Jurnal Pengabdian Untuk Mu NegeRI Vol. 9 No. November 2025 p-ISSN : 2550-0198 e-ISSN : 2745-3782 Penguatan Literasi Membaca Melalui Program Pojok Literasi Sekolah Dalam Pengenalan Lingkungan Persekolahan 2 Terintegrasi KKN Pendidikan Miftahul Jannah1. Febi Febrianti2. Saeful Maulana3. Marlin MaharaniA. Novita. Emilia OktafiaA. Ismadaniel KarzaiA. RamzinA. IlmiawanA Fakultas Keguruan Ilmu Penidikan. Universitas Muhammadiyah Mataram email: miftjnnh19@gmail. Abstract This community service activity was motivated by the low reading literacy culture at Madrasah Aliyah NW Suwangi, as evidenced by the lack of reading facilities and routine reading activities. literacy corner was chosen as an approach to increase reading interest through the active involvement of all parties. This program uses a collaborative-participatory approach based on service learning within the framework of Participatory Action Research (PAR), involving students of the Integrated School Environment Introduction 2 KKN Education as directors, teachers as supporters, and students as the main subjects. Data collection was conducted through participatory observation, semi-structured interviews. Focus Group Discussions (FGD), and documentation, then analyzed descriptively and The results showed a significant increase in students' reading literacy, as seen from the increase in visits to the literacy corner, increased reading time, and increased participation in literacy Thus, the literacy corner program in the context of Integrated School Environment Introduction 2 with KKN Education proved to be effective in improving literacy culture at the secondary school level, although its sustainability still requires ongoing commitment and cooperation between teachers, students, and the school. Keywords: reading literacy, literacy corner. PLP2. Community Service Program in Education. Participatory Action Research Abstrak Kegiatan pengabdian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya budaya literasi membaca di Madrasah Aliyah NW Suwangi, yang terlihat dari minimnya fasilitas bacaan dan kurangnya aktivitas membaca rutin. Pojok literasi dipilih sebagai pendekatan untuk meningkatkan minat baca melalui keterlibatan aktif seluruh pihak. Program ini menggunakan pendekatan kolaboratif-partisipatif berbasis service learning dalam kerangka Participatory Action Research (PAR), melibatkan mahasiswa Pengenalan Lingkungan Persekolahan 2 terintegrasi KKN Pendidikan sebagai pengarah, guru sebagai pendukung, dan siswa sebagai subjek utama. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur. Focus Group Discussion (FGD), dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam literasi membaca siswa, terlihat dari meningkatnya kunjungan ke pojok literasi, bertambahnya waktu membaca, serta meningkatnya partisipasi dalam diskusi literasi. Dengan demikian, program pojok literasi dalam konteks Pengenalan Lingkungan Persekolahan 2 yang terintegrasi dengan KKN Pendidikan terbukti efektif dalam meningkatkan budaya literasi di tingkat sekolah menengah, meskipun keberlanjutannya tetap memerlukan komitmen dan kerja sama berkelanjutan antara guru, siswa, dan pihak sekolah. Kata Kunci: literasi membaca, pojok literasi. PLP2. KKN Pendidikan. Participatory Action Research PENDAHULUAN Literasi membaca adalah dasar utama dalam pendidikan, karena kemampuan membaca tidak hanya dipandang sebagai keterampilan teknis mengenali huruf dan kata, tetapi juga sebagai pintu untuk mengakses berbagai pengetahuan . Dengan https://doi. org/10. 