TRADISI TOLAK BALA SEBELUM TANAM PADI PADA MASYARAKAT DESA SIMAROKEN KABUPATEN PASAMAN (KAJIAN LIVING AL-QURAoAN) Rahmat Imanda,1 Zulheldi,2 Widia Fithri,3 Edriagus Saputra 4 1,2,3 Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang, 4Institut Agama Islam Sumatera Barat Pariaman Jl. Prof. Mahmud Yunus Lubuk Lintah. Kota Padang. Sumatera Barat e-mail: rahmatimandasinaga@gmail. com, zulheldizulheldi@gmail. widiafithri71@gmail. com, saputraedriagus@gmail. Abstrak: Tradisi tolak bala yang dilakukan oleh masyarakat Desa Simaroken merupakan bentuk penolak musibah yang akan datang pada tanaman yang akan Masyarakat setempat meyakini bahwa dengan melakukan tradisi tersebut dapat terhindar dari penyakit terhadap tanamana mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tradisi tolak bala sebelum menanam padi pada masyarakat desa Simaroken Kabupaten Pasaman. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif field research . enelitian lapanga. Untuk mendapatkan data penelitian ini, maka penulis melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi dengan responden seperti pihak pemerintahan, ulama, tokoh masyarakat dan masyarakat pada umumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Simaroken meyakini tradisi tolak bala dapat menjauhkan mereka dan tanamannya dari segala Prosesi tradisi tolak bala sebelum menanam padi dilaksanakan oleh semua masyarakat setempat dengan menyediakan makanan, minuman yang akan dihidangkan pada acara tersebut dan menu utamanya, yaitu lamang sipuluik. Karena lamang yang terbuat dari sipuluik . merupakan bagian dari yang ditanam oleh masyarakat setempat dan sebagai simbolis dari hasil tanamannya. Tradisi tolak bala dipimpin oleh seorang ulama dengan prosesi awali membaca surat yasin, al-Ikhlas, al-Falaq, al-Naas dan beberapa surat lainnya yang diikuti oleh seluruh masyarakat serta doa yang dipimpin oleh seorang ustad serta diakhiri dengan menyantap hidangan secara bersama-sama. Kata Kunci: Tradisi Tolak Bala. Tanam Padi. Desa Simaroken. Living QurAan Abstract: The tradition of rejecting reinforcements carried out by the Simaroken Village community is a form of repellent to future disasters on the plants to be Local people believe that by carrying out this tradition, they can avoid diseases to their plants. This study aims to describe the tradition of rejecting reinforcements before planting rice in the Simaroken village community. Pasaman Regency. This study uses a qualitative field research method . ield researc. obtain the data of this study, the authors conducted observations, interviews and documentation with respondents such as the government, ulama, community leaders and the community in general. The findings of this study are that the Simaroken community believes that the tradition of rejecting reinforcements can keep them and their plants away from all harm. The traditional procession of rejecting reinforcements before planting rice is carried out by all local people by providing food, drinks that will be served at the event and the main menu, namely lamang sipuluik. Because the lamang made of sipuluik . ticky ric. is part of what is planted by the local community and as a symbol of the results of the plant. The tradition of rejecting reinforcements is led by a cleric with a procession starting with reading the letter Yasin, al-Ikhlas, al-Falaq, al-Naas and several other letters followed by the whole community and a prayer led by a cleric and ending with eating a meal together . Keywords: The Tradition of Tolak Bala, rice Planting. Simaroken Village. Living QurAan Hikmah. Vol. No. Januari-Juni 2021, p-ISSN: 1829-8419 e-ISSN: 2720-9040 PENDAHULUAN Al-QurAan merupakan kalamullah yang diturunkan melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Al-QurAan memiliki banyak petunjuk dan pedoman serta ilmu bagi umat manusia dalam (Andana 2. Dalam memahami dan mentadaburi isinya, maka umat Islam