Vol. No. Juli, page 7-17 ISSN: 2962-7907 (Onlin. Hubungan Pengetahuan Self Efficacy Dengan Kesiapsiagaan Bencana Tanah Longsor Pada Masyarakat Di RT 01 / RW 02 Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung Tahun 2021 Nanang Endriono 1a*. Farida1b. Nurhidayati1c 1 Program Studi Sarjana Keperawatan. STIKes Hutama Abdi Husada Tulungagung, 66224. Indonesia a nanangendriono2017@kep. b poprimf1@gmail. nurhidayati@stikestulungagung. * Coresponding author INFORMASI ARTIKEL Sejarah artikel: Tanggal diterima: 01 Juli 2022 Tanggal revisi: 24 Juli 2022 Diterima: 10 Agustus 2022 Diterbitkan: 25 Agustus 2022 Kata Kunci : Pengetahuan Self Efficacy. Kesiapsiagaan Bencana Tanah Longsor. ABSTRAK Tanah longsor merupakan salah satu bencana alam yang sering melanda pada daerah perbukitan karena curah hujan yang tinggi. BNPB telah mencatat kejadian bencana tanah longsor sepanjang 2020 sebanyak 552 di Indonesia. Banyaknya korban jiwa didasarkan pada kurangnya kesiapsiagaan bencana alam oleh setiap individu. Selain itu pengetahuan self efficacy menjadi faktor penting dalam kesiapsiagaan terhadap bencana. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah hubungan pengetahuan self efficacy dengan kesiapsiagaan bencana tanah longsor pada masyarakat Di RT 01 / RW 02 Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung Tahun 2021. Desain penelitian ini adalah deskriptif corelational dengan pendekatan cross sectional dimana subjek penelitian hanya diobservasi sekali dalam satu waktu. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat di RT 01 / RW 02 Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung sejumlah 40 responden, dengan menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan Pengambilan data menggunakan lembar kuesioner secara door to door, selanjutnya data dianalisa menggunakan uji statistic Spearman Rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 40 responden hampir seluruhnya memiliki pengetahuan self efficacy baik sebanyak 24 responden . %) dan 28 responden . %) sangat siap menghadapi bencana tanah longsor. Hasil analisis uji Spearman Rho menunjukkan bahwa nilai p-value 0,000 < 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima, yang berarti ada Hubungan Pengetahuan Self Efficacy Dengan Kesiapsiagaan Bencana Tanah Longsor Pada Masyarakat Di RT 01 / RW 02 Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung Tahun 2021. Berdasarkan hasil penelitian diatas terbukti bahwa ada hubungan antara pengetahuan self efficacy dengan kesiapsiagaan bencana tanah longsor. Pengetahuan self efficacy memiliki hubungan erat dengan kesiapsiagaan bencana, seseorang dengan pengetahuan self efficacy baik akan sangat siap dalam menghadapi bencana tanah longsor begitu juga sebaliknya. Sehingga pengetahuan self efficacy menjadi faktor terpenting untuk menumbuhkan sikap sigap dalam menghadapi bencana. Copyright . 2022 Prosiding Seminar Nasional Riset Kesehatan This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar dengan wilayah yang luas dan terletak di garis khatulistiwa pada posisi silang di antara dua benua dan dua samudra dengan kondisi alam dan kondisi fisik yang berbeda. Indonesia memiliki daerah yang Prosiding homepage: http://jurnalstikestulungagung. id/index. php/riset *Corresponding author: nanangendriono2017@kep. Endriono. Nanang. rawan terhadap bencana karena berada di antara pertemuan tiga lempeng tektonik dan berjajar barisan gunung berapi yang masih aktif, sehingga sering kali negara Indonesia sangat akrab dengan bencana alam. Hampir pada setiap waktu daerah - daerah yang ada di Indonesia terancam dengan bencana yang kerap kali terjadi di Indonesia. Yakni meliputi banjir, gempa bumi, tanah longsor, gunung meletus, tsunami, dan kebakaran Dan salah satunya yang banyak terjadi yaitu tanah longsor. Tanah longsor merupakan salah satu bencana alam yang sering melanda pada daerah perbukitan di daerah tropis karena adanya curah hujan yang tinggi. Tanah longsor . juga diartikan sebagai gerakan material pembentuk lereng yang diakibatkan oleh adanya keruntuhan geser disamping satu atau lebih bidang longsor (Christady, 2. Indonesia sendiri banyak terdapat daerah dataran tinggi. Selain itu curah hujan di Indonesia tergolong sebagai kawasan tropis dengan intensitas hujan yang tinggi dan topografi yang bervariasi. Dari faktor tersebut, tanah longsor menjadi sebuah ancaman besar bagi masyarakat sekitar. Pada bulan Januari hingga bulan Desember 2020. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengidentifikasi bencana alam di Indonesia terjadi sebanyak 2894 kejadian. Dari jumlah tersebut, 99 persen merupakan bencana hidrometerologi seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, angin putting beliung dan Adapun jumlah dampak dari kejadian bencana tersebut selama tahun 2020 adalah 69 jiwa meninggal, 533 orang luka Ae luka, 39 orang hilang, dan 6,4 juta orang menderita dan mengungsi. Sedangkan untuk bencana tanah longsor sendiri di Indonesia, pada 22 Desember 2020 menunjukkan angka kejadian sebanyak 552 kejadian tanah Dalam kurun waktu 3 tahun terakhir di Jawa timur yakni tahun 2017 telah terjadi bencana tanah longsor sebanyak 86 kejadian, tahun 2018 sebnyak 65 kejadian dan tahun 2019 sebanyak 36 kejadian. Sepanjang tahun 2020, sebanyak 72 kejadian tanah longsor yang telah melanda di Provinsi Jawa Timur. Terdapat 11 daerah di Jawa Timur yang mengalami tanah longsor yakni Trenggalek. Ponorogo. Malang. Tulungagung. Blitar. Magetan. Pacitan. Batu. Lamongan. Situbondo dan Probolinggo. Dalam kejadian tanah longsor tersebut laporkan korban meninggal sebanyak 2 korban, rumah yang rusak sebanyak 126 rumah, dan fasilitas umum sebanyak 6 bangunan. Bencana tanah longsor yang melanda di daerah Jawa Timur karena adanya faktor penyebab yaitu intensitas hujan yang tinggi dan struktur tanah yang labil (BNPB, 2. Bedasarkan data dari BNPB pada tahun 2020 di Tulungagung telah terjadi sebanyak 5 kejadian tanah longsor. Beberapa wilayah di Tulungagung rawan terhadap bencana tanah longsor salah satunya adalah di Kecamatan Pagerwojo. Kecamatan Sendang dan sekitarnya. Diantaranya 2 kejadian tanah longsor pernah terjadi di Kecamatan Pagerwojo. Pada tahun 2019 tanah longsor pernah melanda Desa Sidomulyo sedalam 75 meter ke arah permukiman warga yang disebabkan hujan deras. Karena secara geografis Desa Sidomulyo berada di kawasan pegunungan dan perbukitan. Banyaknya korban jiwa didasarkan pada kurangnya kesiapsiagaan bencana alam oleh masing-masing individu. Selain itu pengetahuan dan penilaian individu pada kemampuan juga dapat mempengaruhi kesiapsiagaan terhadap bencana. Menurut penelitian Spital dalam Rinaldi . tentang bias optimistic dalam kaitannya mengenai kesiapsiagaan bencana menghadapi gempa bumi dapat memberikan keyakinan dalam menghadapi bencana yang akan datang. Hal ini sesuai dengan konsep self efficacy menurut Bandura bahwa individu memiliki keyakinan dan kemampuan untuk bertindak atau mengendalikan situasi jika terjadi bencana (Major dalam Rinaldi, 2. Self efficacy merupakan penilaian individu terhadap kemampuan atau kompetensi untuk melakukan sesuatu tugas, mencapai suatu tujuan dan menghasilkan sesuatu (Baron dkk, 2. Self efficacy juga mempengaruhi jumlah dan kualitas dari actions plans, dan jumlah dari usaha serta keuletan yang diberikan pada pengurangan resiko. Pengetahuan yang dimiliki setiap individu mempengaruhi sikap dan perilaku Homepage: http://jurnalstikestulungagung. id/index. php/riset *Corresponding author: nanangendriono2017@kep. Endriono. Nanang. kesiapsiagaan dalam mengantisipasi bencana. Seperti halnya, self efficacy telah diidentifikasi memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku ketika berhadapan dengan masalah yang dipersepsikan kurang terkontrol. Individu cendrung tidak bertindak jika menganggap dirinya tidak memiliki kompetensi untuk menghadapi suatu bencana . elf efficacy renda. , sedangkan individu yang memiliki self efficacy yang tinggi cenderung lebih siap dalam menghadapi bencana, karena self efficacy meningkatkan jumlah rencana yang dikembangkan oleh individu dan ketekunan mereka dalam menerapkannya (Herdwiyanti & Sudaryono, 2. Tingkat resiko suatu bencana selain ditentukan oleh potensi bencana juga ditentukan dari upaya mitigasi dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Tujuan dilakukannya kesiapsiagaan bencana yaitu untuk mengurangi tingkat resiko . yang ditimbulkan akibat bencana. Indonesia tentunya harus melakukan upaya peningkatan mitigasi dan kesiapsiagaan untuk meminimalkan dampak bencana (The 4th Learning From Japan Symposium, 2. Tindakan kesiapsiagaan meliputi penyusunan penanggulangan bencana, pemeliharaan sumber daya dan pelatihan personil. Dengan adanya kesiapsiagaan bencana pada masyarakat diharapkan dapat mengetahui tindakan - tindakan yang dilakukan pada saat terjadinya bencana. Oleh karena itu, peneliti dengan tujuan jelas ingin melakukan penelitian tentang keterkaitan adanya pengetahuan self efficacy dengan kesiapsiagaan bencana tanah longsor di Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo. Adapaun hipotesis pada penelitian ini yakni: H0: Tidak ada hubungan antara pengetahuan Self Efficacy dengan kesiapsiagaan bencana tanah longsor di RT 01 / RW 02 Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung. H1: Ada hubungan antara pengetahuan Self Efficacy dengan kesiapsiagaan bencana tanah longsor di RT 01 / RW 02 Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung. Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis berminat untuk meneliti AuHubungan Pengetahuan Self Efficacy dengan Kesiapsiagaan bencana Tanah Longsor Pada Masyarakat di RT 01 / RW 02. Desa Sidomulyo. Kecamatan Pagerwojo. BAHAN DAN METODE Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan pada tanggal 26 April 2021 di RT 01 / RW 02 Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung. Desain dalam penelitian ini adalah korelasional yang merupakan suatu metode penelitian digunakan untuk menganalisis hubungan korelatif antara variabel, peneliti dapat mencari, menjelaskan suatu hubungan, memperkirakan, serta menguji berdasarkan teori yang ada. Jenis dan Rancangan Penelitian Populasi masyarakat desa sejumlah 44 orang yang ada di RT 01 / RW 02 Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo, sampel diambil dengan dengan purposive sampling sejumlah 40 responden. Dengan Variabel Independen: Pengetahuan Self Efficacy dan Variabel Dependen: Kesiapsiagaan Bencana Tanah Longsor. Sampel Sampel dalam penelitian ini dengan jumlah 40 responden yang memenuhi kriteria inklusi seperti: klien bersedia menjadi responden dalam penelitian dengan menandatangani informed consent, mampu membaca dan menulis, klien yang berumur 21 Ae 50 tahun dan klien dengan pendidikan minimal Sekolah Dasar (SD). Alat dan Bahan Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan lembar kuesioner dengan pengambilan data yang dilakukan secara door to door. Homepage: http://jurnalstikestulungagung. id/index. php/riset *Corresponding author: nanangendriono2017@kep. Endriono. Nanang. Analisa Data Teknik uji statistic yang dipilih bedasarkan tujuan uji yaitu hubungan . olerasi / asosias. dan skala data variabel Pengetahuan Self Efficacy adalah ordinal, sedangkan Kesiapsiagaan Bencana Tanah Longsor adalah ordinal. Bedasarkan acuan tersebut maka digunakan teknik uji Spearmen Rho test. Perhitungan dilakukan dengan program IBM SPSS 25, dengan penarikan kesimpulan sebagai berikut: Bila p value < 0,05 dikatakan significant, yaitu H0 ditolak, maka H1 diterima yang berarti menyatakan ada Hubungan Pengetahuan Self Efficacy Dengan Kesiapsiagaan Bencana Tanah Longsor. Bila p value Ou 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak yang berarti menyatakan tidak ada Hubungan Pengetahuan Self Efficacy Dengan Kesiapsiagaan Bencana Tanah Longsor. HASIL DAN DISKUSI Pengetahuan Self Efficacy Tabel 1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Self Efficacy Responden Di RT 01 / RW 02 Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo Tulungagung Pengetahuan Self Efficacy Baik Cukup 32,5% Kurang 7,5% Total No. Frekuensi Total (Sumber: Data Penelitian Tahun 2. Tabel 1 diatas menunjukkan bahwa dari total 40 responden di RT 01 / RW 02 Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung sebagian besar responden yaitu 24 orang . %) memiliki pengetahuan self efficacy baik, hampir setengah dari responden yakni 13 orang . ,5%) memiliki