Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu ISSN: P 2527-6875 | E 2684-9569 Vol. No. June 2025 | Pages. This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. Interntional Lincese Al-Bahtsu Jurnal Penelitian Pendidikan Islam Desain Pengembangan Kurikulum di Pondok Pesantren Salafiyyah Hidayatul MubtadiAoien Kota Bengkulu Desy Eka Citra Dewi1. Muhammad Agus Ainur Rasyid2 UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu dewiekacitra@mail. ainurrosyid339@gmail. Abstract This research discusses the curriculum development design of Salafiyyah Hidayatul Mubtadi'ien Islamic Boarding School in Bengkulu city. The research aims to find out how the curriculum development design at Hidayatul Mubtadi'ien Salafiyyah Islamic Boarding School in Bengkulu city. This research was conducted using a qualitative method, which is a method directed at the setting and individuals holistically . The population in this study was the Hidayatul Mubtadi'ien salafiyyah boarding school in Bengkulu city. The results showed that factually, the Hidayatul Mubtadi'ien salafiyah boarding school in Bengkulu city is an Islamic educational institution that still maintains its traditionalism both in terms of curriculum and learning system. This is revealed that the curriculum that is applied only emphasizes the learning of classical books . ellow book. by exploring and examining the sciences contained therein. This means that the main focus of Hidayatul Mubtadi'ien Salafiyah Islamic Boarding School in Bengkulu city is not teaching general knowledge. Explicitly, the curriculum of Pondok Pesantren Salafiyah Hidayatul Mubtadi'ien Bengkulu city consists of intracurricular, co-curricular and extracurricular curricula. Keywords: Development. Curriculum. Boarding School. How to cite this article: Dewi. Rasyid. Desain Pengembangan Kurikulum di Pondok Pesantren Salafiyyah Hidayatul MubtadiAoien Kota Bengkulu. Al-Bahtsu: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 10. , 105-113. Received: 1/17/2025 Revised: 4/17/2025 Accepted: 5/7/2025 106 | Desy Eka Citra Dewi1. Muhammad Agus Ainur Rasyid2 PENDAHULUAN Kurikulum adalah rancangan yang memuat seperangkat mata pelajaran dan materi yang akan dipelajari, atau yang akan diajarkan guru kepada siswa. Dengan demikian maka kurikulum banyak membantu pekerjaan guru dalam proses pembelajaran. Bagi guru, kurikulum merupakan petunjuk atau pedoman tentang materi pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa di samping strategi, metode atau teknik mengajar serta buku sumber materi ajar. Nana Sudjana menjelaskan bahwa kurikulum adalah program belajar yang diharapkan memiliki siswa dibawah tanggung jawab sekolah dalam rangka untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sehingga, kurikulum sebagai program belajar bagi siswa harus memiliki tujuan yang ingin dicapai, isi program yang harus diberikan dan strategi bagaimana melaksanakan program tersebut. Melihat pernyataan tersebut maka kegiatan pembelajaran selama satu tahun kalender akan terpetakan dan dapat terlihat peluang keefektifan proses pembelajaran. Menurut Muray Print mengungkapkan bahwa kurikulum meliputi: Planned learning experinces. Offered withim an educational institution/program. Represented as a document. Includes experiences resulting from implementing that document. Berdasarkan definisi tersebut. Print memandang sebuah kurikulum meliputi perencanaan pengalaman belajar, program sebuah lembaga pendidikan