Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 Mencegah Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Melalui Edukasi Gender dan Ketahanan Keluarga Di Distrik Sorong Kepulauan Umar Ramli1. Nanik Purwanti2. Lukman Rais3*. La Basri4. Nur Hidaya5 1,2,3,4,5 Universitas Muhammadiyah Sorong. Kota Sorong. Indonesia Email: lukmanrais28@gmail. com 3* Abstrak Kondisi sosial di Distrik Sorong Kepulauan menunjukkan masih rendahnya pemahaman masyarakat tentang kesetaraan gender dan peran keluarga dalam menciptakan lingkungan yang aman dan bebas kekerasan. Untuk menjawab tantangan ini, dilakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan kemampuan keluarga dalam mewujudkan suasana rumah tangga yang harmonis dan tanpa kekerasan. Kegiatan ini menggunakan pendekatan partisipatif-edukatif melalui tiga tahap utama, yaitu identifikasi dan survei, pemberian materi edukatif, serta pembuatan media edukasi. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak, baik secara fisik maupun psikologis, masih kerap terjadi secara Fakta ini menegaskan perlunya intervensi edukatif yang berbasis data untuk meningkatkan kesadaran dan ketahanan sosial di tingkat keluarga. Edukasi yang diberikan bertujuan membangun relasi yang adil dan empatik dalam keluarga, serta mendorong terbentuknya masyarakat yang aman, inklusif, dan menghormati hak-hak perempuan dan anak. Media edukasi yang dikembangkan juga berfungsi sebagai alat bantu untuk mendeteksi dini potensi kekerasan serta mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam upaya pencegahan. Keywords: Edukasi. Gender. Ketahanan keluarga. Pencegahan kekerasan. Perempuan dan anak PENDAHULUAN Setiap warga negara berhak mendapatkan rasa aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan, sesuai dengan falsafah Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kekerasan, khususnya kekerasan dalam rumah tangga, adalah bentuk diskriminasi yang harus dihapus karena merupakan pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap martabat kemanusiaan. Kebanyakan perempuan yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga membutuhkan perlindungan dari negara dan masyarakat untuk memastikan mereka terbebas dari kekerasan, ancaman kekerasan, penyiksaan, atau perlakuan yang merendahkan martabat manusia (Muhajarah, 2. Kekerasan adalah istilah yang mengacu pada berbagai masalah yang berkaitan dengan tindakan atau perilaku yang dianggap merugikan, tidak manusiawi, atau bertentangan dengan prinsip sosial, hukum, atau kehendak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan kekerasan adalah tindakan yang melibatkan penggunaan kekuatan atau kekuatan fisik secara sengaja terhadap orang lain, orang lain, kelompok, atau komunitas yang dapat menyebabkan luka, kematian, gangguan mental, hambatan perkembangan, atau kerugian lainnya (Hale et al. , 2. Piagam Hak Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 Asasi Manusia PBB menyatakan bahwa setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, berhak atas hak-haknya yang setara dan bebas dari diskriminasi (Sarah et al. , 2. Kekerasan berbasis gender terbagi menjadi empat kategori, menurut Konvensi Istanbul: kekerasan fisik, seksual, psikologis, dan ekonomi. Contoh kekerasan berbasis gender yang paling umum adalah kekerasan oleh pasangan . ekerasan pasangan inti. , pelecehan dan kekerasan seksual, mutilasi alat kelamin perempuan, dan pembunuhan demi kehormatan (Trisnawati & Perbawani, 2. Jumlah kekerasan terhadap perempuan di Indonesia meningkat setiap tahun. Laporan Catatan Tahunan Komnas Perempuan tahun 2024 502 kasus kekerasan terhadap perempuan. ini adalah peningkatan sebesar 527 kasus, atau sekitar 9,77%, dari 401. 975 kasus tahun sebelumnya. Data Komnas Perempuan dan mitra menunjukkan bahwa dua jenis kekerasan yang paling sering dilaporkan adalah kekerasan seksual dan psikis, masing-masing sebesar 26,94%, disusul oleh kekerasan fisik . ,78%) dan kekerasan ekonomi . ,84%). (Komnas Perempuan, 2. Sementara itu, data dari Komnas Perempuan . menunjukkan kekerasan psikis menempati urutan teratas 660 kasus, disusul oleh kekerasan fisik . ,418 kasu. , kekerasan seksual . , dan kekerasan ekonomi . Laporan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia terus meningkat hingga Menurut data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA), jumlah laporan kekerasan, termasuk kekerasan seksual dan kekerasan berbasis gender, telah meningkat. Komnas Perempuan juga melaporkan peningkatan signifikan dalam jumlah kasus kekerasan seksual terhadap perempuan. SIMFONI PPA 918 laporan kekerasan dari 1 Januari hingga 21 April 2025, dengan 5. 