan bahwa dalam kaitannya dengan Tri Hita Karana. Parahyangan (Ida Sang Hyang Widhi Was. Pawongan . , dan Palemahan . lam tempat tingga. merupakan suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Keterpaduan ketiga unsur Tri Hita Karana ini tercermin dalam kelompok masyarakat yang membutuhkan Palemahan dalam kehidupannya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa manusia hidup di alam dan untuk alam, sehingga terwujud kesatuan antara masyarakat desa dan lingkungan tempat tinggal mereka. Meskipun nilai-nilai Tri Hita Karana memiliki potensi besar untuk diterapkan dalam pendidikan lingkungan hidup, masih terdapat beberapa permasalahan yang perlu diteliti lebih lanjut. Terdapat beberapa permasalahan yang digali dalam tulisan ini, yaitu Bagaimana nilai-nilai Tri Hita Karana dipahami dan diterapkan oleh masyarakat Hindu di Desa Krisik dalam konteks pendidikan lingkungan hidup. Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam implementasi Tri Hita Karana dalam pendidikan lingkungan hidup di Desa Krisik. Bagaimana kolaborasi antara sekolah, pemerintah desa, dan masyarakat lokal dalam mendukung pendidikan lingkungan hidup berbasis Tri Hita Karana. Sejauh mana penerapan Tri Hita Karana berdampak pada kesadaran dan perilaku lingkungan masyarakat di Desa Krisik. Penelitian mengenai implementasi konsep Tri Hita Karana dalam berbagai bidang telah dilakukan sebelumnya. Misalnya, penelitian Hutasoit & Wau . menunjukkan bahwa Tri Hita Karana dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat di Bali melalui pendekatan yang seimbang antara kebutuhan spiritual dan material. Penelitian lain oleh Wiwin . menunjukkan bahwa konsep Tri Hita Karana dapat diterapkan dalam pengembangan ekowisata Bukit Cemeng menuju pariwisata berkelanjutan terlihat melalui tiga aspek utama, yaitu Parhyangan. Pawongan, dan Palemahan. Aspek Parhyangan berhubungan dengan interaksi manusia dengan Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Namun, penelitian yang secara khusus meneliti penerapan Tri Hita Karana dalam pendidikan lingkungan hidup di komunitas Hindu di luar Bali, seperti di Desa Krisik, masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya untuk mengisi kekosongan tersebut dengan mengkaji implementasi Tri Hita Karana dalam konteks pendidikan lingkungan hidup di Desa Krisik. Adapun tujuan dari penelitian ini ialah untuk penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pemahaman dan penerapan nilai-nilai Tri Hita Karana dalam pendidikan lingkungan hidup di Desa Krisik. Selain itu dapat juga digunakan untuk mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam implementasi Tri Hita Karana dalam pendidikan lingkungan hidup. Melalui penelitian ini dapat dianalisis pula kolaborasi antara sekolah, pemerintah desa, dan masyarakat lokal dalam mendukung pendidikan lingkungan hidup berbasis Tri Hita Karana. Terakhir, penelitian ini dapat digunakan untuk menilai dampak penerapan Tri Hita Karana terhadap kesadaran dan perilaku lingkungan masyarakat di Desa Krisik. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis dan teoretis bagi masyarakat maupun ilmu pengetahuan. Pertama ialah untuk memberikan wawasan bagi masyarakat Desa Krisik dalam upaya pelestarian lingkungan melalui penerapan nilai-nilai Tri Hita Karana. Penelitian ini juga dapat digunakan sebagai referensi bagi pengambil kebijakan dalam merancang program pendidikan lingkungan hidup yang berbasis kearifan lokal. Dalam pengetahan, penelitian ini dapat menjadi sumber literatur akademik mengenai penerapan konsep Tri Hita Karana dalam pendidikan lingkungan hidup, khususnya di komunitas Hindu di luar Bali. Untuk masyarakat sendiri, penelitian ini dapat dijadikan model implementasi Tri Hita Karana yang dapat diadopsi oleh komunitas lain dengan nilai-nilai budaya serupa dalam upaya pelestarian lingkungan. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Metode Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus untuk mengeksplorasi secara mendalam bagaimana nilai-nilai Tri Hita Karana diterapkan dalam pendidikan lingkungan hidup di Desa Krisik. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk memahami konteks sosial dan budaya yang kompleks serta interaksi antara berbagai aktor yang terlibat. Penelitian dilakukan di Desa Krisik. Kecamatan Gandusari. Kabupaten Blitar. Subjek penelitian terdiri dari Kepala Desa. Ketua PHDI. Ketua WHDI. Ketua PKK, tokoh agama, tokoh masyarakat, guru Agama Hindu, dan Komunitas lainnya. Pemilihan subjek dilakukan secara purposive sampling, yaitu memilih individu yang dianggap memiliki pengetahuan dan pengalaman yang relevan dengan topik penelitian. Data diperoleh melalui wawancara, observasi partisipasif, dan analisis dokumen. Wawancara dilakukan terhadap Kepala Desa, ketua PKK, tokoh agama, masyarakat, guru, dan anggota komunitas untuk menggali pemahaman dan penerapan nilai-nilai Tri Hita Karana dalam pendidikan lingkungan hidup dengan menggunakan teknik wawancara semi-terstruktur untuk memungkinkan fleksibilitas dalam menggali informasi yang mendalam. Observasi Partisipatif sendiri dilakukan dengan cara peneliti terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan lingkungan hidup di Desa Krisik, seperti kegiatan pertemuan rutin komunitas dan upacara keagamaan. Observasi ini membantu dalam memahami praktik nyata dan interaksi yang terjadi di lapangan. Data-data yang didapatkan kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Proses analisis meliputi beberapa tahap. Pertama ialah transkripsi data, di mana semua data wawancara dan catatan observasi ditranskripsi secara verbatim. Data yang ditranskripsi diberi kode untuk mengidentifikasi tema-tema utama yang muncul. Hasil dan Pembahasan Pemahaman Dan Penerapan Nilai-Nilai Tri Hita Karana Dalam Pendidikan Lingkungan Hidup. Konsep Tri Hita Karana merupakan falsafah Hindu yang menekankan pada hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan lingkungan, dan manusia dengan sesama manusia. Menurut Padet & Krishna . Secara leksikal. Tri Hita Karana berarti tiga penyebab kesejahteraan (Tri berarti tiga. Hita berarti sejahtera, dan Karana berarti penyeba. Istilah Tri Hita Karana berasal dari bahasa Sansekerta. Konsep ini merujuk pada tiga elemen utama yang mendukung kesejahteraan dan kemakmuran hidup manusia. Ide ini muncul dalam kehidupan masyarakat Hindu dan berkontribusi pada terciptanya keseimbangan serta keselarasan melalui hubungan yang saling menjaga kepentingan bersama. Selain itu. Tri Hita Karana juga mencerminkan nilai toleransi dalam keyakinan untuk memuja Tuhan atau Sang Hyang Widhi Wasa. Hal ini juga sejalan dengan yang menyampaikan bahwa masyarakat Hindu telah menjadikan Tri Hita Karana bagian dari falsafah hidup umat Hindu yang memiliki makna mendalam dalam memperindah kehidupan masyarakat. Falsafah ini menawarkan pemahaman yang dapat menjaga kelestarian keanekaragaman budaya dan lingkungan di tengah kehidupan yang heterogen serta tantangan modernitas. Pada dasarnya, ajaran Tri Hita Karana menekankan tiga hubungan yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga hubungan tersebut mencakup hubungan antar manusia, hubungan dengan lingkungan, dan hubungan dengan Tuhan. Setiap hubungan memiliki panduan yang harmoni bagaimana prinsip menghargai semua aspek disekellilingnya. Prinsip penerapannya harus seimbang dan selaras antara satu aspek dengan yang lainnya. Keseimbangan ini akan tercapai jika manusia berusaha dan menghindari segala perilaku yang merugikan kehidupan di sekitarnya. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Menurut Priyoko selaku Ketua PHDI Desa Krisik (Wawancara, 26 April 2. menjelaskan bahwa Tri Hita Karana dalam masyarkat Desa Krisik, adalah dengan menjaga kebaikan antara sesama, lingkungan, dan Tuhan yang mana masyarakat Desa Krisik dalam menjaga harmoni ini sudah turun temurun tidak ada lagi sekat-sekat antara pemeluk agama yang satu dengan yang lain, semua berbaur baik itu dalam keadaan kedukaan maupun dalam keadaan gembira. Begitu juga umat muslim membangun masjid maka umat Hindu pun juga bergotong royong saling membantu, begitu ketika umat Hindu membangun Pura, maka umat muslim pun turut membantu penuh rasa asah, asih, dan Hal ini telah menjadi tradisi kehidupan Masyarakat Desa Krisik. Kepala Desa Krisik. Wawan Budi Setiawan (Wawancara, 26 April 2. , memberikan penguatan bahwa salah satu bagian yang tidak terpisahkan dalam penerapan nilai-nilai Tri Hita adalah adanya acara sakaral yaitu bersih desa dimana semua komponen masyarakat Desa Krisik melaksanakan doa bersama dalam prosesi ritual bersih desa dengan melibatkan unsur tokoh agama dan umatnya. Hal ini sejalan dengan penjelasan pemangku Bonari (Wawancara, 26 April 2. yang menjabarkan konsep Tri Hita Karana, bahwa Penerapan ajaran Tri Hita Karana di Desa Krisik terlihat dalam kegiatan yang berlandaskan kesadaran untuk hidup rukun dan Dengan demikian, makna yang terkandung dalam konsep Tri Hita Karana diyakini melalui pikiran dan gagasan serta ekspresi emosi keagamaan yang nyata di Hal ini diwujudkan langsung melalui aktivitas yang menjalankan ajaran-ajaran Hindu, yang didasarkan pada kerangka dasar agama Hindu, yaitu Tatwa. Etika, dan Upacara. Ketiga kerangka dasar tersebut saling melengkapi dan berfungsi sebagai landasan dalam penataan masyarakat Desa Krisik. Nilai-nilai ajaran Tri Hita Karana telah menjadikan bagian dari falsafah dalam kehidupan masyarakat Desa Krisik sebagaimana yang disampaikan Mistuhir sebagai umat Hindu dan ketua Lembaga Masyarakar Dekat Hutan (LMDH) yang diamanatkan