Journal Genta Mulia Volume 16. Number 1, 2025 pp. 114- 123 P-ISSN 23553790 E-ISSN: 25794655 Open Access: https://ejournal. id/index. php/gm UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBACA MELALUI MEDIA CERITA BERGAMBAR PADA SISWA KELAS 2 SD INPRES PERUMNAS Hesti Londong Padang1. Nurvita2, dan Samsu Alam3 1Pendidikan Profesi Guru. FKIP. Universitas Tadulako. Indonesia 2Pendidikan Profesi Guru. FKIP. Universitas Tadulako. Indonesia 3SD Inpres Perumnas. Indonesia * Corresponding Author: hestilondongpadang02@gmail. Abstrak Berdasarkan hasil observasi di SD Inpres Perumnas, keterampilan membaca siswa tergolong Hal ini tercermin dari rendahnya kemampuan siswa dalam memahami makna teks secara mendalam, minimnya kemampuan untuk mengidentifikasi informasi penting dalam bacaan, serta kesulitan dalam menganalisis dan menarik kesimpulan dari teks. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang melibatkan empat tahap: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian tindakan kelas merupakan strategy yang dapat dimanfaatkan oleh guru untuk mengidentifikasi berbagai permasalahan terkait pembelajaran di kelas. Peneliti berperan sebagai perencana kegiatan pembelajaran, sedangkan guru berfungsi sebagai pelaksana kegiatan tersebut. Peneliti, dengan bantuan rekan sejawat, mengamati kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan minat membaca. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa penggunaan media cerita bergambar berpotensi meningkatkan kemampuan membaca siswa kelas 2 SD Inpres Perumnas dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Peningkatan hasil tes kemampuan membaca pada siklus I dan siklus II menunjukkan adanya kemajuan yang signifikan Kata Kunci : Keterampilan Membaca. Media Pembelajaran. Pembelajaran Abstract Based on observations at SD Inpres Perumnas, students' reading skills are low. This is reflected in the low ability of students to understand the meaning of the text in depth, the lack of ability to identify important information in reading, as well as difficulties in analyzing and drawing conclusions from the This research is a Classroom Action Research (CAR) which involves four stages: planning, action implementation, observation, and reflection. Classroom action research is a strategy that can be utilized by teachers to identify various problems related to learning in the classroom. The researcher acts as a planner of learning activities, while the teacher functions as the implementer of these activities. The researcher, with the help of peers, observed learning activities related to reading interest. The results of the research and discussion show that the use of picture story media has the potential to improve the reading ability of grade 2 students of SD Inpres Perumnas in Indonesian language learning. The improvement of reading skill test results in cycle I and cycle II showed significant progress. Keywords: Reading Skills. Learning Media. Learning PENDAHULUAN Pendidikan adalah dasar bagi eksistensi suatu negara dan pemerintahannya. Pendidikan adalah metode untuk mengembangkan potensi siswa guna mencapai tujuan tertentu (Hidayat dan Syam dalam Okta Nur Vadilah, 2. Dalam proses pembelajaran, media pembelajaran tidak dapat diabaikan. Media pembelajaran merupakan elemen yang berkontribusi terhadap keberhasilan dalam proses pendidikan (Salsabila et al. , 2. Selama P-ISSN: 23553790. E-ISSN 25794655 Hesti Londong Padang 1. Upaya Meningkatkan Keterampilan Membaca proses pembelajaran, guru memerlukan suatu media untuk menyampaikan materi dengan mudah dan cepat dipahami oleh siswa. Media ini merupakan alat yang sesuai untuk mendukung guru dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran (Anshori, 2. Kata 'media' . entuk tunggal: mediu. berasal dari bahasa Latin yang berarti 'antara' atau 'perantara', merujuk pada entitas yang menghubungkan informasi antara sumber dan penerima (Yaumi