STUDI KARAKETRISTIK ENDAPAN SEDIMEN DI KAWASAN RAWAN BENCANA (Ade Ae Jazau. STUDI KARAKETRISTIK ENDAPAN SEDIMEN DI KAWASAN RAWAN BENCANA (STUDI KASUS PADA DAS PABELAN) Ade Prima Rivanto Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Email : adeprima. thegunners@gmail. Jazaul Ikhsan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Email : jazaul. ikhsan@umy. Abstrak: Erupsi Gunung Merapi tahun 2010 merupakan letusan terbesar dengan membawa volume material mencapai 150 juta m3 yang tersebar di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Karakteristik sedimen dari material vulkanik tersebut dapat mempengaruhi kapasitas infiltrasi tanah yang menentukan besarnya limpasan permukaan . urface run of. , sehingga perlu adanya penelitian untuk mengetahui karakteristik sedimen tersebut dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sedimen yaitu nilai kadar air tanah, nilai kepadatan tanah lapangan dan nilai kapasitas infiltrasi tanah serta volume total air infiltrasi di kawasan rawan bencana (KRB) DAS Pabelan. Pada penelitian ini pemeriksaan kepadatan tanah lapangan menggunakan alat kerucut pasir . and con. dan untuk pengambilan sampel tanah menggunakan silinder dengan diameter 10 cm dan tinggi 30 cm. Untuk pengukuran laju infiltrasi menggunakan double ring infiltrometer dengan ukuran diameter ring 55 cm dan 30 cm, dengan tinggi 27 cm. Titik-titik pengujian terbagi menjadi tiga lokasi yaitu KRB I. KRB II, dan KRB i, dalam satu titik dilakukan dua kali pengujian untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Pelaksanaan penelitian dilakukan selama empat hari dan dibagi menjadi dua Tahap pertama yaitu pemeriksaan kepadatan tanah lapangan, pengambilan sampel tanah dan pengukuran laju infiltrasi yang dilakukan di lapangan. Tahap kedua yaitu pengujian kadar air tanah yang dilakukan di laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kadar air tanah pada lokasi KRB I sebesar 52,37 %, lokasi KRB II sebesar 28,05 % dan lokasi KRB i sebesar 36,49 %. Nilai kepadatan tanah lapangan pada lokasi KRB I sebesar 11,05 KN/m3, lokasi KRB II sebesar 9,70 KN/m3 dan lokasi KRB i sebesar 8,45 KN/m3. Nilai kapasitas infiltrasi pada lokasi KRB I sebesar 7,285 cm/jam, lokasi KRB II sebesar 7,859 cm/jam dan lokasi KRB i sebesar 26,227 cm/jam. Volume total air infiltrasi seluas area 1 m2 pada lokasi KRB I sebesar 0,08369 m3, lokasi KRB II sebesar 0,0966 m3 dan lokasi KRB i sebesar 0,28573 m3. Kata kunci: Gunung Merapi, karakteristik sedimen, kadar air, kepadatan tanah, infiltrasi Abstract: Eruption of Merapi Mount in 2010 is one of biggest eruptions with the volume of material about 150 million m3, which is spreaded over the rivers that originated on Merapi Mount. Characteristics of the sediment from the volcanic material can affects the soil infiltration capacity that determines surface run off. Based on this problem, it is important to find out characteristis of the sediment and factors that influence it. This study aims to determine characteristics of the sediment from point view of soil water content, soil density value, and soil infiltration capacity as well as total water volume of infiltration in disaster prone areas on Pabelan watershed. In