Volume 8 | Nomor 4 | Tahun 2025 | Halaman 1191Ai1204 E-ISSN 2615-8655 | P-ISSN 2615-725X http://diglosiaunmul. com/index. php/diglosia/article/view/1566 Simbol spiritualitas dan pandangan ekologis mantra ngalaksa dalam perspektif kajian ekolinguistik kultural Spirituality symbols and ecological views of the ngalaksa mantram from the perspective of cultural ecololinguistics Ai Rohmawati1,* & Tedi Permadi2 Universitas Pendidikan Indonesia Jalan Dr. Setiabudhi No. Bandung. Jawa Barat. Indonesia Email: airohmawati@upi. Orcid: https://orcid. org/0009-0008-2111-824X Email: tedipermadi@upi. Orcid: https://orcid. org/0000-0002-0670-635X Article History Received 13 November 2025 Revised 21 December 2025 Accepted 28 December 2025 Published 31 December 2025 Keywords mantra ngalaksa. local wisdom. Sundanese eco-spirituality. Kata Kunci mantra ngalaksa. kearifan lokal. ekospiritualitas Sunda. Read online Scan this QR code with your smart phone or mobile device to read online. Abstract This research aims to reveal the spiritual symbolism and ecological views in AuNgalaksaAy mantram as an oral tradition of the Sundanese community in Rancakalong. Sumedang. Using a qualitative approach with a case study design and focused ethnographic analysis, this study examines the linguistic structure, symbolic meanings, and ecological functions of teks mantra used in various ritual stages such as AuJampy Nutu. Jampy Nginebkeun. Jampy Ngukus, and Jampy Ngibing. Ay The results show that each jampy functions as a prayer and a medium for spiritual communication as well as an ecological text containing environmental ethics and local wisdom Lexical elements such as menyan putih, talaga suci, bayu, bumi, and rasa reflect the ecological awareness of the Sundanese agrarian society who view nature as a living and sacred AuNgalaksaAy mantram also plays a role in maintaining cosmic balance, strengthening cultural identity, and becoming a medium for transmitting spiritual and ecological values across generations. Abstrak Penelitian ini bertujuan mengungkap simbol spiritualitas dan pandangan ekologis dalam mantra Ngalaksa sebagai tradisi lisan masyarakat Sunda di Rancakalong. Sumedang. Melalui pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus dan analisis etnografi terfokus, penelitian ini menelaah struktur linguistik, makna simbolik, dan fungsi ekologis teks mantra yang digunakan dalam berbagai tahapan ritual, seperti Jampy Nutu. Jampy Nginebkeun. Jampy Ngukus, dan Jampy Ngibing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap jampy berfungsi sebagai doa dan sarana komunikasi spiritual sekaligus sebagai teks ekologis yang memuat etika lingkungan dan nilainilai kearifan lokal. Unsur leksikal seperti menyan putih, talaga suci, bayu, bumi, dan rasa mencerminkan kesadaran ekologis masyarakat agraris Sunda yang memandang alam sebagai entitas hidup dan suci. Mantra Ngalaksa juga berperan menjaga keseimbangan kosmos, memperkuat identitas budaya, serta menjadi media pewarisan nilai-nilai spiritual dan ekologis antar generasi. A 2025 The Author. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya by Universitas Mulawarman How to cite this article with APA style 7th ed. Rohmawati. , & Permadi. Simbol spiritualitas dan pandangan ekologis mantra ngalaksa dalam perspektif kajian Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra. Pengajarannya, 8. , 1191Ae1204. https://doi. org/10. 30872/diglosia. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya is an open access article under the terms of the Creative Commons Attribution-Share Alike 0 International License (CC BY-SA 4. Ai Rohmawati & Tedi Permadi Pendahuluan Tradisi Ngalaksa merupakan warisan budaya masyarakat Sunda yang sarat nilai spiritual dan ekologis, berakar pada sistem kosmologis yang menempatkan manusia, alam, dan kekuatan spiritual dalam relasi harmonis yang saling menopang. Di dalamnya terdapat mantra Ngalaksa, yaitu tuturan sakral yang berfungsi sebagai medium doa dan sarana ritual sekaligus ekspresi linguistik yang memuat simbol-simbol kearifan ekologis (Henkes & Johnson, 2002. Magliocco. Sims & Stephens, 2011. Smith, 1. Kajian terhadap mantra ini penting karena membuka pemahaman tentang cara pandang masyarakat Sunda terhadap alam sebagai entitas hidup yang memiliki kesadaran, kehendak moral, dan nilai spiritual (Geertz, 1992. Geertz & Darnton, 2. Melalui perspektif ekolinguistik (Gerbig, 2003. Stanlaw, 2020. Steffensen & Fill, 2. , mantra Ngalaksa dapat dipahami sebagai teks ekologis yang merepresentasikan keterkaitan bahasa, budaya, dan lingkungan dalam satu sistem makna yang utuh dan dinamis. Mantra Ngalaksa hidup dalam tradisi lisan masyarakat Sunda, khususnya di Rancakalong. Kabupaten Sumedang, dan digunakan dalam upacara Ngalaksa sebagai ritual syukur atas panen padi yang melambangkan kemakmuran, keseimbangan, serta keselarasan manusia, alam, dan Sang Hyang Tunggal (Islamiati, 2. Sebagaimana dikemukakan Ong . , mantra merupakan bentuk verbal art yang menggabungkan fungsi estetis, spiritual, dan sosial sehingga bersifat magis sekaligus komunikatif. Dalam konteks ini, mantra Ngalaksa dapat dipahami sebagai teks ekospiritual dengan struktur linguistik khas berupa rima, paralelisme, dan simbol alam, yang menjadi wahana pewarisan nilai ekologis dan spiritual serta menegaskan penghormatan terhadap bumi sebagai sumber kehidupan dalam perspektif budaya Sunda (Ekadjati, 1. Mantra Ngalaksa dapat diklasifikasikan ke dalam tiga aspek utama, yaitu linguistik, fungsional, dan kultural. Secara linguistik, mantra ini menampilkan gaya repetitif, paralel, dan metaforis (Stanlaw, 2020. Uyanne et al. , 2. yang memperkuat kesakralan teks serta menegaskan relasi simbiotik manusia dan alam. Ong . menjelaskan bahwa ciri formulaik dalam tradisi lisan memungkinkan teks ritual berfungsi sebagai alat pengingat kolektif . nemonic devic. dalam transmisi nilai budaya (Bauman, 1992. Sims & Stephens, 2. Dari aspek fungsional, mantra Ngalaksa berperan sebagai sarana komunikasi spiritual, doa kolektif, dan ekspresi estetik yang memperkuat solidaritas sosial komunitas agraris. Sementara itu, secara kultural, mantra ini menjadi wahana pelestarian kearifan lokal yang memuat nilai ekologis, etika lingkungan, dan identitas religius masyarakat Sunda (Bauman, 1992. Islamiati, 2020. Malik & Wachyudin, 2022. Sumartias et al. , 2019. Yanuariska et al. , 2. Adapun teks ritual semacam ini berfungsi sebagai Aunarasi hidupAy yang merefleksikan nilai sosial, struktur kepercayaan, dan pandangan kosmologis komunitas (Kluckhohn, 1942. Melina & Azeharie, 2019. Miharja et al. , 2. Kajian ekolinguistik global mengenai hubungan bahasa dan lingkungan telah mencakup ranah ecotranslation, yang melakukan perbandingan metaforis antara ekologi dan teori sistem sosial (Changizi, 2. , hubungan manusia dan alam dalam makna pengalaman sebagai sistem transitivitas bahasa Mandarin dari perspektif ekolinguistik (Zhang & He, 2. , perspektif ekolinguistik dalam kajian dialektika bahasa dan lingkungan (Uyanne et al. , 2. Adapun kajian ekolinguistik dan kajian sejenis dalam konteks regional dan lokal juga telah dilakukan, antara lain Bahasa Serawai sebagai bahasa minoritas sebuah kajian ekolinguistik dalam pembelajaran dan pemertahanan (Andestend et al. , 2. metafora konsep alam dalam ungkapan tradisional Bangka dalam bentuk kajian kognitif semantik (Ismaniar & Chandra, 2. orientasi nilai budaya pada masyarakat Nias dalam Maena pada Upacara Falywa (Gea, 2. budaya agraris dalam konsep idiom Bahasa Indonesia (Rijal, 2. dan perwujudan nilai sosial dan pelestarian budaya dalam ritual bersih di desa Tlogomas kabupaten Malang (Wulan, 2. , kedua penelitian terakhir berupa kajian antropolinguistik. Adapun penelitian terkait upacara Ngalaksa sebagai bagian dari tradisi agraris pertanian sawah, telah dilakukan dalam kajian Tradisi Nyalin dalam kehidupan masyarakat Sunda sebagai kajian struktur dan etnopedagogik (Yanuariska et al. , 2. , kajian konteks penuturan mantra perkawinan pada masyarakat adat Rancakalong (Malik & Wachyudin, 2. , kajian seni Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1191Ai1204 Simbol spiritualitas dan pandangan ekologis mantra ngalaksa dalam perspektif kajian ekolinguistik kultural Tarawangsa sebagai media komunikasi tradisional dalam penyebaran informasi berdasarkan kearifan lokal di Kecamatan Rancakalong Kabupaten Sumedang (Sumartias et al. , 2. , dan kajian etnobotani budaya Ngalaksa di Kecamatan Rancakalong Kabupaten Sumedang (Islamiati. Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu di atas, terdapat celah penelitian yang menjadi ruang kajian penelitian ini, yaitu menjelaskan bagaimana nilai ekologis diwujudkan melalui bahasa sakral dalam mantra Ngalaksa dengan mengintegrasikan teori ekolinguistik (ManiN, 2026. Uyanne et al. , 2017. Zhang & He, 2. dan pendekatan antropologis-linguistik (Sibarani, 2012, 2. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis simbol-simbol spiritual dalam bahasa mantra Ngalaksa sebagai ekspresi tradisi lisan masyarakat Sunda, sekaligus menjelaskan perannya sebagai media ekolinguistik yang mewariskan nilai spiritual, etika lingkungan, dan identitas budaya secara turun-temurun. Fokus utama penelitian adalah mengungkap bagaimana struktur bahasa, simbol, dan citra alam dalam mantra Ngalaksa merefleksikan pandangan ekologi dan kearifan lokal masyarakat Rancakalong dalam memaknai relasi manusia, alam, dan siklus Urgensi penelitian ini terletak pada kontribusinya terhadap pemahaman hubungan bahasa, budaya, dan lingkungan melalui perspektif ekolinguistik. Hipotesis utama penelitian ini menyatakan bahwa mantra Ngalaksa tidak hanya berfungsi sebagai sarana ritual spiritual, tetapi juga sebagai teks ekologi budaya yang menumbuhkan kesadaran lingkungan dan memperkuat identitas kolektif masyarakat Sunda. Melalui simbol linguistik yang kaya makna, mantra Ngalaksa merepresentasikan sistem pengetahuan ekologis yang diwariskan secara lisan dan berperan menjaga keseimbangan spiritual-ekologis komunitas agraris. Dalam konteks modernisasi dan krisis ekologi global, nilai-nilai ekospiritual dalam tradisi lisan seperti Ngalaksa dapat menjadi dasar reflektif bagi pembangunan berkelanjutan berbasis kearifan lokal. Metode Objek penelitian ini berfokus pada simbol spiritualitas dan pandangan ekologis dalam mantra Ngalaksa serta implikasinya terhadap pelestarian tradisi lisan masyarakat Sunda. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus karena mengkaji fenomena sosialbudaya yang spesifik dalam konteks lokal masyarakat Rancakalong. Sumedang. Pendekatan kualitatif memungkinkan pemahaman mendalam atas makna yang dikonstruksi individu atau kelompok dalam konteks alamiah pengalaman mereka (Creswell & Creswell, 2017. Creswell & Poth, 2. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan informan yang terlibat langsung dalam praktik mantra Ngalaksa untuk menggali persepsi mengenai transformasi makna spiritual, keberlanjutan tradisi lisan, serta nilai-nilai ekologis yang terkandung di dalamnya. Data sekunder dikumpulkan dari literatur terkait, meliputi kajian ekolinguistik (Stanlaw, 2020. Steffensen & Fill, 2. , dan etnografi budaya (Murchison, 2010. Saputra, 2. Kombinasi kedua jenis data ini digunakan untuk membangun pemahaman yang kontekstual dan triangulatif terhadap simbol spiritual dan fungsi ekologis mantra Ngalaksa. Partisipan penelitian dipilih secara purposif dengan mempertimbangkan kedalaman pengetahuan, pengalaman, dan keterlibatan dalam praktik budaya Ngalaksa. Pemilihan informan didasarkan pada prinsip representativitas kultural dan kekayaan informasi. Keterlibatan berbagai pihak lintas generasi dan peran sosial diharapkan mampu menggambarkan dinamika perubahan makna dan fungsi mantra Ngalaksa secara komprehensif, sekaligus menunjukkan proses adaptasi budaya terhadap modernitas. Proses penelitian dilaksanakan melalui tahapan sistematis dan reflektif. Tahap awal berupa studi pendahuluan untuk memahami konteks sosial-kultural masyarakat Rancakalong dan mengidentifikasi praktik Ngalaksa yang masih berlangsung. Tahap ini dilengkapi dokumentasi etnografis berupa perekaman audio, transkripsi mantra, catatan ritual, serta artefak budaya pendukung guna memperkuat validitas temuan. Seluruh kegiatan lapangan dilakukan secara Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1191Ai1204 Ai Rohmawati & Tedi Permadi intensif dan terfokus sesuai prinsip focused ethnography (Knoblauch, 2. Data kemudian disusun dalam bentuk catatan lapangan, transkrip wawancara, dan refleksi peneliti sebagai dasar analisis Analisis data dilakukan dengan menekankan pembacaan reflektif dan interpretatif terhadap data yang dikumpulkan secara intensif, proses analisis berlangsung simultan sejak pengumpulan data dan mencakup tiga tahap utama. Pertama, deskriptif melalui penyusunan atas praktik dan konteks ritual, kedua, interpretatif melalui penafsiran makna simbolik (Henkes & Johnson, 2002. Magliocco, 1996. Sims & Stephens, 2011. Smith, 1. bahasa dan tindakan dalam mantra Ngalaksa, dan ketiga berupa refleksi dengan mempertimbangkan posisi dan subjektivitas peneliti dalam proses interpretasi. Adapun keabsahan data dijamin melalui penerapan kriteria kredibilitas, dependabilitas, transferabilitas, dan konfirmabilitas (Creswell & Poth, 2016. Mack et al. , 2005. Mack & Woodsong, 2. Pembahasan Berdasarkan hasil observasi, dokumentasi, dan wawancara, terdapat kejelasan bahwa mantra Ngalaksa secara keseluruhan tersusun atas beberapa tahapan ritual yang berurutan, yaitu Jampy Nutu . enumbuk pad. Jampy Nginebkeun . enyimpan beras di wada. Jampy Ngukus . enghantarkan wewangian melalui pembakaran kemenya. , dan Jampy Ngibing . Setiap tahapan memiliki mantra tersendiri yang hanya dituturkan oleh partisipan ritual Ngalaksa, menggunakan bahasa Sunda dengan Simbol Spiritual dalam Teks Mantra Ngalaksa Dimensi spiritualitas yang termanifestasi melalui teks mantra Ngalaksa, khususnya dalam konteks ritual agraris masyarakat Rancakalong. Sumedang. Mantra ini berfungsi sebagai medium komunikasi sakral antara manusia, alam, dan kekuatan ilahiah, merefleksikan sistem kepercayaan yang memandang kesuburan bumi sebagai manifestasi kasih dan restu Nyi Pohaci Sanghyang Sri, dewi padi dalam kosmologi Sunda. Setiap baris dalam teks mantra mengandung simbol-simbol spiritual yang berfungsi tidak hanya sebagai doa, tetapi juga sebagai struktur linguistik yang menegaskan keterhubungan manusia dengan dimensi spiritual dan ekologis. Melalui diksi-diksi seperti menyan putih . emenyan puti. , sukmaning pohaci . uhnya Dewi Sr. , dan talaga suci . elaga suc. , mantra Ngalaksa menampilkan metafora kesucian dan keseimbangan kosmis yang menghubungkan unsur fisik . umi, air, udar. dengan unsur metafisik . ukma, rasa, welas asi. Adapun simbol spiritual dalam teks Jampy Nutu . enumbuk pad. Jampy Nginebkeun . enyimpan beras di wada. Jampy Ngukus . enghaturkan wewangian melalui pembakaran kemenya. , dan Jampy Ngibing . dapat disajikan sebagai berikut. Jampy Nutu AuNyai dipundut lyahna, diseja kalinggihananaA ulah wera ku salaksa, kula ryk ngajaga moal murag najan sasiki. Ay Mantra Menumbuk Padi AuWahai Nyai, diundang kelembutannya, dimohon kehadirannyaA jangan terusik oleh apa pun, aku akan menjaga agar tak jatuh sebutir pun. Ay Secara linguistik. Jampy Nutu merupakan teks mantra yang padat dan ringkas, tetapi sarat makna simbolik serta efek performatif. Struktur kalimatnya bersifat imperatif halus dan deklaratif sakral, menampilkan komunikasi langsung antara penutur dan entitas spiritual yang dipersonifikasikan sebagai Nyi Pohaci Sanghyang Sri. Pola seperti Nyai dipundut lyahna, diseja Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1191Ai1204 Simbol spiritualitas dan pandangan ekologis mantra ngalaksa dalam perspektif kajian ekolinguistik kultural kalinggihanana menunjukkan struktur pasif afektif dengan sufiks -na yang menandakan penghormatan dan kesantunan. Bentuk pasif ini bukan ekspresi kelemahan, melainkan wujud deferential address dalam ritual Sunda, ketika manusia memosisikan diri sebagai pemohon izin kepada kekuatan spiritual (Ekadjati, 1995. ManiN, 2026. Uyanne et al. , 2017. Yanuariska et al. Secara