sangat membutuhkan ilmu yang terkait, seperti ilmu Tafsir, ilmu hadis, ilmu fiqh, ilmu sosial, ilmu bahasa Arab, ilmu living AlQurAan dan sebagainya. (Saputra and Fata Living Al-QurAan merupakan sebuah keilmuan yang mengkajian terkait dengan pengamalan masyarakat yang memiliki kaitannya dengan syariat Islam. (Saputra Karena Al-QurAan merupakan sumber keilmuan yang selalu menyatu dengan ruang dan waktu dimana Al-QurAan itu hadir, artinya Al-QurAan selalu ada bagi manusia dimana dan kapanpun mereka manusia layaknya ia mempunyai jiwa. (Saputra, 2. Serta jadi sarana untuk mempererat hubungan dengan Allah SWT, salah satu caranya dengan mengetahui arti dari teks Al-QurAan. (Hasbullah et al. , 2. Dalam Al-QurAan mempunyai fungsi selain kedudukannya sebagai teks agama, (Hidayat 2. ini bisa dikatakan sebagai fungsi perpormatis atau ketika Al-QurAan itu dibaca atau ditulis atau digunakan dan diamalkan untuk tujuan Maka dalam keadaan beginilah teks Al-QurAan tersebut diterima dan dimaknai oleh masyarakat dalam dimensi sosial budaya. (Aisyah, 2. Dari proses itulah muncul bermacam sikap dan menjadi kebiasaan dalam kehidupan bermasyarakat. (Zulfadli et al. Dari berbagai bentuk respon Al-QurAan bermunculanlah tradisi-tradisi masyarakat, dimana Al-QurAan bisa lebih menyatu butuhkan, karena salah satu fungsi dari AlQurAan adalah memberi petunjuk. (Aziz et 2. Serta Al-QurAan bukanlah sesuatu yang harus diantikkan yang harus di pajang di tempat-tempat tertentu, tetapi bagaimana Al-QurAan itu secara kultur dapat dirasakan secara sosiologis dan dapat dipraktikkan. (Shihab et al. Selain dari segi kultur dan sosial. AlQurAan juga berfungsi sebagai alat penyembuh atau disebut dengan ruqyah. Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Farid Esack, seorang sarjana muslim yang berasal dari Afrika Selatan, ia menyebutkan dalam sebuah karyanya dalam bentuk tulisan, bahwa Al-QurAan itu hidup seperti (Gusnanda 2. Salah satunya ialah tradisi tolak bala yang dilakukan oleh masyarakat desa Simaroken, yang penduduk masyarakatnya adalah petani yang hanya mengandalkan alam untuk mendapatkan panen yang memuaskan, baik dari segi perairannya, hama atau penyakit tanaman yang bisa tiba-tiba bisa datang sendiri. Dari pernyataan masyarakat ini menyatakan bahwa, acara tolak bala bukanlah hanya bentuk tradisi yang mengharapkan panen labih baik, tapi sebuah pemahaman masyarakat terhadap fungsi Al-QurAan . ebagai oba. (Eviyanti, 2. Masyarakat desa Simaroken ini dikenal dengan menganut aliran Tarekat 41 | Tradisi Tolak Bala Sebelum Tanam Padi pada Masyrakat desa Simaroken Hikmah. Vol. No. Januari-Juni 2021, p-ISSN: 1829-8419 e-ISSN: 2720-9040 Naqsyabandiyah. Tarekat (Ath-Thariqa. , jamaknya (Tarai. secara etimologis berarti jalan,cara (Al-Kaifiyya. , metode, sitem (AlUslu. , madzhab, aliran, haluan (AlMadzha. , keadaan (Al-Hala. , pohon Kurmayang tinggi (An-Naklhah AtThawila. , tiang tempat berteduh, tongkat payung (AoAmud AlMizalla. , yang mulia, terkemuka dari kaum (Syarif Al-Qau. , goresan, garis pada sesuatu (Al-Khatt Fis SyaAo. Sedangkan menurut istilah Tasawuf, tarekat berarti perjalanan seorang Salik . engikut tareka. menuju Tuhan dengan cara menyucikan diri atau perjalanan yang harus ditempuh oleh seseorang untuk dapat mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Tuhan. (Al Misri, 1. Tarekat merupakanperjalan Rohani (Nurani. Jiwa. Hati Rabban. yang berjalan mencari Allah. Perjalanan yang bertingkat-tingakat, dari satu tingkat demi satu tingkat, hingga ia bertemu dengan Allah. (Masyuhri. Dari pemahaman agama dan tarekat tanaman yang mereka tanam. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan secara rinci terkait prosesi tolak bala yang dilakukan oleh masyarakat setempat dan menggali nilai-nilai yang terkandung didalamnya, sehingga juga dapat menjadi sebuah khazanah baru dalam bidang Penelitian ini merupakan studi living Al-QurAan yang bertujuan untuk menggali tradisi tolak bala yang dilakukan Desa Simaroken Kabupaten Pasaman. Jika dirujuk dengan kajian yang relevan dengan penelitian ini, terdapat beberapa penelitian yang terkait, yaitu pertama, penelitian yang dilakukan oleh Syafrizal mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Teuku Umar Meulaboh dengan judul: Analisis Tradisi Tolak Bala dalam Tinjauan Sosiologi di Gampong Blang Baro Kecamatan Kuala Kabupaten Nagan Raya. Penelitian ini mengkaji terkait dengan tradisi tolak bala masyarakat desa Simaroken, apabila hendak menanam padi, maka mereka akan mengadakan musyawarah kapan diadakan acara tolak bala dan hal ini sebagai wujud permohonan pada Allah, supaya tanaman mereka jauh dari jangkauan hama atau bala. (Nurhikmah et al. , 2. Oleh karena itu, sesuai dengan paparan diatas terkait dengan tradisi tolak bala sebelum menanam padi yang dilakukan oleh masyarakat desa Simaroken Kabupaten Pasaman, maka penulis tertarik melakukan penelitian dan menggali secara mendalam kegiatan yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat untuk mengusir bala dan penyakit yang ada dikampungnya terkhususnya bagi yang dilakukan oleh masyarakat Gampong Blang Baro dengan menggunakan tinjauan Sosiologi. (Syafrizal. Kedua, penelitian yang dilakukan oleh dosen UIN Suska Riau, yaitu Hasbullah dkk dengan judul Ritual Tolak Bala pada Masyarakat Melayu (Kajian Masyarakat Petalangan Kecamatan Pangkalan Kuras Kabupaten Palalawa. Hasil penelitian ini, bahwa masyarakat setempat melakukan tradisi tolak bala dengan tujuan untuk menghindarkan bala dan musibah pada kampung tersebut. (Hasbullah. Toyo, and Awang Pawi . Ketiga, penelitian yang dihasilkan oleh Azmi Fitrisia yang merupakan mahasiswa Fakultas Sosial Rahmat Imanda. Zulheldi. Widia Fithri. Edriagus Saputra | 42 Hikmah. Vol. No. Januari-Juni 2021, p-ISSN: 1829-8419 e-ISSN: 2720-9040 Universitas Negeri Padang. Penelitian tersebut dengan judul Upacara AuTolak BalaAy Refleksi Kearifan Lokal Masyarakat Nelayan Kenagarian Painan Kabupaten Pesisir Selatan Provinsi Sumatera Barat terhadap Laut. (Fitrisia 2. Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan tersebut, maka persamaan dari penelitian yang penulis lakukan, yaitu samasama membahas terkait dengan tradisi tolak bala yang dilakukan oleh masyarakat. Namun perbedaan dari penelitian tersebut dengan penelitian yang penulis lakukan, yaitu penulis melakukan penelitian terkait dengan Tradisi tolak bala yang dilakukan oleh masyarakat yang bertempat pada Desa Simaroken Kabupaten Pasaman Provinsi Sumatera Barat. Selain itu, pada penelitian ini masyarakat Desa Simaroken Kabupaten Pasaman melakukan tradisi tersebut dengan tujuan untuk menghindarkan tanaman mereka dari bahaya dan penyakit, seperti Dan tradisi tolak bala tersebut dilaksanakan sebelum menanam padi oleh para petani. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan kajian living Al-QurAan dengan menggunakan metode kualitatif field research . ajian lapanga. serta menggunakan pendekatan etnografi, (Saputra 2019. karena tradisi tolak bala dalam prosesi tanam padi merupakan sebuah bentuk tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat secara kontiniu pada saat sebelum menanam padi. Teknik pengambilan data dalam penelitian ini, yaitu dengan melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi. Wawancara yang dilakukan dalam mendapatkan data, masyarakat, petani yang melaksanakan tradisi, ulama dan masyarakat setempat. Lokasi penelitian ini adalah Desa Simaroken Kabupaten Pasaman Provinsi Sumatera Barat. Setelah data didapatkan melalui para respomden, maka data tersebut akan dilakukan analisis serta disajikan dalam bentuk deskriptif terhadap tradisi tolak bala yang dilakukan oleh masyarakat Desa Simaroken Kabupaten Pasaman. Seluruh data yang disajikan pada penelitian ini merupakan hasil dari observasi dan wawancara langsung terhadap pelaksanaan kegiatan tradisi tolak bala. Untuk lebih jelasnya, metode