Jurnal Kesehatan Amanah Volume. Nomor. Oktober 2025 e-ISSN : 2962-6366. p-ISSN : 2580-4189. Hal. DOI: https://doi. org/10. 57214/jka. Tersedia: https://ejournal. id/index. php/jka Penggunaan Pitch Rendah pada Pemeriksaan CT Scan Kepala pada Kasus Trauma di RSUD Banyumas Aliya Ambar Sari1*. Widya Mufida2. Muhammad ZaAoim3 Universitas AoAisyiyah Yogyakarta. Indonesia *Penulis Korespondensi: aliyaambarsari2@gmail. Abstract. RSUD (Regional General Hospita. Banyumas is a healthcare institution offering radiology services, such as head CT scans for trauma cases. The application of CT scan pitch parameters is essential for generating high-quality images while reducing the radiation exposure to the patient. This study employed a descriptive qualitative methodology utilizing a case study approach. The author presents an analysis of low pitch utilization in head CT scans for trauma cases at RSUD Banyumas. The research was carried out between May and June The participants included three radiographers and one radiologist. The methods employed for data collection comprised observation, interviews, and documentation. The study results demonstrate that the CT scan procedure for head trauma at RSUD Banyumas was executed with the patient in a supine head-first position and a pitch parameter set at 0. Employing a lower pitch enhances image detail and noise, although with the potential for increased radiation exposure. This study concludes that appropriate pitch utilization in head trauma CT scans at RSUD Banyumas significantly affects image quality. Keywords: Image Quality. Pitch. Radiologist. RSUD Banyumas. Trauma Abstrak: Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banyumas merupakan salah satu fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan radiologi, termasuk pemeriksaan CT Scan kepala untuk kasus trauma. Dalam praktiknya, penggunaan parameter pitch pada CT Scan sangat penting untuk menghasilkan citra berkualitas tinggi sambil meminimalkan dosis radiasi yang diterima pasien. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Penulis menjelaskan secara keseluruhan mengenai penggunaan pitch rendah pada pemeriksaan CT Scan kepala pada kasus trauma di RSUD Banyumas. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Mei- Juni 2025. Subjek penelitian adalah 3 radiografer, dan 1 dokter spesialis radiologi. Metode pengumpulan data yang digunakan yakni observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosedur pemeriksaan CT Scan kepala trauma di RSUD Banyumas dilakukan dengan prosedur CT Scan kepala trauma, posisi pasien supine head first, hingga pengaturan parameter pitch yang digunakan yaitu 0,55. Penggunaan pitch yang lebih rendah dapat meningkatkan detail citra dan noise, meskipun dengan resiko dosis radiasi yang lebih tinggi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan pitch yang tepat dalam pemeriksaan CT Scan kepala trauma di RSUD Banyumas sangat berpengaruh terhadap kualitas citra yang dihasilkan. Kata Kunci: Kualitas Gambar. Melempar. Radiolog. RSUD Banyumas. Trauma LATAR BELAKANG Anatomi tengkorak terdiri dari enam tulang, yaitu tulang temporal, tulang ethmoid, tulang oksipital, tulang parietal, dan tulang frontal (John P. Lampignano, 2. Oleh karena otak menampung semua organ tubuh, bagian ini sangat penting. Otak terdiri dari empat lobus: lobus temporal, lobus oksipital, lobus parietal, dan lobus frontal (Standring S, 2. Untuk mengurangi dosis radiasi yang diterima pasien, parameter seperti kVp, mAs, ketebalan slice, collimation slice, dan pitch harus selalu diperhatikan pada pemeriksaan CT Scan Kepala kasus trauma yang terkait langsung dengan penerimaan dosis radiasi (Bushberg. Parameter eksposi kVp, mAs, dan pitch adalah komponen CT-Scan kepala pada kasus trauma yang dapat memengaruhi dosis radiasi yang diterima pasien dan