sintaksis, mantra ini tersusun atas dua bagian utama, yakni ajakan sakral . ipundut lyahna, diseja kalinggihanan. dan pernyataan tanggung jawab ritual . lah wera ku salaksa, kula ryk ngajaga moal murag najan sasik. Repetisi dan paralelisme ritme fonetik yang lembut memperkuat nuansa meditatif pembacaan mantra. Pronomina kula mencerminkan tingkat kesantunan tinggi dan relasi subordinatif yang hormat, sementara penggunaan ulah dan intensifier salaksa menunjukkan formula perlindungan khas mantra agraris untuk menangkal gangguan terhadap hasil panen. Dari sisi morfologi dan fonologi, frasa seperti lyahna dan kalinggihanana memperlihatkan derivasi afiks khas bahasa ritual Sunda lama yang berfungsi menghaluskan makna sekaligus menegaskan penghormatan spiritual. Secara prosodik, irama mantra bergerak lambat dan berulang, membangun suasana batin yang tenang dan khidmat sebagai ciri struktur performatif doa pertanian Sunda. Secara simbolik. Jampy Nutu merupakan doa transisional yang mengiringi aktivitas menumbuk padi sebelum disimpan atau dikonsumsi. Dalam kosmologi Sunda, nutu bukan sekadar kegiatan domestik, melainkan penghormatan terakhir kepada Nyi Pohaci sebelum hasil bumi Frasa Nyai dipundut lyahna melambangkan undangan terhadap daya lembut dan suci sang dewi agar hadir dalam proses tersebut, sementara diseja kalinggihanana menandakan pemersilaan Nyi Pohaci menempati ruang simbolik ritus, sehingga kerja sehari-hari dimaknai sebagai praktik sakral (Henkes & Johnson, 2002. Magliocco, 1996. Sims & Stephens, 2011. Smith, 1. Ungkapan ulah wera ku salaksa merepresentasikan permohonan perlindungan dari gangguan, baik makhluk halus maupun energi destruktif alam. Kata salaksa mencerminkan dunia yang penuh potensi ancaman, sedangkan kalimat kula ryk ngajaga moal murag najan sasiki menegaskan etika tanggung jawab manusia terhadap rezeki dan kelestarian pangan. Menjaga agar Autak jatuh sebutir punAy bukan sekadar pernyataan literal, melainkan prinsip ekologis dan spiritual tentang penghargaan terhadap hasil bumi dan restu ilahi. Dalam pandangan kosmologis Sunda. Nyi Pohaci dipahami sebagai roh kehidupan yang melekat pada setiap butir beras. Oleh karena itu, ritual Jampy Nutu menjadi momen penyatuan manusia dengan dewi kesuburan melalui bahasa yang lembut, penuh hormat, dan sarat kesadaran Bahasa mantra ini tidak hanya bermakna semantik, tetapi juga memuat energi performatif yang diyakini menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kekuatan adikodrati Secara keseluruhan. Jampy Nutu menegaskan kesatuan bahasa, tindakan, dan spiritualitas dalam sistem nilai agraris Sunda. Jampy Nginebkeun AuNiat abdi netebkeun Nyi Pohaci dina kasucianana, nyai sumangga linggih dina padaringanana. Ay Mantra Menetapkan (Menidurka. AuNiat hamba untuk menetapkan Nyi Pohaci dalam kesuciannya, wahai Nyai, silakan bersemayam di tempat peristirahatan-Mu. Ay Secara linguistik. Jampy Nginebkeun merupakan mantra singkat yang padat dan berorientasi performatif, di mana tuturan berfungsi langsung sebagai tindakan ritual. Struktur kalimatnya terdiri atas dua klausa parataktik, yaitu klausa deklaratif-performatif (Niat abdi netebkeun Nyi Pohaci dina kasucianan. dan klausa imperatif sopan . yai sumangga linggih dina padaringanan. , yang merefleksikan relasi dialektis antara niat manusia sebagai subjek ritual dan respons entitas spiritual. Ungkapan niat abdi menandakan kesadaran diri ritual sekaligus deklarasi sakral, sementara verba Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1191Ai1204 Ai Rohmawati & Tedi Permadi netebkeun memuat makna simbolik Aumenempatkan secara hormatAy yang menandai pengembalian spiritual Nyi Pohaci ke posisi kosmisnya. Frasa dina kasucianana, dengan sufiks -na, menegaskan dimensi pemurnian dan penghormatan, di mana kesucian dipahami sebagai kondisi keteraturan kosmis yang stabil (Ekadjati, 1995. ManiN, 2026. Uyanne et al. , 2017. Yanuariska et al. , 2. Klausa kedua, nyai sumangga linggih dina padaringanana, memperlihatkan imperatif halus melalui penggunaan sumangga sebagai formula penghormatan dalam komunikasi vertikal ritual. Verba linggih dipilih untuk menggambarkan kehadiran spiritual yang lembut, sementara padaringanana, berasal dari padaringan dengan sufiks -na mengalami pergeseran makna dari ruang fisik menjadi ruang sakral. Secara fonologis, pengulangan bunyi akhir /na/ dan /ng/ menciptakan irama lembut dan menenangkan, selaras dengan fungsi ritual nginebkeun sebagai proses AumenidurkanAy padi setelah siklus panen Secara simbolik. Jampy Nginebkeun merepresentasikan fase akhir siklus ritual agraris Sunda, yang menandai pengembalian Nyi Pohaci Sanghyang Sri ke ruang suci setelah memberi berkah Frasa niat abdi netebkeun Nyi Pohaci dina kasucianana menegaskan tindakan pemulangan energi kehidupan ke asalnya, sementara nyai sumangga linggih dina padaringanana menggambarkan relasi harmonis antara manusia sebagai penjaga dan dewi kesuburan sebagai sumber kehidupan. Dalam kosmologi Sunda, padaringan tidak hanya berfungsi sebagai lumbung padi, tetapi juga simbol rahim kosmis, tempat asal dan kembalinya kehidupan (Henkes & Johnson, 2002. Magliocco, 1996. Sims & Stephens, 2011. Smith, 1. Mantra ini menegaskan nilai kesucian, kesantunan ritual, dan keseimbangan kosmis, di mana tindakan menidurkan padi dimaknai sebagai pengembalian kehidupan ke dalam harmoni spiritual-ekologis. Jampy Ngukus AuBul