Potrait Fotografi Kehidupan Ma Ayu Shauma Silmi Faza 1. Andang Iskandar 2. Ismet Ruchimat 3 Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung Jl. Buah Batu No. Cijagra. Kec. Lengkong,Kota Bandung. Jawa Barat 40265 silmifazas@gmail. com, 2 andang_iskandar@yahoo. uk, 3 ismetruchimat@gmail. ABSTRACT The reality of Ma Ayu's life has become the trace of memory saved in the system of sensory The information about Ma Ayu's life journey is divided into three dimensions, namely adolescence, productive period, and survival period. Ma Ayu's story stimulates to play a role of humans as homo narrans, namely the representation of individuals as the subject of the story through the medium of photography. This work is presented in the category of ethical photographs summarized in a series of documentary photos and essays so that they contain photos which can be evaluated ethically. The method applied to reveal Ma Ayu's figure is by using a humanitarian approach for social documentary. This work produces two findings, the first is the perspective of Ma Ayu's personal identity as a representation of Javanese woman who struggle in the social complexities of different cultures. The second is to produce visual aesthetic products in the form of photography showing Ma Ayu's characteristics as a hardworking, high-spirited, and independent woman. Keywords: Biography. Humanitarian. Visual Aesthetic ABSTRAK Realitas kehidupan Ma Ayu telah menjadi jejak memori yang tersimpan dalam sistem ingatan sensorik. Informasi mengenai perjalanan hidup Ma Ayu terbagi menjadi tiga dimensi, yaitu masa remaja, masa produktif, dan masa survive. Kisah Ma Ayu menjadi stimulus untuk memainkan peran manusia sebagai homo narrans, yaitu keterwakilan individu sebagai subjek cerita melalui medium fotografi. Karya ini disajikan melalui kategori foto etik . thically photograph. , yang dirangkum dalam rangkaian foto dokumenter dan esai sehingga memuat foto-foto yang dapat dinilai secara etik. Adapun metode yang digunakan untuk membedah figur Ma Ayu yaitu dengan menggunakan pendekatan kemanusiaan . umanitarian approach for social documentar. Karya ini menghasilkan dua temuan, pertama berupa perspektif identitas personal Ma Ayu sebagai representasi perempuan Jawa yang berjuang dalam kompleksitas sosial yang berbeda kultur. Kedua menghasilkan produk estetika visual dalam bentuk fotografi yang menunjukkan karakteristik Ma Ayu dengan sifat pekerja keras, semangat yang tinggi, dan mandiri. Kata Kunci : Biografi. Humanitarian. Estetika Visual. PENDAHULUAN Latar Belakang satu atau kombinasi, dari panca indra, yaitu secara visual melalui mata, pendengaran melalui telinga, penciuman melalui hidung, rasa melalui lidah, dan rabaan melalui kulit (Bhinnety, 2008: . Jejak-jejak peristiwa yang tertuang dalam sebuah memori tersebut juga memiliki peranan yang sangat memungkinkan dikemas secara Setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan selalu meninggalkan jejak yang terekam dalam sistem ingatan sensorik Sistem ini mencatat informasi atau stimulus yang masuk melalui salah Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 7 No. 1 Juni 2022 dokumentatif, baik aktif maupun pasif. Secara aktif dapat dilakukan oleh objek yang sekaligus menjadi subjeknya, sedangkan secara pasif kebenaran subjeknya belum tentu dilakukan oleh objeknya. Kedua sifat tersebut pada dasarnya memiliki kesimpulan, yang dapat dikatakan sebagai sistem pengarsipan . rchieving syste. Salah satu sistem pengarsipan yang bersifat dokumentatif terdapat dalam objek-objek Proses riset terhadap subjek yaitu Ma Ayu, banyak meninggalkan jejak memori yang tersimpan dalam sistem ingatan Dari jejak ingatan berupa informasi tentang kehidupan Ma Ayu, lalu memunculkan ide dan sebagai stimulus untuk memainkan peran sebagai seorang homo narrans yaitu mahluk pencerita. Walter Fisher seorang komunikolog teori naratif mengungkapkan bahwa dalam dasarnya manusia merupakan seorang pencerita. ttps://mediaindonesia. read/detail/84573-darurat-komunikasibangsa diakses pada tanggal 28 April 2020, 23 WIB). Cerita yang tersimpan dalam sistem ingatan sensorik ini, diwujudkan melalui medium