penelitian ini akan dijelaskan seperti alur yang tertera pada sekema yang tercantum di di bawah ini: Tradisi Tolak Bala Sebelum Tanam Padi Living QurAoan Prosesi Nilai Surah al-Fatihah Surah Yasin. Surah al-Ikhlas al-Falaq Al-Naas surah alBaqarah 1-5 surah al-Baqarah Ayat Kursi Pengaruh Skema 1: Alur Penelitian 43 | Tradisi Tolak Bala Sebelum Tanam Padi pada Masyrakat desa Simaroken Hikmah. Vol. No. Januari-Juni 2021, p-ISSN: 1829-8419 e-ISSN: 2720-9040 HASIL DAN PEMBAHASAN Sebagaimana memaparkan secara rinci terkait dengan Potret sejarah tradisi Tolak Bala, prosesi pelaksanaan tolak bala dan nilai-nilai yang terkandung dalam pelaksanaan tradisi Potret Sejarah Tradisi Tolak Bala Tradisi tolak bala sebelum proses tanam padi adalah kebiasaan yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Simaroken untuk menolak berbagai bentuk Kebiasaan ini sudah merupakan suatu bentuk kewajiban bagi masyarakat sebagai bentuk rasa syukur serta niat mereka untuk menolak bala serta diiringi dengan minta ampun pada Allah atas segala dosa, karena dengan dosa semua bala berdatangan. (Simamaora, wawancara 2. Adapun sejarah latar belakang tolak bala ini adalah pada masa dahulu warga desa Simaroken ini ditimpa berbagai macam bala tanaman Padi, seperti Tikus. Attingano (Walang sengi. burung Pipit yang sangat merajalela sehingga petani tidak kuat dengan hal tersebut, sehingga warga masyarakat musyawarah untuk mencari solusi dari masalah tersebut, hasil dari musyawarah tersebut bahwa masyarakat akan mengadakan tolak bala,jikabala yang mengancam tanaman warga tersebut berkurang dan pendapatan hasil padi Adapun alasan mengapa tradisi ini dinamakan tradisi tolak bala sebelumb proses tanam padi adalah, karena menanam padi sudah warga lakukan dari awal mereka lahir sampai saat sekarang ini, dibandingkan mereka mengenal tanaman yang lain seperti Menanam jagung merupakan barubaru ini mereka lakukan jika dibanding tanaman padi. (Zulfadli et al. Dalam pengungkapan sejarah yang lebih jelas mengenai tahun berapa tradisi tolak bala ini di adakan pertama kali, penulis tidak menemukannya. Secara umum mempunyai berbagai macam tujuan, diantaranya sebagai peredam masalah bagi masyarakat, sebagai obat kalau ada yang sedang sakit, pemersatu masyarakat, dan lain sebagainya, secara khusus untuk menolak bala yang yang datang pada tanaman padi. (Roslaini, wawancara 2. Dari penjelasan di atas, bahwa tradisi tolak bala ini dilakukan dengan membaca Al-QurAan, berdzikir, makan Dengan tujuan untuk meminta ampun pada Allah, menolak bala. Adapun hadis Rasulullah yang menyebutkan tentang keutamaan keutamaan berkumpul . untuk membaca AlQurAan al-Karim, mengkajinya, terutama jika hal tersebut diadakan di dalam masjid yang menjadi pengikat hati orang-orang yang beriman. adalah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, ia berkata: AuTelah bersabda Rasulullah SAW. acEEA aA NA a A aII O OA A NA e AaIA a acEE Oae Ea eO aI EA e aa e Aa aI a Ca eOUI a eaA aeOA A aEaeO aN aI E N aEeO Iaa aO aAeN aN aIA e aOOaa a a a eO aI aeO Ia aNI uaEN IaaEA a a AEeIEaa aEa O a aO e NI ENea Oa aEOI NA acEE AeO aI eI eI aNA a aa a a a a a a Rahmat Imanda. Zulheldi. Widia Fithri. Edriagus Saputra | 44 Hikmah. Vol. No. Januari-Juni 2021, p-ISSN: 1829-8419 e-ISSN: 2720-9040 Artinya: AuTidaklah berkumpul suatu kaum di sebuah rumah Allah . ,mereka membaca Kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka,terkecuali akan turun ketentraman kepada mereka, hati-hati mereka dipenuhi rahmat, diliputii oleh para malaikat dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk-Nya. (H. Bukhar. Hadis ini adalah berita gembira yang disampaikan oleh Nabi SAW kepada orangorang yang berkumpul untuk membaca dan mempelajari Al-QurAan. Rasulullah SAW . untuk mempelajari Al-QurAan, karena hal tersebut adalah kunci untuk kekuatan dan kemuliaan. Juga terdapat balasan yang besar dari Allah untuk para pambaca Al-QurAan,baik