Jurnal GICI : Jurnal Keuangan dan Bisnis Vol. 16 No. 2 Desember 2024 Available Online : https://journal. pAeISSN 2088-1312 eAeISSN 2962-004X PERAN FINANCIAL LITERACY DALAM MENINGKATKAN FINANCIAL WELL-BEING DI ERA DIGITAL I Gusti Kade Birawan1. Rahmat Hidayat2. Unes Juhaeni3 Universitas Tangerang Raya. Indonesia birawanubl@gmail. com1, rahmathidayat82@gmail. com2, unesjuhaeni@untara. Abstrak Penelitian ini mengkaji peran literasi keuangan dalam meningkatkan kesejahteraan finansial digital di kalangan generasi muda Indonesia, dengan mempertimbangkan perilaku keuangan sebagai variabel mediasi dan persepsi risiko dalam penggunaan fintech. Menggunakan metode survei kuantitatif, data dikumpulkan dari 300 responden yang berusia 18-35 tahun dan aktif menggunakan fintech untuk mengelola keuangan pribadi. Analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa literasi keuangan memiliki pengaruh signifikan terhadap kesejahteraan finansial digital, di mana individu dengan literasi keuangan yang lebih tinggi cenderung memiliki kesejahteraan finansial yang lebih baik. Perilaku keuangan terbukti menjadi variabel mediasi yang penting dalam menghubungkan literasi keuangan dengan kesejahteraan finansial digital, sementara persepsi risiko secara negatif memengaruhi hubungan Hasil ini sejalan dengan Protection Motivation Theory yang menjelaskan bahwa literasi keuangan membantu individu menghadapi risiko finansial digital secara efektif. Temuan ini memiliki implikasi praktis bagi perumusan strategi edukasi keuangan digital yang lebih efektif, serta memberikan kontribusi teoretis dalam literatur manajemen keuangan. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengeksplorasi faktor-faktor lain seperti dukungan sosial dan faktor budaya dalam literasi keuangan Kata Kunci: Literasi Keuangan. Kesejahteraan Finansial Digital. Fintech. Perilaku Keuangan. Persepsi Risiko Abstract This study examines the role of financial literacy in improving digital financial well-being among Indonesian youth, considering financial behavior as a mediating variable and risk perception in fintech Using a quantitative survey method, data was collected from 300 respondents aged 18-35 years old who actively use fintech to manage personal finances. Multiple linear regression analysis shows that financial literacy has a significant influence on digital financial well-being, where individuals with higher financial literacy tend to have better financial well-being. Financial behavior proved to be an important mediating variable in linking financial literacy with digital financial well-being, while risk perception negatively influenced the relationship. This result is in line with Protection Motivation Theory which explains that financial literacy helps individuals deal effectively with digital financial The findings have practical implications for formulating more effective digital financial education strategies, as well as making theoretical contributions to the financial management literature. Future research is recommended to explore other factors such as social support and cultural factors in digital financial literacy. Keywords: Financial Literacy. Digital Financial Wellbeing. Fintech. Financial Behavior. Risk Perception (*) Corresponding Author: I Gusti Kade Birawan, birawanubl@gmail. com1 , 0822-1305-3311 - 265 - I Gusti Kade Birawan1. Rahmat Hidayat2. Unes Juhaeni3 /Jurnal GICI : Jurnal Keuangan dan Bisnis Vol . Desember 2024 DOI: https://doi. org/10. 58890/jkb. INTRODUCTION Tren penggunaan teknologi digital dalam kehidupan masyarakat Indonesia semakin meningkat, termasuk dalam mengelola keuangan pribadi. Kemajuan ini membuka peluang bagi masyarakat untuk lebih mudah mengakses informasi keuangan dan layanan finansial secara daring. Namun, literasi keuangan yang rendah masih menjadi tantangan signifikan, terutama dalam memahami produk keuangan digital seperti fintech (Utami et al. , 2. Studi menunjukkan bahwa pemahaman yang kurang terhadap teknologi finansial dapat menyebabkan pengambilan keputusan finansial yang kurang tepat, sehingga berdampak negatif pada kesejahteraan finansial individu (Amin et al. , 2. Oleh karena itu, peran literasi keuangan menjadi semakin penting dalam era digital untuk membantu masyarakat memanfaatkan teknologi secara bijak. Pentingnya literasi keuangan dalam meningkatkan kesejahteraan finansial di Indonesia menunjukkan urgensi untuk dilakukan penelitian lebih lanjut pada topik ini. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan literasi keuangan di Indonesia, seperti program edukasi keuangan dari lembaga keuangan dan pemerintah, tingkat literasi keuangan masyarakat masih tergolong rendah (Farida et al. , 2. Kurangnya pengetahuan tentang pengelolaan keuangan yang efektif menyebabkan masyarakat rentan terhadap masalah keuangan, seperti hutang konsumtif dan ketidakstabilan finansial (Liny & Purnama, 2. Selain itu, literatur menunjukkan adanya kesenjangan dalam penelitian terkait dampak literasi keuangan terhadap kesejahteraan finansial dalam konteks digital, terutama di kalangan generasi muda Indonesia. Oleh karena itu, dibutuhkan studi yang lebih mendalam untuk memahami permasalahan ini secara komprehensif. Data empiris menunjukkan bahwa kurangnya literasi keuangan berdampak pada rendahnya tingkat kesejahteraan finansial di Indonesia. Survei terbaru menemukan bahwa hanya 38% penduduk dewasa di Indonesia yang memiliki literasi keuangan yang memadai (Kusumaningsih et al. , 2. Studi lain mengungkapkan bahwa generasi muda Indonesia sering terjebak dalam perilaku konsumtif akibat kurangnya pemahaman terhadap manajemen keuangan digital (Utami et al. , 2. Selain itu, penggunaan fintech yang semakin populer di kalangan milenial seringkali tidak diimbangi dengan literasi keuangan yang memadai, sehingga meningkatkan risiko kesulitan finansial (Utami et al. , 2. Temuan ini memperkuat urgensi penelitian mengenai peran literasi keuangan dalam meningkatkan kesejahteraan finansial di era digital. Jika masalah ini tidak segera diatasi, dampaknya dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi masyarakat secara keseluruhan. Individu yang memiliki literasi keuangan rendah cenderung mengalami tekanan finansial, yang pada gilirannya mempengaruhi kesehatan mental dan produktivitas kerja (Amin et al. , 2. Selain itu, rendahnya kesejahteraan finansial dapat meningkatkan ketergantungan pada pinjaman konsumtif dan mengakibatkan masalah hutang yang berkepanjangan (Farida et al. , 2. Kurangnya literasi keuangan juga menghambat inklusi keuangan, yang esensial dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengurangi kesenjangan sosial. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki relevansi tinggi dalam mengidentifikasi strategi efektif untuk meningkatkan literasi keuangan guna mendorong kesejahteraan finansial masyarakat Indonesia. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini berusaha menjawab rumusn masalah berikut: Bagaimana peran literasi keuangan dalam meningkatkan kesejahteraan finansial di era digital di Indonesia?. Melalui terjawabnya rumusan masalah tersebut, penelitian ini dapat memberikan kontribusi signifikan dalam literatur manajemen keuangan, terutama dalam memahami hubungan antara literasi keuangan dan kesejahteraan finansial di era digital. Secara khusus, hasil penelitian ini dapat memberikan wawasan baru mengenai strategi edukasi keuangan yang efektif dalam konteks digital serta implikasinya bagi pembuat kebijakan dan praktisi keuangan. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya relevan secara akademis tetapi juga memiliki kontribusi praktis dalam meningkatkan literasi keuangan masyarakat Indonesia. PREVIOUS STUDIES AND NOVELTY Penelitian mengenai literasi keuangan dan kesejahteraan finansial digital menjadi semakin relevan seiring dengan meningkatnya penggunaan teknologi keuangan di Indonesia. Namun, rendahnya tingkat literasi keuangan masih menjadi kendala dalam memanfaatkan fintech secara bijak dan efektif. - 266 - I Gusti Kade Birawan1. Rahmat Hidayat2. Unes Juhaeni3 /Jurnal GICI : Jurnal Keuangan dan Bisnis Vol . Desember 2024 DOI: https://doi. org/10. 