Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 05 Nomor. 02 Desember 2025 E-ISSN: 2775-5533 Terakreditasi SINTA 5 TRADISI WIRID YASIN PADA MASYARAKAT SUKU MELAYU DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM Mardiyah, 2Jarir, 3Taufik, 4Abdul Wahab IAIN Datuk Laksemana Bengkalis. Riau mardiyah@guru. 1,2,3,4 ABSTRACT The Yasin recitation tradition is a deeply rooted religious practice in Muslim communities, particularly in Indonesia. This activity is typically performed routinely in mosques, prayer rooms . , and homes, involving the recitation of Surah Yasin, tahlil . ecitation of the Qura. , and communal prayer. From an Islamic educational perspective, this tradition is not merely a ritual worship but also a means of moral, spiritual, social, and cultural development for Muslims. This article aims to examine the meaning, value, and relevance of the Yasin recitation tradition in shaping the character and religious awareness of the Muslim community. The Wirid Yasin tradition is a religious practice deeply rooted in the life of the Malay ethnic group. Beyond being a spiritual ritual, this tradition contains significant educational dimensions. This study aims to uncover the Islamic educational values contained within the Wirid Yasin tradition. Using a descriptive qualitative method, the research findings indicate that Wirid Yasin is not merely the recitation of holy verses, but a means of internalizing the values of aqidah . , ukhuwah Islamiyah (Islamic brotherhoo. , and character education . This tradition functions as an effective non-formal educational institution in maintaining social cohesion and the spiritual strengthening of the Malay community. Keywords: Wirid Yasin. Malay Tribe. Islamic Education. Character Values. ABSTRAK Tradisi wirid Yasin merupakan salah satu bentuk praktik keagamaan yang telah mengakar kuat dalam masyarakat Muslim, khususnya di Indonesia. Kegiatan ini biasanya dilakukan secara rutin, baik di masjid, surau, maupun di rumah-rumah warga, dengan membaca surat Yasin, tahlil, dan doa bersama. Dari sudut pandang pendidikan Islam, tradisi ini bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga sarana pembinaan moral, spiritual, sosial, dan kultural bagi umat Islam. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji makna, nilai, serta relevansi tradisi wirid Yasin dalam membentuk karakter dan kesadaran religius masyarakat Muslim. Tradisi Wirid Yasin merupakan praktik religius yang mengakar kuat dalam kehidupan suku Melayu. Selain sebagai ritual spiritual, tradisi ini mengandung dimensi edukatif yang Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam tradisi Wirid Yasin. Dengan metode kualitatif deskriptif, hasil penelitian menunjukkan bahwa Wirid Yasin bukan sekadar pembacaan ayat suci, melainkan sarana internalisasi nilai akidah, ukhuwah Islamiyah, dan pendidikan karakter . Tradisi ini berfungsi sebagai lembaga pendidikan non-formal yang efektif dalam menjaga kohesi sosial dan penguatan spiritual masyarakat Melayu. Kata Kunci: Wirid Yasin, suku melayu. Pendidikan Islam. Tradisi Keagamaan. Nilai Spiritual Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 05 Nomor. 