Maulana. A et. Vol 4. SAMPAN LEPER SEBAGAI ADAPTASI EKOLOGI ESTUARI PADA MASYARAKAT KELURAHAN PEKAN ARBA, KECAMATAN TEMBILAHAN. KABUPATEN INDRAGIRI HILIR Ahmad Maulana. Y1*. Mutia Kahanna2. Septriani3 1,2,3 Institut Seni Indonesia Padangpanjang (ISI Padangpanjan. Padangpanjang. Indonesia maulana201799@gmail. *) corresponding author Keywords Adaptation. Ecology. Canoe. Function. Abstract Leper Leper canoes are a local means of transportation in the Pekan Arba community. Leper canoes were born from the adaptation made by the Pekan Arba people to an environment with an estuary . bb and flo. The process of community adaptation in creating leper canoes went through several stages, namely, pucai canoes, pucai canoes combined with the shape of the cempakul fish, and until finally in 1985 the people of Pekan Arba succeeded in creating leper canoes. Leper canoes are the answer to all the problems experienced by the people of Pekan Arba regarding their environment and have several functions including ecological functions, economic functions, social functions and cultural functions. PENDAHULUAN Tembilahan adalah salah satu daerah yang berdiri sejak tahun 1965, sekaligus menjadi ibu kota Kabupaten Indragiri Hilir. Provinsi Riau. Tembilahan merupakan daerah yang tidak bisa dikatakan kota sepenuhnya dan juga tidak bisa juga dikatakan desa sepenuhnya, melainkan daerah berkembang menuju kota. Tembilahan memiliki keunikan pada akses transportasi daratnya yang memiliki banyak jembatan. Negeri Seribu Parit atau Negeri Seribu Jembatan menjadi julukan tepat untuk daerah ini. Kondisi geografis daerah Tembilahan merupakan daerah dataran rendah, yakni daerah endapan sungai, daerah rawa dengan tanah gambut, daerah hutan payau . atau disebut juga dengan daerah estuari. Menurut Romdani . 3: . , estuari adalah salah satu karakter secara geografis yang pada umumnya terdiri dari hutan mangrove, tanah gambut, daratan lumpur dan rawa payau. Wilayah ini merupakan daerah peralihan antara habitat air laut dan habitat air tawar yang dipengaruhi oleh pasang surut. Menurut Pritchard . alam Wijaya, 2015: . , estuari adalah perairan semi tertutup yang berhubungan bebas dengan laut, sehingga air laut yang salinitas tinggi bercampur dengan air tawar yang bersalinitas Adanya kondisi alam estuari yang dipengaruhi pasang surut membuat masyarakat Tembilahan memiliki kesulitan atau hambatan untuk beraktivitas ke desa- desa seberang, khususnya bagi masyarakat Pekan Arba. 377 | P a g e Maulana. A et. Vol 4. 2-2024 Pekan Arba merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Tembilahan. Secara geografis Pekan Arba memiliki wilayah yang berada di pinggir dan akan berhadapan langsung dengan kondisi alam pasang surut. Sebagian masyarakat Pekan Arba memiliki aktivitas yang berada di desa- desa seberang. Begitu juga pada masyarakat di desa- desa seberang untuk ke kota, memiliki kesulitan yang sama. Keadaan alam pasang surut membuat masyarakat Pekan Arba berusaha keras memahami lingkungannya . Menurut Odum . 3: . ekologi adalah interaksi antara organisme dengan lingkungannya, baik lingkungan yang sifatnya hidup . maupun lingkungan yang tak hidup . Masyarakat Pekan Arba berusaha beradaptasi dengan memahami lingkungan yang berupa pengetahuan, norma adat, nilai budaya, aktivitas dan peralatan. Hal ini sebagai gambaran pengalaman yang dipahami oleh masyarakat itu sendiri dan menjadi pandangan untuk melihat serta memahami gejala- gejala yang dihadapi sebagai strategi dalam mengelola lingkungannya. Pada akhirnya masyarakat Pekan Arba mampu memahami lingkungannya dan beradaptasi