Volume 5 No. 1 Desember 2025 Hal. 37 Ae 46 PSYCOMEDIA: Jurnal Psikologi Website: http://journal. id/psychomedia/ Penerimaan diri dan subjective well-being remaja di Panti Asuhan Kristen/Katolik Helsya Delvianti Marcella Mariska Aryono Fakultas Psikologi. Universitas Katolik Widya Mandala. Surabaya. Indonesia E-mail: marcella. aryono@ukwms. Abstract Adolescents living in orphanages face various psychosocial conditions that can affect subjective well-being, such as separation from their families and the demands of adjusting to their environment. Subjective well-being reflects an individual's evaluation of their life, including life satisfaction and positive and negative affective One internal factor that is theoretically assumed to be related to subjective well-being is self-acceptance. This study aims to examine the relationship between self-acceptance and subjective well-being in adolescents living in Christian/Catholic orphanages. This study uses a quantitative approach with a correlational design involving 60 adolescents selected using total sampling technique. The research instruments consist of a self-acceptance scale and a subjective well-being Data analysis was performed using Pearson's correlation. The results of the analysis show that the relationship between self-acceptance and subjective well-being is not significant. These findings can be interpreted to mean that the subjective wellbeing of adolescents in orphanages is more influenced by external factors, such as social support from caregivers and peers, interpersonal relationships, and the orphanage environment, than by internal factors such as self-acceptance. Keywords: Adolescents. Self-Acceptance. Subjective Well-Being Abstrak Remaja yang tinggal di panti asuhan menghadapi berbagai kondisi psikososial yang dapat memengaruhi Subjective well-being, seperti keterpisahan dari keluarga dan tuntutan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. Subjective well-being mencerminkan evaluasi individu terhadap kehidupannya yang mencakup kepuasan hidup serta pengalaman afek positif dan negatif. Salah satu faktor internal yang secara teoritis diasumsikan berkaitan dengan subjective well-being adalah penerimaan diri. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara penerimaan diri dan subjective well-being pada remaja yang tinggal di panti asuhan Kristen/Katolik. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional yang melibatkan 60 remaja yang dipilih menggunakan teknik total Instrumen penelitian terdiri dari skala penerimaan diri dan skala subjective well-being. Analisis data dilakukan menggunakan korelasi Pearson. Hasil analisis menunjukkan bahwa hubungan antara penerimaan diri dan subjective well-being tidak signifikan, sehingga hipotesis penelitian ditolak. Temuan ini dapat diartikan bahwa subjective well-being remaja panti asuhan lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti dukungan sosial dari pengasuh dan teman sebaya, relasi interpersonal, serta kondisi lingkungan panti, dibandingkan faktor internal berupa penerimaan diri Kata Kunci: Penerimaan Diri. Subjective Well-Being. Remaja Copyright A 2025. Helsya Delvianti dan Marcella Mariska Aryono. All Right Reserved PSYCOMEDIA: Jurnal Psikologi E-mail: psikologi. fishum@gmail. mauntag1745@gmail. Program Studi Psikologi Universitas Ibrahimy Situbondo Pendahuluan Masa remaja merupakan periode transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang ditandai oleh berbagai perubahan biologis, kognitif, dan sosialemosional. Pada masa remaja awal . arly adolescenc. pada umumnya berlangsung pada usia sekolah menengah pertama, perubahan biologis berupa pubertas menjadi salah satu perubahan utama yang dialami individu. Masa remaja berlangsung pada rentang usia 10Ae22 