Jurnal Abdimas PHB Vol. 6 No. 2 Tahun 2023 p-ISSN:2598-9030 e-ISSN:2614-056X Pengelolaan TPQ (Taman Pendidikan Al-QurAoa. Berbasis Kurikulum Diniyah Akhmad Jazuli*1. Fitrianto Eko Subekti2 Program Studi Pendidikan Matematika. Universitas Muhammadiyah Purwokerto Jl. KH Ahmad Dahlan. Dusun i. Dukuhwaluh e-mail: *1akhmadjazuli. ump@gmail. com, 2efitrians@gmail. Abstrak Taman Pendidikan Al-QurAoan (TPQ) telah banyak dikelola secara konvensional, sehingga santri lulusan TPQ hanya dapat membaca Alquran, tanpa dibekali pemahaman Islam yang cukup. Hadirnya TPQ berbasis kurikulum diniyah, disamping santri dapat membaca Alquran, juga dapat menulis huruf Alquran serta memiliki pengetahuan tentang fiqih ibadah. Wilayah kecamatan Sumbang Banyumas, masyarakatnya sangat mendukung untuk terwujdnya TPQ berbasis kurikulum diniyah. Dipilih dua TPQ yaitu TPQ Al Huda dan TPQ Al jannah untuk dikembangkan menjadi TPQ berbasis kurikulum diniyah. Adanya desain baru dalam pengelolaan TPQ, diperoleh hasil: . jumlah santri meningkat 133%. jumlah ustadz menngkat 300% . kegiatan santri dalam belajar meningkat 150%. kepuasan orangtua dan anak meningkat 300%. Kesimpulan: TPQ berbasis kurikulum diniyah meningkatkan minat belajar bagi santri dan ustadz serta memperluas wawasan praktek ibadah bagi santri. Kata kunci: Diniyah, kurikulum. TPQ PENDAHULUAN Kesadaran warga akan pentingnya kemampuan membaca Al-QurAoan ditunjukkan dengan pesatnya kelompok belajar Al-QurAoan . Melalui madrasah diniyah generasi muda ditanamkan nilai-nilai moral dan keagamaan sejak dini . Melalui pembiasaan keagamaan yang ada pada madrasah diniyah, harapannya dapat membentuk dan menanamkan karakter yang baik . Namun pada kenyataannya kegiatan keagamaan untuk anak-anak masih belum sesuai harapan . Kegiatan rutin keagamaan anak-anak di desa-desa adalah kegiatan TPQ. Adapun madrasah diniyah relatif sedikit, sehingga tidak semua anak mendapat pendidikan diniyah. Oleh karena itu perlu adanya perubahan orientasi TPQ . Melalui TPQ, anak dari usia dini dilatih untuk mengenal, memahami, mempelajari, dan menerapkan pendidikan Islam sebagai pedoman dalam kehidupan . , serta tumbuhnya kesadaran dan motivasi yang tinggi dari anak untuk belajar Al-QurAoan . Sedangkan kegiatan madrasah diniyah di diatur dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 2014 . Pedoman penyelenggaraan diniyah merujuk pada penyelenggaraan pondok pesantren, yaitu mempelajari masalah fiqih ibadah, dan belajar Alquran . Struktur kurikulum madrasah diniyah menjadikan pelaksanaan prembelajaran bersifat menyeluruh dan berkesinambungan, beragam dan terpadu, berpusat pada kebutuhan, dan adaptif terhadap perkembangan ilmu . Dengan demikian perlu dilakukan ujicoba pengembangan TPQ berbasis kurikulum diniyah. Uji coba pengembangan TPQ berbasis kurikulum diniyah dilakukan di dua desa yaitu, desa Tambaksogra dan Gandatapa. Desa Tambaksogra terletak di kecamatan Sumbang bagian selatan berdekatan dengan kecamatan Kembaran. Wilayah ini cukup ramai, karena dilalui jalur wisata Baturaden. Selain dilalui jalur wisata, di sekitar wilayah ini ada banyak perumahan baru yang mulai berkembang. Warga desa Tambaksogra mayoritas berpaham NU dan sekitar 30% penduduknya berpaham Muhammadiyah. Masjid Inganaturrohman merupakan masjid Muhammadiyah yang letaknya strategis di tepi jalan raya dan mudah dijangkau dari berbagai penjuru. Namun demikian. Jurnal Abdimas PHB Vol. 6 No. 2 Tahun 2023 p-ISSN:2598-9030 e-ISSN:2614-056X masyarakat di sekitar masjid ini berpaham NU, sehingga kurang diminati oleh masyarakat Masjid Inganaturrohman merupakan