Jurnal Cakrawala Keperawatan Vol. 01 No. 02 Juli 2024. Hal. 127 - 133 Jurnal Cakrawala Keperawatan e-ISSN: 3046-4536 http://ejurnal. id/index. php/jck https://doi. org/10. 35872/ /jck. ORIGINAL RESEARCH HUBUNGAN PERAN KADER STUNTING DI DESA SUKOREJO POSYANDU DENGAN Sarwoko1*. Titik Anggraeni2. Ratih Kumala Dewi3 1 STIKES Estu Utomo 2 STIKES Estu Utomo 3 Program Studi Sarjana Kebidanan. STIKES Estu Utomo Article Info Abstract Article History: Received: 01 Juli 2024 Accepted: 31 Juli 2024 Online: 01 Agustus 2024 Latar Belakang : Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius, terutama di daerah pedesaan seperti Desa Sukorejo. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara peran kader Posyandu dengan kejadian stunting di Desa Sukorejo Metode : Metode penelitian yang digunakan adalah studi observasional dengan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui quisioner dan KMS Balita. Hasil : Hasil penelitian diperoleh jumlah kader sebanyak 42 kader dan 261 balita. Peran kader meliputi pemberian makanan tambahan (PMT) 60%, penyuluh orang tua anak BALITA 30%, dan koordinasi dengan tenaga kesehatan 10%. Balita Sebagian besar tidak mengalami stunting 85,82%, risiko stunting 13,03% dan stunting 1,15%. Analisis data dengan menggunakan Uji Chi-Square df=1, p=0,003 (< =0. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara peran kader Posyandu dengan kejadian stunting di Desa Sukorejo. Keywords: Adolescents. Breast. Breast Tumor. BSE. Demonstration Method Corresponding Author: Winarsih. winarsih@stikeseub. How to cite: Pendahuluan / Introduction Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar, utamanya untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi (Kemenkes, 2. Posyandu adalah salah satu upaya pemerintah yang berfungsi sebagai tempat masyarakat untuk berinteraksi dan menerima informasi yang Kader posyandu memiliki peran penting dalam pelaksanaan posyandu, terutama dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan dan gizi yang baik, serta dalam deteksi dini kejadian stunting. Balita adalah kelompok masyarakat yang sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat cepat dalam berpikir, berbicara, dan penggunaan panca indra serta kemampuan lainnya. Namun, pada usia ini, mereka juga rentan mengalami masalah kesehatan, sehingga perlu mendapatkan perhatian lebih, terutama dalam hal Copyright A 2024. JCK, e-ISSN 3046-4536. Jurnal Cakrawala Keperawatan Vol. 01 No. 02 Juli 2024. Hal. 127 - 133 pemenuhan kebutuhan gizi untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan mereka (Al-Faiqah & Suhartatik, 2. Balita yang tidak mampu mencapai pertumbuhan secara optimal dapat mengalami risiko kesakitan, kematian, hambatan pertumbuhan motorik maupun mental, dan menurunkan produktivitasnya di masa depan (Yulianti & R, 2. Permasalahan dalam bidang kesehatan yang banyak dialami oleh balita salah satunya adalah kondisi stunting. Stunting adalah kondisi tubuh pendek atau sangat pendek berdasarkan tinggi badan menurut usia yang kurang dari 2 standar deviasi kurva pertumbuhan World Health Organization (WHO) dengan penyebabnya, yaitu asupan nutrisi dan atau infeksi berulang atau kronis yang terjadi dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) balita (WHO, 2. Secara lebih sederhana, stunting merupakan kondisi di mana tinggi badan seorang anak lebih pendek dibandingkan dengan tinggi badan anak lainnya yang seusianya karena kurang asupan gizi yang diterima oleh janin atau bayi (Kementerian Desa. Pembangunan Desa Tertinggal. Kondisi ini dapat berakibat pada perkembangan tubuh, otak, serta kecerdasan anak yang lebih rendah daripada anak seusianya. Data Kementerian Kesehatan Indonesia menunjukkan prevalensi stunting di Indonesia masih tinggi, terutama di daerah pedesaan. Stunting menjadi target dalam Sustainable Development Goals (SDG. , tepatnya pada tujuan pembangunan ke-2, yaitu mengentaskan kelaparan dan menghilangkan segala bentuk malnutrisi (Haskas, 2. Menurut WHO, stunting termasuk dalam masalah kesehatan masyarakat jika prevalensi melebihi 20%. Berdasarkan hasil dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Indonesia mengalami penurunan, di mana pada tahun 2021 sebesar 24,4% dan mengalami penurunan menjadi 21,6% pada tahun 2022 (Kementerian Kesehatan. Stunting pada anak disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya kondisi sosial ekonomi yang rendah sehingga kesulitan mengakses makanan bergizi, ibu hamil maupun anak balita yang