dalam menjaga hutan (Wawancara, 26 April 2. Menurutnya, dalam hidup ada prinsip yang selalu dipegang dengan menjaga kelestarian lingkungan dengan tidak menebang pohon sembarangan serta menjaga kerukunan lintas agama yang ada di Desa Krisik. Bonari (Wawancara, 26 April 2. juga menyampaikan bahwa praktik Tri Hita Karana di Desa Krisik, tercermin dalam kehidupan sehari-hari dan upacara adat yang mengedepankan prinsip Parahyangan. Pawongan, dan Palemahan. Misalnya, dalam upacara Melasti, masyarakat berkumpul untuk membersihkan lingkungan sekitar pura dan menghormati alam dengan membawa janji untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Upacara ini memperkuat hubungan dengan Tuhan (Parahyanga. melalui doa dan penghormatan kepada dewa-dewa sebagai penguasa alam (Farhaeni et al. , 2. Selain itu, masyarakat juga aktif melakukan gotong royong (Pawonga. dalam memelihara kebersihan desa dan melindungi satu sama lain, yang menciptakan ikatan sosial yang kuat antara sesama warga (Saskara, 2. Dalam aspek Palemahan, masyarakat menerapkan praktik pertanian organik dan penanaman pohon untuk menjaga kelestarian alam, sekaligus memberikan dukungan kepada ekosistem lokal (Januariawan, 2. Dengan mengintegrasikan ketiga prinsip ini. Desa Krisik tidak hanya melestarikan budaya dan tradisi, tetapi juga mewujudkan sikap pro-lingkungan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa Masyarakat Desa Krisik sudah sepenuhnya memahami terkait nilai-nilai Tri Hita Karana yang kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam upaya menciptakan kehidupan yang harmoni dengan sesama, lingkungan dan Tuhan. Meski demikian dalam menguatkan nilai-nilai Tri Hita Karana tetap dilakukan dengan memberikan pendidikan secara kesinambungan baik dalam bentuk sarasehan, pasraman atau sekolah minggu, dan sembahyang di hari suci yang senantiasa diselipkan kepdulian https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Menurut Mike Rahayu, selaku guru agama Hindu (Wawancara, 27 April 2. , menyatakan bahwa pendidikan lingkungan hidup yang diberikan disekolah selalu dintegrasikan pada mata pelajaran pendidikan agama Hindu yang memberikan edukasi terkait betapa pentingnya lingkungan hidup. Dalam hal penerapan Tri Hita Karana yang dikorelasikan dalam pendidikan lingkungan hidup dengan melaksanakan sembahyang Tri Sandhya dan doa sebelum memulai dan selesai kegiatan sebagai wujud penerapan bagian Tri Hita Karana pada Parahyangan, demikian juga pada penerapan harmoni dengan sesama selama ini belum pernah dijumpai umat siswa Hindu membuat kegaduhan atau keributan yang menimbulkan disharmoni dengan sesama teman atau orang lain, begitu juga dalam hubungan dengan lingkungan (Palemaha. , siswa diberikan contoh sederhana yaitu membuang sampah pada tempat dan sebelum makan para siswa untuk menyisakan sedikit apa yang mereka makan yang yang disebut Yadnya Sesa. Lebih lanjut Mike Rahayu (Wawancara, 27 April 2. , memberikan keterangan bahwa di Desa Krisik, pendidikan lingkungan hidup diintegrasikan dengan ajaran Tri Hita Karana melalui berbagai program yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat dalam pelestarian lingkungan dan pengembangan kesadaran akan pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan alam. Konsep Tri Hita Karana, yang menekankan keseimbangan antara manusia. Tuhan, dan lingkungan, menjadi landasan dalam setiap kegiatan pendidikan (Yasa & Ratnaya, 2. Program-program ini termasuk pelatihan tentang pertanian berkelanjutan, penanaman pohon, dan pengelolaan sampah, di mana warga desa diajak untuk berkontribusi langsung. Selain itu, pengajaran nilai-nilai spiritual dari ajaran Hindu seperti ahimsa . anpa kekerasa. dan rasa syukur terhadap alam diintegrasikan ke dalam kurikulum di pasraman dan sekolah-sekolah lokal. Melalui berbagai kegiatan, masyarakat tidak hanya diperkenalkan dengan praktik ramah lingkungan, tetapi juga diajak untuk menginternalisasi nilai-nilai tersebut sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, sehingga membentuk sikap dan perilaku sadar lingkungan. Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat diketahu bahwa pada dasarnya Masyarakat Desa Krisik sepenuhnya memahami tentang pendidikan lingkungan hidup yang dikorelasikan dalam nilai-nilai Tri Hita Karana. Pemahaman yang demikianlah tampaknya membuat masyarakat Desa Krisik telah memberikan persepsi yang cukup dinamis bahwa penerapan Tri Hita Karana merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan Masyarakat Desa Krisik yang masih terjaga keharmonisan menuju kehidupan nyaman dan aman serta sejahtera. Gambaran dari informan tersebut memberikan persepsi positif terkait penerapan nilai-nilai pendidikan lingkungan hidup menyatakan bahwa penerapan nilai-nilai Tri Hita Karana pada pendidikan