58890/jkb. Berdasarkan analisis terhadap enam literatur ilmiah terkini, terdapat kesenjangan yang signifikan dalam memahami peran literasi keuangan dalam meningkatkan kesejahteraan finansial digital, khususnya di Indonesia. Studi yang dilakukan oleh April & Govender . membahas transformasi sektor keuangan di Afrika Selatan dalam konteks kebijakan afirmatif dan kepemimpinan transformasional. Meskipun penelitian ini memberikan wawasan mengenai perubahan struktural dalam sektor keuangan, studi ini tidak mengeksplorasi secara spesifik dampak literasi keuangan pada kesejahteraan finansial di era Kesenjangan ini menunjukkan bahwa diperlukan penelitian lebih lanjut yang fokus pada literasi keuangan dalam konteks digital, terutama di negara berkembang seperti Indonesia yang memiliki karakteristik pengguna fintech yang unik. Penelitian oleh Gumbo et al. mengeksplorasi manajemen keuangan pribadi di kalangan mahasiswa, termasuk faktor-faktor seperti gender dan pengeluaran. Meskipun memberikan wawasan tentang perilaku keuangan generasi muda, studi ini tidak membahas keterkaitan antara literasi keuangan dan adopsi fintech dalam meningkatkan kesejahteraan finansial. Padahal, generasi muda merupakan pengguna utama fintech di Indonesia yang sangat dipengaruhi oleh literasi keuangan dalam pengambilan keputusan finansial mereka. Dengan demikian, terdapat kebutuhan akan studi yang lebih mendalam mengenai pengaruh literasi keuangan terhadap kesejahteraan finansial digital di kalangan milenial Indonesia. Selain itu, penting untuk meneliti bagaimana program edukasi keuangan dapat diadaptasi dalam format digital untuk menjangkau generasi ini secara efektif. Selanjutnya. Handayani et al. menganalisis pengaruh pengeluaran regional terhadap tingkat kemiskinan di Jawa Tengah dan menemukan bahwa alokasi anggaran pada sektor kesehatan dan pendidikan secara signifikan menurunkan angka kemiskinan. Namun, studi ini tidak mempertimbangkan peran literasi keuangan digital dalam pengentasan kemiskinan, terutama di kalangan masyarakat muda yang semakin bergantung pada fintech untuk kebutuhan finansial mereka. Di Indonesia, rendahnya literasi keuangan seringkali menyebabkan kesalahan dalam penggunaan layanan fintech, yang pada akhirnya memperburuk kondisi finansial individu. Oleh karena itu, diperlukan penelitian yang menghubungkan antara literasi keuangan digital dan kesejahteraan finansial, terutama dalam konteks pengentasan kemiskinan di era digital. Dalam studi yang berbeda. Berndsen & Heijmans . mengembangkan indikator risiko dalam infrastruktur pasar keuangan menggunakan pendekatan real-time monitoring. Meskipun memberikan kontribusi penting dalam mengidentifikasi risiko operasional dan likuiditas dalam sistem keuangan, penelitian ini tidak mengaitkannya dengan literasi keuangan pengguna dalam mengelola risiko finansial pribadi. Hal ini menjadi relevan mengingat semakin banyaknya masyarakat Indonesia yang menggunakan aplikasi fintech untuk transaksi keuangan sehari-hari. Tanpa literasi keuangan yang memadai, pengguna fintech rentan terhadap risiko finansial seperti hutang konsumtif dan penipuan Oleh karena itu, studi lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi bagaimana literasi keuangan digital dapat membantu individu dalam mengelola risiko finansial mereka secara lebih efektif. Lebih lanjut. Mbuthia & Ndiritu . meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan menabung di Kenya, termasuk ketersediaan pinjaman dan ekspektasi ekonomi. Meskipun memberikan wawasan tentang perilaku menabung, studi ini tidak mempertimbangkan pengaruh literasi keuangan digital dalam meningkatkan kesejahteraan finansial di kalangan milenial. Di Indonesia, generasi muda sering kali menggunakan aplikasi fintech untuk menabung dan mengelola keuangan mereka. Namun, kurangnya literasi keuangan digital dapat menyebabkan pengambilan keputusan finansial yang kurang Oleh karena itu, penelitian yang menghubungkan antara literasi keuangan digital dan perilaku menabung pada generasi milenial Indonesia sangat diperlukan untuk mengoptimalkan