Muhammad, 2. Peserta didik sekolah dasar diwajibkan untuk menguasai keterampilan membaca, menulis, dan berhitung . Keterampilan membaca sangat krusial bagi perkembangan individu siswa, baik untuk melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi maupun untuk berkontribusi dalam masyarakat. Pada usia sekolah dasar, anak diharapkan memperoleh fondasi pengetahuan untuk keberhasilan adaptasi dalam kehidupan Membaca merupakan aktivitas yang berkesinambungan, karena keterampilan ini perlu diajarkan secara teratur dan berkelanjutan. Guru memainkan peran yang sangat krusial dalam proses pendidikan, khususnya dalam mengajarkan keterampilan membaca kepada siswa. Guru bertanggung jawab untuk menyediakan keterampilan membaca yang memadai agar siswa siap berintegrasi ke dalam masyarakat atau melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Keterampilan membaca adalah kompetensi fundamental yang harus dikuasai siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia (Harianto, 2. Keahlian ini sangat krusial karena membaca merupakan salah satu metode utama untuk mengakses pengetahuan yang lebih luas, mengasah kemampuan berpikir kritis, serta memperluas perspektif siswa dalam berbagai aspek kehidupan. Reading plays a crucial role in enhancing students' abilities to comprehend, analyze, and evaluate information conveyed through written texts. Oleh karena itu, keterampilan membaca tidak hanya krusial untuk kelancaran proses pembelajaran, tetapi juga merupakan dasar bagi pengembangan intelektual dan kemampuan literasi siswa di masa Keterampilan membaca memberikan manfaat yang signifikan bagi siswa, tidak hanya dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, tetapi juga dalam berbagai disiplin ilmu lainnya. Menurut Fish . , membaca adalah kemampuan untuk mengenali kata-kata, memahami makna, serta memanfaatkan informasi dari bacaan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam mata pelajaran sains dan matematika, kemampuan membaca yang baik mendukung siswa dalam memahami instruksi, konsep, dan teori yang kompleks, sehingga mereka dapat menerapkan pengetahuan tersebut dalam pemecahan masalah. Dalam sejarah dan ilmu sosial, keterampilan membaca kritis memungkinkan siswa untuk mengevaluasi sumber informasi, memahami konteks sejarah, serta mengidentifikasi perspektif atau bias dalam teks. Selain itu, keterampilan membaca berkontribusi terhadap pengembangan kemampuan berpikir analitis dan pemecahan masalah, yang krusial dalam mempersiapkan siswa menghadapi tantangan akademis dan kehidupan sehari-hari. Reading also enhances digital literacy capacity, wherein students learn to filter information from various online sources, identify relevant information, and avoid misinformation (Harianto. Secara keseluruhan, keterampilan membaca berfungsi krusial dalam mendukung siswa untuk mendapatkan pembelajar yang mandiri, kritis, dan kreatif di berbagai disiplin Keterampilan ini krusial dalam konteks pendidikan, khususnya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, di mana siswa diharapkan tidak hanya memahami teks secara literal, tetapi juga mampu menarik kesimpulan dan mengaitkan informasi yang dibaca dengan pengetahuan yang telah dimiliki. Kemampuan membaca merupakan kemampuan untuk mengenali dan memahami konten dari teks yang dibaca, baik secara lisan maupun secara Anak dapat membaca dengan baik, lancar, dan memahami materi bacaan tertentu (Fahyuni dalam Arruan Langi, dkk, 2. Liliawati . alam Abang Andika, 2. menyatakan bahwa minat membaca adalah perhatian yang kuat dan mendalam, disertai dengan kesenangan terhadap kegiatan membaca, yang mendorong individu untuk melakukannya secara sukarela. Kebiasaan P-ISSN: 23553790. E-ISSN: 25794655 | 115 Hesti Londong Padang 1. Upaya Meningkatkan Keterampilan Membaca membaca buku yang konsisten pada siswa sangat dipengaruhi oleh minat mereka sendiri. Oleh karena itu, terlihat bahwa minat berfungsi sebagai