950 korban perempuan dan 28. 831 kasus kekerasan terhadap anak. Hingga Januari 2025, tercatat sebelas kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Provinsi Papua Barat Daya (Kementerian PPA, 2. Namun, data yang dikumpulkan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Kota Sorong menunjukkan bahwa sembilan puluh satu kasus kekerasan berbasis gender terjadi antara tahun 2023 dan 2025 (Safwan, 2. Kondisi sosial masyarakat di Distrik Sorong Kepulauan menunjukkan bahwa banyak orang belum memahami pentingnya kesetaraan gender dan peran keluarga dalam menciptakan lingkungan yang aman dan bebas kekerasan. Berdasarkan data BPS Kota Sorong . menemukan sampai tahun 2025 terjadi 21 kasus kekerasan berbasi gender, dimana mayoritas korbannya adalah perempuan. Hal itu juga di dukung oleh Penelitian yang dilakukan oleh Ali . di Distrik Sorong Kepulauan yang menemukan di Distrik Sorong Kepulauan, yang menemukan bahwa perempuan dan anak mengalami kekerasan fisik. Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 emosional, dan seksual. Ada enam kasus kekerasan fisik per hari, dan kekerasan emosional dan seksual juga terjadi, terutama dari suami dan orang tua mereka. Akibatnya, empat puluh persen perempuan korban ingin bunuh diri, dan empat puluh persen anak ingin menyakiti diri Pencegahan memerlukan kerja sama keluarga, pemerintah, kepolisian, dan lembaga Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang masalah gender dan kekerasan dalam keluarga, kegiatan pengabdian ini sangat penting. Pendidikan gender membantu masyarakat memahami pentingnya hubungan yang setara antara laki-laki dan perempuan untuk membangun keluarga yang harmonis dan mencegah kekerasan dalam rumah tangga. Parsons (Ritzer & Stepnisky, 2. menyatakan bahwa keluarga melakukan fungsi afeksi dan pengendalian sosial untuk menjaga stabilitas masyarakat. Temuan UN Women . bahwa pendidikan berbasis gender dapat membantu dalam menghadapi ketidakadilan dan kekerasan berbasis gender baik di rumah maupun di masyarakat. Penyuluhan mendorong hubungan yang adil dan membantu masyarakat memahami praktik budaya yang diskriminatif. Menurut Zawil Kiram . bahwa pendekatan komunitas yang menggabungkan prinsip budaya lokal dan perspektif gender yang efektif mengurangi toleransi terhadap kekerasan rumah tangga, terutama di masyarakat yang tetap patriarkal. Dengan melihat tingkat kerentanan dan ancaman kekerasan yang tinggi, terutama yang menimpa perempuan dan anak, dapat diidentifikasi beberapa masalah utama, seperti rendahnya pemahaman masyarakat tentang masalah kesetaraan gender, kurangnya perlindungan terhadap kelompok rentan, dan terbatasnya akses ke informasi dan pelatihan tentang pencegahan kekerasan dalam keluarga. Akibatnya, kasus kekerasan dalam rumah tangga terus meningkat dan belum sepenuhnya ditangani. Sehingga tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan kemampuan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari kekerasan di Distrik Sorong Kepulauan. Kota Sorong. METODE KEGIATAN Kegiatan pengabdian ini berfokus pada pemberdayaan masyarakat lokal melalui pendekatan partisipatif dan edukatif. Prosesnya terdiri dari tiga tahap utama, yang melibatkan komunitas secara aktif dan memastikan bahwa materi dipahami dan diterapkan secara efektif di lapangan. Fokus pelaksanaan adalah pada tiga tahap utama yaitu : Identifikasi awal dan Survei Pertama, survei dilakukan untuk mengidentifikasi kekerasan terhadap perempuan dan anak di Distrik Sorong Kepulauan. Tujuan dari upaya ini adalah untuk mendapatkan Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana masyarakat melihat kekerasan dalam rumah tangga dan bagaimana korban mengalaminya. Selain itu, tujuan dari survei ini adalah untuk mempelajari nilai-nilai budaya lokal yang berdampak pada hubungan dan peran gender dalam Dengan data ini maka program pengabdian dapat disesuaikan dengan keadaan sosial budaya setempat sehingga intervensi yang