37859/jpumri. Jurnal Pengabdian Untuk Mu NegeRI Vol. 9 No. Agustus 2025 kegiatan membaca, siswa mendapatkan peluang untuk memperluas pengetahuan, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, dan membentuk analisis yang lebih Literasi membaca berperan sebagai alat penting dalam membangun kepribadian yang responsif dan fleksibel terhadap perubahan sosial serta kemajuan ilmu pengetahuan . Oleh karena itu, literasi tidak hanya berkaitan dengan pemahaman bacaan, tetapi juga mencakup kemampuan untuk menginterpretasikan kehidupan sehari-hari . Dari sudut pandang pedagogis, keterampilan literasi membaca yang baik dapat mendukung pencapaian tujuan pembelajaran secara Ini juga menegaskan posisi strategis literasi sebagai fondasi untuk pengembangan kapasitas intelektual dan emosional siswa. Dengan kata lain, berpengaruh pada pencapaian akademis, tetapi juga pada perkembangan pribadi siswa secara menyeluruh . Meskipun kemampuan membaca diakui sebagai elemen dasar dalam pendidikan, situasi literasi di Indonesia masih mengalami sejumlah tantangan berat. Hasil survei global seperti Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa tingkat literasi siswa Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lain. Keterbatasan kemampuan literasi tersebut diperparah oleh kurangnya budaya membaca di masyarakat, terbatasnya akses terhadap sumber bacaan berkualitas, serta lemahnya dukungan lingkungan belajar di rumah maupun di sekolah . Di berbagai wilayah, keberadaan fasilitas yang mendukung literasi seperti perpustakaan dan ruang baca masih sangat kurang. Keadaan ini membuat siswa jarang berlatih membaca dengan intensif dan kritis, sehingga mengganggu peningkatan kemampuan akademik mereka. Fakta tersebut mengindikasikan terdapatnya gap antara tuntutan kurikulum nasional yang menekankan literasi dan kenyataan https://doi. org/10. 37859/jpumri. p-ISSN : 2550-0198 e-ISSN : 2745-3782 kemampuan siswa di lapangan. Maka dari itu, dibutuhkan pendekatan intervensi yang lebih kreatif dan inovatif untuk menyelesaikan masalah literasi di Indonesia . Institusi pendidikan formal seperti sekolah memainkan peranan penting dalam menciptakan dan menguatkan budaya literasi di kalangan siswa . Lingkungan sekolah tidak hanya berperan sebagai tempat untuk mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ekosistem yang mengembangkan kebiasaan membaca melalui beragam program yang terencana. Guru, kepala sekolah, dan staf pendidikan memiliki peran krusial dalam membangun suasana belajar yang mendukung sehingga siswa dapat terbiasa mengakses, memahami, serta menginterpretasikan bacaan dengan baik . Di samping itu, sekolah harus menyediakan fasilitas pendukung seperti perpustakaan, koleksi buku yang beragam, dan ruang baca yang nyaman untuk meningkatkan partisipasi Program kebiasaan membaca, seperti membaca selama lima belas menit sebelum pelajaran, merupakan salah satu contoh tindakan nyata yang telah diterapkan . Dengan adanya dukungan itu, sekolah berperan sebagai pusat utama dalam mengembangkan kemampuan literasi siswa. Karena itu, intervensi peningkatan literasi di sekolah adalah langkah strategis untuk memperbaiki kualitas pendidikan secara keseluruhan . Salah satu cara yang efektif untuk mengembangkan budaya membaca di sekolah adalah dengan menerapkan program pojok literasi . Pojok literasi diartikan sebagai area atau ruang sederhana di kelas maupun lingkungan sekolah yang menawarkan bahan bacaan menarik dan mudah dijangkau oleh Keberadaan sudut literasi terbukti dapat meningkatkan minat baca karena siswa memperoleh ruang alternatif yang lebih berinteraksi dengan bacaan . Di samping itu, studi Anim . mengungkapkan meningkatkan kemampuan pemahaman teks dan menumbuhkan rasa ingin tahu siswa p-ISSN : 2550-0198 e-ISSN : 2745-3782 terhadap informasi baru . Model ini juga sejalan dengan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang menekankan pentingnya kebiasaan membaca setiap hari sebagai dasar pengembangan keterampilan literasi yang lebih lanjut. Oleh karena itu, pojok literasi bukan sekadar fasilitas fisik, melainkan juga alat pendidikan yang memperkuat budaya literasi di sekolah secara berkesinambungan. Program Pengenalan Lapangan Persekolahan 2 (PLP. yang terkolaborasi dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pendidikan adalah sarana strategis bagi mahasiswa untuk meningkatkan kompetensi pedagogis sambil memberikan sumbangan nyata kepada sekolah dan masyarakat. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa tidak pembelajaran, tetapi juga melaksanakan program pengabdian yang sesuai dengan kebutuhan sekolah mitra . Integrasi PLP2 bersama KKN memperluas peluang mahasiswa dalam merancang intervensi, termasuk peningkatan literasi melalui pembentukan sudut literasi. Studi Sari dan Ningsih . menunjukkan bahwa partisipasi mahasiswa dalam kegiatan pengabdian yang berorientasi sekolah mampu meningkatkan motivasi belajar siswa dan juga memperkuat budaya literasi . Selain itu, program ini juga sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang menekankan kolaborasi antara pendidikan, penelitian, dan pengabdian (UU No. Tahun 2012 tentang Pendidikan Tingg. Sebagai hasilnya. PLP2 terintegrasi KKN Pendidikan dapat dianggap sebagai strategi kolaboratif yang menguntungkan untuk mahasiswa dan sekolah mitra. Program pojok literasi untuk penguatan literasi sangat sesuai dengan kebutuhan sekolah yang sering kali mengalami kekurangan fasilitas baca dan lemahnya Beragam meningkatkan minat baca siswa . , tetapi sebagian besar masih menekankan pada pelaksanaan mandiri sekolah tanpa dukungan kolaboratif dari sumber eksternal. Jurnal Pengabdian Untuk Mu NegeRI Vol. 9 No. November 2025 Inilah yang menjadi celah penelitian, yaitu minimnya studi tentang penggabungan pojok literasi dengan program PLP2 dan KKN Pendidikan yang melibatkan mahasiswa sebagai agen perubahan. Keunikan dari kegiatan ini terletak pada integrasi aspek akademik mahasiswa, layanan masyarakat, dan kebutuhan sekolah mitra dalam satu program kolaboratif. Oleh karena itu, artikel ini tidak hanya menginformasikan hasil penerapan pojok literasi, tetapi juga menyajikan sudut pandang baru tentang bagaimana kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dapat memperkuat ekosistem literasi secara berkelanjutan. Masalah utama yang mendasari kegiatan ini adalah rendahnya budaya membaca di kalangan siswa SMA, terutama di Madrasah Aliyah, yang terlihat dari kurangnya kebiasaan literasi serta sedikitnya fasilitas bacaan yang ada di sekolah. Pertanyaan yang dibahas dalam artikel ini Adalah: 1. bagaimana proses pelaksanaan program pojok literasi sekolah dalam kerangka PLP2 terintegrasi KKN Pendidikan, dan sejauh mana kontribusinya terhadap penguatan literasi membaca siswa?. kontribusinya terhadap peningkatan literasi membaca siswa Madrasah Aliyah NW Suwangi?. Kegiatan ini bertujuan untuk menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan pojok literasi dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi, serta menganalisis efek yang keterampilan membaca siswa. Lewat artikel ini, diharapkan dapat diperoleh pemahaman empiris tentang efektivitas pojok literasi sebagai strategi nyata dalam meningkatkan budaya membaca di tingkat pendidikan Di samping itu, hasil dari kegiatan kontribusi pemikiran bagi sekolah-sekolah lain dalam merancang program literasi. Oleh karena itu, artikel ini memberikan sumbangan baik secara praktis maupun teoretis dalam usaha meningkatkan kualitas literasi membaca di tingkat Madrasah Aliyah. https://doi. org/10. 37859/jpumri. Jurnal Pengabdian Untuk Mu NegeRI Vol. 9 No. Agustus 2025 METODE PENGABDIAN Kegiatan pengabdian ini menggunakan pendekatan partisipatif-kolaboratif berbasis Participatory Action Research (PAR). Metode ini dipilih karena memberikan kesempatan bagi guru, siswa, dan mahasiswa PLP2 terintegrasi KKN Pendidikan untuk terlibat secara langsung dalam setiap tahap, mulai dari perencanaan hingga evaluasi. Pendekatan ini berfokus pada kerja sama dan refleksi, sehingga pengembangan literasi membaca melalui pojok literasi dapat terintegrasi dalam kegiatan di sekolah . Oleh karena itu, kegiatan ini tidak hanya diharapkan