yang diwujudkan dalam sebuah dokumen serta hasil dari implementasi dokumen yang telah disusun. Langkahlangkah tersebut sangat membantu untuk kegiatan evaluasi sehingga diharapkan akan mendapatkan formula yang lebih baik dan bersifat berkelanjutan untuk menciptakan inovasi pengembangan kurikulum yang mana tujuan akhirnya adalah keefektifan dan efisiensi pembelajaran Ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang cukup pesat, akan tetapi peranan guru masih memiliki posisi yang sangat penting. Bahkan dapat diakatakan bahwa hasilhasil teknologi tersebut akan menambah beban dan tanggung jawab seorang guru. Oleh karena itu, guru sebagai salah satu komponen utama pendidikan dituntut untuk mampu memenuhi kewajibannya sebagai seorang professional, dan tentu saja bertugas untuk merancang desain pengembangan kurikulum yang baik. Profesionalisme guru menjadi salah satu isu yang senantiasa digaungkan dalam dunia pendidikan. Untuk menciptakan peserta didik yang memiliki pemahaman dan prestasi belajar, dibutuhkan tenaga pendidik yang kompeten dan profesional dalam bidangnya. Tidak profesionalan guru dalam melaksanakan tugasnya berimplikasi luas terhadap kualitas pendidikan. Perubahan dan dinamika pendidikan Islam memberikan tantangan terhadap keberadaan lembaga pendidikan tradisional seperti pesantren. Pergeseran hambatan di dunia pesantren tahun 2024 tidak sama dengan yang dihadapi 20 tahun mundur Memasuki abad 21 hambatan lebih kompleks jenisnya. Maka solusi yang akan ditawarkan sifatnya adalah beragam dan perlu yang namanya aspek fleksibelitas. Masyarakat Indonesia 2024 secara umum bahkan menurut peneliti banyak yang menganggap sistem Punishment di pesantren salafiyyah tidak pantas diberikan kepada peserta didik yang sifatnya mengandung kontak fisik. Hal ini bertolak belakang dengan yang terjadi pada masyarakat Indonesia kurang lebih 30 tahun yang lalu. Sehingga muncul perdebatan apakah Punishment yang melibatkan kontak fisik lebih baik dibandingkan Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. June 2025 | Pages. 105-113 | 107 dengan yang sebaliknya. Untuk konteks zaman 2024 sebagian masyarakat lebih memilih untuk tidak menggunakan Punishment dengan kontak fisik. Sistem pendidikan serta kurikulum pesantren kini menjadi diskursus bukan hanya sekedar karena kebijakan pengembangan kurikulum pendidikan nasional yang selalu berubah, tetapi karena dinamisasi pesantren dalam mengembangkan kurikulum. Pesantren membentuk lembaga pendidikan formal yang menyerap muatan kurikulum yang dibutuhkan dalam konteks kebutuhan masyarakat akan pendidikan modern yang membutuhkan lembaga legal formal yang mampu mengeluarkan ijazah, sebagai suatu formalitas kelulusan dalam menjalani program pendidikan. Di sisi lain, penambahan mata pelajaran umum di dalam sekolah keagamaan . alam hal ini adalah pesantren dan lembaga pendidikan Isla. merupakan suatu wujud tantangan kebutuhan zaman akan kebutuhan pendidikan yang memberikan orientasi pengajaran, dan pemberian bekal hidup yang berbeda. Kondisi seperti ini juga belaku pada pengembangan pendidikan Islam . erutama dalam pengembangan kurikulum pendidika. Menanggapi fenomena bahwa beban belajar pserta didik pada akhirnya bertambah maka peneliti beranggapan bahwa hal tersebut tidak baik untuk diberikan kepada peserta didik. Beban belajar diatas 3 jenis mata pelajaran menurut peneliti tidak ideal untuk diterapkan. Berkaca dari negara luar maka kita ambil contoh negara Jepang. Negara