PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . ISSN . MAKNA TRADISI AoKAHIYAAo REMAJA WANITA BUTON TENGAH (MEMAKNAI BUDAYA DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI) THE MEANING OF AoKAHIYAAo TRADITION OF YOUNG FEMALES OF CENTRAL BUTON (INTERPRETTING CULTURE FROM A PSYCHOLOGICAL PERSPECTIVE) Wilda Dwi Ilsa Putri & Suryanto Magister Psikologi Universitas Airlangga ilsa-2023@psikologi. id* . Suryanto@psikologi. ABSTRAK Tradisi Kahiya merupakan tradisi kesucian dengan nilai kemurnian sosial dan pembentukan moral yang menjadi simbol kedewasaan bagi remaja wanita di Buton Tengah. Tradidi ini dilaksanakan minimal setelah mengalami menstruasi. Perkembangan dan pergeseran nilai kehidupan sosial masyarakat yang lebih modern menyebabkan pemahaman dan pemaknaan berbeda mengenai tradisi ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pemaknaan remaja wanita terhadap tradisi Kahiya di Buton Tengah dan faktor yang mempengaruhi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap remaja wanita Buton Tengah usia 14-20 tahun yang telah menjalani tradisi ini. Teknik analisis data menggunakan Descriptive phenomenological analysis (DFA). Hasil penelitian menemukan tradisi kahiya tidak saja sebagai tradisi turun temurun, namun dimaknai berbeda-beda tergantung pada pengalaman subjektif narasumber selama menjalani tradisi tersebut. Proses pemaknaan kahiya dipengaruhi oleh faktor internal berupa belief dan prinsip hidup, dan faktor eksternal berupa kepercayaan, mitos, lingkungan keluarga dan teman sebaya. Implikasi penelitian ini pada remaja wanita yang akan dan telah menjalani kahiya untuk memahami tradisi yang dilakukan sehingga dapat lebih menginternalisasi tujuan positif dari pelaksanaan tradisi tersebut. Selain itu, proses pemaknaan kahiya melalui sosialisasi keluarga dan teman sebaya dapat lebih dioptimalkan untuk pelestariannya. Kata Kunci: fenomenologi, makna, remaja wanita, tradisi Kahiya ABSTRACT The Kahiya tradition is a tradition of purity with the values of social purity and moral formation, which is a symbol of maturity for female teenagers in Central Buton, which is carried out at least after menstruation. The development and changes in the values of social life in a more modern society have caused different understandings and meanings regarding this tradition. The study aims to explore how female teenagers interpret the Kahiya tradition in Central Buton, factors, and influences. This study uses a qualitative phenomenological approach. Data collection through in-depth interviews with female teenagers in Central Buton aged 14-20 years who undergo this tradition. The data analysis technique uses descriptive phenomenological analysis (DFA). The kahiya tradition is not only a hereditary tradition but has different meanings depending on the subjective experiences experienced by each informant while undergoing the tradition. The process of interpreting kahiya is influenced by internal factors in the form of beliefs and principles of life that already exist. External factors come from mythical beliefs, family environment, and The results of this study have implications for female teenagers who will and have http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 undergone kahiya to understand the traditions carried out so that they can better internalize the positive goals of implementing the tradition. In addition, by considering existing factors, the process of interpreting kahiya through socialization with family and peers can be more optimal for its preservation. Keywords: adolescent women, meaning of tradition, phenomenology. Kahiya tradition PENDAHULUAN Masa remaja merupakan masa peralihan dari kanak-kanak, yang dipenuhi dengan tekanan dan gejolak emosi, evaluasi pengambilan keputusan. komitmen dan periode mengukir posisi sosial dalam masyarakat (Santrock, 2. Salah satu ciri khas dari masa remaja adalah adanya berbagai perubahan yang bertujuan untuk mencari identitas (Hurlock, 1999:207-. Tahap perkembangan remaja dipenuhi berbagai tugas yang harus dipenuhi baik segi kognitf, sosial maupun moral, antara lain menjalin relasi romantis dengan lawan jenis, pembentukan identitas, penghargaan dan penyesuaian diri dalam konteks sosial dan sebagaianya (Santrock, 2. Apabila setiap fase perkembangan ini dapat terselesaikan dengan baik, maka individu akan mampu beradaptasi pada fase berikutnya, begitupun sebaliknya (Santrock, 2. Pemenuhan tugas perkembangan sangat dipengaruhi oleh faktor internal berupa kemampuan kognitif dan bawaan genetik. Selain