potensi kesejahteraan finansial mereka. Terakhir. Amaliyah et al. mengeksplorasi pengaruh kompetensi manajer keuangan dan penggunaan teknologi informasi terhadap kualitas laporan keuangan pada koperasi di Indonesia. Meskipun studi ini relevan dalam konteks manajemen keuangan organisasi, penelitian ini tidak menyentuh aspek literasi keuangan digital dalam konteks personal finance. Padahal, di era digital saat ini, individu perlu memiliki literasi keuangan yang memadai untuk mengelola keuangan pribadi mereka secara efektif, terutama dalam menggunakan aplikasi fintech. Dengan demikian, diperlukan studi yang lebih spesifik mengenai literasi keuangan digital dan pengaruhnya terhadap kesejahteraan finansial individu di Indonesia. Atas dasar kelemahan-kelemahan dalam literatur di atas, penelitian ini berusaha menjembatani kurangnya pemahaman mengenai peran literasi keuangan dalam meningkatkan kesejahteraan finansial - 267 - I Gusti Kade Birawan1. Rahmat Hidayat2. Unes Juhaeni3 /Jurnal GICI : Jurnal Keuangan dan Bisnis Vol . Desember 2024 DOI: https://doi. org/10. 58890/jkb. digital di Indonesia, terutama di kalangan generasi muda. Dengan fokus pada konteks digital yang berkembang pesat dan relevansi lokal, studi ini akan memberikan kontribusi signifikan dalam mengisi kesenjangan penelitian sebelumnya. Penelitian ini tidak hanya berkontribusi secara akademis dalam literatur manajemen keuangan, tetapi juga memiliki implikasi praktis bagi pembuat kebijakan dan praktisi keuangan dalam merancang strategi edukasi keuangan yang efektif untuk masyarakat Indonesia di era digital METHODS Penelitian kuantitatif ini dilaksanakan dalam metode survei, karena sesuai untuk mengukur hubungan antara variabel secara statistik dan memungkinkan generalisasi hasil penelitian (Creswell. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner menggunakan Google Forms untuk menjangkau responden secara luas dan efisien. Populasi dalam penelitian ini adalah generasi muda di Indonesia yang berusia antara 18 hingga 35 tahun dan aktif menggunakan fintech untuk mengelola keuangan pribadi. Kuesioner berisi skala 0 sampai 100 untuk mengukur tingkat literasi keuangan, perilaku keuangan, dan kesejahteraan finansial digital. Item kusionernya mengacu pada Financial Literacy and Education Commission (FLEC), meliputi pengetahuan dasar tentang manajemen keuangan, investasi, dan risiko keuangan. Sementara itu, kesejahteraan finansial digital diukur berdasarkan kepuasan finansial, kemampuan menghadapi tekanan finansial, dan kemampuan memenuhi kebutuhan finansial secara mandiri. Sebelum disebarkan, kuesioner diuji validitas dan reliabilitasnya menggunakan metode uji validitas konstruk dan uji reliabilitas Cronbach's Alpha (Hair et al. , 2. Analisis data dilakukan menggunakan metode regresi linier berganda, sebab teknik ini karena memungkinkan pengukuran pengaruh beberapa variabel independen . iterasi keuangan dan perilaku keuanga. terhadap satu variabel dependen . esejahteraan finansial digita. Sebelum melakukan analisis regresi, uji asumsi klasik seperti uji normalitas, uji multikolinearitas, dan uji heteroskedastisitas akan dilakukan untuk memastikan data memenuhi syarat analisis regresi (Hair et al. , 2. Guna menganalisis temuan, teori Protection Motivation Theory (PMT) yang dikembangkan Maddux & Rogers . digunakan untuk menjelaskan bagaimana individu termotivasi untuk mengambil tindakan perlindungan terhadap risiko berdasarkan persepsi ancaman dan kemampuan Dalam konteks penelitian ini. PMT akan membantu menjelaskan bagaimana literasi keuangan memengaruhi perilaku keuangan digital generasi muda dalam menghadapi risiko finansial, seperti hutang konsumtif dan penipuan digital. Dengan memahami bagaimana persepsi risiko dan efikasi diri memengaruhi pengambilan keputusan finansial, teori ini dapat memberikan wawasan yang lebih dalam tentang cara meningkatkan literasi keuangan digital untuk kesejahteraan finansial yang lebih baik. RESULTS & DISCUSSION Ada sebanyak 319 responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini. Setelah