bersifat sementara, tetapi juga berkelanjutan. Pelaksanaan kegiatan berlangsung di Madrasah Aliyah NW Suwangi. Desa Suwangi. Kecamatan Sakra. Kabupaten Lombok Timur, pada tanggal 1 Agustus - 1 September 2025. Peserta kegiatan terdiri dari 27 siswa kelas X. XI, dan XII, dengan guru berperan sebagai pendamping dan Pengenalan Lingkungan Persekolahan KKN Pendidikan sebagai fasilitator. Rancangan kegiatan terdiri dari tiga fase utama, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan penilaian . Proses persiapan dilakukan dengan mengidentifikasi kebutuhan literasi serta berkoordinasi dengan pihak sekolah. Pelaksanaan tahap ini meliputi penataan sudut literasi, penyediaan materi bacaan nonteks pelajaran, dan pendampingan siswa dalam aktivitas membaca serta diskusi Penilaian dilakukan melalui pengamatan, diskusi, dan refleksi bersama untuk mengevaluasi efektivitas program. Perancangan ini dibuat secara sistematis agar sesuai dengan kebutuhan sekolah. Lingkup pengabdian diarahkan pada siswa Madrasah Aliyah NW Suwangi, yang menjadi mitra PLP2/KKN Pendidikan FKIP Universias Muhammadiyah mataram di desa suwangi, kecamatan sakra kabupaten Lombok timur, dengan guru berperan sebagai pendamping dan mahasiswa sebagai Objek kegiatan ini adalah peningkatan literasi membaca dengan https://doi. org/10. 37859/jpumri. p-ISSN : 2550-0198 e-ISSN : 2745-3782 memanfaatkan pojok literasi sebagai media untuk membiasakan membaca . Bahan pokok yang digunakan terdiri dari kumpulan bacaan nonteks pelajaran, sedangkan alat yang digunakan adalah rak sederhana, meja baca, serta papan mading. Lingkup ini ditentukan berdasarkan kebutuhan yang nyata dari sekolah untuk mengembangkan budaya Metode pengumpulan data meliputi observasi partisipatif, wawancara semiterstruktur. Diskusi Kelompok Terfokus (FGD), serta dokumentasi . Definisi operasional variabel mencakup literasi membaca sebagai kemampuan untuk merespons teks, serta pojok literasi sebagai area di sekolah yang berfungsi sebagai pusat pembiasaan membaca . Analisis data dilaksanakan dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui pengurangan, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Validitas data diperkuat melalui triangulasi sumber sehingga hasil analisis mampu mencerminkan peran pojok literasi dalam penguatan budaya membaca . HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan program pojok literasi di Madrasah Aliyah NW Suwangi dimulai dengan tahap perencanaan yang melibatkan dosen, siswa, dan mahasiswa PLP2/KKN. Pengamatan awal menunjukkan bahwa ketertarikan membaca siswa cukup minim, menggunakan gawai dibandingkan buku. Mahasiswa selanjutnya membuat pojok literasi yang sederhana dengan menghadirkan rak buku, berbagai koleksi bacaan, serta ruang baca yang nyaman. Gambar 1. Kegiatan Membaca 15 Menit p-ISSN : 2550-0198 e-ISSN : 2745-3782 Gambar 1, menunjukan siswa mulai menggunakan pojok literasi dalam rutinitas sekolah, khususnya melalui program membaca selama 15 menit sebelum Ini menunjukkan bahwa adanya pojok literasi dapat berfungsi sebagai sarana yang efektif dalam membiasakan membaca. Dengan kata lain, proses perencanaan dan pelaksanaan program telah berlangsung sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Hasil sesi wawancara dengan guru dan siswa menunjukkan bahwa keberadaan pojok literasi berdampak positif pada peningkatan minat baca. Guru menyatakan bahwa siswa tampak lebih bersemangat karena adanya bacaan nonteks pelajaran yang sesuai dengan minat anak muda. Siswa mengungkapkan bahwa aktivitas membaca di pojok literasi terasa seru karena pilihan bacaan lebih bervariasi dan tidak Gambar 2. FGD (Focus Group Discussio. Gambar 2 menyajikan. Kegiatan pendukung yaitu FGD (Focus Group Discussio. dimana siswa dan mahasiswa terlibat aktif dalam berbagai pengalam mereka mengenai penggunaan pojok literasi. Ini menunjukkan bahwa pojok literasi bukan hanya fasilitas