yang mampu menceritakan dan menghadirkan kembali memori itu dalam wujud nyata. Fotografi merupakan sebuah medium yang memiliki kemampuan yang sama dengan sistem ingatan sensorik manusia dan fungsi manusia sebagai homo narrans yaitu karena kemampuannya yang dapat merekam dan mencerminkan realita (Irwandi, 2017: . Hal ini didasarkan pada pandangan dua prinsip fotografi realistis yang saling berkaitan yaitu: Kamera diciptakan menyerupai konstruksi mata dan agar menyerupai persepsi visual yang natural. Kami anggap fotografi sebagai Aobentuk nyataAo karena mencerminkan pola yang sama ketika cahaya masuk ke mata kita yang biasanya dipantulkan oleh objek itu sendiri (Wright, 1999: . Fungsi kedua mata dan kamera memiliki ruang kontruksi yang sama dengan prinsip-prinsip optik kamera, dimana ruang diagframa berfungsi mengatur cahaya yang masuk lalu difokuskan melalui lensa. Sama halnya dengan iris pada bagian kornea, iris pada mata berfungsi mengatur cahaya yang masuk ke mata dengan cara mengubah ukuran pupil. Dengan demikian medium fotografi dianggap sebagai media representasi yang penting untuk mengabadikan sebuah peristiwa sesuai dengan Foto dokumenter merupakan salah satu genre fotografi yang berkembang seiring dengan kemajuan teknologi dan informasi saat ini. Sifat fotografi dokumenter berdaya fleksibiltas tinggi dan selalu beradaptasi pada perkembangan peradaban manusia, oleh karena itu keberadaanya selalu dibutuhkan manusia (Irwandi, 2017: . Hal ini seiring dengan fungsi karya fotografi dokumenter memiliki makna historis melalui hasil dari reproduksi sebuah karya dokumenter yang tak terbatas baik jumlah maupun ukurannya sehingga karya ini dapat disimpan dan disebarluaskan sebagai acuan referensi data dan informasi yang bisa dipercaya bagi kepentingan dimasa depan (Soedjono, 2007: . Fungsi fotografi dokumenter tersebut kemudian menjadi latar belakang penciptaan karya ini, dengan cara merekam dan membekukan realitas sosok seorang yang berusia senja, yaitu Ma Ayu. Ayu adalah seorang penjual surabi yang telah bertahun-tahun secara konsisten menjual surabi, dengan cara tradisional di tengah modernitas saat ini. Surabi adalah penganan tradisional yang menghidupinya sejak ia menikah hingga saat ini, bekerja Faza. Iskandar. Ruchimat: Potrait Fotografi Kehidupan Ma Ayu sebagai pedagang surabi telah menjadi pilihan dan nafas bagi kehidupannya. Ma dan Mbah, merupakan nama panggilan akrab yang diberikan oleh para pelanggan setianya. Saat ini Ema berusia lebih dari delapan dasawarsa, faktor usia telah mempengaruhi daya ingat yang dimilikinya pun kini mulai melemah. Kulitnya yang sudah keriput, postur tubuhnya yang sudah membungkuk, tidak menghalangi kegigihan dan semangat yang ada dalam dirinya untuk tetap produktif, dan bekerja. Dari kegigihan dan semangat yang dimiliki Ma Ayu ini menjadi sebuah embrio sebagai latar belakang penciptaan karya ini untuk melihat sisi lain dari kehidupan Ma Ayu sebagai pelaku penjaga Potrait kehidupan Ma Ayu, tidak sekedar menjadi rekaman secara sinopsis, melainkan sebagai sinopsis hidup yang tervisualisasikan secara AustereoskopikAy (Ismet Ruchimat. Wawancara 20 Februari Dalam satu bentuk dokumentatif riwayat Ma Ayu yang direfleksi secara AuStereoskopikAy dimaksudkan untuk melihat pandangan secara holistik hingga menjangkau konteks-konteks yang tidak terduga sedangkan dalam refleksi diakronik, dimaksudkan agar objek yang kita pilih sebagai aktor divisualisasikan secara terstuktur berdasarkan rentang waktu perjalanan kehidupan Ma Ayu. Realitas Ma Ayu dapat dipahami sebagai individu yang masuk pada ruang sketsa sosial, sekaligus sebagai representasi praktek kultural. Dengan demikian disinilah letak kedudukan Ma Ayu sebagai central pewacanaan naratif visual. masih bertahan dan tetap produktif dalam menjalani kehidupan. Meskipun usianya tidak muda lagi tetapi semangat dan kegigihan yang ia miliki, sangatlah luar biasa dan menarik. Ia tidak pernah meminta bantuan kepada siapapun, menurutnya selama ia mampu dan bisa melakukan berbagai hal seorang diri maka ia akan lakukan sendiri (Ma Ayu, wawancara 28 Mei 2020 di Bandun. Semangat dan kegigihan yang ia lakukan