http://journal. id/index. php/anterior masing nilai bersandar pada kemungkinan bahwa nilainilai, pada kenyataannya, dapat dicapai. Slogan secara EXPLORASI NILAI-NILAI DEMOKRASI PADA RAPAT DAMAI pada gagasan bahwa nilai-nilai DI DESA TUMBANG ANOI adalah TAHUN fakta yang 1894 telah disembunyikan atau dilewati oleh sejarah manusia dan hanya membutuhkan operasi nalar yang agar menjadi transparan. Exploration of Democratic Values at Peace Meetings menarik, dan menang. Namun tidak satu pun dari in the village of Tumbang Anoi in 1894 ketiga nilai memiliki hubungan khusus dengan harapan, kecuali dalam arti instrumental bahwa daya tariknya bertumpu pada kemungkinan bahwa dapat dicapai Sumiatie Abstrak (Appadurai 2. Kita tidak akan menjalankan jika titik Silvia Arianti Rapat Damai dikehidupan Desa Tumbang Anoi menjadi suku-suku yang memiliki nilai historis pada penyatuan suku Dayak di Borneo. Tujuan Yudi Susanto nilai, atau bahkan penelitian ini adalah Mendeskripsikan peristiwa jika Rapatkita Damai Desa Tumbangmemberikannya Anoi . Menggali nilai-nilai yang Demokrasi dalam Rapat Damai di Desa Tumbang yang digunakan dari Anoi. ideal Penelitian yang dibayangkan Universitas Sebelas Maret . Surakarta, penelitian ini kenyataan bersifat kualitatif metode deskriptif yang dengan di analitik Jawa Tengah. Indonesia (Hartman Teknik penggalian data menggunakan 3 metode yaitu observasi, wawancara dan studi literatur. Analisis data dalam penelitian Terlepas dari kritik-kritik, yang jelas, dalam Universitas PGRI Palangka Raya. Palangka berlangsung bersamaan dengan proses pengumpulan data dengan Raya. Kalimantan tengah. Indonesia tertingi. suatu menggunakan metode triangulasi. Hasil Rapat Negara di Belanda tangan maupun rakyat bagi Negara Damai Tumbang Anoi sangat baik bagi Universitas Negeri Malang. Malang. Jawa Kekuasaanawal Dayak sendiri sendiri. karena merupakan Dayak. Adapun Timur. Indonesia dikelola oleh dan untuk nilai-nilai yang terkandung rapat damai di desakepentingan Tumbang Anoiseluruh Semangat perdamaian,Semangat Kesadaran Jargon yang kemudian akan suatu masyarakat Dayakdengan yang lebih dan Kesadaran ini luas. Aukekuasaan *email: tertib hukum. rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyatAy. Bahkan, sumiatie@student. dalamsystem participatory democracy, dikembangkan Silvia. aryanti1985@gmail. pula tambahan bersama rakyat, sehingga menjadi Aukekuasaan pemerintahan berasal dari rakyat, untuk yudisusanto1907318@student. rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyatAy (Noviati 2. UUD 1945 sebagai dasar dari Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah konstitusi yang demokratis. Orde Lama dan Orde Baru dapat Kata Kunci: Abstract membangun rezim otoriter karena direncanakan Demokrasi 1 secara sistematis. Hal ini juga disebabkan oleh truf-up The Peace Meeting in Tumbang Anoi Village became the starting point for the Dayak 2 konstitusional oleh kekuatan politik yang dominan unification of tribes that have historical value in the unification of the Dayak tribes Tumbang Anoi 3 pada saat 1945 (Sibuea. Hosnah, in Borneo. The purpose of this research is UUD to . Describe the events of the Peace Tobing Meeting in Tumbang Anoi2. Village. Exploring the democratic values contained in Berawal Rapatused Damai the Peace Meeting in Tumbang Anoi dari Village. The research in thisTumbang research is Keywords: Mei insampai denganThe 24 data Juli 1894 qualitative with Anoi its discussion. Democratic 1 technique used pelaksanaanya 3 methods, namely interview and Tamanggung Tungah . akek Dayak 2 Data analysis inDamang the study Bat. took