this study, measurement of soil density was done using sand cone and for soil sampling using cylinder with diameter 10 cm and height 30 cm. For measuring infiltration rate was used double ring infiltrometer with ring diameter size 55 cm and 30 cm, with height 27 cm. Testing points are divided into three locations namely KRB I. KRB II, and KRB i, in a point done two tests to get more accurate results. The 41 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 9 Nomer 2 | Juli 2018 study was conducted for four days and divided into two stages. The first stage is the inspection of soil density, soil sampling and infiltration rate measuring conducted in the field. The second stage is testing the soil water content conducted in the laboratory. Based on the result showed that soil water content value at location of KRB I. KRB II and KRB i equal to 52,37%, 28,05% and 36,49%, respectively. The soil density value at the location of KRB I was 11,05 KN / m3, the location of KRB II was 9,70 KN / m3 and the location of KRB i was 8,45 KN / m3. The value of infiltration capacity at the location of KRB I is 7,285 cm / hour, the location of KRB II is 7,859 cm / hour and the location of KRB i is 26,227 cm / hour. The total water volume of infiltration area of 1 m2 at KRB I location is 0,08369 m3. KRB II location is 0,0966 m3 and KRB i location is 0,28573 m3. Keywords: Mount Merapi, sediment characteristis, soil water content, soil density, infiltration capacity Pendahuluan Erupsi Gunung Merapi tahun 2010 yang lalu adalah letusan terbesar jika dibandingkan dengan erupsi terbesar Gunung Merapi yang pernah ada dalam sejarah yaitu tahun 1872. Jumlah material vulkanik yang telah dimuntahkan Gunung Merapi sejak erupsi pada Oktober 2010 hingga sekarang diperkirakan telah mencapai sekitar 150 juta m3. Material yang dikeluarkan Gunung Merapi mengalir melalui sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi antara lain Sungai Pabelan. Sungai Putih. Sungai Blongkeng dan Sungai Krasak yang bermuara di Sungai Progo dan sungai-sungai lainnya yang berhulu di Gunung Merapi (Ikhsan dan Galih. Salah satu material yang paling dominan adalah abu vulkanik. Material ini memiliki sifat yang cepat mengeras dan sulit ditembus oleh air, baik dari atas maupun menyebabkan peresapan air ke dalam tanah . menjadi terganggu (Suriadikarta dkk, 2. Besar kecilnya aliran permukaan, dipengaruhi oleh curah hujan, infiltrasi, intersepsi, evapotranspirasi dan storage (Rohmat dan Soekarno, 2. Kapasitas peresapan air ke dalam tanah . apasitas infiltras. menentukan besarnya limpasan permukaan . urface run of. , sehingga perlu adanya penelitian untuk mengetahui nilai kapasitas infiltrasi tanah 42 | K o n s t r u k s i a setelah terjadinya erupsi . asca erups. Gunung Merapi 2010. Menurut Barid, dkk. keseimbangan air dapat dilakukan dengan menyerapkan air ke dalam tanah melalui resapan buatan sehingga kapasitas air tanah tercukupi dan limpasan permukaan menjadi normal. Nilai infiltrasi dipengaruhi oleh adanya volume air hujan atau tampungan, keadaan permukaan tanahnya, jenis dan karakeristik tanahnya dan unsur-unsur lainya. Laju infiltrasi dan kemampuan maksimum infiltrasi akan berbeda untuk karakteristik