Ibnu Burdah. Wajah Baru Zionisme VS Yahudi Ortodoks: Titik Temu Perkelahian Agama dan Negara. (Yogyakarta: IRCiSoD, 2. 176 halaman. 978-602-0806-70-9. Buku ini ditulis oleh Ibnu Burdah yang merupakan dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Yogyakarta. Buku ini ditulis dengan tiga tujuan. Pertama, penulis hendak menyajikan potret bagaimana kisah perjalanan bangsa Yahudi mendirikan negara Israel di Palestina. Kedua, melihat pertentangan atau konflik internal bangsa Yahudi, yakni kelompok Zionisme Sekuler-Barat dan kelompok Yahudi Ortodoks. Ketiga, untuk melihat bagaimana proses kedua kelompok yang mulanya saling beroposisi, tetapi di kemudian hari dapat berdamai dan bekerja sama untuk mendirikan negara Israel. Tesis dari penelitian ini ialah pertama, gerakan Zionisme yang semula mengabaikan identitas agama Yahudi kini dapat mendirikan negara Israel. Tanpa dukungan dari kelompok agama Yahudi Ortodoks, gerakan tersebut menjadi lemah karena krisis pendukung, bahkan dianggap sebagai bidAoah sebab gerakan zionisme cenderung sekuler sedangkan masyarakat yang dipimpinnya beragama Yahudi. Kedua, kelompok agama Yahudi Ortodoks yang semula menantikan kejayaan Israel secara pasif berubah menjadi aktif dengan mendukung cita-cita gerakan Zionisme. Pasif disini dipahami dalam arti kejayaan Israel hanya akan dirasakan oleh umat Israel apabila Mesias sebagai sosok supranatural datang dan membuat perubahan dalam waktu sekejap. Oleh karena itu, kelompok agama Yahudi Ortodoks hanya mengandalkan doa dan ritual agama demi terwujudnya kejayaan dan kedamaian. Bagi masyarakat Yahudi, jika hanya itu yang dilakukan justru hanya akan terus menambah Tinjauan Buku perasaan kecewa dari penganut agama Yahudi yang mengalami penderitaan di negeri asing. Oleh sebab itu, kelompok agama Yahudi Ortodoks harus ikut bekerja sama dengan kelompok Zionisme untuk mengakhiri penderitaan yang dialami oleh masyarakat Yahudi di Bab I dalam buku ini menjelaskan mengenai peristiwa yang melatarbelakangi munculnya gerakan politik Zionisme. Melihat dari akar sejarah masa lalu, bangsa Yahudi sudah mengalami berbagai krisis sejak 3000 tahun yang lalu diantaranya: Pertama, pecahnya kerajaan Salomo menjadi Israel utara dan selatan. Kedua, penghancuran Bait Allah pertama oleh Babilonia pada 586 SM. Ketiga, penghancuran kembali Bait Allah yang kedua setelah sebelumnya dibangun kembali pasca pembuangan dari Babilonia oleh Romawi pada 70 M. Pada waktu itu, masyarakat Yahudi dipaksa keluar dari tanah Palestina dan hidup di benua Eropa. Kehidupan mereka di tempat pengasingan terasa sangat kaku dan terasing dari kehidupan masyarakat luas, terutama dalam tradisi keagamaan. Kelima, peristiwa Holocaust, yaitu peristiwa di mana 6 juta orang Yahudi dibunuh secara massal di bawah pemerintahan Hitler. Secara sederhana, penderitaan utama yang dihadapi oleh masyarakat Yahudi adalah suatu bangsa tanpa negara. Bab II memberikan gambaran tentang profil Israel mengenai asal usul dari gerakan dan perjuangan politik Zionisme atas inisiator Theodor Herzl. Gerakan Zionisme ini ternyata merindukan kejayaan Israel pada masa kerajaan Daud dan Salomo dan juga menanti kehadiran sosok Mesias. Mesias itu sendiri adalah seorang manusia yang dipilih Tuhan untuk menyelamatkan bangsa Israel dari berbagai penderitaan dan mengantar Jurnal Amanat Agung umat Yahudi beserta seluruh dunia memasuki suatu masa puncak keemasan bagi sejarah dunia. Bab i membicarakan mengenai tema Mesianik sebagai harapan tertinggi bagi bangsa Yahudi yang dalam sejarahnya mengalami penderitaan di negeri asing karena tidak memiliki Ide Mesianik ini dikaitkan dengan cita-cita mendirikan negara. Kemudian, ketegangan terjadi di antara masyarakat Yahudi akibat era Pencerahan abad ke-18. Ada yang memilih melestarikan tradisi keagamaan, ada juga kelompok minoritas dari bangsa Yahudi yang memilih tradisi Barat yang disebut sebagai kaum Haskala . aum muda intelektual Yahud. Para rabi modern menyebut kehidupan mereka yang memilih melestarikan tradisi saat itu terpisah dan berbeda dari masyarakat