atas fenomena yang terjadi melalui teknologi yang mereka Teknologi tersebut berupa alat transportasi yang dinamakan sampan leper. Sampan leper menjadi bukti nyata bahwa masyarakat Tembilahan khususnya di Kelurahan Pekan Arba tidak menyerah dengan keadaan alam yang menghambatnya. Masyarakat Pekan Arba yang memiliki kesulitan terhadap kondisi alam pasang surut, sekarang terbantu dengan adanya cipta karya dari inovasi terdahulu untuk mengatasi hal tersebut dan tetap bisa melakukan aktivitasnya. Sampan leper menjadi sebuah warisan yang berbentuk benda pada masyarakat Pekan Arba yang sampai saat ini masih dijaga dalam keberlangsungan aktivitas masyarakat Pekan Arba tersebut. Sampan leper terdiri dari dua suku kata yaitu sampan dan leper. Sampan merupakan perahu kecil dan leper berasal dari bahasa Banjar yang berarti pipih / datar. Jadi, sampan leper merupakan sampan yang dimana bagian bawahnya berbentuk leper atau berbentuk Sampan leper digunakan pada saat air sedang surut dan dikendarai di atas lumpur. Dengan dikendarai di atas lumpur tentunya perlu tenaga yang lebih untuk mendayung sampan tersebut. Sampan leper memiliki ukuran 1 x 4 Ae 1,5 x 6 meter dan memiliki dua dayung sebagai media penggerak sampan tersebut. Sampan tersebut dapat menampung 3 Ae 5 orang. Sampan leper menjadi tranportasi air yang diwariskan dari generasi ke generasi yang sampai saat ini masih ada. Berangkat dari uraian di atas, dapat kita ketahui berawal dari adaptasi masyarakat terhadap lingkunganya yang membawa hadirnya sampan leper ini, yaitu mereka menyadari bahwa sulitnya untuk beraktivitas ke daerah seberang atau pun sebaliknya ketika musim Artinya masyarakat Pekan Arba bisa beradaptasi atau berinteraksi dengan lingkungannya melalui sampan leper. Berdasarkan hal tersebut, penulis merasa tertarik melakukan penelitian lebih dalam tentang sampan leper ini. Penulis ingin melihat bagaimana sampan leper ini sebagai jawaban masyarakat Pekan Arba untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan sekitarnya yang berupa estuari dan fungsi sampan leper dalam masyarakat Pekan Arba. 378 | P a g e Maulana. A et. Vol 4. PENDEKATAN TEORI Teori Adaptasi Ekologi (Julian Stewar. Ekologi secara sederhana merupakan suatu ilmu yang mempelajari hubungan atau interaksi yang terjadi pada makhluk hidup dan lingkungan. Menurut Eriksen . alam Fransiska, 2020: . kaum antropologis berpendapat adanya saling keterkaitan antara kondisi ekologi dan cara hidup. Jadi, adaptasi ekologi merupakan cara masyarakat dalam berinteraksi terhadap lingkungannya sebagai upaya masyarakat dalam penyesuaian diri untuk memenuhi kebutuhannya. Bagaimana cara masyarakat untuk bertahan dalam keadaan yang dihadapi demi keberlangsungan kehidupan dan perkembanganya. Dalam hal tersebut, dapat disimpulkan kebudayaan lahir dari sistem adaptasi. Menurut Steward . 5: . , ekologi budaya mengajukan pandangan bahwa interaksi kebudayaan dan lingkungan berlangsung melalui proses adaptasi, terutama inovasi Interaksi ini tidak hanya mengubah lingkungan, tetapi juga mengubah asupan energi, materi, dan informasi ke dalam populasi manusia, sehingga kebudayaan menjadi cara hidupnya turut berubah. Di sini terlihat bahwa Steward menganggap kebudayaan merupakan suatu tumpuan dimana manusia bisa beradaptasi terhadap kondisi lingkungan beserta perubahannya. Ada tiga prosedur mendasar dalam mengkaji masalah ekologi Pertama, keterkaitan antara teknologi. Kedua, strategi atau pola tindakan masyarakat dalam menggunakan teknologi. Prosedur ketiga, efek dari adanya teknologi dan eksploitasi strategi. Menurut Steaward . , perspektif ekologi budaya unsur- unsur pokok adalah polapola perilaku . ehavior pattern. , yakni kerja . , dan teknologi yang dipakai di dalam proses pengolahan atau pemanfaatan lingkungan. Seperti yang terjadi pada masyarakat Pekan Arba yang berinteraksi terhadap lingkungannya. Adanya kondisi alam yang membuat masyarakat kesulitan ini mendorong terciptanya sampan leper sebagai strategi masyarakat dalam beradaptasi dengan lingkungannya, hingga menjadi sebuah alat transportasi dengan fungsi- fungsi yang terkandung di dalamnya. Teori Fungsionalisme (Bronislaw K. Malinowsk. Secara harfiah arti dasar kata fungsi adalah aktivitas atau kerja yang berdekatan dengan kata guna atau manfaat. Menurut Bronislaw K. Malinowski . 4: . fungsionalisme merupakan semua unsur kebudayaan bermanfaat bagi masyarakat dimana unsur itu terdapat. Dengan kata lain pandangan fungsionalisme terhadap kebudayaan mempertahankan bahwa setiap pola kelakuan yang sudah menjadi kebiasaan, kepercayaan dan sikap yang merupakan bagian dari kebudayaan dalam suatu masyarakat, memenuhi beberapa fungsi mendasar dalam kebudayaan bersangkutan. Fungsionalisme mempunyai pendirian bahwa segala aktivitas kebudayaan itu sebenarnya bermaksud memuaskan suatu rangkaian dari sebuah kebutuhan naluri manusia yang berhubungan dengan keseluruhan kehidupannya. Menurut Malinowski, fungsi dari suatu unsur kebudayaan adalah kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder dari pada warga suatu masyarakat. Seperti halnya sampan leper pada masyarakat Pekan Arba yang menjadi kunci masyarakat dalam beraktivitas terutama saat kondisi surut yang berujung pada pemenuhan kebutuhan masyarakat. Sampan leper 379 | P a g e Maulana. A et. Vol 4. 2-2024 memiliki fungsi dalam berbagai hal, seperti ekonomi, budaya dan sebagainya, baik itu dalam pemenuhan kebutuhan primer maupun sekunder. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan motode kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan pendekatan yang lebih menekankan pada aspek pemahaman secara mendalam terhadap suatu masalah daripada melihat permasalahan untuk penelitian generalisasi. Kualitatif adalah penelitian dengan tujuan untuk memahami fenomena mengenai apa yang dialami subjek penelitian secara utuh dan ditulis dalam bentuk kata- kata serta bahasa ilmiah (Moleong, 2007: . Penelitian kualitatif menggunakan beberapa cara dalam pengumpulan data, diantaranya observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi literatur untuk mengumpulkan data. Selain itu, dalam penelitian kualitatif terdapat teknik analisis data. Sugiyono . 7: . menyatakan bahwa analisis data adalah proses mencari dan merencanakan secara sistematis data yang telah diperoleh dari hasil wawancara catatan lapangan dan dokumentasi dengan cara menyusun bagian data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam bagian terkecil, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilah mana yang penting dan yang dapat dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga bisa mudah untuk dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Adapun tahap- tahap dalam analisis data adalah sebagai berikut: Reduksi Data Reduksi data merupakan merangkum semua data yang diperoleh selama meneliti sampan leper di Kelurahan Pekan Arba menentukan suatu hal yang pokok, memusatkan pada hal yang penting, mencari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu (Sugiyono, 2017: . Analisis data dilakukan dengan cara pengelompokan data hasil penelitian kedalam beberapa kelompok- kelompok setelah itu dilakukan analisis data dengan menggunakan