place with the data collection Damang Batu Tumbang Anoi 3 process using theberkoordinasi triangulation method. The pihak results showed . Ini the Tumbang Anoi Belanda. Peace Meeting tonggak was very important both for the Dutchsuku and for the Dayak sejarah bagi Dayak Borneo themselves because it was the beginning of the unification of the Dayak tribe. untuk bisa hidup rukun damai sesama suku The values contained in the peaceful meeting in Tumbang Anoi village are: deliberation, themenghilangkan spirit of peace, the spiritpermusuhan, of kinship, awareness pertengkaran, of a wider Dayak community, and awareness of the need for law and beberapa aturan adat sekarang disebut Hukum Adat. Rapat Damai di A 2022 The Authors. Published by Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Desa Tumbang Anoi menjadi titik awal bersatunya Palangkaraya. This is Open Access article under the CC-BY-SA License . ttp://creativecommons. org/licenses/bysuku-suku yang memiliki nilai historis pada penyatuan sa/4. 0/). suku Dayak di Borneo. Sekitar abad 18 Belanda mulai masuk ke PENDAHULUAN daerah Borneo tetapi mereka merasa tidak aman. Demokrasi dianggap sebagai 'cara hidup' yang kerena pada saat itu situasi masyarakat memang belum saling terkait dengan persepsi dan asumsi, pengalaman kondusif/ sering terjadi permusuhan, pertengkaran individu dan tentang hidup bersama. bahkan sampai pada pembunuhan antara suku dengan Demokrasi bukanlah suatu konsep yang statis bebas, pihak Belanda melakukan pendekatanmelainkan suatu proses yang dinamis, aktif dan pendekatan dengan kepala-kepala suku Dayak, sehingga (Subba 2. Demokrasi dari sudut pandang muncul aspirasi untuk menciptakan keadaan damai slogan Aukebebasan, kesetaraan, persaudaraan. Ay Masingantara suku demi keamanan dan kesejahteran suku Anterior Jurnal. Volume 21 Issue 2. April 2022. Page 13 Ae 19 Dayak khususnya. Belanda mempunyai pemikiran dan pandangan untuk berdialog dengan sebagian masyarakat yang dianggap kepala suku lalu muncul kesepakatan sebagian kepala-kepala suku Dayak merasa perlu untuk mengumpulkan semua elemen yang bertikai dan dianggap sebagai kepala suku Dayak se-Borneo, dan pertemuan itu disebut dengan AyIstilah Rapat Damai Tumbang AnoiAy. Berdasarkan penjelasan di atas, sangat penting untuk memperhatikan apakah nilai-nilai demokrasi sudah diterapkan pada saat rapat Damai Tumbang Anoi untuk dapat membuat kepala suku yang berkualitas dan profesional dan yang paling penting membuat suku-suku Dayak yang demokratis, pasca rapat Damai Tumbang Anoi mencontohkan penerapan nilai-nilai demokrasi dengan baik sehingga dapat terwujudnya negara yang demokratis seutuhnya dan dapat berdaya tahan yang kokoh dalam menghadapi perubahan global, kultur dan peradaban bangsa yang terus berubah. Peneliti ingin mengetahui apakah nilainilai demokrasi dalam kegiatan rapat Damai tumbang Anoi tersebut sudah berjalan dengan baik atau belum terjalan sepenuhnya. Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian dengan judul: AuExsplorasi NilaiNilai Demokrasi Pada Rapat Damai di Desa Tumbang AnoiAy. p-ISSN: 1412-1395. e-ISSN: 2355-3529 oleh kayau menjadi jipen kabalik . udak kapara. bagi pihak yang memenangkan (Damianus Siyok & Yankris Selain kayau Asang dan kayau Tabuh. Dayak Ngaju juga mengenal kayau Adat, yaitu mencari kepala yang dipergunakan untuk keperluan upacara tiwah. Tiwah adalah upacara menghantar roh-roh Oloh Ngaju . anteran magah lia. ke Lewu Liau . erkampungan Di negeri arwah. Oloh Ngaju (Asl. meyakini bahwa para arwah hidup seperti halnya manusia di Oleh sebab itu, kaum starata tinggi . tus