pendorong untuk melaksanakan suatu aktivitas, seperti membaca. Minat baca yang tinggi di kalangan siswa dapat menjadi indikator pemahaman dan penguasaan materi pelajaran yang mereka terima, sehingga banyak tujuan pembelajaran yang seharusnya dicapai oleh siswa tidak sesuai dengan harapan yang ditetapkan dalam indikator pembelajaran. Dalam setiap mata pelajaran, siswa diharuskan menguasai baik teori maupun aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari, yang selalu dimulai dengan keterampilan membaca. Reading ability is influenced by several Faktor-faktor internal pembaca mencakup kemampuan linguistik, minat, motivasi, dan keterampilan membaca, sedangkan faktor eksternal meliputi kesiapan guru dalam proses Untuk meningkatkan minat baca siswa, penggunaan media yang tepat dapat menarik perhatian siswa dalam proses pembelajaran. Nurseto dalam Apriliani . menyatakan bahwa siswa memiliki kemampuan untuk mengembangkan keterampilan dan menggali potensi mereka, serta bahwa media memfasilitasi pengajaran guru dan minat siswa dalam proses pembelajaran. Instruksi terarah yang melibatkan penerapan keterampilan bahasa yang tepat, kebijaksanaan, dan persiapan mereka untuk masa depan. Sesuai dengan UUD nomor 2003 dalam Nova Triana Tarigan, 2018, guru berfungsi sebagai penjelas. Tanpa materi pembelajaran, siswa mungkin merasa kurang termotivasi untuk berpartisipasi dalam proses Media pembelajaran merupakan alat yang mendukung guru dalam proses pendidikan (Wulandari et al. , 2. Media ini memfasilitasi guru dalam menyampaikan materi, sehingga pelajaran menjadi lebih jelas dan mudah dipahami oleh siswa (Arini & Lovisia, 2. Media pembelajaran berfungsi sebagai alat fisik untuk menyampaikan materi kepada siswa. Definisi ini menegaskan bahwa semua peralatan fisik yang digunakan untuk menyampaikan pembelajaran, termasuk buku teks, alat visual, audio, komputer, atau peralatan lainnya, dikategorikan sebagai media pembelajaran (Yaumi Muhammad, 2. Media akan efektif jika digunakan secara optimal dan disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Sebagai pendidik, kita tentu mengharapkan proses pembelajaran berlangsung dengan baik dan efektif. Untuk mencapai tujuan tersebut, kita memerlukan suatu solusi yang mendukung pencapaian tujuan pembelajaran. (Indiani, 2. Keberhasilan dalam pembelajaran didukung oleh ketersediaan media pembelajaran (Sari & Liansari, 2. Media pembelajaran akan meningkatkan kejelasan dan kedalaman pemahaman siswa (Akbar, 2. Media yang digunakan harus menarik dan mampu memotivasi siswa dalam proses pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar dan mencapai kepuasan yang Pemanfaatan cerita bergambar merupakan media yang tepat yang dapat membantu siswa secara aktif dalam belajar, khususnya dalam kemampuan membaca dalam pendidikan bahasa Indonesia. (Kesumadewi. Agung, et al. , 2. Media cerita bergambar merupakan sarana yang menyajikan narasi disertai ilustrasi yang menarik, humoris, dan menyenangkan, sehingga anak-anak menjadi antusias dan menikmati aktivitas membaca, menjadikannya sebagai kebutuhan yang esensial bagi mereka (Kesumadewi. Gede Agung, et al. , 2. Media cerita bergambar adalah buku yang berisi narasi disertai gambar atau visualisasi yang dapat membantu siswa dalam mengembangkan kreativitas berpikir (Hartoto et al. , 2. Media naratif bergambar ini juga dapat mendukung siswa dalam keterampilan Membaca merupakan aspek krusial yang harus dimiliki oleh siswa (Anjani, 2. Sejak usia dini, orang tua telah mengajarkan kita membaca, mulai dari pengenalan huruf hingga membaca kalimat pendek (Shofira, 2. Membaca merupakan aktivitas mengamati tulisan serta menganalisis atau mengelola informasi dari bacaan (Wiyanti, 2. Membaca merupakan proses transfer pengetahuan, karena melalui aktivitas ini dapat membuka jendela wawasan dan memperluas pengetahuan anak (Handayani & Maknun. P-ISSN: 23553790. E-ISSN: 25794655 | 116 Hesti