lingkungan hidup dapat membantu membentuk pola pikir dan perilaku yang berkelanjutan. Melalui pendekatan ini, masyarakat dapat lebih memahami pentingnya keseimbangan antara aspek spiritual, sosial, dan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, pendekatan ini juga dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya pelestarian lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan (Wanadjaja & Samputra, 2. Pemahaman dan penerapan Tri Hita Karana menekankan prinsip keseimbangan dan keselarasan antara satu aspek dengan yang Ketika keseimbangan ini tercapai, manusia akan dapat menahan tindakan Kehidupannya akan menjadi seimbang, tenang, dan damai. Oleh karena itu, hubungan antara manusia dan lingkungan alam perlu dijalin dengan cara yang harmonis (Padet & Krishna, 2. Pada hakekatnya keseimbangan alam . alance of natur. bagaimana manusia memandang alam lingkungan dengan beraneka kebutuhan dan Manusia bergulat dan bersaing dengan spesies lainnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya (Wihardjo, 2. Dengan demikian manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya senantiasa selalu memperhatikan lingkungan disekitarnya. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Kolaborasi Antara Sekolah. Pemerintah Desa. Dan Masyarakat Lokal. Pitri . menyatakan bahwa kolaborasi berarti bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama. Kolaborasi merupakan suatu proses sosial yang paling dasar. Biasanya, kolaborasi melibatkan pembagian tugas, dimana setiap orang mengerjakan setiap pekerjaan yang merupakan tanggung jawabnya demi tercapainya tujuan bersama. Secara umum, kolaborasi berarti kerjasama antara dua orang atau lebih atau organisasi yang saling memahami permasalahan masing-masing dan berusaha menyelesaikannya bersama-sama. Lebih tepatnya kerjasama adalah kerjasama yang mendalam untuk sekaligus menyelesaikan permasalahan kedua belah pihak. Keberadaan Lembaga Pendidikan menjadi bagian integral dari eksistensi yang tidak terpisahkan dari komunitas masyarakat dalam melaksanakan suatu kegiatan yang berorientasi pada ranah lingkungan dengan mengacu pada sistem kearifan lokal. Kearifan lokal sebagai salah satu ciri dari masyarakat desa merupakan khazanah sosial budaya yang unik yang menopang keseimbangan kehidupan Masyarakat (Nursetiawan & Supriyanto, 2. Heri Budi Setiawan (Wawancara, 26 April 2. menyatakan bahwa dalam kehidupan masyarakat Desa Krisik semua elemen masyarakat selalu berkolaborasi pada saat ada kegiatan yang berorientasi pada pendidikan baik itu pendidikan selalu mendukung program-program sekolah yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Secara rutin mengadakan rapat dengan pihak sekolah untuk mendiskusikan kebutuhan dan program yang akan dijalankan. Keterlibatan masyarakat bahu membahu dalam berbagai kegiatan edukatif seperti pelatihan minimalisir kerusakan lingkungan dan daur ulang sampah. Hal ini penting dikarenakan kegiatan pelatihan untuk memberikan edukasi dalam pelestarian lingkungan yang nyaman dan aman. Dalam prosesnya baik itu pihak guru dan elemen Masyarakat saling bertemu untuk berdialog serta melakukan gotong royong setiap ada kegiatan dalam ramah Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa Masyarakat Desa Krisik Di Desa Krisik, kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan telah tumbuh menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Melalui kolaborasi komunitas, berbagai proyek pelestarian alam telah dilaksanakan dengan semangat kebersamaan dan tanggung jawab bersama. Salah satu inisiatif utama adalah program penghijauan desa, di mana masyarakat bekerja sama menanam pohon di area yang rawan longsor dan sepanjang jalan desa. Setiap keluarga diberikan tanggung jawab merawat beberapa pohon, sehingga mereka merasa memiliki peran aktif dalam menjaga kelestarian alam, baik itu melalu lembaga pendidikan, kelompok tani dan kelompok ternak semua berbaur dalam kesadaran untuk menjadikan masyarakatnya yang nyaman dan aman. Hal ini juga dikuatkan dalam konsep kolaborasi masyarakat adalah cara yang efektif untuk mengatasi berbagai masalah sosial, ekonomi, dan lingkungan, serta memperkuat komunitas secara keseluruhan. Dengan berfokus pada prinsip-prinsip inklusivitas, partisipasi, dan kerja sama, kolaborasi masyarakat dapat menghasilkan solusi yang lebih berkelanjutan dan memadukan berbagai perspektif dan sumber daya yang beragam (Fitri & Jauhari, 2. Keterlibatan masyarakat di Desa Krisik dalam memulai kegiatan menimalisir pencemaran, di mana masyarakat diajarkan mengelola kotoran sapi menjadi biogas dan cara merawat tanaman dengan proses biosaka. Dengan adanya biogas dan biosaka, warga dapat bergerak Bersama dalam program pelestarian lingkungan. Dengan biogas dapat memberikan pengaruh