Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 13 No. 2 Tahun 2025 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 PENGARUH PEMBERIAN PUPUK GUANO DAN PUPUK SP-36 TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN BUNCIS (Phaseolus vulgaris L. Elli Afrida1*. Indah Apriliya1. Lisdayani2 Prodi Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Medan Area Jl. Kolam No. 1 Medan Estate. Medan. Telp : 061- 7360168 Prodi Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Alwashliyah Medan Jl. Sisingamangaraja Km 5. 5 No. 10 Medan. Telp/fax : 061-7851881 Email: elliafrida@staff. ABSTRAK Tanaman buncis merupakan merupakan salah satu kelompok kacang-kacangan yang digemari Selain itu, buncis menjadi salah satu sumber protein nabati, vitamin A. B, dan C yang terdapat pada bijinya. Permintaan akan kacang buncis yang semakin meningkat setiap tahun. Pemupukan merupakan usaha untuk menaikkan hasil panen dari suatu budidaya tanaman. Penggunaan pupuk hayati baik cair maupun padat dapat menjadi solusi dalam mengurangi aplikasi pupuk anorganik yang berlebihan, karena pupuk hayati mampu memperbaiki sifat fisika, kimia, dan biologi tanah. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian dosis pupuk Guano dan pupuk SP-36 terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman buncis. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan 2 faktor : Faktor l yaitu pemberian pupuk Guano (G) dengan 4 taraf yaitu: G0 = 0 g/tan (Kontro. G1 = 30 g/tan. G2 = 60 g/tan dan G3 = 90 g/tan. Faktor 2 yaitu pemberian pupuk SP36 (K) dengan 4 taraf yaitu : K0 = 0 g/tan (Kontro. K1 = 1. 5 g/tan. K2 = 3 g/tan. K3 = 4. g/tan. Parameter yang diamati pada penelitian ini meliputi tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah polong/tanaman dan berat polong/tanaman. Hasil penelitian menunjukkan pemberian pupuk Guano berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah cabang primer, jumlah polong dan berat Pupuk guano merupakan pupuk hayati yang diberikan untuk menambah bahan organik tanaman Kata Kunci : Buncis. Pupuk Guano. Pupuk Hayati. Bahan Organik ABSTRACT Bean plants are one of the groups of legumes that are popular with the public. In addition, beans are one of the sources of vegetable protein, vitamins A. B, and C found in their seeds. The demand for beans is increasing every year. Fertilization is an effort to increase the harvest of a plant cultivation. The use of organic fertilizers, both liquid and solid, can be a solution to reduce excessive application of inorganic fertilizers, because organic fertilizers can improve the physical, chemical, and biological properties of the soil. The purpose of this study was to determine the effect of giving Guano fertilizer and SP-36 fertilizer doses on the growth and yield of bean plants. This study used a Factorial Randomized Block Design with 2 factors: Factor l, namely Guano fertilizer (G) with 4 levels, namely: G0 = 0 g/plant (Contro. G1 = 30 g/plant. G2 = 60 g/plant and G3 = 90 g/plant. Factor 2, namely the provision of SP36 (K) fertilizer with 4 levels, namely: K0 = Control . g/plan. K1 = 1. 5 g/plant. K2 = 3 g/plant. K3 = 4. 5 g/plant. The parameters observed in this study include plant height, number of branches, number of pods/plant and weight of pods/plant. The results of the study showed that the provision of Guano fertilizer had no significant effect on plant height, number of primary branches, number of pods and weight of pods. Guano fertilizer is a biological fertilizer that is given to add organic material to bean plants Keywords: Beans. Guano Fertilizer. Biological Fertilizer. Organic Material Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 13 No. 2 Tahun 2025 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 potasium dan nitrogen yang relatif banyak untuk menaikkan pertumbuhan, memperkuat batang, merangsang akar