pengetahuan self efficacy cukup dan 3 orang . ,5%) memiliki pengetahuan self efficacy kurang. Kesiapsiagaan Bencana Tanah Longsor Tabel 2 Distribusi Frekuensi Kesiapsiagaan Bencana Tanah Longsor Responden Di RT 01 / RW 02 Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo Tulungagung Kesiapsiagaan Bencana Tanah longsor Sangat Siap Siap 17,5% Hampir Siap 7,5% Kurang Siap 2,5% Tidak Siap 2,5% Total No. Frekuensi Total (Sumber: Data Penelitian Tahun 2. Tabel 2 diatas menunjukkan bahwa dari total 40 responden di RT 01 / RW 02 Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung sebagian besar Homepage: http://jurnalstikestulungagung. id/index. php/riset *Corresponding author: nanangendriono2017@kep. Endriono. Nanang. responden yaitu sebanyak 28 responden . %) sangat siap menghadapi bencana tanah longsor, sedangkan sebagian kecil dari responden yaitu sebanyak 7 responden . ,5%) siap menghadapi bencana tanah longsor, 3 responden . ,5%) hampir siap menghadapi bencana tanah longsor, dan 1 responden . ,5%) kurang siap menghadapi bencana tanah Hubungan Pengetahuan Self Efficacy dengan Kesiapsiagaan Bencana Tanah Longsor Tabel 3 Tabulasi Silang Hubungan Pengetahuan Self Efficacy Dengan Kesiapsiagaan Bencana Tanah Longsor Di RT 01 / RW 02 Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo Tulungagung Baik Pengetahu Self Efficacy Cukup Kurang Total Kesiapsiagaan Bencana Tanah Longsor Sangat Hampir Kurang Tidak Siap Siap Siap Siap Siap 95,83% 4,17% 38,46% 46,15% 15,38% 33,33% 33,33% 33,33% 17,5% 7,5% 2,5% 2,5% Total (Sumber: Data Penelitian Tahun 2. Tabel 3 diatas menunjukkan bahwa dari total 40 responden di RT 01 / RW 02 Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung setengah dari responden dengan pengetahuan self efficacy baik dan sangat siap menghadapi bencana tanah longsor yaitu sebanyak 23 responden . ,83%) sedangkan sebagian kecil dari responden dengan pengetahuan self efficacy kurang dan tidak siap menghadapi bencana tanah longsor yaitu sebanyak 1 responden . ,33%). Hasil uji statistik didapatkan nilai P value (Sig. 2-taile. sebesar 0,000 , karena Pvalue < ( = 0,. maka H1 diterima dan H0 ditolak yang artinya Ada Hubungan Antara Pengetahuan Self Efficacy Dengan Kesiapsiagaan Bencana Tanah Longsor di RT 01 / RW 02 Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung Tahun Nilai Koefisien Korelasi yang didapatkan sebesar 0,745 karena nilai koefisien korelasinya adalah positif hal ini menunjukkan bahwa hubungan bersifat searah yang artinya semakin baik pengetahuan self efficacy maka semakin sangat siap dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana tanah longsor sebaliknya jika semakin kurang pengetahuan self efficacy maka semakin tidak siap dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana tanah longsor dengan kekuatan hubungan yang kuat karena nilai koefisien korelasi berkisar antara 0,51-0,75. Homepage: http://jurnalstikestulungagung. id/index. php/riset *Corresponding author: nanangendriono2017@kep. Endriono. Nanang. Diskusi Pengetahuan Self Efficacy Pada Masyarakat Di RT 01 / RW 02 Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung Berdasarkan data hasil penelitian yang disajikan dalam tabel 4. 1 menunjukkan bahwa dari total 40 responden di RT 01 / RW 02 Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung yang telah mengikuti penelitian sebagian besar responden memiliki pengetahuan self efficacy baik yaitu sebanyak 24 responden . %), pengetahuan self efficacy cukup yaitu sebanyak 13 responden . ,5%) sedangkan, responden yang memiliki pengetahuan self efficacy kurang yaitu sebanyak 3 responden . ,5%). Self efficacy merupakan salah satu aspek pengetahuan tentang diri atau selfAe knowledge yang paling berpengaruh dalam kehidupan manusia sehari - hari. Hal ini disebabkan self efficacy yang dimiliki ikut memengaruhi individu dalam menentukan tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai sesuatu tujuan, termasuk di dalamnya perkiraan berbagai kejadian yang akan dihadapi (Ghufron, 2. Self efficacy telah diidentifikasi memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku ketika berhadapan dengan