positip dengan adanya hemat bahan bakar dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari, yang tidak hanya membantu lingkungan tetapi juga meningkatkan ekonomi lokal. Secara rutin, komunitas melakukan kegiatan gotong royong untuk membersihkan sungai, mendaur ulang sampah, dan menanam pohon di area yang telah terdegradasi. Proyek seperti penanaman hutan masyarakat dan promosi pertanian berkelanjutan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH melibatkan seluruh lapisan warga, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, sehingga memberikan edukasi langsung mengenai pentingnya menjaga ekosistem lokal. Kegiatan ini tidak hanya mempererat hubungan antarwarga, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang peran masing-masing individu dalam menghadapi tantangan lingkungan. Dengan demikian, rasa kepemilikan dan tanggung jawab terhadap lingkungan semakin kuat, menjadikan Desa Krisik sebagai model komunitas yang peduli dan berkomitmen untuk menjaga kelestarian alam demi generasi mendatang (Maknun, 2. Menurut Siti Juleha (Wawancara, 26 April 2. menyatakan bahwa kolompok yang tergabung dalam Ibu-ibu PKK, kolaborasi antara sekolah, pemerintah desa, dan masyarakat lokal sangat erat. Salah satu bentuk kolaborasinya adalah melalui penggunaan dana desa untuk pembangunan fasilitas sekolah, seperti perpustakaan dan laboratorium Selain itu, masyarakat lokal sering terlibat dalam kegiatan sekolah seperti gotong royong dan festival budaya. Dalam hal festival desa ada suatu kegiatan yang dilaksakan secara turun temurun yaitu acara bersih desa yang dilaksakan sebagai penghormatan dan rasa bersyukur atas apa yang telah diberikan Tuhan. Kegiatan tersebut berlangsung dengan sakral, dimana umat Islam beribadah di masjid begitu yang Hindu melaksanakan sembahyang hal ini sebagai wujud rasa bersyukur yang kemudian diadakan sedekah bumi. Berdasarkan hasil wawancara tersebut bahwa kolaborasi menjadi bagian dari masyarakat desa krisk yang mengedepankan hidup gotong royong sebagai penguatan Masyarakat menyadari bahwa dengan bersatu, dapat mencapai banyak hal yang sulit dicapai jika bekerja sendiri. Semua lapisan masyarakat termasuk petani, pengrajin, pedagang, pemuda, dan warga lanjut usia, berkumpul di balai desa untuk memulai perbincangan terkait dalam menjaga lingkungan hidup yang asri dengan suasana lingkungan yang harmoni. Faktor Pendukung Dan Penghambat Serta Dampak Implementasi Tri Hita Karana Terhadap Kesadaran Dan Perilaku Lingkungan Masyarakat. Masyarakat Desa Krisik merupakan masyarakat yang memiliki ciri khas masyarakat yang hidup dalam pola hidup rukun dan damai. Hal ini dikarenakan masyarakarat Desa Krisik sangat menjunjung nilai toleransi yang kuat. Saling menghargai satu dengan lain sudah menjadi bagian dari kehidupannya. Kewajiban warga negara dalam menjaga, mengelola, dan melestarikan lingkungan sekitar, yang sering disebut sebagai kewarganegaraan ekologis . cological citizenshi. , belum terpenuhi Diperlukan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan, terutama hutan, yang dapat dilakukan melalui pembentukan karakter. Pembentukan karakter warga negara adalah upaya yang mencakup pengembangan berbagai aspek keunggulan bangsa, sehingga bangsa tersebut tidak mudah goyah dalam mencari jati dirinya. Karakter peduli lingkungan harus ditanamkan pada setiap individu karena karakter ini berfungsi untuk menumbuhkan dan memperkuat identitas bangsa. Kewarganegaraan . merupakan bentuk identitas sosial politik seseorang, yang keberadaannya erat kaitannya dengan perkembangan waktu (Kurniasari & Suwanda, 2. Setiap kegiatan atau proyek pembangunan memerlukan Lokasi. Lokasi ini merupakan suatu ekosistem atau bagian suatu masyarakat yang berkelompok dalam melakukan kegiatan, setiap kegiatan akan mengakibatkan dampak terhadap lingkungan (Manik, 2. Demikian juga dengan masyarakat Desa Krisik telah menunjukkan contoh yang menonjol dalam penerapan nilai-nilai Tri Hita Karana, yang mengintegrasikan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan (Wanadjaja & Samputra, 2. Nilai-nilai budaya dan tradisi setempat menjadi faktor pendukung utama dalam implementasi ini. Adat istiadat yang dijalankan di desa, seperti upacara keagamaan, tidak https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH hanya berfungsi sebagai sarana spiritual tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya menjaga harmoni dengan alam. Priyoko selaku Ketua PHDI Desa Krisik (Wawancara, 26 April 2. mengungkapkan bahwa ajaran-ajaran Hindu menanamkan kesadaran mendalam tentang tanggung jawab terhadap lingkungan, di mana praktik-praktik seperti menjaga kebersihan dan kelestarian alam menjadi bagian integral dari kehidupan seharihari. Komunitas desa berperan aktif dalam mewujudkan nilai-nilai Tri Hita Karana. Keterlibatan ini terlihat jelas dalam berbagai kegiatan bersama yang menggalakkan kesadaran lingkungan. Misalnya, tokoh masyarakat dan pemuka adat sering mengorganisir acara gotong royong untuk membersihkan lingkungan desa, yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Organisasi lokal, termasuk kelompok pemuda. Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), dan organisasi keagamaan, juga memainkan peran penting dalam mendukung inisiatif ini. Siti Juleha sebagai ketua PKK (Wawancara, 26 April 2. sering mengajak dan mengingatkan anggota untuk mengurangi penggunaan plastik dan program edukasi tentang pengelolaan sampah dari rumah masing-masing. Pendidikan, baik formal maupun informal, telah menjadi alat yang efektif dalam menyebarluaskan dan memperdalam pemahaman tentang Tri Hita Karana (Nugroho, 2. Di sekolah-sekolah, guru-guru mengintegrasikan prinsip-prinsip ini dalam kurikulum dan kegiatan ekstrakurikuler, seperti pelajaran tentang pentingnya konservasi air dan energi. Selain itu, program pelatihan dan lokakarya yang melibatkan berbagai pihak, termasuk lembaga pendidikan tinggi, membantu meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan warga. Heri Budi Setiyawan selaku Kepala Desa Krisik (Wawancara, 26 April 2. mengungkapkan bahwa pelatihan dari berbagai pihak sering kali mencakup topik-topik praktis seperti pertanian berkelanjutan dan pengelolaan Kolaborasi dengan pemerintah dan lembaga pendidikan juga memainkan peran penting meski masih ada keterbatasan dukungan langsung. Inisiatif seperti penyuluhan tentang teknik pertanian berkelanjutan dan pengelolaan limbah menunjukkan adanya upaya untuk memperkuat kapasitas lokal. Heri Budi Setiyawan selaku Kepala Desa Krisik (Wawancara, 26 April 2. menggarisbawahi bahwa meskipun keterlibatan pemerintah belum optimal, programprogram edukasi yang ada sudah memberikan dampak positif dalam meningkatkan kesadaran dan praktik lingkungan. Penggunaan sumber daya lokal secara bijak juga mendukung implementasi Tri Hita Karana (Kristinayanti et al. , 2. Warga desa menggunakan limbah organik sebagai pupuk alami, yang tidak hanya membantu mengurangi limbah tetapi juga meningkatkan kesuburan tanah. Miswanto (Wawancara, 26 April 2. selaku tokoh penggerak peternak sapi menuturkan bahwa warga yang sebagian besar adalah petani dan peternak sapi juga sudah banyak mengaplikasikan biogas dari limbah kotoran sapi. Selain itu, penggunaan bahan lokal dalam berbagai upacara dan kegiatan keagamaan mendukung keberlanjutan ekonomi lokal dan meminimalkan dampak buruk bagi lingkungan. Kesadaran lingkungan di kalangan masyarakat Desa Krisik adalah hasil dari edukasi yang konsisten dan keterlibatan aktif komunitas. Tokoh masyarakat dan pemuka agama sering menggunakan acara-acara keagamaan untuk menyampaikan pesan-pesan penting tentang menjaga lingkungan (Yaakub et al. , 2. Hal Ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai spiritual dan moral yang kuat dapat menjadi pendorong untuk tindakan lingkungan yang positif. Pengaruh adat dan agama dalam masyarakat Desa Krisik memberikan kerangka etis yang kuat bagi upaya pelestarian lingkungan. Pemangku Agama Hindu. Bonari (Wawancara, 26 April 2. , mencatat bahwa ajaran agama yang menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Tuhan telah memperkuat motivasi intrinsik untuk menerapkan praktik ramah lingkungan. Hal ini menciptakan landasan moral yang kuat untuk mendukung tindakan kolektif dalam melindungi lingkungan. Peran pemimpin komunitas seperti kepala desa dan pemangku sangat signifikan dalam memobilisasi masyarakat untuk terlibat dalam program lingkungan. Mereka tidak hanya berfungsi sebagai panutan tetapi juga sebagai agen perubahan yang efektif, menggerakkan warga untuk berpartisipasi dalam kegiatan konservasi dan pengelolaan lingkungan (Anjarahmi & Alamin, 2. Kepemimpinan tersebut memastikan bahwa inisiatif lingkungan mendapatkan dukungan yang luas dan berkelanjutan. Teknologi dan inovasi lokal, meskipun sederhana, telah menunjukkan efektivitas dalam mendukung konservasi lingkungan Istiadi . Beberapa warga telah mengadopsi teknologi biogas untuk mengolah limbah organik, menyediakan solusi energi alternatif yang ramah Penggunaan teknologi ini menunjukkan kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dan berinovasi dalam menghadapi tantangan lingkungan, dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Dukungan sosial dan keluarga juga memainkan peran penting dalam keberhasilan implementasi Tri Hita Karana. Nilai-nilai keluarga yang kuat tentang pentingnya menjaga lingkungan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, menciptakan fondasi yang kuat untuk pelestarian lingkungan di masa depan (Febriani, 2. Hal ini memperkuat komitmen individu