itu, faktor eksternal berupa kehadiran orang tua, teman sebaya dan masyarakat sosial cukup memengaruhi proses perkembangan remaja (Santrock, 2. Perbedaan etnis, budaya, jenis kelamin dan gaya hidup memengaruhi pemenuhan tugas perkembangan pada remaja (Santrock. Hadianti & Krisnani . menyatakan bahwa adanya pengalaman baru membuat remaja mengalami kebingungan sehingga lebih rentan mengalami konflik, kebingungan, kecemasan putus asa baik secara fisik maupun sosial. Hal ini dapat menimbulkan masalah dan munculnya perilaku abnormal pada remaja yang tentunya berpengaruh pada tahap perkembangan selanjutnya. Selain itu, kematangan lebih awal pada remaja juga dapat meningkatkan kerentanan munculnya masalah, khususnya pada wanita (Putro, 2. Salah satu upaya dalam mengembangkan nilai sosial, moral dan reduksi dampak negatif dalam proses perkembangan remaja, di Indonesia banyak menggunakan pendekatan budaya dan tradisi (Fajarini, 2. Tradisi mengandung nilai-nilai yang dapat mengokohkan pandangan dan memberi arah dalam pola pergaulan sesuai dengan http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 norma yang dianut masyarakat (Udu, 2. Pelaksanaan dan pelestarian kearifan, tradisi dan pranata lokal, baik norma dan adat istiadat dapat berfungsi efektif dalam mengembangkan pendidikan karakter (Fajarini, 2. Salah satu tradisi dan kearifan yang berfungsi dalam pembentukan moral, sosial dan karakter remaja yang masih dilestarikan hingga saat ini adalah tradisi Kahiya di Buton Tengah. Sulawesi Tenggara (Alimuddin dkk. , 2. Kahiya merupakan sebuah tradisi ritual lokal yang berkembang di masyarakat Buton Tengah sejak era kesultanan Buton pada abad ke-14 (Munafi, 2. Tradisi ini secara kolektif oleh masyarakat Buton dianggap sebagai sebuah proses inisiasi masa peralihan . ecara adat dan bukan perspektif psikologis perkembanga. bagi remaja wanita . abua-bu. menuju masa dewasa . Kahiya juga dianggap sebagai simbol ataupun peragaan penciptaan manusia sampai lahir didunia (Hardina, 2. Pelaksanaan kahiya dilakukan bagi remaja wanita yang sudah mengalami menstruasi . mumnya dimulai sejak umur 13 atau 14 tahu. yang dalam adat ini dianggap sudah siap untuk menuju kehidupan dewasa (Adilia & Said, 2. Setiap remaja wanita yang akan melaksanakan kahiya akan dikurung dan diisolasi dari interaksi sosial selama enam hari . agi hingga mala. dalam sebuah ruangan khusus yang disebut Suo/kaombo (Alimuddin dkk. , 2. Selama masa kurungan, remaja wanita akan diberikan pendidikan fisik . ola makan dan tidu. dan psikologis berupa pendidikan ahlak, nilai-nilai agama, pendidikan rumah tangga serta nasehat untuk masa depan (Watulea, 2. Pendidikan ini diberikan oleh bhisa yang merupakan orang yang dituakan atau kepala adat, biasanya berasal dari pemimpin agama, yang berperan sebagai pembimbing spiritual dan moral serta memberikan nasehat terkait ketaatan kepada orang tua dan mempersiapkan diri untuk menjadi perempuan dewasa yang siap menjalin kehidupan selanjutnya dan menikah (Alimuddin dkk. , 2. Pengetahuan dan ajaran yang diperoleh selama pelaksanaan kahiya, diharapkan akan menjadi bekal saat memasuki tahap kehidupan selanjutnya dan menuju kedewasaan (Fariki & Rachim. Kahiya secara umum memiliki makna simbolik berupa benda-benda atau perlengkapan yang digunakan dan makna ritual pelaksanaannya. Secara simbolik, kahiya mengandung makna kesucian, kecantikan, keselamatan dan petunjuk arah jodoh (Adilia & Said, 2. Tahapan dan makna tradisi kahiya dijelaskan dalam tabel 1. http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 Tabel 1. Tahapan dan Makna tradisi Kahiya Alimuddin dkk. , . Tahapan Persiapan Kadokoumpu . embuatan ruang Kadanko ganda . enyiapan gendan. Kalano bansa . enyiapkan mayang Pelaksanaan Kafofongkoha . roses awal masuk kaomb. Kalempagi (Pengukuhan peserta Kahiy. Mateano manu . itual pencarian jodo. Kafolimba . rosesi keluar kaomb. A A A A A A A A A Penutupan Kaohono hewu . embersihan ruangan dan Tari Linda Makna Kegiatan yang dilakukan Semua anggota bekerja sama mempersiapkan Kerjasama prosesi kahiya. Bhisa menggumpul semua bahan bahan seperti kunyit, kunyit merah, beras putih yang sudah dihaluskan dan yoefi dibuat menjadi bedak untuk para peserta kahiyaa . Peserta kahiya berkerja sama dalam memakaikan bedak yang dibilas diseluruh tubuhnya dan dilakukan tiga kali Tanggung Tanggung jawab remaja wanita untuk dapat mengikuti dan melaksanakan semua tahapan tradisi serta mengamalkannya dalam Disiplin kehidupan sehari-hari Sedangkan bbisa yang mengambil peran sebagai orang tua remaja Mandiri selama