Jurnal EduGrow. Volume. Nomor. Edisi. Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TIME TOKEN DALAM MENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA PESERTA DIDIK KELAS IV SD NEGERI 2 BATUR BANJARNEGARA Martiana Dwi Rahmawati 1. Ageng Satria Pamungkas 2. Nur Innayah Ganjarjati3 1,2,3 STIT Tunas Bangsa Banjarnegara e-mail : irega. gera@gmail. Abstrak Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan keterampilan berbicara peserta didik dengan model pembelajaran time token pada siswa kelas IV SD Negeri 2 Batur, tahun ajaran 2023/2024. Jenis penelitian yang dipakai adalah Penenlitian Tindakan Kelas . lassroom action researc. , yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian yaitu siswa kelas IV SD Negeri 2 Batur yang berjumlah 10 siswa. Desain penelitian yang digunakan yaitu siklus dengan model spiral yang dikembangkan oleh Kemiss dan Taggart. Metode penelitian yang digunakan meliputi wawancara, pretest, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penerapan model pembelajaran time token dapat meningkatkan keterampilan berbicara peserta didik kelas IV SD Negeri 2 Batur. Peningkatan ini ditunjukan oleh perolehan persiklus yang terus meningkat. Rata-rata peningkatan penelitian ini sebesar 40% pada siklus I meningkat menjadi 75% pada siklus II Kata Kunci : Model Pembelajaran. Time Token. Kemampuan Berbicara Abstract The research was carried out with the aim of improving studentAos speaking skills usimg time token learning model of fourth grade student at SD Negeri 2 Batur, academic year 2023/2024. The type research used was classroom action research, which was carried out two cyles. The research subjects were fourth grade students at SD Negeri 2 Batur, totaling 10 students. The research design used is a cycle with a spiral model developed by Kemmis and Taggart. The research methods used include : interviews, pretest, observation and documentation. The result of this study indicate that the application of the time token learning model can improve the speaking skills of fourth grade students at SD Negeri 2 Batur. This increase is indicated by the ever-increasing percycle gain. In the first cycle there was an increase of 40% and 75% in siklus II. Keywords: Learning Model. Time Token. Speaking Ability PENDAHULUAN Bahasa tidak pernah lepas dan terus digunakan sebagai alat berkomunikasi kepada Komunikasi ialah proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi antara satu sama lain yang pada gilirannya terjadi saling pengertian Menurut Homan . interaksi adalah proses kehidupan dimana aktivitas yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain akan diberikan respon yang bisa berupa Menurut Djamarah . komunikasi adalah proses penyampaian suatu Jurnal EduGrow. Volume. Nomor. Edisi. Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . gagasan dari seseorang ke orang lain. Menurut Komala . komunikasi adalah proses pertukaran informasi yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yang akan saling memberikan pengertian yang mendalam. Perbedaan bahasa perasaan dan pikiran terletak pada seberapa jauh suatu ekspresi dapat diukur karena bahasa digunakan untuk mengungkapkan perasaan dan bahasa sesungguhnya mewakili keinginan, harapan, dan bahkan impian manusia. Menurut Suwarna . Suatu keinginan, harapan, dan bahkan impian manusia bisa tercapai jika seseorang bersedia mengomunikasikan bahasa tersebut dapat mengena atau mudah dipahami setiap manusia. Di perlukan seorang manusia menguasai suatu bahasa. Keterampilan berbahasa memerlukan pembinaan dan pelatihan yang Keterampilan berbahasa peserta didik yang baik akan memberikan keuntungan bagi peserta didik bahwa tidak mungkin suatu informasi dapat disampaikan tanpa menggunakan bahasa dan keterampilan berbahasa yang baik keterampilan berbahasa menjadi hal yang penting untuk dikuasai sebab akan memudahkan peserta didik dalam berkomunikasi kepada sesama dalam kehidupannya. Keterampilan berbahasa adalah kemampuan mengucapkan bunyi artikulasi atau katakata untuk mengekspresikan, mengatakan serta menyatakan pikiran, gagasan dan perasaan. Pendengar menerima informasi melalui rangkaian nada, tekanan dan penempatan. Jika komunikasi berlangsung secara tatap muka ditambah dengan gerak tangan dan muka air atau mimik (Tarigan,1983:. Jadi keterampilan berbahasa adalah suatu ungkapan pikiran ataupun gagasan atau pengetahuan yang dimiliki. Menurut Tarigan . Berkaitan dengan pentingnya kompetensi berbicara. Perlu ada proses belajar mengajar yang sarat akan Baik dari peserta didik maupun dari guru maka perlu model pembelajaran yang Yang dapat mengembangkan kemampuan peserta didik berbicara. Proses pembelajaran berpengaruh terhadap kemampuan berbicara peserta didik. Pada peserta didik yang paham dengan gagasan atau ilmu yang dimiliki ketika mereka menyampaikan gagasan itu dengan berbicara maka akan terlihat lebih luwes. Model pembelajaran time token merupakan salah satu contoh kecil dari penerapan proses pembelajaran belajar yang menempatkan peserta didik sebagai subjek. Sepanjang proses belajar, aktivitas peserta didik menjadi titik perhatian utama dengan kata lain mereka selalu dilibatkan secara aktif. Guru berperan mengajak peserta didik mencari solusi bersama terhadap permasalahan yang ditemui (Huda,2014:. Dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran time token menekankan kepada siwa untuk terlibat aktif dalam proses belajar dan berinteraksi sosial dengan teman lainnya sehingga antar peserta didik atau antar peserta didik dengan guru terjalin komunikasi yang baik. Meningkatkan kemampuan berbicara peserta didik yang baik, harus dilakukan dengan pembinaan dan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Pembelajaran menyenangkan adalah rancangan pembelajaran dengan tujuan menciptakan suasana yang membebaskan siswa untuk berani mencoba, bertindak, berkarya, dan mengemukakan pendapat sehingga perhatian siswa dapat dipusatkan secara penuh pada pelajaran (Fadhilah,2014:. Penyampaian kompetensi berbicara yang menyenangkan, tentunya akan membangkitkan motivasi peserta didik untuk terampil berbicara dalam situasi apapun. Hal tersebut tentunya menjadi harapan, bukan hanya bagi peserta didik sebagai peserta didik, melainkan juga bagi guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran yang dilakukan bersama peserta didik di dalam kelas. Diperlukan suatu Jurnal EduGrow. Volume. Nomor. Edisi. Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . interaksi belajar mengajar yang baik, antara peserta didik dengan peserta didik lainya, atau antara peserta didik dengan guru sebagai fasilitatornya. Interaksi belajar mengajar dapat diartikan adanya kegiatan interaksi tenaga pengajar yang melaksanakan tugas mengajar di satu pihak, dengan peserta didik yang sedang melaksanakan kegiatan belajar di pihak lain. Interaksi antara pengajar dengan peserta didik, diharapkan merupakan proses motivasi. Agar dapat melakukan kegiatan belajar secara optimal (Yusuf,2014:. Pembelajaran dapat optimal tidak didapat instan tanpa suatu yang Proses tersebut dapat terarah dengan mengunakan suatu model pembelajaran. Hal ini bertujuan untuk memudahkan siswa dalam menyerap materi yang disampaikan oleh guru selain itu juga dapat berfungsi sebagai suatu alat dalam pengajaran. Perlu diperhatikan adalah ketepatan sebuah model pembelajaran mengajar yang dipilih dengan tujuan, jenis dan juga sifat materi pengajaran, serta kemampuan guru dalam memahami dan melaksanakan model pembelajaran tersebut. Guru hendaknya cermat dalam memilih dan menggunakan model pembelajaran mengajar terutama yang banyak melibatkan siswa secara aktif. Berdasarkan awal observasi dengan Waka Kurikulum yang dilakukan pada tanggal, 10 Agustus 2022 di SD Negeri 2 Batur, ternyata guru dalam melaksanakan proses belajarmengajar kurangnya perencanaan, model pembelajaran yang dipergunakan kurang sejalan dengan materi pelajaran, dan situasi siswa di kelas serta pada mata pelajaran IPAS kemampuan keterampilan berbicara siswa masih kurang. Sejalan dengan tujuan pembelajaran pertahap pada mata pelajaran IPAS maka perlu keterampilan berbicara guna pencapaian tujuan pembelajaran. Kurangnya keterampilan berbicara ditunjukan oleh perolehan nilai yang kurang atau perolehan nilai masih dibawah kriteria ketuntasan Sikap peserta didik yang ragu, kurang percaya diri, dan malu menjadi kendala untuk mencapai keterampilan berbicara. Selain itu juga diperoleh data bahwa pada dasarnya model pembelajaran belum sesuai. Sehingga masih mengalami kesulitan dalam memilih dan menggunakan model pembelajaran. Pembelajaran yang menarik untuk dapat meningkatkan keterampilan berbicara. Peserta didik pada mata pelajaran IPAS. Hal ini menyebabkan sebagian besar peserta didik jenuh. Presentase peserta didik tidak aktif 70% dalam kegiatan pembelajaran IPAS. Peserta didik cenderung bermalas-malasan. sehingga keterampilan berbicara peserta didik pun menjadi kurang baik atau siswa tidak menguasai materi. Pembelajaran IPAS memadukan konsep pembelajatran IPA dan IPS. Pada pembelajaran IPAS SD mata pelajaran IPAS meliputi sejarah, dan pengetahuan alam lain. Tujuan memahami pengetahuan sejarah dalam IPAS yaitu membangun memori kolektif sebagai bangsa dan mengenal bangsanya sehingga menjadikan landasan dalam membangun persatuan dan membangun kesatuan. Pada mata pelajaran IPAS ditekankan pemahaman kepada peserta didik. Jadi dapat disimpulkan mata pelajaran IPAS memerlukan adanya model pembelajaran yang tepat untuk menggali pemahaman yang dimiliki siswa setelah mendapat materi. Tidak semua siswa mampu berkonsentrasi dalam waktu yang relatif lama dan model pengajaran serta ketersediaan fasilitas merupakan hal yang ikut mempengaruhi proses belajar mengajar. Menurut Brain Balance Center mengemukakan rentang konsentrasi anak pada usia 6-10 tahun adalah 12-18 menit. Oleh karena itu perlu diciptakan suatu cara agar keterampilan berbicara siswa dalam mata pelajaran IPAS ini dapat meningkat, dan berdasarkan pra observasi yang telah dilakukan di SD Negeri 2 Batur tersebut umumnya Jurnal EduGrow. Volume. Nomor. Edisi. Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . siswa menampakkan sikap kurang semangat dan kurang siap dalam menerima pelajaran. Hal ini dikarenakan kebanyakan siswa yang beranggapan bahwa pelajaran IPAS itu kurang menyenangkan dan terasa membosankan. Selain itu juga rendahnya keterampilan berbicara siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar mata pelajaran IPAS tersebut dapat dilihat dari lambatnya siswa merespon materi pelajaran, sedangkan kemampuan siswa menyerap materi pelajaran tergantung pada kemampuan guru menggunakan model mengajar yang dipakai dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa model mengajar adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan. Peran guru sangat menentukan keberhasilan siswa. Melihat keterampilan berbicara peserta didik yang rendah, yakni dibawah 70 maka ini merupakan suatu masalah bagi peserta didik dan guru. Adapun peneliti melakukan observasi dengan saat proses pembelajaran mata pelajaran IPAS, rendahnya kemampuan berbicara IPAS peserta didik kelas IV di SD Negeri 2 Batur tahun pelajaran 2022/2023 disebabkan oleh perasaan takut berpendapat, malu, ragu-ragu dan penggunaan bahasa yang belum tepat dan lafalan kalimat yang masih kurang benar. Kurangnya motivasi peserta didik untuk mengikuti pembelajaran. Hal ini menyebabkan hasil pembelajaran kurang optimal. Hal ini dibuktikan dengan kondisi awal nilai keterampilan berbicara peserta didik yang masih cenderung di bawah nilai KKM. Faktor masalah lain adalah kurangnya kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan materi ajar. Kondisi ini tentunya harus ditindak lanjuti sehingga kelemahan peserta didik dalam berbicara dapat meningkat. Oleh karena itulah, sangat tepat model pembelajaran time token diterapkan dalam pembelajaran dengan tujuan model pembelajaran tersebut akan mempengaruhi kompetensi peserta didik dalam berbicara. Selain itu model pembelajaran time token memiliki beberapa kelebihan. Seperti mendorong siswa untuk meningkatkan inisiatif dan pastisipasi, menghindari dominasi siswa yang pandai berbicara atau tidak berbicara sama sekali, membantu siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran, dan meningkatkan kemampuan berbicara siswa (Ayu,2018:. Berdasarkan uraian latar belakang di atas, peneliti termotivasi untuk mengetahui sebab-sebab munculnya masalah tersebut dan berupaya mencari penyelesaiannya dengan memilih dan menggunakan strategi serta model pembelajaran yang tepat serta dengan harapan bahwa model pembelajaran time token akan berpengaruh terhadap kemampuan berbicara peserta didik. Untuk itu guru perlu mempelajari dan mempertimbangkan masalah pendekatan mengajar yang tepat yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa dan juga memperhatikan tujuan pengajaran Ipas itu sendiri, dengan mempertimbangan hal tersebut di atas maka peneliti membuat judul penelitian AuPenerapan metode pembelajaran time token terhadap peningkatan kemampuan berbicara peserta didik kelas IV SD Negeri 2 BaturAy. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Wijaya Kusumah dan Dedi Dwitagama . menyatakan penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelas dan memiliki rangkaian riset-tindakan-riset-tindakan-riset-tindakan. Model ini memiliki beberapa siklus pada tiap perangkat terdiri dari empat komponen yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Penelitian ini menggunakan model spiral yang terdiri dari dua siklus dan masing-masing Jurnal EduGrow. Volume. Nomor. Edisi. Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . terdiri dari empat kegiatan yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi sebagai Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian dilaksanakan. Penelitian ini dilaksanaan pada awal bulan Januari hingga pertengahan bulan Januari tahun 2023 semester genap tahun pelajaran 2023/2024. Penelitian yang dilakukan penulis yaitu SD Negeri 2 Batur kab. Banjarnegara. Terletak di Desa Batur. Rt 4 Rw 4 Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SD Negeri 2 Batur tahun pelajaran 2023/2024 adapun jumlah siswa yang diteliti yaitu 10 siswa yang terdiri dari 6 siswa perempuan dan 4 siswa laki-laki. Objek penelitian ini yaitu peningkatan kemampuan berbicara anak dengan menggunakan model pembelajaran Time Token pada mata pelajaran IPAS. Skenario Penelitian Tindakan Kelas ini didesain dua Masing-masing siklus dengan tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, refleksi dan dilasanakan dengan kolaborasi antara peneliti dan guru kelas IV SD Negeri 2 Batur. Apabila peneliti sudah mengetahui letak keberhasilan dan hambatan dari tindakan pada siklus satu, maka peneliti dan guru berkolaborasi menentukan rancangan tindakan pada siklus dua. Jika hasil penelitian telah memuaskan dalam pembelajaran maka peneliti dapat menhentikan penelitian dan mengambil kesimpulan. Skenario yang akan dilakukan dalam penelitian ini sebagai berikut : Perencanaan Merencanakan model pembelajaran yang akan diterapkan dalam kegiatan Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaraan (RPP) atau modul ajar Menyusun prites Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau modul ajar serta perangkat pembelajaran lainnya yang telah dibuat selanjutnya disampaikan kepada guru kelas untuk dipelajari, didiskusikan dan diperbaiki seperlunya. Menyusun lembar observasi aktifitas sisswa dan performa guru Menyusun instrumen Mempersiapkan alat dokumentasi Tahap Pelaksanaan Tindakan Siswa diberi tugas untuk membaca materi yang telah dijelaskan oleh guru Guru menjelaskan materi pada saat pembelajaran berlamgsung Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok Kemudian guru memberikan kupon Time Token pada peserta didik secara acak. Tahap Pengamatan (Observas. Pengamatan dilakukan oleh peneliti dengan bantuan dari guru lain. Hal ini bertujuan agar hasil pengamatan menjadi lebih kuat. Pengamatan ini dilaksanakan bersamaan dengan waktu pembelajaran. Refleksi dilakukan untuk mengkaji seluruh tindakan yang telah dilakukan berdasarkan data yang telah terkumpul. Evaluasi penyempurnaan sebagai berikut : Menganalisis kekurangan yang ada pada siklus I Peneliti dan guru berkolaborasi mendiskusikaan hasil analisis, kemudian dibuat perbaikan berdasarkan kekurangan yang ada Jurnal EduGrow. Volume. Nomor. Edisi. Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . Hasil dari analisis tersebut akan menjadi pertimbangan dalam penyusunan RPP atau modul ajar pada siklus II. Perencanaan Mengidentifikasi masalah pada siklus I dan menetapkan alternative pemecahan Merencanakan kembali pembelajaran dengan model yang telah ditentukan Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau Modul Ajar Menyusun pritest Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau Modul Ajar beserta bahan ajar yang telah dibuat, selanjutnya disampaikan pada guru kelas untuk dipelajari, didiskusikan,dan siperbaiki seperlunya Menyusun lembat observasi Menyusun instrumen Mempersiapkan alat dokumentasi Tahap Pelaksanaan Tindakan Memperbaiki tindakan sesuai skenario pembelajaran yang telah disempurnakan berdasarkan hasil refleksi pada siklus I Siswa diberi tugas untuk membaca materi yang telah dijelaskan oleh guru Guru menjelaskan materi pada saat pembelajaran berlamgsung Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok Kemudian guru memberikan kupon Time Token pada peserta didik secara acak. Tahap Pengamatan Pengamatan dilakukan oleh peneliti dengan bantuan dari guru lain. Hal ini bertujuan agar hasil pengamatan menjadi lebih kuat. Pengamatan ini dilaksanakan bersamaan dengan waktu pembelajaran. Tahap Refleksi Refleksi dilakukan untuk mengkaji seluruh tindakan yang telah dilakukan berdasarkan data yang telah terkumpul. Evaluasi penyempurnaan sebagai berikut : Menganalisis kekurangan yang ada pada siklus II Peneliti dan guru berkolaborasi mendiskusikaan hasil analisis, kemudian dibuat perbaikan berdasarkan kekurangan yang ada Hasil dari analisis tersebut untuk membuat kesimpulan atas pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Time Token untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa kelas IV SD N 2 Batur. Wawancara menjadi salah satu teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data Menurut Yusuf . wawancara adalah suatu kejadian atau proses interaksi antara pewawancara dan sumber informasi atau orang yang diwawancarai melalui komunikasi secara langsung atau bertanya secara langsung mengenai objek yang diteliti. Observasi adalah satu teknik yang dapat digunakan untuk mengetahui atau menyelidiki tingkah laku non verbal yakni dengan menggunakan teknik observasi. Menurut Sugiyono . observasi merupakan teknik pengumpulan data yang mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik pengumpulan data yang lain. Tes adalah instrument pengumpulan data untuk mengukur kemampuan dalam aspek kognitif, atau Jurnal EduGrow. Volume. Nomor. Edisi. Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . penguasaan materi pembelajaran . anjaya,2011:. Pemberian tes dimaksudkan untuk mengukur peserta didik dan keberhasilan program-program pengajaran (Wassid, 2020:. keberhasilan merupakan rumusan kinerja yang akan dijadikan acuan atau tolak ukur dalam menentukan keberhasilan atau keefektifan penelitian. Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah meningkatnya kemampuan berbiacra siswa kelas IV SD N 2 Batur pada mata pelajaran IPAS. Penelitian dikatakan berhasil apabila nilai rerata kelas sama dengan atau lebih besar dari KKM yaitu 70. Dengan demikian, apabila indikator keberhasilan tersebut tercapai maka siklus dihentikan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif yang mengacu pada metode analisis Miles dan Huberman (Sugiyono,2008:. terdiri atas tiga komponen yaitu Reduksi Reduksi data . Penyajian data dan Penarikan Kesimpulan alam bentuk deskriptif sebagai laporan penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 2 Batur yang beralamat di Desa Batur RT 4 RW 4 Kecamatan Batur. Kabupaten Banjarnegara. Jawa Tengah. Kegiatan Penelitian diawali dari mengajukan surat permohonan untuk mengadakan penelitian di tempat yang peneliti pilih, yaitu SD Negeri 2 Batur. Setelah mendapat perseujuan dari kampus observasi awal dilakukan pada 2 Januari 2023. Peneliti melakukan pertemuan dengan Kepala Sekolah SD Negeri 2 Batur dan menjelaskan tentang maksud dan tujuan penelitian dilaksanakan. Setelah mendapat persetujuan dari kepala sekolah, dan bertemu dengan wali kelas IV SD negeri 2 Batur. Dalam pertemuan tersebut peneliti, peneliti menyampikan tujuannya yaitu untuk melaksanakan penelitian dengan mengambil objek kelas IV. Alasan pemilihan objek tersebut karena judul penelitian yang eneliti ambil sesuai dengan tujuan pembelajran pada kelas IV mata pelajaran IPAS. Tujuan pembelajaran tahap 1 yaitu : peserta didik dapat menyebutkan kerajaan yang pernah berkembang di Indonesia khususnya yang berada pada tempat tinggal peserta didik. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas IV yang dilakukan peneliti, diketahui keterangan bahwa dalam melaksanakan pembelajaran Model pembelajaran yang dilakukan kurang mendorong anak untuk aktif berbicara, sehingga dirasa msaih kurang menciptakan tujuan pembelajaran yang diinginkan dan yang harus dicapai. Guru juga menyampikan bahwa kemampuan berbicara peserta didik masih sangat Hanya beberapa siswa yang kemampuannya cukup baik. Namun itu hanya sebagian Hal ini dapat dilihat dari keseharian siswa saat mengikuti pembelajarran IPAS ketika guru bertanya sebagian besar siswa hanya diam tidak menjawab. Setelah melakukan wawancara dengan guru kelas IV peneliti, dan sudah berkonsultasi terkait jadwal penelitian. Peneliti terlebih dahulu melakukan pengamatan pada saat guru mengajar. Dan kemudian masuk kedalam penelitian. Terlebih dahulu peneliti membuat perencanaan sebagaimana langkah-langkah yang sudah ditentukan. Langkah langkah penelitian sebagai berikut : Perencanaan Setelah dilakukan wawancara yang peneliti lakukan dengan guru kelas IV mengenai pembelajaran IPAS dan tujuan dari pembelajaran IPAS, guru menyetujui pelaksanaan penelitian yang akan peneliti lakukan. Tujuan pembelajaran IPAS pada tahap 1 yaitu : peserta didik dapat menyebutkan kerajaan yang pernah berkembang di Indonesia secara umum dan di daerah sekitar tempat tinggal secara khusus. Dari tujuan pembelajaran Jurnal EduGrow. Volume. Nomor. Edisi. Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . IPAS tersebut peneliti mulai merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang akan digunakan dengan pendekatan model time token sebagai sarana untuk mencapai tujuan Dari perencanaan yang peneliti buat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dijadikan acuan guru dalam penerapan pembelajaran yang akan dilakukan. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat oleh peneliti menyesuaikan antara permasalahan siswa dengan model pembelajaran yang akan diterapkan guna mencapai tujuan pembelajran pertahap. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran secara garis besar berisi tentang langkah awal guru dalam membuka pelajaran hingga penyampaian materi IPAS yang berinti penerapan model pembelajaran time token dan berakhir pada penilaian. Kegiatan yang peneliti dilakukan selama 1 kali pertemuan dengan alokasi waktu 2 x 35 menit atau sama dengan 2 jam Tindakan ini dirancang guna mengetahui sejauh mana keterampilan siswa dalam berbicara yang berkaitan dengan materi yang telah diajarkan dalam hal ini materi IPAS dengan tujuan pembelajaran peserta didik dapat menyebutkan kerajaan yang pernah berkembang di Indonesia pada umumnya dan daerah tempat tinggal khususnya yang mengharuskan peserta didik mempunyai kecakapan keterampilan berbicara guna mencapai tujuan pembelajaran IPAS tersebut. Pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang penliti susun terdapat cara atau langkah-langkah penerapan metode time token. Model pembelajaran ini digunakan penulis sebagai sarana agar peserta didik mampu meningkatkan kemampuan keterampilan berbicara pada mata pelajaran IPAS pada khususnya. Tujuan perencanaan tersebut dibuat guna mencapai tujuan dengan menyusun langkah-langkah yang tepat. Dengan perencanaan yang terencana dan terarah peneliti dapat melakukan penelitian secara efesien dan tepat sasaran. Tindakan dilakukan pada hari kamis pada jam pelajaran pertama yaitu pukul 08. 00 sampai 09. 30 bertempat dikelas IV dengan jumlah siswa 10 siswa. Dalam tindakan yang dilaksanakan dengan waktu 2 x 35 menit atau 2 jam pembelajaran peneliti bertindak sebagai peneliti. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah disiapkan. Langkah Ae langkah Pertemuan Pertama . Kegiatan Awal Pada awal pembelajaran guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam, berdoAoa sebelum melaksanakan pembelajaran, kemudian mengecek kehadiran siswa, lalu memberitahukan kepada siswa materi yang akan diajarkan dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Peneliti melakukan pretest untuk menilai kemampuan berbicara peserta didik. Dalam pretest yang dilakukan peneliti diketahui bahwa kemampuan berbicara siswa dikatakan rendah dengan perolehan skor 56 dari skor maksimal adalah 100. Poin yang dinilai antara lain keakuratan informasi, hubungan antar informasi, ketepatan struktur dan kosakata, kelancaran, kewajaran dan juga gaya . Kegiatan Inti Pada kegiatan inti terlebih dahulu peserta didik diperintahkan membaca materi yang akan dijelaskan yaitu materi IPAS tentang kerajaan yang pernah berkembang di Indonesia secara khusus dan kerajaan yang pernah berkembang di daerah tempat tinggal secara khusus, kemudian guru mulai memberikan materi IPAS, guru menggunakan metode pembelajaran TCL atau teacher center learning pada saat Jurnal EduGrow. Volume. Nomor. Edisi. Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . penjelasan materi. Setelah mendapat penjelasan dari guru, guru mulai menerapkan model pembelajaran time token dimulai dengan guru membagi kelompok menjadi 2 Yang terdiri dari 5 anak perkelompoknya. Tujuan dari pengelompokan ini adalah menghindari dominasi aktif hanya satu atau dua peserta didik. Setelah membagi peserta didik dalam 2 kelompok kemudian guru mulai membagi kupon kemudian secara acak. Kupon time token dibuat dari kertas yang dilaminating. Kertas time token berisi klu tentang materi IPAS yang telah dijelaskan sebelumnya. Setelah membagi kupon time token guru menunjuk siswa yang memegang kupon dan mempersilahkan peserta didik maju kedepan kelas kemudian siswa yang ditunjuk diperintah menjelaskan apa yang mereka ketahui tentang materi ataupun tulisan yang ada dikupon time token tersebut. Pengambilan nilai oleh peneliti dilakukan pada tahap inti. Kegiatan Akhir Pada kegiatan akhir guru meriview materi yang telah disampaikan pada pertemuan tersebut untuk mengetahui sebarapa jauh peserta didik memahami materi IPAS yang telah diajarkan. kemudian guru memberikan pesan kepada siswa untuk rajin belajar berdoa bersama dan dilanjutkan pelajaran ditutup dengan salam. Dari hasil Siklus I yang dilaksanakan oleh peneliti, siswa ternyata tidak memenuhi kriteria ketuntasan minimum. Adapun data hasil penelitian Siklus I adalah sebagai berikut : Berdasarkan hasil penelitian kegiatan Siklus I, pertemuan I maka diketahui bahwa kemampuan keterampilan berbicara siswa kelas IV SD Negeri 2 Batur masih tergolong Terlihat dari tabel diatas bahwa 100% peserta didik belum mencapai kriteria ketuntasan minimal dalam keterampilan berbicara. Aspek yang dinilai dalam keterampilan berbicara antara lain, tekanan yang digunakan dalam berbicara, tata bahasa seperti tata kata dan tata kalimat, kosakata yang digunakan, kelancaran peserta didik dalam berbicara juga pemahaman terkait maeti yang telah disampaikan. Dapat disimpulkan bahwa masalah yang dihadapi peserta didik berkaitan dengan kemampuan berbicara siswa adalah rasa malu, atau kurang percaya diri, penggunaan bahasa yang belum tepat diperkuat dengan skor dalam intrumen