Jurnal Studi Pemuda Volume 14 Nomor 2 tahun 2025 doi: 10. 22146/studipemudaugm. Perspektif Pemuda terkait Elektrifikasi Kendaraan Ride-Hailing: Menuju Mobilitas Ulang-alik Berkelanjutan? Sekarini Wukirasih. Gantar Eliezer Sinaga. Aldi Haydar Mulia Universitas Gadjah Mada w@mail. id | gantar. sinaga@mail. id | aldihaydar02@mail. Submitted: 4 December 2025. Revised: 19 January 2026. Accepted: 24 February 2026 ABSTRACT Youth comprises the demographic majority of ride-hailing services users in Indonesia . ,3%). In relation to the electrification project by Gojek and Grab to support the global zero emission target endorsed by the Government of Indonesia via Presidential Decree 79/2023, this article aims to contextualize urban youthAos perspective on the electrification of ride-hailing services in their respective provinces within the discourse of sustainable commute in Indonesia. This articleAos focus on urban youth reflects their strong interest in public transport issues that has been insofar unaddressed in IndonesiaAos vision on sustainable urban commute. Through interviews with youths aged 15-24 whose activities are based in Yogyakarta and Jakarta, this article intends to identify significant aspects about sustainable commute transportation from youthAos perspectives, particularly the extent to which the vision of ride-hailing electrification aligns with youthAos future vision of sustainable Using the concepts of bounded imaginaries and sustainable mobility, this paper explores how the bounded imaginations of youth interact with the context of ride-hailing electrification in the present through the interpretative approach, shaping their vision of a sustainable commute in their respective regions. It is expected that this study provides a starting point to consider the relevance of urban youth as in the discourse of public transport and sustainable commute. KEYWORDS urban youth | electrification of ride-hailing | public transport | sustainable commute PENDAHULUAN Munculnya berbagai inisiatif kaum muda urban seperti Stravenues di Daerah Khusus Jakarta (DKJ) dan Pedestrian Jog ja di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan bentuk respons kaum muda urban terhadap isu tata kelola perkotaan, salah satunya kebutuhan mobilitas ulang-alik berkelanjutan di Indonesia. Tema-tema seperti aksesibilitas jalur pedestrian, transportasi umum, dan faktor penunjang transportasi layak menjadi sorotan utama dalam merespons lanskap mobilitas yang masih mengutamakan kendaraan bermotor. Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda Meskipun gagasan-gagasan tersebut hadir dari konteks geografis dan pendekatan yang berbeda, lewat upaya penarasian mobilitas ulang-alik berkelanjutan sebagai sebuah kebutuhan, kaum muda urban tengah menegosiasikan haknya sebagai warga atas ketersediaan fasilitas yang mumpuni dalam menjalani hidupnya di wilayah Akan tetapi, pemerintah mempunyai kebutuhan mobilitas masyarakat. Mobilitas Sekarini Wukirasih. Gantar Eliezer Sinaga. Aldi Haydar Mulia percepatan adaptasi transportasi listrik dengan target pengurangan penggunaan bahan bakar energi fosil yang diatur melalui Peraturan Presiden No. 79 Tahun 2023. Peraturan kendaraan transportasi publik pada tahun 2030 (ITDP Indonesia, 2. Meskipun tujuan peraturan tersebut adalah menghijaukan kendaraan transportasi publik, gagasannya masih berorientasi pada pengadaan kendaraan listrik seperti yang dapat dijumpai dalam proyek elektrifikasi layanan ride-hailing. Grab Indonesia, misalnya, telah menggandeng Kementerian Perindustrian dan Kementerian Maritim dan Investasi untuk melakukan studi, uji coba, serta perancangan Roadmap Ekosistem Kendaraan Listrik sejak tahun 2019 (Kemenkomarves, 2. Langkah ini kemudian diikuti dengan pesaing lokalnya. Gojek, yang merencanakan peralihan seluruh armada ke motor listrik pada tahun 2030 (Putra 2. Nihilnya wacana inkorporasi transportasi umum yang diinginkan kaum muda urban menjadi awalan penting dalam melihat eksklusi yang terjadi dalam perencanaan tersebut. Sebab, kaum muda jarang dilibatkan dalam merancang ekosistem ride-hailing berbasis kendaraan Misalnya, dalam kegiatan Enhancing Readiness for the Transition to Electric Vehicles (ENTREV) diselenggarakan bersama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan United Nations Development Programme (UNDP), pemuda tidak dilibatkan sebagai partisipan aktif yang dapat urun suara dalam pembuatan kebijakan terkait elektrifikasi kendaraan ride-hailing dan transportasi umum (Media Indonesia 2. Padahal, kaum muda merupakan rentang demografi yang paling banyak menggunakan layanan ride-hailing di Indonesia, yakni sebesar 54,3% pada tahun 2025 (Statista, 2. Selain itu, persentase kaum muda dalam keseluruhan pengguna layanan komuter dalam skala nasional mencapai 15% pada tahun 2021 (Databoks 2. Eksklusi yang terjadi menafikan peran serta kaum muda urban dalam pengambilan kebijakan sekaligus posisi dalam pembentukan agensi dan kontur ketika mengartikulasikan Dengan pendekatan imaji terbatas . ounded imaginarie. , penelitian ini menyoal eksklusi tersebut dengan cara memetakan aspirasi kaum muda urban mengenai diskursus dan gambaran ideal terhadap isu ride-hailing yang terelektrifikasi dan ekosistem transportasi Pendekatan ini berguna dalam memperkaya bahasan isu dengan mewadahi gagasan pemuda dalam merespons infrastruktur dan kebijakan mobilitas di sekitarnya. Penelitian ini berangkat dari rumusan berikut: Sejauh mana elektrifikasi kendaraan ride-hailing menunjang visi kaum muda terkait mobilitas ulang-alik berkelanjutan, dan mengapa? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif-naratif dengan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola atau tema dalam data yang kemudian dikontekstualisasikan sehingga menghasilkan pemaknaan baru terkait fenomena elektrifikasi ride-hailing dalam kaitannya dengan visi masa depan pemuda mengenai mobilitas ulang-alik berkelanjutan. Beberapa riset terdahulu telah membahas pola sosial penggunaan transportasi umum oleh pemuda. International Transport Forum . mengumpulkan data global mengenai dorongan unik anak muda dari kelompok umur 15 sampai 24 tahun untuk menggunakan transportasi umum serta urgensi pelibatan kaum muda dalam menyusun kebijakan terkait pengelolaan ekosistem transportasi umum. Terdapat juga penelitian mengenai identifikasi behavioralisme pengguna transportasi umum dan layanan ride-hailing di dua wilayah metropolitan di Indonesia: Jakarta dan Bandung. Dengan komuter post-suburbanisasi (Aritenang 2. Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda Perspektif Pemuda terkait Elektrifikasi Kendaraan Ride-Hailing: Menuju Mobilitas Ulang-alik Berkelanjutan? penelitian tersebut menuntut kebutuhan dalam melakukan pengelolaan holistik keberlanjutan ekosistem transportasi umum di wilayah metropolitan dan daerah pinggiran. Adapun penelitian yang menyorot pola penggunaan mobilitas di Yogyakarta, membahas mengenai pemetaan hambatan sistem transportasi umum bagi pelajar sekolah menengah atas (SMA) pada tahun 2017 yang mengusulkan utilisasi sistem semi-BRT (Bus Rapid Transi. terwujud dalam fasilitas Trans Jog ja (Yumita et al. Penelitian ini berusaha mengisi celah riset seputar diskursus mobilitas ulang-alik berkelanjutan dan kaitannya dengan fenomena elektrifikasi ride-hailing untuk memperluas dialog mengenai urgensi keterlibatan kaum muda dalam lingkup pengambilan kebijakan multisektor terkait transportasi umum dan jasa angkutan ride-hailing di Jakarta dan Yogyakarta. Artikel ini diharapkan dapat menjadi landasan awal untuk menentukan gambaran kolektif terkait kampanye elektrifikasi ride-hailing dan masa depan ekosistem mobilisasi transportasi umum berkelanjutan. LANDASAN TEORITIK Angan-angan bermunculan dari refleksi terhadap kenyataan, tetapi tak semuanya dapat terwujud menjadi kenyataan. Itulah yang menjadi inti dari konsep imaji terbatas . ounded imaginarie. , sebuah konsep yang digagas untuk menyelami angan-angan dari individu maupun yang terpinggirkan dalam konstruksi imaji kolektif maupun pengambilan kebijakan pada level nasional