hingga saat ini memberikan arti dan pengingat khusus agar tidak bermalas-malasan dan selalu bersyukur dengan apa yang ada saat ini. Karakteristik semangat dan kegigihan Ma Ayu ini yang menjadi kisah naratif sebagai benang merah dalam karya Kisah naratif ini berfungsi untuk mengungkap dan membedah figur Ma Ayu, melalui visual fotografi berdasarkan waktu perjalanan hidupannya. Dalam karya ini lebih difokuskan terhadap pilihan hidup, bakat, dan bahagia dalam melakukannya yang menjadi tema dalam karya ini. Hal ini berdasarkan perjalanan kehidupan Ma Ayu yang sejak kecil sudah terlihat tidak peduli dengan pendidikan, ia lebih memilih berjualan daripada pergi Karya fotografi Ma Ayu termasuk kedalam kategori foto ethically evaluative photograph, kategori ini telah diklasifikasikan oleh Terry Barret berdasarkan bagaimana suatu karya foto dibuat dan apa fungsi dari karya foto tersebut. Kategori ethically evaluative photographs berisikan foto-foto yang memuat aspekaspek sosial kemasyarakatan yang dinilai secara etik . 0: . Barret memberikan salah satu contoh karya fotografer dunia yang termasuk ke dalam kategori ini yaitu Jacob Riis, seorang jurnalis sekaligus seorang social reform dalam buku yang berjudul How the Other Half Life, membahas Metode Penciptaan Karya fotografi ini memvisualkan kehidupan Ma Ayu sebagai sosok penjual surabi tradisional yang hingga saat ini Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 7 No. 1 Juni 2022 kehidupan para imigran yang tinggal di daerah kumuh pinggiran Kota New York. Peristiwa tersebut menjadikannya seorang reformasi sosial, ia melakukan sebuah tindakan melalui fotografi dan membawa kehidupan imigran ini ke perhatian publik. Pengkategorian ethically evaluative photographs dipilih untuk mempermudah dan memperjelas apresiasi karya ini nantinya, dengan demikian kategori ethically evaluative photograph dalam karya ini sebagai pembacaan bahwa karya ini memuat aspek-aspek sosial kemasyarakatan dan profesi Ma Ayu sebagai penjaga warisan penganan tradisional. Nila-nilai etik yang ditawarkan dalam karya ini diharapkan bukan hanya mengenai kondisi ekonomi Ma Ayu saja tetapi karakteristik Ma Ayu yang juga dapat dinilai secara etik. Teori yang digunakan dalam penciptaan karya ini berdasarkan tema yang diangkat mengenai kehidupan sosial masyarakat, maka diperlukan sebuah pendekatan sebagai metode untuk menganalisa subjek dalam karya ini, humanitarian approach for social documentary photography merupakan salah satu pendekatan dalam dunia fotografi yang diperkenalkan oleh Lewis Hine (Wright, 1999: . Pendekatan ini merupakan salah satu pendekatan yang dilakukan oleh para fotografer untuk dan reformasi sosial melalui medium Bryon Lippincot, mengatakan bahwa karya fotografi humanitarian ini tidak hanya sekedar membela kesejahteraan manusia, tetapi pekerjaan utama fotografer humanitarian adalah memaknai nilai kehidupan manusia . ttp://ethicalstorytelling. com/ethicalhumanitarian-photographer/diakses pada tanggal 12 Desember 2020, pukul 13. WIB). Pendekatan ini digunakan untuk berbicara mengenai kebanggaan dan kepeduliaan terhadap Ma Ayu dan berbicara bagaimana Ma Ayu membagikan, menularkan semangat, serta kegigihan yang ia miliki melalui perjalanan atau perjuangan hidup yang divisualkan melalui fotografi sebagai bentuk apresiasi terhadap Ma Ayu. Foto dokumenter dianggap tepat untuk memvisualkan kehidupan Ma Ayu sebagai subjek karya ini, berkaitan pada salah satu fungsi foto dokumenter yang dapat memaparkan sesuatu dengan cara deskriptif yang berisi suatu eksplorasi mendalam (Datoem, 2013: . Fungsi tersebut kemudian membantu membedah figur Ma Ayu melalui perjalanan hidupnya secara lebih terperinci. Selain itu foto dokumenter merupakan salah satu genre fotografi yang digunakan oleh para fotografer dunia sebagai medium untuk berbicara secara visual mengenai sisi-sisi kemanusiaan. Metode yang digunakan pada tahapan proses pemotretan yaitu dengan menggunakan metode EDFAT. AuMetode ini diperkenalkan oleh Walter Cronkite School of Jounalism and Telecomunication Arizona State Unversity yang merupakan akronim dari Entire. Detail. Frame. Angle, dan TimeAy (Irwandi, 2017: . Shobri dan wartawan senior Harian kompas. Edy Hasby dalam situsnya . menguraikan kelima aspek EDFAT sebagai E = Entire AoEstablished shotAo, suatu keseluruhan pemotretan yang dilakukan begitu melihat suatu peristiwa atau bentuk penugasan lain. untuk mengincar atau mengintai bagian-bagian untuk dipilih sebagai objek. D = Detail Suatu pilihan atas bagian tertentu dari Faza. Iskandar. Ruchimat: Potrait Fotografi Kehidupan Ma Ayu keseluruhan pandangan terdahulu . Tahap ini adalah suatu pilihan pengambilan keputusan atas sesuatu yang dinilai paling tepat sebagai Aopoint of interestAo F = Frame Tahapan saat mulai membingkai suatu detil yang telah dipilih. Fase ini mengantar seorang calon foto jurnalis mengenal arti suatu komposisi, pola, tekstur, dan bentuk subjek pemotretan dengan akurat. A = Angle Tahap ketika sudut pandang menjadi dominan, ketinggian, kerendahan, level mata, kiri, kanan, dan cara melihat. Fase ini penting mengkosepsikan aspek visual apa yang di inginkan. T = Time Tahap penentuan waktu penyinaran dengan kombinasi yang tepat antara diagframa dan kecepatan atas keempat tingkat yang telah disebutkan Pengetahuan teknis atas keinginan membekukan gerakan atau memilih ketajaman ruang adalah satu prasyarat dasar yang sangat diperlukan. Tetapi juga memberi potensi terhadap halhal yang bersifat positif, seperti potret 75 tokoh wanita inspiratif berkulit hitam yang mengubah Amerika milik Brian Lanker. Barret juga menyatakan: Auethically evaluative photographs can also be positiveA. 0: . Ay bahwa kategori foto etik ini dapat menggambarakan sesuatu yang positif. Dengan demikian dalam karya ini implementasi sesuatu yang positif tersebut dapat dilihat melalui perbuatan, sikap, dan karakter Ma Ayu dalam perjalanan kehidupannya. Ciri lain yang dapat dikategorikan sebagai foto etik ini adalah menceritakan suatu peristiwa, keadaan atau konflik yang menggunakan pendekatan bercerita dengan rangkaian foto yang saling berkaitan . oto esa. dan tambahan teks untuk menjelaskan konteks atau latar belakang sebuah peristiwa tersebut. Seperti karya Eugene Smith yang berjudul Minamata, lewat Minamata Smith dan istrinya bercerita tentang polusi dan limbah merkuri di Minamata. Jepang. Melalui karyanya secara kuat dan detail. Smith mengungkap korban yang terdampak racun merkuri tersebut melalui rangkaian foto esai (Smith and Smith, 1. Foto-foto yang hadir menampilkan realitas kehidupan Ma Ayu merupakan abstraksi naratif visual yang sekaligus berperan ganda memberi penekanan analisis secara kritis terhadap kategori ethically evaluative photographs. Realitas hidup yang dihadapi Ma Ayu dimaknai secara visual sebagai gambaran ruang sosial stereotipikal perempuan usia senja yang menjalankan konsekuensi hidup pada situasi telah banyak berubah. Ruang pembacaan perjuangan hidup Ma Ayu yang syarat dengan tantangan menjadi pilihan dalam mendudukan pemaknaan sosial Ma Ayu menjadi objek foto pada karya Arunika Swastamita. Metode ini berfungsi untuk menggambarkan aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam pemotretan dan mendapatkan foto-foto yang komprehensif, serta hasil foto yang variatif. Baik dari sisi fotografis maupun dari segi pemaparan kejadian atau peristiwa yang ingin disampaikan. HASIL DAN PEMBAHASAN Identitas Personal dan Sosial Ma Ayu Kategori Foto Etik dalam karya Arunika Swastamita Karya ini mengungkap kehidupan Ma Ayu sebagai realitas kehidupan masyarakat saat ini. Di dalam kategori ini tidak hanya membahas foto-foto etik yang menggambarkan kepincangan sosial masyarakat saja. Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 7 No. 1 Juni 2022 Sisi Humanis Ma Ayu Humanitarian approach for social documentary, sebagai pendekatan dan pisau analisis dalam karya ini menghasilkan sisi humanis Ma Ayu lewat karakteristiknya. Ma Ayu adalah orang yang memiliki sifat pekerja keras dan semangat yang luar biasa untuk kehidupannya. Hal ini dapat dianalisa berdasarkan riwayat perjalanan hidupnya, sejak kecil Ma Ayu sudah menjadi anak yatim piatu dan tinggal bersama neneknya, dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Sehingga hal ini pada akhirnya membuat Ma Ayu memiliki ide dan kreativitas untuk memulai berjualan, agar mendapatkan penghasilan dan ia dapat membantu neneknya. Hasil pemotretan dan penelitian lapangan menghasilkan foto-foto yang menunjukkan sifat mandiri, sikap dan perilaku Ma Ayu ketika bertindak tidak tergantung pada orang lain untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Hal ini dapat dianalisis melalui hasil foto-foto yang menunjukkan hampir seluruh aktivitasnya ia lakukan sendiri. Dari banyaknya hasil jepretan yang didapatkan dapat dianalisa, tidak banyak hasil foto yang menunjukkan kehadiran orang lain untuk membantu atau terlibat dalam aktivitasnya seharihari. Jika terdapat foto yang menunjukkan kehadiran orang lain, hal itu menunjukkan tentang hubungannya dengan orang lain sebagai mahluk sosial. Kisah perjalanan hidupnya dilengkapi dengan data-data lapangan yang telah didapatkan, kemudian dianalisa melalui pendekatan humanitarian ini menghasilkan sisi humanis Ma Ayu muncul melalui karakteristiknya dengan latar belakang masa lalu yang membuat dirinya menjadi manusia yang memiliki sifat pekerja keras dengan semangatnya yang tinggi, pantang menyerah, sabar, rendah hati, supel, senang bercanda, dan mandiri hingga saat ini. Sifat yang terbangun secara individu dan kultural sebagai orang Jawa semakin menguatkan jawaban yang Ma Ayu buktikan secara konsisten melalui aktivitasnya menjadi penjual surabi dan tetap melakukan fungsi serta peran kesehariannya. Temuan karakteristik Ma Ayu ini kemudian muncul pada wujud visual karya ini, dari hasil foto-foto yang telah dibuat khususnya di bagian masa survive atau kehidupan hari ini. Menampilkan fotofoto aktivitas Ma Ayu yang menunjukkan sifat pekerja keras, semangat, pantang menyerah dan mandiri yang secara tidak sadar terbentuk dari masa lalunya hingga hari ini. Hal ini dapat dianalisa melalui fotofoto saat ia akan pergi berjualan surabi dari mulai menyiapkan bahan baku, peralatan, mendorong roda, memasang terpal, hingga ia pulang kembali kerumahnya. Secara kultur Ma Ayu terlahir sebagai orang Jawa, sejak kecil hingga beranjak dewasa pun ia tinggal dan besar di Kota Gombong Jawa Tengah. Setelah menikah. Ma Ayu pun pindah ke Bandung bersama suami dan menetap hingga saat ini. Pertanyaan pun muncul terhadap Ma Ayu, apakah hingga saat ini masih ada kulturkultur orang Jawa yang masih melekat dalam dirinya, mengingat ia sudah lama tinggal di Bandung dan sudah terbiasa dengan kultur-kultur orang Sunda. Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah masih ada, hal ini dapat dianalisis dari beberapa sudut dalam diri Ma Ayu. Suyanto . dalam bukunya yang berjudul Pandangan Hidup Jawa menyatakan: AuKarakteristik budaya Jawa adalah religious, non-doktriner, toleran, akomodatif, dan Karakteristik budaya Jawa ini melahirkan sifat kecenderungan yang khas bagi masyarakat Jawa seperti: percaya pada Tuhan Yang Maha Esa sebagai Sangkan Paraning Dumadi dengan segala sifat dan kebesaran-Nya, bercorak idealistis . ercaya Faza. Iskandar. Ruchimat: Potrait Fotografi Kehidupan Ma Ayu wanita Jawa sebagai penutup kepala, kethu biasa ia gunakan pada saat berjualan ataupun pergi keluar rumah. Selain itu hingga saat ini Ma Ayu masih menggunakan pakaian dengan model kebaya ataupun kemeja dengan motif bunga ataupun garisgaris model jaman dahulu. Ma Ayu hingga saat ini masih menggunakan stagen dan jarik, jarik adalah kain batik, yang dilingkarkan mulai dari pinggang hingga mata Dengan demikian, walaupun Ma Ayu telah pindah dan menetap di Bandung, tetapi didalam dirinya masih tersimpan sifat, karakter dan kebiasaan-kebiasaan dari orang Jawa. kepada sesuatu yang bersifat immaterialbukan kebendaan dan hal-hal yang bersifat adikodrati-supernatural serta cenderung ke arah mistik, lebih mengutamakan hakikat daripada segi-segi formal dan ritual, mengutamakan cinta kasih sebagai landasan pokok hubungan antar manusia, percaya kepada takdir dan cenderung bersikap pasrah, bersifat konvergen dan universal, momot dan non-sektarian, cenderung pada simbolisme, cenderung pada gotong royong, rukun, damai, dan kurang kompetitif karena kurang mengutamakan Ay . ttps://w. com/best-seller/ kebiasaan-orang Jawa/#Buku_Terkait_Jawa