masalah yang dipersepsikan kurang terkontrol. Individu cendrung tidak bertindak jika menganggap dirinya tidak memiliki kompetensi untuk menghadapi bencana . engetahuan self efficacy kuran. , sedangkan individu yang memiliki pengetahuan self efficacy yang baik cenderung lebih siap untuk menghadapi bencana, karena self efficacy meningkatkan jumlah rencana yang dikembangkan oleh individu dan ketekunan mereka dalam menerapkannya (Herdwiyanti & Sudaryono, 2. Dalam hal ini pengetahuan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, pengalaman, pekerjaan, minat, lingkungan dan sumber informasi (Mubarak, 2. Selain faktor tersebut terdapat faktor keyakinan diri . elf Keyakinan diperoleh oleh seseorang biasanya bisa didapat secara turun Ae temurun dan tidak dapat dibuktikan terlebih dahulu, keyakinan positif dan keyakinan negatif dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang (Notoatmojo, 2. Keyakinan yang dimiliki oleh seseorang akan mendorong serta memotivasi seseorang untuk melakukan kontrol diri dalam mengelola pemenuhan kebutuhan. Berdasarkan fakta dan teori diatas, peneliti berpendapat hasil penelitian ini sudah sesuai dengan teori tersebut bahwa baik dan kurangnya pengetahuan self efficacy dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan, seperti hasil tabulasi silang pada lampiran tabel 4. 5 sampai tabel 4. 9 yang menunjukkan bahwa responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 13 responden . %) memiliki pengetahuan self efficacy Hal ini sesuai dengan penelitian Salami, dkk. bahwa sifat Ae sifat perempuan terbentuk dari kontriksi social, keluarga dan dan masyarakat, menjadikan image perempuan lebih merekat dengan karakternya yang merawat, melindungi, tekun, rajin dan membantu diri sendiri maupun keluarganya untuk melewati masa kritis akibat bencana. Dari segi umur menunjukkan bahwa sebanyak 11 responden . ,3%) yang berumur 31 Ae 40 tahun memiliki pengetahuan self efficacy yang baik. Hal ini sesuai dengan teori bahwa faktor usia juga mempengaruhi keyakinan sesorang. Pada usia dewasa kematangan dalam proses berfikir pada setiap individu lebih memungkinkan menggunakan mekanisme koping yang lebih baik (Rizqah, 2. Berdasarkan karakteristik pendidikan responden dengan pendidikan SMA yaitu sebanyak 12 responden . %) memiliki pengetahuan self efficacy baik. Menurut Carter . , bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan akan semakin mudah menerima informasi sehingga semakin banyak pula pengalaman yang dimiliki, dalam hal ini khususnya yaitu pengetahuan dan keyakinan diri seseorang. Pendidikan menjadi faktor yang penting dalam kehidupan sehari Ae hari. Tingkat pendidikan akan mempengaruhi persepsi seseorang tentang kognitif. Seseorang yang berpendidikan tinggi akan memiliki penalaran yang tinggi pula. Homepage: http://jurnalstikestulungagung. id/index. php/riset *Corresponding author: nanangendriono2017@kep. Endriono. Nanang. Berdasarkan karakteristik pekerjaan responden dengan pekerjaan Buruh / Tani sebanyak 9 responden . %) memiliki pengetahuan self efficacy baik. Penelitian yang lakukan Pangesti . , menjelaskan bahwa pekerjaan seseorang akan berpengaruh terhadap pengetahuan dan pengalaman seseorang. Hal ini ketika pekerjaan tersebut lebih sering menggunakan otak daripada otot. Kinerja dan kemampuan otak seseorang dalam menyimpan . aya inga. bertambah atau meningkat ketika sering digunakan, hal ini berbanding lurus dengan pekerjaan seseorang yang lebih banyak menggunakan otak daripada otot. Adapaun realita yang ada bahwa beberapa penyuluhan yang pernah didapatkan oleh warga masyarakat Desa Sidomulyo paling banyak yaitu dihadiri oleh Buruh / Petani dengan tempat tinggal yang dekat dengan lereng pegunungan. Tidak menutup kemungkinan bahwa masyarakat Desa Sidomulyo sering mendapatkan pengetahuan dari penyuluhan dan sosialisasi dari Pemerintah Desa maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Hal ini dibuktikan dari pernyataan masyarakat sekitar pada saat dilakukan observasi dan pembagian kuesioner secara door to door. Namun, pada saat pembagian kuisioner tidak sedikit dari responden yang menolak dengan berbagai