maupun sub-nasional (Smith & Tidwell, 2. Posisi ini bersifat kontras terhadap kecenderungan investigasi imaji kolektif pada arus utama riset tentang imaji sosial-teknis . ocio-technical imaginaries/STI) yang menyarikan norma kolektif sebagai basis kultural dari penerimaan maupun perwujudan sebuah gagasan sains dan teknologi ( Jasanoff dan Kim 2009. Hess dan Sovacool 2. Meskipun paradigma STI pada analisisnya juga mengakui Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda peran ketimpangan kuasa dalam penubuhan norma kolektif maupun implikasinya pada ranah kebijakan, konsep imaji terbatas berguna untuk memberikan ruang pada imaji-imaji dari individu dan kelompok terpinggirkan, terutama mereka yang memiliki kepentingan langsung dengan gagasan sosial-teknis tertentu. Sebab, imaji-imaji tersebut rentan terbisukan maupun lindap karena ketidakmampuan mereka untuk mendapatkan legitimasi dan rekognisi dalam mengutarakan imaji-imaji tersebut (Appadurai Pemberian ruang ini kemudian dapat celah-celah ketimpangan kuasa pada proses politik yang ada, sekaligus meningkatkan urgensi pelibatan seluas-luasnya komponen masyarakat dalam membicarakan gagasan sosio-teknis maupun pengambilan kebijakan (Smith dan Tidwell Yuana et al. Dalam membicarakan kaum muda, konteks di atas bahkan mendasari pemahaman terhadap apa yang dimaksud kaum muda AuKaum mudaAy ditaksir sebagai tahapan transisi dari kanak-kanak menuju pribadi dewasa yang didefinisikan oleh batasan umur tertentu (Naafs dan White 2012. Wyn dan Woodman, 2. Tak hanya itu, penekanan terhadap dimensi transisionalitas ini juga mencakup preskripsi dan idealisasi nilai-nilai terhadap kaum muda sehingga dapat membentuk pribadi yang didambakan oleh struktur sosial yang ada. Dalam konteks Indonesia, preskripsi terhadap kaum muda terletak pada pengandaian kaum muda sebagai Auharapan bangsaAy yang diharapkan dapat mendukung agenda pemerintah, meskipun AuharapanAy tersebut mengalami pemaknaan ulang seturut dengan keperluan pemerintah pada saat itu (Foulcher 2000. Griffin et al. Pengharapan tersebut dibawakan lewat muatanmuatan ideologis seperti yang dapat ditemukan pada narasi peringatan Sumpah Pemuda dari tahun ke tahun yang mencirikan adanya idealisasi nilai-nilai tersebut oleh pemerintah sebagai figur AubapakAy dalam suatu sistem Sekarini Wukirasih. Gantar Eliezer Sinaga. Aldi Haydar Mulia paternalistik (Bourchier 2. Pengharapan semacam ini tak hanya menghasilkan sebuah konstruksi identitas yang tidak melibatkan kaum muda dalam meramu nilai-nilai tersebut, tetapi juga melahirkan eksklusivitas dan diskriminasi terhadap keragaman identitas pemuda karena memperlakukan perbedaan visi dan perilaku sebagai sebuah kesalahan yang mestinya diperbaiki. Riset-riset yang lebih baru telah mendokumentasikan berbagai bentuk negosiasi dari pembatasan identitas terhadap kaum muda sekaligus membangkitkan kembali perhatian kontekstual pada persoalan zaman (Griffin . Naafs dan White, 2. Dalam riset-riset tersebut, pembahasan yang dihadirkan justru memperlihatkan proyeksi identitas kaum muda dalam merespons kenyataan yang cenderung terbalik dari nilai-nilai yang diinginkan oleh pemerintah maupun orang tua. Kondisi ini erat kaitannya dengan persepsi kaum muda terhadap perkembangan sosial di sekitar mereka dalam proses tumbuh kembang tersebut yang tecermin dari pilihan-pilihan yang mereka percayai dan ambil dalam mengukuhkan jati diri mereka. Misalnya, riset Griffin . menceritakan harapan dari lima orang muda di Sulawesi Selatan yang berlawanan dengan pengharapan dari pemerintah untuk menjadi generasi penerus pertanian sekaligus Auharapan bangsaAy dalam program ketahanan pangan di tengah-tengah masifnya peralihan fungsi lahan dan berkurangnya akses terhadap lahan. Alih-alih mengikuti jalur pengharapan yang dicanangkan pemerintah, cerita-cerita yang terekam mengisahkan bagaimana kaum muda membentuk harapannya soal masa depan dari refleksi mereka terhadap kondisi ekonomi yang tidak pasti dengan di antaranya bermigrasi, membuka usaha kecil-kecilan, hingga bekerja di pabrikAijauh sekali dari pengharapan Artikulasi semacam ini dapat menghadirkan gambaran yang relevan tentang tantangan yang tengah dihadapi kaum muda dan bagaimana kaum muda mendefinisikan dirinya dalam konteks sosial yang melingkupinya. Mengikuti pendekatan di atas, riset ini berupaya untuk melihat bagaimana kaum muda urban di Yogyakarta dan Jakarta memandang mobilitas berkelanjutan, khususnya seputar elektrifikasi kendaraan ride-hailing yang menjadi salah satu canangan pemerintah Indonesia dalam mendorong transisi energi dan pengurangan emisi karbon. Mobilitas berkelanjutan sendiri bukanlah konsep yang Ia pertama kali tercatat dalam European Commission Green Paper on the Impact of Transport on the Environment . yang mengakui bahwa transportasi membutuhkan pengorbanan biaya signifikan seperti dampak lingkungan, dampak sosial . ilihat dari kasuskasus kecelakaa. dan ketergantungan absolut terhadap sumber daya alam tak terbarukan. Syahdan, ada sebuah dorongan untuk dapat memperbaiki sistem mobilitas transportasi untuk dapat beroperasi dalam rentang waktu berkepanjangan dengan memerhatikan efek transportasi terhadap lingkungan sekitar. Namun, seiring perkembangan isu keberlanjutan menjadi lebih interseksionalitas. Holden et . berargumen bahwa segala bentuk perluasan konsep untuk membingkai narasi mengenai mobilitas berkelanjutan perlu mengacu pada tiga indikator pembangunan berkelanjutan: , jaminan akses layanan transportasi memprioritaskan kesetaraan ( justic. , dan memperhatikan batasan pengaruh mobilitas transportasi terhadap keberlanjutan lingkungan . Tiga kriteria tersebut menjadi pegangan dasar dalam penelitian ini untuk menyusun batasan-batasan dalam narasi dari imaji kaum muda urban. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan secara kualitatif dengan pendekatan naratif. Holloway . mendefinisikan penelitian kualitatif Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda Perspektif Pemuda terkait Elektrifikasi Kendaraan Ride-Hailing: Menuju Mobilitas Ulang-alik Berkelanjutan? sebagai bentuk penyelidikan sosial yang berfokus pada cara memahami pengalaman serta dunia mereka untuk memahami realitas lingkungan yang melingkupinya. Dari berbagai pendekatan penelitian kualitatif, pendekatan naratif berfokus pada metode-metode yang menonjolkan pengalaman individu dan dikemas dalam bentuk cerita (Creswell dan Poth 2. Cerita ini kemudian dibangun menjadi sebuah narasi yang dimaknai secara interpretatif oleh peneliti (Riessman 2. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk memahami bagaimana pemuda memaknai fenomena elektrifikasi kendaraan ride-hailing dan masa depan mobilitas ulang-alik yang lebih Adapun pendekatan naratif dipilih untuk menonjolkan pengalaman pribadi yang membentuk opini pemuda terhadap diskursus tersebut. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan melalui teknik wawancara semi-terstruktur dan studi literatur. Data primer diambil semiterstruktur yang tetap mengandalkan guide atau pertanyaan terbuka namun juga terfokus secara spesifik pada tema besar yang selaras dengan topik riset (Nistor 2. Teknik ini dinilai dapat membantu peneliti dalam menyelidiki opini informan melalui pertanyaan tentang sudut pandang informan terkait elektrifikasi kendaraan ride-hailing dan keselarasannya dengan kebijakan saat ini serta visi mobilitas ulang-alik yang lebih berkelanjutan di masa depan. Sementara itu, data sekunder dikumpulkan melalui teknik studi literatur riset-riset terdahulu secara sistematis untuk pengembangan pembahasan sesuai kerangka teoritis yang ada (Baumeister dan Leary 1997. Tranfield et al. Teknik digunakan untuk di lapangan dengan sumber informasi lain sehingga dapat menghasilkan pemahaman tentang persepsi pemuda terkait fenomena elektrifikasi kendaraan ride-hailing saat ini dan Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda keselarasan fenomena tersebut dengan ruang lingkup lebih luas, yakni mobilitas ulang-alik yang berkelanjutan di masa depan. Informan dalam penelitian ini mencakup 10 kaum muda urban dalam rentang umur 1524 yang kerap menggunakan kendaraan ridehailing dalam mobilitas ulang-alik sehari-hari serta berdomisili dan/atau beraktivitas di dua provinsi. Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta dan Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta. Pemilihan kaum muda sebagai informan didasarkan pada data Statista . yang menyatakan bahwa pemuda merupakan pengguna terbanyak layanan ride-hailing di Indonesia dengan jumlah 54,3% dari seluruh demografi pengguna, sementara limitasi rentang umur didasarkan pada definisi Perserikatan Bangsa-Bangsa . ) terkait AopemudaAo. Lokasi penelitian dipilih karena kedua provinsi tersebut memiliki rasio komuter terhadap penduduk tertinggi di Indonesia pada tahun 2022 dengan DI Yogyakarta menempati peringkat satu . ,66%) dan DKI Jakarta menempati peringkat dua . ,37%) (BPS 2. Dominasi demografi dan animo kaum muda tersebut menjadi dasar untuk mencatat pandangan fenomena yang dibahas dalam penelitian ini berdasarkan diskursus dan kondisi ekosistem secara empiris. Terlebih, sebagai pengguna sehari-hari pemuda diharapkan dapat menjadi representasi imaji tentang infrastruktur kendaraan umum yang paling cepat mendapat dampak pengembangan pengelolaanpengelolaan ekosistem mobilitas berkelanjutan serta inklusif. Informan Usia Jenis Kelamin Profesi Domisili dan Area Aktivitas Perempuan Pekerja Akademik DI Yogyakarta Perempuan Wiraswasta DKI Jakarta Perempuan Pemagang Organisasi Multinasional DKI Jakarta Perempuan Pekerja NGO DKI Jakarta Sekarini Wukirasih. Gantar Eliezer Sinaga. Aldi Haydar Mulia Informan Usia Jenis Kelamin Profesi Domisili dan Area Aktivitas berkelanjutan tersebut. Laki-laki Mahasiswa DKI Jakarta HASIL DAN PEMBAHASAN Perempuan Pelajar SMA DI Yogyakarta Hasil Perempuan Pelajar SMA DI Yogyakarta Perempuan Pelajar SMA DI Yogyakarta Perempuan Mahasiswi DKI Jakarta Laki-laki Mahasiswa DI Yogyakarta Dalam penelitian ini, kami menghasilkan tiga temuan utama yang akan dijelaskan dalam sub-bab ini, yakni persepsi pemuda terkait elektrifikasi kendaraan ride-hailing, bayangan masa depan pemuda terkait konsep mobilitas ulang-alik yang berkelanjutan, serta keselarasan antar keduanya. Temuan ini kemudian akan direfleksikan dan interpretasikan melalui teori yang sudah dijabarkan pada sub-bab landasan teoritis untuk kemudian menghasilkan model konseptual untuk menjawab rumusan masalah. Untuk menguji validitas dan reliabilitas data, penelitian ini menggunakan triangulasi sumber yang melalui pengecekan silang terhadap para informan yang diklasifikasikan berdasarkan profesi, yakni mahasiswa, pekerja muda. SMA, Selanjutnya, metode analisis tematik. Spesifiknya dalam riset di bidang ilmu sosial. Naeem et al. menjelaskan bahwa analisis tematik digunakan untuk mengidentifikasi dan menafsirkan pola atau tema dalam sekumpulan data untuk menghasilkan pemahaman baru terkait suatu Analisis ini dilakukan melalui 6 tahapan utama: . transkripsi, pengenalan data, dan pemilihan kutipan. pemilihan kata kunci. pengembangan tema. konseptualisasi melalui interpretasi kata kunci, kode, dan tema. pengembangan model konseptual (Naeem et al. Dalam analisis tematik dimaksudkan agar peneliti dapat mengidentifikasi pola atau tema yang muncul dari kata-kata kunci yang disaring dari transkrip wawancara. Pola atau tema tersebut kemudian diverifikasi sesuai kerangka teori sehingga menghasilkan narasi terkait persepsi pemuda tentang: . elektrifikasi kendaraan ride-hailing. bayangan masa depan mobilitas ulang-alik berkelanjutan, dan. kesesuaian program elektrifikasi kendaraan ride-hailing dengan visi masa depan mobilitas ulang-alik Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda Perspektif Pemuda terkait Elektrifikasi Kendaraan Ride-Hailing: Menuju Mobilitas Ulang-alik Berkelanjutan? Tabel 1. Temuan 1: Persepsi Pemuda terkait Elektrifikasi Kendaraan Tema Persepsi tentang kendaraan ridehailing Kategori Positif Negatif Subkategori Memiliki daya tarik tersendiri "hal baru yang unik karena pakai listrik" "armada listrik jadi sesuatu yang punya daya tarik di masyarakat" "kaget baterai bisa dicopot pasang" "pengisian baterai lebih ringkas daripada pengisian BBM" Mempunyai dampak baik ke lingkungan secara teoritis "positif secara teoritis karena mengurangi emisi karbon" "alternatif mengurangi BBM" "dari segi lingkungan harusnya bagus" "bisa mengurangi polusi udara" "emisinya lebih rendah daripada BBM" Tidak terdapat perbedaan signifikan dibandingkan kendaraan nonlistrik "sama-sama nyaman" "nggak merasa perbedaan signifikan" "nyaman karena commute lebih cepat" "netral aja" "yang penting sampai" "smooth juga jalannya" "enggak ada pengalaman memorable" Greenwashing "menurutku bukan jawaban" "kita punya transportasi umum yang bisa pakai green energy" "diiming-imingkan sebagai aksi melawan climate change" "seakan-akan korporasi sudah berkontribusi" "butuh usaha yang lebih" "memang cukup mengganti fossil fuel ke kendaraan listrik?" "jalanan tetap dipenuhi kendaraan yang menghasilkan karbon walaupun . kendaraan listrik rebin rendah" Terdapat risiko berkendara karena tidak memiliki suara "nggak ada suaranya jadi agak bahaya kalau ngebut/ nyalip" "suara nggak kedengaran, bahaya untuk kendaraan lain" "agak seram kalau di jalan" "harus diklakson" "kurang nyaman kalau lagi macet" Tidak sepenuhnya menggunakan energi bersih "banyak huru-hara sumber baterai" "sumber baterai masih belum bersih" "masih nambang nikel" "bahan dasar sumber energi nggak eco-friendly" "sumber energi listrik bisa merusak lingkungan juga" Masih memiliki kekurangan teknis dibandingkan motor "agak lama nge-charge" "bermasalah baterainya" Perlu infrastruktur tertentu "sulit kalau nggak didukung infrastruktur" "bergantung pada ketersediaan kendaraan listrik itu juga" Belum berkelanjutan dan berkeadilan secara ekonomi "pemaksaan gig working scheme" Setelah dilakukan wawancara dengan 10 informan yang menggunakan ride-hailing dalam mobilitas ulang-aliknya sehari-hari, penelitian ini menemukan bahwa persepsi pemuda terhadap elektrifikasi kendaraan ridehailing tidak satu dimensional. Para pemuda dan pemudi bisa memiliki respon positif atau netral terkait satu aspek dari kendaraan listrik berdasarkan pengalaman perjalanan, namun juga memiliki kekhawatiran terkait dampak maupun konsekuensi sosial, ekonomi, atau politik lain yang terjadi dalam proses perolehan sumber energi maupun produksi kendaraan Pada spektrum positif, informan A. C, dan D menyatakan bahwa kendaraan elektrik secara fisik sama nyamannya dengan Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda Representasi kutipan kendaraan nonelektrik yang lebih familiar, namun isu penambangan nikel yang dilakukan untuk menghasilkan bateraiAesumber energi utama kendaraan listrikAemembuat mereka tidak sepenuhnya memiliki persepsi positif terhadap elektrifikasi kendaraan ride-hailing. Kekhawatiran terkait sumber energi motor listrik ini juga dikemukakan oleh informan B. F yang, meskipun menganggap bahwa secara teoritis motor listrik lebih ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan bakar minyak sehingga jejak karbonnya cukup rendah, tetap mengakui keresahannya terkait praktik-praktik ekstraktif penambangan nikel untuk sumber daya baterai yang membuat kendaraan listrik ini tidak sepenuhnya berhasil Sekarini Wukirasih. Gantar Eliezer Sinaga. Aldi Haydar Mulia melakukan transisi ke energi bersih atau energi Upaya pemerintah dan kolaboratornyaAe korporasi penyedia layanan ride-hailingAeyang terkesan tidak menyelesaikan masalah dan performatif untuk melakukan transisi energi ini kemudian membuat informan B. C, dan E melihat kebijakan dan inisiatif elektrifikasi kendaraan ride-hailing tak ayalnya sebagai agenda AugreenwashingAy saja. Pun menurut informan C, elektrifikasi layanan ride-hailing juga berpotensi melanggengkan skema kerja gig Di luar isu lingkungan, informan D. F, dan G menilai bahwa kebaruan dari segi sumber energi motor elektrik dapat menjadi daya tarik atau keunikan sendiri dalam masyarakat karena pengisian baterai dianggap lebih ringkas daripada pengisian bahan bakar minyak. Meski demikian, ketiga informan