terhadap praktik-praktik lingkungan yang baik, memastikan bahwa upaya konservasi tetap menjadi prioritas bagi komunitas. Pengalaman masyarakat Desa Krisik menunjukkan bagaimana kombinasi dari dukungan budaya, keterlibatan komunitas, inisiatif pendidikan, dan kepemimpinan lokal dapat menciptakan lingkungan yang kondusif untuk penerapan Tri Hita Karana. Faktor-faktor ini tidak hanya mendukung pelestarian lingkungan tetapi juga memperkuat kohesi sosial dan kesejahteraan masyarakat. Model tersebut dapat diadopsi oleh komunitas lain yang ingin mengimplementasikan nilai-nilai serupa. Namun demikian. Desa Krisik juga menghadapi sejumlah tantangan yang menghambat implementasi Tri Hita Karana, sebuah filosofi yang mengedepankan keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan. Salah satu hambatan utama adalah keterbatasan sumber daya yang mencakup aspek finansial, manusia, dan material. Wawancara dengan Heri Budi Setiyawan selaku Kepala Desa Krisik . April 2. mengungkapkan bahwa kurangnya dana untuk mendukung program-program lingkungan menjadi kendala signifikan. Misalnya, inisiatif seperti pengelolaan sampah dan proyek biogas terhambat karena minimnya anggaran. Selain itu, kekurangan sumber daya manusia yang berkompeten dalam bidang lingkungan juga memperburuk situasi, di mana desa kesulitan untuk mengimplementasikan program-program berkelanjutan secara Keterbatasan akses terhadap bahan dan teknologi ramah lingkungan juga mengurangi kemampuan komunitas untuk menerapkan praktik-praktik yang mendukung pelestarian lingkungan. Perubahan sosial dan ekonomi yang terjadi di Desa Krisik turut mempengaruhi penerapan nilai-nilai Tri Hita Karana. Fenomena urbanisasi membuat banyak penduduk desa meninggalkan lahan pertanian mereka dan mencari pekerjaan di kota (Hidayat. Pergeseran ini tidak hanya mengurangi populasi yang terlibat langsung dalam praktik-praktik tradisional yang menjaga keharmonisan dengan alam, tetapi juga mengurangi keterikatan pada nilai-nilai budaya yang mendasari filosofi Tri Hita Karana. Dampak dari urbanisasi ini terlihat dalam berkurangnya praktik-praktik seperti pengelolaan sampah, limbah kotoran sapi, dan sumber daya alam secara bijak, yang sebelumnya merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari warga desa. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Tingkat kesadaran dan pendidikan tentang pentingnya Tri Hita Karana juga menjadi tantangan yang signifikan. Meski ada upaya dari para pendidik dan pemimpin komunitas untuk memasukkan nilai-nilai ini dalam kurikulum sekolah, masih banyak generasi muda yang tidak memiliki pemahaman yang mendalam tentang Tri Hita Karana. Hal ini, menurut Mike Rahayu selaku Guru Agama Hindu . April 2. disebabkan oleh kurangnya penekanan pada pendidikan lingkungan dan terbatasnya akses terhadap materi pendidikan yang relevan. Keterbatasan infrastruktur dan teknologi juga menghambat upaya pelestarian lingkungan di Desa Krisik. Sistem pengelolaan limbah yang kurang memadai dan minimnya infrastruktur pendukung lainnya membuat sulit untuk menerapkan praktik pengelolaan lingkungan yang efektif. Selain itu, akses yang terbatas terhadap teknologi pertanian yang berkelanjutan dan sistem irigasi bersih yang efisien membatasi kemampuan komunitas untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian alam. Hal ini sejalan dengan Habil Adha & Irwan . yang mengungkapkan bahwa tanpa dukungan infrastruktur dan teknologi yang tepat, banyak inisiatif lingkungan yang diusulkan sulit untuk diimplementasikan secara optimal. Fragmentasi dalam komunitas dan kurangnya kepemimpinan yang kuat juga merupakan hambatan besar dalam penerapan Tri Hita Karana. Wawancara dengan Miswanto . April 2. selaku peternak sapi Desa Krisik mengindikasikan adanya kurangnya koordinasi dan konsensus di antara pemimpin komunitas mengenai prioritas dan strategi untuk implementasi nilai-nilai ini. Fragmentasi ini menciptakan situasi di mana inisiatif lingkungan kehilangan arah dan momentum, karena tidak adanya visi bersama yang kuat (Amilda, 2. Selain itu, perbedaan pandangan dan prioritas di antara warga desa mengurangi kolaborasi dan partisipasi aktif dalam program-program konservasi. Untuk mengatasi hambatanhambatan ini, diperlukan pendekatan holistik yang mencakup pengembangan sumber daya, peningkatan pendidikan, dan penguatan kepemimpinan di tingkat komunitas. Tidak dapat dipungkiri bahwa implementasi Tri Hita Karana di Desa Krisik telah menghasilkan peningkatan kesadaran lingkungan yang signifikan di kalangan masyarakat. Berdasarkan wawancara dengan para narasumber, diketahui bahwa pemahaman masyarakat tentang pentingnya pelestarian lingkungan telah meningkat. Banyak warga yang kini lebih menyadari hubungan antara tindakan mereka dan dampaknya terhadap