alasan yang termasuk dalam keterbatasan penelitian. Kesiapsiagaan Bencana Tanah Longsor Pada Masyarakat Di RT 01 / RW 02 Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung Berdasarkan data hasil penelitian yang diinterpretasikan dalam tabel 4. menunjukkan bahwa dari total 40 responden di RT 01 / RW 02 Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung sebagian besar responden yaitu sebanyak 28 responden . %) sangat siap menghadapi bencana tanah longsor, sedangkan sebagian kecil dari responden yaitu sebanyak 7 responden . ,5%) siap, 3 responden . ,5%) hampir siap dan 1 responden . ,5%) kurang siap menghadapi bencana tanah longsor. Kesiapsiagaan merupakan serangkaian kegiatan yang lakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna seperti pelatihan gladi, penyiapan sarana dan prasarana. SDM, logistik, dan pembiayaan (UU No. 24 tahun 2. Kesiapsiagaan juga merupakan salah satu faktor terpenting dari kegiatan pengendalian pengurangan resiko bencana yang bersifat proaktif sebelum terjadinya suatu bencana. Dengan kesiapsiagaan yang tepat diharapkan upaya penanggulangan dapat lebih cepat dan tepat sehingga dapat meminimalisir jumlah korban dan kerusakan. Kepercayaan masyarakat terhadap efikasi mereka mempengaruhi kesiagaan terhadap potensi ancaman dan bagaimana mereka mempresepsi dan proses kognitif. Self efficacy menjadi faktor yang penting dalam kesiapsiagaan karena juga mempengaruhi motivasi seseorang untuk mempersiapkan diri menghadapi bencana (Kim & Kang, 2. Self efficacy meningkatkan jumlah rencana yang dikembangkan oleh individu dan ketekunan mereka dalam menerapkannya. Oleh karena itu, seseorang dengan self efficacy tinggi merasa bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mencegah kerusakan dan menjadi mandiri jika terjadi bencana melalui persiapan dan usaha mereka sendiri (GNS Science Report, 2. Berdasarkan fakta dan teori diatas, peneliti berpendapat hasil penelitian ini sudah sesuai dengan teori tersebut bahwa kesiapsiagaan bencana tanah longsor berkesinambungan dan berhubungan erat dengan faktor-faktor pendukung diantaranya telah di interpretasikan pada hasil tabulasi silang dalam lampiran tabel yang menunjukkan bahwa 20 responden . %) berjenis kelamin perempuan sangat siap dalam menghadapi bencana tanah longsor. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Wujie . yang mengemukakan bahwa secara statistik perempuan sangat siap dalam hal berpikir tentang kemungkinan bahaya yang akan terjadi dimasa depan dibandingkan dengan laki Ae laki. Namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa laki Ae laki mempunyai perilaku kesiapsiagaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan wanita (Austin 2. Dalam hal ini. Homepage: http://jurnalstikestulungagung. id/index. php/riset *Corresponding author: nanangendriono2017@kep. Endriono. Nanang. perempuan mungkin tidak siap daripada laki Ae laki namun tergantung pada perbedaan peran dan tanggung jawab yang ditentukan secara sosial diantara mereka. Berdasarkan karakteristik umur responden menunjukkan bahwa 13 resonden . ,7%) dengan umur 31 Ae 40 tahun sangat siap dalam menghadapi bencana tanah Menurut Mubarak . mengatakan bahwa umur merupakan faktor yang sangat penting. Semakin bertambahnya umur seseorang maka semakin banyak pula pengalaman yang dimilikinya. Umur juga mempengaruhi daya ingat seseorang. Sehingga semakin bertambah umur maka pengetahuan juga akan bertambah. Hal ini, sesuai dengan teori bahwa pengalaman seseorang menjadi faktor pendukung dalam perubahan sikap seseorang utamanya dalam hal kesiapsiagaan menghadapi bencana. Berdasarkan karakteristik pendidikan responden dengan pendidikan terakhir SMA yaitu sebanyak 13 responden . ,25%) sangat siap dalam menghadapi bencana tanah Menurut Maryanti, dkk . tingkat pendidikan yang dimiliki masyarakat dapat mempengaruhi tingkat kesiapsiagaan terhadap bencana. Tingkat pendidikan tinggi akan lebih siap siaga dalam menghadapi bencana dibandingkan dengan tingkat pendidikannya Pendidikan yang dimiliki masyarakat khususnya bencana sangat penting untuk mengurangi resiko bencana dan menimalisir terjadinya kerugian dan jatuhnya korban akibat bencana yang terjadi. Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan Hoffmann . yang menyimpulkan bahwa tingkat pendidikan yang berbeda dapat mempengaruhi kerentanan bencana secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung, individu memperoleh pengetahuan, kemampuan ketrampilan dan presepsi itu memungkinkan mereka secara efektif mempersiapkan dan mengatasi konsekuensi dari Secara tidak langsung, pendidikan memberikan individu dan rumah tangga akses ke sumber daya materi, informasi dan sosial, yang dapat membantu mengurangi kerentanan bencana mereka. Pada penelitian ini tingkat pendidikan berhubungan dengan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana tanah longsor. Bedasarkan karakteristik pekerjaan responden dengan pekerjaan Buruh / Tani sebanyak 11 responden . ,7%) sangat siap dalam menghadapi bencana tanah longsor. Penelitian yang lakukan Supriandi . menjelaskan bahwa kesiapsiagaan tidak memiliki hubungan yang bermakna. Pekerjaan seringkali dilakukan berulang dan banyak rintangan sehingga, akan menambah pengalaman seseorang ketika akan melakukan sesuatu (A. Wawan dan Dewi M, 2. Namun, kesadaran seseorang akan resiko bencana tidak tergantung pada pekerjaan seseorang tersebut (Takao dalam Revy 2. Dalam hal ini pekerjaan tidak selalu berhubungan dengan kesiapsiagaan masyarakat dalam bencana tanah longsor. Terbukti juga masyarakat dengan pekerjaan Wiraswasta sebanyak 8 . ,9%) sangat siap menghadapi bencana tanah longsor menunjukkan bahwa kesiapsiagaan masyarakat Desa Sidomulyo terhadap bencana ditunjukan oleh adanya pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan yang diperoleh melalui pembelajaran dari pengalaman setiap individu. Hubungan Pengetahuan Self Efficacy dengan Kesiapsiagaan Bencana Tanah Longsor Pada Masyarakat Di RT 01 / RW 02 Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung Berdasarkan hasil penelitian yang disajikan dalam tabulasi silang pada tabel 4. menunjukkan bahwa dari total 40 responden di RT 01 / RW 02 Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung dari total 24 responden . %) memiliki pengetahuan self efficacy baik dan 28 responden . %) diantaranya sangat siap dalam menghadapi bencana tanah longsor, sedangkan responden yang memiliki pengetahuan self efficacy kurang sebanyak 3 responden . %) dan 1 responden . ,3%) tidak siap dalam menghadapi bencana tanah longsor. Hasil analisis korelasi Spearman Rho Test didapatkan nilai Pvalue (Sig. 2 taile. sebesar 0,000 < 0,05, maka H1 diterima dan H0 ditolak yang berarti Ada Hubungan Antara Pengetahuan Self Efficacy Dengan Homepage: http://jurnalstikestulungagung. id/index. php/riset *Corresponding author: nanangendriono2017@kep. Endriono. Nanang. Kesiapsiagaan Bencana Tanah Longsor Di RT 01 / RW 02 Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung Tahun 2021. Pengetahuan tentang diri merupakan aspek dalam efikasi diri yang paling mempengaruhi kehidupan manusia sehari Ae hari. Self Efficacy merupakan keyakinan seseorang dalam kemampuannya untuk melakukan suatu bentuk kontrol terhadap fungsi orang itu sendiri dan kejadian dalam lingkungan (Bandura dalam Jess Feist, 2. Self Efficacy mengacu pada keyakinan akan kemampuan individu untuk menggerakan motivasi, kemampuan individu untuk menggerakkan motivasi, kemampuan kognitif dan tindakan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan situasi (Ghufron, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Spital dalam Rinaldi . mengenai bias optimistik dengan kaitannya kesiapsiagaan menghadapi gempa menunjukkan hasil bahwa sikap optimis masyarakat dalam menghadapi gempa bumi dapat memberikan keyakinan dalam menghadapi bencana yang akan mendatang. Hal ini sesuai dengan konsep self efficacy dari Bandura bahwa setiap seseorang mempunyai keyakinan dan kemampuan tersendiri untuk bertindak atau mengendalikan situasi jika terjadi bencana. Berdasarkan fakta dan teori diatas, peneliti berpendapat bahwa hasil penelitian yang dilaksanakan di RT 01 / RW 02 Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung sudah sesuai dengan fakta dan teori tersebut bahwa ada hubungan pengetahuan self efficacy dengan kesiapsiagaan bencana tanah longsor. Hal ini ditunjukkan pada tabel 4. 