proses kaombo dalam tradisi ini Disiplin dalam setiap aturan yang harus diikuti mulai dari pembukaan acara, pelaksanaan mandi, prosesi makan dan ukuran makan tertentu hingga penutupan Tercermin dari ajaran dan bimbingan selama pelaksanaan tradisi yang diberikan bbisa berupa ketaatan dan kepatuhan kepada orang tua, kemandirian dalam mengambil keputusan dan kesetiaan kepada suami. Pembuangan sampah pada tempat yang Menjaga disucikan diibaratkan membuang semua sifat Kehormatan kekanak-kanakan dan siap menjadi wanita Jujur Dalam mengikuti prosesi kahiya diminta dan dipaksa untuk menceritakan masalah yang dialami sebelum memasuki suo/kaombo. Tradisi kahiya ini masih sangat terjaga di Buton Tengah merupakan daratan kesultanan Buton yang menjadikan adat dan upacara keagamaan masih sangat kental dianut oleh masyarakatnya (Munafi, 2. Walaupun demikian, pemahaman dan pengetahuan mengenai makna yang terkandung dalam tradisi ini, baik secara umum maupun khusus, sudah sangat mengalami penurunan (Adilia & Said, 2. Perubahan pemikiran masyarakat tentang tradisi ini mulai terpengaruh dengan hal-hal yang diperoleh dari pendidikan modern (Lestariwati, 2. Selain itu lingkungan tempat http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 tinggal yang semakin modern secara tidak sadar juga berpengaruh pada pergeseran makna kahiya (Hardina, 2. Giddens . mengungkapkan bahwa globalisasi membawa prinsip budaya modern sehingga memunculkan berbagai permasalahan sosial dalam perubahan manusia. Fenomena ini menyebabkan semakin berkurangnya pemahaman remaja wanita dalam memahami tradisi kahiya (Adilia & Said, 2. Sejalan dengan penelitian Hardina . yang menyatakan bahwa wanita yang menjalani tradisi ini tidak mengetahui makna dari setiap tahapan dan simbol dalam kahiya, padahal pemahaman ini dibutuhkan bagi individu yang menjalaninya. Hal ini agar pesan dari tradisi ini dapat diinternalisasi bagi subjek yang menjalaninya (Hardina. Ketidaktahuan dan kurangnya pemahaman makna tradisi kahiya akan berdampak pada menurunnya penerapan adat ini dalam kehidupan masyarakat. Penelitian terdahulu terkait tradisi kahiya sebagian besar berasal dari hasil wawancara dari sudut pandangan para pemuka adat secara kolektif (Lestariwati, 2012. Alimuddin, dkk. , 2. Pemaknaan subjek yang menjalani kahiya . emaja wanit. diperlukan tidak hanya untuk perkembangan karakter individu namun juga pelestarian tradisi ini (Hardina, 2018. Alimuddin dkk. , 2. Penting untuk melihat dari sudut pandang remaja wanita sebagai individu yang memiliki pengalaman langsung dalam pelaksanaan tradisi kahiya. Lebih lanjut, penelitian terdahulu lebih banyak mengkaji makna simbolik tradisi kahiya (Hardina, 2. dan penelitian Watulea . tentang hubungan dan makna musik dan sastra dalam tradisi kahiya di Buton Tengah. Namun demikian, pemahaman makna simbolik dan pelaksanaan tradisi ini sangat diperlukan. Oleh karena itu, penelitian ini melakukan eksplorasi makna dari tradisi kahiya secara simbolik dengan melihat dari sudut pandang psikologis pelaku serta faktor-faktor yang memengaruhi pemaknaan tradisi ini. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Peneliti menggali pemaknaan dari fenomena yang sudah dialami oleh banyak individu (Quaglia dkk. , 2. Fokus kajian dalam fenomenologi adalah aktivitas atau pengalaman individu dengan tujuan untuk memberikan informasi yang mendalam berkaitan dengan http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 permasalahan atau fenomena yang diteliti (Eberle, 2. Penelitian berfokus pada pemaknaan tradisi kahiya pada remaja putri di Buton Tengah. Teknik sampling yang digunakan ialah purposive sampling dengan karakteristik narasumber ialah remaja berusia 14-20 tahun dan pernah menjalani tradisi kahiya. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini berupa wawancara semiterstruktur untuk mendapatkan informasi mengenai makna tradisi AoKahiyaAo pada remaja putri di Buton Tengah. Adapun pedoman wawancara yang telah disusun meliputi makna dari tradisi kahiya yang dijalani dengan pertanyaan seperti Aomenurut Anda apa makna dari alat-alat yang digunakan dalam kahiya?Ao dan Aobagaimana pengalaman selama melakukan tradisi Kahiya? Bisakah Anda menceritakan pengalaman tersebut?Ao serta faktor yang mempengaruhi hal tersebut dengan pertanyaan berupa AoApa alasan Anda mengikuti tradisi Kahiya?Ao dan Aomenurut Anda, bagaimana fungsi dan manfaat tradisi Kahiya untuk kehidupan Anda saat ini?Ao Penelitian ini melibatkan tiga orang remaja wanita di Buton Tengah. Proses wawancara dilakukan dalam kurun waktu 5 