e-ISSN : x-x HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TERHADAP SIKAP MASYARAKAT MENGENAI PENCEGAHAN KASUS RABIES DI BANJAR SANGGULAN DESA BANJAR ANYAR TAHUN 2024 Ida Ayu Komang Trisna Dewi1. Desak Made Firsia Sastra Putri2. Ni Luh Seri Astuti3. Desak Gede Yenny Apriani4. 1,2,3,4 Program Studi S1 Keperawatan. STIKES Advaita Medika Tabanan Korespondensi penulis: trisnadayu27@gmail. ABSTRAK Latar belakang: Rabies merupakan penyakit anjing gila di Indonesia, data ini diperkuat dengan adanya data dari 18 Provinsi dengan jumlah kasus gigitan yang cukup tinggi setiap Penyebaran kasus rabies paling tinggi ditularkan melalui gigitan anjing sebanyak 98%, penyakit ini tidak dapat diobati karena memiliki Case Fatality Rate (CFR) atau angka kematian 100% namun sangat mungkin dapat untuk dicegah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan terhadap sikap masyarakat mengenai pencegahan kasus rabies di banjar sanggulan desa banjar anyar tahun 2024. Metode: Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan deskriptif analitik dengan pendekatan crosectional. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 33 responden. Instrument yang digunakan adalah kuesioner yang telah dilakukan uji Uji analisis yang digunakan yaitu uji statistik Spearman Rank dengan nilai signifikansi 0,05. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian tingkat pengetahuan responden terhadap sikap masyarakat mengenai pencegahan kasus rabies di Banjar Sanggulan Desa Banjar Anyar memiliki pengetahuan baik dengan sikap cukup dalam pencegahan rabies yaitu sebesar 52,6%. Hasil uji korelasi Spearman rho didapatkan hasil nilai p =0. <0,. dan nilai koefisien korelasi 0,528 yang menunjukkan korelasi antara tingkat pengetahuan terhadap sikap masyarakat mengenai pencegahan rabies memiliki hubungan yang searah dengan kekuatan hubungan yang kuat. Kata kunci: tingkat pengetahuan, sikap masyarakat, pencegahan rabies PENDAHULUAN Rabies merupakan penyakit anjing gila di Indonesia, data ini diperkuat dengan adanya data dari 18 Provinsi dengan jumlah kasus gigitan yang cukup tinggi setiap tahun. Pengobatan untuk rabies sendiri hingga saat ini belum tersedia, sehingga hampir seluruh penderita rabies mati, baik pada manusia maupun hewan (Abidin & Budi, 2. Penyebaran kasus rabies paling tinggi ditularkan melalui gigitan anjing sebanyak 98%, sedangkan penularan oleh kucing dan kera sebanyak penyakit ini tidak dapat diobati karena Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 memiliki Case Fatality Rate (CFR) atau angka kematian 100% namun sangat mungkin dapat untuk dicegah (Susanti. Rabies telah menyebar di seluruh dunia lebih dari 95%, atau 164. 403 kasus, terjadi di Asia dan Afrika. Rabies menewaskan sekitar 55. 000 orang setiap tahun. Sebanyak 80% kasus pada manusia terjadi di desa terpencil yang menyerang orang miskin dan kelompok rentan (WHO. Indonesia adalah salah satu negara berkembang di Asia yang masih memerangi rabies. Sejarah rabies di e-ISSN : x-x Indonesia . 6Ae2. menunjukkan bahwa jumlah provinsi dan pulau yang tertular semakin meningkat sebagai akibat dari penyebaran wabah di daerah-daerah yang sebelumnya bebas dari penyakit dan penyebaran kembali dari daerah-daerah yang sebelumnya bebas dari penyakit. Dari 34 provinsi yang ada, 26 di antaranya dianggap sebagai daerah endemik rabies. Provinsi lainnya, seperti Kepulauan Riau. Kepulauan Bangka Belitung. Papua dan Papua Barat. DKI Jakarta. Jawa Tengah. DI Yogyakarta, dan Jawa Timur, masih ditetapkan sebagai daerah bebas rabies. Angka kematian akibat rabies di Indonesia yang bertahan diantara 100-150 orang per tahun mengindikasikan bahwa rabies masih terus menjadi suatu ancaman bagi Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar provinsi atau pulau di Indonesia upaya pengendalian rabies masih belum berhasil (USAID et al. , 2. Pada November 2008. Provinsi Bali, yang sebelumnya tidak memiliki rabies, dilaporkan mengalami kematian akibat rabies di Kabupaten Badung, yang kemudian menyebar ke daerah lain. Pada bulan September 2010, sebanyak 41. kasus gigitan hewan penular rabies telah dilaporkan, dengan 37. ,6 %) mendapatkan VAR, dan 61 orang meninggal dengan gejala rabies. Hasil pemeriksaan laboratorium BBVet Denpasar dari 8 kabupaten/kota, yaitu Karangasem. Bangli. Denpasar. Gianyar. Klungkung. Badung. Tabanan. Jembrana ditemukan sebanyak 276 spesimen positif (Dinkes Prov. Bali, 2. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali selama tahun 2021, jumlah kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) sebanyak 46. 877 kasus dengan korban meninggal sebanyak 8 orang. Pada periode Januari hingga Juli 2022, tercatat total gigitan anjing 17. 624 kasus, rata-rata mencapai 85 gigitan per hari, lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2021 dengan rata-rata 125 gigitan per hari. Kasus gigitan Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 anjing tertinggi periode Januari-Juli 2022 ada di Kabupaten Badung sebanyak 2114 kasus, kemudian Kabupaten Gianyar sebanyak 2038 kasus, ketiga kabupaten Klungkung sebanyak 1905 kasus dan keempat Kabupaten Buleleng sebanyak 1892 kasus. Jumlah kematian akibat rabies pada Januari hingga bulan Juli 2022, sudah mencapai angka 4 kasus (Susanti, 2. Berdasarkan data yang diperoleh di Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan, jumlah kasus GHPR pada tahun 2023 sebanyak 7315 kasus pada periode bulan Januari hingga Desember 2023. Jumlah kasus GHPR pada Kabupaten Tabanan terbanyak berada pada Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kediri 1 dengan jumlah kasus GHPR Tahun 2023 sebanyak 661 kasus periode bulan Januari hingga Desember 2023. Jumlah kasus GHPR melalui gigitan anjing sebanyak 570 kasus, untuk jenis hewan penggigit kucing sebanyak 86 kasus, jenis penggigit monyet atau kera sebanyak 4 kasus. Penularan rabies yang cepat terjadi di Provinsi Bali dikarenakan jumlah populasi anjing di Bali menurut Yayasan Yudisthira Swarga sebanyak 540 ribu ekor atau 96 ekor per km2. Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap keberadaan penyakit ini menjadi sangat penting. Pemberian pemberantasan, pelaporan kasus gigitan akan sangat membantu masyarakat dalam menanggulangi penyakit rabies. (Pande Ayu et al. , 2. Pemerintah Provinsi Bali sudah melakukan upaya untuk mencegah penyebaran penyakit rabies dengan melakukan sosialisasi melalui media penyiaran, seperti penayangan iklan layanan masyarakat di televisi dan diskusi Upaya tambahan seperti menyebarkan brosur tentang penyakit rabies dan memasang baliho di beberapa lokasi strategis seperti penyeberangan, pelabuhan udara, pasar hewan, dan terminal bus kota tidak cukup untuk e-ISSN : x-x mencegah penyakit rabies karena jumlah kasus terus meningkat (Dinas Kesehatan Provinsi Bali, 2. Sebagian provinsi di Indonesia telah melakukan upaya untuk menghentikan penyakit rabies. Sayangnya, ini masih belum berhasil dicapai karena sejumlah alasan. Tingginya angka kematian penyakit yang diakibatkan oleh virus ini terjadi karena tingkat pengetahuan masyarakat yang kurang tentang rabies dan bagaimana menghindarinya setelah gigitan hewan penular rabies. Di mana masyarakat tidak langsung berobat ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat. Selain itu, hingga saat ini belum ada pengobatan yang berhasil untuk menyembuhkan rabies (Syahfitri. Perilaku yang dipengaruhi oleh pengetahuan dan perspektif seseorang tentang rabies menyebabkan penyakit Menurut Notoatmodjo yang dikutip dalam (Abidin & Budi, 2. , perilaku seseorang dalam menangani rabies, seperti berpartisipasi dalam program pencegahan rabies, dipengaruhi oleh pengetahuan. Berdasarkan hasil pengumpulan data dari Puskesmas Kediri I yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 19 April 2024 didapatkan bahwa masyarakat wilayah Banjar Sanggulan pernah tergigit hewan penular rabies sebanyak 36 kasus. Setelah dilakukan studi pendahuluan pada tanggal 4 Mei 2024 di wilayah Banjar Sanggulan Desa Banjar Anyar dengan mewawancarai kepala lingkungan setempat disampaikan bahwa sebelumnya baru saja tergigit anjing Dengan mewawancarai 5 orang