salah satu masjid wakaf persyarikatan Muhammadiyah. Pada sore hari masjid ini digunakan untuk bimbingan belajar Alquran bagi anak-anak. Saat ini bimbingan sedang mengalami kemerosotan, baik dari pihak guru maupun pihak santri. Sebenarnya bimbingan ini sudah berjalan cukup lama, namun tidak dikelola dengan baik. Situasi pandemic covid 19 turut memperburuk kegiatan TPQ, sehingga TPQ Al Jannah yang telah dikembangkan bertahun tahun mengalami penurunan baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Sedangkan desa Gandatapa terletak di kecamatan Sumbang yang relatif jauh dari Masyarakatnya relatif homogen dan mudah diajak dalam kegiatan keagamaan. Banyak aktivitas yang dilakukan di desa tersebut. Masyarakatnya mayoritas berpaham muhammadiyah, namun dalam pengelolaan TPQ masih belum maksimal. Anak-anak hanya diajari baca Alquran saja tanpa ada kegiatan yang lain. Akibatnya dari waktu ke waktu kegiatan tersebut kurang diminati oleh masyarakat. Hasil observasi diperoleh informasi, hanya ada satu ustadzah yang masih bertahan mengelola bimbingan belajar Al-Qur. an, dengan jumlah santri yang rata-rata kurang dari 10 Bimbingan yang berjalan saat ini adalah belajar membaca Al-Quran melalui metode iqroAo dan hapalan surat-surat pendek. Keadaan santripun tidak stabil, artinya kehadiran mereka kurang baik, kadang berangkat kadang tidak. Keberadaan para ustadzah/ustadz juga tidak terkontrol dengan baik. Berdasarkan kasus tersebut, perlu adanya pembenahan secara keseluruhan terkait dengan tata kelola bimbingan baca Al-QurAoan. Di samping itu perlu adanya peningkatan menu kegiatan TPQ yang berbasis diniyah. Dalam pendidikan diniyah lebih mengutamakan pendidikan agama. Pendidikan tersebut dianggap penting untuk memperkuat aqidah mereka . Adapun materi Keislaman tersebut merujuk pada Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 2014 . Diharapkan TPQ yang terbentuk dapat menjadi sarana untuk pembentukan karakter santri . Permasalah yang mendasar pada bimbingan baca Al-QurAoan anak-anak adalah kurang adanya sumber daya manusia yang mumpuni dan memadai. Dikatakan kurang mumpuni karena tidak dapat mengembangkan bimbingan yang menjadi harapan siswa/santri atau harapan Mereka hanya diajari cara membaca Al-QurAoan seperti biasanya. Dikatakan tidak memadai karena jumlah sukarelawan yang mau terjun ke bimbingan tersebut sangat sedikit. Dengan berkurangnya tenaga pengajar, berakibat menurunnya semangat santri untuk belajar. Di samping kurangnya SDM, juga minimnya sarana belajar untuk santri. Hal ini berakibat jumlah santri semakin menurun. Diharapkan model TPQ berbasis kurikulum diniyah ini dapat menjadi solusi dalam menghadapi tantangan jaman . Oleh karena itu perlu dicarikan solusinya terkait dengan pengelolaan TPQ . Pengabdian masyarakat dilaksanakan dengan tujuan: . memperbaiki tata kelola bimbingan baca Al-QurAoan. merekrut calon kader sebagai ustadz/ustadzah. membina kader-kader untuk menjadi sukarelawan dalam bimbingan baca tulis Al-QurAoan. merekrut calon santri baru. menambah menu bimbingan dengan beberapa kegiatan yang menunjang, seperti: tahfizh/murojaah, kitabah, tahsin, dan bacaan sholat/fiqih. menata administrasi yang lebih komprehensif. METODE Metode yang digunakan adalah analisis sosial, dengan langkah . studi lapangan, untuk mengidentifikasi masalah. merumuskan solusi masalah. penyiapan kegiatan untuk mendesain TPQ yang berbasis diniyah. pelaksanaan kegiatan TPQ. melakukan Program pengelolaan ini, mengambil 2 TPQ di wilayah kecamatan Sumbang yaitu TPQ Al Huda dan Al Jannah. Kedua TPQ ini telah beroperasi namun akhir akhir