tersebut juga mengaku bahwa dari sisi lain, ketiadaan suara dari mesin motor listrik dapat menyebabkan risiko dalam berkendara utamanya saat terjadi kemacetan atau ingin menyalip pengendara Masih minimnya infrastruktur yang menunjang pengisian daya motor listrik juga membuat informan G kurang mempersepsikan elektrifikasi kendaraan ride-hailing sebagai hal yang positif. Hal ini diamini oleh informan J yang juga memiliki perhatian yang sama. Dari dimensi yang sama-sama fisikal, lima dari sepuluh informan . encakup informan A. J) juga menambahkan bahwa beberapa hambatan teknis baik dari rangka motor ataupun metode pengisian data juga masih mempengaruhi persepsinya terkait motor listrik sehingga jawabannya tidak dapat ditempatkan di satu dimensi sajaAepositif ataupun negatif. Tabel 2. Temuan 2: Persepsi Kaum Muda Urban terkait Mobilitas Ulang-Alik Berkelanjutan di Masa Depan Tema Bayangan masa depan mengenai konsep "mobilitas ulang-alik Kategori Dimensi Fisik Dimensi Struktur (Politik. Ekonomi. Sosia. Sub-Kategori Representasi Kutipan Peningkatan kualitas dan kuantitas transportasi umum "transportasi umum yang banyak atau diperbanyak" "kapasitas transportasi umum yang lebih banyak saat rush hour" "perbanyak gerbong commuter line" "muat lebih banyak orang" "lebih banyak transportasi umum ramah lingkungan" Aksesibel & memudahkan "ada akses ke perumahan dan daerah yang belum tersentuh" "aksesnya tidak lagi sulit" Kebijakan pemerintah yang "pembuatan aturan pembatasan kendaraan pribadi" "upaya pemerintah untuk mengurangi transportasi pribadi" "mengkondisikan agar masyarakat mau menggunakan transportasi umum" Pro-Lingkungan "konektivitas yang tidak mengorbankan alam" "tidak menggunakan transportasi konvensional . erbahan bakar minya. " "mengurangi emisi karbon" "renewable energy" "punya . ahan baka. yang lain" "mengurangi kerusakan lingkungan" "tidak ambil dari energi kotor" "mengurangi polusi udara dan suara" "mengurangi emisi" "sumbernya nggak dari hasil nambang" Berkeadilan secara ekonomi "keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan" "bisa menambah lapangan kerja" "menumbuhkan industri manufaktur" "meningkatkan perekonomian negara" "tidak ada gig economy" "tidak ada masalah Inklusif untuk semua "kelompok rentan perlu diprioritaskan" "lebih ke penyandang disabilitas" "minim hostile infrastructure" "bisa diakses semua orang" "fasilitas bisa diakses disabilitas" Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda Perspektif Pemuda terkait Elektrifikasi Kendaraan Ride-Hailing: Menuju Mobilitas Ulang-alik Berkelanjutan? Topik selanjutnya yang kami tanyakan pada informan adalah bayangan masa depan mereka terkait mobilitas ulang-alik yang Dari informan, kami menemukan bahwa pemuda membayangkan mobilitas ulang-alik melalui dua dimensi: dimensi fisik dan struktural. Dimensi fisik selanjutnya dibayangkan sebagai segala sesuatu terkait mobilitas ulang-alik pemuda yang bersifat materiil, sedangkan dimensi struktural mencakup elemen-elemen yang lebih fundamental di dalam struktur seperti kebijakan publik dan proses-proses pengambilan keputusannya. Dalam dimensi fisik, bayangan mayoritas informan terkait mobilitas ulang-alik yang berkelanjutan mencakup kualitas dan kuantitas transportasi umum yang meningkat, serta aksesibilitas dan kemudahan konektivitas. Perhatian ini disampaikan oleh informan A. G, dan H yang berdomisili DI Yogyakarta dan masih merasakan minimnya ketersediaan transportasi umum di DI Yogyakarta jika dibandingkan dengan daerah lain seperti DKI Jakarta, juga disampaikan oleh informan C dan E dari DKI Jakarta yang menuturkan bahwa meskipun memiliki transportasi umum yang lebih banyak dibandingkan provinsi lain, kuantitas transportasi umum di Jakarta masih kurang jika dibandingkan komuter yang tiap harinya melakukan mobilitas ulang-alik. Pun, dari sisi kualitas energi, transportasi yang ada kebanyakan masih menggunakan bahan bakar minyak atau BBM sehingga kontribusi karbonnya masih cukup besar. Di ranah dimensi struktural, jawaban langsung mayoritas informan terkait mobilitas ulang-alik berkelanjutan umumnya mengarah pada isu lingkunganAebaik yang berdomisili di DKI Jakarta maupun DI Yogyakarta. Kata kunci yang paling banyak muncul adalah Ausumber energi bersihAy dan Autidak dari tambang/tidak menambangAy yang juga mencakup energi yang dapat diperbarui atau energi hijau dari informan A. F, sementara Aubebas dari Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda polusi udara dan suaraAy banyak diungkapkan oleh informan H. I, dan J. Selain kode-kode yang kemudian diklasifikasikan ke dalam kategori pro-lingkungan, informan C. F, dan H juga membayangkan mobilitas ulang-alik yang berkelanjutan sebagai ekosistem yang berkeadilan secara ekonomi. Isu yang menjadi sub-kategori lain ini dibayangkan melalui 2 lensa, yakni ketenagakerjaan dan industrial. Keberlanjutan dalam mobilitas ulangalik juga dibayangkan mencakup inklusivitas. informan D. I yang menyoroti kategori ini memaknai inklusivitas sebagai kemudahan dan prioritas akses untuk kelompok rentan seperti penyandang disabilitas dan lansia yang terkadang sulit melakukan mobilitas ulangalik karena pembangunan infrastruktur yang tidak aksesibel. Terakhir, informan E. H menyatakan bahwa mobilitas ulang-alik yang berkelanjutan juga harus meliputi kebijakan pemerintah yang mendukung pembatasan kendaraan pribadi agar lebih banyak orang bersedia beralih ke moda transportasi yang karbonAeseperti transportasi umum maupun kendaraan dari bahan bakar hijau. Setelah menanyakan persepsi informan terkait elektrifikasi kendaraan ride-hailing dengan bayangan masa depan mereka terkait ulang-alik kami menemukan bahwa 6 dari 10 informan merasa elektrifikasi kendaraan ride-hailing tidak atau kurang selaras dengan bayangan masa depan mereka mengenai mobilitas ulang-alik berkelanjutan. Empat informan secara gamblang menyatakan bahwa upaya elektrifikasi kendaraan ride-hailing tidak selaras, sementara dua lainnya menyatakan belum terlalu atau agak selaras karena merasa elektrifikasi kendaraan ride-hailing bukan pilihan yang terbaik yang dapat dilakukan untuk mencapai mobilitas ulang-alik yang Terakhir, terdapat 4 informan yang secara yakin menjawab bahwa upaya elektrifikasi kendaraan ride-hailing selaras Sekarini Wukirasih. Gantar Eliezer Sinaga. Aldi Haydar Mulia dengan bayangan mereka mengenai mobilitas ulang-alik berkelanjutan. Tabel 3. Temuan 3: Keselarasan Elektrifikasi Ride-Hailing dalam Bayangan Masa Depan Mobilitas Berkelanjutan Tema Aspek yang membuat elektrifikasi ride-hailing selaras dengan bayangan masa depan mengenai mobilitas ulang-alik Aspek yang membuat elektrifikasi ride-hailing tidak selaras dengan bayangan masa depan mengenai mobilitas ulang-alik berkelanjutan Kategori Dimensi Fisik Dimensi Struktural Sub-kategori Representasi Kutipan Lebih baik daripada kendaraan nonlistrik "sesuai" "pasti sudah" "pilihan yang lebih baik" "sudah nggak pakai BBM" "tujuan dan dampaknya sudah lebih sesuai dengan prinsip transportasi berkelanjutan" "mendorong perhatian untuk inovasi kendaraan yang lebih Lebih mudah diakses dari segi harga maupun konektivitas daripada transportasi umum berdaya listrik lain "lebih terjangkau daripada kendaraan umum lain yang menggunakan listrik" "aksesnya lebih merata daripada LRT" Penerimaan dan adaptabilitas "dianggap aneh" "masyarakat belum terbiasa" "masih jadi alternatif" "belum mainstream" "kampanye belum mencapai grassroots" Tidak benar-benar prolingkungan karena bersumber dari tambang "bukan jawaban" "kita konsumsi nggak konsumsi BBM tapi nambang nikel" "greenwashing" "nggak benar-benar mengurangi karbon" "nggak menyelesaikan masalah" "ekstraksi untuk baterai" "belum seluruhnya energi bersih" Seharusnya diprioritaskan pada peningkatan kualitas dan kuantitas transportasi umum "nggak terbayang" "kenapa nggak green energy untuk KRL atau MRT?" " "perlu difokuskan untuk memperbanyak transportasi umum" "pemerintah daerah harus punya political will untuk membangun transportasi umum" Perlu penyesuaian teknis maupun infrastruktur "cukup masuk, tapi belum sempurna" "masih