gantun. harus memiliki budak. Roh-roh orang yang di kayau atau jipen yang dikorbankan inilah yang dipercaya sebagai budak di sana. Sehubungan dengan kayau. AuPada zaman dulu, pembunuhan dapat dibenarkan oleh suatu marga terhadap seseorang dari marga lain, bilamana hal itu dipergunakan untuk keperluan upacara mengantar arwah. Tetapi, manusia yang dibunuh untuk keperluan tersebut tidaklah diambil dari keluarga almarhum, melainkan dari marga lain yang didapat dengan cara mengayau atau dari jipen kabalik yang didapat dari marga lain yang kalah perang (Dr. Hermogenes Ugang 2. Hal itulah yang menjadikan tradisi kayau-mengayau pernah subur di kalangan Dayak Ngaju. Meskipun kebiasaan ini bukan ajaran spiritualitas Dayak. AuRanying Hattala tidak pernah mempersembahkan kepala sesamanya dalam upacara Hal ini terbukti dalam tiwah Suntu, yang telah dilaksanakan pada awal penciptaan di Bukit Batu Nindan Tarung. Proses selanjutnya atas inisitaif manusia. Tradisi tersebut muncul dan berkembang, lalu kebiasaan tersebut menjadi tradisi turun temurun (Tjilik Riwut 2. METODOLOGI Penelitian menggunakan metode kualitatif, dengan pola deskriptif analitik dalam pembahasannya. Teknik penggalian data menggunakan 3 metode yaitu, . observasi langsung ke Desa Tumbang Anoi, . wawancara kepada keturunan Damang Batu. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kota Palangka Raya, tokoh adat, dan masyarakat desa Tumbang Anoi. studi Analisis data dalam penelitian berlangsung bersamaan dengan proses pengumpulan data dengan menggunakan metode triangulasi. Kayau Habales/Hapalas. Kayau ini membalas dendam akibat kekalahan perang. Oloh Ngaju dan Orang Dayak pada umumnya menyimpan dendam pada kaum sub suku berbeda yang telah mengayau kerabat sesukunya. Saking tingginya dendam akibat kekalahan kayau ini. Oloh Ngaju sanggup minum baram/tuak yang disimpan dalam batok kepala kaum suku yang mereka anggap Dalam hal ini. Orang Ngaju sering melakukan kayau pada Dayak Siang dan Ot Pari (Damianus Siyok & Yankris 2. Selain tradisi balas dendam, menguasai wilayah dan mencari kekuasaan, kayau dalam kebiasaan Dayak Kenyah berhubungan dengan upacara mamat. Yaitu tradisi mengakhiri masa perkabungan yang di akhiri dengan mengayau. Selain itu, kayau diperlukan untuk menaikkan status dalam Hanya orang-orang yang menang mengayau boleh menggunakan atribut-atribut tertentu yang melambangkan starata sosial. Bagi beberapa subIbanic, seseorang dianggap bisa menikah dan mampu menjaga keluarga apabila pemuda pernah terlibat dalam pengayauan dan memiliki kepala hasil kayau. Kepala itulah yang menjadi mahar yang dipersembahkan kepada gadis yang hendak dinikahinya. Selain itu, bagi Dayak Kanayatan. Banyuke, dan Bekati, mengayau HASIL DAN PEMBAHASAN Asal Mula Terjadi Permusuhan Antara SukuSuku Dayak Kalimantan Pengayauan Dalam Tradisi Dayak Tidak diketahui sejak kapan kayau menjadi tradisi Suku Dayak karena masih samar-samar. Dalam tradisi Dayak Ngaju, kayau memiliki banyak arti. Kayau Tabuh misalnya, kayau ini dilakukan untuk mempertahankan harkat, martabat dan otoritas atas Kayau Tabuh pernah terjadi antara Dayak Ngaju Kahayan dan Dayak Kenyah Mahakam di areal yang dinamakan Bukit Ayau. Salah satu penyebabnya perebutan areal getah nyatu. Lokasi ini terletak di antara perbatasan wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur, tepatnya di pegunungan Puruk Ayau dan Puruk Sandah. Berikutnya adalah Kayau Asang. Kayau ini dilakukan untuk mencari kekuasaan, kehormatan dan kekuatan. Kaum yang kalah perang Sumiatie. Silvia Arianti dan Yudi Susanto. Explorasi Nilai-Nilai Demokrasi Pada Rapat Damai