tahun, yang terbagi ke dalam tiga tahap, yaitu remaja awal . Ae15 tahu. , remaja madya . Ae18 tahu. , dan remaja akhir . Ae22 tahu. , di mana setiap tahap memiliki tugas perkembangan yang harus dipenuhi (Santrock, 2. Salah satu tugas perkembangan remaja adalah memperjuangkan kebebasan dan kemandirian (Sarwono, 2. Remaja membutuhkan dukungan keluarga agar mampu melakukan menjalani setiap tugas perkembangan dan melakukan penyesuaian diri secara optimal karena dituntut melakukan perubahan sikap dan perilaku yang cukup besar. Peran dan dukungan orang tua menjadi sangat krusial dalam membantu remaja melewati masa perkembangan tersebut. Dukungan orang tua membuat remaja merasa dicintai, dihargai, aman, dan diterima, sehingga mampu menghadapi tantangan perkembangan dengan lebih baik (Sari et al. , 2. Namun, tidak semua remaja memperoleh dukungan keluarga yang memadai. Sebagian remaja harus berpisah dari orang tua akibat berbagai kondisi yang memaksa mereka menjalani kehidupan tanpa kehadiran dan kasih sayang orang tua (Batubara, 2. Data Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial Next Generation (SIKS-NG) pada bulan Mei 2021 menunjukkan sebanyak 191. 696 anak diasuh di 3. 914 Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA), termasuk panti asuhan, yayasan, dan balai. Menariknya, sebagian anak dan remaja yang tinggal di panti asuhan masih memiliki orang tua atau keluarga. Alasan penitipan anak di panti asuhan umumnya berkaitan dengan keterbatasan ekonomi dan ketidakmampuan orang tua dalam memenuhi kebutuhan anak. Kondisi tersebut menyebabkan kebutuhan fisik, psikologis, dan sosial anak tidak terpenuhi secara optimal, sehingga pengasuhan dialihkan kepada pemerintah atau lembaga sosial (Tricahyani & Widiasavitri, 2. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa remaja di panti asuhan umumnya hanya terpenuhi kebutuhan fisiknya, sementara kebutuhan psikologis belum tercukupi (Aesijah et al. , 2. Secara emosional, remaja panti asuhan menunjukkan tingkat kesejahteraan psikologis yang rendah, ditandai dengan dominasi emosi negatif seperti sedih, marah, jengkel, kesulitan belajar, dan kurang percaya diri. Kondisi ini menunjukkan adanya permasalahan pada subjective well-being remaja di panti asuhan. Kondisi ini menunjukkan bahwa remaja panti asuhan berada pada situasi psikologis yang rentan, khususnya terkait subjective well-being. Apabila subjective well-being yang rendah tidak mendapat perhatian, hal ini berpotensi menghambat pencapaian tugas perkembangan remaja serta penyesuaian diri mereka di masa dewasa. Kurangnya perhatian, kasih sayang, dan rasa aman dari orang tua berdampak signifikan terhadap perkembangan psikologis remaja. Remaja yang tinggal di panti asuhan cenderung menunjukkan penerimaan diri yang rendah, kurang menghargai PSYCOMEDIA : Jurnal Psikologi Page | 38 orang lain, serta sering menyalahkan diri sendiri atas peristiwa yang dialaminya (Resty, 2. Salah satu faktor internal yang berkaitan dengan kondisi tersebut adalah Subjective Well-Being. Subjective well-being merupakan evaluasi individu terhadap kehidupannya secara keseluruhan, yang mencakup kepuasan hidup serta pengalaman afek positif dan negatif (Diener et al. , 2. Subjective well-being merupakan elemen penting dari kualitas hidup individu yang berpengaruh terhadap kesehatan, pekerjaan, dan hubungan interpersonal (Azra, 2. Subjective well-being berkaitan dengan perasaan puas dan senang terhadap kondisi kehidupan yang dijalani individu. Salah satu aspek psikologis yang diduga berhubungan dengan subjective well-being adalah penerimaan diri. Penerimaan diri didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk menyadari, mengakui, dan menerima karakteristik diri, baik kelebihan maupun keterbatasan yang dimiliki (Chaplin, 