dilakukan dalam upaya mencegah kekerasan dan memperkuat ketahanan keluarga lebih relevan dan efektif. Survei ini dilakukan di 2 . Kelurahan yaitu Dom Barat dan Dom Timur dengan responden sebagai berikut: Tabel 1. Responden survei Kelurahan Dom Barat Dom Timur Total Responden Perempuan Anak Jumlah Edukasi Pada tahap kedua, edukasi menjadi penting diberikan secara langsung melalui pemberian materi. Dalam sesi ini, materi yang disampaikan mencakup pemahaman dasar tentang ketahanan keluarga yang didasarkan pada prinsip kesetaraan gender, berbagai jenis kekerasan yang dialami perempuan dan anak, serta metode perlindungan dan pelaporan kasus Selain itu, sesi ini menekankan peran penting keluarga dan komunitas dalam pencegahan kekerasan. Metode yang digunakan adalah partisipatif dan mendorong peserta untuk berpartisipasi. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya membangun hubungan keluarga yang setara dan bebas kekerasan sekaligus meningkatkan kemampuan komunitas untuk melakukan tindakan preventif bersama. Diharapkan metode ini meningkatkan kesadaran dan komitmen masyarakat untuk menjaga ketahanan keluarga yang aman dan harmonis. Penyusunan Media Edukasi Pembuatan dan distribusi media edukasi adalah langkah terakhir dari kegiatan pengabdian ini. Media ini berfungsi sebagai alat untuk menyebarkan informasi secara berkelanjutan kepada masyarakat. Tim pengabdian membuat konten seperti leaflet, poster, dan infografis yang menyampaikan pesan penting tentang cara mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak, pentingnya penerapan kesetaraan gender dalam keluarga, dan informasi tentang layanan pengaduan dan perlindungan yang tersedia. Agar pesan dapat disampaikan secara efektif, media edukasi ini dibuat dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan desain visual yang menarik. Untuk memastikan relevansi dan penerimaan yang optimal, konten dan penyajian media disesuaikan dengan budaya dan karakteristik masyarakat Distrik Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 Sorong Kepulauan. Tujuan dari langkah ini adalah untuk mendorong keberlanjutan pendidikan dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang cara menghindari kekerasan di lingkungan keluarga. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Survei Pengalaman Kekerasan Kegiatan pengabdian masyarakat ini mencakup berbagai langkah, mulai dari survei awal untuk menemukan dan menghubungkan fakta dan kondisi kekerasan di Distrik Sorong Kepulauan hingga pembuatan media edukasi untuk menyebarkan informasi. Pengabdian dilakukan di Aula Kantor Distrik Sorong Kepulauan pada tanggal 22 Agustus 2024. Sebelumnya, pada tanggal 12Ae18 Agustus 2024, tim pengabdian melakukan survei. Tujuan dari survei ini adalah untuk mengumpulkan data tentang kekerasan yang dialami oleh perempuan dan anak di wilayah tersebut. Dari 20 perempuan yang mengikuti survei, ditemukan bahwa mereka mengalami kekerasan dalam tiga kategori utama: kekerasan fisik, kekerasan seksual, dan kekerasan mental. Dengan menggunakan data ini, edukasi dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Distrik Sorong Kepulauan. Dengan menggunakan metode ini, diharapkan intervensi yang dilakukan dapat lebih tepat sasaran dan efektif dalam mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak, seperti yang ditunjukkan dalam gambar Bentuk kekerasan terhadap perempuan Jumlah Selalu Sering Kurang Jarang Kekerasan fisik Kekerasan seksual Kekerasan psikologis Gambar 1. Bentuk Kekerasan Terhadap Perempuan Hasil survei menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan paling sering ditemukan dalam bentuk kekerasan psikologis, dengan 42 kasus. Dari 42 kasus tersebut, 6 perempuan mengalami kekerasan psikologis yang berulang, menunjukkan pola kekerasan yang berulang dan sistematis. Selain itu, ada angka yang cukup tinggi dari kasus kekerasan fisik, dengan 20 kasus di mana 6 di antaranya merupakan kekerasan terus-menerus. Hal ini menunjukkan bahwa kekerasan fisik masih merupakan masalah besar yang memerlukan Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 perhatian khusus. Sementara itu, hanya ada dua kasus kekerasan seksual yang tercatat. Namun, hambatan sosial dan budaya seperti stigma, rasa malu, dan ketakutan korban untuk melaporkan kekerasan seksual