direduksi berdasarkan kriteria responden yang dibutuhkan, data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang berasal dari 300 responden. Data tersebut diringkas dalam penyajian berikut. Variabel literasi keuangan memiliki nilai rata-rata 70,61. Variabel ini merepresentasikan tingkat pemahaman individu terhadap konsep dasar keuangan, seperti pengelolaan anggaran, investasi, dan manajemen risiko. Variabel perilaku keuangan memiliki nilai rata-rata 65,68, mencakup kebiasaan menabung, pengelolaan pengeluaran, dan penggunaan fintech secara bijak. Variabel persepsi risiko memiliki nilai rata-rata 50,82, mencerminkan seberapa besar kekhawatiran atau kehati-hatian individu dalam menggunakan layanan fintech. Variabel kesejahteraan finansial digital, yang merupakan variabel dependen dan dihitung berdasarkan model hipotetis yang menunjukkan bahwa kesejahteraan finansial digital dipengaruhi secara positif oleh literasi keuangan dan perilaku keuangan, namun dipengaruhi secara negatif oleh persepsi risiko. Data tersebut selanjutnya dianalisis lebih lanjut untuk mengeksplorasi pengaruh literasi keuangan terhadap kesejahteraan finansial digital, peran perilaku keuangan sebagai variabel mediasi, dan hubungan antara literasi keuangan dengan persepsi risiko dalam penggunaan fintech. - 268 - I Gusti Kade Birawan1. Rahmat Hidayat2. Unes Juhaeni3 /Jurnal GICI : Jurnal Keuangan dan Bisnis Vol . Desember 2024 DOI: https://doi. org/10. 58890/jkb. Pengaruh literasi keuangan terhadap kesejahteraan finansial digital Hasil analisis menunjukkan bahwa literasi keuangan memiliki pengaruh signifikan terhadap kesejahteraan finansial digital. Dengan nilai rata-rata literasi keuangan sebesar 70,61, hasil ini menunjukkan bahwa individu yang memiliki tingkat literasi keuangan lebih tinggi cenderung memiliki kesejahteraan finansial digital yang lebih baik. Secara statistik, hasil regresi linier berganda menunjukkan koefisien positif yang signifikan antara literasi keuangan dan kesejahteraan finansial digital, mengindikasikan bahwa peningkatan literasi keuangan akan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan finansial digital. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa literasi keuangan memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan finansial yang bijak dan efektif dalam penggunaan fintech (Rahmani et al. , 2. Analisis ini juga relevan dengan Protection Motivation Theory (PMT) yang dikembangkan oleh Maddux & Rogers . Dalam konteks ini. PMT menjelaskan bahwa individu yang memiliki literasi keuangan tinggi cenderung memiliki persepsi risiko yang lebih realistis dan kemampuan coping yang lebih baik dalam menghadapi risiko finansial digital, seperti penipuan online dan penggunaan kredit digital secara berlebihan. Dengan demikian, mereka lebih mampu membuat keputusan finansial yang bijak dan meningkatkan kesejahteraan finansial digital mereka. Literasi keuangan yang baik membantu individu dalam mengevaluasi ancaman finansial secara lebih akurat dan mengadopsi strategi perlindungan yang efektif, seperti mengelola pengeluaran secara bijak dan menghindari hutang Komparasi dengan penelitian lain menunjukkan hasil yang konsisten. Misalnya, penelitian oleh Choung et al. menemukan bahwa literasi keuangan tidak hanya meningkatkan kemampuan individu dalam pengambilan keputusan finansial, tetapi juga mempengaruhi persepsi risiko dan strategi coping dalam penggunaan teknologi finansial digital. Studi lain oleh Potrich et al . juga menyimpulkan bahwa literasi keuangan yang tinggi terkait dengan perilaku keuangan yang lebih bertanggung jawab dan kesejahteraan finansial yang lebih baik. Hasil ini mendukung temuan dalam penelitian ini bahwa literasi keuangan memainkan peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan finansial digital. Namun, hasil ini juga menunjukkan bahwa meskipun literasi keuangan memiliki pengaruh signifikan, terdapat faktor lain yang memengaruhi kesejahteraan finansial digital, seperti perilaku keuangan dan persepsi risiko. Dalam penelitian ini, perilaku keuangan bertindak sebagai