minggu sebanyak 3 kali pada masing Ae masing narasumber dengan durasi wawancara 2-3 jam. Adapun data demografi narasumber ditunjukkan pada tabel 2. Tabel 2. Data Demografi Narasumber Penelitian Inisial Usia Status Usia saat mengikuti Kahiya Pelajar 13 tahun Mahasiswa 20 tahun Pelajar 14 tahun Teknik analisis data dilakukan dengan Descriptive phenomenological analysis (DFA) (Giorgi & Giorgi, 2. Terdapat empat tahapan analisis data yang dilakukan yaitu: . peneliti membaca transkrip berkali-kali. mengambil transkrip yang sudah berisi unitunit makna. membuat deskripsi psikologis. dan, . peneliti membuat sintesis untuk deskripsi psikologis. Teknik kredibilitas data dilakukan dengan member checking yaitu peneliti berperan dalam melakukan penyesuaian dan pengecekan data yang bertujuan untuk memastikan keakuratan laporan penelitian dan penerapan external audit. Hal ini http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 bertujuan untuk mengkonsultasikan hasil pada ahli yang dapat dipercaya untuk melakukan pemeriksaan hasil penelitian agar lebih objektif (Klassen dkk. , 2. HASIL PENELITIAN Hasil penelitian menunjukkan pengalaman remaja wanita di Buton Tengah saat menjalani tradisi kahiya yang diuraikan dalam 2 tema utama yaitu makna tradisi kahiya dan faktor yang mempengaruhi pemaknaan tersebut. Berdasarkan analisis hasil wawancara dengan teknik descriptive phenomenological analysis (DFA), ketiga narasumber memberikan data secara terbuka dalam menyampaikan persepsi dan pengalaman terkait pengalaman dalam mengikuti tradisi kahiya, makna yang dirasakan dan faktor yang memengaruhi pemaknaan tersebut. Secara keseluruhan ketiga narasumber memaknai tradisi sesuai dengan pengalaman subjektif yang dialami selama mengikuti tradisi tersebut. Secara umum temuan tema-tema penelitian diilustrasikan pada gambar 1. Gambar 1. Temuan tema-tema penelitian Makna Tradisi Kahiya http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 Berdasarkan hasil wawancara, proses pelaksanan tradisi kahiya di Buton Tengah sudah tidak begitu kental lagi. Modernisasi menyebabkan proses pelaksanaan kahiya menjadi lebih ringkas. Tradisi ini pada mulanya berlangsung selama 8 hingga 14 hari, namun dengan adanya adaptasi pada perkembangan zaman, berkurang menjadi 2-3 hari saja (Munafi, 2. Salah satu narasumber mengungkapkan jika kondisi ini menyebabkan pemaknaan kahiya menjadi lebih beragam dan tidak hanya sebatas proses pendewasaan saja. Pemaknaan terhadap tradisi kahiya bersifat kolektif dan berdasarkan pengalaman subjektif saat mengikuti tradisi ini. Makna yang pertama yaitu kahiya dimaknai sebagai adat turun temurun menuju Bagi ketiga narasumber kahiya merupakan hal yang wajib diikuti sebagai bagian tradisi turun temurun dari nenek moyang. Melalui keikutsertaan ini, remaja wanita dianggap telah memasuki tahap kedewasaan menurut usia adat. Hal ini sesuai dengan kutipan hasil wawancara berikut ini: Auyang tadinya kita masih anak-anak itu berarti pada saat kita sudah kahiya itu tandanya kita sudah dewasaAy (W1S1, 10-. AuJadi kahiya itu tradisi dari orang tua turun temurunAy (W1S3, . Makna yang kedua ialah kahiya sebagai ritual simbolik kedewasaan keagamaan. Selain sebagai bagian budaya, bagi ketiga narasumber tradisi kahiya juga dimaknai sebagai bagian dari ritual keagamaan dan bentuk pengislaman khususnya muslim, yang berwujud tradisi adat. Kahiya dianggap sebagai bentuk simbolik proses pendewasaan yang dikembangkan melalui pendekatan budaya dan agama. Hal ini sesuai dengan kutipan hasil wawancara berikut ini: AuIntinya kalau diadat itu intinya buat mengislamkan lah. Ay (W1S1, 15-. Auartinya kita diislamkan secara agaman dan adatAy (W3S2, 40-. Aukalau dari pengentahuanku itu lebih kayak pendewasaan dalam bentuk pengislamannya kitaAy (W3S2, 60-. Makna ketiga, kahiya dimaknai sebagai tradisi memprediksi masa depan. Tahapan dalam kahiya yang dapat meramalkan kehidupan masa depan terkhusus mengenai pernikahan dan jodoh bagi remaja wanita. Kahiya dimaknai sebagai proses meramalkan apa yang akan terjadi bagi remaja wanita yang mengikutinya dan berkaitan dengan mitos yang berkembang dalam tradisi ini. Walaupun kepercayaan ini berbeda-beda pada ketiga Hal ini sesuai dengan kutipan hasil wawancara berikut ini: http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 AuTapi terkadang dia terbukti begitu. Ternyata kayak ramalan dari orang tua kampung itu memang terjadi begitu. Ay (W2S3, 162-. Aukadang memang ada terjadi itu kalau ramalananya, kayak jodohnya kapanAy (W3S1, 179-. Makna selanjutnya ialah kahiya dimaknai