Jepang dikenal karena pendekatannya yang sangat terstruktur dan berorientasi pada disiplin. Sistem pendidikan Jepang menekankan nilai-nilai seperti ketekunan, tanggung jawab, dan kerjasama, yang tercermin dalam budaya kerja keras dan disiplin yang melekat pada masyarakat Jepang. Hal ini telah menghasilkan siswa-siswa yang memiliki keterampilan akademik yang kuat serta integritas moral yang tinggi. Finlandia, misalnya, sering kali dianggap sebagai model bagi sistem pendidikan yang inklusif dan berorientasi pada Dengan fokus pada individualitas siswa dan pendekatan kurikulum yang holistik. Finlandia telah berhasil menciptakan lingkungan belajar yang merangsang perkembangan intelektual dan sosial siswa secara seimbang. Kemudian akan dibahas tentang pengembangan kurikulum PAI. Pengembangan kurikulum PAI dapat diartikan sebagai: . kegiatan menghasilkan kurikulum PAI . Proses yang mengaitkan satu komponen dengan yang lainnya untuk menghasilkan kurikulum PAI yang baik . kegiatan penyusunan desain, pelaksanaan, penilaian dan penyempurnaan kurikulum PAI. Dalam realitas sejarahnya, pengembangan kurikulum PAI tersebut mengalami perubahan-perubahan paradigma, walaupun dalam beberapa hal tertentu paradigma sebelumnya masih tetap dipertahankan hingga sekarang. Hal ini dapat dicermati dari fenomena berikut: . perubahan dari tekanan pada hafalan dan daya ingatan tentang teks-teks dari ajaran agama Islam, serta disiplin mental spiritual sebagaimana pengaruh dari timur tengah, kepada pemahaman tujuan, makna dan motivasi beragama islam untuk mencapai tujuan pembelajaran PAI, . perubahan dari cara berpikir tekstual, normatif dan absolutis pada cara berfikir historis, empiris, dan konstektual dalam memahami dan menjelaskan ajaran-ajaran dan nilai-nilai agama Islam, . perubahan dari tekanan pada produk atau hasil pemikiran keagamaan Islam dari para pendahulunya kepada proses atau metodologinya sehingga menghasilkan produk tersebut, . perubahan dari pola pengembangan kurikulum PAI yang hanya mengandalkan pada para pakar dalam memilih dan menyusun isi kurikulum PAI kearah This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 108 | Desy Eka Citra Dewi1. Muhammad Agus Ainur Rasyid2 keterlibatan yang luas dari para pakar, guru, peserta didik, masyarakat untuk mengidentifikasi tujuan PAI dan cara mencapainya. Menurut Abuddin Nata, pendidikan Islam merupakan solusi bagi suatu generasi ini untuk menghadapi tantangan-tantangan zaman. Pendidikan Islam diharapkan dapat menghasilkan generasi yang menjadi manusia seutuhnya, bukan manusia seperti robot, namun bukan juga manusia yang tertinggal dari perkembangan teknologi. Salah satu lembaga pendidikan Islam yang dipercaya dapat membentuk karakter manusia seutuhnya . nsan kami. adalah pondok pesantren. Dalam beberapa penelitian terhadap pesantren ditemukan bahwa pesantren mempunyai kewenangan tersendiri dalam menyusun dan mengembangan kuurikulumnya. Menurut penelitian Lukens-Bull dalam bukunya Abdullah Aly, secara umum kurikulum pesantren dapat dibedakan menjadi empat bentuk, yaitu. Pendidikan Agama, pengalaman dan pendidikan moral, sekolah dan pendidikan umum serta, ketrampilan dan kursus. Kemudian dalam pondok pesantren dikenal beberapa jenis pesantren. Dianataranya berbasis pesantren modern, semi modern dan salafiyyah. Maka dalam penelitian ini akan membahas tentang pondok pesantren salafiyyah. Pondok pesantren salafi yaitu pondok pesantren yang mengajarkan kitab-kitab Islam