itu mereka berkumpul di masjid atau di tempat-tempat yang lainnya, seperti sekolah atau rumah. Siapa yang menghadiri sebuah majlis (Al-QurAa. , maka ia akan mendapatkan empat macam kebaikan yang kewajiban bagi masyarakat. besar, yaitu: pertama. Turun ketenangan menyelimuti hati mereka. Kedua, hati mereka diselubngi oleh Rahmat. Ketiga, mereka dinaungi oleh para malaikat Allah. Keempat. Allah menyebutnya mereka dihadapan makhluknya. Maka dapat simpulkan bahwa, sejarah yang melatarbelakangi terjadinya proses tradisi tolak bala di desa Simaroken adalah keresahan warga terhadap bala tanaman Padi yang mengancam panen, sehingga masyarakat berikhtiar untuk melakukan tolak bala dan berniat apabila tanaman padi melakukannya kembali dan akhirnya tradisi tolak bala ini sudah menjadi sesuatu mengabulkan doa hambanya kapan dan dimanapun itu. Sesuai dengan perintah Rasulullah SAW bahwa ada waktu dimana doa seseorang dikabulkan oleh Allah yaitu pada hari Jumat. Oleh karena itu, hendaklah permohonan pada hari itu. Sesuai hadis Rasulullah SAW: Dari Abu Hurairah RA. , bahwa Nabi SAW. Prosesi Tradisi Tolak Bala Sebelum Tanam Padi Selanjutnya, pelaksanaan tradisi tolak bala, masyarakat selalu melakukannya di dalam Mesjid sebagai tempat yang lebih afdhol diantaranya untuk tempat bermunajat pada Allah. (Simamora. Mengenai waktu tradisi tolak bala ini, masyarakat selalu melaksanakannya pada hari Kamis malam, atau malam Jumat setelah sholat Isya, karena diantara hari yang afdhol untuk berdoa pad Allah adalah hari Jumat. Berdoa adalah resepsi permintaan seorang hamba pada Allah supaya Allah mengabulkannya, oleh karena itu perlu bagi seorang mukmin untuk memperhatikan waktu-waktu khusus yang mustajab sesuai anjuran Rasulullah SAW. Walaupun kita tahu bahwa Allah berkuasa mutlak untuk aA a NI O aE NEEA:AI aa OO a aO NEE eIO Ca aEA a a a a a a ea a e e a ea a AAENO NEEa aEaeO aO aO aEN aI a Oa eOaI eEa aI a a Aa aC aE AaeO aOA AAEac eOA a a a aAU Ea Oa aOA aC aN ae U aI eE UI aOaO aO Ca UI OA aAO aaE NEE aaE O uaEN aaOau NcaON Oa a aO aNA Uea a a a aa ea 45 | Tradisi Tolak Bala Sebelum Tanam Padi pada Masyrakat desa Simaroken Hikmah. Vol. No. Januari-Juni 2021, p-ISSN: 1829-8419 e-ISSN: 2720-9040 AOa aCEacEa aN ON EOA Artinya: AuSesungguhnya Rasululah Saw. menuturkan tentang hari jumAoat. Beliau AuDidalamnya saat,yang tidak seorang muslim sedang berdiri shalat seraya memohon kepada Allah TaAoala akan sesuatu bertepatan dengan saat itu,melainkan Allah pasti akan memberinya, dan beliau mengisyaratkan jari-jari (HR. Bukhar. (Al Bukhari 1. Pelaksanaan acara ini dilakukan dua kali dalam setahun, acara ini diadakan setelah masyarakat hendak menanam padi, sebelum acara tradisi ini, akan ada informasi dari ketua kelompok tani yaitu Uda . Remon Ritonga, isi dari hasil pengumuman tersebut Uda tersebut akan mengumumkan hari dan tanggal yang tepat dilaksanakan acara tradisi tolak bala tersebut, dan dalam pemberitahuan tersebut akan diumumkan padi apa yang akan ditanam, serta tidak boleh berbeda jenis padinya. (Ritonga 2. Adapun tahapan-tahapan dalam tradisi pembacan surah Yasin dan surah pilihan sebelum proses tanam padi adalah sebagai Pertama. Tahap persiapan. Adapun pada tahapan awal ini, semua warga desa Simaroken diwajibkan membawa lomang . yang sudah masak sebanyak satu bambu perorang, untuk dimakan bersama di masjid setelah acara selesai. Lamang dikenal sebagai makanan masyarakat Sumatera Barat, yang terbuat dari beras sipulut . yang diisi ke dalam dengan bambu . alang, bulu. Kalau dari segi jenis lamang ini, ada beberapa jenis, proses pembuatannya sama yang membedakannya hanya bahannya saja. Ada beberapa jenis lamang diantaranya, lamang pisang, lamang ubi, lamang durian, lamang jagung. (Resfirul. nama lamang yang terdapat dalam kehidupam masyarakat Sumatera Barat, yaitu Lamang Sipuluik. Lamang Pisang. Lamang Kuning dan Lamang Ubi Di antara lamang yang sering dibuat oleh