sebagai tradisi berharga dan Dalam wawancara narasumber mengungkapkan jika mengikuti tradisi ini memberikan banyak pengalaman baru yang tidak dapat terulang kembali. Pengalaman ini meninggalkan kesan yang positif bagi narasumber. AuMungkin itu kayak seru sajaAy (W2S2, 90-. Auya kayak seru juga deng, karna pengalaman baru juga begituAy (W3S3, 80-. Kahiya dimaknai sebagai tradisi pembentuk moral dan nilai religiusitas. Tradisi kahiya dianggap sebagai budaya yang memiliki nilai religiusitas dan moral, yang berhubungan dengan pembentukan karakter bagi remaja menuju pendewasaan. Hal ini diperoleh melalui nasihat-nasihat selama menjalankan kahiya. Hal ini sesuai dengan kutipan hasil wawancara berikut ini: AuTerus terkait hubungan dengan Yang Maha KuasaAy (W1S1, 192-. Aukita harus menghormati orang tua, kayak lebih berbakti lagi sama orang tuaAy (W2S2, 108-. Aubanyak dapat nasehat terkait berbakti sama orang tua kalau sa kemarin sihAy (W3S3, 221-. Makna terakhir ialah kahiya sebagai upaya pelestarian kebudayaan temurun. Hal ini juga menjadi alasan mengapa tradisi ini diwajibkan bagi remaja wanita. Kahiya tidak hanya berfungsi individual, tetapi juga berfungsi secara kolektif dalam masyarakat. Hal ini sesuai dengan kutipan hasil wawancara berikut ini: Aumungkin juga kita anak muda ini jadi tau tentang tradisi yang ada di kampung kita bisa tau dan bisa juga kita ajarkan untuk orang lain ke adiknya kita begitu. Ay (W2S3, 150. Ausa pikir-pikir pas sudah besar ini, kayak juga bentuk dari lestarikan ini budaya biar tetap ada nanti biar orang tidak lupa kalau ada yang beginian di sukunya kitaAy (W3S1, 190-. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Makna Tradisi Kahiya Keikutsertaan dan proses pemaknaan tradisi kahiya pada ketiga narasumber dipengaruhi banyak faktor. Penelitian ini menemukan faktor internal dan eksternal pemaknaan kahiya pada remaja wanita di Buton Tengah. Faktor internal meliputi belief dan prinsip hidup individu. Adanya keinginan untuk tidak ikut serta dalam tradisi, karena http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 menganggap bahwa tradisi ini tidak wajib dalam menentukan kedewasaan individu. Hal ini sesuai dengan kutipan hasil wawancara berikut ini: AuKalau menurut saya sama anak yang tidak ikut mungkin ndaAo ada bedanyaAy (W1S2, 63-. AuSama saja menurutku ingka, kayak ya mereka ikut tidak kadang tidak ada bedanyaAy (W3S1, 80-. Narasumber lain tetap percaya jika tradisi ini penting. Selain faktor belief, prinsip hidup yang dimiliki juga ikut memengaruhi. Hal ini berhubungan dengan kepercayaan terhadap mitos dan fungsi tradisi kahiya sebagai bagian dalam memprediksi masa depan remaja wanita. Ada yang menyatakan mereka meyakini mitos yang ada, namun ada juga yang menyatakan jika hal ini bertentangan dengan prinsip modernisasi saat ini. Adapun faktor eksternal yaitu pertama adanya pembelajaran sejak dini dari orang Sejak kecil, narasumber telah mendapatkan penanaman kepercayaan dari orang tua jika tradisi kahiya merupakan sebuah ritual adat yang wajib diikuti ketika sudah dewasa dan hendak menikah. Sebagian besar alasan dan pemahaman mereka terkait kahiya berasal dari orang tua terkait kepercayaan yang dianut keluarga yang diturunkan kepada Hal ini sesuai dengan kutipan hasil wawancara berikut ini: AuIya benar sekali, lebih banyak pengajaran dari orang tua. Jadi sumber utamanyaAy (W2S1, 56-. Aupastinya dari orang tua dulu taunya semua ituAy (W3S3, 20-. AuWaktu kecil sering diceritakan sama orang tuaku, apalagi bapakku dulu karena dia juga Ode toh jadi paham betulAy (W3S2, 1878-. Faktor kedua adalah konformitas belief masyarakat secara kolektif. Dalam wawancara terungkap lingkungan sosial masyarakat menjadi salah satu faktor yang membentuk pemahamana mereka terkait tradisi ini. Ada kecenderungan mengikuti kahiya sebagai bentuk penggugur kewajiban atas kepercayaan adat yang diyakini masyarakat terkait kahiya. Faktor ketiga adalah stigma sosial. Kahiya merupakan hal yang wajib diikuti ketika Mereka meyakini jika remaja wanita yang tidak mengikti tradisi ini dianggap telah melanggar adat dan cenderung memperoleh keterasingan dari masyarakat. Hal ini sesuai dengan kutipan hasil wawancara berikut ini: AuIya karna pandanganya orang tua kalau gadis yang tidak ikut kahiya sebelum menikah itu, artinya tidak bagus begitu. Ay (W1S2, 72-. http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 Audapat bicara juga kalau tidak ikut kahiya terus kita menikah nanti pasti aka nada saja itu halangannya, pokoknya kayak kamu tidak boleh dulu menikah