Di Desa Tumbang Anoi Tahun 1894 dilakukan setelah adat Pati Nyawa . anti nyaw. tidak diterima oleh musuh. Hal itu terjadi karena suku Dayak di sini sangat menghargai darah manusia. Artinya darah itu tidak boleh tertumpah dan menyebabkan pemiliknya meninggal. Apabila sampai tertumpah dan pemiliknya meninggal maka kaum kerabatnya akan menuntut balas. Lima tujuan mengayau yaitu: pertama, untuk kesuburan. Kepala kayau dijadikan korban untuk memulihkan hubungan manusia dengan alam, sehingga Kedua, dipergunakan untuk menambah kekuatan diri dan Kekuatan seseorang dipercaya ada pada kepala, sehingga menguasai kepala seseorang dianggap bisa menambahkan kekuatan diri. Ketiga. Ngayau dilakukan untuk membalas dendam. Keempat, untuk mengutakan struktur bangunan. Mengorbankan manusia untuk mendirikkan suatu bangunan dipandang akan memperkokoh bangunan tersebut. Karena bangunan memiliki spirit. Kelima, untuk mendapatkan budak (J. Lontaan 1. Utus gantung . trata tingg. , mereka kalangan ningrat yang biasa menjadi pemimpin dan memiliki kekayaan, misalnya balanga, garantung dan jipen . Namun jipen adalah kekayaan terpenting, karena mereka inilah pekerja yang menyediakan segala kebutuhan utus gantung. Selanjutnya utus randah . tarata bias. , orang merdeka yang tidak terikat dengan utus gantung. Mereka tidak kaya dan tidak memiliki jipen. Starata ketiga adalah kalangan jipen . udak sahay. yang mengabdi kepada utus gantung. Jipen di masa itu sangat bergantung pada pemiliknya. Karena status mereka bukan orang upahan, namun manusia yang terikat secara social. Sehingga mereka tidak memiliki hak pribadi, karena semua hasil kerja mereka adalah kepunyaan tuannya. Ada banyak hal yang menjadikan mereka jipen, yang sering terjadi karena tidak mampu membayar Jika seseorang memiliki utang dalam jumlah banyak dan tidak mampu membayar, pemberi hutang berhak menjadikan mereka jipen. Dan hal ini diterima oleh masyarakat secara sossocialereka akan terbebas sebagai jipen jika telah melunasi hutang. Saat itulah starata mereka berubah menjadi utus randah. Namun jika mereka tidak mampu melunasi hutangnya, maka keturunan mereka akan terikat sebagai jipen saat mereka meninggal. Kayau menciptakan banyak kaum janda di Suku Dayak. Dalam tradisi pengayauan, para pengayau dan yang dikayau adalah lelaki muda yang masih kuat sehingga para janda kebanyakan adalah kaum perempuan muda. Mereka juga menghadapi beban tambahan, karena keluarga muda biasanya memiliki anak-anak yang masih kecil. Dalam keadaan yang serba sulit inilah dendam kesumat tertanam subur ke generasi berikutnya. Pemenang kayau tidak seutuhnya hidup tenang. Pernah mengayau artinya harus bersiapsiap dikayau. Saat itu makanan, buah-buahan, binatang, dan ikan gampang diperoleh, pergi kehutan, semuanya pasti ada. Namun yang mahal dan sulit diperoleh adalah rasa tentram sebagai manusia. Kayau tidak bisa disebut kebiasaan Suku Dayak, tidak semua suku Dayak memiliki tradisi pengayauan. Dayak Maratus, dayak Maanyan dan Dayak Keriau dan banyak lagi sub-Dayak lain yang tidak memiliki tradisi mengayau. Jipen selanjutnya adalah tawanan perang. Jipen ini disebut jipen kabalik . amba kepara. Budak yang berasal dari tawanan perang dipandang sangat hina oleh penakluknya sehingga mereka bisa diperlakukan selayaknya binatang. Namun, para budak ini takluk secara tuntas. Oleh sebab itu, tidak ada keinginan untuk melawan dalam kondisi demikian. Mereka bisa dikorbankan sewaktu-waktu, misalnya saat tuannya meninggal untuk menjadi budak di negeri arwah (Dr. Hermogenes Ugang 2. Perbudakan seperti ini bukanlah spritualitas Kaharingan karena