masyarakat adalah lamang dari sipulut . atau biasa disebut dengan lamang Dari kebiasaan masyarakat desa Simaroken, lamang sipuluiklah yang biasa mereka hidangkan ketika mengadakan Kedua. Tahap Pelaksanaan. Dalam pelaksanaan tradisi tolak bala sebelum menanam padi, maka masyarakat harus mengikuti aturan yang berlaku ditempat tersebut, yaitu: Diharuskan berangkat dari rumah dalam keadaan suci . dan bersih badan dan pakaian. Para jamaah sebanyak 40 orang duduk melingkar dan merapat, serta lutut bersentuhan, selain dari yang 40 orang tersebut duduk seperti biasa sambil bersandar di dinding masjid. Gambar 1: Warga Duduk Melingkar dalam Acara Tolak Bala Rahmat Imanda. Zulheldi. Widia Fithri. Edriagus Saputra | 46 Hikmah. Vol. No. Januari-Juni 2021, p-ISSN: 1829-8419 e-ISSN: 2720-9040 . Jamaah yang 40 orang tersebut dipilih oleh alim AUlama, yaitu orang yang Al-QurAannya. Adapun kenapa duduk melingkar supaya lebih khusuA dalam bermunajat pada Allah, karena siapa yang yang bermunajat pada Allah sebanyak 40 orang, pasti salah satu diantara mereka ada yang diijabah doanya. Setelah warga duduk rapi dan tenang di dalam masjid. AAlim AUlama menunjuk siapa yang akan membawa acara, membaca tahlil, membaca surah pilihan, dan siapa yang membaca doa. Warga mendengarkan dan mengikuti rangkaian acara tradisi tolak bala sebelum menanam, yaitu: Membaca Istighfar . inta ampun kepada Allah darisegala dosa baik jasad maupun hat. Membaca surah al-Fatihah, membaca surah Yasin. Membaca surah al-Ikhlas, al-Falaq dan Al-Naas sebanyak tiga kali. Membaca surah al-Baqarah ayat 1-5. Membaca surah al-Baqarah ayat 163. Membaca surah al-Baqarah ayat 255 . yat Kurs. Membaca surah al-Baqarah ayat 284-286, membaca Tahlil dan Terakhir dilanjutkan dengan berdoa sama-sama yang dipimpin oleh AAlim AUlama. Ketiga, tahap penutupan setelah selesai berdoa bersama-sama sebagai penutup dan permohonan doa kepada Allah, supaya bala yang akan membahayakan tanaman padi menjauh, maka diakhir dari acara ini ialah semua warga masyarakat desa Simaroken secara bersama-sama menikmati masakan Lamang . yang sudah disiapkan Acara makan lamang inilah bentuk rasa syukur warga desa Simaroken pada Allah dan sebagai salah satu jenis tanaman mereka tanam di sawah. Gambar 2: Warga Menyantap Lamang sebagai sajian pada prosesi tolak bala Nilai yang Terkandung pada Prosesi Tradisi Tolak Bala Sebelum Menanam Padi Tradisi Tolak Bala sebelum Tanam Padi pada masyarakat Desa Simaroken Kabupaten Pasaman Provinsi Sumatera Barat dilaksanakan oleh masyarakat setempat, karena selain dalam bentuk kebiasaan masyarakat sekitar, kegiatan tersebut juga memiliki banyak nilai-nilai yang terkandung didalamnya, diantaranya: Sebagai Doa Allah SWT akan membalas bagi hambanya yang berdoa pada-Nya, ada beberapa manfaat dari berdoa, diantaranya sebagai berikut: Doa merupakan perbuatan yang diperintahkan oleh Allah SWT, siapa saja yang berdoa maka ia termasuk bagian yang taat pada Allah SWT, dan siapa terkabul doanya akan mendapat dua kebaikan, pahala dan terkabulnya doa, sedangkan orang yang belum 47 | Tradisi Tolak Bala Sebelum Tanam Padi pada Masyrakat desa Simaroken Hikmah. Vol. No. Januari-Juni 2021, p-ISSN: 1829-8419 e-ISSN: 2720-9040 terkabul ia mendapatkan satu kebaikan yakni nilai ibadah dari doanya. Orang yang berdoa akan mendapatkan berbagai kebaikan dari ibadah doanya, menjadi orang yang rendah hati, dan tidak sebaliknya, bila belum terkabul maka ia tidak berputus asa dari rahmat Allah. Orang yang bedoa akan akan selalu positif thingking terhadap janji Allah tergantung pada kebijaksanaan Allah, cepat atau lambat Allah kabulkan. Dalam masyarkat melakukan ini atas dasar doa terhadap Allah supaya semua bentuk cobaan dijauhkan oleh Allah dari semua warga, sebagaimana firman Allah. EAEaEOaNECoAACeEaAiAE ECOAA Artinya: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akanKuperkenankan bagimu. (Q. S Ghofir: Dalam penjelasan Oppung