diakses pada tanggal 27 Mei 2021, pukul 31 WIB). Ma Ayu sudah menggunakan Bahasa Sunda dan Bahasa Indonesia walaupun logat medog Ma Ayu masih cukup melekat saat ia berbicara. Orang Jawa dikenal kalem, kalem artinya tidak tegesa-gesa, tenang, dan santai. Dalam hal pekerjaan. Ma Ayu dapat mengerjakannya dengan Misalnya, ketika ia berjualan dan kesiangan karena terlalu fokus dengan menjual gorengan atau karena lupa belum membeli minyak tanah. Ma Ayu, berjalan melakukan aktivitasnya seperti biasa jika ada yang bertanya: Gambar 1. Gaya Berpakaian Ma Ayu. Ma Ayu, 1990 (Dokumentasi: Shauma Silmi, 2. Pembeli : Ma, kenapa siang bukanya? Ma Ayu : Iyah, tadi lupa belum beli minyak tanahnya jadi weh beli dulu terus kesiangan, poho anteng teuing ngagoreng bala-bala, jeung pisang poho. Pas ningali eleuh geus beurang. Ah nya bae weh siang ge. (Ma Ayu. Wawancara 18 Januari 2. Kebiasaan Ma Ayu sebagai orang Jawa yang masih sangat terlihat secara fisik, yaitu cara berpakaian. Ma Ayu ini mempunyai ciri khas wanita Jawa seumurannya yang hingga saat ini masih menjadi gaya busana ikonik orangtua Jawa. Hingga saat ini. Ma Ayu masih memakai topi AukethuAy khas Gambar 2. Ma Ayu dan Kethu. (Dokumentasi: Shauma Silmi, 2. Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 7 No. 1 Juni 2022 Ma Ayu sebagai subjek dalam karya ini tentu saja pada akhirnya tidak hanya menjadi konsumsi pribadi pemotret, tetapi bagaimana dampak sosial yang dihadirkan ketika karya foto ini dipublikasikan. Pada awalnya memang karya ini hanya menjadi jejak personal antara pemotret dan Ma Ayu, tetapi ketika karya ini dipublikasikan karya ini juga menjadi jejak sosial yang merepresentasikan kelas sosial karena pada akhirnya fotografi juga akan berhubungan dengan identitas personal dan sosial. Identitas personal dan sosial yang dimiliki Ma Ayu ini, tergantung pada pemotretnya, karena kecenderungan pemotret sebagai pembuat karya yang biasanya memiliki kuasa untuk memberikan identitas kepada subjeknya (Andang Iskandar. Wawancara 27 September 2. Hal inilah kemudian harus digunakan pemotret, dengan sebaik mungkin secara postitif terutama dalam hal kemanusiaan. Sehingga identitas personal dan sosial Ma Ayu yang diwujudkan dalam visual karya fotografi bukan hanya membahas kesedihan dan kemiskinan Ma Ayu saja, tetapi lebih kepada karakteristik yang Ma Ayu miliki. Hasil temuan karakteristik Ma Ayu yang menjadi identitas personal dan sosial Ma Ayu dari hasil karya ini terbagi menjadi dua bagian yaitu: Identitas personal ditunjukkan melalui foto-foto aktivitas Ma Ayu pada saat di Identitas sosial ditunjukkan melalui foto-foto aktivitas Ma Ayu pada saat berjualan surabi. Dari kedua aktivitas Ma Ayu pada saat di rumah dan berjualan surabi menghasilkan foto-foto yang menunjukkan sifat pekerja keras, semangat, pantang menyerah dan mandiri yang menjadi karakteristik Ma Ayu saat ini. Ulasan Karya Keterbatasan di masa tua tidak menjadi hambatan bagi Ma Ayu untuk tetap bekerja dan beraktivitas. Tidak banyak aktivitas yang ia kerjakan di rumah karena hampir seluruh pekerjaan rumah telah dikerjakan oleh anak-anak Ma Ayu di rumah. Pada saat di rumah biasanya Ma Ayu hanya melakukan aktivitas yang berhubungan dengan dirinya sendiri seperti mencuci pakaian sendiri, mengolah bahan-bahan untuk membuat surabi, istirahat hingga berbincang-bincang dengan anak dan Potrait Kehidupan Personal Ma Ayu Gambar 3. Tampak Depan Rumah Ma Ayu. (Dokumentasi: Shauma Silmi, 2. Rumah ini merupakan rumah milik Ma Ayu dan keluarga, foto ini menunjukkan bagian depan rumah Ma Ayu yang sangat berhimpitan dengan rumah warga lainnya. Ukuran rumah Ma Ayu tidak terlalu besar dan bertingkat 2. Ma Ayu tinggal bersama ketiga anaknya dan keluarga mereka masing-masing. Walaupun rumah Ma Ayu tidaklah terlalu besar namun rumah Ma Ayu ini di isi oleh 12 orang. Faza. Iskandar. Ruchimat: Potrait Fotografi Kehidupan Ma Ayu aktivitas seperti membuat dan mengolah bahan-bahan untuk berjualan surabi, dan memasak air. Selain itu dapur ini pun digunakan oleh Suwarti dan Suwarni anakanak Ma Ayu untuk memasak aneka macam lauk-pauk, dan membuat kue sebagai usaha Saat memasuki dapur, pandangan kita