dan juga terkandung 19 % fosfor dalam bentuk P2O5 yang ada di dalam tanaman sebagai pembentuk senyawa ATP yang dibutuhkan sebagai proses fotosintesis dalam membantu pembentukan karbohidrat (Mukhtaruddin et al. , 2. Penggunaan pupuk hayati baik cair maupun padat dapat menjadi solusi dalam mengurangi aplikasi pupuk anorganik yang berlebihan, karena pupuk hayati mampu memperbaiki sifat fisika, kimia, dan biologi Pupuk hayati yang berbahan baku mikroorganisme atau biasanya disebut biofertilizer dapat perperan dalam proses penyuburan lahan pertanian. Mikroorganisme meliputi bakteri dan jamur yang berperan sebagai penambat N dari udara, melarutkan hara . erutama P dan K), merangsang Pupuk guano mengandung Nitrogen 8,32%. Fosfor 2,06%. Kalium 0,54%. Corganik 21,94%, rasio C/N 2,63%. Kandungan Nitrogen. C-organik dan kadar P dalam pupuk guano termasuk dalam kategori sangat tinggi. Kadar K sedang dan rasio C/N yang sangat Pemberian pupuk organik perlu diimbangi dengan pemakaian pupuk anorganik agar unsur hara cepat tersedia bagi tanaman (Nainggolan & Hafsoh, 2. Pupuk guano dapat memperbaiki kesuburan tanah, pupuk guano mengandung 7Ae17% N, 8Ae15% P dan 1,5Ae2,5% K. N sangat dibutuhkan tanaman untuk mendukung pertumbuhan vegetatif Selanjutnya pertumbuhan akar dan pembungaan. K berperan dalam memperkuat jaringan tanaman terutama batang tanaman. Penggunaan pupuk guano juga dapat menaikkan pH tanah. KTK tanah, kadar N. K dan P tersedia (Syofiani & Giska, 2. Selain Pupuk Guano penggunaan pupuk SP-36 yang terus menerus setiap musim tanam menghasilkan penimbunan residu pupuk P dan meningkatkan status P tanah. Pemberian pupuk SP-36 dapat meningkatkan bobot pipilan kering dibandingkan tanpa pupuk P (Purnomo, 2. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian dosis pupuk Guano dan pupuk SP-36 terhadap pertumbuhan PENDAHULUAN Kacang buncis (Phaseolus vulgaris L. merupakan salah satu jenis kacang sayur yang banyak dibudidayakan dan dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia (Nurmayulis et al, 2. Buncis berbentuk perdu. Tanaman ini merupakan salah satu kelompok kacang-kacangan yang digemari Selain itu, buncis menjadi salah satu sumber protein nabati, vitamin A,B, dan C yang terdapat pada bijinya (Zulkarnain, 2. Permintaan akan kacang buncis yang semakin meningkat setiap tahun. Berdasarkan data pusat statistik (BPS Provinsi Sumatra Utara 2. pada tahun 2016 produksi buncis di Provinsi Sumatra Utara sebesar 21,582 ton, mengalami peningkatan 7,853 ton pada tahun Pada tahun 2017 produksi kacang buncis diProvinsi Sumatera Utara sebesar 29,435 ton. Peningkatan ini terbilang sangat sedikit, mengingat permintaan masyarakat semakin Peningkatan produksi ini dikarenakan sedikitnya lahan produksi buncis dan pengembangan industri benih kacang buncis masih minim (BPS, 2. Pemupukan merupakan usaha untuk menaikkan hasil panen dari suatu budidaya Berdasarkan kegunaan nya terdapat ada dua jenis pupuk antara lain pupuk organik dan pupuk anorganik. Dua jenis ini masingmasing mempunyai keunggulan dan kelemahan dari masing-masing jenis pupuk tersebut. Pupuk organik dapat memperbaiki sifat fisik Kelemahannya dalam pengaplikasian pupuk ini memerlukan jumlah yang lebih banyak dalam penggunaannya disebabkan jumlah unsur hara yang terkandung lebih Sedangkan kelebihan dari pupuk anorganik ialah mudah langsung diserap akar tanaman, juga jumlah unsur hara yang dimiliki pupuk ini relatif lebih tinggi. Kelemahan dari pupuk anorganik harganya yang lebih mahal, tidak bisa digunakan sebagai cara penuntasan masalah dalam keruskan biologi dan fisik tanah dan dalam penggunaan yang berlebihan dapat mencemari lingungan sekitar (Purnomo et al. Pupuk guano merupakan pupuk yang asalnya dari kotoran kelelawar yang sudah terendap cukup lama dalam lorong gua dan sudah tercampur dengan tanah dan bakteri Pupuk ini terkandung unsur posfor. Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 13 No. 2 Tahun 2025 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 dan hasil tanaman buncis (Phaseolus vulgaris Setelah pembuatan plot kegiatan selanjutnya adalah pemberian pupuk kompos sebagai pupuk dasar permasing-masing plot 2 kg/plot. Penanaman Sebelum dilakukan penanaman pada buncis, terlebih dahulu benih di rendam dalam air selama 10 menit. setelah itu benih yang sudah di rendam dimasukkan kedalam lubang tanam,lubang tanam dibuat dengan cara ditugal setiap lubang tanam diisi sebanyak 2 benih. Aplikasi pupuk guano dilakukan dengan mencampurkan pupuk guano ke dalam tanah sebagai pupuk dasar. Pada saat pengolahan tanah maka di lakukan pencampuran sesuai dengan taraf pemberian pupuk guano. Biarkan selama dua minggu agar mikroorganisme yang ada pada pupuk guano tercampur dengan tanah. Untuk pupuk sp-36 diberikan saat tanaman berumur 11 hari setelah tanam dan selanjutnya diberikan ketika tanaman berumur 5 (MST). Pupuk Sp-36 diberikan membentuk melingkar di areal tanaman buncis tanpa mengenai batang, dan kemudian dibumbun dengan tanah. Aplikasi pupuk SP-36 di sesuaikan dengan dosis perlakuan pemberian SP-36 pada tiap Panen Tanaman buncis yang sudah mencapai ukuran maksimal dipanen, yaitu. sudah banyak terbentuk dan lebat serta sawi belum mencapai tahap pemanjangan batang dan pembungaan. METODE PENELITIAN Penelitian ini di laksanakan di Jalan bunga Rampai No. 10 kelurahan Simalingkar. Medan, dengan ketinggian A 15 meter di atas permukaan laut. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Mei s/d Juli 2024 Bahan dan Alat Bahan yang digunakan adalah benih kedelai varietas Devon 1, pupuk Guano, pupuk SP-36. Decis 25 ec, bambu, tali plastik, plang dan buku pengamatan. Alat yang digunakan adalah cangkul, parang babat, garu, meteran, gembor, tali plastik, handsprayer, timbangan analitik, ember, pisau, gunting, kalkulator dan alat tulis Desain Penelitian dan Analisa Data Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan 2 faktor : Faktor l yaitu Pemberian pupuk Guano (G) dengan 4 taraf yaitu :G0 = Kontrol . kg/ta. G1 = 30 gr/tan. G2 = 60 gr/tan dan G3 = 90 gr/tan. Faktor 2 yaitu Pemberian pupuk SP36 (K) dengan 4 taraf yaitu : K0 = Kontrol ( 0 gr/ta. K1 = 1. 5 gr/tan. K2 = 3 gr/tan. K3 = 5 gr/tan Parameter yang diamati pada penelitiian ini meliputi tinggi tanaman, jumlah cabang, polong/tanaman polong/tanaman. Kemudian data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam pada taraf 5%, dan jika berpengaruh nyata maka dilakukan uji lanjutan dengan DuncanAos Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%. HASIL DAN PEMBAHASAN Tinggi Tanaman . Pelaksanaan Penelitian Berdasarkan hasil analisis sidik ragam dapat dilihat bahwa pemberian pupuk Guano dan pupuk SP-36 serta interaksi kedua perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman buncis. Tinggi tanaman kedelai dengan pemberian pupuk Guano dan pupuk SP36 dapat dilihat pada Tabel 1. Berdasarkan Tabel 1, dapat dilihat tinggi tanaman buncis pada umur 2 minggu setelah tanaman (MST) dengan rataan tertinggi terhadap pemberian pupuk Guano terdapat pada perlakuan G0 . anpa perlakuan ) yaitu 15,85 cm dan terendah pada perlakuan G3 . g/tanama. yaitu 15,04 cm. Sedangkan Persiapan lahan Lahan yang digunakan untuk penelitian ini terlebih dahulu dibersihkan dan gulma dan batu batuan dengan cangkul yang bertujuan menghindari sumber hama dan penyakit Pembuatan plot Lahan yang telah dibersihkan selanjutnya dibuat plot penelitian dengan ukuran 100 cm x 100 cm, susunan plot penelitian disesuaikan dengan arah Utara Selatan. Pengaplikasian pupuk kompos Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 13 No. 2 Tahun 2025 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 Tidak adanya pengaruh nyata pada perlakuan dan interaksi dari kedua perlakuan menunjukkan bahwa respon