klasik . sebagai inti pendidikan di pondok pesantren. Sistem madrasah diterapkan untuk memudahkan sistem sorogan yang dipakai dalam bentuk pengajian-pengajian bentuk lama, tanpa mengenalkan pengajaran pengetahuan umum dalam sistem pendidikannya. Dalam rangka proses pengajaran kitab-kitab Islam klasik tersebut, seorang kyai menggunakan metodemetode: Sorogan, yaitu pelaksanaan pembelajaran dengan cara santri menghadap kyai seorang demi seorang dengan membawa kitab yang dipelajarinya berdasarkan tingkatannya. Bandongan, yaitu pelaksanaan pembelajaran dengan metode dimana para santri duduk mengelilingi kyai. Kyai membacakan kitab, santri menyimak dan membuat catatan sendiri. Muhawarah, yaitu pelaksanaan pembelajaran dalam pondok pesantren dengan latihan bercakap-cakap dengan bahasa arab Arab yang diwajibkan oleh pondok pesantren kepada para santri. Mudzakarah, yaitu pelaksanaan pembelajaran di dalam pondok dengan cara mengadakan pertemuan ilmiah, yang bisa dilaksanakan antara kyai dengan para santri dan antara santri dengan santri Pondok pesantren salaf sering dianggap oleh masyarakat zaman 2024 sebagai pendidikan yang berbeda dengan pendidikan yang lain karena terpisah dengan arus utama pendidikan nasional serta kurang responsif terhadap tuntutan perubahan zaman dan masyarakat. Hal tersebut memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positifnya pondok pesantren menjadi lembaga pendidikan penjaga kemurnian ajaran Islam dari berbagai hal yang dianggap dapat menyimpangkan Islam dari prinsip aslinya. Akan tetapi, nilai negatifnya sangat terasa bahwa banyak pondok pesantren salaf cenderung ditinggalkan oleh masyarakat karena dianggap tidak memenuhi tuntutan perubahan zaman dan masyarakat, pondok pesantren salaf dianggap beberapa masyarakat sulit menerima hal-hal baru yang berada di luar dogma yang telah dikembangkan dipesantren. Perspektif tentu saja masih menjadi polemik, karena fakta dilapangan menunjukkan Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. June 2025 | Pages. 105-113 | 109 bahwa yang terjadi adalah sebaliknya. Banyak lulusan pesantren salafiyyah yang menjadi pelopor perubahan besar dimasyarakat. Maka kita mengenal sosok-sosok berpengaruh seperti almarhum KH. Abdurrahman Wahid. Prof. Dr. Quraisy Syihab. Ir. KH. Musthafa Bisri dan lain-lain. Nama-nama tersebut memiliki latar belakang pendidikan pesantren Pada saat ini, pondok pesantren salafiyah dilematis dalam menghadapi suatu keadaan yang pada satu sisi pesantren harus mempertahankan diri menjadi lembaga pendidikan tradisional yang mempertahankan ajaran agama Islam. Di sisi lain, pesantren perlu merespons situasi dan kondisi masyarakat, karena dalam era globalisasi, hampir semua aspek kehidupan manusia mengalami perubahan, mulai dari sosial masyarakat, kenegaraan, keluarga, hingga lembaga pendidikan agama yang juga terdampak oleh arus Pengetahuan manusia berkembang pesat seiring dengan kemajuan ilmu Oleh karena itu, tidak mungkin corak dan nuansa pemikiran ke-Islaman, termasuk pendidikan Islam, tetap stagnan tanpa mengalami perubahan. Pengembangan kurikulum di pesantren melibatkan beberapa tantangan khusus yang perlu diatasi secara Salah satunya adalah relevansi kurikulum dengan tujuan pendidikan Islam serta kebutuhan zaman. Sementara itu, keterbatasan sumber daya manusia, finansial, dan infrastruktur sering menjadi hambatan dalam implementasi kurikulum yang baru. Di sisi lain, pesantren juga dihadapkan pada