yang bersifat pasif, tetapi juga alat partisipatif yang melibatkan siswa secara langsung. Dengan cara ini, pelaksanaan program telah berhasil mendorong partisipasi siswa dalam kegiatan Penilaian terhadap dokumentasi dan wawancara juga menunjukkan sejumlah Jurnal Pengabdian Untuk Mu NegeRI Vol. 9 No. November 2025 hambatan dalam pelaksanaan program. Guru menganggap koleksi bacaan masih kurang, sehingga belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan siswa. Siswa menyarankan untuk menyediakan tambahan komik, buku motivasi, dan bacaan populer yang lebih relevan dengan kehidupan mereka. Dokumentasi menunjukkan batasan ruang pojok literasi yang sederhana, tetapi tetap digunakan secara maksimal. Mahasiswa PLP2/KKN mengalami kesulitan dalam perolehan buku dan fasilitas pendukung akibat keterbatasan anggaran. Namun demikian, kerjasama antara guru, siswa, dan mahasiswa dapat memastikan kelangsungan aktivitas literasi. Hal ini menekankan betapa pentingnya peran keterlibatan semua pihak dalam mendukung keberlangsungan program. Secara keseluruhan, hasil dari wawancara dan dokumentasi menunjukkan bahwa pojok literasi memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan literasi membaca di MA NW Suwangi. Meningkatnya jumlah kunjungan siswa, waktu membaca, dan keterlibatan aktif dalam diskusi literasi menjadi tanda keberhasilan program. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian . serta Gerakan Literasi Sekolah (Kemendikbud, 2. yang menekankan pentingnya kebiasaan membaca untuk meningkatkan literasi. Dengan cara ini, pojok literasi tidak hanya memberikan efek praktis berupa peningkatan minat baca, tetapi juga menciptakan ekosistem literasi sekolah yang kolaboratif dan berpotensi untuk berlanjut. SIMPULAN Program pojok literasi dalam konteks PLP2 yang terintegrasi dengan KKN Pendidikan di Madrasah Aliyah NW Suwangi terbukti mampu mencapai tujuan PkM, yaitu menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan program serta menunjukkan dampaknya terhadap peningkatan keterampilan membaca Pelaksanaan program yang dimulai dari tahap perencanaan, penataan fasilitas literasi, pendampingan kegiatan membaca, hingga evaluasi kolaboratif antara guru, siswa, dan mahasiswa berjalan secara Melalui https://doi. org/10. 37859/jpumri. Jurnal Pengabdian Untuk Mu NegeRI Vol. 9 No. Agustus 2025 dokumentasi aktivitas membaca 15 menit dan diskusi literasi, terlihat peningkatan motivasi, frekuensi, serta durasi membaca Perubahan perilaku dari pasif menjadi lebih aktif menegaskan bahwa pojok literasi berkontribusi nyata dalam meningkatkan keterampilan membaca dan membangun ekosistem literasi di sekolah. Walaupun memberikan efek positif, hasil evaluasi menunjukkan adanya ketidakmerataan berupa terbatasnya variasi koleksi bacaan, ruang literasi yang sederhana, dan keberlanjutan program yang masih sangat bergantung pada kontribusi Oleh sebab itu, penelitian ke depan harus diarahkan pada pengembangan model pengelolaan pojok literasi yang berkelanjutan dengan melibatkan guru dan siswa sebagai pengelola utama. Selain itu, perlu dianalisis penggabungan pojok literasi dengan teknologi digital agar sesuai dengan minat generasi muda. Studi seperti ini akan memperkuat aspek praktis dan teoretis dalam menciptakan budaya literasi yang berkelanjutan dan adaptif di sekolah UCAPAN TERIMAKASIH Dalam hal ini, tim pengabdian yang mana Adalah mahasiswa kelompok 09 PLP KKN Pendidikan mengucapkan terimakasih yang sebesarbesarnya kepada dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Mataram dan Panitia Pelaksana PLP II Terintegrasi KKN Pendidikan, karenanya kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar. Tidak lupa pula, ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada kepala sekolah MA NW Suwangi, karena dukungan dan kerja samanya sebagai sekolah mira bagi mahasiswa kelompok 09 PLP II Terintegrasi KKN Pendidikan. DAFTAR PUSTAKA