secara otomatis langsung tertuju pada panci dan wajan dengan berbagai ukuran yang di gantung pada kayu dan kawat. Gambar 4. Televisi Ma Ayu (Dokumentasi: Shauma Silmi, 2. Gambar 8. Ma Ayu sedang memasak air. (Dokumentasi: Shauma Silmi, 2. Gambar 5. Ma Ayu dan secangkir kopi. (Dokumentasi: Shauma Silmi, 2. Ruang tengah ini telah menjadi ruang utama bagi Ma Ayu, hampir seluruh waktu di rumah ia habiskan di ruangan ruangan ini juga memiliki fungsi sebagai ruang keluarga, dan ruang makan. Televisi yang ada di ruangan ini menjadi fokus utama bagi Ma Ayu, karena televisi menjadi media hiburan bagi dirinya sambil ditemani secangkir kopi susu yang ia buat. Aktivitas seperti ini biasa Ma Ayu lakukan pada sore hari setelah ia berjualan dan menyelesaikan seluruh persiapan untuk besok ia berjualan kembali. Dapur menjadi salah satu area yang juga sering Ma Ayu gunakan untuk ber- Gambar 9. Ma Ayu dan Termos Kesayangan. (Dokumentasi: Shauma Silmi, 2. Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 7 No. 1 Juni 2022 Ma Ayu sedang memasak air panas untuk dikonsumsi oleh dirinya yang kemudian ia simpan agar tetap panas di dalam termos air. Walaupun Ma Ayu sudah memiliki dispenser, ia menyatakan lebih senang meminum air yang ia proses sendiri menurutnya air yang berasal dari dispenser kurang panas sehingga ia memutuskan untuk memasak air panas sendiri. Terlihat dari foto diatas ia membawa panci dengan menggunakan lap setelah mengisi air termos didalam, selanjutnya ia kembali mengisi termosnya yang lain dengan menggunakan gayung yang berisi air panas yang telah dibuatnya. Ruang tengah dan ruang dapur juga menjadi bagian ruang yang sering Ma Ayu gunakan untuk mengolah dan membuat adonan surabi. Seperti memotongmotong tempe untuk topping surabi hingga mengolah bahan utama membuat surabi. Gambar 11. Oncom yang sudah matang. (Dokumentasi: Shauma Silmi, 2. Oncom salah satu pilihan rasa yang ada dalam surabi Ma Ayu, namun oncom buatan Ma Ayu tidak lagi berbahan dasar oncom tetapi berbahan dasar tempe. Hal ini ia lakukan karena dulu ia sering mendapatkan kualitas oncom yang kurang bagus, ia pernah menemukan puntung rokok, dan batu atau sesuatu yang keras didalam oncom. Sehingga ia sering mendapatkan komplen dari beberapa pelanggannya, karena itu ia menggantinya dengan oncom menurutnya sama saja mau oncom atau tempe karena sama-sama di bumbui dan enak. Setiap hari Ma Ayu bangun pukul tiga subuh untuk memulai aktivitasnya, setelah terbangun dari tidurnya ia bergegas untuk mandi dan segera bersiap-siap menyiapkan semua bahan dan peralatan untuk Ia pun mulai membuat adonan surabi, ia menyiapkan bahan utama yaitu tepung beras, tepung terigu, dan kelapa, selanjutnya ketiga bahan tersebut diaduk terlebih dahulu hingga tercampur dan merata untuk dicampur dengan air santan dan garam. Semua bahan-bahan tercampur. Ma Ayu mencicipi rasa dan kekentalan pada adonan surabi yang telah dibuatnya. Setelah selesai semua untuk membuat adonan surabi Ma Ayu bersiap-siap untuk shalat subuh dan pergi berjualan. Gambar 10. Ekspresi wajah serius Ma Ayu saat sedang memotong tempe. (Dokumentasi: Shauma Silmi, 2. Faza. Iskandar. Ruchimat: Potrait Fotografi Kehidupan Ma Ayu Gambar 14. Senyum Ma Ayu. (Dokumentasi: Shauma Silmi, 2. Potrait Kehidupan Sosial Ma Ayu Berjualan surabi adalah aktivitas favorit bagi Ma Ayu, selain menjadi salah satu cara untuk mendapatkan penghasilan. Berjualan menjadi ruang gerak baginya, menurut Ma Ayu jika ia tidak memiliki aktivitas seperti berjualan surabi membuat seluruh badanya sakit dan membuatnya merasa kesal dan bingung. Sehingga ia memilih untuk tetap berjualan walaupun anak-anak Ma Ayu sudah melarangnya untuk berjualan namun ia memaksa untuk berjualan karena ia tidak mau diam di rumah dan membebani anak-anaknya. Ma Ayu berjualan setiap hari, ia mulai berjualan dari pukul enam pagi hingga habis atau pukul 11 siang jika belum habis. Ma Ayu memulai aktivitas berjualan dengan membawa seluruh bahan dan peralatan yang ia butuhkan untuk berjualan surabi dengan menggunakan sebuah roda/gerobak kecil yang ia sebut sebagai kendaraan dinas. Ma Ayu mulai mendorong rodanya menuju tempat ia berjualan