2010. Marlina, 2. Individu yang mampu menerima diri cenderung memiliki pandangan yang lebih realistis dan positif terhadap kehidupannya. Sejumlah penelitian terdahulu menunjukkan adanya hubungan antara penerimaan diri dan subjective well-being. Individu dengan subjective well-being tinggi cenderung memiliki emosi positif, rasa puas terhadap hidup, serta kemampuan menjalin hubungan sosial yang baik (Nadyatusofia, 2. Remaja panti asuhan memiliki tingkat subjective well-being yang lebih rendah dibandingkan remaja yang tinggal bersama keluarga (Khasanah & Asiyah, 2. Penelitian lain menunjukkan adanya hubungan positif antara self-acceptance dan subjective well-being pada berbagai populasi, seperti pasien kanker (Canasta et al. , 2. , ibu yang memiliki anak dengan down syndrome (Naraha et al. , 2. , serta perempuan dengan disabilitas (Muthmainah, 2. Meskipun demikian, penelitian-penelitian sebelumnya lebih banyak dilakukan pada populasi dengan kondisi kesehatan tertentu, sementara penelitian mengenai hubungan penerimaan diri dan subjective well-being pada remaja panti asuhan masih terbatas, khususnya di Kota Madiun. Oleh karena itu, berdasarkan fenomena dan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penerimaan diri dan subjective well-being pada remaja yang tinggal di panti asuhan Kristen/Katolik di Madiun. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan Pendekatan ini dipilih untuk mengetahui hubungan antara dua variabel, yaitu subjective well-being dan penerimaan diri pada remaja yang tinggal di panti Metode kuantitatif korelasional sesuai untuk mengukur kekuatan hubungan antar variabel secara objektif melalui pengumpulan data menggunakan instrumen terstandar dan dianalisis dengan teknik statistik inferensial. Partisipan dalam penelitian ini adalah remaja berusia 13 hingga 22 tahun yang tinggal di dua panti asuhan Kristen/Katolik yang berada di wilayah Kabupaten/Kota Madiun. Jumlah subjek sebanyak 60 orang, dengan masing-masing 30 remaja berasal dari Panti Asuhan A dan 30 dari Panti Asuhan B. Teknik sampling yang digunakan PSYCHOMEDIA : Jurnal Psikologi Page | 39 adalah total sampling, yaitu teknik yang melibatkan seluruh anggota populasi sebagai sampel karena jumlah populasi relatif kecil dan memenuhi syarat sebagai partisipan Pengumpulan data dilakukan dengan membagikan kuesioner skala psikologi kepada para partisipan. Setiap responden diberikan penjelasan mengenai tujuan penelitian dan kerahasiaan data, kemudian diminta mengisi skala secara mandiri. Instrumen yang digunakan terdiri dari dua skala, yaitu skala penerimaan diri dan skala subjective well-being. Keduanya disusun berdasarkan teori yang telah digunakan dalam penelitian sebelumnya dan telah mengalami proses adaptasi untuk konteks penelitian Skala penerimaan diri diadaptasi dari Hidayah . yang terdiri dari 12 item, dan memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0,753 berdasarkan pengujian CronbachAos Alpha. Skala subjective well-being diadaptasi dari Santosa . yang terdiri dari 23 item dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,888. Proses analisis data dilakukan menggunakan perangkat lunak SPSS versi 25. Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini terdiri dari uji asumsi dan uji Uji asumsi dalam penelitian ini mencakup uji normalitas dan uji linearitas. Uji normalitas dilakukan dengan Kolmogorov-Smirnov untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal. Jika nilai signifikansi lebih 0,05 data dianggap terdistribusi Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan linear antara penerimaan diri dan subjective well-being dengan menggunakan uji Test for Linearity dan jika nilai signifikansi lebih dari 0,05 maka dapat dikatakan terdapat hubungan linier antara penerimaan diri dan subjective