Londong Padang 1. Upaya Meningkatkan Keterampilan Membaca Keterampilan membaca terdiri dari beberapa aspek, yaitu: . Membaca Pemahaman (Reading Comprehensio. : Kapasitas untuk memahami makna teks secara komprehensif. Membaca Kritikal: Kapasitas untuk menganalisis dan mengevaluasi informasi dalam teks. Membaca Kreatif: Kapasitas untuk menerapkan imajinasi dan kreativitas dalam memahami dan berinteraksi dengan teks. Berdasarkan hasil observasi di SD Inpres Perumnas, keterampilan membaca siswa tergolong rendah. Hal ini tercermin dari rendahnya kemampuan siswa dalam memahami makna teks secara mendalam, minimnya kemampuan untuk mengidentifikasi informasi penting dalam bacaan, serta kesulitan dalam menganalisis dan menarik kesimpulan dari teks. Rendahnya keterampilan membaca ini berdampak negatif pada prestasi akademik siswa, terutama dalam mata pelajaran yang memerlukan pemahaman teks, seperti Bahasa Indonesia. Keterampilan membaca memberikan manfaat yang signifikan bagi siswa, tidak hanya dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, tetapi juga dalam berbagai disiplin ilmu lainnya. Rendahnya keterampilan membaca siswa disebabkan oleh metode pembelajaran yang diterapkan di sekolah yang masih konvensional dan berfokus pada guru. Dalam metode ini, guru memiliki dominasi yang lebih besar dalam menyampaikan materi secara unidirectional, sedangkan siswa cenderung pasif dan hanya menerima informasi tanpa banyak berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Metode ini kurang mendorong siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam memahami teks, mengajukan pertanyaan, atau mengeksplorasi makna yang lebih mendalam dari bacaan yang mereka hadapi. Akibatnya, siswa tidak memperoleh kesempatan yang memadai untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menganalisis teks, atau menerapkan strategy membaca yang efisien. Penggunaan media naratif bergambar memiliki peranan penting dalam proses Penguasaan Bahasa Indonesia. Media naratif bergambar disertai dengan kalimat. menyediakan deskripsi mengenai konten yang terdapat dalam narasi tersebut, sehingga dapat meningkatkan pemahaman dan memperkuat ingatan siswa dalam membaca Tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat dicapai secara optimum. Asri, . 1:1041-1. "Media gambar merupakan media yang mengintegrasikan fakta dan konsep secara tegas dan efektif melalui perpaduan ekspresi verbal dengan Penelitian Indonesia, siswa kelas 2 SD Inpres Perumnas. Melalui media tersebut, pembaca dapat dengan mudah mengakses informasi dan memahami narasi. Buku dongeng grafis dapat dikategorikan berdasarkan fungsinya sebagai alat dalam proses pembelajaran siswa sekolah dasar (Nurjanah, dkk, 2. Melalui media tersebut, pembaca dapat dengan mudah mengakses informasi dan memahami narasi. Buku dongeng grafis dapat diklasifikasikan berdasarkan fungsinya sebagai media dalam proses pembelajaran siswa sekolah dasar (Nurjanah, dkk, 2. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Apriliani dan rekan-rekan . menunjukkan bahwa konfirmasi dari pakar yang relevan diterima sebesar 82% pada awalnya, bahkan mencapai tingkat tertinggi. Pakar lain mencatat bagian tertinggi sebesar 69%. Perolehan yang disepakati oleh para analis menunjukkan nilai 73%, yang dapat dianggap sebagai tingkat Berdasarkan temuan Nova Tiana Tarigan 2018. Uji-t berpasangan dengan batas maksimum 0,05 akan diterapkan sebagai metode analisis data untuk mengevaluasi keefektifan siswa dalam membaca. Hasil dari kasus ini menunjukkan bahwa program komedi yang efektif dapat berpengaruh terhadap peningkatan minat baca, dengan nilai yang diperoleh sebesar 26,317 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 . Artikel ini menguraikan metode penggunaan buku bergambar dalam upaya meningkatkan kesenangan Berdasarkan hasil penelitian oleh Paramita et al. , tabel konversi 5 derajat menunjukkan nilai antara 90 dan 100%, dengan tingkat