harus di-improve" "perlu evaluasi dan pengembangan mesin" "pengisian baterai masih jarang" "station pengisian baterai tidak sebanyak pom bensin" Ketiadaan kebijakan yang Enam informan yang menyatakan bahwa elektrifikasi kendaraan ride-hailing tidak atau kurang selaras dengan bayangan masa depan mereka mengenai mobilitas ulangalik berkelanjutan, mayoritas mendasarkan argumen mereka pada dimensi struktural. Keenam (A. G) dari tujuh informan mengungkapkan kurang atau tidak setujunya mereka dikarenakan sumber energi kendaraan elektrik yang belum sepenuhnya pro110 "adanya kapitalisasi ketiadaan insentif untuk berjalan" "keengganan pemerintah untuk membuat kebijakan transportasi umum yang tepat sasaran" "nggak ada motivasi politik untuk mengembangkan infrastruktur pejalan lingkungan karena masih bersumber dari tambang yang destruktif terhadap ekosistem, seperti nikel. Selain itu, kata kunci lain yang banyak disebutkan adalah transportasi umum di mana informan A. G merasa bahwa peningkatan kualitas dan kuantitas transportasi umum seharusnya lebih diprioritaskan karena mengacu pada perbanyakan jumlah kendaraan umum dan transisi energi menuju energi hijau untuk transportasi umumAealih-alih kendaraan Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda Perspektif Pemuda terkait Elektrifikasi Kendaraan Ride-Hailing: Menuju Mobilitas Ulang-alik Berkelanjutan? ride-hailing. Di luar kedua sub-kategori tersebut, informan G juga menyoroti perlunya penerimaan dan adaptabilitas masyarakat yang kebanyakan belum familiar dengan kendaraan Sementara itu, dari empat informan yang berada di spektrum selaras, tiga (F. J) menyatakan AusesuaiAy atau Aupasti sesuaiAy yang menunjukkan persetujuan secara penuh, sementara satu informan (H) menyatakan Ausesuai dengan catatanAy yang menunjukkan persetujuan bersyarat terhadap anggapan bahwa elektrifikasi kendaraan ride-hailing menunjang visi pemuda terkait mobilitas ulang-alik berkelanjutan. Meskipun terdapat perbedaan derajat keselarasan, keempat informan tersebut cenderung memandang isu ini dari dimensi yang sama, yakni dimensi Informan F. H, dan J berargumen bahwa kendaraan elektrik sudah lebih baik daripada nonelektrik dari sisi sumber energi, yakni tanpa bahan bakar minyak, sehingga lebih sesuai dengan visi transportasi berkelanjutan versi Namun, informan H memberi catatan bahwa inovasi dan penyesuaian teknis untuk mesin kendaraan masih tetap diperlukan agar lebih selaras dengan visinya terkait mobilitas ulang-alik yang berkelanjutan. Sementara itu, informan I menjawab bahwa kendaraan ride-hailing terjangkau secara harga dan aksesnya lebih merata di pinggiran DKI Jakarta dibandingkan transportasi umum lainnya yang telah terelektrifikasi, seperti Light Rail Transit (LRT). Pembahasan Kontekstualisasi ekosistem mobilitas di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta Kendaraan bermotor pribadi, khususnya motor, masih menjadi primadona masyarakat Jakarta dan Yogyakarta sebagaimana umumnya kota-kota besar di Asia untuk berkegiatan sehari-hari. Di daerah aglomerasi Jabodetabek, menurut Survei Komuter Jabodetabek tahun Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda 2023 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 79 persen informan menggunakan kendaraan pribadi untuk berkegiatan (BPS 2. Sementara itu, menurut penelitian Fevriera . , 66% persen penduduk Yogyakarta tiap harinya dengan rasio perbandingan kepemilikan motor dan mobil . yang jauh melampaui Jakarta . Pilihan ini umumnya didasarkan pada fleksibilitas yang ditawarkan oleh kendaraan pribadi dan belum adanya kepuasan atas ketersediaan transportasi publik ( Joewono et al. Alhasil, penggunaan kendaraan pribadi yang marak berkontribusi terhadap makin akutnya tingkat kemacetan seiring dengan pertambahan kendaraan pribadi yang tidak mampu diimbangi oleh ketersediaan jalan dan diversifikasi pusat ekonomi. Di Jakarta, masalah kemacetan yang menghinggapi metropolitan tersebut coba diatasi dengan prinsip pembangunan berbasis transit . ransit-oriented development / TOD) yang pertama kali diinisiasi dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2030 pada 2012, walaupun banyak regulasi pendukung implementasinya baru disahkan setelah tahun 2017 (Hasibuan dan Mulyani 2. Pada dokumen tersebut, kemacetan diharapkan dapat diatasi dengan adanya pembangunan jaringan transportasi publik terpadu dan pembatasan lalu lalang kendaraan pribadi di kawasan tertentu. Meskipun demikian, timbul kekhawatiran dari para pemerhati kota pada waktu itu, terutama mengenai minimnya pelibatan masyarakat dalam pembahasan maupun pengambilan kebijakan (Rukmana. Selain publik di Jakarta dan kota-kota satelitnya, pengembangan sarana transportasi di Jakarta dan kota-kota satelitnya juga dilakukan dengan integrasi beberapa layanan transportasi publik di bawah payung JakLingko, mulai dari lini Sekarini Wukirasih. Gantar Eliezer Sinaga. Aldi Haydar Mulia kereta api komuter yang menyambungkan Jakarta dengan beberapa kota satelit, hingga bus Transjakarta yang terhubung dengan pengumpan MikroTrans di beberapa titik Integrasi transportasi ini disusul dengan adanya integrasi tarif yang dapat diakses lewat layanan JakLingko sehingga pengguna dapat menikmati perjalanan melalui berbagai moda transportasi publik dengan biaya yang lebih terjangkau. Hasil publik pada data yang dirilis BPS pada Juli 2025, meskipun belum mampu menggeser sepenuhnya penggunaan kendaraan pribadi (Al Hamasy 2025. BPS 2. Bus Transjakarta penumpang tertinggi, sebanyak 226. selama periode JanuariAeJuli 2025, meningkat A5% dari jumlah pengguna pada periode yang sama tahun lalu. Lonjakan penumpang juga dialami oleh Kereta Rel Listrik (KRL) dan mass rapid transit (MRT) pada Juli 2025 jika dibandingkan dengan Juli 2024, meskipun pengguna KRL jauh melampaui pengguna MRT . 484 penumpang berbanding 4. 35 jut. Sementara itu, penggunaan light rapid transit (LRT) cenderung stagnan dan lebih rendah daripada moda transportasi publik lainnya yang menunjang aktivitas komuter di Jabodetabek. Gambaran yang berbeda terasa di Yogyakarta. Transportasi terkoneksi di Yogyakarta praktis hanya menyisakan moda Trans Jog ja yang mulai beroperasi tahun 2008, serta jalur KRL yang menghubungkan Yogyakarta dengan Solo dan Kutoarjo. Padahal. Trans Jog ja tidak mempunyai frekuensi perjalanan maupun jangkauan yang memadai untuk dapat diandalkan sebagai moda transportasi yang ramah bagi berbagai kalangan (Muchlisin et al. Mayoritas jalur bus memiliki frekuensi bus melebihi 15 menit, sehingga menyulitkan pengangkutan penumpang secara reguler, khususnya pada jam-jam sibuk seperti pada pagi dan sore hari. Selain itu, cakupan bus Trans Jog ja lebih difungsikan untuk melayani dan menghubungkan tujuan pariwisata, khususnya Malioboro (Marwasta dan Handoko 2. Hal ini terlihat dari frekuensi dan putaran jalur yang lebih sering mengitari Malioboro wisata seperti Prambanan, maupun fasilitas transportasi lainnya seperti Bandara Adisucipto dan Terminal Jombor. Oleh karenanya, meskipun statistik keterangkutan penumpang menunjukkan jumlah tertingginya pada tahun 2024, keterjangkauan transportasi umum untuk kegiatan komuter masih menjadi persoalan. Perluasan frekuensi bus sempat dilakukan dengan program beli layanan . uy the servic. dari Kementerian Perhubungan melalui program TemanBus yang habis kontrak pada 31 Desember 2024. Akan tetapi. Pemerintah DIY mengalami kesulitan untuk melanjutkan operasionalisasi tiga trayek dan empat puluh empat unit bus yang sebelumnya dioperasikan dengan program TemanBus, meski tetap dioperasikan dengan jam layanan yang dipersingkat, dan mengurangi jumlah armada yang beroperasi tiap harinya, khususnya pada jalur dengan intensitas penumpang rendah (Daeng 2. Dengan kendaraan pesan tumpangan menjadi alternatif transportasi bagi masyarakat. Penelitian Irawan . di Jabodetabek menunjukkan bahwa kendaraan pesan tumpangan lebih difungsikan sebagai pelengkap dari fasilitas transportasi umum yang sudah ada, sementara penelitian Muchlisin . menunjukkan bahwa kendaraan pesan tumpangan menjadi andalan bagi penduduk di Yogyakarta yang