landasan teori yang penulis gunakan, dan terakhir diinterpretasi secara menyeluruh. Interpretasi ini dilakukan dengan dua cara yaitu secara emik maupun secara etik. Penyajian Data Sesudah mereduksi data, selanjutnya melakukan penyajian data untuk mempermudah memahami data yang diperoleh. Pada penelitian ini, data yang penulis teliti di Pekan Arba akan disajikan dalam bentuk teks yang bersifat naratif sehingga dapat dipahami dengan Penarikan kesimpulan Tahap ketiga yaitu penarikan kesimpulan. Simpulan dalam penelitian kualitatif berupa adanya temuan baru yang sebelumnya belum ada, baik berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih dengan perpanjang pengamatan, mengoreksi data lagi yang diperoleh dari hasil meneliti objek yang terjadi di Pekan Arba. Bila data dinyatakan kredibel, maka selanjutnya dibuat kesimpulan hasil penelitian. 380 | P a g e Maulana. A et. Vol 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Latar Belakang Lahirnya Sampan Leper Sebagai Adaptasi Masyarakat Pekan Arba Umumnya masyarakat Pekan Arba dalam melakukan aktivitas di perairan menggunakan sampan. Sampan merupakan jenis perahu kecil yang berbahan dasar kayu dan mempunyai bentuk lebih sederhana dibanding pompong . Sampan memiliki ukuran sekitar 3 Ae 6 meter yang dapat menampung 3 Ae 7 orang. Sampan digunakan sebagai transportasi di sungai atau di danau untuk nelayan menangkap ikan atau aktivitas lainnya, namun sampan tidak dapat digunakan berlayar dengan jarak yang jauh karena sampan memiliki kestabilan yang rendah. Sampan yang menjadi alat transportasi masyarakat dalam aktivitas sehari- hari tidak dapat digunakan di Pekan Arba saat sungai mengalami surut. Hal ini, akibat dari adanya fenomena pasang surut, membuat masyarakat Pekan Arba kesulitan bahkan terhenti untuk beraktivitas ke daerah seberang ataupun sebaliknya. Daerah Pekan Arba memiliki karakter estuari yang menyebabkan kendala pada kegiatan masyarakatnya. Hal tersebut, menyebabkan mereka berusaha untuk memahami dan beradaptasi terhadap lingkungannya agar tetap dapat melakukan aktivitas sehari- hari ketika kondisi sungai surut. Adaptasi bermula dari salah seorang masyarakat seberang Pekan Arba mengalami kemalangan dan harus dibawa untuk dikebumikan di Pekan Arba yang pada saat itu kondisi sungai sedang surut. Peristiwa yang memaksa masyarakat Pekan Arba untuk lebih cepat dalam memahami dan beradaptasi dengan lingkungannya terutama saat sungai sedang surut agar tetap dapat menyeberang. Masyarakat Pekan Arba beradaptasi dengan cara mencoba berbagai bentuk sampan atau perahu, sampai akhirnya pada sampan pucai. Masyarakat Pekan Arba pada awalnya tidak hanya mencoba sampan pucai, melainkan juga mencoba sampan atau pompong . dengan bentuk dan ukuran yang berbeda. Pada umumnya sampan dan pompong memiliki bentuk yang semakin ke bawah semakin Bentuk seperti ini berfungsi agar sampan atau pompong tersebut mudah untuk dikendarai di atas air dan memiliki keseimbangan yang stabil. Berbeda ketika sungai mengalami surut, kita tidak akan dihadapkan lagi dengan air, melainkan lumpur. Lumpur memiliki sifat yang lebih padat, yang artinya tidak dapat disamakan alat transportasi yang akan digunakan ketika di atas air dan di lumpur. Sampan pucai menjadi langkah awal untuk perkenalan antara masyarakat Pekan Arba ataupun masyarakat seberang dengan lingkungannya ketika kondisi sungai sedang surut. Gambar 1. Ilustrasi Sampan Pucai Sumber: Ahmad Maulana. 381 | P a g e Maulana. A et. Vol 4. 