ini bisa dikatakan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Pemecahan masalah yang dilakukan, mendesain ulang pendidikan TPQ dengan konsep berbasis diniyah. Hal ini dilakukan karena pendidikan diniyah harus didesain sesuai dengan perkembangan jaman . Adapun Jurnal Abdimas PHB Vol. 6 No. 2 Tahun 2023 p-ISSN:2598-9030 e-ISSN:2614-056X Pelaksanaan TPQ diniyah mengacu aturan yang sudah ditetapkan oleh Dirjen Pendidikan kementrian Agama . HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam kegiatan pengabdian ini kedua TPQ didesain dengan perlakuan yang sama yaitu TPQ berbasis diniyah. Berikut gambaran pelaksanaan kegiatan yang dilakukan: Hasil Studi Lapangan Diperoleh kondisi TPQ yang tidak diurus secara serius. Hal ini terjadi karena minimnya santri dan tenaga pengajar. Jumlah santri setiap hari rata-rata 10 anak, maksimal 15 anak dan jumlah ustadz rata-rata 1 orang, maksimal 2 orang. Akibatnya kegiatan TPQ asal jalan saja tanpa target yang dirumuskan. TPQ Al Huda sudah dikelola sekitar 10 tahun yang lalu. Namun kondisi TPQ belum sesuai harapan. Artinya keberadaan TPQ tidak jelas. Ketidakjelasan ini ditunjukan dengan jumlah santri yang relatif sedikit serta ditunjang jumlah ustadz yang kurang memadai, akibatnya proses pembelajaran tidak maksimal. Proses pembelajaran kurang semangat, jumlah santri dari waktu ke waktu semakin menurun. Adanya jumlah santri yang relatif sedikit, mengakibatkan ustadz-ustadz kurang bersemangat dalam pembelajaran. Jadwal menjadi tidak teratur, akibatnya target dan tujuan kurang terarah. Dampak berikutnya, sarana pembelajaran seperti buku, pensil, buku iqro menjadi tidak terurus. Persoalan terakumulasi menjadi satu yang berujung kondisi TPQ tidak hidup dan tidak mati. Permasalahan yang dihadapi menjadi kompleks sehingga perlu dilakukan penataan ulang. Berdasarkan masukan dari para jamaah perlu adanya perubahan yang dapat menarik anak-anak untuk dapat belajar dengan baik. TPQ Al Jannah didirikan tahun 2015, dengan jumlah santri yang cukup banyak meliputi daerah Tambaksogra. Tambaksari dan Bantarwuni. TPQ sudah didaftarkan di kantor Departemen Agama Kabupaten Banyumas. Kegiatan berjalan lancar setiap hari Senin. Selasa. Rabu dan Kamis dari jam 15. 30 sampai dengan jam 17. Pada saat itu jumlah santripun cukup banyak sekitar 50 santri. Pada tahun 2018, beberapa ustadzah yang mengasuh TPQ berhalangan dan tidak dapat melanjutkan. Akhirnya ada pergantian ustadzah dengan ustadzah yang lain, dan pembelajaran menjadi kurang kondusif. Perjalanan TPQ menjadi kurang maksimal yang akhirnya berhenti di tahun 2019. Belum sempat dipulihkan, terjadi pandemi covid yang akhirnya TPQ berhenti total. TPQ diniyah Al Jannah ini sudah dikatakan berhenti sehingga untuk menghidupkan kembali butuh waktu yang relatif lama. Merumuskan Solusi Masalah Melalui rapat-rapat yang dilakukan secara kontinu diperoleh permasalahanpermasalahan yang harus segera diatasi. Situasi rapat pembentukan pengurus TPQ disajikan dalam Gambar 1. Gambar 1. Rapat pembentukan pengurus TPQ Al Jannah Jurnal Abdimas PHB Vol. 6 No. 2 Tahun 2023 p-ISSN:2598-9030 e-ISSN:2614-056X Rapat yang dilakukan memprioritaskan menganalisis permasalahan yang terjadi sehingga diperoleh rumusan langkah perbaikan yang akan dilakukan. Rumusan langkahlangkah perbaikan yang dihasilkan, meliputi: . pendataan santri. pendataan ustadz/tenaga . pendataan materi ajar. pendataan kebutuhan sarana. penjadwalan Persiapan kegiatan pembentukan TPQ Berbasis Diniyah. Kegiatan untuk terbentuknya TPQ berbasis diniyah membutuhkan berbagai perangkat atau instrumen. Kegiatan yang