umum. Sedangkan mereka yang memilih tradisi Barat dan menolak tradisi agama Yahudi dianggap telah murtad dan keluar dari agama Yahudi. Namun, seiring berjalan waktu muncul gerakan baru, yaitu gerakan reformasi untuk merespons pengaruh modernitas dengan cara melakukan perubahan pada aspek ritual. Hal ini dilakukan agar agama Yahudi tidak menjadi agama yang asing dimanapun agama itu hadir. Bab IV menjelaskan mengenai pemahaman lama untuk mencapai kejayaan Israel melalui cara pasif, yaitu kepasrahan umat manusia kepada Tuhan melalui doa-doa dan ritual-ritual penyembahan. Sedangkan pemahaman barunya dari pasif ke arah aktif-realistis di mana umat Israel memandang negara sebagai sesuatu yang mesti diperjuangkan. Bab V menjelaskan adanya usaha-usaha untuk mendirikan negara Israel yang dimulai sekitar tahun 1940-an hingga 1950 oleh Zionisme politik yang mendapatkan dukungan yang tinggi oleh masyarakat Yahudi dan atas nama Yahudi. Meyakini kedatangan Mesias secara pasif kini dipandang salah. Tinjauan Buku Sebaliknya diperlukannya peran aktif masyarakat Yahudi untuk merealisasikan masa tersebut. Bab VI menjelaskan puncak dari penderitaan bangsa Yahudi, yaitu pada peristiwa Holocaust tahun 1941-1944, mendorong kelompok Yahudi Ortodoks melakukan konvergensi dengan cara memberikan rekomendasi teologis untuk mendorong suksesnya gerakan politik Zionisme dalam mendirikan negara Israel. Upaya tersebut diyakini sebagai aktivitas Mesianik. Selanjutnya, bagaimana dengan solusi atas ketegangan antara relasi agama dan negara yang dihadapi oleh bangsa Israel pada waktu itu? Penelitian ini memperlihatkan baik agama maupun negara perlu melakukan reformulasi, yaitu agama menginterpretasikan ulang pemahaman terhadap cita-cita mendirikan negara Israel dari pasif menjadi aktif. Sedangkan negara perlu memahami ulang ideologinya yang semula sebagai murni gerakan sekuler yang mengabaikan agama Yahudi. Negara Israel tidak bisa mewujudkan cita-citanya dengan berdiri sendiri sehingga memerlukan dukungan teologis dari kelompok agama Yahudi Ortodoks. Sebab Israel tidak bisa dipisahkan dengan agama Yahudi. Titik perjumpaan inilah yang pada akhirnya mengakhiri ketegangan hubungan di antara kedua kelompok Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini sebenarnya ditujukan kepada masyarakat di Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Ibnu Burdah mengenai ketegangan antara kelompok Zionisme dan kelompok Yahudi Ortodoks memberikan implikasi dalam konteks Indonesia. Indonesia pernah memiliki pengalaman pahit menyangkut relasi agama Islam dan Kelompok Islam fundamentalis menginginkan Islam harus menjadi ideologi negara, bukan Pancasila. Sementara itu, kalangan nasionalis Jurnal Amanat Agung mempertahankan Pancasila karena dapat mempersatukan pluralitas di Indonesia, bukan berdasarkan agama tertentu. Melihat ketegangan ini, maka penulis buku ini perlu melakukan reformulasi pemahaman ajaran Islam di mana Islam dapat menerima ideologi Pancasila tanpa perlu memandang Pancasila bertentangan dengan Islam. Masalah yang terdapat di Indonesia menunjukkan bahwa perubahan hanya terjadi pada pihak agama, bukan negara, karena sikap negara yang mempertahankan ideologi Pancasila tidak dapat ditawar lagi. Bagi pelapor, pada bagian inilah merupakan hal yang positif dan memiliki novelty dan juga relevan bagi konteks Indonesia. Akhirnya menurut pelapor, buku ini memiliki kekurangan dan Kekurangan buku ini ialah implikasi kajian refleksi dalam konteks Indonesia masih sederhana dijabarkan, lalu terdapat pengulangan informasi semisal potret penderitaan umat Yahudi yang menjadi bangsa yang terasing di negara lain yang sebelumnya ini sudah dijelaskan pada bab I, tetapi muncul kembali pada bab berikutnya. Kelebihan buku ini ialah sangat memberikan wawasan informasi yang komprehensif dalam melihat sejarah upaya yang dilakukan oleh umat Yahudi untuk mendirikan rumah nasional di Palestina dengan segala dinamika yang terjadi. Penulis berhasil menyajikan karya ilmiah ini secara sistematis dan objektif. Arthur Aritonang Alumnus STT Cipanas