kesesuaian yang sangat baik mencapai P-ISSN: 23553790. E-ISSN: 25794655 | 117 Hesti Londong Padang 1. Upaya Meningkatkan Keterampilan Membaca 96,87%. Berdasarkan temuan sebelumnya, bahan ajar narasi dapat digunakan oleh siswa sekolah dasar kelas 3 dan menunjukkan potensi dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa terhadap konten pembelajaran. Fokus utama penelitian ini adalah pada peningkatan keterampilan membaca, serta berfungsi sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan metode pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan literasi siswa. Penelitian ini secara praktis memberikan pemahaman bagi guru dalam menerapkan metode yang lebih interaktif dan menarik untuk meningkatkan keterampilan membaca siswa. Selain itu, penelitian ini juga membantu siswa dalam memahami teks, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, dan meningkatkan rasa percaya diri mereka dalam kegiatan membaca. Penelitian ini juga dapat memberikan landasan bagi sekolah untuk mengembangkan kurikulum dan metode pengajaran yang lebih inovatif. Selain itu, hasil penelitian ini dapat menjadi referensi bagi peneliti selanjutnya yang berminat untuk mengeksplorasi lebih lanjut mengenai penggunaan media cerita bergambar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang melibatkan empat tahap: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian tindakan kelas merupakan strategy yang dapat dimanfaatkan oleh guru untuk mengidentifikasi berbagai permasalahan terkait pembelajaran di kelas. Peneliti berperan sebagai perencana kegiatan pembelajaran, sedangkan guru berfungsi sebagai pelaksana kegiatan tersebut. Peneliti, dengan bantuan rekan sejawat, mengamati kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan minat membaca. Subjek dalam penelitian ini adalah 27 siswa kelas 2 SD Inpres Perumnas. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus. Mawardi . menegaskan bahwa siklus pembelajaran terdiri dari minimal dua siklus. Teknik pengumpulan data melalui wawancara adalah salah satu metode pengumpulan data yang dilakukan secara langsung dengan individu yang diwawancarai . Observasi adalah pencatatan sistematis sebagai tahap pengamatan terhadap suatu objek. Pada tahap ini, observasi digunakan sebagai metode pengumpulan data terkait semua aspek yang berhubungan dengan aktivitas siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Melalui lembar observasi, peneliti dapat memperoleh jawaban mengenai apakah model pembelajaran yang dipilih mampu mengatasi permasalahan yang Metode analisis data yang diterapkan adalah deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Data yang diperoleh dari tes pilihan ganda, lembar observasi, dan rubrik terdiri dari data kuantitatif dalam bentuk numerik dan data kualitatif dalam bentuk narasi. Sudjana . 1: . menegaskan bahwa validitas berkaitan dengan keakuratan konsep yang dinilai, memastikan bahwa ia benar-benar mengevaluasi apa yang dimaksudkan untuk dievaluasi. Dalam penelitian ini, untuk mengevaluasi atau menguji validitas data, digunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Selanjutnya, data kuantitatif tersebut dianalisis dengan metode deskriptif komparatif, membandingkan kondisi pada pra-siklus, siklus I, dan siklus II. Alat yang digunakan dalam penelitian ini mencakup: instrumen tes dan lembar Uji keterampilan membaca untuk menilai pemahaman siswa terhadap teks. Ujian ini dirancang untuk mencakup aspek-aspek seperti pemahaman umum, rincian penting, dan Formulir observasi untuk merekam aktivitas siswa selama proses pembelajaran, termasuk partisipasi dalam diskusi dan kolaborasi. Analisis data secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis Kuantitatif: menghitung persentase peningkatan skor dari tes keterampilan membaca antara siklus pertama dan Analisis Kualitatif: Menganalisis hasil observasi dan wawancara untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai pengalaman siswa selama proses pembelajaran. HASIL DAN PEMBAHASAN P-ISSN: 23553790. E-ISSN: 25794655 | 118 Hesti Londong Padang 1. Upaya Meningkatkan Keterampilan Membaca Hasil Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penggunaan media cerita bergambar dalam meningkatkan keterampilan membaca siswa pada pembelajaran Bahasa Indonesia di SD Inpres Perumnas. Data penelitian diperoleh melalui observasi, tes, dan kuesioner yang diisi oleh siswa sebelum dan sesudah penggunaan media cerita bergambar. Tabel 1 memperlihatkan perbandingan skor rata-rata keterampilan membaca siswa sebelum dan sesudah penggunaan media cerita bergambar. Tabel 1. Data Keterampilan Membaca Siswa Siklus 1 Aspek Keterampilan Kategori Membaca A . B . C . Kelancaran membaca 14,81 % 22,22 % 44,44 % Ketepatan membaca 22,22 % 18,51 % 25,92 % Intonasi 25,92 % 11,11 % 22,22 % Pemahaman isi bacaan 14,81 % 14,81 % 33,33 % D (<. 18,51 % 33,33 % 40,74 % 29,62 % Berdasarkan tabel 1, keterampilan membaca siswa pada siklus 1 pada kelas 2 SD Inpres Perumnas, didapati bahwa siswa yang memilki kelancaran membaca yang memenuhi kriteria minumun kelulusan berjumlah 12 orang . ,44%), dan 5 orang . ,51%) dengan kategori nilai 64 ke bawah, keterampilan ketepatan membaca yang memenuhi kriteria minimun kelulusan berjumlah 7 orang . ,92 %) dengan kategori nilai 75-65 dan 9 orang . ,33 %) mendapatkan nilai dibawah kriteria minimun. Keterampilan intonasi membaca yang memenuhi kriteria kelulusan berjumlah 6 orang . ,22%) dan 11 . ,74 %) orang yang mendapatkan nilai dibawah kriteria minimun kelulusan, kemudian yang terakhir adalah kemampuan pemahaman isi bacaan yang memenuhi kriteri kelulusan berjumlah 9 orang . ,33%) dan 8 orang . ,62%) tidak memenuhi kriteria kelulusan. Pada pembelajaran di siklus 1, banyak siswa yang belum memilki keterampilan membaca dikarenakan model dan media pembelajaran yang digunakan oleh guru tidak inovatif dan kurang efektif dalam mengasah kemampuan membaca siswa. Untuk itu pada pembelajaran di siklus 2, peneliti akan memberikan perubahan pada penggunaan media pembelajaran dengan memanfaatkan media cerita bergambar dengan harapan siswa akan lebih tertarik untuk membaca ketika melihat gambar yang bercerita. Pada pembelajaran di siklus 2, guru akan memberikan media cerita bergambar kepada siswa, dan terbukti dari hasil pembelajaran, kemampuan membaca siswa mengalami peningkatan dan itu dapat dilihat dari tabel dibawah ini: Tabel 2. Data Keterampilan Membaca Siswa Siklus 2 Aspek Keterampilan Kategori Membaca A . B . C . D (<. Kelancaran membaca 29,62 % 37,03 % 29,62 % 3,70 % Ketepatan membaca 37,03 % 29,62 % 25,92 % 7,40 % Intonasi 33,33 % 44,44 % 18,51 % 7,40 % Pemahaman isi bacaan 18,51 % 18,51 % 11,11 % 14,81 % P-ISSN: 23553790. E-ISSN: 25794655 | 119 Hesti Londong Padang 1. Upaya Meningkatkan Keterampilan Membaca Berdasarkan tabel 2, keterampilan membaca siswa pada siklus 2 pada kelas 2 SD Inpres Perumnas, mengalami peningkatan dengan melihat data diatas bahwa siswa yang memilki kelancaran membaca yang melebihi atau diatas kriteria minumun kelulusan berjumlah 18 orang . ,66%), dan 1 orang . ,70%) dengan kategori nilai 64 ke bawah, keterampilan ketepatan membaca yang melebihi kriteria minimun kelulusan berjumlah 18 orang . ,67%) dan 2 orang . ,40%) mendapatkan nilai dibawah kriteria minimun. Keterampilan intonasi membaca yang melebihi kriteria kelulusan berjumlah 21 orang . ,77 %) dan 2 orang . ,40 %) yang mendapatkan nilai dibawah kriteria minimun kelulusan, kemudian yang terakhir adalah kemampuan pemahaman isi bacaan yang melebihi kriteri kelulusan berjumlah 20 orang . ,70 %) dan 4 orang . ,81%) tidak memenuhi kriteria kelulusan. Pembahasan Observasi sebelum melaksanakan penelitian dengan menggunakan media cerita bergambar pada siswa kelas 2 SD Inpres Perumnas menunjukkan bahwa beberapa siswa kurang berminat dalam membaca dan belum memahami isi bacaan. Hal ini ditandai