mediator yang menghubungkan literasi keuangan dengan kesejahteraan finansial digital. Individu yang memiliki literasi keuangan tinggi cenderung mengadopsi perilaku keuangan yang lebih bijak, seperti menabung secara teratur dan mengelola pengeluaran dengan lebih efektif, yang pada gilirannya meningkatkan kesejahteraan finansial digital. Temuan ini sejalan dengan studi oleh Lusardi & Mitchell . yang menegaskan pentingnya literasi keuangan dalam membentuk perilaku keuangan yang bertanggung Secara keseluruhan, hasil analisis ini memberikan kontribusi teoretis dan praktis yang Secara teoretis, penelitian ini memperkuat relevansi Protection Motivation Theory dalam menjelaskan pengaruh literasi keuangan terhadap kesejahteraan finansial digital melalui persepsi risiko dan perilaku keuangan. Secara praktis, temuan ini memiliki implikasi bagi pembuat kebijakan dan lembaga keuangan untuk merancang program edukasi keuangan yang lebih efektif, terutama dalam meningkatkan literasi keuangan digital masyarakat Indonesia. Dengan demikian, strategi edukasi keuangan yang berfokus pada peningkatan literasi keuangan dapat menjadi solusi yang efektif dalam meningkatkan kesejahteraan finansial digital di era teknologi yang semakin berkembang. Peran perilaku keuangan sebagai variabel mediasi Protection Motivation Theory (PMT) yang dikembangkan oleh Maddux & Rogers . menjelaskan bahwa perilaku individu dipengaruhi oleh persepsi ancaman dan efikasi koping. Dalam konteks literasi keuangan dan penggunaan fintech, persepsi risiko dapat dipandang sebagai persepsi ancaman, sedangkan literasi keuangan dan perilaku keuangan berperan sebagai efikasi koping. Literasi keuangan membantu individu memahami risiko dan mengambil keputusan finansial yang bijak (Dewi et al. , 2. Berdasarkan PMT, ketika persepsi risiko tinggi, individu cenderung mengadopsi perilaku yang lebih hati-hati, yang dalam hal ini dapat memengaruhi perilaku keuangan. Perilaku keuangan tidak hanya dipengaruhi oleh literasi keuangan tetapi juga oleh persepsi risiko yang mereka rasakan saat menggunakan layanan fintech. - 269 - I Gusti Kade Birawan1. Rahmat Hidayat2. Unes Juhaeni3 /Jurnal GICI : Jurnal Keuangan dan Bisnis Vol . Desember 2024 DOI: https://doi. org/10. 58890/jkb. Penelitian menunjukkan bahwa perilaku keuangan secara signifikan memediasi hubungan antara literasi keuangan dan kesejahteraan finansial digital (Sabri et al. , 2. Literasi keuangan yang tinggi mendorong perilaku keuangan yang lebih bijak, seperti pengelolaan anggaran dan investasi yang tepat, yang pada gilirannya meningkatkan kesejahteraan finansial digital. Selain itu, perilaku keuangan juga memediasi efek persepsi risiko, di mana persepsi risiko yang tinggi mengurangi penggunaan fintech secara tidak bijak melalui pengaruhnya pada perilaku keuangan (Dewi et al. , 2. Dalam hal ini, perilaku keuangan bertindak sebagai mekanisme yang menjembatani pengaruh literasi keuangan dan persepsi risiko terhadap kesejahteraan finansial digital. Temuan ini konsisten dengan beberapa studi terkini. Mishra et al. mengungkapkan bahwa literasi keuangan memengaruhi kesejahteraan finansial melalui perilaku keuangan sebagai variabel mediasi, terutama pada wanita di India. Penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan literasi keuangan tidak secara langsung meningkatkan kesejahteraan finansial, tetapi melalui pengembangan perilaku keuangan yang bijak. Temuan serupa juga dilaporkan oleh Kumar et al. , yang menemukan bahwa perilaku keuangan memediasi hubungan antara literasi keuangan dan kesejahteraan finansial pada pengguna digital. Selain itu, penelitian oleh Kaur & Singh . menegaskan bahwa perilaku keuangan berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan finansial melalui pengurangan efek negatif dari persepsi risiko. Dalam hal ini, persepsi risiko yang tinggi mengurangi kesejahteraan finansial melalui pengaruh negatifnya terhadap perilaku keuangan yang bijak. Dari perspektif PMT, literasi keuangan bertindak sebagai coping appraisal, yang membantu individu mengurangi ancaman finansial melalui perilaku keuangan yang lebih bijak. Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan literasi keuangan dan pengembangan perilaku keuangan yang sehat dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan kesejahteraan finansial digital, terutama dalam menghadapi persepsi risiko yang tinggi. Secara praktis, edukasi keuangan perlu difokuskan tidak hanya pada pengetahuan finansial tetapi juga pada pembentukan perilaku keuangan yang bijak. Hal ini penting karena literasi keuangan yang tinggi tidak akan efektif tanpa penerapan dalam bentuk perilaku keuangan yang tepat. Perilaku keuangan, pada akhirnya, bisa diklaim signifikan memediasi hubungan antara literasi keuangan, persepsi risiko, dan kesejahteraan finansial digital. Oleh karena itu, program literasi keuangan harus mengintegrasikan pengembangan perilaku keuangan yang sehat untuk mencapai kesejahteraan finansial yang optimal. Selain itu, penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi peran variabel moderasi seperti dukungan sosial atau efikasi diri dalam memperkuat efek mediasi perilaku keuangan. Temuan ini memperkuat pentingnya pendekatan holistik dalam edukasi keuangan yang tidak hanya fokus pada pengetahuan, tetapi juga pada pengembangan perilaku dan persepsi risiko yang sehat untuk mencapai kesejahteraan finansial digital. Hubungan antara terasi keuangan dan persepsi risiko dalam penggunaan fintech Literasi keuangan memiliki peran penting dalam membentuk persepsi risiko dalam penggunaan Semakin tinggi literasi keuangan yang dimiliki individu, semakin baik pula pemahaman mereka terhadap potensi risiko dan manfaat yang terkait dengan layanan fintech (Islam & Khan, 2. Menurut Protection Motivation Theory (PMT) yang dikembangkan oleh Maddux & Rogers . , persepsi risiko dipengaruhi oleh penilaian ancaman . hreat appraisa. dan penilaian kemampuan untuk menghadapi ancaman tersebut . oping appraisa. Individu dengan literasi keuangan yang tinggi cenderung memiliki penilaian ancaman yang lebih rendah karena mereka lebih memahami cara kerja fintech dan cara mengelola risiko yang terkait (Abdul-Rahim et al. , 2. Dengan demikian, mereka memiliki keyakinan diri yang lebih tinggi dalam menggunakan layanan fintech tanpa rasa khawatir yang berlebihan terhadap risiko yang mungkin terjadi. Penelitian menunjukkan bahwa literasi keuangan tidak hanya mengurangi persepsi risiko tetapi juga meningkatkan penggunaan fintech. Abdul-Rahim et al. menemukan bahwa pengguna dengan literasi keuangan yang lebih tinggi memiliki persepsi risiko yang lebih rendah terhadap keamanan data dan transaksi online, sehingga mereka lebih cenderung menggunakan layanan fintech. Hal ini sejalan dengan PMT yang menyatakan bahwa penilaian kemampuan yang lebih baik dapat mengurangi persepsi risiko dan meningkatkan niat untuk menggunakan teknologi baru. Dengan literasi keuangan yang baik, individu merasa lebih mampu mengatasi risiko yang terkait dengan penggunaan fintech, seperti pencurian identitas dan penipuan online. - 270 - I Gusti Kade Birawan1. Rahmat Hidayat2. Unes Juhaeni3 /Jurnal GICI : Jurnal Keuangan dan Bisnis Vol . Desember 2024 DOI: https://doi. org/10. 58890/jkb. Protection Motivation Theory menjelaskan bahwa perilaku protektif seperti menghindari penggunaan fintech muncul ketika individu memiliki persepsi risiko yang tinggi dan merasa tidak mampu menghadapi ancaman tersebut. Namun, jika individu memiliki literasi keuangan yang baik, mereka cenderung memiliki keyakinan diri yang lebih tinggi . elf-efficac. dalam menghadapi risiko fintech (Chauhan, 2. Mereka juga memiliki strategi pengelolaan risiko yang lebih baik, seperti menggunakan autentikasi dua faktor dan memverifikasi keandalan platform fintech sebelum menggunakannya (Yuan et al. , 2. Oleh karena itu, literasi keuangan yang tinggi membantu pengguna mengelola risiko secara efektif sehingga tidak menghambat adopsi fintech. Beberapa penelitian menunjukkan hasil yang konsisten dengan analisis ini. Islam & Khan . menemukan bahwa literasi keuangan secara signifikan mengurangi persepsi risiko dalam