Konversi Bentuk Kapital untuk Pengentasan Kemiskinan Multidimensional pada Penerima Bantuan Sosial Kewirausahaan Astriyana Telaumbanua1 Robert M. Lawang2 Program Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Universitas Indonesia. Jawa Barat. Indonesia 2 Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Universitas Indonesia. Jawa Barat. Indonesia. * Korespondensi: astridtel@gmail. Tel: ( . 81263233726 Diterima: 22 November 2024. Disetujui: 11 Desember 2024. Diterbitkan: 31 Desember 2024 Abstrak: Penelitian ini berfokus untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk kapital . konomi, sosial, embodied dan digita. yang dimiliki oleh penerima bantuan sosial kewirausahaan di Kecamatan Bojonggede. Kabupaten Bogor melalui konversi untuk mempercepat proses pengentasan kemiskinan multimensional. Dengan menggunakan metode fenomenologis, kami mengumpulkan data melalui wawancara mendalam dan observasi dari tujuh penerima bantuan sosial kewirausahaan dari Kementerian Sosial RI, yang masih menjalankan usahanya dengan menggunakan teknik pursposive sampling dari empat desa di Kecamatan Bojonggede. Kabupaten Bogor. Penelitian ini berfokus pada bagaimana bentuk-bentuk kapital dimanfaatkan oleh penerima bantuan untuk menjalankan dan mempertahankan kegiatan usaha melalui proses konversi dengan menggunakan kerangka teori praktik dari Pierre Bourdieu. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa kapital ekonomi, sosial, digital dan embodied saling berinteraksi mendukung keberlanjutan usaha rumah tangga miskin. Kapital sosial memainkan peran penting dalam proses konversi kapital. Jaringan sosial dan kepercayaan membantu rumah tangga miskin mendapatkan sumber daya tambahan. Keterampilan embodied yang sudah dimiliki penerima bantuan mengoptimalkan bantuan sosial kewirausahaan yang mereka terima. Sementara kapital digital masih terbatas pemanfaatannya namun memperkuat kapital sosial yang sebelumnya telah terbangun. Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukkan dalam melaksanakan program bantuan sosial yang lebih terintegrasi agar lebih tepat guna mengentaskan kemiskinan multidimensional. Kata kunci: konversi kapital, kewirausahaan, rumah tangga miskin, kemiskinan multidimensional. Kabupaten Bogor Abstract: This research focuses on identifying the forms of capital . conomic, social, embodied, and digita. owned by entrepreneurial social assistance recipients in Bojonggede. Bogor Regency, through conversion to accelerate the process of multidimensional poverty alleviation. We used the phenomenological method to get information from seven people who got business-related social assistance from the Ministry of Social Affairs and are still running their businesses. We purposefully selected these individuals from four villages in Bojonggede Sub-district. Bogor Regency. Using Pierre Bourdieu theoretical framework of practice, this research focuses on how beneficiaries use forms of capital to run and sustain business activities through the conversion process. The research findings reveal that economic, social, digital, and embodied capital interact to support the sustainability of poor household businesses. Social capital plays an essential important role in the capital conversion process. Social networks and trust help poor households obtain additional resources. The embodied skills already possessed by beneficiaries maximize the entrepreneurial social assistance they receive. Meanwhile, digital capital is limited in utilization, although it established social capital. We expect this research to contribute to implementing a more integrated social assistance program better suited to alleviating multidimensional poverty. Keywords: capital conversion, entrepreneurship, poor household, multidimensional poverty. Bogor Regency https://ejournal. id/index. php/jsk/article/view/3524 DOI : 10. 33007/ska. SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 13-32 Pendahuluan Kemiskinan masih menjadi tantangan di Indonesia, sebagaimana hal tersebut juga terjadi bahkan di sebagian besar negara maju (OEDC, 2. Kemiskinan merupakan masalah yang kompleks dan Dalam konsep kemiskinan multidimensi, kemiskinan tidak hanya dilihat dari terbatasnya pendapatan . , tetapi berupaya memahami berbagai aspek lain yang mempengaruhi kualitas hidup. Kemiskinan multidimensional memiliki tiga dimensi yaitu kesehatan, pendidikan, dan standar hidup (Alkire & Santos, 2. Data Badan Pusat Statistik (BPS, 2. menyebutkan Indonesia memiliki penduduk miskin sebanyak 25,22 juta jiwa pada Maret 2024, dengan persentase penduduk miskin sebesar 9,03% pada tahun 2024 dari jumlah populasi penduduk 281. 6 juta jiwa. Sementara penduduk Indonesia yang miskin secara multidimensi hampir 39 juta individu dalam rumah tangga atau 14,34% dari total populasi di tahun 2021 (Perkumpulan Prakarsa, 2. Pemerintah telah berupaya melakukan berbagai program bantuan sosial yang menyasar kelompok rentan, miskin dan terpinggirkan untuk mengatasi kemiskinan. Namun, bantuan sosial yang diterima oleh penerima manfaat sering kali dinilai tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga (Ailiyah et al. , 2. Menurut Tantriana & Rakhmawan . , program bantuan sosial dapat berdampak positif pada pengentasan kemiskinan namun juga memiliki dampak negatif karena dapat menimbulkan ketergantungan selama menjadi penerima bantuan sosial. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah ketergantungan. Kementerian Sosial RI memberikan dukungan bantuan sosial berbasis kewirausahaan agar mereka dapat hidup mandiri untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Sentra Galih Pakuan di Bogor merupakan salah satu unit kerja di Kementerian Sosial RI, telah memberikan dukungan bantuan sosial kewirausahaan kepada 202 rumah tangga miskin di Jawa Barat. Banten dan sebagian Sumatera Selatan, dari tahun 2021 hingga 2024 melalui program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI). 84 dari 202 penerima bantuan berasal dari Kabupaten Bogorm Jawa Barat. Dukungan bantuan sosial kewirausahaan oleh Sentra Galih Pakuan di Bogor lebih banyak dilakukan di Kabupaten Bogor karena Kabupaten Bogor masih menghadapi sejumlah tantangan dalam mengurangi jumlah penduduk miskin. Kabupaten Bogor termasuk kabupaten yang memiliki populasi penduduk miskin terbanyak di Jawa Barat, dengan jumlah penduduk miskin sebanyak 456,67 ribu jiwa dengan persentase penduduk miskin 7. 69 % dan penduduk miskin ekstrem sebanyak 1,17 %. Perkumpulan Prakarsa menyebutkan bahwa prosentase angka kemiskinan multidimensional di Provinsi Jawa Barat lebih tinggi sebesar 9. 44% dibandingkan dengan angka kemiskinan moneter sebesar 8,19% pada tahun 2021 (Perkumpulan Prakarsa, 2. Hasil monitoring terhadap penerima bantuan sosial kewirausahaan di Kabupaten Bogor yang dilakukan oleh Sentra Galih Pakuan di Bogor menunjukkan bahwa masih sedikit penerima bantuan yang mampu mempertahakan keberlanjutan usahanya. Dari 84 penerima bantuan sosial kewirausahaan di Kabupaten Bogor, terdapat 11 penerima bantuan sosial yang masih menjalankan dan mempertahankan usahanya. Menurut salah satu staff di Sentra Galih Pakuan Bogor, salah satu hambatan yang ditemukan adalah bahwa tidak semua penerima bantuan wirausaha memiliki kemampuan dan minat wirausaha yang mumpuni. AuTidak semua PM yg diberi bantuan wirausaha memiliki kemampuan wirausaha yg mumpuni. barang wirausaha dipakai untuk konsumsi pribadi sehingga modal tidak berputarAy (YL, 2 September 2. Penerima bantuan juga seringkali dihadapkan pada masalah kesehatan, keterbatasan pendidikan, kondisi kedisabilitasan, kebutuhan dasar yang tidak cukup terpenuhi, yang menunjukkan kompleksitas masalah yang dihadapi bersifat multidimensi. Disisi lain, bidang usaha yang dilakukan oleh penerima bantuan, umumnya berhadapan dengan bidang usaha yang sudah banyak dilakukan sehingga harus bersaing dengan mereka yang memiliki kapital ekonomi yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa bantuan kewirausahaan dalam bentuk asset produktif . apital ekonom. yang diterima oleh rumah tangga miskin masih menjadi tantangan dalam pengelolaannya. Meskipun kapital ekonomi dapat langsung