mempunyai keperluan untuk melakukan mobilitas jarak jauh, tetapi tidak mempunyai kendaraan Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda Perspektif Pemuda terkait Elektrifikasi Kendaraan Ride-Hailing: Menuju Mobilitas Ulang-alik Berkelanjutan? Aspek dan dimensi kesesuaian elektrifikasi ride-hailing Selepas melakukan analisis data terkait temuan yang dibahas pada bagian hasil, tulisan ini menemukan bahwa persepsi pemuda terkait keselarasan tidak dapat disimplifikasi menjadi kategori selaras atau tidak saja. Terdapat aspek-aspek tertentu yang membuat pemuda menganggap elektrifikasi kendaraan ride-hailing menunjang atau tidak menunjang bayangan masa depan mereka tentang mobilitas ulang-alik berkelanjutan. Dalam melakukan analisis, tulisan merujuk pada konsep mobilitas berkelanjutan. Mengadopsi tiga kriteria utama pemikiran Holden et al. tentang mobilitas berkelanjutan. justice, dan limits tulisan ini mengonsep dua dimensi konsep untuk kemudian dijadikan kategori yang membasiskan argumen selaras dan tidak selarasnya elektrifikasi dengan persepsi pemuda terkait mobilitas ulangalik berkelanjutan, dimensi fisik dan dimensi Dari proses pengonsepan ini, tulisan ini kemudian membangun argumen bahwa dilihat dari dimensi fisik, elektrifikasi kendaraan ride-hailing sudah selaras dengan bayangan pemuda terkait mobilitas ulangalik berkelanjutan karena dinilai lebih baik daripada kendaraan nonlistrik dari segi bahan bakar dan memiliki harga lebih terjangkau dibandingkan transportasi umum lain yang sudah menggunakan sumber daya listrik, seperti LRT. Namun, dari sisi struktural, elektrifikasi kendaraan ride-hailing tidak atau kurang selaras dengan bayangan mereka terkait mobilitas ulang-alik berkelanjutan. Hal ini dikarenakan kaum muda menganggap bahwa kendaraan ride-hailing elektrik belum memiliki penerimaan dan adaptabilitas yang baik di kalangan masyarakat luas, tidak benarbenar pro-lingkungan karena bersumber dari tambang, dan masih memerlukan penyesuaian teknis maupun infrastruktur. Selain itu, kaum Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda muda juga memiliki kesan bahwa elektrifikasi kendaraan ride-hailing tidak atau kurang menunjang mobilitas ulang-alik berkelanjutan karena pada akhirnya elektrifikasi hanya dijadikan Ausolusi instanAy untuk mewujudkan mobilitas yang lebih berkelanjutan alihalih membuat kebijakan yang mendukung transportasi umum dan pembatasan kendaraan pribadi, serta memprioritaskan peningkatan kualitas dan kuantitas transportasi umum. Dimensi fisik elektrifikasi kendaraan ride-hailing sebagai aspek yang selaras dengan mobilitas ulangalik berkelanjutan Dari hasil penelitian ini, ditemukan bahwa pertimbangan kaum muda dalam ride-hailing ulangalik berkelanjutan mencakup konstruksikonstruksi yang tampak, seperti persebaran infrastruktur, jejak karbon yang ditinggalkan, serta konektivitas dan kemudahan untuk mengakses jasa angkut. Aspek-aspek tersebut kemudian dikonsepkan tulisan ini sebagai dimensi fisik, yakni dimensi yang lebih praktis dan bayangan paling memiliki kedekatan dengan para kaum muda urban dalam bingkai mobilitas keberlanjutan. Secara makro, aspek bayangan ini membahas narasi berkelanjutan berdasarkan ekosistem material: mulai dari konektivitas, ketersediaan fasilitas, serta aksesibilitas infrastruktur. Hal ini sesuai dengan kriteria Holden et al. yang pertama berupa aksesibilitas . Dalam konteks keselarasan dan ketidakselarasan yang dibahas oleh tulisan ini, dimensi fisik menerjemahkan poin aksesibilitas dari sudut pandang kaum muda urban dalam kadar kebutuhan dan kompabilitas pemakaian elektrifikasi ridehailing di ekosistem mobilitas berkelanjutan. Analisis dari hasil menunjukkan bahwa demografi kaum muda yang menyatakan keselarasan cenderung berada dalam usia 1520 tahun atau usia pelajar dan mahasiswa yang belum bekerja. Mereka mendasarkan Sekarini Wukirasih. Gantar Eliezer Sinaga. Aldi Haydar Mulia jawabannya pada indikator tabel 2 terutama dalam bagan kategori dimensi fisik yaitu peningkatan kualitas dan kuantitas transportasi umum dan aksesibel dan memudahkan Dua kategori ini kemudian dapat diterjemahkan dalam poin-poin keselarasan elektrifikasi di tabel 3 yang menyatakan bahwa kaum muda urban melihat dua poin utama kontribusi elektrifikasi layanan ride-hailing: dari sisi keterjangkauan dan segi komparasi dengan kendaraan nonlistrik. Narasi Lebih baik daripada kendaraan nonlistrik "sesuai" "pasti sudah" "pilihan yang lebih baik" "nggak pakai BBM" Lebih terjangkau daripada transportasi umum lain yang menggunakan listrik "lebih terjangkau dan merata daripada LRT" Secara yang terproyeksi dalam dua subkategori komparatifAebaik dengan kendaraan konvensional nonlistrik maupun dengan transportasi umum yang Dari analisis yang dilakukan, komparasi tersebut dikaitkan dengan objek dan konteks yang berbeda berdasarkan daerah asal. Komparasi terkait dengan bahan sumber daya kendaraan mayoritas dikemukakan kaum muda dari D. YogyakartaAidua informan pelajar SMA dan satu mahasiswaAedi mana kendaraan pribadi konvensional masih menjadi sarana transportasi AuElektrifikasi ride-hailing ini udah sesuai sama bayanganku soal sustainable commute . obilitas ulang-alik berkelanjuta. pilihan yang lebih baik daripada kendaraan nonlistrik yang udah dipakai dari duludulu. Walaupun ada beberapa kontra dari kendaraan listrik, tapi secara sustainability . , udah sesuai. Ay AeInforman F AuKalau arah sana . , pasti sudah. Peningkatan kualitas ojek online sebagai transportasi umum juga bisa menurunkan pembelian kendaraan pribadi yang masih pakai bensin sehingga emisi yang dihasilkan juga tidak terlalu banyak. Ay AeInforman J Pada kedua kutipan di atas dapat dilihat adanya pola dukungan yang diikuti oleh netralitas objektif dan jugaAepada informan JAe respon outlier terkait hubungannya dengan kendaraan pribadi menandakan terbentuknya persepsi unik yang memperluas batasan, di mana keberadaan layanan ride-hailing elektrik memberikan alternatif tambahan bagi kaum muda urban. Karenanya, respon dari informan yang berada di Yogyakarta yang belum menyaksikan merebaknya kendaraan atau trans listrik cenderung mengarah pada sebuah optimisme. Dari jawaban kedua informan yang berasal dari DI Yogyakarta ini, indikator dasar yang digunakan untuk ride-hailing masih lebih banyak condong kepada pemahaman dasar tentang klasifikasi kendaraan ramah lingkungan, yakni sudah memberikan kontribusinya dalam mengurangi emisi karbon, senada dengan laporan IESR . yang menyatakan bahwa adaptasi elektrifikasi kendaraan apabila dibandingkan langsung dengan kendaraan berbahan bakar bensin dalam upaya dekarbonisasi dapat menstimulasikan pengurangan emisi GHG (Greenhouse Ga. dalam sektor transportasi secara signifikan. Sementara layanan angkut bertenaga listrik lainnya terkait keterjangkauan harga dan akses muncul dari seorang mahasiswi dari DKI Jakarta yang sudah lebih familiar dengan heterogenitas opsi transportasi umum lain, termasuk yang sudah menggunakan tenaga listrik juga, seperti LRT. Penyebutan LRT oleh informan mahasiswa yang berasal dari DKI Jakarta ini menjadi menarik. Sebab, ekosistem ridehailing diterima sebagai layanan yang lebih terjangkau dibandingkan beberapa layanan transportasi umum terelektrifikasi . eperti Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda Perspektif Pemuda terkait Elektrifikasi Kendaraan Ride-Hailing: Menuju Mobilitas Ulang-alik Berkelanjutan? bus transjakarta dan LRT) yang tidak hanya dari biaya layanan, tetapi juga dari strategi peletakan akses fasilitasnya belum berkeadilan. LRT memang termasuk layanan transportasi publik terelektrifikasi yang termasuk ramah tetapiAeapabila dengan motor listrik dapat menjangkau daerahdaerah pinggiranAeLRT sendiri belum memiliki konektivitas yang elaboratif dengan layanan transportasi umum lain seperti BRT yang dapat menjangkau daerah-daerah pinggiran DKI Jakarta (Asian Transport Observatory Kondisi ini ditegaskan oleh penelitian Sunitiyoso et. yang membahas tentang aspek mobilitas akses yang diterjemahkan dengan penggunaan layanan ride-hailing yang berbasis aplikasi . n-deman. menciptakan