02 Desember 2025 E-ISSN: 2775-5533 Terakreditasi SINTA 5 PENDAHULUAN Tradisi keagamaan dalam Islam memiliki dimensi yang luas dan beragam. Salah satu di antaranya adalah tradisi wirid Yasin, yaitu pembacaan surat Yasin secara bersama-sama yang biasanya disertai dengan doa tahlil atau zikir tertentu. Tradisi ini berkembang pesat di berbagai daerah Nusantara dan menjadi bagian penting dari identitas keislaman masyarakat. Dalam konteks sosial keagamaan, wirid Yasin tidak hanya berfungsi sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi media pendidikan Islam yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai akhlak, ukhuwah, dan ketakwaan. Masyarakat Melayu secara historis memiliki keterkaitan yang tidak terpisahkan dengan Islam. Identitas kemelayuan seringkali diidentikkan dengan keislaman, sebagaimana pepatah "Melayu identik dengan Islam, keluar dari Islam berarti keluar dari Melayu. Salah satu manifestasi religiusitas yang masih bertahan hingga saat ini adalah tradisi Wirid Yasin. Wirid Yasin biasanya dilaksanakan secara komunal, baik di masjid, surau, maupun rumah warga secara bergilir. Dalam perspektif pendidikan Islam, proses transfer nilai tidak hanya terjadi di ruang kelas formal, tetapi juga melalui ruang-ruang kultural. Fenomena ini menarik untuk dikaji lebih dalam guna melihat bagaimana sebuah tradisi mampu menjadi instrumen pendidikan bagi masyarakat dewasa maupun generasi muda. Pendidikan Islam pada hakikatnya mencakup pembentukan manusia seutuhnya Ai mencakup aspek iman, ilmu, dan amal. Dalam konteks ini, tradisi wirid Yasin dapat dipandang sebagai salah satu metode pembelajaran non-formal yang menanamkan nilai spiritual dan moral melalui pendekatan budaya keagamaan yang hidup di tengah masyarakat. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan historis dan kepustakaan . ibrary researc. Pendekatan historis digunakan untuk menelusuri tentang tradisi pembacaan wirid yasin pada suku Melayu dengan cara menganalisis dinamika institusi, metode, dan gagasan pendidikan dalam lintasan sejarah. Sedangkan pendekatan kepustakaan dilakukan dengan menghimpun, membaca, dan menelaah literatur yang relevan, baik berupa kitab klasik, karya ulama modern, maupun buku dan artikel akademik kontemporer. Jenis penelitian ini adalah kualitatif-deskriptif. Penelitian kualitatif dipilih karena fokus utamanya adalah pemahaman mendalam terhadap tradisi pembacaan wirid yasin pada suku Melayu, bukan pengukuran secara kuantitatif. Sementara sifat deskriptifnya bertujuan untuk menggambarkan perkembangan tradisi pembacaan wirid yasin pada suku Melayu dari segi konsep, institusi, dan relevansinya dalam konteks modern. Sumber data penelitian ini terdiri Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 05 Nomor. 02 Desember 2025 E-ISSN: 2775-5533 Terakreditasi SINTA 5 dari Sumber primer, sumber sekunder, berupa buku, artikel jurnal, disertasi, dan laporan penelitian yang membahas tentang tradisi pembacaan wirid yasin pada suku Melayu. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi dan penelusuran literatur ilmiah yang relevan. Analisis data menggunakan metode analisis isi . ontent analysi. dengan langkah-langkah: . reduksi data, . kategorisasi konsep epistemologi integratif, dan . tradisi pembacaan wirid yasin pada suku Melayu. Metode ini dipilih untuk memperoleh pemahaman mendalam dan sistematis terhadap gagasan-gagasan konseptual yang dikaji. HASIL DAN PEMBAHASAN Sejarah dan Makna Tradisi Wirid Yasin Tradisi merupakan pola perilaku yang diwariskan secara turun-temurun dan mengandung nilai simbolik serta normatif dalam suatu masyarakat. Dalam konteks masyarakat Melayu Muslim, tradisi wirid Yasin atau yasinan merujuk pada praktik pembacaan Surah YAsin secara berjamaah yang dilakukan secara periodik, seperti malam Jumat, acara kematian, atau momen keagamaan tertentu. Tradisi ini berfungsi sebagai ekspresi religius sekaligus