well-being. Hasil uji normalitas dan linearitas dapat dilihat pada tabel 1 dan 2. Uji hipotesis menggunakan uji korelasi Pearson dilakukan untuk menguji hubungan antara subjective well-being dan penerimaan diri. Pengujian dilakukan pada taraf signifikansi 0,05. Jika nilai signifikansi kurang dari 0,05 maka hipotesis alternatif diterima yang menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kedua variabel. Sebaliknya, jika nilai signifikansi lebih dari 0,05 maka hipotesis nol diterima, yang berarti tidak ada hubungan signifikan antara variabel independen dan dependen dalam penelitian ini. Variabel Penerimaan Diri Subjective well-being Variabel Penerimaan Diri dan Subjective well-being Tabel 1. Hasil uji Normalitas Sig. 0,200 0,069 Tabel 2. Hasil Uji Linearitas Linearity Deviation From Linearity 0,407 0,578 Keterangan Normal Normal Ket Linear Hasil Penelitian ini melibatkan 60 remaja dari panti asuhan Kristen/Katolik di Madiun sebagai responden. Dari sisi demografi, sebanyak 45% responden berada pada usia remaja awal . Ae15 tahu. , 50% pada usia remaja tengah . Ae18 tahu. , dan 5% pada PSYCOMEDIA : Jurnal Psikologi Page | 40 usia remaja akhir . Ae22 tahu. Berdasarkan karakteristik usia tersebut, sebagian besar responden berada pada kategori remaja awal dan remaja tengah, yaitu kelompok usia yang masih berada pada tahap pencarian identitas dan rentan terhadap masalah Berdasarkan jenis kelamin, mayoritas responden adalah laki-laki sebanyak 68%, sedangkan 32% adalah perempuan. Jika dilihat dari jenjang pendidikan, responden tersebar mulai dari kelas 5 SD hingga kelas 12 SMK dengan jumlah terbanyak berasal dari kelas 9 SMP . , diikuti oleh kelas 8 SMP, 11 SMA, dan 12 SMA . asing-masing 9 oran. Karakteristik demografis ini menunjukkan bahwa responden penelitian berada pada fase perkembangan yang secara psikologis masih membutuhkan dukungan emosional dan sosial yang kuat, khususnya dalam konteks lingkungan pengasuhan non-keluarga. Data demografis responden disajikan dalam gambar 1 dan 2 berikut ini. Gambar 1. Pie Chart Usia Laki-Laki Perempuan Gambar 2. Pie Chart Jenis Kelamin Hasil kategorisasi menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada tingkat penerimaan diri kategori sedang . %), sementara tingkat subjective well-being mayoritas berada pada kategori rendah . ,67%). Kategorisasi data dapat dilihat pada Kategorisasi Tinggi Sedang Rendah Tabel 3. Kategorisasi Data Penerimaan Diri Batas Nilai Total Subjek X > 36 24 < X O 36 X < 24 PSYCHOMEDIA : Jurnal Psikologi Persentase (%) 60,00 40,00 Page | 41 No Kategorisasi Tinggi Sedang Rendah Tabel 4. Kategorisasi Data Subjective Well-Being Batas Nilai Total Subjek X > 72 48 < X O 72 X < 48 Persentase 28,33 71,67 Hasil uji hipotesis menggunakan korelasi Pearson menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar -0,112 dengan signifikansi 0,396 . > 0,. , yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara penerimaan diri dan subjective well-being. Hasil uji korelasi dapat dilihat pada tabel 5. Variabel Penerimaan Diri dan Subjective well-being Tabel 6. Hasil Uji Korelasi Pearson Pearson Correlation Sig. -0,112 0,396 Ket Tidak Ada Hubungan Pembahasan Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara penerimaan diri dan subjective well-being pada remaja di Panti Asuhan Kristen/Katolik Madiun. Hasil uji hipotesis menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,396 . < 0,. dan koefisien korelasi -0,112, yang mengindikasikan bahwa tidak ada hubungan antara penerimaan diri dan subjective well-being. Hipotesis dalam penelitian ini menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara penerimaan diri dan subjective well-being pada remaja di panti asuhan Temuan ini berbeda dengan hasil penelitian-penelitian sebelumnya yang menemukan