yang memiliki jarak kurang lebih sekitar 200-300 meter dari rumahnya. Sesampainya di tempat berjualan ia mulai menyiapkan semuanya Gambar 12. Ma Ayu sedang membuat bahan dasar adonan surabi. (Dokumentasi: Shauma Silmi, 2. Foto ini diambil ketika Ma Ayu sedang bercerita kisah masa muda dan anakanaknya waktu kecil. Kemudian Suwarti anak keempat Ma Ayu datang meminta Ma Ayu mengikuti gaya yang ia contohkan untuk ditiru dan diabadikan, dicetak, dan dipasang di rumah untuk hiasan dinding di rumah ujar Suwarti. Ma Ayu pun tertawa melihat gaya yang diarahkan Suwarti karena menurutnya gaya yang di arahkan sangat lucu. Gambar 13. Suasana ruang tengah Ma Ayu. (Dokumentasi: Shauma Silmi, 2. dari peralatan membuat surabi hingga mulai membuat surabi, tak lama setelah ia membuka lapaknya para pelanggan Ma Ayu pun mulai berdatangan. Pelanggan Ma Ayu pun sudah menunggu dan mengantri untuk memakan surabi buatan Ma Ayu. Ma Ayu pun mulai menuangkan adonan surabi ke dalam tungkunya menaburkan oncom kemudian menunggu surabi hingga matang sambil mengecek kematangan surabi di tungku yang lain. Gambar 15. Ma Ayu dan Kendaraan Dinas. (Dokumentasi: Shauma Silmi, 2. Gambar 18. Proses membuat surabi. (Dokumentasi: Shauma Silmi, 2. Gambar 16. Menuju Lapak Berjualan. (Dokumentasi: Shauma Silmi, 2. Gambar 19. Memberi Oncom. (Dokumentasi: Shauma Silmi, 2. Gambar 17. Memanaskan Tungku. (Dokumentasi: Shauma Silmi, 2. Gambar 20. Ma Ayu sedang membuat surabi. (Dokumentasi: Shauma Silmi, 2. Faza. Iskandar. Ruchimat: Potrait Fotografi Kehidupan Ma Ayu Detail foto pada gambar 23 menunjukkan urat-urat tangan Ma Ayu yang sangat terlihat jelas, selain karena faktor usia urat-urat ini menjadi bukti atas kerja keras Ma Ayu selama ini. Kerutan di wajah Ma Ayu pun terlihat sangat keras dan tebal. Hal ini pun menjadi bukti usia perjalanan hidup Ma Ayu sebagai sosok wanita mandiri dan kegigihannya dalam menjalankan hidup sehari-hari. Gambar 22. Surabi oncom dan polos. (Dokumentasi: Shauma Silmi, 2. Surabi oncom dan polos sudah matang kini saatnya Ma Ayu membungkus kinca dan memberikan pesanan surabi kepada para pelanggannya. Gambar 24. Tutup Lapak. (Dokumentasi: Shauma Silmi, 2. Ma Ayu membersihkan kembali tempat ia berjualan. Ma Ayu memulainya dengan membersihkan seluruh tungku yang digunakan hingga menyapu membersihkan sisa-sisa leburan kayu . hingga bersih. Gambar 23. Tangan Perjuangan. (Dokumentasi: Shauma Silmi, 2. Gambar 25. Istirahat Sejenak. (Dokumentasi: Shauma Silmi, 2. Gambar 24. Kerut Wajah Ma Ayu. (Dokumentasi: Shauma Silmi, 2. mengetahui lebih dalam yang menjadi fokus pembicaraan dalam karya terkait dengan kisah perjalanan Ma Ayu. Proses riset ini menjadi bagian penting bagi pemotret untuk mengabadikan kisah perjalanan kehidupan Ma Ayu dan membagikan energi positif yang Ma Ayu miliki melalui teks wawancara, arsip, serta dokumentasi keluarga Ma Ayu dan visual fotografi kepada para apresiator. Secara umum visual yang terlihat dari karya fotografi ini memperlihatkan kehidupan Ma Ayu sebagai realitas kehidupan anggota masyarakat dengan tingkat ekonomi pra sejahtera, dengan demikian karya ini termasuk kategori ethically evaluative photographs, fotografi yang memuat foto-foto yang berhubungan dengan aspek-aspek sosial masyarakat yang dapat dinilai secara etik. Melalui pendekatan humanitarian approach for social documentary dalam karya ini membuat karya ini tidak lagi hanya membahas rasa kasihan terhadap Ma Ayu, melainkan untuk menunjukkan sisi humanis Ma Ayu lewat karakteristik yang ia miliki. Karakteristik yang Ma Ayu miliki ini kemudian dapat dinilai secara etik oleh para apresiator karya fotografi ini. Gambar 27. Pulang. (Dokumentasi: Shauma Silmi, 2. Rutinitas Ma Ayu setelah membersihkan tempat berjualan yaitu istirahat sejenak sambil meminum air putih. Apabila Ma Ayu sudah merasa cukup, ia pun mulai melipat dan menggulung terpal tempat ia berjualan, dan merapihkan seluruh barang bawaannya ke dalam kendaraan dinas dan ia pun pulang ke rumah. SIMPULAN Penciptaan karya Arunika Swastamita ini telah melalui proses riset melalui literasi, dan pengumpulan data yang berasal dari Riset ini dilakukan untuk Daftar Pustaka