dan kondisi tanah yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sedimen yang ditinjau dari nilai kadar air tanah, nilai kepadatan tanah lapangan, nilai kapasitas infiltrasi tanah dan volume total air infiltrasi di kawasan rawan bencana (KRB) DAS Pabelan pasca erupsi Gunung Merapi 2010. Tinjauan Pustaka dan Landasan Teori Ningsih. Sri dan Ig L. Setyawan Purnama . melakukan penelitian tentang AuKajian Laju Infiltrasi Tanah dan Imbuhan Air Tanah Lokal Sub DAS Gendol Pasca Erupsi Merapi 2010Ay. Penelitian lain yang berkaitan adalah AuKajian Nilai Infiltrasi Jenis Penutup Lahan di Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dalam Upaya Penerapan Sistem Drainase BerkelanjutanAy yang diteliti oleh Arwi Imam STUDI KARAKETRISTIK ENDAPAN SEDIMEN DI KAWASAN RAWAN BENCANA (Ade Ae Jazau. Pratama. Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada tahun 2015 melakukan penelitian tentang model infiltrasi menggunakan desain model saluran dengan resapan buatan dalam menurunkan debit limpasan. Sedimentasi pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Penghasil sedimen terbesar adalah erosi permukaan lereng pegunungan, erosi sungai . asar dan tebing alur sunga. dan bahanbahan hasil letusan gunung berapi yang masih aktif (Asdak dalam Nurjanah, 2. Hasil sedimen tergantung pada besarnya erosi total di DAS dan tergantung pada transport partikel-partikel tanah yang tererosi tersebut keluar dari daerah tangkapan air DAS. DAS memiliki karakteristik dan parameter DAS masingmasing tergantung dari tata guna lahan dan kondisi geologi DAS (Triatmodjo, 2. Infiltrasi Menurut Triatmodjo . laju infiltrasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: Kedalaman genangan dan tebal lapis Kelembaban tanah. Pemampatan oleh hujan. Penyumbatan oleh butir halus. Tanaman penutup. Topografi. Intensitas hujan. Menurut Knapp . alam Pratama, 2. untuk megumpulkan data infiltrasi dapat dilakukan dengan tiga cara: . Analisis data hujan dan hidrograf, dan . menggunakan double ring Perhitungan persaman kurva kapasitas infiltrasi (Infiltration Capacity Curve/IC-Curv. yang dikemukakan oleh Horton adalah : f = fc . 0 Ae f. e-Kt . Keterangan : = kapasitas infiltrasi . m/ja. f0 = laju infiltrasi awal . m/ja. fc = laju infiltrasi konstan . m/ja. K = konstanta = waktu . e = 2,718 Kadar Air Tanah Kadar air tanah dapat dinyatakan sebagai perbandingan berat air tanah terhadap berat tanah basah, perbandingan berat air tanah terhadap berat tanah kering, dan perbandingan volume air tanah terhadap volume tanah. Pemadatan Tanah Bulk density sangat berhubungan erat dengan partikel density. Jjika partikel density tanah sangat besar maka bulk density juga Hal ini dikarenakan partikel density berbanding lurus dengan bulk density. Namun apabila sebuah tanah memilki tingkat kadar air tanah yang tinggi maka partikel density dan bulk density akan rendah. Hal ini dikarenakan bulk density berbanding terbalik dengan kadar air tanah. Keadaan ini dapat dibuktikan apabila di dalam suatu tanah memiliki tingkat kadar air yang tinggi dalam menyerap air maka kepadatan tanah juga akan rendah karena pori-pori di dalam tanah besar. Tanah yang memilki pori yang besar akan lebih mudah memasukkan air