Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 1. Januari-April 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN : 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 1. Januari-April 2024 Prodi Pendidikan Sosiologi Sosiologi http://journal. id/index. php/equilibrium Penerapan Model Pembelajaran Berdiferensiasi Untuk Meningkatkan Keterampilan Membaca Intensif Buku Fiksi Bahasa Indonesia Andi wapa1. Ida Bagus Putrayasa2. I Nyoman Sudiana3 Program Pascasarjana Pendas. Universitas Pendidikan Ganesha E-mail: wapaandi5@gmail. Program Pascasarjana Pendas. Universitas Pendidikan Ganesha E-mail: ib. putrayasa@undiksha. Program Pascasarjana Pendas. Universitas Pendidikan Ganesha E-mail: nyoman. sudiana@undiksha. Abstract. This research aims to obtain an overview of the application of a process approach with a differentiated learning model to improve intensive reading skills in fiction books in Indonesian language This type of research is descriptive qualitative research with the research subjects being 19 students in class Vi MTs Sabielil Muttaqien. At the first meeting, the intensive reading activity of 3 fiction books with the same story with a maximum duration of 10 minutes was achieved even though many students' intensive reading time duration reached the maximum time limit that had been determined. In meeting II with a different story, the same number of sheets as meeting I, namely 3 sheets, and a different time duration from meeting I, namely a maximum of 8 minutes, can be achieved with a more increased time duration than meeting I. In meeting i with a different story different from meeting II, the number of sheets is greater than meeting II, namely 5 sheets, and the time duration is the same as meeting II, namely a maximum of 8 minutes, which can be achieved with an increased time duration even with more story sheets. This shows that students' intensive reading skills are increasing. Keywords : Learning Outcomes. Reading Skills. Differentiated Models Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang penerapan pendekatan proses dengan model pembelajaran berdiferensiasi untuk meningkatkan keterampilan membaca intensif buku fiksi pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan subjek penelitian peserta didik kelas Vi MTs Sabielil Muttaqien yang berjumlah 19 anak. Pada pertemuan I kegiatan membaca intensif buku fiksi dengan cerita yang sama sebanyak 3 lembar dengan durasi waktu maksimal 10 menit dapat tercapai meskipun durasi waktu membaca intensif peserta didik banyak yang mencapai batas maksimal durasi waktu yang telah ditentukan. Pada pertemuan II dengan cerita yang berbeda, jumlah lembar yang sama dengan pertemuan I yaitu sebanyak 3 lembar , dan durasi waktu yang berbeda dengan pertemuan I yaitu maksimal 8 menit, dapat tercapai dengan durasi waktu lebih meningkat daripada pertemuan I. Pada pertemuan i dengan cerita yang berbeda dengan pertemuan II, jumlah lembar yang lebih banyak dari pertemuan II yaitu sebanyak 5 lembar, dan durasi waktu yang sama dengan pertemuan II yaitu maksimal 8 menit, dapat tercapai dengan durasi waktu lebih meningkat meskipun dengan lembar cerita yang lebih Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan membaca intensif peserta didik semakin meningkat. Kata Kunci : Hasil Belajar. Keterampilan Membaca. Model Berdiferensiasi Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 1. Januari-April 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN : 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 PENDAHULUAN Membaca merupakan salah satu dari empat keterampilan dalam berbahasa, yang mana keterampilan dalam berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis (Suratimah. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut seseorang untuk memiliki pengetahuan seluas-luasnya. Untuk itu, keterampilan membaca sebagai salah satu keterampilan berbahasa sangat penting untuk diajarkan kepada peserta didik sebaik mungkin untuk menciptakan suatu generasi bangsa yang dapat memperoleh pengetahuan baru yang disampaikan melalui tulisan dengan membaca. Keterampilan membaca menjadi sangat penting karena dapat meningkatkan mutu siswa dalam indicator literasi baca karena secara komplek Indonesia sudah tertinggal dibidang literasi. Misalnya dengan masalah yang sudah dihadapi indonesia hanya mampu menjadi peringkat ke-44 dari 49 negara ditahun 2015 dibidang sains. Kemudian diikuti hasil surver dari bidang matermatika yang juga menempati peringkat ke-44 dari 47 negara yang disurvey. Sehingga dapat disimpulkan Indonesia selalu memiliki kemampuan dibawah rata-rata dari berbagai negara yang disurvey. Selain itu juga diterangkan dalam tabel PISA yang juga menempati peringkat 74 dari 79 pada tahun 2018 dari negara yang mengikuti survey hal ini membuktikan bahwa Indonesia juga masih belum mampu bersaing dengan negara lain terutama dalam bidang sains. Untuk itu perlu adanya perubahan yang bisa mengangkat prestasi Indonesia di tingkat internasional. Melihat dari paparan yang sangat memprihatinkan ini juga timbul beberapa pernyataan yang mengatakan bahwa kurikulum di Indonesia tidak sesuai dengan perkembangan zaman yang seharusnya digunakan. Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitban. Kemdikbud. Totok Suprayitno, menyampaikan bahwa peningkatan capaian Indonesia tahun 2015 cukup memberikan optimisme, meskipun masih rendah dibanding rerata OECD. Berdasar nilai rerata, terjadi peningkatan nilai PISA Indonesia di tiga kompetensi yang diujikan. Peningkatan terbesar terlihat pada kompetensi sains, dari 382 poin pada tahun 2012 menjadi 403 poin di tahun 2015. Dalam kompetensi matematika meningkat dari 375 poin di tahun 2012 menjadi 386 poin di tahun Kompetensi membaca belum menunjukkan peningkatan yang signifikan, dari 396 di tahun 2012 menjadi 397 poin di tahun 2015. Peningkatan tersebut mengangkat posisi Indonesia 6 peringkat ke atas bila dibandingkan posisi peringkat kedua dari bawah pada tahun 2012. Berdasarkan persoalan PISA yang sudah dipaparkan memang mengkategorikan 2 indikator yaitu matematika dan sains, tetapi dalam kondisi tersebut terdapat peran keterampilan membaca yang perlu ditingkatkan sehingga di Pendidikan abad 21 ini keterampilan baca masuk dalam kategori perbaikan pemerintah dalam memperbaiki Pendidikan dimasa depan. Memahami pentingnya keterampilan membaca intensif yang harus dimiliki peserta didik, berdasarkan observasi dari hasil AKM di Kelas Vi MTs Sabielil Muttaqien dan kuesioner yang diberikan pada peserta didik kelas Vi sebelum melakukan penelitian, masih terdapat masalah bahwa keterampilan membaca intensif peserta didik masih belum sesuai dengan harapan. Peserta didik masih kesulitan dalam memahami isi bacaan dari teks yang telah dibacanya. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan peserta didik dalam membaca intensif masih belum sesuai dengan harapan, serta model pembelajaran yang digunakan oleh guru kurang mendorong peserta didik untuk aktif karena masih kurang sesuai dengan minat belajar dan gaya belajar peserta didik sehingga mengakibatkan peserta didik kurang semangat dalam belajar. Menurut (El Moutawaqil & Nisa, 2. Untuk mengatasi masalah tersebut guru harus bisa membuat suasana pembelajaran lebih menyenangkan dan melibatkan peserta didik agar termotivasi dalam mengikuti pembelajaran. Dalam pembelajaran ini, peneliti sebagai fasilitator harus bisa mengelola pembelajaran di kelas dengan baik. Salah satunya yaitu pemilihan pendekatan dalam pembelajaran dan penggunaan model pembelajaran yang sesuai dengan minat belajar serta gaya belajar peserta didik. Oleh karena itu, untuk meningkatkan keterampilan membaca intensif peneliti menggunakan pendekatan proses dengan model pembelajaran berdiferensiasi. Pendekatan proses merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses belajar, aktivitas dan kreativitas peserta didik dalam memperoleh pengetahuan. Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 1. Januari-April 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN : 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 keterampilan, nilai dan sikap, serta menerapkan dalam kehidupan sehari Aehari (Pohan & Dafit, 2. Dengan pendekatan proses ini, peserta didik diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan pengetahuan, sikap, pengalaman, dan keterampilannya dalam pembelajaran. Sedangkan model pembelajaran berdiferensiasi merupakan suatu pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar peserta didik. Menurut (Tilamsari et al. , 2. mengemukakan bahwa pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas dan memenuhi kebutuhan belajar individu setiap peserta didik. Pembelajaran ini didasarkan pada kebutuhan peserta didik dan memberikan keleluasaan kepada peserta didik untuk meningkatkan potensinya sesuai dengan kesiapan belajar, minat belajar dan gaya belajar peserta didik (Fitra, 2. Selain dari persoalan dan harapan yang diinginkan oleh peneliti, hal ini juga didukung oleh penelitian terdahulu yang dianggap relevan dalam keberhasilan penelitian ini diantaranya: Penelitian dilakukan oleh (Sunarsih Et. al, 2. menerangkan bahwa Pelaksanaan pembelajaran keterampilan menceritakan kembali cerpen dengan metode mind mapping, siswa bersemangat dan suasana kelas menjadi lebih aktif. Peningkatan keterampilan menceritakan kembali cerpen dengan metode mind mapping siswa pada siklus I . %) dan siklus II . %). Tetapi yang tak kalah penting dalam penelitian ini adanya peningkatan dalam keterampilan membaca siswa. Penelitian oleh (Saleh et al. , 2. yang menerangkan model pembelajaran berdifrensiasi dapat berpengaruh terhadap keterampilan berbicara pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, hal ini ditandai adanya perbedaan hasil belajar dengan menunjukkan angka sebesar 0. 000, nilai tersebut < 0. 05 yang H0 ditolak dan H1 diterima yang artinya terdapat perbedaan rata-rata kontrol dengan eksperimen. Berdasarkan penelitian yang relevan juga memberikan pengaruh yang berbeda dari sebelumnya artinya penelitian dengan model berdiferensiasi perlu dilakukan penelitian guna mendapatkan informasi baru dilokasi penelitian yang baru. Penelitian ini dilakukan di MTs Sabielil Muttaqien yang tentu akan memiliki perbedaan tidak hanya berdasarkan lokasi penelitian, tetapi perbedaan dapat dilihat dari jenis perlakuan penelitian hingga memahami lebih jauh penerapan model berdiferensiasi yang dapat meningkatkan pada keterampilan membaca. Proses penerapan model berdifrensiasi perlu dilihat dibagian mana bisa meningkatkan keterampilan membaca sehingga pada hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan seorang guru Ketika memberikan perlakuan kegiatan belajar mengajar. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif jenis deskripsi mengkaji tentang fenomena yang terjadi dilapangan yang peneliti sebagai indikator utama dalam pengambilan data dilapangan (Sugiyono. Selain itu (Suminar et. al, 2. berpendapat mengenai Metode deskriptif merupakan proses pengumpulan data dasar secara deskriptif semata-mata, tanpa keperluan untuk mencari atau menjelaskan hubungan antar variable. Penelitian ini bertempat di MTs Sabielil Muttaqien Maesan Bondowoso. Penelitian dilakukan pada kelas Vi dengan jumlah siswa sebanyak 19 siswa. Pengumpulan data secara kualitatif lebih menekankan pada keinginan peneliti karena peneliti sekaligus menjadi instumen penelitian (Abdillah, 2. adapaun Teknik yang digunakan penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, kuesioner, wawancara, dan Adapun tahap-tahap prosedur dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Tahap persiapan Menelaah materi pelajaran Bahasa Indonesia untuk Kelas Vi MTs Sabielil Muttaqien yaitu pada materi buku fiksi Memberikan kuesioner kepada subjek penelitian Membuat desain kegiatan penelitian di kelas. Tahap pelaksanaan Memberikan penjelasan secara singkat dan menyeluruh kepada peserta didik kelas Vi MTs Sabielil Muttaqien sehubungan dengan penelitian yang akan dilakukan. Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 1. Januari-April 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN : 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Melaksanakan penelitian yaitu dengan melaksanakan desain kegiatan yang telah disiapkan dengan 3 kali pertemuan. Peserta didik melaksanakan kegiatan membaca intensif buku fiksi dengan pendekatan proses. Selanjutnya, peserta didik menunjukkan keterampilan membaca yang telah diperoleh dari membaca intensif sesuai dengan minat belajar dan gaya belajarnya sesuai dengan model pembelajaran yang dilaksanakan yaitu model pembelajaran berdiferensiasi. Refleksi Pada tahap akhir, peneliti melakukan kegiatan refleksi untuk mengkaji dan mempertimbangkan hasil yang diperoleh pada setiap pertemuan. Refleksi dilakukan juga untuk mencegah adanya hambatan atau kesulitan pada setiap pertemuan yang dilakukan pada saat Data hasil perubahan setelah pertemuan pertama, dianalisis kemudian dijadikan acuan untuk perbaikan pada pertemuan kedua, dan data hasil perubahan setelah pertemuan kedua, dianalisis kemudian dijadikan acuan untuk perbaikan pada pertemuan ketiga. Teknik analisis data merukapan hal yang sangat krusial dimana dalam pemilihan data harus sesuai dengan tujuan penelitian, data dilapangan akan berbeda-beda sehingga dibutuhkan analisis data (Wapa, 2. Adapun analisis data dalam penelitian ini meliputi 3 langkah pokok yaitu: . reduksi data, . penyajian data, . verifikasi kesimpulan. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Pada pertemuan I peserta didik diberikan buku fiksi berupa cerita pendek dengan cerita yang sama, jumlah lembar yang sama yaitu sebanyak 3 lembar dan dengan durasi waktu membaca intensif yang sama yaitu selama 10 menit. Cerita pendek tersebut harus dibaca dan dipahami dalam waktu maksimal 10 menit, kemudian peserta didik diharuskan menceritakan kembali isi cerita tanpa melihat kembali cerita yang telah dibaca dan dipahami. Tabel 1. Hasil membaca pada pertemuan I Durasi KODE SISWA Durasi waktu membaca yang ditentukan Keterangan 10 Menit 10 Menit Tercapai 10 Menit 10 Menit Tercapai 10 Menit 9 Menit Tercapai 10 Menit 9 Menit Tercapai 10 Menit 9 Menit Tercapai 10 Menit 10 Menit Tercapai 10 Menit 10 Menit Tercapai 10 Menit 7 Menit Tercapai 10 Menit 10 Menit Tercapai 10 Menit 10 Menit Tercapai 10 Menit 8 Menit Tercapai 10 Menit 10 Menit Tercapai Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 1. Januari-April 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN : 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 10 Menit 9 Menit Tercapai 10 Menit 10 menit Tercapai 10 Menit 10 menit Tercapai 10 Menit 9 Menit Tercapai 10 Menit 10 menit Tercapai 10 Menit 9 Menit Tercapai 10 Menit 9 Menit Tercapai Berdasarkan dari perolehan data pada tabel tersebut menunjukkan bahwa kegiatan membaca intensif buku fiksi dengan cerita yang sama sebanyak 3 lembar dengan durasi waktu maksimal 10 menit dapat tercapai meskipun durasi waktu membaca intensif peserta didik banyak yang mencapai batas maksimal durasi waktu yang telah ditentukan. Pada pertemuan II peserta didik diberikan buku fiksi berupa cerita pendek dengan cerita yang berbeda dengan pertemuan I, jumlah lembar yang sama yaitu sebanyak 3 lembar dan durasi waktu membaca yang berbeda dengan pertemuan I yaitu dengan durasi membaca intensif maksimal selama 8 menit. Cerita pendek tersebut harus dibaca dan dipahami dalam waktu maksimal 8 menit, kemudian peserta didik diharuskan menceritakan kembali isi cerita tanpa melihat kembali cerita yang telah dibaca dan dipahami. Tabel 2. Hasil Membaca pada Pertemuan II