kualitas gambar yang dihasilkan, menurut penelitian yang dilakukan oleh Tsapaki . Naskah Masuk: 31 Agustus 2025. Revisi: 14 September 2025. Diterima: 28 September 2025. Tersedia: 30 September 2025 Penggunaan Pitch Rendah pada Pemeriksaan CT Scan Kepala pada Kasus Trauma di RSUD Banyumas Kualitas gambar, waktu pemindaian, dan dosis radiasi yang diberikan kepada pasien dipengaruhi oleh pitch, yang merupakan komponen penting dari protokol CT Scan. Pitch adalah jarak yang ditempuh meja dalam satu putaran gantri 360A dibagi kolimasi ketika meja menggerakkan seluruh putaran dan tabung sinar-X dan ketebalan irisan atau kolimasi berkas Dengan kata lain, besar pitch adalah 1. Pitch dapat berdampak pada waktu yang diperlukan untuk pemindaian, kualitas gambar yang dihasilkan, dan dosis radiasi yang diterima pasien (Bushberg, 2. Loise E. Romans . menyatakan bahwa area scan dibuat mulai dari basis cranii sampai ke ujung kepala dengan ketebalan slice 5 mm. FOV (Field of Vie. 23 cm, kV 120 dan mA 150, dan pitch 0,8-1,0. Teori Frank N. Ranallo . menyatakan bahwa pitch yang ideal untuk pencitraan CT-scan kepala trauma adalah pitch sekitar 0,8-1,0 karena dapat memberikan detail yang cukup untuk mendeteksi. Saat observasi awal, pemeriksaan CT-Scan kepala kasus trauma di RSUD Banyumas melibatkan pemindaian area mulai dari basis kranial hingga Faktor eksposi yang digunakan termasuk tegangan tabung 100 kV, arus sinar-x 115 mA, nilai FOV 24 cm, dan ketebalan slice variasi 5 mm dengan pitch 0,55. Sebelum pemeriksaan dilakukan, kontrol table diisi dengan nama, nomor rekam medis, tanggal lahir, dan jenis kelamin pasien. Diberitahukan kepada pasien bahwa mereka diharapkan tidak bergerak selama pemeriksaan. Posisi pasien di atas meja pemeriksaan CT-scan dengan kepala terlebih dahulu masuk ke gantry (Head Firs. , dengan area scanning dimulai pada batas atas dua jari di atas vertex dan setinggi leher 5. Penelitian mengenai penggunaan parameter pitch pada CT scan kepala trauma menunjukkan pentingnya pemilihan parameter yang tepat untuk menghasilkan gambar berkualitas tinggi tanpa meningkatkan paparan radiasi. Shih et al. menyatakan bahwa penggunaan parameter pitch yang tepat dapat membantu meningkatkan kualitas gambar, terutama dalam kasus trauma kepala, dengan mempertimbangkan keseimbangan antara resolusi gambar dan dosis radiasi. Begitu pula. Wang et al. mengungkapkan bahwa pengaturan pitch yang lebih rendah dapat meningkatkan detail gambar, namun berisiko pada peningkatan dosis radiasi, yang menjadi perhatian utama dalam prosedur medis CT. Tan et al. menekankan pentingnya pengaturan pitch dalam menetapkan standar nasional untuk referensi diagnostik, guna mengoptimalkan kualitas gambar sekaligus meminimalkan paparan radiasi pada pasien. Lebih lanjut. Meiyner et al. meneliti penerapan teknologi radiomik dalam penilaian cedera aksonal difus menggunakan CT dan MRI pada pasien dengan trauma kepala, yang dapat memberikan wawasan lebih dalam mengenai penggunaan teknik pencitraan yang optimal. Di sisi lain, penelitian Kiragga et al. yang dilakukan di Uganda Jurnal Kesehatan Amanah Ae Volume 9. Nomor 2. Oktober 2025 e-ISSN : 2962-6366. p-ISSN : 2580-4189. Hal. menunjukkan pentingnya menentukan level referensi diagnostik yang dapat memastikan dosis radiasi yang aman dan kualitas gambar yang cukup baik untuk diagnosis cedera kepala. Eddy et al. juga menyoroti pengurangan panjang pemindaian pada trauma kepala sebagai cara untuk mengurangi paparan radiasi sambil mempertahankan kualitas diagnostik, sedangkan Geyen et al. mengusulkan penggunaan aturan Canadian CT Head Rule (CCHR) untuk menentukan indikasi CT pada cedera kepala dan mengurangi pemindaian yang tidak perlu. Dengan demikian, studi ini bertujuan untuk memberikan rekomendasi praktis bagi tenaga radiologi dan radiografer di RSUD Banyumas