di dalam agregat tanah (Hanafiah dalam Burdiono, 2. Limpasan Menurut Sosrodarsono . , terdapat dua kelompok faktor-faktor yang berhubungan dengan limpasan, antara: elemen-elemen meterologi, jenis presipitasi, intensitas curah hujan, lamanya curah hujan, arah pergerakan curah hujan, curah hujan terdahului dan kelembaban tanah, elemen daerah pengaliran, kondisi penggunaan tanah . and us. , daerah pengaliran, kondisi topografi dalam daerah pengaliran dan jenis 43 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 9 Nomer 2 | Juli 2018 Metode Penelitian Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di kawasan rawan bencana (KRB) Gunung Merapi di DAS Pabelan (Gambar . Pemilihan lokasi DAS Pabelan karena merupakan salah satu jalur yang terkena lahar dingin dan material Titik-titik pengujian terbagi menjadi tiga lokasi yaitu KRB I. KRB II, dan KRB i, dalam satu titik dilakukan dua sampai tiga kali pengujian untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Gambar 1. Titik-titik lokasi penelitian Alat . Double ring infiltrometer, terdiri dari Double ring infiltrometer . ilinder besi dengan diameter 55 cm dan 30 cm, dengan tinggi 27 . Pengambil sampel tanah, terdiri dari tabung silinder berdiameter 10 cm, palu bodem, balok kayu, plastik, dan kepala tabung silinder. Uji kepadatan tanah . and con. Uji kadar air Tahapan pegujian di lapangan dan Mengukur kepadatan tanah lapangan dengan metode kerucut pasir . and con. , langkah-langkah pengujiannya sebagai berikut : 44 | K o n s t r u k s i a . Sebelum pemeriksaan, ada beberapa hal yang perlu diketahui yaitu berat volume pasir . dalam g/cm3 dan volume pasir yang akan mengisi kerucut dan lubang pelat dasar (Vjar ) dalam cm3. Menentukan berat volume pasir pada setiap pengujian. Mengambil sampel tanah pada titik/tempat kapasitas/laju mengetahui nilai kadar air sebelum pengujian, dengan menggunakan alat tabung silinder berdiameter 10 cm. Mengukur kapasitas/laju infiltrasi dengan double ring infiltrometer, menggunakan alat berupa dua buah ring . ilinder bes. cm dan 30 cm, dengan tinggi yang sama, yaitu 27 Metode yang digunakan untuk menghitung kapasitas/laju infiltrasi metode Horton. Memeriksa/menentukan kadar air tanah dari sampel tanah yang sudah Laboratorium Mekanika Tanah. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Tahapan Analisis Hasil dan Pembahasan . Pemeriksaan Kadar Air Tanah Pengambilan pemeriksaan kadar air ini dilakukan sebelum pengujian pada kedalaman tanah A 20 cm dari permukaan tanah. Gambar 2 menunjukkan hasil permeriksaan kadar air pada lokasi KRB I. KRB II dan KRB i : Kadar Air, w (%) STUDI KARAKETRISTIK ENDAPAN SEDIMEN DI KAWASAN RAWAN BENCANA (Ade Ae Jazau. KRB I KRB II Lokasi KRB i Gambar 2. Grafik kadar air tanah lokasi KRB I. KRB II dan KRB i Kepadatan Tanah, ed (KN/mA) Berdasarkan hasil pemeriksaan air tanah pada Gambar 2 dapat menunjukkan bahwa lokasi KRB I memiliki kadar air tanah yang paling tinggi. Pengujian kadar air ini menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi laju infiltrasi pada lokasi tersebut, semakin tinggi nilai kadar air maka laju infiltrasi akan semakin lambat. Kepadatan Tanah Lapangan Pada pengujian ini menggunakan alat kerucut pasir . and