oleh sejumlah siswa yang, saat mengerjakan post-test dan menghadapi soal bacaan, hanya memandang teks tanpa meluangkan waktu untuk membacanya, sehingga banyak siswa masih melakukan kesalahan dalam menjawab soal post-test tersebut. Dalam menghadapi permasalahan ini, peneliti berkolaborasi dengan guru kelas i B untuk menetapkan langkahlangkah yang bertujuan meningkatkan kualitas pembelajaran dan mendorong siswa dalam mengembangkan kemampuan membaca. Oleh karena itu, peneliti menggunakan media cerita bergambar dalam proses pembelajaran siklus I, yang menunjukkan bahwa penelitian tersebut belum berhasil dari segi proses pembelajaran. Hal ini disebabkan oleh beberapa siswa yang hiperaktif, yang mengganggu konsentrasi siswa lain dalam menerima materi, serta oleh beberapa siswa yang memiliki minat baca yang rendah. Hal ini dapat mengakibatkan rendahnya kemampuan pemahaman membaca, yang belum memenuhi indikator Untuk mengatasi masalah tersebut, peneliti mengubah posisi duduk siswa pada siklus II. Untuk siswa yang hiperaktif, dipindahkan ke posisi terdepan agar peneliti dapat lebih mudah membimbing dan memantau kondisi kelas selama evaluasi pemahaman membaca. Peneliti juga memanfaatkan media cerita bergambar yang dimodifikasi dengan dekorasi menarik, serta menggunakan bahasa yang sederhana, sehingga proses pembelajaran siswa menjadi lebih menyenangkan. Siswa menunjukkan antusiasme dalam merespons materi, berpartisipasi aktif dalam pembelajaran, dan bertanggung jawab terhadap tugas yang Ini membuktikan bahwa penggunaan media naratif bergambar dapat memengaruhi pemahaman siswa dan atmosfer kelas selama proses pembelajaran. Teori Poerwanti . mendukung bahwa "media gambar mengintegrasikan fakta dan ide secara jelas dan kuat melalui kombinasi ungkapan verbal dan visual. " Oleh karena itu, media naratif bergambar dapat mendukung guru dan siswa dalam menyampaikan dan menerima materi serta meningkatkan daya ingat siswa. Peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa melalui media cerita bergambar dapat diukur dengan perolehan nilai rata-rata siswa pada siklus II yang dinyatakan berhasil dengan kategori sangat baik. Media adalah bentuk jamak dari medium, yang berarti perantara. Media pembelajaran dapat diartikan sebagai sarana yang menyampaikan pesan pembelajaran dari pengirim kepada penerima pesan tersebut. Media gambar merupakan sarana yang sederhana, tidak memerlukan proyektor dan layar. Media ini tidak transparan, sehingga tidak dapat dipantulkan pada lapisan. Guru memilih ini karena efisiensinya. Gambar tidak hanya memiliki nilai seribu kata, tetapi juga seribu tahun. Melalui gambar, pembelajar diperlihatkan suatu lokasi dan segala hal dari daerah yang jauh dari pengalaman pribadi mereka. Gambar statis yang umumnya digunakan dalam proses pembelajaran. Berdasarkan pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa media gambar merupakan perantara pesan pembelajaran dalam bentuk gambar untuk memberikan representasi tentang berbagai hal. Penggunaan P-ISSN: 23553790. E-ISSN: 25794655 | 120 Hesti Londong Padang 1. Upaya Meningkatkan Keterampilan Membaca media yang sesuai akan secara langsung memengaruhi minat baca siswa. Penerapan media dalam proses belajar mengajar dapat memberikan pengalaman perkembangan yang signifikan bagi siswa. Pengajar seharusnya memberikan siswa kesempatan untuk merenungkan dan menyelami bacaan yang telah ditugaskan. Kegiatan seperti ini akan memberikan dukungan signifikan, bahkan bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam membaca. Di tingkat sekolah dasar, penting untuk memastikan bahwa buku yang disediakan sesuai dengan perkembangan siswa. Buku tersebut harus memiliki ilustrasi yang baik dan relevan dengan isi teks. Siswa yang memiliki minat cenderung menunjukkan tingkat keterlibatan intelektual yang lebih tinggi, dan aspek kemauan serta pemahaman membaca menjadi lebih mudah Buku bergambar merupakan sumber