dalam menentukan parameter pitch yang optimal, berdasarkan analisis perbandingan dengan teori-teori yang ada serta hasil penelitian KAJIAN TEORITIS Pitch merupakan salah satu parameter komponen penting dalam protokol CT Scan dan secara mendasar mempengaruhi kualitas gambar yang dihasilkan, serta waktu yang diperlukan untuk pemindaian. Istilah pitch adalah jarak yang ditempuh meja dalam satu putaran gantri 360A dibagi kolimasi. Misalnya, jika meja bergerak 5 mm dalam satu putaran dan kolimasi sinar adalah 5 mm, maka jaraknya sama dengan 5 mm / 5 mm = 1,0. Pilihan pitch mempengaruhi kualitas gambar dan dosis pasien: P = 1,0: berkas sinar-X bersebelahan untuk rotasi yang berdekatan P >1. 0: sinar x-ray tidak bersebelahan untuk rotasi yang berdekatan. yaitu terdapat celah pada heliks sinar-X, namun volume penuhnya masih disinari, hanya dengan proyeksi yang lebih sedikit per rotasi P <1. 0: terdapat tumpang tindih sinar X. yaitu volume jaringan diiradiasi lebih dari satu kali per pemindaian Oleh karena itupitch>1,0 mengakibatkan penurunan dosis pasien namunjuga menurunkan kualitas gambar . ebih sedikit proyeksi yang diperoleh, sehingga menghasilkan rasio signal-to-noise yanglebih renda. Pitch <1,0 menghasilkan kualitas gambar yang lebih baik namun dosis pasien lebih tinggi (Zaenal Arifin, 2. Penggunaan pitch rendah menyebabkan irisan gambar saling tumpang tindih, yang meningkatkan jumlah data akuisisi dan menghasilkan resolusi spasial yang lebih tinggi (Bushong, 2. Pitch rendah seperti 0,55 juga terbukti meningkatkan kontras jaringan lunak otak, serta membantu meminimalkan artefak gerakan, karena waktu rotasi per irisan lebih lambat dan stabil. Penelitian oleh Virgin et al . , menunjukkan bahwa penggunaan pitch <1,0 secara signifikan meningkatkan akurasi diagnosis pada pasien Penggunaan Pitch Rendah pada Pemeriksaan CT Scan Kepala pada Kasus Trauma di RSUD Banyumas trauma dibandingkan pitch >1,0. Namun, pitch rendah juga berdampak pada peningkatan dosis radiasi, karena terdapat overlapping data dan waktu pemindaian lebih lama. Oleh karena itu, perlu dilakukan pendekatan berbasis justifikasi klinis dan prinsip As Low As Reasonably Achievable (ALARA) untuk memastikan bahwa manfaat klinis lebih besar daripada risiko radiasi (ICRP, 2. Dengan mempertimbangkan urgensi klinis dalam kasus trauma kepala, di mana penegakan diagnosis yang cepat dan akurat sangat penting, penggunaan pitch sebesar 0,55 dapat dikatakan kurang efektif. Hal ini sejalan dengan protokol internasional dalam penanganan cedera kepala akut menggunakan CT scan (American College of Radiology, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualintatif yang dilakukan di RSUD Banyumas. Waktu pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni 2025. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk mengumpulkan data terkait prosedur pemeriksaan CT scan kepala rutin dan trauma di RSUD Banyumas, termasuk parameter teknis yang digunakan, seperti nilai pitch. Wawancara dilakukan secara semiterstruktur dengan tiga orang radiografer dan satu orang radiolog untuk memperoleh informasi mendalam mengenai pertimbangan dan alasan pemilihan parameter tersebut dalam praktik Dokumentasi dilakukan dengan mengambil foto hasil citra radiograf CT scan kepala trauma sebagai data pendukung. Analisis data dilakukan dengan mengumpulkan dan mengkaji nilai-nilai pitch serta parameter lainnya yang digunakan dalam pemeriksaan CT scan kepala rutin dan trauma di RSUD Banyumas. Nilai-nilai tersebut kemudian dibandingkan dengan teori atau standar literatur yang relevan. Selanjutnya, dilakukan klarifikasi terhadap radiografer dan radiolog untuk memperoleh pemahaman mengenai alasan pemilihan nilai pitch tertentu, sehingga dapat ditarik kesimpulan mengenai kesesuaian praktik lapangan dengan teori serta pertimbangan klinis yang mendasarinya. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Menurut hasil studi observasi dan dokumentasi yang dilakukan oleh penulis pada pemeriksaan CT Scan Kepala dengan Klinis Trauma yang dilakukan di Instalasi Radiologi Jurnal Kesehatan Amanah Ae Volume 9. Nomor 2. Oktober 2025 e-ISSN : 2962-6366. p-ISSN : 2580-4189. Hal. RSUD Banyumas pada tanggal 6 Mei 2025 diperoleh data sebagai berikut: Profil Kasus Nama Pasien: Ny. Umur: 45 tahun Jenis Kelamin: Perempuan Alamat : Banyumas Tanggal Pemeriksaan: 05 Mei 2025 No. Rekam Medis : 007x Permintaan Foto: CT-Scan Kepala Klinis: Cedera Kepala Ringan Riwayat Pasien Pada bulan Maret 2024 pasien datang ke Instalasi radiologi diantar oleh keluarga dan satu perawat menggunakan brankar dalam keadaan kooperatif disertai bekas luka dan memar di wajah dengan membawa surat permintaan pemeriksaan CT Scan kepala non kontras. Surat permintaan tersebut bertujuan untuk mengetahui terjadinya pendaharan atau fraktur pada Data rekam medis yang ada, pasien di arahkan untuk melakukan pemeriksaan CT Scan Kepala di Instalasi Radiologi dengan dibuat surat pengantar untuk dilakukan pemeriksaan CT Scan kepala dengan klinis Trauma dengan dibuktikan adanya surat permintaan rontgen. Prosedur Pemeriksaan CT Scan kepala dengan klinis Trauma di Instalasi Radiologi RSUD Banyumas. Persiapan Pasien Pemeriksaan CT Scan kepala dengan klinis trauma tidak memerlukan persiapan khusus hanya saja pasien di instruksikan untuk melepas benda-benda logam di sekitar kepala yang dapat mengganggu hasil atau citra radiograf. AAy Prosedurnya tidak ada persiapan khusus untuk pasien. Cuma pasien harus terbebas dari benda logam di area kepala yang mau kita scanAy . 1/Radiografe. Persiapan Alat dan Bahan Persiapan alat dan bahan yang digunakan untuk pemeriksaan CT Scan kepala dengan klinis Trauma di Instalasi Radiologi RSUD Banyumas adalah sebagai berikut : Pesawat CT Scan dengan Spesifikasi: Merk: Siemens. Tipe: Access CT . Nomor Seri : 320159 . Operator Console . Alat Fiksasi . Selimut Penggunaan Pitch Rendah pada Pemeriksaan CT Scan Kepala pada Kasus Trauma di RSUD Banyumas . Printer Teknik Pemeriksaan CT Scan Kepala Berdasarkan observasi. Teknik pemeriksaan CT Scan kepala dengan klinis trauma dimulai dari memposisikan pasien, objek, parameter pemeriksaan, proses Scanning, rekontruksi gambar dan pencetakan film hingga pembacaan radiograf. Posisi Pasien Pasien supine di atas meja pemeriksaan dengan posisi kepala dekat dengan gantry atau head first kemudian sesuaikan posisi pasien lurus dengan meja pemeriksaan. Posisi Objek Radiografer memposisikan kepala pasien pada head holder. Pasien diberi fiksasi pada kepala dengan head straps dan fiksasi tangan dan kaki pasien dengan body straps yang berada di meja pemeriksaan. Setelah itu memasukkan meja pemeriksaan ke gantry dengan menekan tombol arah masuk, kemudian mengatur Mid Sagital Plane (MSP) tubuh sejajar dengan indikator longitudinal. Mid Coronal Plane (MCP) tubuh sejajar dengan lampu indikator horizontal dengan batas atas 2 jari vertex dan batas bawah cervical 7. AAuPasien supine diatas meja pemeriksaan, ekspose, batas atas vertex ya sampai bawahlahAy . 2/Radiografe. Parameter Pemeriksaan Parameter yang digunakan dalam pemeriksaan CT Scan kepala dengan klinis cedera kepala ringan di Instalasi Radiologi RSUD Banyumas sebagai berikut : Tabel 1. Perbedaan Parameter Rutin dan Trauma di RSUD Banyumas. Parameter CT Scan Kepala Trauma CT Scan Kepala Rutin Scannogram Kepala Lateral Kepala Lateral Scan Area Cervical 7 sampai Vertex Basis Cranii sampai Vertex Length FOV 504 mm 250 mm Slice Thickness 1 mm 5 mm 120 kV 120 kV 265 mAs 183 mAs Scan Time Pitch Gantry Tilt - 15 Penggunaan Pitch pada Pemeriksaan CT Scan Kepala Pasien Trauma di RSUD Banyumas Pada pemeriksaan CT scan kepala pasien trauma di RSUD Banyumas, salah