2-2024 Sampan pucai merupakan sampan yang terbuat dari kayu yang berbentuk persegi panjang, artinya semua sisi pada sampan ini memiliki bentuk yang datar, tidak memiliki lengkung seperti sampan pada umumnya. Sampan pucai memiliki ukuran 1 x 2 meter sampai 1,5 x 4 meter, tergantung penggunaannya. Sampan pucai biasanya digunakan nelayan di sekitar pinggiran sungai ketika kondisi sungai sedang normal dan tidak Bentuk bawah sampan yang datar membuat sampan pucai tidak bisa digunakan ketika air sedang bergelombang dan berlayar dengan jarak yang jauh karena memiliki kestabilan yang sangat rendah, sehingga jika tetap memaksa menggunakan sampan pucai saat air bergelombang menyebabkan sampan rawan terbalik. Sampan pucai yang telah membantu aktivitas masyarakat Pekan Arba terutama saat kondisi sungai sedang surut, namun masih terdapat kendala pada pergerakan sampan pucai yang tidak dapat berjalan dengan mudah akibat bentuknya yang persegi panjang. Kendala yang terdapat pada sampan pucai menjadi permasalahan bagi masyarakat Pekan Arba, sehingga mereka berusaha kembali untuk beradaptasi atas kendala yang ada dengan menyesuaikan bentuk sampan. Penyesuaian tersebut, berawal dari masyarakat yang terinspirasi dari ikan cempakul. Gambar 2. Ikan Cempakul atau Tembakul (Oxudercina. Sumber: Wikipidia Banjar Ikan cempakul atau tembakul merupakan jenis ikan amfibi . kan yang dapat hidup di air atau pun di dara. membuat ikan tersebut dapat berjalan di air maupun di daratan. Ikan cempakul atau tembakul dilihat dari bentuknya memiliki badan yang semakin ke belakang semakin mengecil, bagian bawah badannya berbentuk datar dan memiliki dua sirip sebagai alat gerak ikan tersebut. Melihat ikan cempakul atau tembakul yang dapat berjalan di air maupun di darat, masyarakat berusaha memahami lingkunganya dengan menyesuaikan bentuk sampan pucai menjadi sampan yang berbentuk ikan cempakul. Hal ini, menjadikan masyarakat terinspirasi untuk berinovasi dan menyesuaikan bentuk sampan pucai dengan bentuk ikan cempakul. Pada tahun 1985, penggabungan sampan pucai dengan bentuk ikan cempakul berbuah hasil dan menjadi jawaban dari permasalahan yang dialami oleh masyarakat Pekan Arba. Penggabungan tersebut menghasilkan sampan yang memiliki bentuk berbeda pada sampan sebelumnya, yaitu terlihat dari masyarakat yang mengubah bentuk sampan dari sampan 382 | P a g e Maulana. A et. Vol 4. 2-2024 pucai yang memiliki bentuk persegi panjang menjadi sampan yang memiliki bentuk pada bagian sisi kanan dan kiri melengkung dari depan ke belakang, sehingga berbentuk mengkerucut ke depan dan ke belakang. Perubahan lainnya, terlihat dari bentuk bagian bawahnya, pada bagian bawah depan dan belakangnya agak melengkung ke atas, namun pada bagian bawah tengahnya tetap datar. Bentuk bawah sampan yang datar atau masyarakat Pekan Arba menyebutnya leper, sehingga masyarakat setempat menamakan sampan tersebut dengan sampan leper. Sampan leper merupakan sampan yang terbuat dari bahan dasar kayu dan memiliki bentuk pada bagian bawah tengahnya berbentuk datar. Ukuran sampan leper berkisar 1 x 4 Ae 1,5 x 6 meter yang dapat menampung 3 Ae 5 orang. Selain itu, sampan leper memiliki dua dayung yang berada di sisi kanan dan kiri sampan. Panjang dayung pada sampan leper berkisar 150 cm Ae 200 cm, tergantung tinggi pengguna sampan leper tersebut. Dengan perubahan bentuk yang terjadi, menghasilkan sampan leper menjadi jawaban dari permasalahan yang dialami oleh masyarakat Pekan Arba. Gambar 3. Teknik Mendayung Sampan Leper Dokumentasi: Ahmad Maulana. Pekan Arba, 18 April 2024 Tujuan utama penggunaan sampan leper yaitu saat kondisi sungai sedang surut, namun sampan leper juga dapat digunakan saat air normal, bahkan