kebiasaan itu muncul pada peristiwa pertempuran di pulau Kupang. Dimana kemenangan itu diperoleh oleh Nyai Undang dan kelompoknya. Tidak kurang dari 500 musuh Nyai Undang yang bertekuk lutut daijadikan budak oleh Nyai undang. Sejak saat itulah, tradisi perjipenan muncul dikalangan Dayak (Ngaj. (Tjilik Riwut 2. Perbudakan di Tanah Dayak Selain kayau mengayau, tanah Kalimantan juga diselimuti kebiasaan perbudakan sebelum Rapat Tumbang Anoi 1894 (Marko Mahin 2. Pada tahun 1846, atau sekitar 48 tahun sebelum peristiwa Tumbang Anoi, di Pulau Petak ada sekitar 14. 000 jiwa Seiring berjalannya waktu, kebiasaan itu telah berubah karena untuk upacara yang serupa, masyarakat Dayak Taman, kini mengorbankan sapi atau Kebiasaan membagi kasta juga terjadi pada beberapa masyarakat Dayak . Tabel 1. Kasta Oloh Ngaju Pulau Petak Utus gantung . trata tingg. Jumlah Penduduk 000 Jiwa Utus randah . tarata bias. 000 Jiwa Kasta Tabel 1I. Dayak Tanjung Jipen . udak sahay. 000 Jiwa Total 000 Jiwa Merentikaq Merentawi Ripat Kasta Hajiiq Keterangan golongan raja dan keluarganya Utus randah/kalangan biasa budak sahaya Anterior Jurnal. Volume 21 Issue 2. April 2022. Page 13 Ae 19 Tabel II1. Dayak Ibanic di Banua Tampun Juah Kasta Bansa MAsuka Keterangan starata atas Bansa Maluar kalangan biasa Bansa Malawang kalangan budak p-ISSN: 1412-1395. e-ISSN: 2355-3529 perlu untuk mengumpulkan semua elemen yang bertikai dan dianggap tokoh masyarakat se-Kalimantan, dan pertemuan itu disebut dengan AyIstilah Rapat Damai Tumbang AnoiAy. Rapat damai itu adalah lebih besar merupakan inisiatif dari pihak Belanda, karena ketika itu Belanda mulai masuk sampai ke pedalaman pulau Kalimantan, sementara zaman itu ada beberapa daerah berada dalam situasi yang sangat rawan dan sering terjadi permusuhan, pertengkaran sampai pada pembunuhan masyarakat antara suku yang dikenal dengan istilah Ay Hakayau, habunu, hatetek . ayau mengaya. yang artinya : Tidak diketahui sejak kapan Suku Dayak mengenal starata seperti ini karena belum ada catatan khusus tentang itu. Namun Suku Dayak sudah lama berinteraksi dengan Bangsa india, sehingga system ini kemungkinan berasal dari pengaruh kebudayaan Hindu India. Namun berkembang berdasarkan kondisi Kalimantan saat itu (Damianus Siyok & Yankris 2. Melihat masifnya perbudakan saat itu, jumlah budak mempengaruhi starata sosial seseorang sehingga budak adalah keperluan seperti halnya keperluan akan makanan dan minuman. Dengan kondisi ini, masuk akal jika kebudayaan kayau sangat masif karena bukan saja oleh alasan balas dendam, namun pengayauan adalah kebutuhan, diantaranya untuk mendapatkan jipen kabalik . udak kapara. Peristiwa Rapat Damai di Desa Tumbang Anoi Tahun 1894 Hakayau artinya mencari orang untuk dijadikan budak kalau tidak mau maka orang tersebut akan dibunuh ini terutama ditujukan kepada orang lain suku /yang bukan penduduk asli. Habunu artinya saling membunuh yang akhirnya digunakan sebagai pertimbangan kualitas derajat sosial pada zaman itu tergantung banyaknya kepala orang yang dibunuh, maka nilai sosialnya menjadi semakin meningkat, ini merupakan image masyarakat pada jaman itu. Hatetek artinya saling memenggal kepala/ saling bunuh membunuh untuk balas dendam Melihat kondisi pada zaman itu Belanda selalu merasa was-was dan penduduk pun merasa tidak terteram selalu dibayangi oleh rasa takut dan setiap saat selalu berjaga-jaga sampai kalau mendirikan rumah dibuat tiang yang tinggi-tinggi bisa mencapai lebih dari 3 meter dan besarnya tiang diameternya lebih dari 1 . meter, dibuat demi keamanan dan mengurangi rasa takut dan dibangun rumah besar