satu parameter teknis yang digunakan adalah nilai pitch sebesar 0,55. Pitch merupakan rasio antara perpindahan meja pasien per rotasi tabung sinar-X dengan total ketebalan irisan . lice Jurnal Kesehatan Amanah Ae Volume 9. Nomor 2. Oktober 2025 e-ISSN : 2962-6366. p-ISSN : 2580-4189. Hal. yang dihasilkan selama pemindaian spiral. Nilai pitch yang rendah, seperti 0,55, menunjukkan adanya tumpang tindih antar irisan, yang bertujuan untuk meningkatkan Pemilihan pitch yang rendah sangat penting pada kasus trauma kepala karena kelainan atau cedera dapat bersifat samar dan tidak terdeteksi jika resolusi spasial tidak optimal. Meskipun penggunaan pitch rendah dapat memperpanjang waktu pemindaian dan meningkatkan dosis radiasi ke pasien, namun manfaat diagnostiknya jauh lebih besar terutama dalam situasi kritis yang membutuhkan akurasi tinggi. Selain itu, dengan dukungan perangkat lunak rekonstruksi citra terkini, hasil scan dapat diolah untuk menghasilkan gambar multiplanar (MPR) atau tiga dimensi . D) yang membantu radiolog dan dokter dalam menilai kondisi pasien secara komprehensif. Oleh karena itu, pemilihan parameter teknis seperti pitch harus disesuaikan dengan kebutuhan klinis dan kondisi pasien, guna menghasilkan pencitraan yang optimal tanpa mengabaikan aspek keselamatan radiasi. AAy untuk slice thickness rekonstruksi itu kita pakai 1 mm, jadi tidak ada bagian yang terlewat, nanti setelah itu kita bikin MPR, potongan Axial. Sagittal. Coronal. Kemudian bikin 3D nyaAy (I1/Radiografe. Hasil CT Scan Kepala dengan nilai pitch 0,55 dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 1. Hasil Citra CT Scan dengan nilai pitch 0,55 di RSUD Banyumas. Informasi Citra pada Pemeriksaan CT Scan Kepala Trauma di Instalasi Radiologi RSUD Banyumas Pemeriksaan citra CT scan kepala harus mencakup seluruh anatomi kepala secara menyeluruh, mulai dari mandibula hingga vertex. Hal ini mencakup evaluasi terhadap kemungkinan adanya perdarahan, baik di area wajah maupun intrakranial, seperti perdarahan Penggunaan Pitch Rendah pada Pemeriksaan CT Scan Kepala pada Kasus Trauma di RSUD Banyumas epidural, subdural, subaraknoid, atau bahkan di area sinus. Selain itu, kemungkinan adanya hematoma juga harus diperhatikan. Struktur tulang kepala perlu dievaluasi secara detail untuk mengidentifikasi adanya fraktur atau pergeseran. Dalam pelaksanaannya, citra CT scan harus dioptimalkan agar menghasilkan gambar yang jelas dan minim noise. Hal ini dapat dicapai dengan menyesuaikan parameter seperti kV sesuai dengan kondisi pasien, serta pengaturan window width dan window level pada monitor, agar artefak seperti yang sering muncul pada area CPA . erebellopontine angl. tidak mengganggu interpretasi gambar. Pengaturan ini penting untuk mengantisipasi gangguan visual akibat noise, sehingga citra tetap informatif, terutama dalam kasus trauma kepala yang kompleks. Informasi citra yang didapat menggunakan scan area dari mandibula sampai untuk mengetahui keseluruhan anatomi pada pasien trauma kepala dan dapat memberikan informasi apabila terdapat kelainan di daerah mandibula, kelainan di daerah face bone sampai daerah vertex. AAy kan macem-macem ya di epidural di subdural atau area lainnya atau mungkin di sinus nya, atau mungkin ada ga hematoma, semuanya dilihat. Kemudian tulang nyaAy . 4/Radiolo. Pembahasan Prosedur Pemeriksaan CT Scan Kepala Trauma di Instalasi Radiologi RSUD Banyumas. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, teknik pemeriksaan CT Scan kepala dengan klinis trauma di Instalasi Radiologi RSUD Banyumas dimulai dengan memposisikan pasien supine di atas meja pemeriksaan dengan posisi kepala dekat dengan gantry atau head first, kemudian mengatur posisi pasien supine di atas meja pemeriksaan, kaki diluruskan, kepala di letakkan di atas head holder, serta pasien diberi selimut. Selanjutnya pasien diberi alat fiksasi pada kepala dengan head straps dan alat fiksasi tangan dan kaki pasien dengan body straps yang berada di meja pemeriksaan, dengan alasan agar posisi kepala dan badan pasien tidak ada pergerakan yang menimbulkan kekaburan bayangan hasil scanning, kemudian mengatur MSP tubuh sejajar dengan lampu indicator longitudinal. Menurut Lampignano . Teknik pemeriksaan CT Scan kepala dimulai dengan memposisikan pasien supine di atas meja pemeriksaan dengan posisi kepala dekat dengan Kemudian kepala fleksi dan di letakan pada head holder. Kepala diposisikan sehingga mid sagital plane tubuh sejajar dengan lampu indikator longitudinal dan meatus acusticus externus setinggi lampu indicator horizontal. Kedua lengan pasien diletakkan di atas perut atau di samping tubuh menggunakan body strap. Untuk mengurangi pergerakan kepala sebaiknya difiksasi dengan head holder. Dan pasien diharuskan terbebas dari benda logam. Jurnal Kesehatan Amanah Ae Volume 9. Nomor 2. Oktober 2025 e-ISSN : 2962-6366. p-ISSN : 2580-4189. Hal. Penulis menilai bahwa penerapan teknik ini di RSUD Banyumas sudah sesuai dengan pedoman teknis yang dianjurkan, sehingga dapat mendukung pencitraan yang berkualitas sekaligus menjaga kenyamanan dan keamanan pasien selama pemeriksaan. Namun demikian, penulis juga menyarankan agar tenaga teknis radiologi selalu meningkatkan keterampilan dalam positioning dan fiksasi pasien agar hasil CT scan kepala trauma selalu optimal dan risiko artefak minimal. Parameter Pitch CT Scan Kepala Trauma di Instalasi Radiologi RSUD Banyumas. Nilai pitch sebesar 0,55 yang digunakan pada pemeriksaan CT scan kepala pasien trauma di RSUD Banyumas tergolong dalam kategori low pitch. Penggunaan pitch rendah menyebabkan irisan gambar saling tumpang tindih, yang meningkatkan jumlah data akuisisi dan menghasilkan resolusi spasial yang lebih tinggi (Bushong, 2. Pitch rendah seperti 0,55 juga terbukti meningkatkan kontras jaringan lunak otak, serta membantu meminimalkan artefak gerakan, karena waktu rotasi per irisan lebih lambat dan stabil. Penelitian oleh Virgin et al . , menunjukkan bahwa penggunaan pitch <1,0 secara signifikan meningkatkan akurasi diagnosis pada pasien trauma dibandingkan pitch >1,0. Namun, pitch rendah juga berdampak pada peningkatan dosis radiasi, karena terdapat overlapping data dan waktu pemindaian lebih lama. Oleh karena itu, perlu dilakukan pendekatan berbasis justifikasi klinis dan prinsip As Low As Reasonably Achievable (ALARA) untuk memastikan bahwa manfaat klinis lebih besar daripada risiko radiasi (ICRP, 2. Dengan mempertimbangkan urgensi klinis dalam kasus trauma kepala, di mana penegakan diagnosis yang cepat dan akurat sangat penting, penggunaan pitch sebesar 0,55 dapat dikatakan kurang efektif. Hal ini sejalan dengan protokol internasional dalam penanganan cedera kepala akut menggunakan (American College of Radiology, 2. Penulis berpendapat bahwa pada pemeriksaan CT scan kepala pasien trauma, pemilihan nilai pitch menjadi salah satu parameter teknis yang krusial. Meskipun pitch rendah dapat meningkatkan resolusi spasial dengan menciptakan irisan yang saling tumpang tindih, penggunaan pitch di bawah 0,5 sebenarnya dianggap kurang optimal menurut teori, yang merekomendasikan nilai pitch sekitar 0,8 untuk menjaga keseimbangan antara kualitas gambar, waktu pemindaian, dan dosis radiasi. Pitch yang terlalu rendah tidak hanya memperpanjang durasi pemindaian dan meningkatkan paparan radiasi, tetapi juga dapat menyebabkan akumulasi data yang berlebihan tanpa peningkatan kualitas diagnostik yang signifikan. Oleh karena itu, pemilihan nilai pitch harus disesuaikan secara hati-hati dengan kebutuhan klinis, di mana tujuan utamanya adalah menghasilkan pencitraan yang akurat dan efisien tanpa membebani pasien secara tidak