sarana sosial yang mengikat anggota komunitas. Istilah wirid berasal dari bahasa Arab waradaAeyaridu yang berarti AudatangAy atau Ausesuatu yang dibaca secara terus-menerusAy. Dalam praktik Islam Nusantara, wirid dipahami sebagai bacaan dzikir dan ayat-ayat Al-QurAoan yang dibaca secara rutin untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memohon keberkahan. Tradisi wirid Yasin bermula dari kebiasaan masyarakat Muslim yang menempatkan surat Yasin sebagai Aujantung Al-QurAoanAy . albu al-QurAoa. , sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: AuSegala sesuatu memiliki hati, dan hati Al-QurAoan adalah surat Yasin. Bagi suku Melayu. Wirid Yasin adalah "ruh" sosial. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan pada malam Jumat atau saat peringatan peristiwa penting seperti khitanan, pernikahan, atau 4 Secara teknis, kegiatan dimulai dengan pembacaan Ummul Kitab, diikuti surat Yasin, tahlil, dan ditutup dengan doa serta makan bersama . Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta, 2009, hlm. Louis MaAoluf. Al-Munjid fi al-Lughah wa al-AAolam. Beirut: Dar al-Masyriq, 1986, hlm. Azyumardi Azra. Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal. Bandung: Mizan, 2002, hlm. 45Ae47. Abdul Latif. Tradisi Keagamaan Masyarakat Melayu (Pekanbaru: Unri Press, 2. , hal. Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 05 Nomor. 02 Desember 2025 E-ISSN: 2775-5533 Terakreditasi SINTA 5 Sejarah tradisi Wirid Yasin pada suku Melayu merupakan hasil dari proses panjang akulturasi antara ajaran Islam dan kearifan lokal. Meskipun secara spesifik tahun dimulainya sulit dipastikan secara tunggal karena variasi geografis, para ahli sejarah umumnya sepakat bahwa tradisi ini mulai mengakar seiring dengan intensifnya dakwah Islam di tanah Melayu sejak abad ke-15 hingga abad ke-18. Berikut adalah tinjauan sejarah tradisi Wirid Yasin pada masyarakat Melayu: Akar Sejarah: Dakwah Sufisme dan Ulama Nusantara Tradisi membaca wirid . dan surat tertentu secara berjamaah merupakan strategi dakwah yang digunakan oleh para ulama terdahulu, terutama dari kalangan Sufi. Pertama Modifikasi Tradisi Lokal: Sebelum Islam datang, masyarakat Melayu . an Nusantara pada umumny. memiliki tradisi berkumpul untuk mendoakan arwah atau keselamatan dengan cara-cara lama. Para ulama tidak menghapus budaya "berkumpul" tersebut, melainkan mengisi kontennya dengan pembacaan Al-Qur'an (Surat Yasi. dan kalimat tauhid (Tahli. Kedua Peran Ulama Abad 17-18: Tokoh-tokoh seperti Syekh Abdurrauf as-Singkili di Aceh dan Syekh Abdus Samad al-Palimbani di Palembang berperan besar dalam menyebarkan kitab-kitab wirid dan mempopulerkan amalan harian yang kemudian diadopsi oleh masyarakat Melayu luas. Wirid Yasin sebagai Identitas Melayu Dalam masyarakat Melayu, "Yasinan" atau "Wirid Yasin" berkembang menjadi institusi sosial yang lebih formal dibandingkan sekadar ibadah pribadi. : . Sistem Giliran (Arisan Spiritualita. : Di banyak daerah Melayu seperti Riau. Jambi, dan Sambas, sejarah mencatat bahwa tradisi ini mulai terorganisir secara rutin sejak awal abad ke-20 sebagai sarana silaturahmi antarwarga yang rumahnya berjauhan. Pembeda Identitas: Karena masyarakat Melayu memegang prinsip "Adat bersandi Syarak. Syarak bersandi Kitabullah". Wirid Yasin menjadi alat untuk membedakan identitas kemelayuan yang religius dari pengaruh luar. Wirid Yasin sebagai Praktik Keagamaan Kultural Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 05 Nomor. 