untuk berkumpul orang banyak. Atas kesepatakan masyarakat dari prakarsa Belanda, maka diundanglah para Kepala Suku dan tokoh-tokoh masyarakat dayak se-Kalimantan supaya berkumpul di Kuala Kapuas untuk membicarakan tentang masalah-masalah tersebut terutama agar dapat memberhentikan sikap permusuhan, pertengkaran dan pembunuhan diantara masyarakat agar bisa berdamai diantara suku yang satu dengan yang lain. Untuk perencanaan pertemuan rapat damai tersebut, dilangsungkan pada tanggal 14 juni 1893 untuk membahas rencana upaya penghentian permusuhan, pertengkaran dimaksud. Pertemuan tersebut dihadiri oleh Residen Tuan Brus dan stafnya serta serdadu-serdadu dari Belanda, demikian juga para kepala suku dan tokoh-tokoh masyarakat berdatangan ke Kuala Kapuas (Dr. Yunikewati. MM &, n. Sumber Peta: Dr. Ir. Willy Midel Yoseph. Sekitar abad 18 Belanda mulai masuk ke daerah Kalimantan tetapi mereka merasa tidak aman, kerena pada saat itu situasi masyarakat memang belum kondusif/ sering terjadi permusuhan, pertengkaran bahkan sampai pada pembunuhan antara masyarakat dengan bebas, lalu pihak Belanda melakukan pendekatan-pendekatan tokoh-tokoh masyarakat Kalimantan, sehingga muncul aspirasi untuk menciptakan keadaan damai antara masyarakat demi keamanan dan kesejahteran masyarakat Kalimantan khususnya, selanjutnya Belanda mempunyai pemikiran dan pandangan untuk berdialog dengan sebagian masyarakat yang dianggap tokoh lalu muncul kesepakatan sebagian tokoh-tokoh masyarakat merasa Pelaksanaan Rapat Damai Tumbang Anoi Akhirnya pelaksanaanya dimulai tanggal 22 Mei-24 Juli 1894 berjalan lancar dan pada tanggal 25 Mei tahun 1894 diadakan Upacara untuk mengambil sumpah bagi kepala-kepala adat dan tokoh masyarakat untuk menerima semua keputusan pertemuan, mereka siap untuk melayani dan membantu pemerintah dalam Sumiatie. Silvia Arianti dan Yudi Susanto. Explorasi Nilai-Nilai Demokrasi Pada Rapat Damai Di Desa Tumbang Anoi Tahun 1894 upaya-upaya untuk mencapai sasaran perdamaian dan kesejahteraan (Russaly A. Emond 2. Pada akhir acara sidang diadakan upacara pengambilan sumpah melalui tata upacara AyPotong RotanAy masingAemasing ujung rotan tersebut dipegang oleh pihak yang Rotan dipotong dengan didahului acara penaburan garam dan debu, maknanya. barang siapa yang memulai kembali melakukan AyKayau MengayauAy seperti garam yang hancur dan debu yang Demikian juga roh dan semangatnya, sehingga akan segera mati, untuk upacara ini dengan memotong 4 ekor kerbau, sapi, ayam untuk korban persembahan perdamaian diberikan sebagai hadiah dari Pemerintah, hasil wawancara dengan Bapak Lalang dan Bapak Tiong Batu sebagai juru kunci Rumah Betang salah satu cucu Damang Batu di Rumah Betang Tumbang Anoi (Dr. Yunikewati. MM &, n. Tumbang anoi, diantaranya tercatat. di Nyaring Uhing . ekat Puruk Cahu. Barito Hul. pada tahun 1901, pada tahun yang sama di Tanjung Selor. Bulongan Kalimantan Timur, serta di Sintang. Kalimantan Barat pada tahun 1904. Nilai-nilai Demokrasi yang Terkandung dalam Rapat Damai di desa Tumbang Anoi Tahun Nilai-nilai demokrasi menurut Cipto, dalam (Fajar and Abduh 2. Kebebasan menyatakan pendapat adalah sebuah hak bagi warganegara biasa yang wajib dijamin dengan undang-undang dalam sebuah sistem politik demokrasi. Warga negara berhak untuk menyampaikan keluhan tersebut secara langsung maupun tidak langsung kepada pemerintah. Dalam acara pertemuan tersebut ternyata banyak hal yang menggembirakan dan bermanfaat secara tidak langsung dapat menjalin hubunganhubungan perdamaian antara mereka yang datang dari sekian banyak daerah ke Tumbang Anoi, ada yang membawa