dilakukan meliputi: . menyusun materi yang akan disajikan. menyusun jadwal TPQ harian. menyiapkan instrumen-instrumen yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan. menyiapkan media. menyiapkan dokumen-dokumen. Suasana rapat dalam merumuskan kegiatan TPQ yang diikuti oleh para remaja yang akan menjadi calon pengajar dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 2. Rapat merumuskan kegiatan TPQ Al Jannah Pelaksanaan Kegiatan TPQ Pelaksanaan kegiatan TPQ yaitu penyusunan jadwal harian dan ragam kegiatan harian yang meliputi qiroah, tajwid, tahfidz, ibadah, dan kitabah. Jadwal Kegiatan Kegiatan TPQ Al Jannah dilaksanakan secara rutin setiap pekannya 4 hari efektif. Dimulai dari hari senin dan berakhir hari kamis. Adapun malam jumat digunakan untuk murojaah atau lomba-lomba agar santri melakukan refreshing. Kegiatan TPQ ini didesain untuk 2 kelas yaitu kelas 1 dan kelas 2. Hal ini bertujuan agar anak-anak yang sudah remaja bisa dikumpulkan secara tersendiri terpisah dengan yang masih anak-anak/ usia dini. Secara umum jadwal kegiatan TPQ meliputi pelajaran tajwid, qiroah Al qurAoan, tahfidh, kitabah dan Fiqih ibadah harian. Selain itu setiap pekan ada kegiatan murojaah. Tabel 1. Jadwal Kegiatan TPQ Hari Waktu Kegiatan fiqih/ibadah Jurnal Abdimas PHB Vol. 6 No. 2 Tahun 2023 p-ISSN:2598-9030 e-ISSN:2614-056X Pada Tabel 1, kegiatan setiap hari membaca Iqro/Al-Quran dan dilanjutkan dengan kegiatan yang lain. Hari efektif kegiatan TPQ dituangkan dalam spanduk pendaftaran sehingga para calon santri dapat mempersiapkan diri, sebagaimana yang dituangkan dalam Gambar 3. Gambar 3: Spanduk penerimaan santri baru Kegiatan Tahfidz Setiap santri akan dipandu oleh para ustadz/ustadzah dengan menggunakan lembar hapalan yang sudah tersedia. Hapalah untuk kelas 1 targetnya adalah dari surat Al Fatihah sampai dengan surat Ad Duha yang berjumlah 23 surat. Sedangkan untuk kelas 2 targetnya dari surat Al Lail sampai dengan surat An Naba yang berjumlah 15 surat. Gambar 4. Santri sedang hapalan surat-surat pendek Pada Gambar 4, santri melakukan hapalan surat pendek, yang dipandu oleh ustadz. Kegiatan hapalan surat-surat pendek, yang diawali dengan murojaah. Kemudian santri setor hapalan yang selanjutnya akan dicatat oleh ustadz. Tajwid Tajwid diajarkan pada kelas 2. Sedangkan untuk kelas 1 cukup mengikuti petunjuk baca yang ada di buku Iqro mulai jilid 4 sampai jilid 6. Adapun untuk kelas 2 pelajaran tajwid meliputi: . hukum nun mati atau tanwin. hukum mim mati. tanda-tanda yang lain seperti: saktah dan ismam. Kitabah Kitabah merupakan praktek anak-anak untuk menulis. Adapun tulisan yang dipraktekkan adalah meniru tulisan di Iqro yang dibaca atau menulis langsung yang dicontohkan di papan tulis oleh ustadz. Untuk kelas 1, materi kitabah ini menggunakan tulisan yang pendek. Mereka menulis untuk mengulang beberapa kali dengan tujuan agar lancar dalam Jurnal Abdimas PHB Vol. 6 No. 2 Tahun 2023 p-ISSN:2598-9030 e-ISSN:2614-056X Suasana kegiatan TPQ berlangsung semangat. Tampak pada gambar 6, santri sedang melakukan kegiatan menulis. Gambar 6. santri sedang menulis, mencontoh di papan tulis Fiqih Pelajaran tentang hukum-hukum Islam terkait dengan ibadah harian. Ditulis di papan tulis dan dipraktekkan bahkan dapat juga praktek ibadah yang ditayangkan lewat video. Pelajaran tersebut meliputi praktek wudu, iqomat, adzan, sholat, solat berjamaah, solat jumat, tayamum serta doa-doa harian dan bacaan solat. Evaluasi Hasil evaluasi yang dilakukan setelah dilaksanakannya TPQ berbasis diniyah meliputi: jumlah santri/ siswa, jumlah kegiatan, jumlah