02 Desember 2025 E-ISSN: 2775-5533 Terakreditasi SINTA 5 Secara konseptual, tradisi wirid Yasin pada masyarakat Melayu dapat dipahami sebagai praktik keagamaan kultural, yakni bentuk ibadah yang berakar pada ajaran Islam, tetapi diekspresikan melalui medium budaya lokal. Dalam hal ini, wirid Yasin tidak hanya diposisikan sebagai ibadah individual . aAoabbu. , melainkan sebagai ritual kolektif yang sarat dengan makna sosial dan simbolik. Secara garis besar, teks tersebut menjelaskan bahwa Wirid Yasin bukan sekadar pembacaan doa, melainkan sebuah fenomena sinkretisme fungsional antara agama dan Tradisi ini dikategorikan sebagai praktik keagamaan kultural, yang memiliki dua pilar utama yaitu pertama Sumber Ajaran: Berakar kuat pada teks suci dan ajaran Islam (Al-Qur'a. Kedua Medium Ekspresi: Menggunakan tata cara, tradisi, dan wadah budaya lokal Melayu . eperti perhelatan di rumah warga, penggunaan adat istiadat tertentu, atau hidangan bersam. Wirid Yasin dalam Kerangka Living QurAoan Dalam perspektif living QurAoan, wirid Yasin dapat dianalisis sebagai bentuk resepsi masyarakat terhadap Al-QurAoan. Resepsi ini tidak selalu bersifat tekstual atau ilmiah, tetapi lebih bersifat praksis dan fungsional. a Surah Yasin AuditerimaAy dan AudihidupkanAy melalui praktik ritual yang diyakini membawa keberkahan, ketenangan batin, dan kekuatan spiritual. Pendekatan living QurAoan memandang Al-QurAoan bukan hanya sebagai teks tertulis, tetapi juga sebagai realitas hidup yang berinteraksi dengan budaya dan tradisi masyarakat. Tradisi wirid Yasin merupakan contoh konkret dari fenomena living QurAoan, di mana Al-QurAoan dihadirkan dalam bentuk praktik ritual yang sarat makna simbolik dan sosial. Dalam masyarakat Melayu. Surah YAsin tidak hanya dibaca, tetapi juga AudihidupkanAy melalui tradisi kolektif, sehingga membentuk pola keberagamaan yang khas dan kontekstual. Hal ini menunjukkan bahwa pemaknaan Al-QurAoan bersifat dinamis dan dipengaruhi oleh konteks sosial budaya tempat ia dipraktikkan. Konseptualisasi ini menunjukkan bahwa makna Al-QurAoan dalam masyarakat Melayu tidak hanya ditentukan oleh tafsir ulama, tetapi juga oleh pengalaman religius kolektif umat. Norazit Selat. Masyarakat Melayu: Struktur. Perubahan dan Keagamaan (Kuala Lumpur: University of Malaya Press, 1. , hlm: 45-50. Ahmad Baidowi. AuLiving QurAoan dalam Tradisi Yasinan,Ay Jurnal Studi Al-QurAoan. Vol. No. 2, 2014, hlm. Ahmad Baidowi. AuLiving QurAoan dalam Tradisi Yasinan,Ay Jurnal Studi Al-QurAoan. Vol. No. 2, 2014, hlm. Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 05 Nomor. 02 Desember 2025 E-ISSN: 2775-5533 Terakreditasi SINTA 5 Dengan demikian, wirid Yasin merepresentasikan dialektika antara teks suci dan realitas sosial, di mana Al-QurAoan berperan aktif dalam membentuk pola keberagamaan masyarakat. Fungsi Sosial dan Keagamaan Wirid Yasin Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa wirid Yasin memiliki fungsi multidimensional. Secara religius, ia dipahami sebagai bentuk ibadah dan doa bersama, baik untuk keselamatan hidup, penolak bala, maupun doa bagi orang yang telah meninggal. 