misi-misi keagamaan juga sebagai acuan kebijakan para pejabat tercapai dengan sempurna dan berakhir dengan baik, walaupun berkumpul sekian banyak dari unsur yang bermusuhan, tetapi dapat berjalan dengan lancar tanpa ada kekacauan. Dalam pertemuan antara suku Dayak seluruh Kalimantan (Borne. telah dicapai sebagai hasil mufakat, ada beberapa hal penting yang menjadi catatan pada pertemuaan rapat damai di Rumah Betang Tumbang Anoi, sebagai berikut : Kebebasan Berkelompok Berkelompok dalam suatu organisasi merupakan nilai dasar demokrasi yang diperlukan bagi setiap warga Demokrasi memberikan alternatif yang lebih banyak dan lebih sehat bagi warga negara. Itu semua karena jaminan bahwa demokrasi mendukung kebebasan kelompok. Hasil Rapat Damai di Tumbang Anoi Kebebasan Menyatakan Pendapat Kebebasan Berpartisipasi Kebebasan berpartisipasi sesungguhnya merupakan gabungan dari kebebasan berpendapat dan berkelompok. Ada empat jenis partisipasi. Pertama, adalah pemberian suara dalam pemilihan umum, kedua, adalah bentuk partisipasi yang disebut sebagai melakukan kontak/hubungan dengan pejabat pemerintah. Bentuk partisipasi yang kedua ini belum berkembang luas di negara demokrasi baru. Ketiga, melakukan protes terhadap lembaga masyarakat atau pemerintah. Ini diperlukan oleh negara demokrasi agar sistem politik bekerja lebih baik. Pernyataan protes terhadap kebijakan divestasi bank, privatisasi BUMN, kenaikan harga tarif listrik, telepon dan harga BBM adalah bagian dari proses demokrasi sejauh itu diarahkan untuk memperbaiki kebijakan pemerintah atau swasta dan tidak untuk menciptakan gangguan bagi kehidupan Keempat, mencalonkan diri dalam dalam pemilihan jabatan publik mulai dari lurah, bupati, walikota, gubernur,anggota DPR/DPRD hingga presiden sesuai dengan sistem pemilihan yang berlaku. Persetujuan penghentiaan permusuhan dengan pihak pemerintah Belanda Menghentikan kebiasaan perang antar suku Menghentikan kebiasaan balas dendam antar Menghentikan kebiasaan adat mengayau Menghentikan kebiasaan adat perbudakan Pihak Belanda mengakui berlakunya hokum Adat Dayak dan memulihkan segala kedudukan, dan hak-hak suku Dayak lingkup pemerintahan lokal tradisional mereka Penyeragaman hokum adat antar suku Mentaati berlakunya penyelesaian sengketa antar penduduk maupun antar kelompok yang diputuskan oleh Rapat Adat Besar yang khusus diselenggarakan selama pertemuan adat (Tengah Dengan semangat keputusan Rapat Damai Tumbang Anoi, penyelesaian permusuhan di kawasan-kawasan pedalaman dilakukan dengan jalan mengadakan pesta adat seperti yang dilangsungkan di Kesetaraan antar Warga Kesetaraan atau egalitarianisme merupakan salah satu nilai fundamental yang diperlukan bagi pengem-bangan demokrasi di Indonesia. Kesetaraan di Anterior Jurnal. Volume 21 Issue 2. April 2022. Page 13 Ae 19 sisi lain diartikan sebagai adanya kesempatan yang sama bagi setiap warganegara. p-ISSN: 1412-1395. e-ISSN: 2355-3529 tanpa diskriminasi, serta menghindari persaingan yang dapat memicu konflik politik. (Suacana 2. Dengan berpegang pada pluralisme, nilai-nilai demokrasi dalam rapat damai di desa Tumbang Anoi tidak sekadar mengajarkan. Aumengenal, menghargai dan menyambut perbedaanAy, yang sering dianggap sebagai slogan klise yang statis. Tetapi, yang terpenting semua komponen masyarakat dengan keberagaman yang ada menjadi ikut Auterlibat, mempertanyakan dan mempelajariAy satu sama lain, sehingga mampu menangkap sifat dinamis dan sinergis dalam interaksi masyarakat yang heterogen (Fay 2. Rasa Percaya (Trus. Jika rasa percaya tidak ada maka besar kemungkinan pemerintah akan kesulitan