transportasi serta fleksibilitas terhadap waktu penggunaan apabila dibandingkan dengan LRT yang beroperasi berdasarkan jadwal yang sudah ditentukan oleh pengelola sistem (Yats dan Cap Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa kaum muda yang berprofesi sebagai siswa SMA di DI Yogyakarta dan mahasiswa di kedua daerah cenderung memandang elektrifikasi kendaraan, dilihat dari perwujudan fisiknya, paling dekat dengan ide-ide mereka terkait kendaraan hijau lebih mudah diakses, baik dari segi ekonomi maupun infrastruktur. Posisi latar belakang profesi dan jarak umur para informan juga menjadi faktor yang membentuk persepsi dan serapan informasi. Kesadaran yang terbangun dikarenakan urgensi fasilitas kendaraan umum bagi para informan dari kelompok pekerja akan lebih terasa lebih kritis dikarenakan transportasi umum dan kemudahan akses sehari-hari menjadi bagian pokok bagi para informan tersebut, terutama bagi yang berdomisili di DKI Jakarta. Ada pun terdapat jenjang keterpaparan terhadap akses informasi yang tercermin dari jawaban-jawaban yang menunjukkan skala pengetahuan dan kepedulian terhadap isu yang diangkat sendiri Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda juga terbentuk oleh karakteristik fasilitas bermobilitas yang ada di setiap daerah. Dimensi struktural elektrifikasi kendaraan ridehailing sebagai aspek yang tidak selaras dengan mobilitas ulang-alik berkelanjutan Selain dimensi fisik, pemuda juga aspek-aspek penerimaan dan adaptabilitas masyarakat, seberapa pro-lingkungan kebijakan elektrifikasi ride-hailing, terkait transportasi umum, juga teknis dan infrastruktur yang diperlukan dalam Hingga waktu dilakukan penelitian, informan kaum muda yang kami wawancara merasa aspek-aspek tersebut masih dinilai kurang atau tidak selaras dengan bayangan mereka terkait mobilitas Karena erat keterkaitannya dengan sistem, struktur, dan konteks elemenelemen yang lebih fundamental seperti pemerintahan dan masyarakat, tulisan ini kemudian mengonsepkan aspek-aspek tersebut sebagai dimensi struktural. Mengacu pada kriteria Holden, dimensi struktural kiranya dekat dengan pilar justice dan limits. Dalam penelitian ini, justice yang dimengerti sebagai akses yang setara diwujudkan dalam kategori kebijakan yang mendukung, berkeadilan secara ekonomi, dan inklusif untuk semua, sementara limits diwujudkan dalam kategori prolingkungan. Perhatian dalam konteks paling detail muncul dalam benak yang membentuk pengonsepan indrawi terhadap kendaraan listrik, seperti informan A yang berdomisili Jog ja kerentanan sebagai pengguna motor listrik yang diasosiasikan dengan ukuran motor listrik dan keberadaan yang masih belum dapat berbaur dengan infrastruktur dikarenakan AukecilAy dan Auhening. Ay Penjelasan mengenai keteraturan tersebut disambungkan juga dalam posisi lebih elaboratif dalam memandang inkompatibilitas keadaan infrastruktur sehari-hari. Melihat dari respon informan C yang membahas Sekarini Wukirasih. Gantar Eliezer Sinaga. Aldi Haydar Mulia tentang bagaimana kendaraan elektrik hanya dapat dipergunakan pada daerah jalan raya yang stabil karena motor listrik yang masuk dalam armada layanan ride-hailing, dari fisik kendaraan dan sisi kemutakhiran-nya, tergolong Aoringkih. Ao Kondisi ini juga tercermin dari pendapat informan B mengenai pemosisian tidak hanya layanan kendaraan elektrik, tetapi keseluruhan ekosistem kendaraan umum di Indonesia . aling prominen di Jakart. masih berbasis kelas dan keuntungan pelayanan. Hal ini dapat dikonfirmasi dari bagaimana pengakuan perwakilan pelajar SMA dari informan F. G, dan H di Yogyakarta yang mengobservasi bahwa keberadaan motor listrik juga masih jarang hadir dalam infrastruktur Yogyakarta yang lebih dominan pengguna kendaraan pribadi. Kondisi-kondisi tersebut semakin melanggengkan kondisi kerentanan lingkungan dan patron infrastruktur yang tidak menunjukkan inisiatif pro-lingkungan dengan Kebijakan yang mendukung Dari sisi kebijakan terkait transportasi penunjang mobilitas ulang-alik, informan C dan E merasa bahwa pemerintah belum memiliki regulasi yang tepat terkait pengaturan transportasi pribadi dan umum. Dari indikator yang kebijakan pemerintah, ada sebuah mobilitas berkelanjutan terhadap regulasi yang sedang berjalan. Salah satu informan merangkum mengenai tendensi pemerintah solusi-solusi pendek dan saling tumpang tindih seperti penjadwalan plat ganjil-genap, atau dorongan kapitalisasi ketiadaan insentif masyarakat untuk berjalan kaki, terkhususnya di DKI Jakarta dengan ekosistem transportasi umum berbasis biaya dari para pengguna. Temuan dari informan DI Yogyakarta juga menemukan gejala kurangnya motivasi politik untuk mengembangkan infrastruktur pejalan kaki. Bayangan dalam dimensi struktural tersebut kemudian juga diperdalam dengan lapisan ide yang menyorot celah-celah infrastruktur transportasi umum yang justru tidak disorot untuk dikembangkan sebagai bagian dari transportasi ramah lingkungan. Salah satu informan mempertanyakan mengenai mengapa tidak ada usulan untuk mengimplementasikan pengadaan energi hijau untuk bahan bakar kendaraan mobilitas ulang-alik seperti KRL dan LRT, sekaligus membahas tentang peningkatan armada serta cakupan resapan transportasi umum di daerah-daerah pinggir kota baik di DIY maupun DKI Jakarta. Keresahan kaum muda ini senada dengan temuan IESR . yang menyatakan bahwa meskipun DKI dan DIY memiliki transportasi umum, efektifitasnya belum tinggi. Di DI Yogyakarta, tingginya mobilitas di jalanan yang dipenuhi kendaraan pribadi menyebabkan penundaan dan pelonggaran jadwal bus transportasi umum akibat dari kemacetan baik di hari-hari biasa dan akhir pekan. Kurangnya minat menggunakan transportasi umum juga ditemukan di DKI Jakarta akibat tercampurnya jalur transportasi kendaraan konvensional dengan jalur BRT . yang juga kian menyempit keberadaan jalur eksklusifnya . 6% berkurang hingga 5. per tahun 2014-2. Informan E menjelaskan tentang bagaimana hal ini didorong oleh fokus pemerintahan yang hanya mementingkan kebutuhan untuk memenuhi target kinerja periodik para pemangku kebijakan dengan kiat paling ekonomis dari anggaran tersedia tanpa memperhatikan biaya-biaya di luar kondisi anggaran . iaya lingkungan, pemetaan sosial, dan aksesibilitas menyeluru. Alhasil keengganan pemerintah dalam benar-benar menyisakan kampanye AogreenwashingAo yang sangar performatif. Lebih menunjukkan bahwa ekosistem transportasi baik di D. Yogyakarta maupun D. I Jakarta yang masih mengadaptasi desain jalan raya yang berorientasi pada kendaraan konvensional dan Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda Perspektif Pemuda terkait Elektrifikasi Kendaraan Ride-Hailing: Menuju Mobilitas Ulang-alik Berkelanjutan? penggunaan kendaraan pribadi yang masih lebih marak (IESR 2. Pun, ketika penulis menanyakan tentang prioritas pemerintah yang harus dilakukan, kaum muda selalu mendahului kebutuhan terhadap peningkatan kualitas dan kuantitas transportasi umum sebelum Pro-lingkungan Secara umum, para informan menyatakan bahwa elektrifikasi ride-hailing masih belum sepenuhnya dapat dipertimbangkan sebagai sarana utama untuk mendorong mobilitas Hal ini berkaitan dengan salah satu kriteria Holden et al. yaitu limits yang diwakili dengan kondisi bahwa sumber daya alam belum sepenuhnya ramah Pendapat yang ditemukan dalam tema ini meliputi dua variasi, yakni: Narasi Elektrifikasi ride-hailing belum menjawab persoalan sustainable commute AuQuick fixAy AugreenwashingAy Elektrifikasi ride-hailing sangat bergantung pada konteks wilayah Aupentingnya konektivitasAy Auaksesibilitas tidak merataAy Informan B. E, dan G berpendapat ride-hailing menyelesaikan persoalan sistemik yang muncul dari ekstraksi bahan baku seperti lithium dan nikel yang digunakan dalam kendaraan listrik maupun pada bahan bakar listrik. Informan C & E secara spesifik merujuk istilah AogreenwashingAo untuk mendeskripsikan taktik kampanye elektrifikasi ride-hailing untuk mendapatkan klaim sebagai gerak transisi untuk lepas dari ketergantungan terhadap energi fosil. Hal ini menunjukkan bahwa informasi terkait dampak industri nikel terhadap masyarakat di berbagai daerah tambang (Climate Rights International Gill 2. makin meluas, terutama pada kalangan muda yang dapat mengakses internet dan terekspos atas pemberitaan seputar lingkungan dari sumber-sumber alternatif (Cerah 2. Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda Sementara itu. Informan A. I, dan J cenderung menyoroti dinamika wilayah yang melingkupi proyek elektrifikasi ride-hailing itu sendiri. Informan A mengungkapkan bahwa ia Aunggak terlalu pernahAy memikirkan perihal elektrifikasi, sejauh bahan bakar yang digunakan dapat mengurangi emisi dan polusi, serta disertai oleh perhatian lebih terhadap Autransportasi umum dan fasilitas pejalan kaki yang aksesibel. Ay Selain itu. Informan J menjelaskan bahwa elektrifikasi ridehailing dapat menjadi alternatif transportasi masyarakat sembari Aumeningkatkan kualitas dari transportasi umum, supaya masyarakat itu lebih tertarik memakai kendaraan umum ini daripada kendaraan pribadi. Ay Berkeadilan secara ekonomi Berdasarkan susunan indikator yang konteks ekonomi masyarakat, ekosistem mobilitas berkelanjutan perlu memperhatikan aksesibilitas transportasi untuk mobilitas dalam sektor kesejahteraan sosial, sekaligus melibatkan para kelompok masyarakat untuk ikut mengelola ekosistem mobilitas ulangalik berkelanjutan yang berorientasi pada kenyamanan masyarakat bukan atas basis biaya. Informan C & D menerjemahkan kampanye elektrifikasi masih belum berkeadilan secara ekonomi dalam dimensi strukturalnya, baik bagi pengguna maupun pengemudi layanan angkut elektrik. Selain masih terbatasnya akses yang menyebabkan argo biaya layanan motor listrik masih lebih mahal dibandingkan layanan ridehailing nonlistrik, sistem sewa motor listrik yang harus dibayarkan pengemudi GrabElectric misalnya juga menciptakan ketergantungan ekonomi dari sistem sewa dan pengejaran target buat masing-masing pengemudi yang justru melenceng dari tujuan utama kebijakan Kurang siapnya fasilitas umum yang menyandang akses bagi pengemudi untuk melakukan pengisian daya juga dapat Sekarini Wukirasih. Gantar Eliezer Sinaga. Aldi Haydar Mulia mengganggu efisiensi waktu, tenaga, dan biaya baik bagi pengemudi dan pengguna layanan (Abdi, 2. Dalam lanskap yang lebih besar, jurang skema gigworking, ditandai dengan sistem penyewaan kendaraan listrik demi menyokong keberlanjutan kampanye elektrifikasi ridehailing ini menyisakan pola kemitraan terhadap pengemudi ojol yang kompetitif dan koersif, menyebabkan terhambatnya keadilan dari segi ekonomi dengan taraf layanan yang juga menjadi fluktuatif (Novianto 2. Inklusif untuk semua Selain membahas bentuk kesetaraan secara ekonomi, mengadaptasi prinsip kedua Holden et al. yaitu justice, penelitian ini menerjemahkan kesetaraan elektrifikasi dalam ranah mobilitas berkelanjutan pada isu tentang inklusivitas. Selain membahas seputar penyetaraan akses untuk setiap lapisan masyarakat, terutama masyarakat di akar rumput dan kelompok masyarakat rentan, penelitian ini juga menyorot tentang bagaimana serapan persepsi aksesibilitas kaum muda urban untuk berbagai macam lapisan masyarakat baik di DKI Jakarta maupun DI Yogyakarta. Ada pun temuan persepsi terhadap ride-hailing konteksnya tersendiri di antara dua wilayah penelitian ini. Bagi informan dari D. Yogyakarta (A. H, & J), keberadaan kendaraan listrik masih menjadi pemandangan langka dan masih jarang dipergunakan apabila dibandingkan dengan DKI Jakarta yang aksesibilitasnya sudah lebih merata namun tetap memiliki perbedaan harga yang signifikan, walaupun hal ini tidak menjadi konsiderasi utama yang cukup prominen dipermasalahkan tetapi tetap menjadi konsiderasi utama bagi pengguna (Natakusuma dan Putra 2. terutama di kelompok kaum muda urban. Sementara itu, baik di DKI Jakarta maupun di I Yogyakarta, konsiderasi biaya penggunaan ride-hailing listrik lebih mudah terserap targetnya untuk kelompok berpendapatan menengah hingga kelas pendapatan tertinggi. Selain persoalan di atas. Informan D juga menyorot mengenai bagaimana kampanye elektrifikasi ride-hailing belum tersosialisasikan secara merata, tidak hanya meniadakan keikutsertaan substansial untuk kelompok pemuda yang menjadi demografi kebijakan dan layanan kendaraan listrik tidak secara langsung membuka layanannya kepada kelompok akar rumput. Secara lebih luas, ekosistem mobilitas ulang-alik berkelanjutan masih bertumpu pada dinamika berbasis kelas, memberikan prioritasnya pada kelompok menengah ke atas dan meniadakan kemudahan akses bagi kelompok masyarakat ekonomi menengah ke bawah. KESIMPULAN Tulisan pertanyaan utama terkait apakah elektrifikasi ride-hailing pemuda atau pemudi terkait mobilitas ulangalik berkelanjutan dan mengapa. Sebelum muncul pula dua pertanyaan penunjang yang esensial terkait persepsi kaum muda terhadap ride-hailing bayangan masa depan kaum muda terkait mobilitas ulang-alik berkelanjutan. Berdasarkan data yang diambil dari proses wawancara dan analisis menggunakan konsep bounded imaginaries dan mobilitas berkelanjutan, argumen yang dibangun oleh tulisan ini adalah bahwa berdasarkan dimensi fisik, terdapat kompatibilitas antara elektrifikasi ride-hailing dengan konseptualisasi dari bayangan kaum muda urban terhadap mobilitas ulang-alik berkelanjutan, namun dipandang dari dimensi struktural yang mencakup elemen-elemen politik, sosial, dan ekonomi, elektrifikasi kendaraan ride-hailing dipandang tidak atau kurang selaras terhadap kriteria mobilitas Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda Perspektif Pemuda terkait Elektrifikasi Kendaraan Ride-Hailing: Menuju Mobilitas Ulang-alik Berkelanjutan? Dalam konteks ini, dimensi fisik yang dikonsepsikan sebagai dimensi yang telah selaras mencakup aspek sumber daya yang lebih baik daripada BBM dan aspek keterjangkauan dibandingkan dengan moda transportasi umum lain yang telah menggunakan sumber energi Sementara itu, dimensi struktural yang diinterpretasi sebagai dimensi yang tidak atau kurang selaras terdiri dari kurangnya penerimaan dan adaptabilitas masyarakat, sumber energi yang tidak pro-lingkungan, adanya keperluan untuk penyesuaian teknis maupun infrastruktur, prioritas pemerintah yang seharusnya ditempatkan pada peningkatan kualitas dan kuantitas transportasi umum, dan ketiadaan kebijakan yang mendukung transportasi umum dan pembatasan kendaraan Karenanya, dapat dikatakan bahwa studi ini telah menunjukkan bagaimana keikutsertaan kaum muda urban dalam membawa narasi di tingkatan diskursus dalam kerja-kerja menuju manifestasi ekosistem mobilitas berkelanjutan menjadi sebuah langkah fundamental yang harus diperhatikan oleh pemerintah bersama Diharapkan temuan dan pembahasan yang telah dilakukan dapat dijadikan referensi dasar mengenai visi kepemudaan terhadap isu transisi energi, ekosistem tata kota transportasi, lingkungan, dan ranah pembangunan kebijakan terhadap perkembangan dinamika mobilitas ulang-aling berkelanjutan serta inklusif. Meskipun bahwa penelitian ini banyak memfokuskan pembahasannya pada elektrifikasi kendaraan ride-hailing yang berupa motor dan terbatas pada kaum muda dua provinsi saja, yakni Daerah Khusus Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta, sehingga belum dapat memberikan gambaran holistik terkait persepsi kaum muda terhadap elektrifikasi kendaraan ride-hailing dalam kaitannya dengan mobilitas ulang-alik Riset-riset selanjutnya tentu Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda dapat melakukan pengembangan dengan melakukan survey yang mencakup pendapat kaum muda dari lebih dari dua provinsi yang telah disebutkanAebahkan dari seluruh Indonesia memungkinkanAeataupun melakukan spesifikasi terhadap kaum muda dengan identitas tertentu, seperti Generasi Z, perempuan, atau penyandang disabilitas. Lebih jauh lagi, penelitian dari sudut pandang driver atau mitra juga sangat menarik untuk dikaji agar studi terkait ride-hailing dalam kaitannya dengan mobilitas berkelanjutan dapat pula menginklusi sudut pandang pekerja gig yang kerap tereksploitasi atau menghadapi kerentanan ganda dalam sistem perusahaan pesan tumpangan yang kapitalistik. DAFTAR PUSTAKA