3 bahwa mayoritas responden yang memiliki pengetahuan self efficacy baik sangat siap menghadapi bencana tanah longsor yaitu sebanyak 23 responden . ,83%), sedangkan responden yang memiliki pengetahuan self efficacy cukup siap dalam menghadapi bencana tanah longsor sebanyak 6 responden . ,15%) dan responden yang memiliki pengetahuan self efficacy kurang tidak siap dalam menghadapi bencana tanah longsor sebanyak 1 . ,33%). Pengetahuan self efficacy menjadi faktor pendukung dalam menjalani perilaku khusus, karena ketika seseorang memiliki pengetahuan keyakinan diri . elf efficac. yang baik dalam melakukan sesuatu, seseorang tersebut akan mampu menghadapi suatu masalah dengan sangat sigap sehingga hasil yang diperoleh akan sangat baik dan menguntungkan bagi dirinya suatu saat, sebaliknya ketika seseorang yang tidak memiliki pengetahuan self efficacy yang kurang dengan apa yang mereka lakukan maka seseorang tersebut akan merasa ragu dalam melakukannya bahkan sering mengabaikan atau tidak siap dalam menghadapi sesuatu dan bahkan nantinya akan merugikan ia sendiri. Dengan demikian pengetahuan self efficacy atau keyakinan diri sangatlah berperan penting dalam suatu bentuk kesiapsiagaan. Masyarakat yang pernah mengikuti pelatihan atau simulasi kebencanaan, mereka akan memiliki tingkat pengetahuan, rencana tanggap darurat, sistem peringatan dini dan mobilisasi sumber daya yang tinggi dibandingkan dengan masyarakat yang tidak mengikuti pelatihan kebencanaan. Setiap masyarakat yang dapat menyelesaikan dan selamat dari masalah menjadikan ia lebih percaya diri, optimis dan yakin pada kemampuannya dalam menghadapi masalah Sikap optimis tersebutlah jika dalam menghadapi bencana dapat memberikan keyakinan diri untuk siap menghadapi bencana yang akan mendatang. Maka dari itu seseorang yang memiliki pengetahuan self efficacy baik, akan memiliki kesiapsiagaan yang sangat siap dalam menghadapi bencana dibandingkan mereka yang memiliki pengetahuan self efficacy kurang. Homepage: http://jurnalstikestulungagung. id/index. php/riset *Corresponding author: nanangendriono2017@kep. Endriono. Nanang. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti dapat ditarik kesimpulan bahwa: Data Pengetahuan Self Efficacy pada masyarakat di RT 01 / RW 02 Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung menunjukkan bahwa setengah responden dari total 40 responden yaitu sebanyak 24 responden . %) memiliki pengetahuan self efficacy baik, 13 responden . ,5%) memiliki pengetahuan self efficacy cukup dan 3 responden . ,5%) memiliki pengetahuan self efficacy kurang. Dari fakta diatas menyatakan bahwa pengetahuan self efficacy yang baik dipengaruhi oleh faktor seperti sosial budaya, lingkungan dan status ekonomi seseorang. Data Kesiapsiagaan Bencana Tanah Longsor pada masyarakat di RT 01 / RW 02 Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung menunjukkan bahwa dari total 40 responden yaitu sebanyak 28 responden . %) sangat siap dalam menghadapi bencana tanah longsor, 7 responden . ,5%) siap dalam menghadapi bencana tanah longsor, 3 responden . ,5%) hampir siap menghadapi bencana tanah longsor dan 1 responden . ,5%) kurang siap menghadapi bencana tanah longsor. Hasil analisa data menggunakan uji statistik Spearman Rho Test didapatkan hasil nilai Pvalue (Sig. 2 taile. sebesar 0,000 < ( = 0,. maka H1 diterima dan H0 ditolak yang artinya AuAda Hubungan Antara Pengetahuan Self Efficacy Dengan Kesiapsiagaan Bencana Tanah Longsor Di RT 01 / RW 02 Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung Tahun 2021 UCAPAN TERIMA KASIH Saya ucapkan terima kasih Kepada Bapak dan Ibu dosen pembimbing, penguji dan pengajar yang selama ini telah tulus dan ikhlas memberikan pengarahan, pembelajaran serta bimbingan. Kepada Kepala Desa Sidomulyo dan Perangkat Desa Sidomulyo yang telah memberikan bantuan dan kesempatan dalam melakukan penelitian Kepada Kedua orang tua dan semua pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu per satu yang telah memberikan bantuan selama penelitian ini. REFERENSI