Kode Siswa Durasi waktu Durasi Keterangan 8 Menit 6 Menit Tercapai 8 Menit 6 Menit Tercapai 8 Menit 5 Menit Tercapai 8 Menit 3 Menit Tercapai 8 Menit 5 Menit Tercapai 8 Menit 5 Menit Tercapai 8 Menit 6 Menit Tercapai 8 Menit 4 Menit Tercapai 8 Menit 5 Menit Tercapai 8 Menit 6 Menit Tercapai 8 Menit 3 Menit Tercapai 8 Menit 4 Menit Tercapai 8 Menit 3 Menit Tercapai Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 1. Januari-April 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN : 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 8 Menit 7 menit Tercapai 8 Menit 4 menit Tercapai 8 Menit 6 Menit Tercapai 8 Menit 3 menit Tercapai 8 Menit 3 Menit Tercapai 8 Menit 4 Menit Tercapai Berdasarkan dari perolehan data pada tabel tersebut menunjukkan bahwa kegiatan membaca intensif buku fiksi pada pertemuan II dengan cerita yang berbeda, jumlah lembar yang sama yaitu sebanyak 3 lembar, dan durasi waktu yang berbeda yaitu maksimal selama 8 menit, dapat tercapai dengan durasi waktu lebih meningkat daripada pertemuan I. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan membaca peserta didik meningkat. Pada pertemuan i peserta didik diberikan buku fiksi berupa cerita pendek dengan cerita yang berbeda dengan pertemuan II, jumlah lembar cerita sebanyak 5 lembar, berbeda dengan pertemuan I dan II yang hanya 3 lembar dan dengan durasi waktu yang sama dengan pertemuan II yaitu dengan durasi membaca intensif maksimal selama 8 menit. Cerita pendek tersebut harus dibaca dan dipahami dalam waktu maksimal 8 menit, kemudian peserta didik diharuskan menceritakan kembali isi cerita tanpa melihat kembali cerita yang telah dibaca dan dipahami. Tabel 3. Hasil Membaca pada Pertemuan i Durasi Kode Siswa Durasi waktu membaca yang Keterangan 8 Menit 7 Menit Tercapai 8 Menit 7 Menit Tercapai 8 Menit 6 Menit Tercapai 8 Menit 6 Menit Tercapai 8 Menit 6 Menit Tercapai 8 Menit 6 Menit Tercapai 8 Menit 6 Menit Tercapai 8 Menit 6 Menit Tercapai 8 Menit 7 Menit Tercapai 8 Menit 7 Menit Tercapai 8 Menit 6 Menit Tercapai 8 Menit 7 Menit Tercapai Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 1. Januari-April 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN : 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 8 Menit 6 Menit Tercapai 8 Menit 7 menit Tercapai 8 Menit 6 menit Tercapai 8 Menit 6 Menit Tercapai 8 Menit 6 menit Tercapai 8 Menit 6 Menit Tercapai 8 Menit 6 Menit Tercapai Berdasarkan dari perolehan data pada tabel tersebut menunjukkan bahwa kegiatan membaca intensif buku fiksi pada pertemuan i dengan cerita yang berbeda dengan pertemuan II, jumlah lembar yang lebih banyak dari pertemuan II yaitu sebanyak 5 lembar, dan durasi waktu yang sama dengan pertemuan II yaitu maksimal selama 8 menit, dapat tercapai dengan durasi waktu lebih meningkat meskipun dengan lembar cerita yang lebih banyak. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan membaca intensif peserta didik semakin meningkat. PEMBAHASAN Model pembelajaran berdifrensiasi memang menjadi model yang sering digunakan oleh peneliti yang diharapkan dapat memberikan hasil berbeda dari sebelumnya karena memang terdapat implikasi baik Ketika menerapkan model tersebut. Pada penelitian ini sudah dipaparkan dan terjadi peningkatan dalam keterampilan membaca yang dilakukan oleh peneliti. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh (Suratimah, 2. bahwa ada 3 strategi yang dapat dilakukan dalam pembelajaran berdiferensiasi yaitu diferensiasi konten atau materi, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk. Selanjutnya, dengan model pembelajaran berdiferensiasi, peneliti melakukan strategi produk yang mana peserta didik menunjukkan keterampilan membaca intensif yang telah diperoleh selama proses membaca dengan menceritakan kembali isi cerita tanpa melihat kembali teks yang dibaca sesuai dengan minat dan gaya belajarnya sehingga peserta didik merasa senang karena merasa sesuai dengan minat belajarnya. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh narasumber dalam wawancara yang dilakukan oleh peneliti, bahwa peserta didik yang awalnya merasa jenuh karena pembelajaran tidak sesuai dengan minat dan gaya belajarnya, dengan model pembelajaran berdiferensiasi peserta didik dapat menunjukkan keterampilan dan minatnya dalam belajar. Pada pertemuan I dalam kegiatan membaca intensif buku fiksi dengan cerita sebanyak 3 lembar dengan durasi waktu maksimal 10 menit sudah tercapai meskipun durasi waktu membaca intensif peserta didik mencapai batas maksimal durasi waktu yang telah ditentukan. Dengan model pembelajaran berdiferensiasi, masing-masing peserta didik mampu menunjukkan keterampilan membaca intensif sesuai dengan minat belajar dan gaya belajarnya. Pernyataan tersebut sesuai dengan yang dikemukakan Tomlinson (Jatmiko & Putra, 2. bahwa pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas dan memenuhi kebutuhan belajar individu setiap peserta didik. Pada pertemuan II, penerapan pendekatan proses dalam kegiatan membaca intensif buku fiksi dengan cerita yang berbeda dari pertemuan I, jumlah lembar yang sama dengan pertemuanI yaitu sebanyak 3 lembar, dan dengan durasi waktu yang berbeda yaitu maksimal 8 menit, dapat tercapai dengan durasi waktu lebih meningkat daripada pertemuan I. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan membaca peserta didik meningkat. Hal ini juga didukung oleh (Laraswati, 2. Masing-masing peserta didik juga mampu menunjukkan keterampilan membaca intensif sesuai dengan minat belajar dan gaya belajarnya sama seperti pada pertemuan I. Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 1. Januari-April 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN : 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Pada pertemuan i, penerapan pendekatan proses dalam kegiatan membaca intensif buku fiksi dengan cerita yang berbeda dengan pertemuan II, jumlah lembar yang lebih banyak dari pertemuan II yaitu sebanyak 5 lembar, dan durasi waktu yang sama dengan pertemuan II yaitu maksimal 8 menit, dapat tercapai dengan durasi waktu lebih meningkat meskipun dengan lembar cerita yang lebih banyak. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan membaca intensif peserta didik semakin meningkat. Masing-masing peserta didik juga mampu menunjukkan keterampilan membaca intensif sesuai dengan minat belajar dan gaya belajarnya sama seperti pada pertemuan I dan II. Hal ini menunjukkan bahwa peserta didik tidak hanya sekedar membaca, akan tetapi juga memahami apa yang dibaca. Berdasarkan pada pembahasan yang sudah dipaparkan, terdapat pengetahuan baru yang didapat dalam penelitian ini. Pengetahuan baru tersebut berupa pemahaman siswa dalam memahami teks dan konteks sehingga pemahaman membaca tidak hanya diukur pada tingkat bacaan siswa tetapi juga diukur tingkat pemahaman konteks yang siswa sudah baca yaitu tentang buku fiksi. KESIMPULAN Pembelajaran berdeferensiasi peserta didik mendapatkan kesempatan yang luas untuk mengembangkan pengetahuan dan keterarampilannya dalam pembelajaran dan dengan model pembelajaran berdiferensiasi, peserta didik dapat menunjukkan minatnya dalam belajar sehingga pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan tidak terasa membosankan. Dalam kegiatan penelitian pada pertemuan terakhir yaitu pada pertemuan i, didapatkan hasil bahwa keterampilan membaca intensif peserta didik kelas Vi semakin meningkat daripada pertemuan I dan II. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan membaca intensif peserta didik semakin meningkat. Dengan demikian, penerapan pendekatan proses dengan model pembelajaran berdiferensiasi dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia dinyatakan berhasil untuk meningkatkan keterampilan membaca intensif peserta didik kelas Vi MTs Sabielil Muttaqien Maesan Bondowoso. DAFTAR PUSTAKA