masyarakat didapatkan hasil bahwa, 3 orang mampu menjawab pertanyaan dengan baik. Masyarakat tersebut mampu menjawab 5 pertanyaan dari 10 pertanyaan yang diajukan mengenai apa itu penyakit rabies, hewan penular rabies, gejala dari penyakit rabies, gejala hewan yang terjangkit virus rabies, vaksin rabies sangat penting, merantai hewan peliharaan penting mencegah rabies. Namun, 2 orang Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 pertanyaan 4 dari 10 pertanyaan yang diajukan mengenai apa itu penyakit rabies, gejala hewan yang terjangkit, vaksin untuk anjing rabies sangat penting. Namun dari kelima orang masyarakat yang telah diwawancarai 2 di antaranya masih belum mengetahui upaya pertolongan pertama yang tepat untuk mengurangi virus menyebar ke seluruh tubuh. Berdasarkan uraian data di atas, penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Sikap Masyarakat Mengenai Pencegahan Kasus Rabies di Banjar Sanggulan Desa Banjar Anyar Tahun 2024. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif, dengan desain penelitian deskritif analitik yang menggunakan pendekatan cross sectional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas . ingkat pengetahua. dan variabel terikat . ikap masyaraka. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2024. Tempat dilakukan penelitian ini adalah di Banjar Sanggulan Desa Banjar Anyar. Dalam penelitian ini variabel independen adalah tingkat pengetahuan sedangkan variabel dependen adalah mengenai pencegahan rabies. Instrumen dalam penelitian ini adalah alat-alat yang digunakan untuk pengumpulan data seperti Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan atau pernyataan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden. HASIL DAN PEMBAHASAN Desa Banjar Anyar merupakan salah satu desa yang terletak di wilayah Kecamatan Kediri. Kabupaten Tabanan. Wilayah Desa Banjar Anyar memanjang dari utara ke selatan sepanjang kurang lebih 5km dan membujur dari timur ke barat kurang lebih 2 km. Desa Banjar e-ISSN : x-x Anyar sendiri membawahi sebanyak 13 banjar yang salah satunya yaitu Banjar Sanggulan. Banjar Sanggulan merupakan salah satu dari 13 banjar yang terletak di desa banjar Anyar. Kecamatan Kediri. Kabupaten Tabanan. Luas wilayah banjar sanggulan sekitar 110 ha dengan ketinggian dari permukaan laut antara 100150 m. Jumlah penduduk pada banjar Sanggulan sendiri sekitar 1023 jiwa. Sarana pendukung lainnya adalah sarana beribadah seperti pura, sarana perdagangan seperti warung. Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa dari 33 responden frekuensi responden paling tinggi berjenis kelamin laki-laki sebanyak 22 orang . ,7%). Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa dari 33 responden frekuensi responden paling banyak berusia 41-50 tahun sebanyak 13 orang . ,4%). Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa dari 33 responden frekuensi responden paling banyak yaitu Tamatan SMA sebanyak 13 orang . ,4%). Berdasarkan tabel 4 menunjukkan bahwa dari 33 responden frekuensi responden paling banyak bekerja sebagai buruh harian sebanyak 12 orang . ,4%). Berdasarkan tabel 5 hasil pengukuran menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat yang paling tinggi berada pada kategori baik yaitu sebanyak 19 orang . ,6%). Berdasarkan tabel 6 hasil pengukuran sikap masyarakat bahwa tingkat sikap masyarakat mengenai pencegahan paling tinggi yaitu berada pada kategori cukup dan kategori kurang sebanyak 12 orang . ,4%). Berdasarkan tabel 4. 7 menunjukkan bahwa paling banyak responden memiliki pengetahuan baik terkait kasus rabies dengan sikap pencegahan kasus rabies cukup baik sebanyak 10 orang dengan persentase sebesar 52,6%. Hasil menggunakan uji korelasi SpearmanAos rho seperti pada tabel 4. 