hubungan positif antara self-acceptance dan subjective well-being (Canasta et al. , 2023. Muthmainah, 2018. Naraha et al. , 2. Hasil kategorisasi tabulasi silang memperlihatkan bahwa 1 remaja memiliki tingkat subjective well-being dan penerimaan diri yang rendah, 24 remaja memiliki subjective well-being sedang dengan penerimaan diri rendah, 18 remaja memiliki subjective well-being tinggi dan penerimaan diri rendah, 11 remaja memiliki subjective well-being sedang dengan penerimaan diri sedang, serta 6 remaja memiliki subjective well-being tinggi dan penerimaan diri sedang. Penerimaan diri yang tinggi dapat dilihat dari kemampuan individu untuk menerima kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya tanpa menyalahkan diri sendiri, serta merasa berharga. Sebaliknya, individu dengan penerimaan diri yang rendah cenderung menyalahkan diri atas kondisi yang dialaminya, merasa tidak berharga, dan sulit menerima kekurangan maupun kelebihan dirinya. Sejalan dengan penelitian tentang subjective well-being dan penerimaan piri pada ibu yang memiliki anak down syndrome yang dilakukan oleh Wijayanti . yang menunjukkan bahwa subjek memiliki subjective well-being yang negatif. Hal ini terjadi karena subjek merasakan afek negatif akibat hidupnya yang dirasa tidak sesuai dengan definisi hidup ideal, serta mengalami penolakan dari lingkungan sekitar dan keluarga suaminya yang belum menerima keadaan anaknya. PSYCOMEDIA : Jurnal Psikologi Page | 42 Penelitian yang lain juga menemukan bahwa remaja yang tinggal di panti asuhan cenderung memiliki subjective well-being yang rendah, yang tercermin dalam berbagai aspek negatif, seperti kurangnya penerimaan diri, pengalaman penolakan, hubungan yang kurang harmonis dengan pengurus, kekhawatiran terhadap masa depan, serta kondisi di panti yang dianggap kurang mendukung (Tanesib & Huwae, 2. Penelitian dari Priadana dan Sukianti . mengungkapkan bahwa tidak ada hubungan antara penerimaan diri dan subjective well-being pada lansia. Faktor eksternal, seperti kualitas fasilitas, dukungan sosial, dan interaksi dengan penghuni lain, lebih mempengaruhi subjective well-being lansia dibandingkan dengan faktor internal seperti penerimaan diri. Dalam penelitian lain yang berjudul Penerimaan Diri dan Subjective well-being pada Penyandang Difabel yang Berkarier juga menemukan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara penerimaan diri dan subjective well-being, yang mengindikasikan bahwa penerimaan diri bukanlah faktor utama yang memengaruhi subjective well-being pada penyandang difabel yang berkarir (Tumion & Huwae, 2. Mayoritas remaja yang tinggal di panti asuhan Kristen/Katolik di Madiun berusia antara 10 hingga 22 tahun, mencakup tiga fase perkembangan: remaja awal . -15 tahu. , remaja tengah . -18 tahu. , dan remaja akhir . -22 tahu. Pada usia ini, mereka sering menghadapi tantangan berat . torm and stres. , menjadikan mereka lebih rentan terhadap stres. Masa ini juga menjadi waktu penting bagi mereka untuk menemukan identitas diri dan mencari cara untuk diterima di lingkungan sekitar. Remaja yang memiliki penerimaan diri yang baik cenderung memiliki harga diri yang lebih tinggi, yang membantu mereka dalam proses pencarian jati diri (Pramono & Astuti, 2. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa remaja di panti, mereka sering merasa minder dibandingkan teman-teman sebayanya karena tinggal di panti Mereka merasa tidak seberuntung teman-temannya yang bisa merasakan kasih sayang orang tua dan tinggal bersama keluarga. Penelitian ini mencatat bahwa 42 remaja menunjukkan tingkat subjective well-being yang rendah. Remaja yang tinggal di panti asuhan sering kekurangan kasih sayang, cenderung menarik diri, dan lebih tertutup terhadap masalah pribadi(Resty, 2. Remaja yang tinggal di panti asuhan juga merasa kurang mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitar, belum mampu menerima kondisi diri sendiri dan mengalami hubungan sosial yang kurang baik serta ketidakpastian masa depan. Semua hal ini berkontribusi pada rendahnya penerimaan diri di kalangan remaja yang tinggal di panti asuhan. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak remaja di panti asuhan merasa hidup mereka kurang beruntung, yang akhirnya berdampak pada kesulitan mereka menemukan makna hidup. Padahal, makna hidup dapat membantu mereka menemukan kebahagiaan meski dalam keadaan sulit (Tanesib & Huwae, 2. Menerima diri sendiri apa adanya bukanlah hal yang mudah, terutama bagi remaja yang sering menghadapi kesulitan dalam menerima kekurangan diri. Remaja di panti asuhan harus mampu mengembangkan aspek-aspek penerimaan diri untuk menerima keadaan mereka, termasuk kenyataan bahwa mereka tinggal jauh dari Tinggal di panti asuhan sering kali dipandang sebagai hal yang menyedihkan PSYCHOMEDIA : Jurnal Psikologi Page | 43 oleh masyarakat, dan mereka harus menjalani rutinitas yang monoton serta memiliki gaya hidup yang berbeda dengan remaja lain yang tinggal bersama keluarga. Kurangnya fasilitas pribadi juga menjadi tantangan tersendiri. Agar remaja di panti asuhan dapat beradaptasi, bersosialisasi dengan baik, dan menikmati kehidupan mereka, mereka harus memiliki sikap penerimaan diri yang kuat (Resty, 2. Kebahagiaan merupakan salah satu faktor penting yang berkontribusi sebesar 71% terhadap penerimaan diri (Khoiriyah, 2. Kebahagiaan terbukti memiliki pengaruh besar terhadap peningkatan penerimaan diri di kalangan remaja yang tinggal di panti asuhan. Sementara itu, hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa 32,3% dari variabel optimisme berpengaruh terhadap penerimaan diri, sementara sisanya . %) dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti konsep diri, regulasi diri, harga diri, dan dukungan emosional (Wini et al. , 2. Penelitian dari Hutasoit . menemukan bahwa 60,5% dari variasi keseimbangan kehidupan kerja dipengaruhi oleh penerimaan diri, sedangkan 39,5% lainnya dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian tersebut. Peneliti juga menyadari bahwa penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, seperti hambatan dalam proses pengumpulan data, di mana peneliti harus menitipkan skala penelitian kepada pengasuh di panti asuhan, sehingga tidak dapat menjelaskan instruksi pengisian skala secara langsung kepada responden. Keterbatasan lain yang mempengaruhi signifikansi penelitian termasuk kurang optimalnya pengisian skala oleh responden dan terbatasnya referensi jurnal yang membahas subjek remaja di panti asuhan, yang berpotensi mempengaruhi kedalaman analisis dalam penelitian ini. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerimaan diri tidak memiliki hubungan dengan subjective well-being pada remaja di Panti Asuhan Kristen/Katolik Madiun. Temuan ini menunjukkan bahwa tingkat penerimaan diri yang dimiliki remaja tidak secara langsung berkaitan dengan bagaimana mereka menilai dan merasakan kesejahteraan dalam kehidupannya. Dengan demikian, anggapan bahwa penerimaan diri berhubungan dengan subjective well-being pada kelompok remaja dalam penelitian ini belum dapat dibuktikan. Terdapat beberapa saran dari penelitian ini guna mencapai hasil yang lebih optimal di masa mendatang. Bagi peneliti berikutnya, disarankan untuk memperluas jumlah responden agar hasil penelitian menjadi lebih representatif. Selain itu, penelitian lanjutan dapat dilakukan di panti asuhan lain atau dengan menambahkan variabel-variabel lain yang relevan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai hubungan antara subjective well-being dan penerimaan diri. Referensi