kalau belum ikut itu kahiyaAy (W3S2, 240-. Tradisi kahiya dianggap penting untuk dilakukan agar menghindari kesialan dan hal negatif dimasa depan. Ketiga narasumber ada yang percaya terhadap mitos tersebut, namun ada juga yang tidak meyakini hal tersebut. Hal ini sesuai dengan kutipan hasil wawancara berikut ini: AuSebelumnya tidak percaya. Tapi terkadang dia terbukti begitu. Ay (W2S3, 162-. AuKalau saya tidak ada pengaruhnya sama sekali begituAy (W2S2, 165-. Aupercaya tidak percaya sih, tapi ya jalani sajaAy (W3S1, 200-. Lebih lanjut, adanya faktor pengajaran dari pemuka adat. Ada tidaknya penjelasan dan pengajaran dari pemuka adat sangat memengaruhi proses pemahaman mereka terkait tradisi kahiya. Kurangnya penjelasan dari pemuka ada dalam memahami makna setiap tahapan dan alat-alat yang diguakan dalam tradisi kahiya akan turut berpengaruh dalam pemaknaan tradisi ini. Faktor selanjutnya adalah adanya kehadiran teman sebaya ketika menjalani tradisi kahiya berpengaruh terhadap proses pemaknaan mereka. Narasumber yang menjalani kahiya dengan teman sebaya, cenderung memaknai kahiya sebagai hal menyenangkan dan berharga, begitupun sebaliknya. Karena dengan teman mereka merasa lebih dapat menjalani smeua tahapan tradisi tanpa terbebani dan memiliki tempat untuk berbagi Hal ini sesuai dengan kutipan hasil wawancara berikut ini: Aukemarin rada tidak serujuga, karna saya kan ikutnya pas sudah besar ini toh jadi tidak ada teman seumuranku, ssemuanya adek-adek dibawahku, jadi sa rasa kadang tidak ada teman ceritaku yang naymbung begituAy (W3S2, 298-. Aukalau saya menurutku kaau ada teman yang seumuran itu enak sekali, karna kitab isa cerita-cerita toh didalam kamar itu, jadi tidak rasa bosan dan sepi begituAy (W3S3, 250. DISKUSI Makna didefinisikan sebagai hubungan yang kompleks antara simbol, objek dan orang yang terdiri atas aspek logis dan psikologis. Aspek logis berubungan dengan simbol dan referensinya yang disebut denotasi . , sedangkan aspek psikologis berhubungan dengan simbol dan orang atau disebut konotasi . (Morissan , 2. Lebih lanjut Brown dalam (Sobur, 2003. menggambarkan makna sebagai kecenderungan . total dalam bereaksi terhadap bentuk bahasa tertentu. http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 Pemahaman makna terhadap tradisi kahiya dibutuhkan bagi individu yang menjalaninya, agar pesan dari tradisi ini dapat diinternalisasi dalam kehidupannya (Hardina, 2. Pemahaman terhadap makna budaya juga berkontribusi dalam pembentukan identitas sosial dan karakter positif yang berlandaskan nilai-nilai budaya yang ada, khususnya dalam upacar-upacara adat dan ritual (Rusfandi, 2. Penelitian ini menunjukkan tradisi kahiya dimaknai secara beragam oleh narasumber yang telah menjalaninya. Pemaknaan yang terjadi sering kali mengalami pergeseran disebabkan oleh adanya modernisasi dan pandangan masyarakat modern mengenai tradisi ini (Mudasir & Mir, 2. Walaupun demikian, tradisi kahiya masih tetap menunjukkan eksistensinya sebagai simbol kedewasaan dalam masyarakat Buton Tengah. Hasil penelitian juga menunjukan kahiya sebagai upacara simbolik turuntemurun menuju kedewasaan. Sobur . menyatakan simbol digunakan untuk menunjuk sesuatu yang lain berdasarkan kesepakatan dalam kelompok. Pemaknaan kahiya sebagai simbolik kedewasaan merupakan salah satu bentuk kebutuhan masyarakat Buton Tengah, khususnya pada remaja wanita untuk dapat mencapai status Hal ini sejalan dengan penelitian Albert . bahwa warisan budaya, baik seperti ritual, memberikan rasa kontinuitas dan koneksi dengan masa lalu, yang pada gilirannya memperkuat rasa kebersamaan dan identitas kolektif. Hasil penelitian menunjukkan kahiya sebagai dari upacara keagamaan dan mengandung fungsi moral dan religiusitas. Menurut Durkheim . terdapat dua hal pokok pemaknaan individu terhadap upacara adat keagamaan yaitu kepercayaan dan ritus/upacara. Ritual keagamaan dianggap sebagai lambang collective representation yang ideal yang cenderung kuat. Hal ini akan tercermin dalam kehidupan sehari-hari, khususnya setelah mengikuti tradisi tersebut. Ritual keagamaan ini dianggap sebagai sarana yang dapat menciptakan kesadaan kolektif dalam masyarakat dan menjadi charger untuk mendekatkan diri kepada Tuhan (Siahaan, 1. Konsep perkembangan moral oleh Kohlberg . menyatakan bahwa tradisi dipahami sebagai mekanisme yang memperkenalkan nilai-nilai moral dan norma sosial kepada individu. Pengalaman simbolis ini membantu individu meningkatkan moral dan religiusitas melalui pemahaman dan penghormatan aturan budaya. Munculnya rasa