penilaian kemampuan berbicara. Refleksi dilaksanakan untuk mengevaluasi kekurangan pada pertemuan pertama. Hasil refleksi dijadikan acuan sebagai pertimbangan peneliti dalam memperbaiki pembelajaran sebelumnya. Berdasarkan hasil dari tindakan Siklus I dapat disimpulkan bahwa kemampuan keterampilan berbicara kelas IV belum baik sehingga tujuan pembelajaran belum tercapai yang mengakibatkan hasil akhir perolehan nilai belum mencapai kriteria ketuntasan minimum. Kriteria ketuntasan minimum pada mata pelajaran IPAS adalah 70. Hal ini menjadi acuan peneliti dan guru kelas untuk berkolaborasi agar peserta didik mampu mencapai nilai yang diinginkan sesuai tujuan pembelajaran Berdasarkan tindakan pada Siklus I pertemuan yang pertama peneliti melihat perlu adanya perbaikan yang perlu dilakukan oleh pengajar maupun siswa. Maka dari itu peneliti membuat perencaan untuk pertemuan kedua pada siklus I. Setelah dilakukam analisis dan refleksi pada tahap siklus I pertemuan pertama, peneliti berkolaborasi dengan guru kelas untuk memperbaiki tindakan yang akan dilaksanakan pada pertemuan kedua Seperti peneliti lebih menjelaskan metode time token pada guru kelas, dengan tujuan supaya pada penerapannya guru kelas lebih paham dan penyampaiannya lebih tepat. Melalui diskusi dengan guru kelas dicapai kesepakatan untuk terlebih dahulu memperbaiki Jurnal EduGrow. Volume. Nomor. Edisi. Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dimana Rencana Pelaksanaan Pembelajaran menjadi acuan ketika berlangsung pembelajaran. Pertemuan Kedua Pada siklus pertama pertemuan kedua adalah hasil perbaikan atau evaluasi dari siklus satu pertemuan pertama siklus I pertemuan kedua dilaksanakan pada hari jumat tanggal 6 Januari 2023 dengan alokasi waktu 2 x 35 menit. Kegiatan utama pada pertemuan ini yaitu memperbaiki keterampilan kemampuan berbicara pada pertemuan satu : Kegiatan Awal Pada awal pembelajaran guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam, berdoAoa sebelum melaksanakan pembelajaran, kemudian mengecek kehadiran siswa, lalu memberitahukan kepada siswa materi yang akan diajarkan dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Peneliti melakukan pretest untuk memastikan kemampuan berbicara peserta didik. Pretest yang dilakukan peneliti pada pertemuan kedua siklus I tersebut mengalami peningkatan sebesar 11. Dari semula total skor 56 65 naik menjadi. Namun perolehan tersebut belum maksimal dikarenakan masih dibawan kriteria ketuntasan minimal yaitu sebesar 70 . Kegiatan Inti Siswa diperintahkan membaca materi yang akan dijelaskan, pada pertemuan kedua tersebut materi IPAS yang disampaikan yaitu tokoh-tokoh yang berperan dalam memajukan daerah tempat tinggal. Tujuan pembelajaran yang harus dicapai peserta didik yakti peserta didik dapat menceritakan awal mula daerah tempat tinggal dan juga tokoh-tokoh local yang berperan dalam perkembangan daerah tempat sekemudian guru mulai memberikan materi dengan metode pembelajaran TCL atau teacher centered learning. guru menjelaskan mengenai materi IPAS tokohtokoh yang berperan dalam memajukan daerah tempat tinggal. Setelah mendapat penjelasan dari guru, guru mulai menerapkan model pembelajaran time token dengan membagi kelompok menjadi 3 kelompok dan kemudian membagi kupon time token yang telah disiapkan kemudian secara acak guru menunjuk siswa yang memegang kupon dan kemudian siswa yang ditunjuk diperintah menjelaskan apa yang mereka ketahui tentang materi ataupun tulisan yang ada dikupon time token tersebut. Perbaikan pada siklus I pertemuan kedua terletak pada untuk meningkatkan kemampuan berbicara, dengan cara lebih mempersiapkan guru untuk melaksanakan model time token secara tepat. Kegiatan Akhir Pada kegiatan akhir seperti biasa guru meriview materi yang telah disampaikan pada pertemuan tersebut kemudian guru memberikan pesan kepada siswa untuk rajin belajar, berdoa bersama dan dilanjutkan pelajaran ditutup dengan salam. Berdasarkan hasil penelitian kegiatan Siklus I, pertemuan kedua maka diketahui bahwa kemampuan keterampilan berbicara siswa kelas IV SD Negeri 2 Batur masih tergolong rendah namun sudah adanya peningkatan. Terlihat pada tabel terlihat peningkatan sebanyak 20% peserta didik cukup baik dari sebelumnya 100% peserta didik dibawah kriteria ketuntasan minimum dengan instrument penilaian yang sama pada siklus I pertemuan pertama. Dapat disimpulkan bahwa masalah yang berkaitan dengan keterampilan berbicara peserta didik pada siklus I pertemuan kedua sudah bisa ditangani sedikit demi Dibuktikan pada hasil dari pertemuan kedua tersebut juga pada instrument penilian yang sama seperti pada pertemuan pertama. Refleksi dilaksanakan untuk mengevaluasi kekurangan pada pertemuan pertama. Hasil refleksi dijadikan acuan sebagai pertimbangan Jurnal EduGrow. Volume. Nomor. Edisi. Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . dalam memperbaiki pembelajaran sebelumnya. Berdasarkan hasil dari tindakan Siklus I dapat disimpulkan bahwa kemampuan keterampilan berbicara kelas IV belum meningkat secara maksimal sehingga tujuan pembelajaran belum tercapai yang mengakibatkan hasil akhir perolehan nilai belum mencapai kriteria ketuntasan minimum. Berdasarkan tindakan pada Siklus I pertemuan yang pertama dan kedua perlu adanya perbaikan yang perlu dilakukan oleh pengajar maupun siswa untuk meningkatkan hasil keterampilan berbicara pada mata pelajaran IPAS. Maka dari itu peneliti membuat perencaan untuk pertemuan pertma pada siklus II. Setelah dilakukam analisis dan refleksi pada tahap siklus I pertemuan pertama dan kedua peneliti berkolaborasi dengan guru kelas untuk memperbaiki tindakan yang akan dilaksanakan pada pertemuan siklus kedua tersebut. Sebelumnya telah memperbaiki dengan menjelaskan metode time token pada guru kelas pada evaluasi pembelajaran sebelumnya supaya pada penerapannya guru kelas lebih paham dan penyampaiannya lebih tepat. Melalui diskusi dengan guru kelas dicapai kesepakatan untuk terlebih dahulu memperbaiki Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dimana Rencana Pelaksanaan Pembelajaran menjadi acuan ketika berlangsung pembelajaran dan juga strategi guru dalam meningkatkan kemampuan berbicara peserta didik. perbaikan juga fokus pada peserta didik untuk meningkatkan kemampuan berbicara maka peserta didik diharuskan berkomentar tentang materi yang disampaikan guru. Siklus II dilaksanakan guna memperbaiki siklus I agar hasil yang penelitian lebih maksimal. Pada siklus II didasari perbaikan dari siklus I. dengan tujuan peningkatan keterampilan berbicara peserta didik pada mata pelajaran IPAS kelas IV Pada siklus kedua ini dilaksanakan dalam dua kali pertemuan yaitu pada hari senin-selasa tanggal 9-10 Januari 2023. Pelaksanaan siklus kedua ini meliputi perencanaan, pelaksanaan, obserasi dan refleksi. Adapun siklus kedua dapat dijabarkan hasil penelitian sebagai berikut : Perencanaan Berdasarkan hasil pada penelitian siklus I, beberapa siswa masih kesulitan untuk mengembangkan kemampuan berbicara. Pada siklus I diketahui bahwa kemampuan berbicara peserta didik kelas IV SD negeri 2 Batur mata pelajaran IPAS mengalami Namun masih perlu ditingkatkan sehingga mampu mencapai kriteria ketuntasan maksimum. Peneliti dan guru merencanakan untuk melaksanakan tindakan II, langkah perencanaan pada tindakan II adalah berdasarkan kekurangan dari siklus I. Setelah mempersiapkan Rencana Pelaksanaan pembelajaran yang akan ditetapkan. Pelaksanaan tindakan siklus kedua dilakukan dalam 2 x pertemuan yaitu pada tanggal 9 dan 10 Januari 2023. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang peneliti rancang berisikan perbaikan-perbaikan dari siklus sebelumnya Pada siklus II pertemuan pertama isi dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran secara garis besar masih tentang langkah awal guru dalam pembelajaran hingga penerapan model pembelajaran time token dan penutup pembelajaran. Materi pada siklus II pertemuan pertama IPAS bermuatan sikap baik yang bisa diteladani dari tokoh daerah maupun nasional dengan tujuan pembelajaran pertahap yaitu peserta didik dapat menyebutkan sikap baik yang dapat diteladani dari tokoh daerah maupun nasional. Dari tujuan pembelajaran tersebut diketahui bahwa perlunya keterampilan berbicara guna Jurnal EduGrow. Volume. Nomor. Edisi. Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . mencapai tujuan pembelajaran pertahap. Kegiatan yang peneliti lakukan dalam pertemuan pertama pada siklus II dengan alokasi waktu 2 x 35 menit atau sama dengan 2 Jam Pelajaran. Tindakan ini dilaksanakan guna meningkatkan hasil dari siklus I pertemuan pertama dan kedua pada keterampilan berbicara siswa kelas IV pada mata pelajaran IPAS. Terdapat beberapa perbaikan pada siklus sebelumnya. Pada siklus II pertemuan pertama Rencana Pelaksanaan Pembelajaran pada kegiatan ini tercantum bahwa peserta didik harus mengomentari materi yang disampaikan guru. Hal tersebut bertujuan agar keterampilan berbicara siswa kelas IV pada mata pelajaran IPAS dapat meningkat sampai dengan Kriteria ketuntasan minimum. Tujuan perencanaan dibuat guna mencapai tujuan pembelajaran pertahap yang diharapkan yaitu dengan kriteria ketuntasan minimum 70. Perencanaan dibuat agar penelitian berjalan lebih terarah efesien dan tepat sesuai yang diharapkan. Model time token yang diterapkan pada pembelajaran di terapkan pada kegiatan inti. Pada saat pembelajaran sudah berjalan. Seperti pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang penulis rancang dan dengan persetujuan guru Pelaksanaan Pelaksanaan siklus II pertemuan pertama telah dirancang serta peneliti diskusikan dengan guru kelas untuk dilaksanakan. Pada siklus kedua pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 9 Januari 2023 hari senin dengan alokasi waktu 2 x 35 menit atau sama dengan 2 jam pelajaran. Kegiatan Awal Pada awal pembelajaran guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam, berdoAoa sebelum melaksanakan pembelajaran, kemudian mengecek kehadiran siswa, 71 lalu memberitahukan kepada siswa materi yang akan diajarkan dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Peneliti melakukan pretest untuk memastikan kemampuan berbicara peserta didik. pretest yang dilakukan peneliti diperoleh hasil 75 dari kriteria ketuntasan minimal 70. Ini berarti terjadi peningkatan dari pretest sebelumnya yaitu 56 dan 67. Kenaikan terjadi sebesar 3 angka dari pretest sebelumnya 67 dengan instrument penilaian pretest yang sama. Kegiatan Inti Terlebih dahulu peserta didik diperintahkan membaca materi yang akan dijelaskan, kemudian guru mulai memberikan materi, materi IPAS tentang membandingkan kondisi daerah tempat tinggal dahulu dan sekarang. dan guru menjelaskan mengenai materi tersebut. Setelah mendapat penjelasan dari guru, guru mulai menerapkan model pembelajaran time token dengan membagi kedalam 4 Dari sebelumnya 3 kelompok. Langkah ini dilakukan dengan tujuan agar peserta didik lebih siap untuk berbicara dan meminimalisir dominasi pada peserta didik dan guru kemudian membagi kupon time token secara acak guru menunjuk siswa yang memegang kupon dan kemudian siswa yang ditunjuk diperintah maju kedepan untuk menjelaskan apa yang mereka ketahui tentang materi ataupun tulisan yang ada dikupon time token tersebut. Untuk meningkatkan kemampuan berbicara, pada akhir pemberian materi guru mengharuskan siswa berkomentar tentang topic yang ditentukan guru. Dan memberikan tugas yang mengharuskan mereka berbicara di dalam model pembelajaran time token Kupon time token pada kegiatan ini berisi tentang perbandingan kondisi daerah tempat tinggal dahulu dan sekarang kemudian Jurnal EduGrow. Volume. Nomor. Edisi. Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . peserta didik dapat menjelaskan sikap baik apa yang bisa ditiru serta menjelaskan sesuai materi yang diajarkan pada pertemuan siklus II tersebut. Kegiatan Akhir Pada kegiatan akhir seperti siklus sebelumnya guru meriview materi yang telah disampaikan pada pertemuan tersebut materi tentang membandingkan kondisi daerah tempat tinggal dahulu dan sekarang dengan tujuan pembelajaran pertahap peserta didik dapat membandingkan dan menjelaskan kemudian guru memberikan pesan kepada siswa untuk rajin belajar , berdoa bersama dan dilanjutkan pelajaran ditutup dengan salam. Guru juga menanyakan materi apa yang telah Tahap Pengamatan Dari hasil Siklus II pertemuan yang pertama yang dilaksanakan, siswa keterampilan berbicara siswa mengalami kenaikan. Adapun data hasil penelitian Siklus I adalah sebagai berikut: berdasarkan hasil penelitian kegiatan Siklus II, pertemuan pertama maka diketahui bahwa kemampuan keterampilan berbicara siswa kelas IV SD Negeri 2 Batur terjadi peningkatan 20%. Hasil dari tindakan siklus II pertemuan pertama yaitu 40% kurang baik atau dengan perolehan nilai dibawah kkm 4 siswa 40% cukup baik atau dengan perolehan nilai 70-80 oleh 4 siswa dan 20% baik atau dengan perolehan nilai 81-90 oleh 2 siswa. Dari sebelumnya 80% kurang baik dengan perolehan nilai kurang dari 70 sebanyak 8 siswa dan 20% cukup baik dengan perolehan nilai 70-80 oleh 2 siswa. Dapat disimpulkan bahwa masalah yang berkaitan dengan keterampilan berbicara peserta didik pada siklus I pertemuan pertama dan kedua sudah mengalami peningkatan sesuai dengan yang peneliti harapkan. Namun peningkatan masih mungkin dilakukan. Dengan instrument penilaian yang sama dari penelitian sebelumnya. Tahap Refleksi Refleksi dilaksanakan untuk mengevaluasi kekurangan pada pertemuan Hasil refleksi dijadikan acuan sebagai pertimbangan dalam memperbaiki pembelajaran sebelumnya. Berdasarkan hasil dari tindakan Siklus II pertemuan pertama dapat disimpulkan bahwa kemampuan keterampilan berbicara kelas IV sudah meningkat namun belum maksimal sehingga tujuan pembelajaran belum tercapai sempurna dan hasil perolehan nilai belum mencapai kriteria ketuntasan minimum. Berdasarkan tindakan pada Siklus II pertemuan yang pertama perlu adanya perbaikan yang perlu dilakukan agar perolehan nilai meningkat sesuai harapan. Maka dari itu peneliti membuat perencaan untuk pertemuan kedua pada siklus II. Setelah dilakukam analisis dan refleksi pada tahap siklus I pertemuan kedua, peneliti berkolaborasi dengan guru kelas untuk memperbaiki tindakan yang akan dilaksanakan pada pertemuan kedua tersebut. Melalui diskusi dengan guru kelas dicapai kesepakatan untuk terlebih dahulu memperbaiki Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dimana Rencana Pelaksanaan Pembelajaran menjadi acuan ketika berlangsung pembelajaran Berdasarkan tindakan pada Siklus II pertemuan yang pertama perlu adanya perbaikan yang perlu dilakukan oleh pengajar maupun siswa. Maka dari itu peneliti membuat perencaan untuk pertemuan kedua pada siklus II. Hasil dari evalusi tersebut adalah melakukan penerapan time token dengan penilaian per individu. Melalui diskusi dengan guru kelas, evaluasi tertuang dalam kegiatan inti pada pelaksanaan siklus II pertemuan kedua. Jurnal EduGrow. Volume. Nomor. Edisi. Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . Perbaikan yang akan dilakukan pada pertemuan kedua adalah dengan tidak membagi kelompok pada penerapan model time token. Dengan tujuan semua siswa siap ketika ditunjuk untuk berbicara didepan kelas. Siklus kedua pertemuan kedua dilaksanakan siklus kedua pertemuan pertama. Tindakan ini ditempuh guna menyempurnakan pertemuan Lebih lanjut pertemuan kedua dilaksanakan untuk mencapai keberhasilan dalam keterampilan berbicara peserta didik kelas IV mata pelajaran IPAS. Pada siklus II, pertemuan II yang dilaksanakan pada hari selasa 10 Januari 2023 dengan alokasi waktu 2 x 34 menit. Kegiatan utama pada pertemuan ini yaitu memperbaiki kemampuan berbicara dengan model pembelajaran time token Kegiatan Awal Pada awal pembelajaran guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam, berdoAoa sebelum melaksanakan pembelajaran, kemudian mengecek kehadiran siswa, lalu memberitahukan kepada siswa materi yang akan diajarkan dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Peneliti melakukan pretest untuk memastikan kemampuan berbicara peserta didik. pada pretes yang dilakukan pada siklus kedua pertemuan kedua didapat hasil yang cukup signifikan. Hasil pretest memperoleh hasil skor 95 dari skor total 100. Peningkatan terjadi sebesar 20 point dari skor pada pertemuan pertama yakni 75 dengan instrument penilaian yang sama. Kegiatan Inti Siswa diperintahkan membaca materi yang akan dijelaskan, kemudian guru mulai memberikan materi, pentingnya menjaga peninggalan bersejarah daerah tempat tinggal dan guru menjelaskan mengenai materi tersebut. Setelah mendapat penjelasan dari guru, guru mulai masuk dalam inti model pembelajaran time token kemudian membagi kupon yang telah disediakan kemudian secara acak guru menunjuk siswa yang memegang kupon dan kemudian siswa yang ditunjuk diperintah menjelaskan apa yang mereka ketahui tentang materi ataupun tulisan yang ada dikupon time token tersebut. Untuk meningkatkan kemampuan berbicara, pada akhir pemberian materi guru mengharuskan siswa berkomentar tentang topic yang ditentukan guru. Dan memberikan tugas yang mengharuskan mereka berbicara di dalam model pembelajaran time token. Pada pertemuan ini siswa tidak dibuat kelompok dengan tujuan semua siswa agar lebih Kegiatan Akhir Guru meriview materi yang telah disampaikan pada pertemuan tersebut kemudian guru memberikan pesan kepada siswa untuk rajin belajar , berdoa bersama dan dilanjutkan pelajaran ditutup dengan salam. Guru juga menanyakan materi apa yang telah Dari hasil Siklus I pertemuan yang kedua yang dilaksanakan, siswa keterampilan berbicara siswa mengalami kenaikan. Adapun data hasil penelitian Siklus I adalah sebagai Berdasarkan hasil penelitian kegiatan Siklus II, pertemuan II maka diketahui bahwa kemampuan keterampilan berbicara siswa kelas IV SD Negeri 2 Batur meningkat signifikan melebihi kriteria ketuntasan minimum. Kenaikan terjadi sebesar30%. Hasil dari tindakan siklus II pertemuan kedua yaitu 10% kurang baik yang diperoleh 1 peserta didik 40% cukup baik yang diperoleh 4 peserta didik 30% baik yang diperoleh 3 peserta didik dan 20% sangat baik diperoleh 2 peserta didik. Dapat disimpulkan bahwa masalah yang dihadapi berkaitan dengan kemampuan berbicara siswa adalah rasa malu, atau kurang percaya diri diperkuat dengan skor dalam intrumen penilaian kemampuan berbicara mampu meningkat dengan Jurnal EduGrow. Volume. Nomor. Edisi. Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . penerapan model pembelajaran time token. Refleksi dilaksanakan guna mengevalusi kekurangan yang ada dalam pembelajaran yang telah berlangsung dalam siklus II. Pada pelaksanaan siklus kedua dari hasil pembelajaran diketahui bahwa kemampuan berbicara peserta didik mengalami peningkatan yang signifikan pada mata pelajaran IPAS. Pada siklus pertama rata-rata kemampuan berbicara siswa adalah 100% peserta didik memperoleh nilai kemampuan berbicara dibawah standar ketuntasan minimum Namun pada siklus kedua nilai rata-rata mata pelajaran IPAS yang berkaitan dengan kemampuan berbicara adalah 90% perolehan nilai peseerta didik diatas nilai kriteria ketuntasan minimum. Hal ini menunjukan bahwa model pembelajaran time token dapat meningkatkan kemampuan berbicara peserta didik pada mata pelajaran IPAS dengan Peningkatan sebesar 90% dari siklus I hingga siklus II berdasarkan hasil evaluasi yang diadakan melalui model pembelajaran time token, hasil keterampilan berbicara peserta didik telah mengalami peningkatan sesuai yang diharapkan. Pada siklus pertama pertemuan pertama kemampuan berbicara peserta didik sangat rendah dan tidak mencapai kriteria ketuntasan minimum. Pada siklus pertama pertemuan kedua terjadi kenaikan 20%. Pada siklus II didapat data bahwa 20% siswa baik dalam keterampilan berbicara, 40% cukup baik dan sisanya kurang baik. Pada pelaksanaan siklus II pertemuan kedua di dapat data bahwa kemampuan keterampilan peserta didik meningkat 30% peserta didik dengan kategori sangat baik, 30% peserta didik dengan kategori baik, 40% peserta didik cukup baik dan 10% kurang baik. Pada siklus I kemampuan bebicara peserta didik pada mata pelajaran IPAS ratarata kemampuan berbicara peserta didik adalah namun pada siklus II nilai rata-rata kemampuan berbicara yaitu 20% dan meningkat 90%. Hal ini menunjukan bahwa model pembelajaran time token dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa sebesar 90% 0% 40% 75% Pra Siklus Siklus I Siklus II Pembahasan penelitian ini dimulai dari siklus I dan siklus II dengan menggunakan model pembelajaran time token. Pembahasan hasil penelitian sebagai berikut : Siklus I Penelitian Siklus I pertemuan pertama yang dilaksanakan pada hari Kamis dan JumAoat 5 Januari dan 6 Januari 2023 di SD Negeri 2 Batur dikelas IV dengan jumlah siswa 10 siswa yang terdiri dari 4 siswa laki laki dan 6 siswa perempuan. Proses belajar mengajar mengacu pada RPP yang telah dipersiapkan, dirancang dan disetujui oleh peneliti dan guru kelas. Guru memberikan test kepada peserta didik untuk membaca materi IPAS kemudian menanyakan materi yang telah peserta didik baca. Langkah selanjutnya guru mulai menjelaskan materi IPAS tentang kerajaan yang pernah berkembang di Indonesia. Pelaksanaan penelitian berfokus pada kemampuan berbicara peserta didik dalam pembelajaran IPAS. Dari hasil siklus I pertemuan pertama dari 10 siswa ternyata tidak satupun siswa yang memenuhi standar minimal indikator kemampuan berbicara. Pada kegiatan inti setelah guru menjelaskan materi pada saat pembelajaran, guru mulai menerapkan model time token. Guru membagikan peserta didik menjadi dua Guru membagi kupon time token secara acak. Peserta didik yang menerima kupon tersebut diharuskan mampu menyampaikan sejauh mana materi yang telah peserta didik pahami. Dari hasil pengamatan peneliti menyimpulkan bahwa peserta didik belum memiliki kemampuan keterampilan berbicara yang bagus. Siswa masih belum bisa menceritakan atau memaparkan materi. Siklus I pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Jurnal EduGrow. Volume. Nomor. Edisi. Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . Jumat tanggal 6 Januari 2023. Pada pertemuan kedua guru membagi peserta didik menjadi dua kelompok dan pada kegiatan inti menerapkan model time token. Pada awal kegiatan inti peserta didik diharuskan berkomentar tentang apa yang guru sampaikan. Pada siklus I pertemuan kedua diketahui bahwa kemampuan berbicara peserta mengalami peningkatan namun belum terlihat hasil yang maksimal. Pada siklus I peningkatan kemampuan berbicara peserta didik kelas IV SD Negeri 2 Batur melalui model pembelajaran time token belum menunjukan hasil yang belum maksimal, dari hasil pelaksanaan pembelajaran diketahui bahwa masih ada yang belum mencapai indikator penilaian keterampilan berbicara. Hasil dari keterampilan berbicara sebelum menggunakan metode time token sebesar 100% belum mencapai hasil yang diharapkan setelah diberikan tindakan siklus pertama dengan menerapkan model pembelajaran time token kemampuan berbicara siswa meningkat menjadi meningkat 20% siswa cukup baik dalam keterampilan berbicara Hal ini menunjukan bahwa model pembelajaran time token dapat meningkatkan kemampuan keterampilan berbicara peserta didik. Siklus II Berdasarkan hasil dari siklus I, beberapa siswa belum memiliki keterampilan berbicara secara bagus. Siklus II dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 12 Januari 2023 yang dilaksanakan dengan dua kali pertemuan. Pada pertemuan pertama peneliti memperbaiki RPP berdasarkan evaluasi dari siklus I. Guru membagi peserta didik dalam beberapa kelompok dan kemudian secara acak membagikan kupon time token. Peserta didik yang telah menerima kupon time token diperintahkan untuk menjelaskan materi apa yang telah peserta didik terima. Pada Siklus II pertemuan kedua yang dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 13 Januari 2023 merupakan perbaikan dari Siklus sebelumnya. Mengevaluasi RPP dan pada kegiatan inti secara acak membagi kupon time token. Pada siklus kedua peneliti tidak lagi membagi peserta didik kedalam kelompok dengan tujuan agar peserta didik lebih siap untuk berbicara. Pada siklus II didapat data bahwa terdapat siswa dengan kemampuan baik dalam keterampilan berbicara, cukup baik dan sisanya kurang baik. Pada pelaksanaan siklus II pertemuan kedua di dapat data bahwa kemampuan keterampilan peserta didik meningkat dengan predikat peserta didik dengan kategori sangat baik, peserta didik dengan kategori baik, peserta didik cukup baik dan kurang baik. Pada siklus I kemampuan bebicara peserta didik pada mata pelajaran IPAS ratarata kemampuan berbicara peserta didik adalah namun pada siklus II nilai rata-rata kemampuan meningkat 90%. Hal ini menunjukan bahwa model pembelajaran time token dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa sebesar 90%. Adapun instrument penilaian yang digunakan peneliti dibagi menjadi 2 yang ditunjukan untuk peserta didik dan untuk guru untuk menilai kemampuan peserta didik sebagai berikut : Tekanan yang digunakan peserta didik dalam berbicara termasuk tinggi rendah nada yang Tata bahasa yang digunakan dalam berbicara. Tata bahasa meliputi tata bunyi dan tata kalimat yang sesuai Kosakata yang dipilih peserta didik dalam berbicara. Kosakata yang umum adalah kriteria yang diharapkan dan memudahkan pendengar memahami isi dari topic yang pembicara Jurnal EduGrow. Volume. Nomor. Edisi. Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . Kelancaran dalam menyampaikan yang dipahami. Dalam hal ini penilaian terfokus pada materi pelajaran yang telah disampaikan sebelum penilaian berbicara dilakukan. Pemahaman peserta didik terkait materi yang disampaikan. Materi yang dimaksud yakni materi pembelajaran IPAS yang telah disampaikan pada saat pembelajaran berlangsung Adapun instrument yang peneliti gunakan untuk menilai guru sebagai berikut : Tujuan pembelajaran. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran kepada peserta didik sebelum memulai masuk materi Mengkondisikan kelas. Guru mengondisikan kelas guna pembelajaran yang lebih nyaman dan masuk ke dalam materi Penjelasan materi yang dilaksanakan guru dalam pembelajaran Guru mulai pada inti model pembelajaran time token dengan langkah-langkah yang telah Pelaksanaan time token yang dilakukan pada saat pembelajaran berlangsung. KESIMPULAN Berdasarkan analisis data hasil tindakan dari bab IV yang telah dilakukan oleh peneliti, maka dapat disimpulkan bahwa melalui model pembelajaran time token dapat meningkatkan keterampilan berbicara peserta didik kelas IV di SD Negeri 2 Batur. Hal ini dapat dilihat dari adanya peningkatan per pertemuan yang peneliti lakukan yang dilakukan sebanyak 2 siklus dan setiap siklus dilakukan dua kali pertemuan. Pada siklus I pertemuan pertama di dapatkan hasil pretest yaitu 56 dengan hasil setelah tindakan yaitu 100% peserta didik mendapat nilai dibawah dibawah 70 pada pertemuan kedua siklus I didapatkan hasil pretest sebesar 67 dengan hasil tindakan setelah menggunakan model pembelajaran time token yaitu 20% dari 100% mendapat nilai 70 dilanjutkan pada siklus II pertemuan pertama dilaksanakan pretest dengan porelehan nilai 75 dengan nilai tindakan setelah menggunakan model pembelajaran time token sebesar 40% kategori baik 40% kategori cukup baik dan 20% kategori kurang baik dan berakhir pada siklus II pertemuan kedua dengan pretest yang didapatkan sebesar 90 dengan nilai porelehan setelah tindakan menggunakan time token sebesar 10% kategori kurang baik, 40% kategori cukup baik 30% kategori baik dan 20% kategori sangat baik. Maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan berbicara peserta didik kelas IV mata pelajaran IPAS SD Negeri 2 Batur. Model pembelajaran time token dapat membuat peserta didik memiliki keberanian berbicara dan mengungkapkan pendapatnya, dalam berdiskusi maupun tidak dan meminimalisir dominasi salah satu peserta didik saja. Hal ini dikarenakan peserta didik diharuskan berbicara dan mengemukakan pendapatnya dengan kupon time token tersebut. DAFTAR PUSTAKA