tuntutan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dalam konteks globalisasi dan teknologi yang berkembang pesat. Pentingnya mematuhi regulasi pendidikan nasional tanpa kehilangan identitas keislaman yang kuat juga menjadi perhatian utama, sementara partisipasi aktif dari berbagai stakeholder menjadi kunci dalam memastikan kesuksesan pengembangan kurikulum yang berkelanjutan di Dengan demikian maka peneliti menganggap penting untuk mengkaji lebih dalam terkait pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam di Pondok Pesantren Salafiyyah. METODE Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, yaitu metode yang diarahkan pada latar dan individu secara holistic . Populasi dalam penelitian ini adalah pondok pesantren salafiyyah Hidayatul MubtadiAoien kota Bengkulu. HASIL DAN PEMBAHASAN M Ridwan Nastir memberikan gambaran mengenai tingkat keanekaragaman pranata sesuai dengan spektrum komponen serta pengembangan suatu pesantren. Yang diklasifikasikan menjadi lima bagian, yaitu. Pondok pesantren salaf/klasik. yaitu pondok pesantren yang didalamnya terdapat sistem pendidikan salaf . eton, sorogan, bandonga. dan sistem klasikal . Pondok pesantren semi berkembang. yaitu pondok pesantren yang didalamnya terdapat sistem pendidikan salaf . eton, sorogan, bandonga. dan sistem klasikal . swasta dengan kurikulum 90% agama dan 10% umum. This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 110 | Desy Eka Citra Dewi1. Muhammad Agus Ainur Rasyid2 . Pondok pesantren berkembang. yaitu pondok pesantren seperti semi berkembang, hanya saja sudah lebih bervariasi dalam bidang kurikulumnya, yakni 70% agama dan 30% Disamping itu juga diselenggarakan madrasah SKB tiga menteri dengan penambahan diniyah. Pondok pesantren khalaf/modern. yaitu seperti pondok pesantren berkembang, hanya saja sudah lebih lengkap lembaga pendidikan yang ada di dalamya, antara lain diselenggarakan sistem sekolah umum dengan penambahan diniyah . raktek membaca kitab sala. , perguruan tinggi . aik umum, maupun agam. , bentuk koperasi dan dilengkapi dengan takhassus . ahasa Arab dan bahasa Inggri. Pondok pesantren Ideal. yaitu sebagaimana bentuk pondok pesantren modern hanya saja lembaga ppendidikan yang ada lebih lengkap, terutama bidang ketrampilan yang meliputi pertanian, teknik, perikanan, perbankankan, dan benar-benar memperhatikan kualitasnya dengan tidak menggeser ciri khusus kepesantrenannya yang masih relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman. Dengan adanya bentuk tersebut diharapkan alumni pondok pesantren benar-benar berpredikat khalifah fil Secara faktual pondok pesantren salafiyah Hidayatul MubtadiAoien kota Bengkulu adalah lembaga pendidikan Islam yang masih mempertahankan ketradisionalannya baik dari segi kurikulum maupun sistem pembelajarannya. Hal ini terungkap bahwa kurikulum yang diberlakukan hanya menekankan pada pembelajaran kitab-kitab klasik . itab kunin. dengan menggali dan menelaah ilmu-ilmu yang terdapat di dalamnya. Artinya Pondok pesantren salafiyah Hidayatul MubtadiAoien kota Bengkulu fokus utamanya tidak mengajarkan ilmu pengetahuan umum. Secara eksplisit kurikulum Pondok pesantren salafiyah Hidayatul MubtadiAoien kota Bengkulu terdiri atas kurikulum intrakurikuler, kokurikuler dan kurikulum ekstrakurikuler. Kurikulum intrakurikuler mengajarkan semua bidang ilmu agama pada pondok pesantren yang bersifat umum atau campuran, dan mengajarkan hanya bagian bidang ilmu agama khusus bagi pondok pesantren