mungkin menjadi penyebab jumlah kekerasan seksual yang Hasil ini menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan, khususnya kekerasan fisik dan psikologis, masih menjadi masalah nyata yang perlu ditangani secara menyeluruh. Oleh karena itu, diperlukan edukasi masyarakat yang berkelanjutan, pemberdayaan perempuan, dan penguatan sistem perlindungan dan mekanisme pelaporan untuk mencegah dan menanggulangi kekerasan terhadap perempuan secara efektif dan menyeluruh. Langkahlangkah ini penting untuk menciptakan lingkungan yang tidak ada kekerasan terhadap Selanjutnya survei terhadap 20 responden anak di Distrik Sorong Kepulauan sebagai berikut: Bentuk kekerasan terhadap anak Jumlah Selalu Sering Kurang Jarang Kekerasan fisik Kekerasan seksual Kekerasan psikologis Gambar 2. Kekerasan Terhadap Anak Hasil survei menunjukkan bahwa kekerasan psikologis adalah jenis kekerasan yang paling sering dialami anak, dengan 54 kasus dan 2 . anak yang mengalami kekerasan psikologis selama bertahun-tahun. Jumlah kekerasan psikologis yang tinggi menunjukkan bahwa anak-anak sering menjadi korban tekanan emosional dan mental, yang, meskipun tidak meninggalkan bekas fisik, berdampak negatif pada pertumbuhan dan kesehatan jiwa mereka. 35 kasus kekerasan fisik tercatat, menunjukkan bahwa kekerasan seperti pemukulan atau perlakuan menyakitkan lainnya masih sering terjadi, bahkan ada 2 . anak yang mengalaminya berulang. Sementara 14 kasus kekerasan seksual dilaporkan, 6 di antaranya masuk dalam kategori "sering", yang menunjukkan pola kekerasan seksual yang berulang dan Fakta ini menunjukkan bahwa anak-anak rentan terhadap kekerasan fisik, psikologis, dan seksual. Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan tindakan perlindungan yang menyeluruh melalui pendidikan, pendampingan, dan peningkatan sistem komunitas untuk melaporkan dan menangani kekerasan. Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 Hasil survei menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi masalah besar, khususnya kekerasan fisik dan mental yang berulang. Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan yang menyeluruh dan berkelanjutan diperlukan. Diharapkan program pengabdian masyarakat di Distrik Sorong Kepulauan yang berfokus pada edukasi berbasis gender akan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melindungi perempuan dan anak. Program ini juga bertujuan untuk meningkatkan norma sosial yang mendukung hak dan keamanan mereka serta meningkatkan sistem pelaporan dan perlindungan keluarga. Diharapkan acara ini akan mengurangi tingkat kekerasan dan meningkatkan ketahanan keluarga di daerah tersebut secara permanen dengan menggunakan pendekatan partisipatif dan edukatif. Ini akan menciptakan lingkungan yang lebih aman dan harmonis bagi semua anggota keluarga. Pelaksanaan Edukasi Kegiatan edukasi dilakukan pada 6 Januari 2025 di Aula Kantor Distrik Sorong Kepulauan. Kegiatan edukasi diberikan melalui penyuluhan interaktif dengan profesional dari bidang hukum dan sosial yang merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan perlindungan dan pencegahan kekerasan dengan aspek utama ketahanan keluarga. Materi yang disampaikan relevan dengan kondisi sosial di Distrik Sorong Kepulauan karena para pemateri adalah individu yang memiliki kepedulian dan kompetensi dalam masalah perlindungan perempuan dan anak. Keluarga yang setara dan bebas dari kekerasan membutuhkan hubungan keluarga yang kuat, dan penyuluhan ini dapat membantu Materi edukasi yang diberikan mencakup berbagai topik penting yang terkait langsung dengan perlindungan perempuan dan anak. Beberapa di antaranya adalah pemahaman dasar tentang ketahanan keluarga yang didasarkan pada prinsip kesetaraan pengenalan berbagai jenis kekerasan, termasuk kekerasan fisik, seksual, psikologis, dan ekonomi. dan penjelasan tentang mekanisme perlindungan hukum dan prosedur pelaporan bagi korban kekerasan. Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman tentang peran pencegahan sejak dini dari keluarga seperti pada gambar berikut: Gambar 3. Kegiatan Edukasi Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 Metode pelaksanaan edukasi mendorong partisipasi peserta. Kegiatan ini tidak hanya berbicara satu arah. itu dirancang untuk menjadi ruang diskusi terbuka di mana peserta dapat berbagi pengalaman, pendapat, dan pertanyaan tentang masalah yang dibahas. Oleh karena itu, peserta tidak hanya mendapatkan informasi tetapi juga terlibat dalam proses pembelajaran kolektif yang relevan dengan realitas sosial mereka dan kontekstual. Selain itu, penyuluhan ini menjadi tempat aman bagi perempuan dan tokoh keluarga untuk menyuarakan masalah kekerasan yang mungkin selama ini tersembunyi karena tekanan budaya atau ketidaktahuan Para pemateri berusaha membongkar nilai-nilai atau perspektif lokal yang mungkin mendorong praktik kekerasan, sekaligus menciptakan sudut pandang baru yang lebih menghargai martabat dan hak setiap anggota keluarga. Proses ini menjadi komponen penting dari transformasi sosial yang didasarkan pada nilai keadilan dan perlindungan. Gambar 4. Kegiatan Edukasi Diharapkan metode edukasi ini akan meningkatkan kesadaran masyarakat Distrik Sorong Kepulauan tentang pentingnya mencegah kekerasan dalam keluarga. Tujuan edukasi bukan hanya untuk mengurangi tingkat kekerasan, tetapi juga untuk meningkatkan ketahanan sosial melalui membangun hubungan keluarga yang adil, menghargai, dan penuh Upaya ini merupakan langkah awal yang sangat penting dalam membangun komunitas yang aman dan inklusif yang menghormati hak-hak perempuan dan anak. Melalui peningkatan pengetahuan dan kesadaran ini, diharapkan akan tercipta lingkungan keluarga yang sehat dan harmonis. Ini juga akan mendorong perubahan sosial yang positif di seluruh Selain itu, metode ini menanamkan prinsip kesetaraan gender dan penghormatan terhadap martabat setiap orang, yang merupakan dasar penting untuk menghentikan kekerasan dan memperkuat solidaritas sosial di Distrik Sorong Kepulauan. Penyusunan Media Edukasi Setelah pelatihan, peserta diberi waktu untuk beristirahat untuk menyegarkan kembali pikiran setelah mengikuti rangkaian kegiatan awal. Selama istirahat, para peserta diajak bermain permainan menarik yang dirancang untuk menciptakan suasana yang santai dan Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 meningkatkan komunikasi satu sama lain. Setelah istirahat selesai, seluruh peserta diarahkan untuk kembali ke tempat duduk mereka masing-masing dan bersiap untuk menerima materi Sesi berikutnya dimulai oleh tim pengabdian masyarakat dengan materi tentang cara mencegah dan melindungi perempuan dan anak dari kekerasan dan bagaimana menjadi Tujuan dari sesi ini adalah agar peserta memahami dan mengetahui kekerasan sejak dini sehingga mereka dapat berpartisipasi secara aktif dalam pencegahan kekerasan dalam keluarga dan masyarakat seperti yang terlihat pada contoh media edukasi berikut: Gambar 5. Media Edukasi KESIMPULAN Kegiatan pengabdian masyarakat menemukan bahwa perempuan dan anak di Distrik Sorong Kepulauan terus mengalami kekerasan fisik dan psikologis. Hasil survei menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anakAikhususnya kekerasan fisik dan mental yang berulangAimasih menjadi masalah besar. Diharapkan bahwa melalui dedukasi langsung akan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesetaraan gender dan perlindungan bagi perempuan dan anak. Pendekatan partisipatif memungkinkan diskusi konstruktif tentang norma-norma budaya yang berpotensi memperkuat kekerasan. Selain itu, membuat media edukasi yang disesuaikan dengan budaya lokal membantu menyebarkan informasi dengan Dengan demikian, program pengabdian secara efektif meningkatkan ketahanan keluarga, meningkatkan komitmen masyarakat untuk mencegah kekerasan, dan meningkatkan kesadaran kolektif untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan harmonis UCAPAN TERIMAKASIH Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini. Terima kasih khusus disampaikan kepada pemerintah Distrik Sorong Kepulauan, tokoh Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 masyarakat, dan seluruh peserta kegiatan atas partisipasi aktif dan antusiasme yang luar biasa selama proses berlangsung. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada lembaga dan mitra pendukung yang telah memberikan dukungan moril maupun materiil. Semoga hasil dari kegiatan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan menjadi langkah awal dalam membangun lingkungan keluarga yang harmonis, adil, dan bebas kekerasan. DAFTAR PUSTAKA