dikonversi menjadi uang, namun kewirausahaan tidak dapat bertahan jika tidak memiliki interaksi dengan kapital lainnya. Bourdieu Astriyana Telaumbanua & Robert M. Lawang Konversi Bentuk Kapital Untuk Pengentasan Kemiskinan Multidimensional Pada Penerima Bantuan Sosial Kewirausahaan di Kecamatan Bojonggede. Kabupaten Bogor SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 13-32 . menyebutkan bahwa mengandalkan satu-satunya kapital ekonomi sebagai sarana untuk mengentaskan kemiskinan jauh dari tujuan. Kapital ekonomi hanya akan dapat berhasil jika mereka dapat memanfaatkan bentuk kapital lainnya yang mereka miliki untuk mendukung usaha. Rumah tangga miskin perlu memiliki kemampuan untuk memanfaatkan sumber daya lokal yang dimiliki agar dapat berhasil dalam kegiatan usaha (Morris & Tucker, 2. Contohnya memiliki hubungan yang kuat dengan individu, kelompok atau organisasi untuk mendapatkan sumber daya dalam meningkatkan kinerja usaha (Bhagavatula et al. , 2. Dalam hal ini, konsep konversi kapital dari kerangka teori Bourdieu . menjadi relevan dalam menyelidiki bagaimana konversi kapital dapat dimanfaatkan dalam mendukung kewirausahaan yang dilakukan oleh rumah tangga miskin. Dalam konsep teori praktik Pierre Bourdieu, konsep kapital, habitus dan arena merupakan pilar utama untuk memahami bagaimana struktur sosial dan individu saling mempengaruhi. Teori praktik Bourdieu berkaitan erat dengan pemahaman bahwa tindakan individu merupakan hasil interaksi dari habitus, kapital ditambah dengan arena yang secara sederhana digambarkan dalam bentuk {(Habitu. (Capita. } Field = Practice (Asimaki & Koustourakis, 2. Kapital merupakan sumber daya yang dapat memberikan keuntungan dalam ruang sosial. Habitus mengacu pada kebiasaan, perilaku yang tertanam kuat dan keterampilan yang diperoleh individu berdasarkan hasil pengalamannya dalam konteks sosial. Sementara Field merupakan arena atau bidang dimana individu-individu yang terlibat akan berusaha untuk mendominasi dan memanfaatkan kapital yang dimiliki. Menurut Bourdieu . kapital memiliki bentuk dasar yaitu kapital ekonomi, kapital sosial, kapital budaya dan simbolik. Kapital ekonomi secara sederhana diartikan sebagai sumber daya berupa uang atau asset berharga. Kapital ekonomi dalam konteks kewirausahaan berperan penting sebagai dasar dalam membiayai segala kegiatan usaha, memproduksi, atau pun mengembangkan usaha. Kekurangan kapital ekonomi dapat menghambat laju perkembangan suatu program (Adi, 2. Kapital sosial adalah akumulasi sumber daya yang terdapat dalam kepemilikkan jaringan yang tahan lama, yang saling mengenal dan diakui (Bourdieu, 1. Kapital sosial yang tinggi dapat mendorong keberhasilan kewirausahaan (Nieto & Gonzylez-yAlvarez, 2016. Payne & Hayes, 2. Menurut Payne & Hayes . kapital sosial dapat menyediakan informasi, pengetahuan, modal keuangan dan sumber daya lainnya yang diperlukan untuk mempertahankan kewirausahaan. Jaringan yang luas dapat membantu wirausaha untuk memperoleh pendanaan, informasi dan peluang pasar (Omrane, 2. , meningkatkan kepercayaan diri dan pengambilan resiko yang berpengaruh positif terhadap perilaku kewirausahaan (Liang et al. , 2. Kapital sosial seperti kepercayaan berdampak positif ketika berinteraksi dengan kapital lainnya seperti kapital budaya (Zelekha & Dana, 2. , meningkatkan kolaborasi antar wirausaha untuk berbagi sumber daya dan informasi, yang berpeluang membuka kerjasama dan meningkatkan pendapatan dan jumlah produksi . nztopcu, 2. Kapital sosial membantu orang untuk mendapatkan pengetahuan termasuk literasi keuangan yang bermanfaat bagi wirausahawan di pedesaan (J. Zhao & Li, 2. Bentuk kapital sosial dapat bertransformasi ke bentuk nilai yang lebih besar melalui dukungan mobilisasi sumber daya dan kebijakan (Lawang, 2. Kapital budaya dalam pandangan Bourdieu merujuk pada pengetahuan, pendidikan, keterampilan dan budaya lainnya yang dimiliki dan terinternalisasi dalam diri individu (Bourdieu. Kapital budaya dapat terjadi dalam bentuk diobjektivikasi (. mbodied stat. , diwujudkan . bjectified stat. atau tertanam dan dilembagakan . nstitutionalized stat. Meskipun kapital digital tidak ada dalam konsep teori Bourdieu, namun peran teknologi digital dalam kewirausahaan tidak dapat dielakkan di tengah kemajuan teknologi. Sama seperti jenis kapital lainnya, kapital digital adalah salah satu jenis kapital yang juga dapat diakumulasi dan dikonversi menjadi kapital lainnya (Ragnedda. Ragnedda et al. , 2. Seseorang yang memiliki kapital digital yang tinggi akan lebih efektif dalam memanfaatkan jenis kapital lainnya, hal ini dikarenakan kapital digital dapat menjadi jembatan . antara aktivitas offline dan online (Ragnedda & Ruiu, 2. Kapital digital terdiri atas dua komponen utama, pertama adalah akses digital yang terdiri dari akses pada peralatan digital, konektivitas, waktu yang dihabiskan untuk online dan dukungan atau pelatihan, dan kedua adalah kompetensi digital yang terdiri dari informasi dan literasi, komunikasi dan kolaborasi, kreasi konten Astriyana Telaumbanua & Robert M. Lawang Konversi Bentuk Kapital Untuk Pengentasan Kemiskinan Multidimensional Pada Penerima Bantuan Sosial Kewirausahaan di Kecamatan Bojonggede. Kabupaten Bogor SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 13-32 digital, keamanan dan pemecahan masalah (Ragnedda, 2. Namun, untuk membangun kapital digital, pengalaman digital dan latar belakang sosial individu saling mempengaruhi (Ragnedda et al. , termasuk habitus keluarga dalam membangun kapital digital (Keen & France, 2. , serta faktor sosial dan ekonomi untuk mengakses dan menggunakan teknologi digital (Park et al. , 2. Penelitian terdahulu telah mengeksplorasi bagaimana konversi kapital . osial, ekonomi dan buday. dalam konteks kewirausahaan (I. Hill, 2018. Hill, 2021. Junaidi, 2022. Pret et al. , 2015. Wong & McGovern, 2. , namun masih jarang ditemukan pada konteks penerima bantuan dari rumah tangga miskin. Umumnya, kapital ekonomi menjadi faktor penting dalam tahap awal memulai kewirausahaan karena modal keuangan dianggap sebagai sarana untuk mendapatkan bentuk kapital lainnya . aguc & VukoviN, 2. Bukti empiris menunjukkan bahwa individu atau kelompok yang memiliki kapital ekonomi yang tinggi cenderung lebih baik dalam melakukan konversi sumber daya untuk meningkatkan kesejahteraan mereka (Xie & Xie, 2. Tidak jarang wirausaha sering kali harus berani mengorbankan asset penting yang mereka miliki seperti pendapatan, tabungan atau laba untuk memulai dan mengembangkan suatu usaha (Madsen et al. , 2008. maguc & VukoviN, 2. Namun. Karatas-Ozkan et al. , . menyebutkan bahwa kapital ekonomi tidak selalu menjadi fokus utama tetapi dapat dipertimbangkan bersama dengan bentuk kapital lainnya dalam penelitian Beberapa penelitian lain menyebutkan bahwa untuk menjalankan kegiatan usaha agar dapat berhasil, mereka tidak mengandalkan satu-satunya jenis kapital namun melakukan konversi kapital menjadi bentuk kapital lainnya (Pret et al. , 2015. maguc & VukoviN, 2. Konversi kapital dalam konteks kewirausahaan merupakan hal yang sangat penting karena dapat meningkatkan pendapatan (Jonsson & Lindbergh, 2. Hasil penelitian pada pengusaha kerajinan menunjukkan bahwa kapital ekonomi tidak menjadi faktor utama dalam menjalankan usaha (Pret et al. , 2. Disisi lain, adopsi teknologi merupakan hal yang sangat penting dalam proses konversi. Kapital digital memungkinkan seseorang untuk membangun kapital sosial melalui jaringan yang lebih luas melalui pemanfaatan platform digital termasuk dalam hal ini terhubung dengan konsumen (Silva et al. , 2020. Smith et al. Zhao et al. , 2. Meskipun pemanfaatan kapital sosial secara daring dan luring ditemukan berbeda (F. Zhao et al. , 2. , namun memiliki gabungan keduanya memungkinkan mendapatkan sumber daya lain melalui ranah daring dan luring (Silva et al. , 2. Disisi lain, keterbatasan kapital digital dapat menyebabkan ketidaksetaraan yang mempengaruhi kemampuan untuk mengakses lebih banyak peluang dan sumber daya dalam ekonomi digital (Addeo et al. , 2. Konversi kapital dapat dipahami sebagai upaya untuk melakukan perubahan berbagai bentuk kapital yang dimiliki