con. Hasil dari pemeriksaan kepadatan tanah lapangan pada lokasi KRB I. KRB II dan KRB i dapat dilihat pada Gambar 3. merupakan didominasi material erupsi. Ketebalan lapisan sedimen hasil erupsi di KRB I lebih kecil dibandingkan dengan kedua daerah yang lain. Kepadatan tanah ini juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi laju infiltrasi, karena semakin tinggi nilai kepadatan tanah, maka laju infiltrasi akan semakin lambat. Nilai Kapasitas Infiltrasi Pengukuran laju infiltrasi pada penelitian ini menggunakan alat double ring infiltrometer yang dimasukan ke dalam tanah A 5 sampai 10 cm. Pengujian ini dilakukan pada tiga lokasi yang terdiri dari lokasi KRB I. KRB II dan KRB i. Pada setiap lokasi KRB, pengujian dilakukan sebanyak dua kali. Selanjutnya dengan menggunakan Metode Horton dan aplikasi Sigmaplot , diperoleh kurva fitting yang laju/kapasitas infiltrasi. Gambar 4 sampai dengan Gambar 6, menunjukkan hasil kurva fitting infiltrasi dengan menggunakan Metode Horton pada KRB I sampai dengan KRB i. KRB I KRB II Lokasi KRB i Gambar 3. Grafik nilai kepadatan tanah pada lokasi KRB I. KRB II dan KRB i Gambar 4. Kurva fitting infiltrasi persamaan metode Horton pada lokasi KRB Dari hasil pemeriksaan kepadatan tanah di atas dapat dijelaskan bahwa untuk lokasi KRB I mempunyai nilai kepadatan tanah lapangan paling tinggi. Hal ini disebabkan karena tanah di KRB I lebih AulamaAy dibandingankan dengan KRB II dan i, yang 45 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 9 Nomer 2 | Juli 2018 Log . -f. y = -2. RA = 0. Gambar 5. Kurva fitting infiltrasi persamaan metode Horton pada lokasi KRB II Waktu, t . Gambar 7. Grafik hubungan waktu . dan log . -f. pada lokasi KRB I Dengan cara yang sama yang sama maka seperti pada lokasi KRB I, maka dapat diperoleh parameter infiltrasi untuk KRB II dan KRB i. Parameter infiltrasi masingmasing lokasi selanjutnya ditunjukkan pada Tabel 1 sampai dengan Tabel 3. Tabel 1. Hasil perhitungan kapasitas infiltrasi pada lokasi KRB I Gambar 6. Kurva fitting infiltrasi persamaan metode Horton pada lokasi KRB i Dari ketiga kurva fitting infiltrasi di atas, dapat ditunjukkan bahwa laju infiltrasi pada awalnya bergerak dengan cepat dan semakin lama maka laju infiltasi akan semakin kecil. Berdasarkan hasil pengujian pada Gambar 4. Gambar 5 dan Gambar 6, dapat diperoleh parameter infiltrasi. Hasil perhitungan parameter infiltrasi selanjutnya ditunjukkan dengan grafik hubungan waktu . dan log . Grafik hubungan ini untuk mencari persamaan linier dan nilai gradien . , untuk KRB I ditunjukkan pada Gambar 7 sebagai berikut. 46 | K o n s t r u k s i a Uraian Satuan cm/jam cm/jam f (Horto. cm/jam (Kapasitas Infiltras. cm/jam KRB I -2,376 0,998 0,97 10,375 4,8 5,575e0,97t 7,285 Tabel 2. Hasil perhitungan kapasitas infiltrasi pada lokasi KRB II Uraian Satuan KRB II -2,039 0,995 cm/jam 1,13 cm/jam 13,113 f (Horto. cm/jam (Kapasitas Infiltras. cm/jam 4,5 8,6138e1,13t 7,859 Laju Infiltrasi, f . m/ja. STUDI KARAKETRISTIK ENDAPAN SEDIMEN DI KAWASAN RAWAN BENCANA (Ade Ae Jazau. Waktu, t . Tabel 3. Hasil perhitungan kapasitas infiltrasi pada lokasi KRB i Satuan KRB i -1,918 0,993 cm/jam 1,201 cm/jam (Horto. cm/jam (Kapasita Infiltras. 