religiusitas tidak terlepas dari adanya kepercayaan terhadap mitos yang berkembang dalam tradisi ini. Mitos merupakan suatu sistem komunikasi yang http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 berfungsi untuk menyampaikan pesan (Barthes, 1968: . Mitos merupakan gambaran psikologis yang dibangun melalui proses semiologis . enanda dan petand. dengan memuat konsep ideologis yang bertujuan menaturalisasikan suatu konsep menjadi hal yang wajar atau alamiah (Hasyim, 2. Keyakinan terhadap mitos dalam kahiya menghasilkan sebuah makna baru bagi mereka yang menjalaninya. Makna ini berasal dari simbolik dalam tradisi, yang dihubungkan dengan kejadian sehari-hari. Salah satunya ialah mitos terkait jodoh yang diperoleh dari makna simbolis lilin yang cepat padam yang selanjutnya diadopsi oleh narasumber sebagai bagian dari kehidupannya secara alamiah. Sejalan dengan penelitian Abidin dkk. , elemen-elemen simbolis dalam upacara tradisional masyarakat adat memainkan peran penting dalam membentuk identitas budaya, spiritualitas, dan kohesi sosial yang muncul dari keyakinan terhadap mitos dan makna simbolik ritual. Pemaknaan terhadap kahiya berkembang melalui pengalaman langsung yang dialami oleh remaja. Keikutsertaan dalam tradisi menimbulkan pengalaman berharga yang menyenangkan dan memengaruhi persepsi mereka . iketahui, dikerjakan, dan dipersepsika. , kesadaran, baik oleh stimulus . secara objektif, maupun keadaan diri sang perseptor (Wade & Tavris, 2. Hal ini membuat narasumber lebih mudah mengingat pengalaman dan menjadikannya bagian dari kehidupan mereka. Objek atau peristiwa yang sesuai dengan tujuan individu cenderung muncul sebagai persepsi yang konsisten terekam dalam memori dan akan diingat apabila mengalami sensasi yang serupa (Afiyanti & Rachmawati, 2. Pengalaman berharga ini membantu dalam pembentukan identitas diri, penyampaian nilai dan pengetahuan, penguatan hubungan sosial hingga sebagai upaya pelestarian budaya (Albert, 2. Pemaknaan kahiya juga tidak lepas dari adanya kepentingan kolektif terkait pelestarian kebudayaan. Kahiya dianggap sebagai sebuah kewajiban agar adat turuntemurun ini tetap terjaga eksistensinya. Hal ini untuk mendorong pemahaman masyarakat sehingga makna yang ada dalam tradisi kahiya tetap sesuai (Hardina, 2. Keikutsertaan dalam tradisi sebagai alat efektif dalam pelestarian budaya lokal dan penguatan identitas budaya di era globalisasi (Fahma dkk. , 2. Struktur sosial yang mewajibkan sebuah tradisi bagi masyarakatnya bertujuan untuk membentuk identitas kolektif agar terus eksis dalam melestarikan tradisi dan mengintegrasikan warisan budaya dalam masyarakat modern dan generasi penerus (Roudometof, 2. http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 Pemaknaan tradisi kahiya dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat dijelaskan dalam perspektif Teori Ekologi daro Bronfenbrenner. Pertama terkait faktor intenal berupa prinsip kepercayaan yang dimiliki dan berpengaruh terhadap kepercayaan pada mitos yang berkembang dalam tradisi kahiya. Kepercayaan ini biasanya dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya yang ada di dalam makrosistem, yang kemudian menjadi bagian dari pola pikir individu. Kepercayaan juga dipengaruhi oleh faktor sosial dan budaya yang berkembang dalam mikrosistem . eperti keluarga atau kelompok tema. dan mesosistem (Crawford, 2. Faktor eksternal berasal dari lingkungan keluarga dan masyarakat adat. Keluarga masuk dalam mikrosistem yang merupakan salah satu komponen paling mendasar yang membentuk individu. Keluarga adalah lingkungan pertama belajar tentang nilai-nilai budaya dan tradisi, meliputi norma, kepercayaan, dan adat istiadat dan membentuk cara individu memaknai tradisi (Crawford, 2. Ajaran keluarga yang diperoleh ketiga narasumber mempengaruhi pandangan mereka terkait tradisi ini. Basri . mengungkapkan jika keluarga merupakan unit sosial terkecil dalam masyarakat, yang berfungsi strategis dalam mewariskan dan melindungi nilai-nilai budaya lokal suatu Lingkungan keluarga menjadi awal mula individu memperoleh pengetahuan dan memberi warna kehidupan seseorang dalam praktik sosial yang lebih luas (Salmiati , 2. Pendidikan sejak dini akan membuat individu menyatu dengan budaya dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Keluarga membantu dalam memberikan pemahaman untuk menginternalisasi identitas budaya melalui tradisi yang meliputi penanaman rasa kebanggaan dan pentingnya menjaga tradisi tersebut (Tam, 2. Selain keluarga, kehadiran teman sebaya dalam pelaksanaan tradisi kahiya