untuk mencapai tujuan. Kapital dapat dikonversi dalam berbagai bentuk untuk mendapatkan keuntungan (Bourdieu, 1. Menurut Bourdieu . kapital ekonomi seperti uang atau aset produktif, kapital sosial seperti jaringan sosial relasi atau koneksi, kapital budaya seperti pengetahuan dan keterampilan, dapat mempercepat proses pengentasan kemiskinan melalui konversi. Terlebih jika hal tersebut ditambah dengan memanfaatkan kapital digital . kses teknologi dan keterampilan digita. yang dapat dikonversi ke bentuk kapital lainnya untuk mendapatkan Namun, penelitian yang membahas bagaimana bentuk kapital tersebut saling berinteraksi dalam konteks pengentasan kemiskinan multidimensional pada rumah tangga miskin melalui kewirausahaan sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk kapital yang sudah dimiliki oleh rumah tangga miskin melalui konversi untuk mengentaskan kemiskinan multidimensional melalui kewirausahaan di Bojonggede. Kabupaten Bogor. Secara teoritis, penelitian ini dapat memperdalam pemahaman tentang bagaimana kapital ekonomi tidak hanya berfungsi untuk mendapatkan uang atau asset, tetapi bagaimana bentuk kapital lainnya dapat saling berinteraksi membantu penerima bantuan sosial kewirausahaan yang tinggal di wilayah pedesaan. Penelitian ini menawarkan wawasan baru dalam program pemberdayaan masyarakat sehingga dapat lebih tepat guna dalam membuat desain intervensi untuk membantu Astriyana Telaumbanua & Robert M. Lawang Konversi Bentuk Kapital Untuk Pengentasan Kemiskinan Multidimensional Pada Penerima Bantuan Sosial Kewirausahaan di Kecamatan Bojonggede. Kabupaten Bogor SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 13-32 rumah tangga miskin melalui kewirausahaan di wilayah pedesaan dalam mengentaskan kemiskinan Penelitian ini berupaya mengatasi kesenjangan penelitian dengan menyelidiki bagaimana penerima bantuan sosial kewirausahaan di pedesaan memanfaatkan bentuk kapital yang mereka miliki melalui konversi untuk mendukung kewirausahaan dalam mengentaskan kemiskinan Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam berdasarkan pengalaman penerima bantuan sosial kewirausahaan dalam memanfaatkan kapital yang mereka miliki untuk mengatasi kemiskinan multidimensional melalui kewirausahaan. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan data deskriptif seperti kata-kata tertulis atau lisan yang diperoleh dari informan dan perilaku yang diamati (Taylor et al. , 2. Metode penelitian yang digunakan adalah fenomenologis untuk mendapatkan pemahaman mendalam berdasarkan pengalaman subjektif informan dari kerangka acuan mereka sendiri berdasarkan realitas pengalaman yang mereka alami (Taylor et al. , 2. Penelitian ini mempertimbangkan konteks sosial di pedesaan dimana melalui wawancara dan observasi memberikan pemahaman bagaimana pengalaman setiap rumah tangga miskin dalam menjalankan usaha dengan kapital yang ada melalui konversi untuk mengentaskan kemiskinan multidimensional. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Bojonggede. Kabupaten Bogor yang dipilih berdasarkan pertimbangan sebagai wilayah yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang pesat namun memiliki ketimpangan yang cukup besar. Selain itu, konversi kapital pada penerima bantuan sosial kewirausahaan belum banyak dibahas terutama pada konteks lokal. Untuk menentukan informan, terlebih dahulu peneliti mengumpulkan data penerima bantuan sosial kewirausahaan dari Sentra Galih Pakuan di Bogor. Kementerian Sosial. Selanjutnya peneliti memeriksa data penerima bantuan yang masih menjalankan kegiatan usaha untuk menentukan informan penelitian. Data hasil monitoring kegiatan usaha digunakan untuk membantu mengidentifikasi rumah tangga miskin yang masih menjalankan kegiatan usaha. Penelitian ini mengumpulkan data dari tujuh penerima bantuan sosial kewirausahaan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria masih menjalankan usahanya dalam satu tahun terakhir. Penelitian ini juga memeriksa pemanfaatan teknologi digital untuk menyelediki kemungkinan konversi kapital digital dalam kewirausahaan pada rumah tangga miskin, terutama dalam hal penggunaan HP . sebagai perangkat utama untuk mengakses internet. Pengumpulan data dilakukan dari bulan Mei sampai dengan bulan Oktober 2024. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Wawancara dilakukan dengan menggali informasi dari peserta dengan cara menceritakan pengalaman mereka untuk mendapatkan bantuan, memilih jenis usaha, memanfaatkan dan melakukan konversi kapital dalam mendukung kegiatan usaha, dan faktor pendukung dan penghambat konversi kapital. Hasil wawancara direkam dan di transkrip menjadi data mentah dan selanjutnya memeriksa kata-kata dan kalimat dengan melakukan koding hingga analisis data. Analisis data dimulai dengan menerapkan konsep konversi kapital dari kerangka teori praktik Bourdie kemudian melakukan pengkodean ulang berdasarkan data lapangan dan dilanjutkan dengan memeriksa keterkaitan untuk menemukan tema hasil temuan. Hasil Bagian ini menjawab tujuan penelitian terkait bagaimana penerima bantuan sosial kewirausahaan memanfaatkan bentuk kapital yang mereka miliki melalui konversi untuk mendukung kewirausahaan dalam mengentaskan kemiskinan multidimensional, dan faktor-faktor yang mendukung dan menghambat proses konversi. Astriyana Telaumbanua & Robert M. Lawang Konversi Bentuk Kapital Untuk Pengentasan Kemiskinan Multidimensional Pada Penerima Bantuan Sosial Kewirausahaan di Kecamatan Bojonggede. Kabupaten Bogor SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 13-32 1 Gambaran Jenis Usaha Rumah Tangga Miskin Pemilihan jenis usaha oleh penerima bantuan sosial kewirausahaan ditemukan berdasarkan pada pertimbangan praktis dan keterampilan yang dimiliki . Jenis usaha yang dilakukan diantaranya usaha menjahit . , tukang pijat, perbengkelan, usaha dagang eceran keliling, warung kelontong serta warung minuman atau snack. Sebagian penerima bantuan memilih jenis usaha yang relevan dengan keterampilan yang sudah dimiliki, pertimbangan kemudahan dan mobilitas, lokasi dan lingkungan sosial serta pertimbangan faktor kedisabilitasan yang dimiliki atau terdapat anggota rumah tangga yang memiliki kedisabilitasan. Berikut adalah jenis usaha rumah tangga miskin, penerima bantuan sosial kewirausahaan di Bojonggede. Kabupaten Bogor. Tabel 1 Jenis usaha rumah tangga miskin di pedesaan Jenis usaha Jumlah Tahun Bantuan Jenis jasa/produk yang dijual Latar belakang pemilihan jenis usaha Permak baju Tukang pijat dan Jasa pijat dan jual Tukang pijat dan jual Perbengkelan Warung Campuran . Warung minuman dan snack . Jasa pijat dan jual Jasa perbaikan Sembako Memiliki pengalaman Pernah belajar pijat dari jaringan pribadi . Pernah belajar pijat dari jaringan komunitas Memiliki pengalaman Kemudahan mobilititas Usaha dagang eceran keliling . Konveksi (Menjahi. Minuman dan snack . tick Kebutuhan sandang . prei, baju,sepatu,dl. Memiliki pengalaman Kemudahan mobilititas Sumber: Olahan data penelitian, 2024. Tabel diatas menunjukkan jenis usaha yang dilakukan beragam dan dipengaruhi oleh faktorfaktor yang sesuai dengan kondisi penerima bantuan. Misalnya memilih jenis usaha yang memiliki fleksibilitas waktu karena harus mengurus rumah tangga sebagaimana dikemukakan oleh informan NL Aukarena bisa sambil mengurus anak. Anak saya kan disabilitas . erebral pals. , dan waktunya lebih fleksibel (NL, 15 Agutus 2. Demikian pula informan AH Aukarena saya memiliki kedisabilitasan fisik, dan keterampilan mesin jahit lebih mudah untuk dilakukan dari pada jenis pekerjaan lainAy (AH, 22 Agutus 2. Hal ini menunjukkan bahwa faktor kedisabilitasan dapat mempengaruhi pemilihan jenis usaha pada penerima bantuan sosial kewirausahaan di Bojonggede. Kabupaten Bogor. Ada juga yang memilih jenis usaha yang tidak menimbulkan konflik dengan orang lain terutama saudara. AuKalau saya dagang sembako, saudara suami kan dagang sembako. Kan gak enak kalau kita jual sembako. Jadi saya milih yang sosis bakar ini sampai sekarang tuh. Saya lihat disini kan anak-anaknya rame, jadi milih usaha untuk jajan anak-anakAy (SM, 15 Agustus 2. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan pemilihan jenis usaha mempertimbangkan hubungan sosial yang mencerminkan noma dan nilai-nilai ikatan sosial yang sudah terbangun. Hanya sedikit penerima bantuan yang memilih jenis usaha berdasarkan Astriyana Telaumbanua & Robert M. Lawang Konversi Bentuk Kapital Untuk Pengentasan Kemiskinan Multidimensional Pada Penerima Bantuan Sosial Kewirausahaan di Kecamatan Bojonggede. Kabupaten Bogor SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 13-32 pengalaman dalam bidang usaha yang dipilih seperti usaha perbengkelan dan warung kelontong. AuKarena awalnya main motor. Motivasinya karena memang minatnya disitu. Ay (AL, 27 September 2. Pertimbangan lain adalah faktor kemudahan dalam menjalankan usaha yang tidak menimbulkan banyak resiko, termasuk memilih produk yang dijual berdasarkan pengalaman sebelumnya dan menyesuaikannya dengan produk yang lebih laku terjual dan memberi keuntungan. Pendapatan rata-rata yang diperoleh dari usaha tersebut bervariasi dari rentang Rp. Rp. 000, - yang masih dibawah upah minimum Kabupaten Bogor sebesar Rp. 541, -. Keuntungan dari hasil usaha utamanya diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, biaya kesehatan, biaya pendidikan anggota keluarga. Meskipun dukungan bantuan sosial kewirausahaan belum sepenuhnya mengeluarkan penerima bantuan dari kondisi kemiskinan, namun kewirausahaan berkontribusi menjadi sumber pendapatan dan membantu rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan Konversi kapital yang dimiliki penerima bantuan sosial kewirausahaan untuk pengentasan kemiskinan multidimensional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk kapital yang dimiliki oleh penerima bantuan sosial kewirausahaan saling berinteraksi melalui kewirausahaan untuk pengentasan kemiskinan 2 Konversi kapital ekonomi ke bentuk kapital lainnya Hasil penelitian konversi kapital ekonomi ke bentuk kapital lainnya ditemukan terjadi melalui partisipasi dalam kelompok arisan dan investasi dalam kegiatan sosial keagamaan untuk membangun kapital sosial. Investasi dalam bentuk Arisan Arisan sering dianggap sebagai tabungan oleh masyarakat di pedesaan meskipun arisan pada dasarnya tidak termasuk kategori tabungan. Kegiatan arisan dapat menjadi wadah berinteraksi dengan sesama anggota untuk memperkuat hubungan sosial dalam komunitas. Arisan mempersyaratkan setiap anggota mengeluarkan sejumlah uang yang telah disepakati bersama untuk dikumpulkan dan dikembalikan dalam waktu tertentu sesuai kesepakatan dalam kelompok. Arisan merupakan bentuk tradisional konversi kapital ekonomi ke kapital sosial yang lazim banyak ditemukan di pedesaan maupun perkotaan di wilayah Indonesia. Diantara tujuh partisipan penerima bantuan sosial kewirausahaan dalam penelitian ini, terdapat tiga orang penerima bantuan yang terlibat dalam keanggotaan arisan. AuSetiap minggu mengeluarkan uang untuk arisan sebesar 100 ribu di pengajian ibu-ibu. Tapi ikut arisan hanya untuk kebersamaan saja dan kalau sewaktu-waktu butuh uang untuk berobat bisa narik arisan, dan buat kebutuhan macam-macam juga. Ay (MSD, 17 agustus 2. Arisan memungkinkan terjadi interaksi rutin misalnya setiap minggu dengan anggota arisan Partisipasi dalam arisan tidak semata-mata untuk mendapatkan keuntungan ekonomi, namun untuk membangun ikatan sosial dengan anggota lain. Arisan dapat berfungsi sebagai wadah untuk bersosialisasi untuk membangun dan memperkuat kapital sosial, serta strategi finansial saat menghadapi kebutuhan tidak terduga. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi proses konversi kapital ekonomi ke kapital sosial melalui keterlibatan dalam kegiatan arisan. Investasi dalam kegiatan arisan tidak hanya melibatkan konversi kapital ekonomi ke kapital sosial namun juga sebaliknya dapat dimanfaatkan kembali untuk dikonversi ke kapital ekonomi. AuSaya ikut arisan 200 sampai 300 ribu per bulan, ada 3 tempat. Biasanya arisan di sekolah anak, arisan keluarga, arisan teman SMK. Karena saya bisa sekalian dagang disitu. Jadi saya bisa bawa barang, bisa sambil nawar-nawarin gitu. Kan disitu banyak temen kita kan, jadi kita bisa sambil sosialisasi kaya gitu buat dagang. Jadi tujuannya ikut arisan biar bisa dagang, bisa berteman jugaAy. (NL, 15 Agutus 2. Astriyana Telaumbanua & Robert M. Lawang Konversi Bentuk Kapital Untuk Pengentasan Kemiskinan Multidimensional Pada Penerima Bantuan Sosial Kewirausahaan di Kecamatan Bojonggede. Kabupaten Bogor SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 13-32 Keterlibatan dalam arisan tidak hanya memperkuat kapital sosial namun dapat dimanfaatkan untuk memperomosikan produk yang dijual kepada peserta arisan yang lain untuk mendapatkan Bagi sebagian penerima bantuan, arisan sebagai wadah interaksi sosial namun dapat berfungsi untuk mendukung kegiatan usaha. Hasil temuan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan jaringan yang dimiliki dapat meningkatkan peluang kegiatan kewirausahaan sekaligus menegaskan bahwa kapital ekonomi dapat dikonversi ke kapital sosial dan sebaliknya dapat dikonversi kembali menjadi bentuk kapital ekonomi. Kontribusi ekonomi dalam kegiatan sosial keagamaan Konversi kapital ekonomi ke kapital sosial juga terjadi dalam bentuk kontribusi ekonomi untuk kegiatan keagamaan. Nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran keagamaan untuk berbuat baik dan membantu orang lain diwujudkan dalam bentuk kegiatan sosial keagamaan. Hal ini mendorong kebersamaan, identitas bersama dan solidaritas diantara anggotanya dalam struktur sosial. Kontribusi ekonomi dalam kegiatan keagamaan dianggap sebagai bentuk solidaritas untuk memperkuat ikatan dan mendukung kegiatan sosial keagamaan. AuPengajian malam jumat biasanya 10 ribuan per minggu untuk infaq, seikhlasnyaAy (MSD, 17 agustus 2. Partisipasi dalam kegiatan sosial keagamaan juga dapat mengarah pada akumulasi pengetahuan dan keterampilan tetang nilai dan ajaran dalam agama yang dapat mengatur dan mempengaruhi interaksi sosial kehidupan masyarakat. Dalam hal ini terjadi konversi kapital ekonomi ke kapital sosial dan kapital budaya. Investasi dalam bentuk objectified . apital buday. Konversi kapital ekonomi ke kapital budaya dalam bentuk objectified juga terjadi dalam bentuk penyediaan alat/mesin untuk mendukung kegiatan keterampilan. Kapital ekonomi dalam bentuk objek berupa peralatan/mesin memungkinkan penerima bantuan sosial kewirausahaan mempelajari keterampilan baru seperti mengecat motor. Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan alat dapat meningkatkan pengetahuan teknis individu dimana keterampikan tersebut nantinya memiliki nilai yang dapat diakumulasi ke kapital ekonomi untuk mendapatkan pendapatan. AuKarena saya kan minta alat kompresor juga, trus saya belajar nge cat motor. Jadi sekarang bisa nge cat body motor. Minimal ada sebulan sekali orang datang nge cat body motor gitu. Ibaratnya bonusnya lah disituAy (AL, 27 September 2. Kapital budaya yang diperoleh melalui pemanfaat alat-alat atau mesin yang dimiliki untuk mendukung keterampilan dapat dikonversikan kembali ke kapital ekonomi untuk mendapatkan pendapatan dan mendukung keberlanjutan usaha. Tabel 2 Ringkasan Konversi Kapital Ekonomi Kapital Ekonomi Kapital yang Keterangan Investasi dalam Kapital Sosial Partisipasi dalam Arisan dapat memperluas jaringan bentuk Arisan sosial, membangun kepercayaan, dan memperkuat ikatan/hubungan. Bagi sebagian penerima bantuan, arisan menjadi wadah untuk promosi dan mendapatkan konsumen. Kontribusi ekonomi Kapital Sosial Investasi dalam kegiatan keagamaan membuka dalam kegiatan peluang untuk memperluas jaringan sosial, namun sosial keagamaan dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan pelanggan melalui anggota pengajian. Investasi pada Kapital budaya Bantuan kewirausahaan dalam bentuk alat usaha peralatan usaha mendorong individu untuk mempelajari keterampilan . untuk Astriyana Telaumbanua & Robert M. Lawang Konversi Bentuk Kapital Untuk Pengentasan Kemiskinan Multidimensional Pada Penerima Bantuan Sosial Kewirausahaan di Kecamatan Bojonggede. Kabupaten Bogor SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 13-32 Sumber : Olahan penelitian, 2024 baru seperti