salafi Pada kurikulum kokurikuler antara pondok pesantren salafi khusus dan campuran sama-sama menekankan pada materi penunjang, materi tersebut meliputi ilmu nahwu, ilmu saraf, ilmu fiqih, ilmu Al-QurAoan, ilmu tarikh, ilmu hadits, ilmu tafsir dan ilmu tasawuf. Adapun untuk kurikulum intrakurikuler tidak adanya perbedaan, karena hal ini bertujuan untuk mengembangkan bakat dan minat yang dimiliki oleh santri, kegiatan-kegitan yang termasuk didalamnya meliputi. nasyid atau khadrah, muhadarah, jamAoiyatull qurraAo dan juga pencak silat. Selanjutnya dari segi metode pembelajaran, sebagaimana lazimnya yang dilakukan di pondok-pondok pesantren salafiyah menggunakan metode sorogan dan bandongan. Hasil penelitain ini menyimpulkan. Pesantren sebagai lembaga pendidikan membutuhkan kurikulum yang dinamis, fleksibel, terbuka dan mampu beradaptasi dengan situasi terkini. Dengan demikian, pengembangan kurikulum yang dilakukan di pesantren salafiyyah hendaknya dapat memberikan landasan, isi, dan menjadi pedoman bagi pengembangan kemampuan santri secara optimal sesuai tuntutan dan tantangan perkembangan zaman seperti pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang utuh dan terpadu, serta dapat didemontrasikan santri sebagai hasil belajar. Pesantren memiliki tradisi keilmuan yang berbeda dengan tradisi keilmuan yang ada pada lembaga pendidikan Islam lainnya, seperti madrasah atau sekolah. Pesantren salafiyyah sebagai lembaga independen dalam melakukan penataan terhadap sistem pendidikan yang Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. June 2025 | Pages. 105-113 | 111 dikembangkannya memiliki kerangka yang berbeda. Banyak keunggulan yang dimiliki dari sistem pendidikan yang ada di pesantren, yang dapat membuat beberapa lembaga pendidikan untuk mengadopsinya. Berikut adalah kegiatan santri pesantren salafiyyah hidayatul mubtadiAoien kota Bengkulu yang merupakan penerapan dari perencaan kurikulum pesantren. Hasil dari Suatu hal yang menarik dalam kontek pendidikan di pondok pesantren salafiyah adalah sistem asrama, yang secara tidak langsung dapat membina dan mendidik santri menjadi manusia yang baik . Dalam artian aktivitas santri dapat terpantau lebih banyak dan pengetahuan serta perkembangan menjadi lebih dalam dan lebih banyak. Waktu pembelajaran dilaksanakan setelah shalat subuh yaitu kegiatan belajar membaca Al-Quran menggunakan metode yang beragam menyesuaikan tingkatan kemampuan santri. Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan melaksanakan piket di pagi hari untuk menanamkan sikap disiplin dalam menjaga kebersihan. Dalam hal ini pesantren menaruh perhatian yang sangat besar dalam menjaga kebersihan pondok pesantren. Kemudian aktifitas dilanjutkan melaksanakan sholat Dhuha berjamaah yang diawali dengan membaca surat Al-WaqiAoah. Setelah pelaksanaan sholat Dhuha berjamaah kegiatan selanjutnya adalah pembelajaran kitab tafsir Al-QurAoan yaitu kitab Tafsir Jalalain dan pembelajaran kitab tasawuf yaitu kitab AoIdzhotul MuAominin dengan menggunakan metode Bandongan. Adapun khusus pada hari jumAoat kegiatan dialihkan kepada kegiatan Pencak Silat GASMI. Kemudian pada 09. 00 sampai 09. 30 WIB, santri dipersilahkan untuk istirahat terlebih dahulu untuk melanjutkan kepada kegiatan pembealajaran jam yang kedua yaitu pembelajaran Madrasah yang mengajarkan beberapa jenis pelajaran seperti Fiqih. Nahwu. Shorof. Tarikh. Tasawuf. Ilmu Al-QurAoan dan ilmu Hadits dengan menggunakan metode Sorogan. Pembelajaran jam kedua selesai pada jam 11. 