juga memengaruhi permaknaan. Narasumber yang mengikuti kahiya dengan teman sebaya memaknai tradisi ini sebagai pengalaman yang berharga dan menyenangkan. Sedangkan bagi mereka yang mengikuti tradisi ini tanpa adanya teman sebaya cenderung mengangap pengalaman tradisi ini kurang berkesan. Dalam perpektif teori ekologi Bronfenbrenner, lingkungan teman merupakan mikrosistem yang menjadi tempat bagi remaja untuk berbagi pengalaman, pandangan, dan nilai. Tradisi yang diajarkan di keluarga atau budaya bisa diperkuat atau dipertanyakan melalui interaksi dengan teman (Crawford, 2. Faktor teman merupakan salah satu ciri yang paling khas dari kehidupan remaja. Hal ini juga yang menjadi alasan mengapa kehadiran teman sebaya http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi ketiga narasumber, yang masih berusia Remaja cenderung banyak menghabiskan waktu dengan teman sebayanya dan membentuk kelompok untuk membebaskan diri dari orang dewasa (Rahmayanthi. Menurut Blumer . dalam teori interaksi simbolik, makna diciptakan dalam interaksi antarmanusia, dan dimodifikasi melalui sebuah proses interpretatif. Melalui interaksi dengan teman sebaya selama mengikuti tradisi, remaja wanita membentuk makna baru dimana kahiya dimaknai sebagai pengalaman yang berharga dan Faktor selanjutnya ialah konformitas terhadap perilaku budaya yang dianut secara Menurut Tolley . , konformitas merupakan perubahan perilaku individu untuk mengikuti perilaku orang lain agar diterima disuatu kelompok tertentu. Keikutsertaan narasumber dalam tradisi ini karena kewajiban dan ketakutan akan stigma negatif apabila tidak mengikutinya. Narasumber berusaha untuk tetap menjadi bagian dari lingkunganya, salah satunya melalui keikutsertaan dalam tradisi. Konformitas merupakan hal yang wajar di beberapa budaya, dimana individu melakukan sesuatu karena meniru orang lain agar dapat diterima dikelompok tersebut (Rahmayanthi, 2. Karakteristik remaja yang cenderung berusaha untuk memperoleh pengakuan dan diakui menjadi bagian dari sebuah komunitas, menjadikan konsep konformitas menjadi lebih erat dengan remaja (Santrock, 2. Penelitian ini menekankan bahwa modernisasi telah merubah makna dan pemaknaan tradisi kahiya, dimana keluarga dan teman sebaya berfungsi sebagai penguat. Pemaknaan terhadap tradisi kahiya dapat digunakan sebagai media yang memudahkan perkembangan moral dan identitas melalui pendekatan budaya. Peran lingkungan sosial juga dapat menjadi salah satu sarana dalam melestarikan tradisi ini. Penelitian Wibowo . menyatakan jika sosialisasi kultur melalui lingkungan sosial akan sangat efektif dalam menyasar karakteristik remaja saat ini. KESIMPULAN DAN SARAN Pemaknaan tradisi kahiya oleh remaja wanita di Buton Tengah mengalami beberapa perubahan disebabkan pengalaman subjektif yang dialami. Tradisi kahiya dimaknai sebagai ritual turun temurun yang wajib diikuti, ritual simbolik keagaamaan menuju pendewasaan, tradisi yang memprediksi masa depan, tradisi yang berharga dan http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 menyenangkan, tradisi yang mengandung nilai moral dan religiusitas, hingga sebagai upaya pelestarian budaya turun temurun. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemaknaan kahiya pada remaja wanita sangat erat kaitannya dengan belief yang dimiliki remaja, baik secara individu maupun kolektif. Kepercayaan terhadap mitos serta adanya konformitas menjadi faktor yang sangat berperan penting dalam proses pemaknaan tradisi ini. Pengalaman hidup yang didukung interaksi sosial juga menjadi faktor yang memengaruhi proses pemaknaan terhadap tradisi kahiya. Secara umum hasil penelitian ini memiliki keterkaitan erat dengan hasil penelitian sebelumnya dalam mengaitkan nilai agama dan religiusitas. Penelitian ini telah menemukan makna tradisi kahiya pada remaja wanita di Buton Tengah melalui sudut pandangan remaja dan mengaitkannya dengan konsep psikologis serta faktor yag Ini merupakan langkah awal dalam mengeksplorasi pemaknaan tradisi ini melalui perspektif psikologi. Meskipun demikian, temuan penelitian ini masih harus diperdalam khususnya terkait faktor-faktor yang memengaruhi pemaknaan Narasumber penelitian ini masih berasal dari keturunan sultan, sehingga akan lebih eksploratif bila narasumber berasal dari keluarga diluar kesultanan sehingga dapat diteliti dengan lebih kuat pelaksanaan adat kahiya saat ini di masyarakat secara umum. Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai acuan untuk mengembangkan model penelitian indijenus dalam bidang Psikologi. DAFTAR PUSTAKA