perlu. Penggunaan Pitch Rendah pada Pemeriksaan CT Scan Kepala pada Kasus Trauma di RSUD Banyumas Informasi Citra CT Scan Kepala Trauma di Instalasi Radiologi RSUD Banyumas. Seluruh struktur anatomi kepala harus diperiksa secara menyeluruh. Pemeriksaan ini mencakup kemungkinan adanya perdarahan, baik pada bagian wajah maupun di area kranial. Perdarahan di kepala dapat terjadi di berbagai lokasi, seperti epidural, subdural, subaraknoid, atau bahkan di area sinus. Selain itu, kemungkinan adanya hematoma juga perlu dipertimbangkan dan dievaluasi. Pemeriksaan tulang kepala pun penting, termasuk identifikasi adanya retakan atau pergeseran pada struktur tulang yang telah ditentukan. Secara keseluruhan, seluruh bagian kepala, mulai dari mandibula hingga vertex, harus diperiksa secara komprehensif untuk memastikan tidak ada kelainan yang terlewat. Berdasarkan Gambar 3, penggunaan nilai pitch 0,55 menunjukkan kemampuan visualisasi anatomi kepala yang lebih optimal dan menyeluruh. Hasil ini didukung oleh pernyataan informan (I4/Radiolo. yang menjelaskan bahwa dalam pemeriksaan kepala, seluruh struktur anatomi harus diperhatikan secara komprehensif, meliputi adanya perdarahan di area wajah maupun intrakranial seperti ruang epidural, subdural, sinus, serta keberadaan Selain itu, kondisi tulang kepala, termasuk adanya fraktur atau pergeseran, juga harus dievaluasi secara menyeluruh. Dengan demikian, pemilihan pitch 0,55 memberikan kontribusi terhadap kualitas citra diagnostik yang diperlukan untuk menilai seluruh struktur kepala, dari mandibula hingga vertex. AuA. Ya semua, semua anatomi kepala. Kan ada yang perdarahan, ada ga perdarahan di bagian kepala tu di apa, di kepala bagian muka, maupun di area cranial ya, itu ada ga perdarahannya, di itu kan macem Ae macem ya di epidural di subdural atau area lainnya atau mungkin di sinus nya, sinus nya ada ga perdarahan atau mungkin ada ga hematoma, semuanya Kemudian tulang nya, dengan kondisi tulang yang sudah di tentukan itu kan ada retak atau ada pergeseran kan harus dilihat semua, semua lah dilihat 1 keseluruhan kepala dari mandibular sampai vertex harus dilihat. Ay (I4/Radiolo. Kualitas citra CT scan kepala sangat penting dalam evaluasi pasien trauma, dan di RSUD Banyumas hal ini telah diupayakan dengan baik melalui penggunaan pitch rendah, pengaturan parameter teknis yang tepat, serta penyesuaian windowing. Tegangan tabung yang sesuai dan pengaturan window width serta window level membantu mengurangi noise dan artefak tanpa perlu mengulang pemindaian, sehingga menghemat waktu dan mengurangi paparan radiasi. Selain itu, kemampuan tenaga medis dalam mengoptimalkan pengaturan pasca- pemrosesan turut mendukung hasil diagnostik yang akurat. Penulis menilai kualitas citra di RSUD Banyumas sudah memadai dan sesuai kebutuhan klinis. Jurnal Kesehatan Amanah Ae Volume 9. Nomor 2. Oktober 2025 e-ISSN : 2962-6366. p-ISSN : 2580-4189. Hal. KESIMPULAN DAN SARAN Penggunaan pitch pada pemeriksaan CT scan kepala untuk kasus trauma di RSUD Banyumas menunjukkan bahwa penerapan parameter ini sangat berpengaruh terhadap kualitas citra yang dihasilkan. Dengan menggunakan nilai pitch sebesar 0,55, kualitas citra yang diperoleh memenuhi standar diagnostik, memungkinkan deteksi yang lebih baik terhadap struktur intrakranial, seperti perdarahan, fraktur, dan edema serebral. Meskipun penggunaan pitch rendah dapat meningkatkan dosis radiasi, manfaat diagnostik yang diperoleh dianggap lebih besar, terutama dalam situasi kegawatdaruratan. Penggunaan nilai pitch rendah sebesar 0,5 dalam pemeriksaan CT scan kepala pada kasus trauma memang dapat meningkatkan resolusi spasial, namun nilai tersebut dianggap terlalu rendah dan kurang efektif secara teoritis. Pitch yang sangat rendah dapat menyebabkan peningkatan dosis radiasi secara signifikan dan