33,675 21,9 11,775e1,201t Lokasi KRB I Lokasi KRB II Lokasi KRB i Gambar 8. Grafik laju infiltrasi lokasi KRB I. KRB II dan KRB i Kapasitas Infiltrasi, f . m/ja. Uraian KRB I KRB II Lokasi cm/jam 26,227 Gambar 8 menunjukkan grafik laju infiltrasi dari ketiga lokasi, yaitu pada lokasi KRB I. KRB II dan KRB i. Dari Gambar 8 dapat dijelaskan bahwa laju infiltrasi awal bergerak dengan cepat dan semakin lama, laju infiltrasi menjadi semakin kecil dan Gambar 9 menunjukkan grafik kapasitas infiltrasi di lokasi KRB I. II dan i. Dari Gambar 9 menunjukkan bahwa untuk lokasi KRB i memiliki kapasitas infiltrasi yang paling besar dari pada lokasi KRB I dan lokasi KRB II, sedangkan pada lokasi KRB I memiliki kapasitas infiltrasi yang paling KRB i Gambar 9. Grafik kapasitas infiltrasi lokasi KRB I. KRB II dan KRB i Volume Total Air Infiltrasi Perhitungan volume total air infiltrasi ini diasumsikan pada area seluas 1 m2 selama 1 Perhitungan volume total air infiltrasi pada lokasi KRB I ditunjukan sebagai . ,375Ae4,. = . ,8 y . ( 0,97 ) y . -e-0,97y1 ) = 8,369 cm = 0,08369 m 47 | K o n s t r u k s i a Luas area 1 ha : = 0,08369 my100 my100 m = 836,9 m3 Tabel 4 menunjukkan hasil perhitungan volume total air infiltrasi lokasi KRB I. KRB II dan KRB i. Tabel 4. Hasil perhitungan volume total air infiltrasi pada ketiga lokasi Parameter Janis Penutup Lahan Tanah Rumput Rumput Lokasi KRB I KRB II KRB i Kapasitas infiltrasi, f . m/ja. 7,285 7,859 26,227 Volume air area 1 m2. Vt . 0,0836 0,0966 0,28573 Volume air area 1 ha. Vt . Berdasarkan Tabel 4 dapat ditunjukkan bahwa lokasi KRB i mempunyai nilai volume air infiltrasi paling besar daripada lokasi KRB II dan KRB I, sedangkan lokasi KRB I mempunyai nilai volume air infiltrasi yang paling kecil. Jadi, semakin cepat laju infiltrasinya, maka semakin besar volume total air infiltrasi. Gambar 10 menunjukkan hubungan antara kapasitas infiltrasi dan kadar air tanah. Gambar 11 menunjukkan hubungan antara kapasitas infiltrasi dengan kepadatan tanah. 48 | K o n s t r u k s i a KRB i KRB I KRB II Kadar Air Tanah, w (%) Gambar 10. Kurva hubungan kadar air tanah dan kapasitas infiltrasi Kapasitas Infiltrasi, f . m/ja. Luas area 1 m2 : = 0,08369 my1 my1 m = 0,08369 m3 Kapasitas Infiltrasi, f m/ja. Jurnal Konstruksia | Volume 9 Nomer 2 | Juli 2018 KRB i KRB II KRB I Kepadatan Tanah, d (KN/mA) Gambar 11. Kurva hubungan kepadatan tanah dan kapasitas infiltrasi Dari kurva hubungan kadar air tanah dan kepadatan tanah terhadap besarnya kapasitas infiltrasi di lokasi KRB I. KRB II dan KRB i seperti pada Gambar 10 dan Gambar 11, maka dapat dijelaskan bahwa semakin besar kadar air tanah dan kepadatan tanah, maka kapasitas infiltrasinya akan semakin Pada lokasi KRB II memiliki kadar air yang paling kecil, tetapi memiliki kepadatan tanah yang lebih tinggi daripada lokasi KRB i, sehingga memungkinkan kapasitas infiltrasinya lebih kecil daripada lokasi KRB i. Berdasarkan analisis perhitungan yang telah diuraikan, maka hasil perhitungan nilai kapasitas infiltrasi, volume total air infiltrasi, nilai kadar air dan nilai kepadatan tanah lapangan di DAS Pabelan sesuai kawasan rawan bencana (KRB) Gunung Merapi dapat dilihat pada Tabel 5 di bawah ini : STUDI