lingkungan. Kesadaran ini tercermin dalam partisipasi yang lebih aktif dalam kegiatan lingkungan seperti gotong royong untuk membersihkan desa dan kampanye pengurangan penggunaan plastik. Rika Santika Dewi (Wawancara 26 April 2. , selaku ketua WHDI Desa Krisik menambahkan bahwa upacara dan acara keagamaan yang sering kali memasukkan elemen edukasi lingkungan juga telah membantu menumbuhkan rasa tanggung jawab kolektif terhadap pelestarian alam. Perubahan kesadaran ini diiringi dengan perubahan konkret dalam perilaku masyarakat. Implementasi nilai-nilai Tri Hita Karana telah mendorong warga untuk mengadopsi praktik-praktik ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, penggunaan pupuk organik dan pengelolaan sampah yang lebih baik telah menjadi praktik umum. Miswanto . April 2. menyampaikan bahwa warga mulai memilah sampah rumah tangga dan mengelola limbah organik untuk dijadikan kompos. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran budaya yang signifikan menuju perilaku yang lebih Oleh karena itu, lingkungan hidup harus diberikan perhatian dengan upaya pengelolaan dengan baik berdasarkan asas tangungjawab bersama agar memberikan kemanfaatan ekonomi, social, dan budaya yang dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip kehati-hatian, demokrasi lingkungan, desentralisasi, serta pengakuan dan penghargaan terhadap kearifan local dan kearifan lingkungan (Wijoyo, 2. Dampak jangka panjang dari implementasi Tri Hita Karana juga terlihat dalam pembangunan berkelanjutan di https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH desa ini. Secara sosial, ada peningkatan solidaritas komunitas dan partisipasi aktif dalam kegiatan kolektif yang mendukung pelestarian lingkungan. Kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan telah memperkuat ikatan sosial dan mempromosikan kerja sama antara berbagai kelompok masyarakat. Mistuhir selaku tokoh umat Hindu dan Ketua Lembaga Masyarakar Dekat Hutan (LMDH) menerangkan bahwa dalam aspek ekonomi, praktek-praktek seperti pertanian dan peternakan berkelanjutan, serta penggunaan sumber daya lokal telah membantu meningkatkan ketahanan pangan dan ekonomi lokal. Mistuhir . April 2. menambahkan bahwa secara lingkungan, upaya konservasi yang didorong oleh prinsip Tri Hita Karana telah membantu mengurangi degradasi lingkungan. Penggunaan lahan yang lebih bijaksana, konservasi hutan desa, dan penggunaan teknik inovatif dalam pembuatan pupuk adalah beberapa langkah yang telah diambil oleh komunitas. Meskipun perubahan ini masih dalam tahap awal dan membutuhkan waktu untuk menunjukkan hasil yang signifikan, tanda-tanda positif sudah terlihat dalam bentuk peningkatan kesuburan tanah dan ketersediaan air yang lebih baik. Pendekatan ini menunjukkan potensi untuk mengurangi dampak negatif aktivitas manusia terhadap lingkungan. Kesadaran dan perilaku lingkungan yang meningkat ini tidak hanya bermanfaat bagi Desa Krisik tetapi juga berpotensi menjadi model bagi komunitas lain yang ingin mengadopsi pendekatan serupa. Implementasi Tri Hita Karana di desa ini menunjukkan bahwa dengan dukungan budaya, pendidikan, dan kepemimpinan yang tepat, masyarakat dapat secara kolektif bergerak menuju keberlanjutan. Hal ini juga sesuai dengan Kasman . yang menegaskan pentingnya nilai-nilai tradisional dalam membentuk respons komunitas terhadap tantangan lingkungan kontemporer. Meskipun masih ada hambatan yang perlu diatasi. Desa Krisik menawarkan contoh inspiratif tentang bagaimana komunitas dapat memanfaatkan warisan budaya mereka untuk menghadapi tantangan lingkungan global. Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan tentang Harmoni Manusia. Alam, dan Tuhan dalam Praktik Tri Hita Karana pada Pendidikan Lingkungan Hidup di Desa Krisik, dapat disimpulkan bahwa hingga saat praktik Tri Hita Karana dalam pendidikan lingkungan hidup di Desa Krisik berhasil menciptakan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Melalui penerapan nilai-nilai Tri Hita Karana, seperti Parahyangan . ubungan manusia dengan Tuha. Pawongan . ubungan antar manusi. , dan Palemahan . ubungan manusia dengan lingkunga. , masyarakat Desa Krisik secara aktif menjaga keseimbangan ekologis, sosial, dan spiritual. Pendidikan lingkungan hidup yang berlandaskan filosofi ini mengajarkan pentingnya menjaga kelestarian alam sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan serta meningkatkan solidaritas sosial. Dengan demikian. Tri Hita Karana bukan hanya menjadi konsep, tetapi juga menjadi praktik nyata yang memperkuat kesadaran lingkungan dan spiritualitas masyarakat Desa Krisik. Dengan demikian dapat dijadikan model implementasi Tri Hita Karana yang dapat diadopsi oleh komunitas lain dengan nilai-nilai budaya serupa dalam upaya pelestarian Daftar Pustaka