kukus insun munjul ka luhur ka pangersaning nu suci, seja seba rasaning menyan ka nu jadi sasakala raja nu tos madep ka kasucian. Ay Mantra Membakar Dupa AuAsap kukusan hamba naik ke atas menuju kehendak Sang Suci, berniat persembahan dari rasa dupa bagi yang menjadi asal mula segala raja, yang telah berpaling menuju kesucian. Ay Secara linguistik. Jampy Ngukus menampilkan ciri khas bahasa ritual Sunda klasik yang membangun suasana sakral melalui diksi metaforis dan paralelisme prosodik. Struktur sintaksisnya terdiri atas dua klausa parataktik yang bersifat performatif. Klausa pertama. Bul kukus insun munjul ka luhur ka pangersaning nu suci, berfungsi sebagai tindakan verbal-spiritual, dengan bul kukus . sap kukusa. sebagai subjek simbolik penghantar doa. Verba munjul menandai gerak vertikal dari dunia profan menuju ranah ilahiah, sementara frasa ka pangersaning nu suci menegaskan orientasi transendental menuju kehendak yang suci (Ekadjati, 1995. ManiN, 2026. Uyanne et al. , 2017. Yanuariska et al. , 2. Klausa kedua, seja seba rasaning menyan ka nu jadi sasakala raja nu tos madep ka kasucian, memadukan bentuk intensional dan deskriptif. Ungkapan seja seba menandai niat dan tindakan sembah, sedangkan rasaning menyan merepresentasikan transformasi materi menjadi esensi spiritual. Istilah sasakala raja menunjuk sumber kosmis tertinggi, dan frasa nu tos madep ka kasucian menggambarkan puncak penyatuan spiritual dalam kesucian. Secara fonologis, mantra ini didominasi konsonan nasal dan likuida yang menghasilkan resonansi lembut dan berirama, selaras dengan fungsi meditatif ritual. Penggunaan partikel arkais insun menegaskan sikap kerendahan diri dalam komunikasi vertikal manusia dengan entitas Pola ritmiknya membentuk gerak simbolik dari tindakan menuju niat dan akhirnya ke Secara simbolik. Jampy Ngukus merepresentasikan relasi vertikal manusia dengan kekuatan spiritual tertinggi dalam kosmologi Sunda. Bul kukus berfungsi sebagai medium transendensi yang menghubungkan buana larang dan buana nyungcung, melambangkan doa dan kesadaran manusia yang menuju kesucian. Dalam ritual agraris, dupa menjadi penghubung antara niat manusia. Nyi Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1191Ai1204 Simbol spiritualitas dan pandangan ekologis mantra ngalaksa dalam perspektif kajian ekolinguistik kultural Pohaci Sanghyang Sri, dan leluhur penjaga kesuburan bumi (Henkes & Johnson, 2002. Magliocco. Sims & Stephens, 2011. Smith, 1. Ungkapan ka pangersaning nu suci mencerminkan prinsip keesaan spiritual dalam Sunda Wiwitan yang berujung pada Hyang Tunggal. Rangkaian sejaAesebaAerasaning menyan menandai proses pemurnian batin dari kehendak, pengabdian, hingga spiritualisasi materi. Frasa sasakala raja nu tos madep ka kasucian menegaskan konsep asal dan tujuan kosmis, sejalan dengan gagasan mulih ka jati sebagai etika spiritual Sunda. Jampe Ngibing AuKula ryk ngibingan rasa, ngigelan buana pancetengah, sing jati ati sing jadi diri. Ay Mantra Menari (Ritual Tari Sakra. AuHamba akan menarikan rasa, menari di tengah semesta, semoga hati sejati menjadi diri yang Ay Secara linguistik. Jampy Ngibing memiliki struktur ringkas, tetapi setiap unsur leksikalnya sarat makna simbolik dan fungsi performatif. Kalimatnya tersusun atas tiga klausa sederhana yang membentuk urutan logis sekaligus spiritual, yakni intensi . ula ryk ngibingan ras. , tindakan . gigelan buana pancetenga. , dan tujuan . ing jati ati sing jadi dir. Pola ini membentuk struktur triadik semantik yang lazim dalam mantra Sunda, mencerminkan niat, gerak, dan penyatuan (Ekadjati. ManiN, 2026. Uyanne et al. , 2017. Yanuariska et al. , 2. Klausa pertama, kula ryk ngibingan rasa, menggunakan deklaratif intensional dengan penanda futuratif ryk dan pronomina sopan kula. Verba ngibingan yang diikuti objek abstrak rasa menandakan bahwa yang AuditarikanAy bukan sekadar gerak tubuh, melainkan kesadaran batin, sehingga menegaskan relasi antara bahasa tubuh dan spiritualitas dalam ritual. Klausa kedua, ngigelan buana pancetengah, memperluas makna gerak ke dimensi kosmik. Frasa buana pancetengah merujuk pada dunia manusia sebagai ruang keseimbangan antara buana larang dan buana nyungcung, sehingga secara linguistik menempatkan manusia sebagai penghubung harmonis melalui tindakan ritual. Klausa terakhir, sing jati ati sing jadi diri, bersifat imperatif halus dan Repetisi partikel sing serta paralelisme fonetis memperkuat nuansa meditatif, sementara frasa jati ati dan jadi diri membentuk pasangan sinonimik yang menegaskan kesadaran diri spiritual. Dari segi prosodi, irama mantra yang lembut dan berulang menyerupai ritme tarian, menggabungkan unsur verbal dan kinestetik dalam doa bergerak. Secara simbolik. Jampy Ngibing merupakan ekspresi puncak spiritual dalam siklus ritual agraris Sunda. Ungkapan kula ryk ngibingan rasa menandai pengaktifan kesadaran batin, di mana tubuh menjadi medium ekspresi spiritual yang memediasi relasi manusia, bumi, dan kekuatan ilahiah. Frasa ngigelan buana pancetengah memosisikan tarian sebagai metafora rotasi kosmis, menegaskan peran manusia sebagai penjaga keseimbangan semesta. Frasa sing jati ati sing jadi diri melambangkan tujuan akhir praktik spiritual, yakni penyatuan antara kesadaran batin dan jati diri sejati. Konsep ini sejalan dengan ajaran Sunda Wiwitan tentang mulang ka jati, balik ka asal, yaitu kembali pada hakikat dan kesucian diri. Dalam konteks ritual Ngalaksa, ngibing tidak berfungsi sebagai hiburan semata, melainkan sebagai doa kolektif yang menyatukan gerak tubuh, napas, dan irama gending dalam harmoni kosmos. Jampy Ngibing menegaskan pandangan ekospiritual Sunda bahwa kesempurnaan manusia dicapai melalui keselarasan batin dan kesadaran sebagai bagian dari semesta hidup. Pandangan Ekologis dalam Mantra Ngalaksa Pandangan ekologis dalam mantra Ngalaksa mencerminkan kesadaran masyarakat agraris Sunda terhadap keterikatan spiritual antara manusia dan alam. Melalui setiap jampy . yang dilafalkan dalam prosesi ritual Ngalaksa, terlihat adanya pengakuan bahwa seluruh unsur alam. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1191Ai1204 Ai Rohmawati & Tedi Permadi yakni tanah, air, udara, api, dan tumbuhan. memiliki dimensi kehidupan yang suci . yawa ala. Dalam konteks ini, alam tidak diposisikan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai mitra eksistensial yang harus dihormati dan dijaga. Tiap mantra dalam rangkaian ritual Ngalaksa bukan sekadar doa, tetapi juga representasi verbal dari pandangan kosmologis yang menegaskan hubungan ekologis manusia dengan lingkungannya. Jampy Nyimpen Pary di Leuit Kesadaran Keseimbangan Alam dan Kelembutan Siklus Kehidupan Dalam Jampy Nyimpen Pary di Leuit, frasa seperti Aupangirim talaga suci pamulang talaga sukaAy dan Auulah gedag kaanginan, ulah barobah manahAy menandai gagasan ekologis tentang keseimbangan dan ketenangan alam. Telaga suci melambangkan sumber kehidupan . , sementara Autalaga sukaAy menggambarkan keseimbangan batin manusia yang bahagia bila alam terjaga. Secara ekologis, mantra ini mengajarkan bahwa menjaga kesucian air dan ketenangan hati manusia merupakan dua hal yang saling berkaitan. Ketika manusia hidup dengan kelembutan dan tanpa keserakahan . lah baroba h mana. , maka unsur-unsur alam, angin, air, bumi. akan tetap stabil dan memberikan berkah. Simbol menyan putih nyambuang ka awang-awang . sap dupa putih naik ke langi. menunjukkan hubungan vertikal antara manusia dan kosmos, di mana tindakan ritual dipandang sebagai bentuk Aupengembalian energiAy ke alam semesta. Secara ekologis, asap dupa merepresentasikan unsur udara . , yang menjadi penghubung antara dunia manusia dan dunia spiritual (Malik & Wachyudin, 2. Jampy Nutu Tanggung Jawab Ekologis dalam siklus panen dan pemanfaatan alam Jampy Nutu menandai transisi dari hasil bumi menuju konsumsi manusia, sebuah momen sakral yang menuntut kesadaran ekologis mendalam. Frasa AuNyai dipundut lyahna, diseja kalinggihananaA ulah wera ku salaksa, kula ryk ngajaga moal murag najan sasikiAy menunjukkan pengakuan atas Nyi Pohaci sebagai personifikasi kehidupan yang harus dihormati, bahkan setelah padi dipanen. Secara ekologis, ini mencerminkan prinsip non-waste ethic, yakni etika tanpa pemborosan dan penghormatan terhadap hasil bumi sekecil apa pun. Ungkapan Aumoal murag najan sasikiAy . akkan jatuh sebutir pu. bukan sekadar literal, melainkan simbol moral ekologis: manusia wajib menjaga setiap bentuk kehidupan dan hasil alam tanpa merusaknya. Tindakan nutu . enumbuk pad. diiringi jampy ini menunjukkan kesadaran bahwa pemanfaatan alam harus disertai tanggung jawab dan rasa syukur (Yanuariska et al. , 2. Jampy Nginebkeun Prinsip pengembalian alam ke kesuciannya dalam Jampy Nginebkeun, frasa AuNiat abdi netebkeun Nyi Pohaci dina kasucianana, nyai sumangga linggih dina padaringananaAy mencerminkan siklus ekologis yang berorientasi pada pengembalian keseimbangan alam. Kata netebkeun . enetapkan kembal. dan kasucianana . menggambarkan prinsip restorasi ekologis: setelah manusia mengambil manfaat dari alam . alam bentuk pane. , ia berkewajiban untuk AumengembalikanAy kehidupan kepada asalnya. Simbol padaringan . umbung pad. berfungsi sebagai metafora ekologis: tempat penyimpanan bukan hanya untuk hasil bumi, tetapi juga ruang kesucian bagi kehidupan agar terus lestari. Dalam pandangan Sunda, padaringan adalah representasi rahim bumi yang melahirkan dan memelihara kehidupan. Secara ekologis, ini menegaskan gagasan bahwa konservasi bukan hanya tindakan teknis, melainkan tindakan spiritual yang berakar pada kesadaran akan daur kehidupan. Kasucian yang disebut dalam mantra mencerminkan keseimbangan energi kosmik, suatu tatanan ekologis yang harus dijaga agar keberlanjutan kehidupan tetap terjamin (Islamiati, 2. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1191Ai1204 Simbol spiritualitas dan pandangan ekologis mantra ngalaksa dalam perspektif kajian ekolinguistik kultural Jampy Ngukus Keterhubungan unsur alam sebagai media persembahan spiritual dalam Jampy Ngukus, kalimat AuBul kukus insun munjul ka luhur ka pangersaning nu suci, seja seba rasaning menyan ka nu jadi sasakala raja nu tos madep ka kasucianAy memperlihatkan kesadaran ekologis yang tinggi terhadap unsur-unsur alam. Asap dupa . ul kuku. menjadi simbol transformasi unsur materi menjadi spiritual: api, udara, dan aroma bersatu dalam gerak menuju langit. Proses ini menggambarkan daur alam yang berkelanjutan, yakni api membakar, udara mengalir, dan aroma menyebar, menandai komunikasi antara manusia dan alam. Secara ekologis, tindakan ngukus mengandung kesadaran bahwa unsur alam tidak boleh dianggap mati. setiap elemen memiliki AujiwaAy yang dapat menyampaikan pesan spiritual. Frasa Aupangersaning nu suciAy . ehendak yang suc. menegaskan bahwa