pertumbuhan tinggi tanaman adalah sama terhadap pemberian pupuk guano dan SP-36 pada taraf dosis yang diberikan. Pemberian kedua jenis pupuk dengan dosis yang lebih tinggi kemungkinan dapat memberikan perbedaan yang signifikan pada pertumbuhan tinggi Menurut Tawakal . , pupuk organik umumnya memiliki unsur hara relatif kecil dan lambat tersedia didalam tanah dan proses penyerapan hara tersedia banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Pelepasan unsur hara yang lambat menyebabkan ketersediaan hara belum dapat menunjang pertumbuhan tanaman, dari taraf dosis pupuk guano dan SP-36. terhadap pemberian pupuk SP-36 rataan tertinggi pada perlakuan K3 . ,5 g/tanama. yaitu 15,48 cm dan yang terendah pada perlakuan K1 . ,5 g/tanama. yaitu 15,25 cm. Tabel 1. Tinggi Tanaman buncis dengan Pemberian Pupuk Guano dan Pupuk SP-36 Umur 2, 4 dan 6 MST Perlakuan Tinggi Tanaman . 15,85 24,67 42,39 15,58 24,58 42,17 15,51 24,09 43,04 15,04 23,44 41,58 15,48 24,38 42,32 15,25 24,49 41,55 15,34 24,16 43,09 15,91 23,74 42,21 Pupuk Guano Jumlah cabang primer per tanaman . Pupuk KCl Ket : Dari hasil analisis sidik ragam menunjukkan perlakuan pemberian pupuk Guano dan pupuk SP-36 serta interaksi kedua perlakuan memberikan pengaruh tidak nyata terhadap jumlah cabang tanaman buncis. Jumlah cabang tanaman buncis dengan pemberian pupuk Guano dan pupuk SP-36 dapat dilihat pada Tabel 2. Angka yang diikuti huruf yang tidak sama pada kolom atau baris yang sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5 % berdasarkan Uji Jarak Duncan. Tabel 2. Tinggi tanaman umur 4 minggu setelah tanaman (MST) dengan rataan tertinggi terhadap pemberian pupuk Guano terdapat pada perlakuan G0 . anpa perlakua. yaitu 24,67 cm. Sedangkan terhadap pemberian pupuk SP-36 rataan tertinggi pada perlakuan K1 1,5 g/tanama. yaitu 24,49 dan yang terendah pada perlakuan K3 . g/tanama. yaitu 23,74 cm. Tinggi tanaman umur 6 minggu setelah tanaman (MST) dengan rataan tertinggi terhadap pemberian pupuk Guano terdapat pada perlakuan G2 . g/tanama. yaitu 43,04 cm dan terendah pada perlakuan G3 90 g/tanama. yaitu 41,58 cm. Sedangkan terhadap pemberian pupuk SP-36 rataan tertinggi pada perlakuan K2 . g/tanama. yaitu 43,09 dan yang terendah pada perlakuan K1 . ,5 g/tanama. yaitu 41,55 cm. Pupuk Guano Rataan Ket : Ratan Jumlah Cabang Primer Tanaman buncis Permberian Pupuk Guano dan Pupuk SP-36 Pupuk SP-36 Rataan Angka yang diikuti huruf yang tidak sama pada kolom atau baris yang sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5 % berdasarkan Uji Jarak Duncan. Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 13 No. 2 Tahun 2025 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 Berdasarkan Tabel 2. dapat dilihat jumlah cabang tanaman buncis dengan rataan tertinggi terhadap pemberian pupuk Guano terdapat pada perlakuan G3 . g/tanama. yaitu 5,52 cabang dan terendah pada perlakuan G0 . anpa perlakua. yaitu 5,33 cabang. Sedangkan terhadap pemberian pupuk SP-36 rataan tertinggi pada perlakuan K3 . ,5 g/tanama. yaitu 5,54 cabang dan yang terendah pada perlakuan K0 . anpa perlakua. yaitu 5,35 Tidak adanya pengaruh nyata dari kedua percobaan menunjukkan pengaruh pemberian pupuk guano dan SP-36 memberikan efek yang sama terhadap jumlah cabang tanaman buncis. Menurut pendapat Zikri. , . , bahwa pupuk guano banyak mengandung unsur N dan P tetapi taraf dosis perlakuan kemungkinan perlu ditingkatkan, sehingga terdapat perbedaan respon pertumbuhan jumlah cabang perlakua. yaitu 61,79 polong. Sedangkan terhadap pemberian pupuk SP-36 rataan tertinggi pada perlakuan K3 . ,5 g/tanama. yaitu 63,13 polong dan yang terendah pada perlakuan K0 . anpa perlakua. yaitu 61,86 Pembentukan dan pengisian polong pada tanaman buncis sangat berkaitan dengan laju fotosintesis tanaman yang membentuk protein, enzim, hormon dan karbohidrat untuk mendorong pembesaran dan