keterampilan teknis atau manual untuk memaksimalkan penggunaan alat usaha 3 Konversi kapital sosial ke bentuk kapital lainnya Konversi kapital sosial ke kapital ekonomi dapat terjadi karena pemanfaatan jaringan sosial, koneksi atau relasi, kepercayaan dan norma yang dapat memberikan keuntungan. Pemanfaatan jaringan sosial Pemanfaatan jaringan sosial pribadi, komunitas atau relasi dapat membantu rumah tangga miskin mendapatkan keuntungan ekonomi yang dapat mendukung kewirausahaan dan mendapatkan berbagai sumber daya lainnya yang sebelumnya tidak terjangkau seperti terhubung dengan bantuan dari pihak eksternal, akses dana bergulir, pemasaran produk usaha, memfasilitasi tempat berjualan, mempertemukan dengan calon pelanggan, dan mendorong penggunaan teknologi digital . Terhubung dengan bantuan eskternal Hasil temuan pada penerima bantuan sosial kewirausahaan menunjukkan kapital sosial memfasilitasi rumah tangga miskin untuk mendapatkan akses bantuan dari pihak eksternal melalui jaringan sosial dan koneksi. Interaksi sosial dan koneksi membantu penerima bantuan sosial kewirausahaan mendapatkan akses pada jaringan sosial vertikal yang sebelumnya tidak dapat Hal ini menunjukkan bahwa konversi kapital sosial ke kapital ekonomi terjadi dalam proses mendapatkan bantuan usaha termasuk keanggotaan dalam suatu komunitas. AuMelalui komunitas disabilitas. PPDI mengajukan bantuan untuk disabilitas ke Sentra Galih Pakuan di BogorAy (AH, 22 Agutus Keanggotaan dalam jaringan sosial dapat menjembatani anggotanya untuk mendapatkan akses bantuan ke berbagai lembaga pemerintah dan non pemerintah. Hal ini menunjukkan bahwa kapital sosial dapat bertransformasi menjadi kapital ekonomi melalui keanggotaan dalam suatu komunitas yang memungkinkan individu atau kelompok untuk mendapatkan akses bantuan usaha ke jaringan yang lebih luas. Mendapatkan akses dana pinjaman bergulir Pada komunitas tertentu, hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas atau kelompok dapat memfasilitasi anggotanya untuk mendapatkan bantuan dana bergulir. AuPernah dipinjemin modal bergulir sebesar 2 juta dalam 6 bulanA. Dana yang dipinjam diganti, trus dikasih ke orang lain lagi supaya semua anggota merasakan pinjaman dana ituAy (NL, 15 Agutus 2. Hal ini menciptakan kerjasama dan ikatan yang kuat di antara anggota komunitas karena keanggotaan dalam komunitas memberikan keuntungan bagi mereka yang tergabung didalamya. Bantuan dana bergulir yang diberikan oleh komunitas kepada anggota untuk dipinjam dan dikembalikan lagi tanpa ada bunga menggambarkan konversi kapital sosial ke kapital ekonomi melalui keanggotaan dalam jaringan sosial. Pemasaran produk usaha Pemasaran produk melalui jaringan sosial yang dimiliki dapat menjadi langkah bagi penerima bantuan sosial kewirausahaan untuk menjalankan usahanya. Pemasaran produk dapat dilakukan dengan cara memberitahu saudara, tetangga dan lingkungan sekitar untuk mendapatkan dukungan dan mempertemukan dengan calon pelanggan. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh informan SM AuPas mulai usaha, kita kasih tahu saudara-saudara disini kalau mau jualanA. Trus kita kasih tahu tetanggatetanggaAy (SM, 15 Agustus 2. Hal ini menunjukkan konversi kapital sosial ke kapital ekonomi terjadi melalui pemanfaatan jaringan sosial dalam bentuk pemasaran produk. Hal yang sama juga dilakukan oleh informan AuBiasanya saya ngider. Ngider itu jalan tapi tidak jauh-jauh. Misalnya nih rumah teman saya dimana, saya datangin gitu. Trus kasih bonus, misalnya dari 10 barang kita kasih 11, atau kita kasih harga murah supaya teman bisa ambil keuntungan dari penjualan ituAy(NL, 15 Agutus 2. Hal yang sama juga Astriyana Telaumbanua & Robert M. Lawang Konversi Bentuk Kapital Untuk Pengentasan Kemiskinan Multidimensional Pada Penerima Bantuan Sosial Kewirausahaan di Kecamatan Bojonggede. Kabupaten Bogor SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 13-32 dikemukakan oleh informan SM yang memanfaatkan kegiatan pengajian untuk mempromosikan usaha AuJadi biasanya setiap ada pengajian gitu, anggota pengajian pada jajan gituAy. (SM,15 Agustus 2. Memfasilitasi tempat berjualan Pada komunitas tertentu, penerima bantuan sosial kewirausahaan mendapatkan peluang untuk berdagang melalui pertemuan rutin komunitas. Hal ini dapat membantu penerima bantuan untuk mendapatkan pelanggan dan pada akhirnya meningkatkan penjualan. Aubiasanya kalau ada acara, kita dipanggil dan kita diberi kesempatan untuk membuka tenda untuk bertiga atau berempatA. kadang ada teman juga yang mau bawa dagangan saya untuk dijual lagi ke orang lain. Ay (NL, 15 Agutus 2. Pemanfaatan pertemuan komunitas untuk melakukan penjualan produk menunjukkan konversi kapital sosial ke kapital ekonomi, yang dapat meningkatkan penjualan produk usaha dan meningkatkan pendapatan. Mempertemukan dengan calon pelanggan Jaringan sosial pribadi seperti relasi dan koneksi dapat mempertemukan penerima bantuan sosial kewirausahaan dengan calon pelanggan. Hal ini dikemukakan oleh informan AL dimana lokasi bengkel yang dimilikinya tidak terletak di lokasi yang strategis karena usaha tersebut dilakukan di Namun, koneksi dengan teman memberi keuntungan karena relasi yang dimiliki memfasilitasi informan untuk mendapatkan pelanggan dan promosi dari mulut ke mulut. AuDengan cara dibawa konsumen ke saya, itu udah mendukung segitu kalau menurut saya. Ibaratnya teman saya itu ya kehidupan saya juga gitu. Ay (AL, 27 September 2. Menyesuaikan produk usaha sesuai dengan kebutuhan dan preferensi konsumen Produk yang tidak sesuai dengan kebutuhan konsumen terutama di wilayah pedesaan dapat beresiko pada kegagalan usaha. Hasil penelitian menunjukkan keputusan untuk melakukan konversi kapital didasarkan pada pengalaman penerima bantuan untuk menyesuaikan produk atau layanan yang sesuai dengan kebutuhan dan preferensi konsumen berdasarkan hasil pengamatan dan interaksi AuKalau yang frozen bakar kan, awalnya bahannya diberikan dari Sentra Galih Pakuan. Tapi kalau frozenfrozen gitu kurang laku kalau disini, gak maju. Akhirnya saya putar yang ini aja deh gitu, saya buat jenis jajanan yang anak-anak suka. Ay (SM, 15 Agustus 2. Hal ini menunjukan bahwa meskipun kapital ekonomi merupakan jenis kapital yang paling mudah dikonversi menjadi uang namun kapital sosial memainkan dimana hasil interkasi sosial dan pengamatan mendorong informan SM untuk menyesuaikan produk usaha sesuai dengan kebutuhan konsumen untuk menjaga keberlanjutan usaha. Pengembangan keterampilan melalui jaringan sosial Dalam penelitian ini, pendidikan informan paling rendah SD dan paling tinggi SMA. Hubungan sosial melalui jaringan pribadi memberikan kesempatan pada penerima bantuan untuk mendapatkan sumber daya tambahan dengan ikut serta dalam kegiatan pengembangan keterampilan yang nantinya berkontribusi membangun kapital ekonomi. Selain itu, penerima bantuan juga memanfaatkan hubungan jaringan pertemanan . apital sosia. untuk mengakses keterampilan yang diperlukan. AuPertama awalnya ngikut teman dulu, teman di bengkel sekitar sini. Saya ngikut temen di bengkel sekitar enam bulan kalau nggak salah. Istilahnya saya curi-curi ilmu dari diaAy (AL, 27 September 2. Hal ini menunjukkan bahwa memanfaatkan hubungan pertemanan, individu dapat mencari pengalaman kerja melalui pelatihan informal untuk mengembangkan keterampilan. Mendorong penggunaan teknologi digital Kapital sosial dapat berperan dalam mendorong penerima bantuan sosial kewirausahaan untuk mengadopsi teknologi digital. Hal ini terjadi pada informan MNP yang sudah setahun terakhir menggunakan handphone yang memiliki aplikasi WhatsApp. Aukan maunya hp yang biasa gitu. Tapi Astriyana Telaumbanua & Robert M. Lawang Konversi Bentuk Kapital Untuk Pengentasan Kemiskinan Multidimensional Pada Penerima Bantuan Sosial Kewirausahaan di Kecamatan Bojonggede. Kabupaten Bogor SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 13-32 orang-orang bilang, pakai HP yang ada WA gitu. Jadi beliA tetangga semua yang bantu diajarkan caranyaAy (MNP, 13 Agustus 2. Adopsi teknologi digital dapat memperkuat kapital sosial penerima bantuan sosial kewirausahaan ke ranah dalam jaringan . Hal ini menunjukkan