7 diketahui bahwa hasil nilai p=0,002 yang berarti nilai p value <0,05 yang artinya tingkat korelasi antar hubungan signifikan dengan taraf kepercayaan 95%. Nilai korelasi koefisien didapatkan hasil 0,528. Maka dapat disimpulkan Ha diterima. Auada hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan terhadap sikap masyarakat mengenai pencegahan kasus rabies di Banjar Sanggulan Desa Banjar Anyar Tahun Tabel 1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Masyarakat banjar Sanggulan Desa Banjar Anyar Jenis Kelamin Frekuensi . Persentase (%) Laki-laki Perempuan Total Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 e-ISSN : x-x Tabel 2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia Masyarakat banjar Sanggulan Desa Banjar Anyar Usia Frekuensi . Persentase (%) 20-30 tahun 31-40 tahun 41-50 tahun 51-55 tahun Total Tabel 3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir Masyarakat banjar Sanggulan Desa Banjar Anyar Pendidikan Terakhir Frekuensi . Persentase (%) SMP SMA Diploma/Sarjana Total Tabel 4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan Masyarakat banjar Sanggulan Desa Banjar Anyar Pekerjaan Frekuensi . Persentase (%) Tidak bekerja Buruh Harian Karyawan Swasta Wiraswasta PNS Total Tabel 5 Hasil pengukuran tingkat pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan kasus rabies Tingkat Pengetahuan Frekuensi . Persentase (%) Baik Cukup Kurang Total Tabel 6 Hasil pengukuran sikap masyarakat mengenai pencegahan kasus rabies Sikap Masyarakat Frekuensi . Persentase (%) Baik Cukup Kurang Total Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 e-ISSN : x-x Tabel 7 Hubungan tingkat pengetahuan terhadap sikap masyarakat mengenai pencegahan kasus rabies Tingkat Pengetahuan Sikap Masyarakat Mengenai Pencegahan Kasus Rabies Kurang Pengetahuan Kurang Pengetahuan Cukup Pengetahuan Baik Total Cukup Baik Total Mengidentifikasi Karakteristik Responden Berdasarkan karakteristik responden pada jenis kelamin responden yang paling tinggi berada pada jenis kelamin laki-laki sebanyak 22 orang . ,7%). Hasil ini sejalan dengan penelitian (Dada et al. , 2. bahwa didapatkan hasil sebagian besar berjenis kelamin laki-laki dengan jumlah 58 orang . 4 %), sedangkan 38 orang . 6 %) lainya berjenis kelamin perempuan. Karakteristik responden berdasarkan usia paling tinggi berada pada usia 41-50 tahun sebanyak 13 responden . ,4%). Hal ini sejalan dengan penelitian (Utara et , 2. bahwa didapati kelompok umur Ou40 tahun merupakan paling banyak yaitu berjumlah 105 orang . 0%). Semakin bertambah usia maka akan semakin berkembang pula pola pikir sehingga pengetahuan yang diperoleh semakin baik sehingga faktor usia dapat mempengaruhi pola pikir dan daya tangkap seseorang, semakin dewasa seseorang, maka cara berpikir semakin matang. Karakteristik responden berdasarkan pendidikan terakhir paling tinggi berada pada tamatan SMA sebanyak 13 orang . ,4%). Hasil ini sejalan dengan (Dada et Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 p=value 0,002 , 2. dimana hasil penelitian didapatkan bahwa jumlah responden terbanyak dengan tingkat pendidikan terakhir SMA sebanyak 50 . 1 %) Pendidikan merupakan proses kemampuan serta perilaku seseorang yang biasanya didapatkan melalui pengajaran. Pendidikan pembelajaran, semakin tinggi jenjang pendidikan maka semakin mudah Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan didapatkan bahwa paling banyak responden bekerja sebagai buruh harian sebanyak 12 orang . ,4%). Mengidentifikasi tingkat pengetahuan masyarakat mengenai kasus rabies di Banjar Sanggulan Desa banjar Anyar Berdasarkan hasil penelitian tingkat pengetahuan didapatkan bahwa yang paling banyak berada pada kategori baik yaitu sebanyak 19 orang . ,6%). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Abidin & Budi, 2. menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang relatif baik yaitu e-ISSN : x-x pengetahuan baik sebanyak 351 responden . %) dan pengetahuan kurang sebanyak 39 responden . %) mengenai penyakit Sehingga, upaya penyuluhan kepada masyarakat tetap dilakukan untuk terus meningkatkan pengetahuan dan kesadaran responden akan bahaya penyakit rabies guna meningkatkan partisipasinya pada pencegahan penyakit Pengetahuan dan sikap yang rendah karena ketidaktahuan dan kurangnya sosialisasi mengenai pertolongan pertama pada gigitan anjing menyebabkan perilaku masyarakat cenderung dapat beresiko tertular rabies. Mengidentifikasi mengenai pencegahan kasus rabies Berdasarkan didapatkan bahwa sikap pencegahan yang cukup serta pencegahan yang kurang sama besar yaitu sebanyak 12 responden sebesar 36,4%. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Walo et al. , 2. yang meneliti tentang sikap pencegahan masyarakat pemelihara anjing di Perumahan Gowapi dimana hasil analisis data menunjukkan bahwa masyarakat di Perumahan Gowapi Manembo-nembo didapatkan tingkat pencegahan yang tertinggi adalah tingkat dibandingkan dengan tingkat pencegahan yang lain dengan jumlah 15 responden orang . 6%), dan tingkat pencegahan terendah ada pada tingkat pencegahan baik dan pencegahan cukup jumlah responden 11 responden . 4%). Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Sikap Masyarakat Mengenai Pencegahan Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 Kasus Rabies Di Banjar Sanggulan Desa Banjar Anyar Tahun 2024 Berdasarkan Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Sikap Masyarakat Mengenai Pencegahan Kasus Rabies Di Banjar Sanggulan Desa Banjar Anyar Tahun 2024, didapatkan hasil ada hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap sikap masyarakat mengenai pencegahan rabies. Hasil pengolahan data menggunakan Uji Korelasi SpearmanAos Rho menghasilkan nilai p=0,002, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan terkait kasus rabies terhadap sikap pencegahan rabies dengan nilai tingkat pengetahuan baik dengan sikap Nilai koefisien korelasi didapatkan sebesar 0,528 yang dapat disimpulkan bahwa korelasi antara tingkat pengetahuan terhadap sikap memiliki hubungan yang searah dengan kekuatan hubungan yang Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh (Sari, 2. meneliti terkait hubungan pengetahuan dan sikap masyarakat dalam pencegahan COVID-19 di RW 013 Desa Pasir Angin Cileungsi, menggunakan analisis uji Chi square dengan ketentuan p value <0,05 yakni adanya hubungan yang signifikan dan p value >0,05 tidak ada hubungan Penelitian ini menujukan hasil pengetahuan dan sikap masyarakat dalam pencegahan COVID-19 di RW 013 Desa Pasir Angin Cileungsi dibuktikan dengan hasil uji chi-square didapatkan p value sebesar 0,001 lebih kecil dari 0,05 adapun untuk nilai Confidence Interval sebesar . ,901- 128,. e-ISSN : x-x Hasil serupa juga disampaikan oleh (Ratnasari et al. , 2. meneliti terkait Hubungan Antara Pengetahuan Masyarakat dengan Pencegahan Demam Berdarah Dengue di Desa KaranganyarPaiton hasil Uji SomersAod didapatkan hasil p= 0,004 . < 0,. , yang bermakna terdapat hubungan secara statistik antara tingkat pengetahuan tentang Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan perilaku pencegahan DBD dengan nilai koefisien korelasi antara 0,268. Arah hubungan pada Uji SomersAod menunjukkan arah hubungan . artinya semakin tinggi tingkat pengetahuan tentang DBD maka perilaku pencegahan DBD semakin Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Notoatmodjo . , bahwa tindakan seseorang terhadap masalah kesehatan, yang dalam hal ini partisipasi masyarakat dalam program pencegahan rabies, pada dasarnya akan dipengaruhi oleh pengetahuan tentang masalah Upaya penyuluhan kepada masyarakat sangat perlu dilakukan untuk terus meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan bahaya penyakit rabies guna meningkatkan partisipasinya pada pencegahan penyakit rabies. Untuk mendukung program tersebut maka perlu dilakukan upaya pemberantasan rabies secara tepat dan terarah. Petugas kesehatan mempunyai peranan penting dalam pencegahan dan pengendalian masalah kesehatan di masyarakat, salah satu perannya yaitu memberikan informasi Keterpaparan pada informasi kesehatan yang efektif sangat penting dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap yang positif untuk mencegah suatu Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 SIMPULAN Adapun hasil dari penelitian ini adalah ada hubungan tingkat pengetahuan terhadap sikap masyarakat mengenai pencegahan kasus rabies di banjar sanggulan desa banjar anyar tahun 2024. REFERENSI