yang paling sering dimanfaatkan oleh para guru. terdapat lima kriteria tujuan pembelajaran yang harus selaras dengan tujuan pengajaran, kualitas artistik, kejelasan dan durasi yang tepat, serta mempertimbangkan nilai dan minat. Siswa menunjukkan kecenderungan untuk menerima informasi dari guru secara pasif, dengan fokus yang terbatas dan kurangnya keinginan untuk bertanya atau memberikan Minimnya antusiasme siswa berkontribusi pada penurunan dalam proses belajar. Penggunaan media visual storytelling dapat memberikan dorongan bagi siswa untuk membaca buku. Hal ini berpengaruh signifikan terhadap motivasi belajar. Tanpa adanya motivasi dari guru, perkembangan siswa cenderung stagnan, mungkin disebabkan oleh kurangnya elemen yang menarik perhatian. Materi pembelajaran yang menarik dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih mudah dipahami dan diingat, berkat adanya dorongan dalam menyelesaikan tugas belajar. Buku cerita merupakan kumpulan narasi yang dilengkapi dengan ilustrasi, yang berperan sebagai alat bantu dalam menyampaikan informasi dan memfasilitasi pemahaman terhadap konten buku tersebut. Buku cerita bergambar dapat meningkatkan minat siswa dalam membaca dan mendorong mereka untuk mengungkapkan ketertarikan terhadap cerita yang disajikan. Oleh karena itu, dapat dihipotesiskan bahwa buku komik memiliki potensi untuk mempengaruhi pemahaman membaca siswa (Apriatin, dkk, 2. Selain buku bergambar, hal ini dapat membantu daya imajinasi anak dalam memahami buku. Sumber ajar memiliki dampak signifikan pada keberhasilan atau kegagalan proses pembelajaran, serta metode dan sumber mengajar yang digunakan oleh guru. Penggunaan bahan ajar yang menarik dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar. SIMPULAN DAN SARAN Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa penggunaan media cerita bergambar berpotensi meningkatkan kemampuan membaca siswa kelas 2 SD Inpres Perumnas dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Peningkatan hasil tes kemampuan membaca pada siklus I dan siklus II menunjukkan adanya kemajuan yang signifikan. Pada siklus I, analisis menunjukkan bahwa dari 27 siswa yang mengikuti tes, 10 siswa berhasil mencapai nilai KKM, sementara 21 siswa lainnya belum mencapai nilai tersebut. Oleh karena itu, proses pembelajaran pada siklus I ini dapat dinyatakan belum berhasil. Pada siklus II, dilakukan perbaikan dengan memanfaatkan media cerita bergambar. Hasil tes belajar siswa dalam membaca menunjukkan peningkatan yang signifikan. Dari 27 siswa yang mengikuti tes, 19 orang berhasil mencapai nilai KKM dan 8 orang lainnya belum mencapai nilai tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini dihentikan pada siklus II, karena telah dinyatakan berhasil dan mencapai tujuan serta indikator yang diharapkan. P-ISSN: 23553790. E-ISSN: 25794655 | 121 Hesti Londong Padang 1. Upaya Meningkatkan Keterampilan Membaca Hasil penelitian tentang penggunaan media cerita bergambar di kalangan siswa kelas 2 SD Inpres Perumnas menunjukkan beberapa temuan yang dapat dijadikan dasar untuk memberikan saran sebagai berikut: Untuk Sekolah Diharapkan agar terus fokus pada proses belajar mengajar dan meningkatkan potensi siswa, sehingga dapat menghasilkan output yang kompetitif dalam dunia pendidikan. Untuk Guru Disarankan untuk menggunakan media cerita bergambar dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia guna meningkatkan kualitas pemahaman membaca siswa. Untuk Siswa Menyediakan pengalaman langsung bagi siswa melalui pembelajaran aktif yang menarik dan penuh antusiasme, dengan memanfaatkan media yang menarik dalam penelitian, sehingga siswa dapat merasa tertarik dan termotivasi dalam proses belajar mereka. Untuk Peneliti Selanjutnya Diharapkan agar peneliti selanjutnya melakukan penelitian lebih mendalam mengenai implementasi media cerita bergambar guna meminimalkan kendala yang muncul dalam proses. DAFTAR PUSTAKA