bahwa kapital sosial dikonversi ke kapital digital melalui adopsi teknologi digital yang memungkinkan penerima bantuan terhubung dengan jaringan sosial yang lebih luas dan mempertahankan kapital sosial sudah dimiliki melalui daring. Kepercayaan Kepercayaan tidak dapat terjadi instan tetapi melalui proses interaksi sosial untuk memperkuat ikatan antara individu atau kelompok. Dalam konteks kewirausahaan, kepercayaan pelanggan memainkan peran penting dalam menjaga keberlanjutan usaha. "Orang yang sudah biasa jahit sama saya biasanya sudah tahu kualitas jahitan dan kepercayaan mereka sama saya, jadi pasti mereka jarang pindah ke lain hatiAy (AH, 22 Agutus 2. Hal ini menunjukkan bahwa kepuasan pelanggan melalui kualitas produk atau jasa yang diberikan dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan yang pada akhirnya kepercayaan tersebut memberikan keuntungan ekonomi untuk menjaga keberlanjutan usaha. Hal yang sama juga dikemuakan oleh informan AuDari mulut ke mulut dan karena kepuasan orang. Kalau orang puas dengan hasil kerja kan, akan datang lagiAy (AL, 27 September 2. Berikut ringkasan konversi kapital sosial ke berbagai bentuk kapital lainnya dalam mendukung kewirausahaan pada penerima bantuan sosial kewirausahaan: Tabel 3. Ringkasan konversi kapital sosial ke bentuk kapital lainnya Kapital Sosial Kapital yang Keterangan Peran jaringan sosial Kapital Akses bantuan dari pihak eksternal melalui jaringan sosial membantu rumah tangga miskin mendapatkan sumber daya ekonomi untuk kegiatan usaha. akses dengan Kapital sosial Pemanfaatan koneksi sosial menunjukkan adanya bantuan dari pihak perluasan jaringan yang dapat memberikan peluang sumber daya lain dan mendapatkan dukungan sosial. Peran komunitas Kapital Jaringan sosial yang dimiliki melalui keanggotaan dalam untuk mendapatkan kelompok tertentu dapat membuka akses pada dana akses dana pinjaman pinjaman untuk digunakan dalam kegiatan usaha. Pemanfaatan jaringan Kapital Pemanfaatan jaringan sosial untuk mendukung kegiatan sosial untuk usaha melalui fasilitasi tempat berjualan, mempertemukan mendukung kegiatan dengan calon pelanggan dan menyesuaikan produk usaha sesuai kebutuhan dan preferensi konsumen. Mendorong adopsi Kapital Jaringan sosial pribadi dapat mendorong penerima bantuan sosial kewirausahaan untuk mengadopsi teknologi digital teknologi digital untuk memperkuat kapital sosial dan . secara tidak langsung dapat meningkatkan kapital digital rumah tangga miskin dalam menggunakan aplikasi melalui teknologi digital. Pengembangan Kapital Kesediaan saling membantu karena adanya perasan keterampilan melalui budaya senasib dan ikatan yang kuat antara anggota yang jaringan sosial tergabung didalam kelompok untuk mengembangkan keterampilan teknis yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan usaha. Misalnya berbagi pengetahuan cara memijat dan perbengkelan Astriyana Telaumbanua & Robert M. Lawang Konversi Bentuk Kapital Untuk Pengentasan Kemiskinan Multidimensional Pada Penerima Bantuan Sosial Kewirausahaan di Kecamatan Bojonggede. Kabupaten Bogor SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 13-32 Kepercayaan Kapital Memastikan jasa/produk ditawarkan untuk menjaga kepercayaan konsumen yang berkontribusi pada keberlanjutan usaha. Sumber : olahan penelitian, 2024 4 Konversi Kapital Digital ke Bentuk Kapital Lainnya Berdasarkan riwayat akses dan penggunaan peralatan teknologi digital . he fisrt level of digital divide and second level of digital divid. hasil temuan menunjukkan masih terdapat penerima bantuan sosial kewirausahaan yang tidak memiliki akses pada teknologi digital, dua partisipan kurang dari setahun telah mengakses teknologi digital sedangkan penerima bantuan lainnya lebih dari limat tahun sudah mengakses teknologi digital melalui handhpone. Motivasi utama menggunakan teknologi digital ditemukan karena adanya dorongan dari jaringan sosial melalui relasi dan interaksi dengan pelanggan agar lebih mudah dalam berkomunikasi dan melakukan pemesanan layanan barang atau jasa. Namun, sebagian besar penerima bantuan masih kesulitan dalam menggunakan berbagai aplikasi digital yang menunjukkan bahwa penerima bantuan sosial kewirausahaan memiliki kapital digital yang rendah. Konversi kapital digital ke kapital ekonomi terjadi melalui promosi usaha menggunakan platform digital seperti WA group dan status WA, google maps untuk menunjukkan lokasi usaha dan nomor telepon yang dapat dihubungi. Tindakan ini memberikan kemudahan pencarian informasi usaha yang nantinya berpotensi mendapatkan pelanggan baru. Konversi kapital digital ke kapital budaya terjadi melalui pemanfaatan aplikasi platform digital untuk mempelajari keterampilan baru meskipun sedikit penerima bantuan sosial kewirausahaan yang melakukannya, sebagaimana dikemukakan oleh informan AL AuTapi sekarang kalau ada kesulitan banyakan saya cari solusinya di youtube. Saya nyari ilmu sekarang di youtube. Saya baca juga artikelnya, kadang-kadang nyari di GoogleAy (AL, 27 September 2. Berikut adalah ringkasan konversi kapital digital ke kapital budaya yang ditemukan pada penerima bantuan sosial kewirausahaan di pedesaan. Tabel 4 Ringkasan konversi kapital digital ke bentuk kapital lainnya Kapital Digital Kapital yang Keterangan Penggunaan teknologi Kapital sosial Penggunaan teknologi digital menjadi jembatan digital . he second level antara kapital sosial AuluringAy dengan kapital digital divid. sosial AudaringAy Kapital Ekonomi Promosi usaha melalui platform digital seperti penggunaan aplikasi whatsApp untuk mendukung kegiatan usaha. Kapital budaya Mencari informasi untuk menyelesaikan masalah . roblem solvin. melalui platform digital . untuk meningkatkan pengetahuan yang mendukung usaha. Pemanfaatan media sosial Kapital sosial dan Pemanfaatan media sosial dapat memperkuat (Wa group atau status w. kapital ekonomi kapital sosial, peluang melakukan pemasaran dan menjangkau pelanggan. Sumber : olahan penelitian, 2024 5 Faktor Pendukung dan Penghambat Proses Kapital Faktor Pendukung Kapital sosial memainkan peran penting dalam proses konversi kapital melalui relasi sosial yang Relasi sosial yang kuat dengan komunitas dan jaringan sosial pribadi melalui keluarga dan teman Astriyana Telaumbanua & Robert M. Lawang Konversi Bentuk Kapital Untuk Pengentasan Kemiskinan Multidimensional Pada Penerima Bantuan Sosial Kewirausahaan di Kecamatan Bojonggede. Kabupaten Bogor SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 13-32 memainkan peran penting dalam mendukung konversi kapital, sehingga menciptakan banyak peluang dan dukungan pada penerima bantuan sosial kewirausahaan. Relasi sosial yang kuat terjadi karena adanya proses hubuangan interaksi yang lama, saling mendukung, memiliki perasaan senasib dan solidaritas, serta kesediaan untuk membantu orang lain dalam jaringan yang dimiliki. Selain itu, jaminan atas kualitas layanan jasa yang diberikan termasuk menerima komplain menguatkan relasi penerima bantuan dengan konsumen. Hal ini menimbulkan kepercayaan dan loyalitas konsumen yang dapat berkontribusi pada keberlangsungan usaha. Faktor Penghambat Pada aspek konversi kapital ekonomi, faktor penghambat terjadi karena penerima bantuan takut mengambil resiko, misalnya menolak kredit usaha yang ditawarkan oleh lembaga keuangan karena takut tidak dapat mengembalikan pinjaman. Hal ini menunjukkan sikap yang bertolak belakang dengan seorang wirausaha yang berani mengambil risiko untuk mengembangkan usahanya. Faktor penghambat lainnya adalah infrastruktur dan peralatan yang dimiliki oleh penerima bantuan masih terbatas, serta Pada aspek konversi kapital digital ke berbagai bentuk kapital lainnya, faktor penghambat adalah sebagian besar penerima bantuan sosial kewirausahaan masih memiliki kapital digital yang rendah termasuk dalam hal akses pada perangkat digital dan konektivitas. Disisi lain masih terdapat penerima bantuan yang tidak menggunakan teknologi digital sama sekali yang menunjukkan kesenjangan digital pada level pertama . he first level digital divid. Pada aspek konversi kapital sosial, faktor penghambat berasal dari internal individu seperti kurangnya memiliki motivasi untuk