KARAKETRISTIK ENDAPAN SEDIMEN DI KAWASAN RAWAN BENCANA (Ade Ae Jazau. Tabel 5. Hasil analisa kapasitas infiltrasi Lokasi KRB I KRB II KRB i 7,285 7,859 26,227 0,08369 0,0966 0,28573 Kadar air (%) 52,37 28,05 36,49 Kepadatan lapangan, ed (KN/mA) 11,05 9,70 8,45 Jenis tanah Tanah Lempung Tanah Berpasir Tanah Berpasir Kapasitas Horton, f . m/ja. Volume air infiltrasi area 1 m2. Vt . Volume air infiltrasi area 1 ha. Vt . Dari hasil di atas menunjukkan bahwa pada lokasi KRB I. KRB II dan KRB i, bahwa lokasi KRB i memiliki nilai kapasitas infiltrasi dan volume total air infiltrasi yang paling besar dibandingkan lokasi KRB I dan KRB II. Hal ini karena lokasi i memiliki nilai kepadatan tanah lapangan yang paling Pada lokasi KRB i ini seharusnya memiliki nilai kadar air yang paling kecil, tetapi kemungkinan karena dipengaruhi oleh faktor lain, yaitu rongga atau pori-pori tanah yang besar, sehingga memungkinkan laju infiltrasi yang lebih cepat. Walaupun nilai kadar airnya besar, bila rongga atau pori-pori tanahnya juga besar, maka laju infiltrasinya juga cepat. Pada lokasi KRB II memiliki kadar air yang paling kecil, tetapi memiliki nilai kepadatan tanah yang lebih tinggi daripada lokasi KRB i. Selain itu, pada lokasi KRB II ini kemungkinan juga dipengaruhi oleh rongga atau pori-pori tanah yang kecil, sehingga memungkinkan laju infiltrasinya lebih lambat daripada lokasi KRB i. Pada lokasi KRB I memiliki nilai kapasitas infiltrasi dan volume total air infiltrasi yang paling kecil, hal ini karena lokasi KRB I memiliki nilai kepadatan tanah dan kadar air tanah yang paling tinggi, sehingga laju infiltrasinya menjadi semakin lambat. Jadi, dari hasil kapasitas infiltrasi dan volume total air infiltrasi ini dapat diperkirakan apabila terjadi hujan, maka limpasan permukaan yang paling besar kemungkinan terjadi pada lokasi KRB I, karena pada lokasi ini memiliki nilai kapasitas infiltrasi dan volume total air infiltrasi yang paling kecil. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, maka perhitungan nilai kapasitas infiltrasi, volume total air infiltrasi, kadar air tanah dan nilai kepadatan tanah lapangan di DAS Pabelan adalah sebagai berikut : Nilai kadar air tanah pada lokasi KRB I sebesar 52,37 %, pada lokasi KRB II sebesar 28,05 % dan pada lokasi KRB i sebesar 36,49 %. Semakin tinggi nilai kadar air tanah, semakin lambat laju Nilai kepadatan tanah lapangan pada lokasi KRB I sebesar 11,05 KN/m3, pada lokasi KRB II sebesar 9,70 KN/m3 dan pada lokasi KRB i sebesar 8,45 KN/m3. Semakin tinggi nilai kepadatan tanah, semakin lambat laju infiltrasinya Nilai kapasitas infiltrasi pada lokasi KRB I sebesar 7,285 cm/jam, pada lokasi KRB II sebesar 7,859 cm/jam dan pada lokasi KRB i dengan sebesar 26,227 cm/jam. Semakin cepat laju infiltrasi. Volume total air infiltrasi seluas area 1 m2 pada lokasi KRB I sebesar 0,08369 m3 atau 836,9 m3 seluas area 1 ha, pada lokasi KRB II sebesar 0,0966 m3 atau 49 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 9 Nomer 2 | Juli 2018 966 m3 seluas area 1 ha dan pada lokasi KRB i sebesar 0,28573 m3 atau 2857,3 m3 seluas area 1 ha. Semakin cepat laju infiltrasi, semakin besar nilai volume total air infiltrasinya. Daftar Pustaka