memperpanjang waktu pemindaian tanpa memberikan peningkatan kualitas citra yang sepadan. Penulis menyarankan penggunaan pitch sekitar 0,8 sebagai nilai yang lebih seimbang antara kualitas diagnostik, efisiensi waktu, dan keselamatan pasien. Oleh karena itu, protokol pemindaian perlu dievaluasi secara berkala dengan mempertimbangkan prinsip ALARA, serta didukung oleh teknologi seperti literative reconstruction dan dose modulation, agar kualitas gambar tetap optimal tanpa meningkatkan risiko radiasi yang tidak perlu. Pelatihan berkelanjutan bagi tenaga radiologi juga menjadi kunci dalam memastikan parameter teknis, termasuk pitch, disesuaikan dengan kondisi klinis pasien secara tepat. DAFTAR REFERENSI Aditya. , & Apriantoro. CT-scan kepala dengan klinis trauma kapitis post kecelakaan lalu lintas. KOCENIN Serial Konferens, 1. , 1-7. Bae. Lee. Jeong. Hwang. , & Lee. Increased scan speed and pitch on ultra-low-dose chest CT: Effect on nodule volumetry and image quality. Medicina (Lithuani. , 60. https://doi. org/10. 3390/medicina60081301 Bushberg. Seibert. Leidholdt. , & Boone. The essential physics of medical imaging . rd ed. Philadelphia. PA: Lippincott Williams & Wilkins. Bushong. Radiologic science for technologists: Physics, biology, and protection . th ed. Elsevier Health Sciences - Mosby. ISBN 10: 0323661343. ISBN 13: 9780323661348. Eddy. , et al. Optimization of the scan length of head traumas on CT imaging. Scientific Reports, 11. , 1-7. https://doi. org/10. 1038/s41598-021-90529-4 Geyen. , et al. Traumatic brain injury: CT imaging and cost-effectiveness. Advances in Radiology, 2024, 1-9. https://doi. org/10. 1155/2024/54264 Penggunaan Pitch Rendah pada Pemeriksaan CT Scan Kepala pada Kasus Trauma di RSUD Banyumas Kiragga. , et al. Typical diagnostic reference levels of common CT procedures in Uganda. African Journal Radiology, 21. , https://doi. org/10. 4102/afrj. Klod. Selatan. , & Klod. Analisis hasil safire pada imaging CT scan kepala Irfan bersumber dari sinar-X dan dapat menampilkan gambar anatomi secara crossectional darurat dimana pasien mengalami cedera kepala, gejala stroke dan trauma 2. https://doi. org/10. 61132/corona. Meiyner. -K. , et al. Evaluation of CT and MRI radiomics for an early assessment of diffuse axonal injury in patients with traumatic brain injury compared to conventional Clinical Neuroradiology, 35. , https://doi. org/10. 1007/s00062-025-01507-6 Ria Saputri. Angella. Salim. , & Utama. Literatur review teknik pemeriksaan CT-scan kepala klinis cephalgia. JRI (Jurnal Radiografer Indonesi. , 6. , 93-97. https://doi. org/10. 55451/jri. Rizky. Putu. Jeniyanthi. Istri. Widiastuti. Radiodiagnostik. Radioterapi, , & Penulis. Prosedur pemeriksaan CT scan kepala dengan klinis stroke hemorrhagic di RS Bhayangkara Makassar. Journal of Educational Innovation and Public Health, 2. , 106. https://doi. org/10. 55606/innovation. Sari. Setiawati. , & Arifin. Analisis nilai computed tomography dose index (CTDI) phantom kepala menggunakan CT dose profiler dengan variasi pitch. Berkala Fisika, 23. , 42-48. Shih. , et al. ACR appropriateness criteriaA head trauma: 2021 update. Radiology, 299. , 1-12. https://doi. org/10. 1148/radiol. Tan. , et al. Investigating CT head diagnostic reference levels based on pitch Journal Clinical Imaging Science, 13. , https://doi. org/10. 25259/JCIS_69_2023 Wang. , et al. CT acquisition parameter selection in the real world. European Radiology, 34. , 1-9. https://doi. org/10. 1007/s00330-023-10161-w Yunus. Wahyudi. Febriyani. Romizah. Radiologi RSU Daerah Pagar Alam Way Kanan. Pendidikan Dokter. , & Author. Karakteristik hasil CTscan penderita cedera kepala di RS Dr. Abdul Moeloek 2018. ARTERI: Jurnal Ilmu Kesehatan, 1. , 17. https://doi. org/10. 37148/arteri. Jurnal Kesehatan Amanah Ae Volume 9. Nomor 2. Oktober 2025