hari efektif, jumlah ustadz, jumlah sarana, dan tingkat kepuasan. Berikut hasil evaluasi yang telah dilakukan: Jumlah santri/siswa Jumlah santri sebelum adanya pengelolaan baru, rata-rata 15 santri. Setelah adanya pengelolaan TPQ baru meningkat rata-rata menjadi 35 santri. Jumlah kegiatan Jumlah kegiatan semula hanya 2 kegiatan yaitu khusus membaca dan hapalan. Setelah adanya pengelolaan baru, menjadi 5 kegiatan yang meliputi qiroah, hapalan, tajwid, ibadah, dan kitabah. Jumlah hari efektif TPQ Jumlah hari TPQ sebanyak 4 hari dan kegiatan TPQ baru, tetap sebanyak 4 hari efektif. Jumlah ustadz/guru Jumlah ustadz meningkat, yang semula rata-rata 2 ustadz yang efektif. Setelah dengan pengelolaan baru, menjadi rata-rata 8 ustadz . Jumlah sarana Jumlah sarana meningkat yang semula buku iqro dan Alquran, berkembang menjadi buku iqro. Alquran, buku tajwid, buku tulis dan pulpen serta buku ibadah. Tingkat kepuasan Tingkat kepuasan semula rendah yaitu 20% meningkat menjadi 80% setelah adanya pola pengelolaan baru. Data hasil evaluasi tersebut disajikan pada Gambar 7. Pada gambar 7, tampak perbandingan yang paling menyolok adalah pada jumlah santri, jumlah ustadz, dan tingkat Sedangkan untuk hari efektif masih tetap sama. Jurnal Abdimas PHB Vol. 6 No. 2 Tahun 2023 p-ISSN:2598-9030 e-ISSN:2614-056X Grafik 1. Perbandingan sebelum dan sesudah adanya pengelolaan baru Adapun besarnya prosentase peningkatan, disajikan dalam Tabel 2. Tabel 2. Peningkatan TPQ setelah adanya pengelolaan baru Unsur Sebelum Sesudah Peningkatan Jumlah santri Jumlah ustadz Jumlah kegiatan Jumlah hari efektif KESIMPULAN TPQ diniyah di samping memberikan pelajaran membaca Alquran dan hapalan juga memberikan pelajaran menulis Al Quran, pelajaran Fiqih dan praktek ibadah. TPQ diniyah ini diminati santri, sehingga jumlah santri meningkat cukup besar, dengan peningkatan 133% Jumlah ustadz meningkat karena target TPQ yang jelas, dengan peningkatan 300% kepuasan orangtua dan santri semakin besar dengan adanya variasi pembelajaran tersebut, dengan peningkatan 300% jumlah sarana meningkat seiring dengan jumlah kegiatan. SARAN Perlu adanya pembinaan bagi ustadz maupun ustadzah agar kualitas pembelajaran dapat Perlu adanya ustadz khusus untuk mengajarkan hapalan Al-Quran. Perlu adanya kesamaan paham/literasi dalam mengajakan ilmu fiqih/praktek ibadah. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih kami sampaikan kepada Universitas Muhammadiyah Purwokerto yang telah memberikan dana hibah untuk kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM). Terima kasih pula kami sampaikan kepada Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sumbang yang telah memberikan ijin serta motivasi dalam pelaksanaan pengabdian kepada Masyarakat ini. Jurnal Abdimas PHB Vol. 6 No. 2 Tahun 2023 p-ISSN:2598-9030 e-ISSN:2614-056X DAFTAR PUSTAKA Nabilah. N, and Hidayah. , 2022. Peran Taman Pendidikan Al-qurAoan dalam Meningkatkan Kualitas dalam Membaca Al-qurAoan. Jurnal Pendidikan Dasar Dan Sosial Humaniora. , vol. 1, no. 9, hal. 1913Ae1918. Syahr. , 2016. Membentuk Madrasah Diniyah Sebagai Alternatif Lembaga Pendidikan Elite Muslim Bagi Masyarakat. Modeling Jurnal. Program Studi PGMI, vol. 3, no. 1, hal. 47Ae65. Marzuqi. A,. Internalisasi Pendidikan Karakter di Madrasah Diniyah Takmiliyah. Jurnal Pendidikan Agama Islam Al-Thariqah, vol. 7, no. 1, hal. 61Ae76. doi: 10. 25299/althariqah. Abdul. H,. Pemberdayaan Taman Pendidikan Al-qurAoan (TPQ) Alhusna Pasadena Semarang. Dimas, vol. 13, no. 2, hal. 387Ae404. Yamin M, and Maisah. M,. Orientasi Baru Ilmu Pendidikan. Referensi.