Manginar kata EAEaEOaNECoAACeEaAiAE ECOAA berarti berdoalah kamu kepadaku, kamu disini tidak berarti satu orang atau dua orang akan tetapi berarti banyak . eminta secara berjamaa. Dan juga firman Allah pada sura EuACUEIAEA A EACEEUCsAAu CeEaiEaE esaE CeEaCOaEaE aCo AACUEa CeEsA aEACUEOaNECAACOEAAE A EOaEACO AACUEaA EIEACa aEEACO CoAAECOECECsACE EAaEACAAEAA CeEaA aEAoEaACEAECUEa Artinya: dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku. Maka . , bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi . egala perintah-K. dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Q. al-Baqarah: Sebagai penanaman niat Dalam kebiasaan masyarakat desa Simaroken melakukan tradisi tolak bala ini, ketika proses pelaksanaan tolak bala sedang menanamkan niat pada Allah, jika penanaman padi mendapatkan hasil yang baik, maka masyarakat akan mengadakan tolak bala. (Salimah, wawancara 2. Menambah berkah Semoga dengan pembacaan AlQurAan yang dibaca dan niat yang ikhlas karena AllahTaAoala, akan mendapatkan keberkahan dalam berusaha di dunia dan mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Sebagai Penolak Bala Dalam tradisi ini, warga masyarakat desa Simaroken melakukan tradisi tolak bala ini dengan makna untuk menolak bala yang ada di desa Simaroken. Bala secara umum, bukan hanya untuk tanaman yang berupa hama saja, akan tetapi, bala itu banyak yang diantaranya penyakit yang akan mengindap ditubuh warga, perpecahan yang akan terjadi diantara sesama warga desa Simaroken, secara umum segala bentuk negatif yang akan merugikan bagi masyarakat desa Simaroken. (Manginar, wawancara 2. Sebagai penolak penyakit Rahmat Imanda. Zulheldi. Widia Fithri. Edriagus Saputra | 48 Hikmah. Vol. No. Januari-Juni 2021, p-ISSN: 1829-8419 e-ISSN: 2720-9040 Hama dan penyakit merupakan sesuatu hama yang dapat merusak hasil pertanian masyarakat setempat, maka dengan kegiatan tolak bala tersebut yang dilakukan oleh masyarakat sebelum menanam padi akan merupakan bentuk ikhtiar dari masyarakat setempat dalam membasmi hama tersebut. Untuk mempererat tali persaudaraan Melalui kegiatan tolak bala yang dilakukan oleh masyarakat Desa simaroken, maka banyak nilai positif yang didapatkan, diantaranya mewujudkan tali silaturrahmi antar masyarakat dengan melakukan setiap pekerjaan secara bersama-sama . ontong Pengaruh Tradisi Tolak Bala Sebelum Menanam Padi Bala berkurang Dari tradisi tolak bala yang masyarakat lakukan, warga merasakan manfaat yang sangat banyak sekali, diantaranya yaitu, segala macam bala tanaman berkurang, baik itu bala tikus, burung pemakan padi, wereng, walang sengit, hama putih, ulat, dll. Jika dibandingkan dengan desa sekitar, jauh lebih aman tanaman desa Simaroken, desa ini tidak ada menjaga tanaman dari hama, sedangkan desa yang lain, dalam hal penjagaan padi perlu penjagaan ekstra diantaranya menciptakan pelindung bagi tanaman padi yang berupa plastik dari serangan tikus, serta mengambil bekasbekas makanan padi dari sawah dan membuangnya ke tempat lain. Selanjutnya desa yang lain menjaga tanaman dari makanan burung . stilah desa Simaroken Mamur. yang sering warga jaga pada waktu pagi dan sore, dijaga waktu pagi karena burung mau makan pagi . dan dijaga pada waktu sore karena burung mau makan malam, dalam waktu tersebut warga sangat ekstra dalam menjaga tanaman padi. (Roslaini, wawancara 2. Dalam kurun waktu kurang lebih satu tahun . ua kali pane. masyarakat desa Simaroken mencoba tidak melakukan tradisi tolak bala ini. Akibatnya, masyarakat merasakan kembali keresahan terhadap banyaknya hama yang datang pada tanaman padi, sehingga warga memutuskan untuk tetap melaksanakan tradisi ini sampai saat sekarang ini. (Simamora, wawancara 2. Peningkatan panen yang dirasakan oleh warga desa Simaroken, bukan sematamata karena turun serentak menanam padi yang mereka lakukan, melainkan karena yang Allah berikan bagi mereka melalui usaha dan doa, sekaligus ikhtiar tolak bala