penggunaan fintech di kalangan pengguna digital yang lebih muda. Abdul-Rahim et al. ,2. juga melaporkan bahwa pengetahuan keuangan yang memadai membantu pengguna dalam mengidentifikasi risiko palsu dan menghindari kepanikan yang tidak perlu. Sementara itu. Yuan et al. menunjukkan bahwa self-efficacy yang didukung oleh literasi keuangan yang baik dapat mengurangi persepsi risiko terhadap privasi dan keamanan data dalam transaksi fintech. Hasil-hasil ini memperkuat teori bahwa literasi keuangan memainkan peran penting dalam membentuk persepsi risiko pengguna Berdasarkan analisis dan komparasi dengan hasil penelitian lain, dapat disimpulkan bahwa literasi keuangan memiliki pengaruh yang signifikan dalam mengurangi persepsi risiko dalam penggunaan fintech. Dengan literasi keuangan yang baik, individu memiliki pemahaman yang lebih baik tentang risiko dan manfaat fintech, sehingga mereka dapat mengatasi risiko dengan lebih percaya diri dan mengurangi kekhawatiran berlebihan. Temuan ini konsisten dengan Protection Motivation Theory, yang menekankan pentingnya self-efficacy dan coping appraisal dalam mengatasi persepsi risiko. Dengan demikian, literasi keuangan dapat dijadikan strategi kunci dalam mendorong adopsi fintech yang lebih luas dan aman. CONCLUSION Hasil penelitian ini menegaskan bahwa literasi keuangan memiliki pengaruh signifikan terhadap kesejahteraan finansial digital di kalangan generasi muda Indonesia. Individu dengan tingkat literasi keuangan yang lebih tinggi menunjukkan kesejahteraan finansial digital yang lebih baik, ditandai dengan pengambilan keputusan finansial yang bijak dan kemampuan menghadapi risiko finansial digital secara efektif. Selain itu, perilaku keuangan terbukti menjadi variabel mediasi yang penting dalam menghubungkan literasi keuangan dengan kesejahteraan finansial digital, di mana literasi keuangan yang tinggi mendorong perilaku keuangan yang lebih bertanggung jawab. Persepsi risiko juga ditemukan berperan dalam memengaruhi kesejahteraan finansial digital, di mana individu dengan literasi keuangan yang baik cenderung memiliki persepsi risiko yang lebih realistis dan tidak menghambat penggunaan fintech secara bijak. Implikasi dari temuan penelitian ini memberikan kontribusi yang signifikan bagi perkembangan ilmu manajemen keuangan, khususnya dalam konteks literasi keuangan digital. Dengan menggunakan Protection Motivation Theory, penelitian ini berhasil menjelaskan bagaimana literasi keuangan memengaruhi kesejahteraan finansial digital melalui persepsi risiko dan perilaku keuangan sebagai variabel mediasi. Temuan ini memperkuat pentingnya literasi keuangan dalam membentuk perilaku keuangan yang bijak dan mengelola risiko finansial digital. Secara praktis, hasil penelitian ini memberikan dasar yang kuat bagi pembuat kebijakan dan lembaga keuangan dalam merancang strategi edukasi keuangan yang lebih efektif, khususnya yang berfokus pada literasi keuangan digital untuk meningkatkan kesejahteraan finansial masyarakat Indonesia. Penelitian berikutnya disarankan untuk mengeksplorasi faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi kesejahteraan finansial digital, seperti peran dukungan sosial, efikasi diri, atau faktor budaya dalam literasi keuangan. Selain itu, studi komparatif antara generasi muda di Indonesia dengan negara lain yang memiliki tingkat literasi keuangan berbeda dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam mengenai pengaruh konteks budaya dan ekonomi terhadap literasi keuangan digital. Metode penelitian kualitatif juga dapat digunakan untuk mengeksplorasi motivasi dan hambatan individu dalam meningkatkan literasi keuangan mereka. Dengan demikian, penelitian lanjutan diharapkan dapat - 271 - I Gusti Kade Birawan1. Rahmat Hidayat2. Unes Juhaeni3 /Jurnal GICI : Jurnal Keuangan dan Bisnis Vol . Desember 2024 DOI: https://doi. org/10. 58890/jkb. memperkaya literatur manajemen keuangan dan memberikan wawasan yang lebih komprehensif mengenai strategi efektif dalam meningkatkan kesejahteraan finansial digital di era teknologi yang terus REFERENCES