8 Secara sosial, wirid Yasin berfungsi sebagai sarana memperkuat solidaritas sosial, mempererat silaturahmi, dan membangun rasa kebersamaan dalam komunitas Melayu. Konsep ini sejalan dengan pandangan antropologi agama yang melihat ritual sebagai Autindakan simbolik. yang berfungsi menghubungkan manusia dengan yang sakral sekaligus memperkuat struktur sosial. Dalam tradisi Melayu, pembacaan Yasin menjadi simbol religius yang menyatukan dimensi spiritual . oa, dzikir. Al-QurAoa. dan dimensi sosial . ebersamaan, gotong royong, solidarita. Dalam perspektif antropologi agama, praktik seperti wirid Yasin memperlihatkan bagaimana ritual keagamaan menjadi media integrasi sosial yang efektif, terutama dalam masyarakat tradisional. Melalui ritual ini, nilai-nilai Islam ditanamkan secara informal dan Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi Wirid Yasin Nilai Spiritual dan Tauhid Pembacaan surat Yasin mengandung pesan ketauhidan yang mendalam, mengingatkan manusia akan kekuasaan Allah SWT atas kehidupan dan kematian. Dalam konteks pendidikan Islam, hal ini menumbuhkan kesadaran spiritual dan rasa ketergantungan total kepada Sang Pencipta. Quraish Shihab. Wawasan Al-QurAoan. Bandung: Mizan, 1996, hlm. Emile Durkheim. The Elementary Forms of Religious Life. New York: Free Press, 1995, hlm. Clifford Geertz. The Religion of Java (Chicago: University of Chicago Press, 1. Sahiron Syamsuddin. Metodologi Penelitian Living QurAoan dan Hadis. Yogyakarta: Teras, 2007, hlm. Quraish Shihab. Tafsir al-Mishbah. Vol. 10 (Jakarta: Lentera Hati, 2. , h. Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 05 Nomor. 02 Desember 2025 E-ISSN: 2775-5533 Terakreditasi SINTA 5 Nilai Moral dan Akhlak Melalui doa dan zikir, jamaah diajak untuk introspeksi diri, memperbaiki akhlak, dan memperbanyak amal saleh. Tradisi ini menanamkan nilai kesederhanaan, kesabaran, dan keikhlasan dalam kehidupan sehari-hari, sesuai dengan tujuan utama pendidikan Islam: membentuk insan berakhlak karimah. Nilai Sosial dan Kebersamaan (Ukhuwah Islamiya. Wirid Yasin biasanya dilakukan secara berjamaah, sehingga melatih peserta untuk saling mengenal, menghargai, dan membantu. Hal ini mengandung unsur pendidikan sosial, sebagaimana prinsip Islam tentang pentingnya taAoawun . olong-menolon. dan Nilai Kultural dan Tradisional Kegiatan wirid Yasin juga memperkuat identitas keagamaan dan budaya masyarakat Muslim Dalam pendidikan Islam, pelestarian budaya positif yang selaras dengan syariat merupakan bagian dari upaya menjaga nilai-nilai Islam dalam kehidupan berbangsa. Pendidikan Kecerdasan Spiritual Ritme bacaan yang dilakukan secara berjamaah memberikan efek ketenangan batin . humaAonina. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan Islam untuk membentuk insan kamil yang sehat secara spiritual. Nilai Edukatif dan Pembiasaan (Habituatio. Kegiatan rutin wirid Yasin dapat menjadi sarana pembiasaan dalam mendidik generasi muda agar mencintai Al-QurAoan, terbiasa berzikir, dan membangun disiplin spiritual. Al-Ghazali. IhyaAo AoUlum al-Din (Kairo: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 2. , h. Yusuf al-Qaradawi. Tarbiyah al-Islamiyyah wa Madrasah Hasan al-Banna (Kairo: Dar al-Syuruq, 1. , h. Azyumardi Azra. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara (Bandung: Mizan, 1. Hamzah YaAoqub. Etika Islam: Pembinaan Karakter dan Akhlak (Bandung: Diponegoro, 1. , hal. Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 05 Nomor. 02 Desember 2025 E-ISSN: 2775-5533 Terakreditasi SINTA 5 Dalam teori pendidikan Islam, hal ini termasuk dalam pendekatan taAodib dan riyadhah alnafs . atihan jiw. Wirid Yasin sebagai Media Dakwah dan Pembelajaran Non-Formal Dalam pandangan pendidikan Islam, kegiatan wirid Yasin dapat dikategorikan sebagai pendidikan non-formal berbasis masyarakat. Ia melibatkan proses belajar melalui pengalaman . xperiential learnin. , di mana jamaah memperoleh pemahaman dan penanaman nilai keagamaan tanpa harus melalui lembaga formal seperti madrasah atau pesantren. Melalui