membangun jaringan sosial yang lebih luas meskipun jaringan seperti relasi telah menyediakan kesempatan untuk membangun kapital sosial yang lebih luas. Faktor lainnya adalah persepsi diri yang negatif terhadap stigma sosial sebagai orang miskin dan memiliki kekurangan termasuk isu disabilitas. AuTeman share di WA. Dia kan punya perkumpulan. Terus dia dapat info dari situ, terus dia kasih tahu aku, ngajak aku, nawarin, mau ikut ini enggak, tapi aku bilang males. Ay (MNP,13 Agustus 2. Dalam hal ini, konversi kapital tidak terjadi jika individu atau kelompok tidak memanfaatkan jaringan yang dimiliki untuk mengembangkan kapital sosialnya. Faktor pengambat konversi kapital yang berkaitan dengan masalah struktural dalam penelitian ini adalah kurangnya pendampingan kepada penerima bantuan dalam mengakses jaringan pasar yang lebih luas dan kesenjangan aspirasi penerima manfaat dengan arahan program. Faktor penghambat lainnya adalah kebiasaan masyarakat pada utang di warung kelontong yang menghambat konversi kapital ekonomi dan berpotensi merusak kapital sosial yang ada, ketidakmampuan melawan persaingan usaha pada bidang yang sama karena kurangnya inovasi, keterbatasan peralatan dan stock barang, lokasi usaha yang kurang strategis, keterbatasan jaringan dan relasi sosial, resistensi terhadap usaha kelompok serta keterbatasan pengetahuan dan keterampilan penerima manfaat Pembahasan Konversi kapital dalam konteks penerima bantuan sosial kewirausahaan menunjukkan bahwa jenis kapital seperti sosial, ekonomi, embodied dan digital saling berinteraksi. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada satu pun kapital yang dapat berdiri sendiri karena semuanya saling berinteraksi (Bottero, 2. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya bahwa dalam konteks kewirausahaan, konversi kapital tidak hanya melibatkan dua jenis kapital namun melibatkan bentuk kapital lainnya (Pret et al. , 2. Hasil penelitian ini juga berbeda dengan penelitian pada pengusaha kerajinan dimana kapital simbolik yang memainkan peran penting dalam proses konversi kapital (Pret et al. , 2. Sedangkan hasil temuan pada penerima bantuan sosial kewirausahaan, kapital sosial cenderung lebih dominan pada proses konversi kapital. Hal ini menunjukkan bahwa kapital sosial berpengaruh pada kegiatan usaha rumah tangga miskin (Shepherd et al. , 2. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya bahwa pemberdayaan masyarakat membutuhkan kapital sosial agar dapat meningkatkan perekonomian masyarakat (Suri et al. , 2. Astriyana Telaumbanua & Robert M. Lawang Konversi Bentuk Kapital Untuk Pengentasan Kemiskinan Multidimensional Pada Penerima Bantuan Sosial Kewirausahaan di Kecamatan Bojonggede. Kabupaten Bogor SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 13-32 Bantuan sosial kewirausahaan yang diterima oleh penerima manfaat berinteraksi dengan pengetahuan dan keterampilan yang sudah dimiliki sebelumnya . , yang membentuk habitus penerima bantuan berdasarkan pengalaman sosial yang terus menerus dan berulang-ulang serta bertahan lama, sehingga sudah tertanam atau terinternalisasi dalam diri mereka melalui proses yang Misalnya pada informan SM yang menerima bantuan peralatan memasak dan bahan makanan. SM mampu mengelola usahanya karena sudah memiliki bakat dan keterampilan yang sudah tertanam . dan berpengalaman dalam memasak aneka makanan ringan atau jajan. Hal ini kemudian tidak menyulitkan bagi penerima bantuan ketika harus beradaptasi dengan kebutuhan dan preferensi konsumen agar usaha yang dilakukan tetap berjalan. Keterampilan yang sudah dimiliki . melalui pengalaman dapat dimanfaatkan untuk mengelola aset produktif untuk mendapatkan kapital ekonomi. Dalam hal ini, konsep habitus Bourdieu memungkinkan wirausaha memahami dan mengenali peluang (Shingirai, 2. Kapital embodied berinteraksi dengan kapital sosial dalam bentuk pemahaman preferensi konsumen mendorong wirausaha menyesuaikan produk, yang kemudian dikonversi ke kapital ekonomi untuk mendapatkan Hal ini sejalan dengan penelitian Zelekha & Dana . yang menyebutkan bahwa kapital sosial ketika berinteraksi dengan kapital budaya dapat memberikan hasil yang positif. Embodied dalam bentuk keterampilan ditemukan pada penerima bantuan yang memiliki jenis usaha yang memerlukan keahlian teknis seperti perbengkelan, jasa pijat, konveksi, dan penjual makanan ringan dan minuman. Sedangkan pada jenis usaha lainnya seperti usaha warung dan pedagang eceran keliling, pengetahuan diperoleh dari hasil pengalaman berinteraksi dengan jaringan sosial yang dimiliki. Hal ini menunjukkan bahwa konversi kapital tidak serta merta dapat langsung berhasil karena ada beberapa kondisi dan konteks tertentu yang perlu diperhatikan (James et al. , 2. Berikut adalah proses konversi kapital yang terjadi dalam konteks kewirausahaan pada penerima bantuan sosial kewirausahaan pedesaan di Bojonggede. Kabupaten Bogor. Dukungan bantuan sosial Objectified . eralatan/mesin/ase t produkti. Embodied (Pengetahuan. Kapital Digital Kapital Ekonomi . ang, aset produkti. Kapital Sosial . aringan sosial seperti relasi, koneksi, komunita. Gambar 1. Konversi kapital pada penerima bantuan sosial kewirausahaan Sumber : Olahan penelitian, 2024 Konversi kapital ekonomi ke kapital sosial terjadi melalui investasi dalam kegiatan arisan . ocial gathering. dan kontribusi ekonomi pada kegiatan sosial keagamaan. Hasil pendapatan yang diperoleh dari kegiatan kewirausahaan sebagian digunakan untuk membayar arisan karena dilandasi motif untuk memperkuat kapital sosial. Bagi sebagian penerima bantuan, keikutsertaan dalam arisan dilandasi motif untuk mendapatkan pelanggan, mempromosikan usaha dan mendapatkan dana Astriyana Telaumbanua & Robert M. Lawang Konversi Bentuk Kapital Untuk Pengentasan Kemiskinan Multidimensional Pada Penerima Bantuan Sosial Kewirausahaan di Kecamatan Bojonggede. Kabupaten Bogor SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 13-32 Begitu pula halnya kegiatan sosial keagamaan yang tidak hanya membangun nilai-nilai spritual, namun dapat menjadi sarana untuk saling membantu satu sama lain melalui kontribusi dana Bagi penerima bantuan lain, kegiatan sosial keagamaan dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan konsumen. Konversi kapital ekonomi ke kapital budaya terjadi dalam bentuk embodied dan objectified. Dukungan bantuan sosial kewirausahaan dalam bentuk objectified dapat dimanfaatkan oleh penerima bantuan untuk mendapatkan pendapatan . apital ekonom. melalui keterampilan yang sebelumnya sudah tertanam dan dimiliki . oleh penerima bantuan. Selain memanfaatkan hasil usaha . apital ekonom. untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, sebagian penerima bantuan memiliki upaya untuk melakukan investasi pada peralatan usaha . untuk mengembangkan keterampilan yang mendukung kegiatan usaha meskipun kapital ekonomi yang diinvestasikan tidak Konversi kapital sosial ke bentuk kapital ekonomi terjadi dalam bentuk pemanfaatan jaringan sosial dan kepercayaan. Jaringan sosial menghubungkan penerima bantuan dengan bantuan dari pihak eskternal, mendapatkan akses dana pinjaman bergulir, pemasaran produk usaha, fasilitasi tempat berjualan, mempertemukan dengan calon pelanggan, menyesuaikan produk usaha sesuai dengan kebutuhan dan preferensi konsumen, mendorong penggunaan teknologi digital. Hasil penelitian menunjukan bahwa rumah tangga miskin yang memiliki kapital sosial yang tinggi cenderung lebih mendapatkan keuntungan karena mendapatkan lebih banyak pelanggan yang pada akhirnya berkontribusi pada pendapatan. Kewirausahaan tidak hanya memungkinkan rumah tangga miskin mendapatkan sumber daya ekonomi . , tetapi mereka juga memperkuat hubungan sosial dan ikatan yang erat dengan jaringan yang dimiliki. Disamping itu juga ditemukan bahwa kepercayaan dalam bentuk kualitas layanan jasa/produk mendorong terbentuknya loyalitas konsumen yang berkontribusi pada keberlanjutan usaha. Jaringan sosial yang dimiliki juga dapat membantu rumah tangga miskin mendapatkan akses bantuan yang diperlukan termasuk bantuan kewirausahaan. Misalnya keanggotaan dalam suatu organisasi atau komunitas dapat membantu rumah