00 WIB. Kegiatan berikutnya adalah sholat dzuhur berjamaah yang dilanjutkan kegiatan pengajian umum yaitu kajian kitab Ibnu Aqil menggunakan metode Bandongan. Pada jam 00 WIB kegiatannya adalah piket sore kemudian dilanjutkan bersih diri dan dilanjutkan pelaksanaan sholat Ashar berjamaah. Setelah sholat Ashar dilaknakan maka kegiatan selanjutnya adalah kajian umum yaitu kajian kitab Dzurrotun Nashihin dan kitab AoIdzotul MuAominin menggunakan metode Bandongan yang keduanya merupakan kitab Tasawuf. Kegiatan selanjutnya adalah sholat maghrib berjamaah dan kegiatan belajar membaca AlQurAoan menggunakan berbagai macam metode menyesuaikan tingkatan kemampuann Dan yang terakhir adalah makan malam setelah sholat IsyaAo berjamaah yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan Musyawarah kitab madrasah sampai pukul 21. WIB. Selanjutnya para santri diperkenankan untuk beristirahat. kemudian akan dibahas terkait evaluasi yang merupakan langkah selanjutnya setelah poin perencanaan dan penerapan. evaluasi secara berkala sangat perlu dilakukan guna mengontrol dan mengetahui apakah dalam proses pengembangan kurikulum berjalan sesuai goal atau tidak. Di pondok pesantren salafiyyah hidayatul mubtadiAoien kota Bengkulu, kegiatan evaluasi dilakukan secara berkala yaitu setiap bulan memantau dan menilai efektivitas kurikulum yang telah diimplementasikan. Evaluasi ini dapat dilakukan melalui observasi langsung maupun supervisi pembelajaran. Hasil dari evaluasi bulanan ini kemudian digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki dan mengembangkan program kurikulum selanjutnya. Evaluasi yang terus menerus memastikan bahwa kurikulum selalu relevan dan efektif dalam mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 112 | Desy Eka Citra Dewi1. Muhammad Agus Ainur Rasyid2 KESIMPULAN Secara faktual pondok pesantren salafiyah Hidayatul MubtadiAoien kota Bengkulu adalah lembaga pendidikan Islam yang masih mempertahankan ketradisionalannya baik dari segi kurikulum maupun sistem pembelajarannya. Hal ini terungkap bahwa kurikulum yang diberlakukan hanya menekankan pada pembelajaran kitab-kitab klasik . itab kunin. dengan menggali dan menelaah ilmu-ilmu yang terdapat di dalamnya. Artinya Pondok pesantren salafiyah Hidayatul MubtadiAoien kota Bengkulu fokus utamanya tidak mengajarkan ilmu pengetahuan umum. Secara eksplisit kurikulum Pondok pesantren salafiyah Hidayatul MubtadiAoien kota Bengkulu terdiri atas kurikulum intrakurikuler, kokurikuler dan kurikulum ekstrakurikuler. Kurikulum intrakurikuler mengajarkan semua bidang ilmu agama pada pondok pesantren yang bersifat umum atau campuran, dan mengajarkan hanya bagian bidang ilmu agama khusus bagi pondok pesantren salafi Pada kurikulum kokurikuler antara pondok pesantren salafi khusus dan campuran sama-sama menekankan pada materi penunjang, materi tersebut meliputi ilmu nahwu, ilmu saraf, ilmu fiqih, ilmu Al-QurAoan, ilmu tarikh, ilmu hadits, ilmu tafsir dan ilmu tasawuf. Adapun untuk kurikulum intrakurikuler tidak adanya perbedaan, karena hal ini bertujuan untuk mengembangkan bakat dan minat yang dimiliki oleh santri, kegiatan-kegitan yang termasuk didalamnya meliputi. nasyid atau khadrah, muhadarah, jamAoiyatull qurraAo dan juga pencak silat. Selanjutnya dari segi metode pembelajaran, sebagaimana lazimnya yang dilakukan di pondok-pondok pesantren salafiyah menggunakan metode sorogan dan bandongan. DAFTAR PUSTAKA