perpanjangan sel, sehingga tanaman akan tumbuh dengan cepat dan mengalami produksi yang lebih optimal. Menurut pendapat Syofiani dan Giska . , menyatakan Pupuk guano dapat memperbaiki kesuburan tanah, pupuk guano mengandung 7Ae17% N, 8Ae15% P dan 1,5Ae2,5% K. N sangat dibutuhkan tanaman untuk mendukung pertumbuhan vegetatif tanaman. Selanjutnya P pembungaan. K berperan dalam memperkuat jaringan tanaman terutama batang tanaman. Penggunaan pupuk guano juga dapat menaikkan pH tanah. KTK tanah, kadar N. K dan P tersedia Jumlah Polong Per Tanaman Hasil analisis sidik ragam menunjukkan perlakuan pemberian pupuk Guano dan pupuk SP-36 serta interaksi kedua perlakuan memberikan pengaruh tidak nyata terhadap jumlah polong tanaman buncis. Jumlah polong tanaman kedelai dengan pemberian pupuk Guano dan pupuk SP-36 dapat dilihat pada Tabel 3. Berat Polong PerTanaman Dengan menggunakan analisis regresi dan korelasi, hubungan pemberian pupuk guano dengan berat polong per tanaman dapat dilihat pada Gambar 1. Pupuk Guano Rataan Ket : Pupuk SP-36 Berat Polong per Tanaman . Tabel 3. Jumlah Polong Tanaman buncis dengan Permberian Pupuk Guano dan Pupuk SP-36 Rataan Angka yang diikuti huruf yang tidak sama pada kolom atau baris yang sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5 % berdasarkan Uji Jarak Duncan. = 62,413 0,1281x r = 0,92 Pupuk Guano . /tanama. Berdasarkan Tabel 3. dapat dilihat jumlah polong tanaman buncis dengan rataan tertinggi terhadap pemberian pupuk Guano terdapat pada perlakuan G3 . g/tanama. yaitu 63,63 polong dan terendah pada perlakuan G0 . anpa Gambar 1. Hubungan Berat Polong per Tanaman dengan Pemberian Pupuk Guano Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 13 No. 2 Tahun 2025 P-ISSN 2338-5391 | E-ISSN 2655-9862 Pada Gambar 1, dapat dilihat hubungan berat polong per tanaman buncis dengan perlakuan pupuk guano membentuk hubungan linier positif dengan persamaan = 62,413 0,1281x dengan nilai r = 0,92. Berdasarkan persamaan tersebut dapat diketahui bahwa berat polong buncis penambahan dosis pupuk guano. Hasil penelitian diketahui bahwa pupuk organik kotoran kalelawar . memberikan pengaruh nyata sehingga dapat meningkatkan berat polong per Hal ini karena bahan organik di dalam tanah sudah cukup matang sehingga ketersediaan unsur haranya cukup baik untuk dapat mendukung hasil pembentukan buah dan bobot buah. Menurut pendapat Mukhtaruddin et al. , . , menyatakan bahwa pupuk guano mengandung 19 % fosfor dalam bentuk P2O5 yang di dalam tanaman sebagai penyusun senyawa ATP yang diperlukan dalam proses fotosintesis untuk pembentukan karbohidrat sehingga dapat meningkatkan hasil produksi dari suatu tanaman. Muktaruddin. Sufardi & Ashabul. Penggunaan Guano dan Pupuk NPK Mutiara Memperbaiki Kualitas Media Subsoil dan Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq. Floratek 10 . : 19-33. Nurmayulis. Fatmawati A. Andini D. Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Buncis Tegak (Phaseolus vulgaris L. ) Akibat Pemberian Pupuk Kotoran Hewan dan Beberapa Pupuk Organik. Jurnal Agrologia. : 9196. Nainggolan. & Hapsoh. Respon Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata Stur. yang diberi Pupuk Guano dengan NPK di Lahan Gambut. Fakultas Pertanian Universitas Riau. JOM Faperta. Vol 4. No. Oktober 2017. Purnomo. Santoso. & Heddy. Pengaruh Berbagai Macam Pupuk Organik dan Anorganik terhadap dan Hasil Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L). Jurnal Produksi Tanaman Vol. 1 No. KESIMPULAN Pemberian pupuk Guano berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah cabang primer, jumlah polong dan berat Pupuk guano merupakan pupuk hayati yang diberikan untuk menambah bahan organik tanaman buncis Purwono. J, dan Hayati A. , . Respon Pertumbuhan Padi Terhadap Pemberian Pupuk Guano Pada Tanah Sulfat Masam. Ziraah. Vol 20 No 3 hal 103-106. DAFTAR PUSTAKA