mengalami gizi buruk karena ibu dan calon ibu yang minim pengetahuan tentang kesehatan gizi, terbatasnya layanan kesehatan, serta kurangnya akses ke sanitasi memadai dan air bersih (Kementerian Desa. Pembangunan Daerah Tertinggal, 2. Untuk menekan prevalensi masalah stunting dan mengentaskan permasalahan gizi kronis pada balita dapat dilakukan dengan mengoptimalkan intervensi pada 1000 HPK secara berkelanjutan, melalui pemenuhan zat gizi bagi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan, pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) setelah 6 bulan dengan jumlah dan kualitas yang baik, memantau pertumbuhan balita, dan menjaga kebersihan lingkungan (Sutarto et al. , 2. Dalam menangani permasalahan stunting pada balita tentunya membutuhkan penanganan secara menyeluruh dan melibatkan berbagai sektor. Hal ini sebagaimana dalam Peraturan Presiden RI No. 72 Tahun 2021 Tentang Percepatan Penurunan Stunting bahwa dalam mempercepat turunnya angka stunting, yaitu dengan melibatkan berbagai pihak untuk bekerja sama, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat luas. Posyandu merupakan suatu wadah yang tepat dalam mengoptimalkan 1000 HPK untuk penanganan stunting. Bentuk upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat ini dilakukan untuk memberdayakan dan memudahkan masyarakat khususnya bagi ibu, bayi, dan balita mendapat pelayanan kesehatan serta pemantauan tumbuh Penggerak utama dari segala kegiatan yang diadakan oleh posyandu adalah kader posyandu (Megawati & Wiramihardja, 2. Kader adalah setiap orang Copyright A 2024. JCK, e-ISSN 3046-4536. Jurnal Cakrawala Keperawatan Vol. 01 No. 02 Juli 2024. Hal. 127 - 133 yang dipilih oleh masyarakat dan dilatih untuk menggerakkan masyarakat berpartisipasi dalam pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan (Kementerian Kesehatan RI, 2019. Kabupaten Boyolali memiliki angka stunting terendah di Jawa Tengah yakni di bawah 10 persen. Berdasarkan input pengukuran dan penimbangan di Elektronik pencatatan pelaporan gizi berbasis masyarakat . PPGBM) Pada tahun 2020 angka stunting di Kabupaten Boyolali mencapai angka 9,02 persen atau sekitar 5. 000 balita kemudian pada tahun 2021 ini dari 50. 403 balita yang diukur ada penurunan di angka 8,9 persen atau tepatnya 4. 172 balita. Anak dengan kondisi stunting berpotensi mengalami gangguan pada tumbuh kembang, rendahnya kemampuan motorik, dan dapat menderita penyakit tidak menular dengan risiko yang tinggi. Pada masa-masa berikutnya pertumbuhan anak dalam hal fisik maupun kognitif akan terus menurun yang akan berpengaruh pada produktivitas dan pendapatannya di masa dewasa. Sehingga dapat dikatakan bahwa kualitas sumber daya yang menurun, pertumbuhan ekonomi yang terhambat, terciptanya kemiskinan antar generasi, dan makin buruknya kesenjangan adalah dampak jangka panjang dari stunting (Megawati & Wiramihardja. Oleh karena itu, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 Indonesia menetapkan stunting menjadi isu prioritas nasional dengan target penurunan dari angka 24,4% pada 2021 menjadi 14% pada 2024 (Kementerian Kesehatan, 2. Desa Sukorejo berada di Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali merupakan desa yang berada di wilayah dataran tinggi dan kaya akan sumber daya alam. Mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani/ pekebun dan buruh harian lepas. Dalam bidang kesehatan, tersedia 4 unit posyandu, 1 unit balai pengobatan, dan 1 orang bidan desa. Desa Sukorejo memiliki jumlah stunting cenderung menurun tiap tahunnya dan memiliki target untuk mencapai zero stunting pada tahun 2024. Berdasarkan data dari Puskesmas Kecamatan Musuk jumlah anak stunting di Desa Sukorejo terdapat sebanyak 14 kasus . 66%) pada tahun 2020, menurun menjadi 10 kasus . 1%) pada 2021, dan menurun sebanyak 4 kasus . 8%) pada tahun 2022. Berdasarkan data tersebut menunjukkan adanya suatu keberhasilan dalam penurunan angka stunting. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ahli Gizi Puskesmas Kecamatan Musuk, keberhasilan ini dipengaruhi oleh kader posyandu yang aktif dalam memberikan Sebagaimana yang dikemukakan oleh Probohastuti & Rengga . bahwa dalam upaya penurunan stunting, setidaknya kader ikut andil dengan mampu melakukan deteksi awal mengenai stunting (Probohastuti & Rengga, 2. Kader posyandu merupakan akses utama bagi para ibu di Desa Sukorejo untuk memperoleh kesehatan yang dilatarbelakangi oleh masih rendahnya kesadaran diri dan terbatasnya kemampuan untuk mengakses pengetahuan terkait dengan pemenuhan gizi seimbang maupun segala upaya untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Kader memiliki peran untuk meneruskan kembali informasi dan pengetahuan yang didapatkan selama pelatihan maupun sosialisasi kepada ibu balita (Novianti et al. Dengan adanya posyandu, perkembangan status gizi balita dapat terpantau berdasarkan laporan hasil penimbangan tiap bulannya di posyandu oleh kader (Aditya & Purnaweni, 2. Pengetahuan dan keaktifan kader dapat memengaruhi perubahan pada perilaku dan pengetahuan ibu mengenai tumbuh kembang anak, khususnya mengenai stunting ke arah yang lebih baik. Menjalankan peran sebagai kader posyandu dalam penurunan stunting membutuhkan bekal pengetahuan dan keterampilan baik ketika memberikan Copyright A 2024. JCK, e-ISSN 3046-4536. Jurnal Cakrawala Keperawatan Vol. 01 No. 02 Juli 2024. Hal. 127 - 133 pelayanan, melakukan penimbangan maupun penyuluhan. Keberadaan kader posyandu merupakan suatu yang penting, pelayanan yang diberikan dengan baik dan menarik simpati masyarakat dapat menghasilkan respon positif, menghadirkan rasa kepedulian, serta mendorong partisipasi masyarakat. Kader posyandu harus memiliki pengetahuan dasar dan peran yang harus dilaksanakan berkatian dengan stunting, kesehatan ibu hamil dan balita, serta kemampuan dalam melakukan deteksi dini kejadian stunting (Kementerian Kesehatan RI, 2019. (Kementerian Kesehatan RI. Beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti yang lain menunjukkan hasil peran kader posyandu dalam pencegahan stunting memiliki dampak signifikan. Misalnya, pelatihan yang dilakukan secara signifikan dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan kader dalam deteksi dini stunting. Selain itu, dukungan pemerintah terhadap kegiatan posyandu juga sangat penting dalam meningkatkan peran kader posyandu dalam pencegahan stunting. Dalam hal ini, peran kader posyandu dalam menurunkan angka stunting sangat Kader posyandu harus memiliki kemampuan dalam melakukan deteksi dini kejadian stunting, serta kemampuan dalam memberikan edukasi yang efektif kepada masyarakat tentang pentingnya kesehatan dan gizi yang baik. Dengan demikian, peran kader posyandu sangat berpengaruh dalam pencegahan stunting dan perlu ditingkatkan secara terus-menerus untuk mencapai tujuan yang lebih baik dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran kader Posyandu terhadap kejadian stunting di Desa Sukorejo. Dari Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna dalam meningkatkan efektivitas program kesehatan masyarakat untuk mengurangi kejadian stunting di daerah tersebut. Metode / Methods Penelitian ini menggunakan desain studi observasional dengan pendekatan Sampel penelitian diambil dari seluruh kader Posyandu dan balita di Desa Sukorejo. Data dikumpulkan melalui Kuesioner dan KMS Balita. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji statistic Chi-Square melalui bantuan aplikasi SPSS Hasil / Results Hasil penelitian menunjukan jumlah kader sebanyak 42, balita sebanyak 261. Peran kader meliputi pemberian makanan tambahan (PMT) 60%. Penyuluh: 30% kader berperan dalam melakukan edukasi pada orang tua anak Bayi Bawah Lima Tahun (BALITA), dan berkoordinasi dengan tenaga kesehatan 10%. Balita Sebagian besar tidak mengalami stunting 85,82%, resiko stunting 13,03% dan stunting 1,15%. Analisis data dengan menggunakan Uji Chi-Square df=1, p=0,003 (< =0. menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara peran kader Posyandu dengan kejadian stunting di Desa Sukorejo. Kader memiliki peran dalam peningkatan pengetahuan, pemberian makanan tambahan dan berkoordinasi dengan tenaga kesehatan yang berhubungan dengan stunting pada anak Balita di Desa Sukorejo. Kader Posyandu yang aktif dan kompeten cenderung mampu memberikan edukasi tentang gizi dan kesehatan kepada ibu balita, sehingga dapat mencegah terjadinya stunting. Selain itu, kader Posyandu yang memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi kasus stunting juga dapat memfasilitasi penanganan yang tepat. Copyright A 2024. JCK, e-ISSN 3046-4536. Jurnal Cakrawala Keperawatan Vol. 01 No. 02 Juli 2024. Hal. 127 - 133 Pembahasan Kader Pemberdayaan Masyarakat bidang Kesehaatan yang sekanjutnya disebut Kader adalah setiap orang yang dipilih oleh masyarakat dan dilatih untuk menggerakkan masyarakat berpartisipasi dalam pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan. Kader memiliki beberapa peran, yaitu: penggerak