kesucian alam adalah kehendak ilahiah, dan manusia hanya dapat hidup dalam harmoni jika menjaga kemurnian unsur-unsur itu (Hendrawan et al. , 2015. Miharja et al. , 2. Jampy Ngibing Gerak kosmik dan kesadaran ekospiritual manusia Jampy Ngibing menutup rangkaian ritual Ngalaksa dengan ekspresi ekospiritual yang paling dinamis. Frasa AuKula ryk ngibingan rasa, ngigelan buana pancetengah, sing jati ati sing jadi diriAy menampilkan simbol tarian kosmik yang mencerminkan keterhubungan antara tubuh manusia dan gerak semesta. Secara ekologis, ngibing . dipahami sebagai partisipasi manusia dalam ritme alam, yakni angin yang berhembus, air yang mengalir, bumi yang berputar, dan kehidupan yang terus berdenyut. Kata rasa dalam mantra ini menandakan kesadaran batin yang menyatu dengan alam, sementara buana pancetengah . unia tenga. adalah ruang ekologis tempat manusia berperan sebagai penjaga keseimbangan. Frasa penutup Ausing jati ati sing jadi diriAy mencerminkan ideal etika ekologis Sunda: manusia sejati adalah ia yang hatinya murni dan tindakannya selaras dengan alam. Gerak tari dalam konteks ini menjadi bentuk doa ekologis, ekspresi rasa syukur atas harmoni kosmos dan komitmen menjaga kesucian Secara keseluruhan, mantra Ngalaksa memancarkan pandangan ekospiritual Sunda, suatu pandangan yang menyatukan kesadaran ekologis dan spiritual dalam keseimbangan kosmos. Setiap jampy dalam ritual Ngalaksa menandai fase ekologis: Nyimpen Pary di Leuit . elestarian hasil bum. Nutu . engelolaan sumber daya dengan tanggung jawa. Nginebkeun . engembalian energi ke asalny. Ngukus . emujaan elemen ala. , dan Ngibing . enyatuan diri dengan alam semest. Melalui struktur linguistik yang puitik dan simbolisme alam yang mendalam, mantra Ngalaksa mengajarkan etika ekologis berbasis kearifan lokal: bahwa manusia bukan penguasa bumi, melainkan bagian dari jaringan kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya dengan kasih, kesucian, dan kesadaran batin (Hendrawan et al. , 2015. Islamiati, 2020. Malik & Wachyudin. Miharja et al. , 2021. Yanuariska et al. , 2. Pandangan Masyarakat atas Simbol Spiritual dan Pandangan Ekologis Berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan ketua rurukan, tokoh budaya, serta masyarakat adat di Rancakalong, ditemukan bahwa simbol spiritualitas dalam mantra Ngalaksa masih memegang peran penting dalam kehidupan kultural masyarakat, meskipun kini menghadapi tantangan serius akibat modernisasi dan perubahan nilai sosial. Ketua rurukan menuturkan bahwa kekuatan spiritual yang terkandung dalam mantra, sebagai jembatan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. perlahan mulai tergerus oleh menurunnya minat generasi muda terhadap praktik budaya sakral. Pergeseran ini tidak hanya disebabkan oleh pengaruh globalisasi, tetapi juga oleh lemahnya transmisi nilai-nilai lisan yang dulu dijaga ketat dalam sistem pewarisan tradisi. Tokoh budaya lokal. Pak Dian, menekankan bahwa simbol-simbol spiritual seperti penyebutan Nyi Pohaci Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1191Ai1204 Ai Rohmawati & Tedi Permadi Sanghyang Sri bukan sekadar entitas mitologis, melainkan manifestasi kesadaran kosmis yang menyatukan manusia dengan ritme ekologis alam dan prinsip ketuhanan yang hidup di dalamnya. Salah satu contoh yang paling kuat dalam menampilkan simbolisme spiritual adalah Jampy Nyimpen Pary di Leuit, terutama pada baris AuMenyan putih nyambuang ka awang-awang, ngagenclang nyorang sukmaning pohaci. Ay Bait ini memvisualisasikan komunikasi simbolik antara manusia dan kekuatan spiritual penjaga kesuburan bumi melalui elemen alam seperti asap, udara, dan cahaya. Dalam perspektif masyarakat adat, setiap tuturan dalam mantra merupakan doa yang menegakkan harmoni antara tubuh, sukma, dan lingkungan hidup. Warga adat menegaskan bahwa keberadaan simbol spiritual dalam mantra Ngalaksa tidak hanya berfungsi sebagai ritual verbal, tetapi sebagai mekanisme ekologis untuk menjaga keteraturan alam semesta dan ketenangan batin manusia. Berdasarkan hasil wawancara lanjutan, ditemukan bahwa banyak generasi muda Rancakalong kini tidak lagi memahami lapisan makna spiritual dalam baris-baris seperti AuMangka welas mangka asih, asih ka badan awakingAy dari Jampy Nyimpen Pary di Leuit, yang sejatinya menyiratkan kasih universal antara manusia dan seluruh ciptaan. Ketika pemaknaan simbolik terhadap teks ritual mulai hilang, maka nilai-nilai religio-ekologis yang terkandung di dalamnya turut memudar. Hilangnya kesadaran terhadap simbol spiritual bukan hanya berarti hilangnya tradisi verbal, tetapi juga mengindikasikan melemahnya fungsi sosial, etis, dan ekologis dari mantra Ngalaksa. Dalam konteks ini, degradasi makna mantra mencerminkan degradasi kesadaran ekologis itu sendiri, karena dalam pandangan Sunda tradisional, kerusakan moral manusia selalu berhubungan langsung dengan kerusakan alam. Wawancara dengan tokoh budaya mengungkapkan bahwa setiap ungkapan dalam mantra Ngalaksa sesungguhnya memuat ajaran moral ekologis yang diwariskan melalui bahasa ritual. Struktur leksikal seperti bayu . , bumi . , cai . , sukma . , dan rasa . tidak hanya berfungsi sebagai penanda alamiah, tetapi juga sebagai elemen kosmologis yang mencerminkan pandangan dunia masyarakat agraris Sunda, yakni bahwa kehidupan adalah jaringan ekologis dan spiritual yang saling terhubung. Dalam pandangan ini, bahasa tidak hanya