yang mereka lakukan. Itu terbukti dari pernyataan dari dari ketua kelompok tani yaitu Uda . Remon Ritonga, dan Oppung Manginar (Aoalim Dalam pernyataan mereka bahwa, dampak positif dari tradisi tolak bala ini sangatlah banyak, salah satunya ialah meningkatnya pendapatan para warga ketika padi dipanen, justru karena itulah tradisi ini masih tetap dipertahankan oleh warga desa Simaroken. Panen meningkat Dari hasil pendapatan yang warga rasakan setelah melakukan tradisi tolak bala, warga merasakan kepuasan dibanding dari daerah lain, minimal warga mendapatkan 40 kaleng dalam 49 | Tradisi Tolak Bala Sebelum Tanam Padi pada Masyrakat desa Simaroken Hikmah. Vol. No. Januari-Juni 2021, p-ISSN: 1829-8419 e-ISSN: 2720-9040 lungguk, berbeda dengan daerah lain yang sering mengalami kemerosotan pendapatan (Roslaini, wawancara 2. Meningkatnya ekonomi masyarakat Salah satu manfaat yang dirasakan oleh warga desa Simaoken setelah melakukan tradisi tolak bala adalah walaupun pekerjaan warga hanya sekedar sebagai buruh kerja, akan tetapi pembangunan dan ekonomi sebegitu cepat meningkat dibanding dengan desa lain. Salah satu pengalaman dari mereka bercerita bahwa, banyak diantara penduduk desa lain yang berkunjung dari desa mereka tinggal, sambil melihat perubahan dari tatanan pembangunan, dan mereka merasa takjub dan bertanya, apa pekerjaan kalian sehingga begitu cepat pembangunan disini? (Manginar, wawancara 2. Masalah berkurang Tradisi tolak bala juga berperan sampai ahir dari acara tersebut semua masyarakat harus sama-sama makan Lomang sebagi hasil tanaman yang sudah dipanen sebelumnya. Kader generasi maju Tradisi tolak bala menjadi salah satu anak-anak Simaroken, berbeda dengan desa yang lain yang melahirkan anak-anak yang bisa disebut pintar tapi tidak sampai menjadi figur masyarakat atau menjadi peminpin besar, berbeda halnya dengan desa ini, yang melahirkan generasi yang lebih terlatih dalam kegiatan-kegiatan Islam, karakter-karakternya terdidik dengan baik dan tangguh, sehingga terlahir dari ankaanak mereka yang menjadi peminpinpeminpin yang handal dan tangguh, salah satu dinatara mereka adalah Alm Kumpul Ritonga yang terpilih sebagai DPRD Kabupaten Pasaman selama satu priode pada tahun 2019, dan pada tahun ini almarhum menutup usianya. Yang kedua sebagai peredam dari berbagai macam masalah, melalui tradisi ini ukhuwah atau rasa persaudaraan satu kampung begitu kerenggangan yang pernah terjadi, dan saling maaf memaafkan satu sama lain layaknya dihari besar Islam yaitu hari Raya Idul Fitri dan hari Raya Idul Adha. Persatuan tambah erat Tradisi tolak bala ini sebagai penyokong persatuan masyarakat desa Simaroken, dari proses pelaksanaannya terlihat jelas bahwa, seluruh masyarakat harus ikut serta dalam mengikuti acara tersebut, mulai dari awal penetapan hari, penetapan jenis padi yang akan ditanam. Sabar AS terpilihnya sebagai DPRD Provinsi Sumatera Barat selama tiga priode dari tahun 2009 sampai 2020, dan sekarang menjabat sebagai Wakil Bupati Pasaman Timur. (Yanti, wawancara 2. SIMPULAN Tradisi tolak bala yang dilaksanakan oleh masyarakat Simaroken Kabupaten Pasaman merupakan salah satu bentuk jegiatan yang dilakukan secara kontoniu pada saat sebelum menanam padi oleh masyarakat setempat. Kegiatan ini selalu diwariskan kepada generasi selanjutnya, agar tradisi tersebut tidak hilang dengan adanya perkembangan zaman. Pelaksanaan Rahmat Imanda. Zulheldi. Widia Fithri. Edriagus Saputra | 50 Hikmah. Vol. No. Januari-Juni 2021, p-ISSN: 1829-8419 e-ISSN: 2720-9040 tradisi tolak bala ini dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh masyarakat setempat dan menyiapkan bahan-bahan tertentu, seperti makanan yang akan dihidangkan dan lamang. Kegiatan tolak bala sebelum menanam padi ini dipimpin oleh seorang ulama yang telah dipercaya oleh masyarakat setempat dan juga memimpin pelaksanaan acara tolak bala serta diikuti oleh masyarakat setempat. DAFTAR PUSTAKA