tangga miskin mendapatkan sumber daya yang diperlukan baik dalam bentuk pengembangan keterampilan dan kebutuhan dasar. Organisasi atau komunitas memberikan informasi yang dapat membantu menghubungkan antara penerima manfaat dengan institusi pemerintah dan pihak eksternal lainnya. Diantara penerima bantuan lainnya, penerima bantuan yang memiliki kedisabilitasan atau anggota rumah tangga yang disabilitas ditemukan memiliki ikatan yang lebih kuat dalam komunitas yang mereka ikuti karena adanya rasa solidaritas, perasaan senasib dan saling memahami dalam mendukung kegiatan usaha. Hasil penelitian juga menemukan bahwa kapital sosial memainkan peran penting dalam mendorong adopsi penggunanan teknologi digital pada penerima bantuan sosial kewirausahaan. Hasil temuan ini sejalan dengan temuan pada penelitian sebelumnya bahwa alasan utama seseorang mengakses media digital biasanya karena memenuhi tuntutan yang berkaitan dengan kapital sosial atau kapital budaya (Villanueva-Mansilla et al. , 2. Dorongan dan dukungan sosial untuk mengadopsi teknologi digital menunjukkan adanya proses konversi dari kapital sosial ke kapital Akses pada teknologi digital memungkinkan penerima bantuan sosial kewirausahaan meningkatkan kapital digital, mendapatkan informasi dan berpatisipasi dalam aktivitas sosial yang sebelumnya tidak diperoleh. Dalam hal ini tuntutan sosial dapat mempengaruhi kehidupan rumah tangga miskin untuk mengadopsi dan mengakses teknologi digital. Kesimpulan Konversi kapital ekonomi, sosial dan digital melalui kewirausahaan memiliki peran penting dalam upaya pengentasan kemiskinan multidimensional di kalangan penerima bantuan sosial kewirausahaan di Kecamatan Bojonggede. Kabupaten Bogor. Proses konversi kapital ekonomi ke kapital sosial terjadi melalui investasi dalam kegiatan arisan dan kontribusi ekonomi pada kegiatan sosial keagamaan. Partisipasi dalam kelompok seperti arisan dan kegiatan keagamaan terbukti dapat menguatkan Astriyana Telaumbanua & Robert M. Lawang Konversi Bentuk Kapital Untuk Pengentasan Kemiskinan Multidimensional Pada Penerima Bantuan Sosial Kewirausahaan di Kecamatan Bojonggede. Kabupaten Bogor SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 13-32 jaringan relasi sosial. Konversi kapital ekonomi ke kapital budaya juga dapat terjadi dalam bentuk investasi peralatan/mesin yang mendukung pengembangan keterampilan untuk digunakan dalam pengembangan usaha. Konversi kapital sosial ke kapital ekonomi juga ditemukan terjadi dalam bentuk pemanfaatan jaringan sosial dan koneksi untuk memperoleh akses bantuan eksternal, dana pinjaman, serta dukungan pemasaran dan pelatihan keterampilan. Hal ini membantu penerima bantuan sosial kewirausahaan untuk memperoleh pendapatan melalui kewirausahaan. Konversi kapital sosial ke kapital digital juga terjadi melalui dukungan relasi sosial yang mendorong penerima bantuan untuk mengadopsi teknologi digital untuk memperkuat kapital sosial luring ke ranah daring. Konversi ini dapat membuka potensi bagi penerima bantuan sosial kewirausahaan untuk memperoleh keterampilan digital dan melakukan pemasaran melalui status WhatsApp atau WA group. Konversi kapital digital ke kapital ekonomi ditemukan masih terbatas pada bentuk pemasaran usaha dan pemesanan layanan barang atau jasa menggunakan platform digital seperti WhatsApp. Temuan menunjukkan penerima bantuan sosial kewirausahaan mengunakan teknologi digital untuk memperkuat kapital sosial yang sebelumnya sudah terbangun. Sebagian penerima bantuan sosial kewirausahaan masih mengalami hambatan dalam hal konektivitas dan kompetensi digital yang menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan digital tingkat pertama dan kedua . he first level of digital divide and the second level of digital divid. Ikatan relasi sosial yang kuat mendukung proses konversi kapital untuk memperoleh sumber daya lain yang sebelumnya tidak terjangkau. Namun, disisi lain terdapat faktor penghambat yang berasal dari faktor strukturan dan internal seperti motivasi diri yang rendah, takut mengambil resiko, dan ketergantungan pada utang dan kurangnya kapital digital menjadi faktor penghambat proses konversi. Temuan lainnya adalah bahwa pendampingan terhadap penerima bantuan kewirausahaan ini masih belum optimal terutama dalam menghubungkan penerima bantuan dengan jangkauan pasar yang lebih luas. Sebagian besar penerima bantuan sosial kewirausahaan dalam penelitian ini masih menjalankan usahanya dalam lingkungan yang terbatas dimana konsumen utama adalah keluarga, tetangga dan teman. Oleh karena itu, temuan ini menegaskan bahwa pendekatan integratif melalui konversi kapital diperlukan dalam mendukung pemberdayaan ekonomi berbasis kewirausahaan pada rumah tangga miskin untuk meningkatkan kesejahteraan merekaProgram kemitraan konservasi yang berjalan memiliki kebermanfaatan bagi kelompok masyarakat desa hutan konservasi untuk dapat melestarikan, menjaga serta mengelola kawasan dengan bertanggung jawab. Kemitraan konservasi cukup efektif dalam meningkatkan kesejahteraan petani dengan peningkatan pendapatan petani sebesar 4-30 Juta rupiah/tahun hingga dapat membeli kendaraan bermotor, efektif dalam meningkatkan tutupan tanaman pokok sebesar 35% dan efektif meningkatkan kesadaran petani untuk menjaga kelestarian kawasan konservasi. Hubungan antara efektivitas program pemberdayaan masyarakat dengan program kemitraan konservasi memiliki hubungan yang cukup signifikan dan berkorelasi kuat serta kemudahan interaksi dengan penyuluh. Kebermanfaatan yang ditimbul dengan adanya program kemitraan konservasi turut memberdayakan masyarakat sekitar hutan. Dampak yang ditimbulkan secara ekologi dapat menjaga ketersediaan air saat kemarau, berkurangnya banjir dan kemunculan satwa liar namun dari partisipasi petani dalam penanaman tanaman pokok masih cukup Dampak secara sosial anggota kelompok terjadi kemudahan interaksi pertemuan lebih antar petani dan penyuluh. Hal ini karena adanya pertemuan rutin yang difasilitasi oleh pihak Resort Wonoasri. Saran Program pengentasan kemiskinan multidimensional semestinya tidak hanya berfokus pada pengembangan kapital ekonomi semata, namun mengintegrasikannya dengan aspek kapital lainnya seperti kapital sosial, kapital budaya . mbodied, objectified, institutionalize. , kapital digital dan Astriyana Telaumbanua & Robert M. Lawang Konversi Bentuk Kapital Untuk Pengentasan Kemiskinan Multidimensional Pada Penerima Bantuan Sosial Kewirausahaan di Kecamatan Bojonggede. Kabupaten Bogor SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 13-32 bentuk-bentuk kapital lainnya yang terbatas dimiliki oleh penerima bantuan sosial kewirausahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapital sosial, embodied, objectified dan digital sama pentingnya dengan kapital ekonomi dalam mendukung keberhasilan kewirausahaan. Oleh karena itu, program pemberdayaan perlu memperhatikan bagaimana membangun dan meningkatkan kapital penerima bantuan . apital ekonomi, sosial, embodied, objectified dan digita. dan melakukan pendampingan yang intensif seperti menghubungkan dengan jaringan pasar yang lebih luas, memasarkan produk, memfasilitasi penerima bantuan untuk mendapatkan konsumen yang lebih luas, meningkatkan keterampilan digital dan sebagainya. Hasil temuan ini mungkin dapat saja berbeda pada konteks wilayah lain yang memiliki karakteristik sosial ekonomi yang berbeda. Beberapa partisipan dalam penelitian ini juga memiliki keterbatasan akses pada teknologi digital yang membatasi dalam mengeksplorasi potensi kapital digital untuk pengetasan kemiskinan pada penerima bantuan sosial kewirausahaan. Keterbatasan ini dapat memberikan peluang untuk penelitian lebih lanjut dalam memahami interaksi kapital sosial dan kapital digital pada penerima bantuan sosial kewirausahaan di wilayah yang memiliki karakteristik yang berbeda. Ucapan terima kasih. Kami mengucapkan terimakasih kepada Pusat Pendidikan Pelatihan dan Pengembangan Profesi Kementerian Sosial RI. Program Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia. Sentra Galih Pakuan di Bogor, partisipan dan para pihak yang telah mendukung dalam penelitian ini. Daftar Pustaka