menjalankan agendanya karena lemahnya dukungan sebagai akibat dari kelangkaan rasa percaya. Dalam kondisi seperti ini pemerintah bahkan bisa terguling dengan mudah sebelum waktunya sehingga membuat proses demokrasi berjalan semakin lambat. KESIMPULAN Kerja sama Kerja sama diperlukan untuk mengatasi persoalan yang muncul dalam masyarakat. Kerja sama yang dimaksud di sini adalah kerja sama dalam hal kebajikan. Nilai-nilai demokrasi seperti yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat Bali merupakan bagian dari prinsip-prinsip demokrasi modern, khususnya demokrasi empirik/ prosedural. Berbagai parameter yang menandakan nilai-nilai demokrasi tetap hidup dan berkembang dalam masyarakat yang erat kaitannya dengan keunggulan kebudayaan Bali (Suacana 2. Hapakat basara atau musyawarah mufakat adalah merupakan salah satu tradisi atau budaya kehidupan masyarakat suku Dayak dalam menyelesaikan masalah. Penyelesaian masalah atau persoalan yang muncul yang dihadapi masyarakat semaksimal mungkin diselesaikan melalui pendekatan hapakat basara. masyarakat suku Dayak lebih mengutamakan musyawarah mufakat dalam membina hubungan kekeluargaan, dan perdamaian, persaudaraan. Mereka meyakini bahwa terjaganya hubungan kekeluargaan dan persaudaraan ini dikarekan adanya hidup rukun dan damai, baik terhadap suku maupun antar suku (Lilis Suryani 2. Adapun nilai-nilai demokrasi yang terkandung dalam rapat damai di desa Tumbang Anoi adalah: Merundingkan sesuatu secara bersama-sama, bermusyawarah, bermufakat Semangat perdamaian yang kuat di kalangan masyarakat itu sendiri menimbulkan kemampuan di kalangan tokoh-tokoh masyarakat untuk melihat manfaat dan kebaikan dari prakarsa damai. Semangat kekeluargaan dan keterbukaan pada halhal baru seperti kekuasaan, budaya, adat dan Kesadaran akan suatu masyarakat Dayak yang lebih luas melintasi batas-batas kesukuan yang sempit menuju kesatuan dan persatuan yang bersifat nasional. Kesadaran akan perlunya tertib hokum dan keterbukaan hokum adat kepada hokum yang di bawa oleh Belanda Setiap orang mengaktualisasikan diri sebagai makhluk sosial yang menghargai heterogenitas, inklusivisme, pertukaran mutual, toleransi dan kebersamaan dengan mengedepankan penerimaan Rapat damai yang dilakukan di desa Tumbang Anoi sudah banyak berdampak kepada suku Dayak di masa kini terlepas dari kepentingan yang dilakukan kolonial Belanda pada masa itu. Sekarang Praktek kayaumengayau dan perbudakan yang menjadi sejarah hitam di tanah Kalimantan juga sudah tidak ditemukan lagi setelah hasil rapat damai di Tumbang Anoi. Rapat damai di desa Tumbang Anoi membuat suku Dayak lebih hidup rukun dan bersatu. Jangankan membunuh sesama manusia, berkata jelek kepada orang lain bisa didenda adat. Jangankan menjadikan orang lain hamba, berbuat salah dibawa ke pengadilan adat. Singkatnya, rapat damai di desa Tumbang Anoi berhasil memeratakan prinsip-prinsip kesetaraan manusia dalam pandangan masyarakat suku Dayak. Adapun nilai-nilai yang terkandung dalam rapat damai di desa Tumbang Anoi seperti: bermusyawarah. Semangat perdamaian. Semangat kekeluargaan. Kesadaran akan suatu masyarakat Dayak yang lebih luas, dan Kesadaran akan perlunya tertib hukum . UCAPAN TERIMA KASIH Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada ibu Dra. Russaly Andel Emond. Pd selaku cicit dari Damang Batu. Dinas Pariwisata & Kebudayaan Kota Palangka Raya. Perpustakaan Daerah Kota Palangka Raya dan Perpustakaan Universitas PGRI Palangka Raya, yang sudah membantu dalam pengumpulan data dan informasi serta semua pihak yang telah membantu penelitian selama ini. REFERENSI