menyampaikan makna, tetapi juga membentuk realitas ekologis. Setiap kata dalam mantra berfungsi sebagai energi verbal yang menjaga keseimbangan antara unsur alam dan dimensi spiritual manusia. Ketua rurukan menegaskan kembali bahwa doa-doa dalam mantra Ngalaksa tidak boleh dipahami sebagai praktik simbolik semata, melainkan sebagai tindakan ekospiritual performatif yang mengikat manusia dengan kekuatan unsur alam. Pembacaan mantra diiringi kesadaran untuk menyatukan unsur bumi, air, angin, dan api dalam keseimbangan kosmos, yang sekaligus merepresentasikan keharmonisan tubuh, jiwa, dan semesta. Dari keseluruhan pandangan masyarakat adat dan hasil observasi lapangan, dapat disimpulkan bahwa simbol spiritual dalam mantra Ngalaksa adalah representasi dari etika ekospiritual Sunda, yakni suatu sistem pengetahuan lokal yang menyatukan kosmologi, moralitas, dan ekologi dalam satu kesadaran kolektif. Setiap mantra berfungsi sebagai media penghubung antara manusia dan alam, di mana bahasa menjadi sarana untuk menegakkan keseimbangan spiritual dan ekologis. Krisis makna yang terjadi akibat modernisasi bukan sekadar hilangnya ritual verbal, tetapi juga melemahnya fondasi epistemologis budaya Sunda yang berpijak pada prinsip kesucian alam dan keharmonisan batin. Oleh karena itu, pelestarian mantra Ngalaksa tidak hanya bermakna menjaga warisan sastra lisan, tetapi juga menjaga sistem pengetahuan ekologis dan spiritual yang menjadi dasar keberlanjutan kehidupan masyarakat Rancakalong dan kebudayaan Sunda secara keseluruhan. Penutup Berdasarkan pemaparan pada bagian Pendahuluan, khususnya telaah penelitian terdahulu, penelitian ini menegaskan adanya celah kajian terkait pemaknaan nilai ekologis melalui bahasa sakral dalam tradisi lisan Sunda yang belum dibahas secara mendalam dalam studi ekolinguistik Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 1191Ai1204 Simbol spiritualitas dan pandangan ekologis mantra ngalaksa dalam perspektif kajian ekolinguistik kultural maupun antropolinguistik sebelumnya. Dengan mengintegrasikan perspektif ekolinguistik kultural dan pendekatan antropologis-linguistik, penelitian ini menunjukkan bahwa mantra Ngalaksa bukan sekadar tuturan ritual, melainkan representasi sistem pengetahuan ekospiritual masyarakat agraris Sunda. Hasil penelitian memperkuat argumen bahwa bahasa ritual berfungsi sebagai medium pewarisan nilai ekologis, etika lingkungan, dan kosmologi lokal yang menempatkan manusia sebagai bagian integral dari jaringan kehidupan alam, bukan sebagai penguasa atasnya . Ditinjau dari Metode dan Pembahasan, pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus dan etnografi terfokus terbukti efektif dalam mengungkap makna simbolik, struktur linguistik, dan fungsi ekologis mantra Ngalaksa secara kontekstual. Analisis terhadap rangkaian mantra atau jampy, mulai dari Jampy Nyimpen Pary di Leuit. Jampy Nutu. Jampy Nginebkeun. Jampy Ngukus, hingga Jampy Ngibing. menunjukkan bahwa setiap tahap ritual merepresentasikan fase ekologis yang saling berkelindan: pelestarian hasil bumi, tanggung jawab pemanfaatan alam, pengembalian energi kehidupan, pemujaan unsur alam, dan penyatuan manusia dengan kosmos. Mantra Ngalaksa dapat dipahami sebagai teks ekologi budaya yang bersifat performatif, di mana bahasa, tindakan ritual, dan kesadaran ekologis menyatu dalam praktik budaya yang hidup. Namun demikian, penelitian ini memiliki beberapa limitasi. Fokus kajian yang terbatas pada komunitas Rancakalong menyebabkan temuan belum dapat digeneralisasikan ke seluruh masyarakat Sunda atau tradisi agraris Nusantara lainnya. Selain itu, tidak semua teks mantra berhasil didokumentasikan secara lengkap, sehingga sebagian analisis masih bergantung pada fragmen teks dan ingatan kolektif informan. Penelitian ini juga belum mengukur secara empiris dampak konkret nilai-nilai ekospiritual mantra Ngalaksa terhadap perilaku ekologis masyarakat Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas wilayah kajian secara komparatif, mengombinasikan pendekatan ekolinguistik dengan studi pendidikan lingkungan atau ekologi budaya, serta mengkaji proses transmisi dan transformasi makna mantra di kalangan generasi muda. Upaya tersebut penting agar tradisi lisan seperti Ngalaksa tidak hanya dipertahankan sebagai warisan budaya takbenda, tetapi juga dimaknai ulang sebagai sumber reflektif bagi penguatan kesadaran ekologis dan pembangunan berkelanjutan berbasis kearifan Daftar Pustaka Andestend. Asmahasana. Pebriani. , & Shaliha. Serawai sebagai bahasa minoritas . ebuah kajian ekolinguistik dalam pembelajaran dan pemertahana. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra. Pengajarannya, 7. , 187Ae198. https://doi. org/10. 30872/diglosia. Bauman. Folklore, cultural performances, and popular entertainments: A communicationscentered handbook. Oxford University Press. Changizi. Ecotranslation: A metaphorical comparison between ecology and social Translation Interpreting Research, 1. , 29Ae39. https://doi. org/10. 22054/tir. Chomsky. Syntactic structures. Walter de Gruyter. Creswell. , & Creswell. Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches . th ed. SAGE Publications. Creswell. , & Poth. Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches . th ed. SAGE Publications. Danandjaja. Folklor Indonesia. Pustaka Utama Grafiti. Ekadjati. Kebudayaan Sunda: Suatu pendekatan sejarah. Pustaka Jaya.