masyarakat untuk berperan serta dalam upaya kesehatan sesuai kewenangannya, penggerak masyarakat agar memanfaatkan Usaha Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) dan pelayanan kesehatan dasar, pengelola UKBM, penyuluh kesehatan kepada masyarakat, pencatat kegiatan pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan dan pelapor jika ada permasalahan atau kasus kesehatan setempat pada tenaga kesehatan. (Kementerian Kesehatan RI, 2019. Kader Posyandu merupakan kader kesehatan yang berasal dari warga masyarakat yang dipilih masyarakat oleh masyarakat serta bekerja dengan sukarela untuk membantu peningkatan kesehatan masyarakat termasuk berupaya dalam mendukung pencegahan kejadian stunting di wilayah kerja Posyandunya (Kementerian Kesehatan RI, 2019. Dengan adanya kader yang kompeten dan aktif, program kesehatan masyarakat dapat berjalan dengan lebih efektif dan efisien. Selain itu, kader Posyandu juga berperan sebagai penghubung antara masyarakat dan pelayanan kesehatan formal. Peran kader Posyandu Desa Sukorejo dalam pencegahan stunting yang menjadi fokus penelitian ini adalah . peran sebagai penyuluh kesehatan kepada masyarakat yang dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat, . peran sebagai penggerak masyarakat untuk berperan serta dalam upaya kesehatan sesuai kewenangan, yaitu pemberian makanan tambahan (PMT) bagi bayi dan balita, dan . Koordinasi dengan tenaga Kesehatan : melapor jika ada permasalahan atau kasus kesehatan setempat pada tenaga kesehatan. Peran pertama diawali dengan melakukan pengkajian pengetahuan terkait stunting pada ibu hamil, dan ibu dengan bayi dan balita. Hasil pengkajian menjadi dasar bagi kader Posyandu dalam melakukan penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang pentingnya gizi seimbang dalam pencegahan Peran kedua dilaksanakan dengan pemberdayaan masyarakat dalam pemberian makanan tambahan yang adekuat untuk balita serta ASI Esklusif untuk bayi sampai usia 6 Kader Posyandu terlibat dalam distribusi pemberian makanan tambahan (PMT) untuk balita di Desa Sukorejo. PMT ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi balita yang menderita stunting, sehingga dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan Peran berikutnya adalah Koordinasi dengan tenaga kesehatan: melapor jika ada permasalahan atau kasus kesehatan dalam hal ini adalah stunting. Kader Posyandu melapor ke bidan desa serta tokoh masyarakat: ketua PKK. Kader posyandu juga melaporkan semua kegiatan yang telah dilakukan untuk mencegah stunting. Pelaporan dilakukan untuk memastikan bahwa semua upaya pencegahan stunting di Desa Sukorejo berjalan dengan baik dan terkoordinasi dengan lembaga kesehatan setempat. Dengan peran yang beragam ini, kader kesehatan berkontribusi besar dalam upaya pencegahan stunting di Desa Sukorejo, yang merupakan salah satu desa dengan angka stunting tertinggi di Kabupaten Boyolali. Dengan adanya hubungan yang signifikan antara peran kader Posyandu dengan kejadian stunting, maka perlu adanya upaya untuk meningkatkan kualitas dan jumlah kader Posyandu di Desa Sukorejo. Kesimpulan Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara peran kader Posyandu dengan kejadian stunting di Desa Sukorejo. Kader memiliki peran yang berhubungan dengan stunting pada anak Balita dalam Copyright A 2024. JCK, e-ISSN 3046-4536. Jurnal Cakrawala Keperawatan Vol. 01 No. 02 Juli 2024. Hal. 127 - 133 peningkatan pengetahuan, pemberian makanan tambahan dan berkoordinasi dengan lembaga kesehatan. Kader Posyandu yang aktif dan kompeten cenderung mampu memberikan edukasi tentang gizi dan kesehatan kepada ibu balita, sehingga dapat mencegah terjadinya stunting. Selain itu, kader Posyandu yang memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi kasus stunting juga dapat memfasilitasi penanganan yang tepat. Kesimpulan/Conclusion Kesimpulan Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara peran kader Posyandu dengan kejadian stunting di Desa Sukorejo. Kader memiliki peran yang berhubungan dengan stunting pada anak Balita dalam peningkatan pengetahuan, pemberian makanan tambahan dan berkoordinasi dengan lembaga kesehatan. Kader Posyandu yang aktif dan kompeten cenderung mampu memberikan edukasi tentang gizi dan kesehatan kepada ibu balita, sehingga dapat mencegah terjadinya stunting. Selain itu, kader Posyandu yang memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi kasus stunting juga dapat memfasilitasi penanganan yang tepat. Saran