kegiatan ini, masyarakat belajar membaca Al-QurAoan, memahami makna ayatayat, mendengarkan nasihat ustaz, serta berlatih dalam suasana spiritual dan kekeluargaan. Dengan demikian, wirid Yasin berfungsi sebagai model pendidikan Islam kontekstual, yang menyesuaikan ajaran Islam dengan kebutuhan dan budaya masyarakat lokal. Pandangan Ulama dan Perspektif Islam terhadap Tradisi Wirid Yasin Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum melaksanakan wirid Yasin secara Sebagian ulama memandangnya sebagai bidAoah hasanah . novasi bai. , karena bertujuan mendekatkan diri kepada Allah dan memperkuat ukhuwah Islamiyah. 20 Sementara sebagian lain menekankan agar kegiatan ini tidak dianggap sebagai kewajiban syarAoi. Namun, dalam kerangka pendidikan Islam, tradisi wirid Yasin memiliki nilai pedagogis yang signifikan. Seperti dijelaskan oleh M. Quraish Shihab, nilai-nilai Al-QurAoan harus diaktualisasikan dalam kehidupan sosial dan budaya agar Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam (QS. Al-Anbiya . : . 21 Dengan demikian, kegiatan seperti wirid Yasin merupakan manifestasi dari semangat keislaman yang inklusif dan edukatif. MannaAo al-Qaththan. Mabahits fi Ulum al-QurAoan (Beirut: Dar al-Fikr, 1. , h. Hasan Langgulung. Asas-asas Pendidikan Islam (Jakarta: Pustaka al-Husna Baru, 2. , h. Abdurrahman An-Nahlawi. Pendidikan Islam di Rumah. Sekolah dan Masyarakat (Jakarta: Gema Insani Press, 1. , h. Ibn Hajar al-Asqalani. Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari. Juz 3 (Kairo: Dar al-MaAoarif, 1. , h. Quraish Shihab. Wawasan Al-QurAoan: Tafsir MaudhuAoi atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 1. , h. Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 05 Nomor. 02 Desember 2025 E-ISSN: 2775-5533 Terakreditasi SINTA 5 Relevansi Tradisi Wirid Yasin dalam Pembentukan Karakter Pendidikan karakter dalam Islam bertujuan untuk membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Tradisi wirid Yasin membantu menginternalisasi nilai-nilai tersebut melalui kegiatan yang berulang dan berbasis komunitas. Anak-anak dan remaja yang terlibat dalam kegiatan ini belajar menghargai waktu ibadah, menghormati orang tua, dan hidup dalam kebersamaan yang bernuansa religius. Dalam konteks pendidikan modern, tradisi ini juga bisa dijadikan sebagai pendekatan integratif antara pendidikan formal dan non-formal. Guru dan pendidik dapat menjadikan kegiatan wirid Yasin sebagai bagian dari pembelajaran karakter di sekolah atau madrasah, terutama dalam membentuk budaya religius . eligious cultur. Kontroversi dan Legitimasi Keagamaan Meskipun populer, tradisi wirid Yasin tidak lepas dari perdebatan. Sebagian ulama mengkritik praktik ini karena tidak memiliki dasar hadis sahih yang kuat, terutama terkait penentuan waktu dan tata cara tertentu. 24 Namun, ulama lain memandangnya sebagai bagian dari Aourf . yang dapat diterima selama tidak bertentangan dengan prinsip dasar ajaran Islam. Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa tradisi wirid Yasin berada di persimpangan antara teks normatif agama dan praktik kultural umat Islam. Dalam konteks masyarakat Melayu, aspek sosial dan kultural seringkali menjadi pertimbangan utama dalam mempertahankan tradisi ini. Transformasi ke Era Modern Memasuki tahun 1980-an hingga 1990-an, tradisi ini mengalami formalisasi dalam bentuk kelompok Majelis Taklim atau Persatuan Wirid Yasin. Abuddin Nata. Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2. , h. Samsul Nizar. Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Press, 2. , h. Muhammad Nashiruddin al-Albani. Silsilah al-Ahadits al-DaAoifah. Riyadh: Maktabah al-MaAoarif, 1992, jilid 1. Wahbah al-Zuhaili. Ushul al-Fiqh al-Islami. Damaskus: Dar al-Fikr, 1986, jilid 2, hlm. Nurcholish Madjid. Islam Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina, 2000, hlm. Jurnal El-TaAodib Volume. 05 Nomor. 02 Desember 2025 Program Studi Pendidikan Agama Islam E-ISSN: 2775-5533 Universitas Muhammadiyah Bengkulu Terakreditasi SINTA 5 A Dimensi Sosial: Awalnya hanya pembacaan doa, namun berkembang menjadi lembaga simpan pinjam, bantuan sosial . ana kematia. , hingga pendidikan bagi kaum ibu. Ketahanan Budaya: Meskipun sempat mendapat tantangan dari gerakan pemurnian agama yang menganggapnya bid'ah, masyarakat Melayu tetap melestarikannya sebagai "Living Qur'an"Aipraktik menghidupkan Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. Bagi masyarakat Melayu dan Nusantara pada umumnya, tradisi wirid Yasin merupakan bentuk akomodasi antara ajaran Islam dan budaya lokal yang membawa nilai-nilai sosial dan spiritual. Ia menjadi bukti bagaimana Islam diterima dan berkembang secara damai melalui jalur kultural dan pendidikan moral masyarakat. Perkembangan di Berbagai Wilayah Melayu Perkembangan wirid yasin diberbagai daerah Melayu seperti daerah pada table berikut: Tabel 1. Perkembangan wirid yasin diberbagai daerah Melayu Wilayah Melayu Sambas Melayu Riau/Kepri Melayu Semenanjung Karakteristik Sejarah Terjadi akulturasi kuat antara kepercayaan mistis lokal . engusiran roh halu. dengan teks hadis tentang fadhilah Surat Yasin. Berkembang melalui jalur surau dan masjid, seringkali dihubungkan dengan tradisi kenduri dan tahlilan kematian. Dipengaruhi oleh pengajaran ulama-ulama dari Hadramaut yang membawa tradisi Ratib dan wirid-wirid komunal. Tabel 2. Fungsi Sosial dam Keagamaan Wirid Yasin Aspek Penjelasan Ibadah Individual Hubungan vertikal antara hamba dan Tuhan. Fokus pada pahala, ketenangan (TaAoabbu. batin, dan pelaksanaan anjuran agama. Ritual Kolektif (Sosial- Hubungan horizontal antarmanusia. Menjadi ruang silaturahmi, memperkuat Simboli. solidaritas tetangga, dan simbol identitas kemelayuan. KESIMPULAN (CONCLUSION) Tradisi Wirid Yasin pada suku Melayu bukan hanya sekadar ritual formalitas, melainkan sebuah institusi pendidikan sosial-religius. Di dalamnya terkandung kurikulum kehidupan yang mengajarkan ketauhidan, solidaritas sosial, dan konsistensi ibadah. Transformasi Azyumardi Azra. Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal (Jakarta: Prenadamedia Group, 2. Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 05 Nomor. 02 Desember 2025 E-ISSN: 2775-5533 Terakreditasi SINTA 5 nilai-nilai ini krusial untuk dipertahankan di tengah arus modernisasi. Tradisi wirid Yasin merupakan praktik keagamaan yang sarat nilai-nilai pendidikan Islam. Ia mengandung dimensi spiritual, moral, sosial, dan kultural yang berfungsi membentuk karakter dan kesadaran religius Dalam konteks pendidikan Islam, tradisi ini berperan sebagai media dakwah dan pendidikan non-formal yang efektif, karena mengajarkan nilai-nilai iman, kebersamaan, dan moralitas melalui pembiasaan dan keteladanan. Dengan demikian, tradisi wirid Yasin bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan warisan budaya Islam Nusantara yang perlu dilestarikan dan dimaknai kembali dalam rangka memperkuat pendidikan akhlak dan spiritual generasi muda. Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 05 Nomor. 02 Desember 2025 E-ISSN: 2775-5533 Terakreditasi SINTA 5 REFERENSI