pasang. Hal ini, dikarenakan sampan tersebut yang telah disesuaikan oleh masyarakat dengan lingkungannya yang mengalami pasang surut, hanya saja perlu memahami cara atau teknik untuk menggunakan sampan leper. Dalam penggunaan sampan leper, terutama pada saat surut memerlukan teknik sebagai pendayung . rang yang mendayun. Pendayung harus bisa mengira kedalaman dayung yang akan ditancapkan ke dalam lumpur tergantung pada tingkat kekerasan lumpur tersebut, tidak bisa terlalu dalam dan tidak bisa terlalu dangkal. Selain itu, pendayung harus mengambil satu langkah ke belakang setiap sekali dayung sebagai ancang- ancang atau awalan bagi pendayung yang akan melangkah ke depan, bergandengan dengan mendayung sampan tersebut. Awalan atau ancang- ancang tersebut, 383 | P a g e Maulana. A et. Vol 4. 2-2024 sebagai upaya yang dilakukan oleh pendayung untuk membangun momentum agar mendapatkan pergerakan atau tenaga dengan maksimal. Keberhasilahan masyarakat Pekan Arba dalam menciptakan sampan leper sebagai jawaban dari permasalahan mengenai lingkungannya serta keunikan dari teknik mendayungnya dipandang positif oleh pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir. Pandangan positif tersebut menghasilkan sebuah kegiatan yang dinamakan Festival Pacu Sampan Leper. Kegiatan tersebut ditujukan pemerintah sebagai wadah bagi masyarakat dalam melestarikan kebudayaannya. 2 Efek Penggunaan Sampan Leper Dan Ilustrasi Salah Satu Jalur Sampan Leper Gambar 4. Efek Penggunaan Sampan Leper Dokumentasi: Ahmad Maulana. Pekan Arba, 18 April 2024 Sampan leper adalah inovasi dari sampan sebelumnya . ampan puca. yang digabungkan dengan bentuk ikan cempakul menjadi cara masyarakat dalam beradaptasi. Terciptanya sampan leper, membuat masyarakat Pekan Arba dan sekitarnya terbantu dalam permasalahan yang mereka alami, namun disisi lain dengan terciptanya sampan leper juga memiliki efek pada lingkungannya. Efek dari penggunaan sampan leper terlihat pada lingkungan Pekan Arba yang mengalami sedimentasi. Sedimentasi tersebut mengakibatkan sungai Pekan Arba mengalami pendangkalan dan menjadi daratan di pinggiran sungai yang ditumbuhi berbagai tumbuhan seperti rerumputan, pohon nipah dan tumbuhan lainnya. Kegunaan dan mobilitas sampan leper yang ditujukan ketika kondisi sungai surut, menyebabkan jalur sampan leper tidak mengalami sedimentasi. Bahkan sebaliknya, dengan penggunaan sampan leper menyebabkan pendalaman lumpur dan pendangkalan dibagian sisi kanan dan kiri jalur sampan leper. Hal tersebut menyebabkan pendayung merasa lebih berat saat mendayung untuk melakukan aktivitas ke daerah seberang dan memerlukan waktu yang lebih lama. 384 | P a g e Maulana. A et. Vol 4. 2-2024 Gambar 5. Ilustrasi Salah Satu Jalur Sampan Leper Sumber: Ahmad Maulana Keterangan : : Sungai Batang Tuaka . ungai lalu lintas sampan lepe. : Jalan di daerah Pekan Arba dan Tanjung Siantar : Pelabuhan di daerah Pekan Arba dan Tanjung Siantar : Daratan pada daerah Pekan Arba dan Tanjung Siantar yang memiliki karakteristik Berdasarkan ilustrasi di atas, sampan leper memiliki jalur dari pelabuhan Pekan Arba sampai pelabuhan Tanjung Siantar yang berjarak A 150 meter. Tanjung Siantar merupakan desa yang berada di seberang Pekan Arba. Dengan jarak tersebut, untuk menempuh perjalan dari Pekan Arba menuju Tanjung Siantar ataupun sebaliknya dari Tanjung Siantar menuju Pekan Arba memerlukan waktu yang tergantung kondisi sungai pasang atau surut. Ketika sungai sedang pasang waktu yang diperlukan sekitar 10 Ae 15 menit, namun ketika sungai mengalami surut memerlukan waktu berkisar 20 Ae 30 menit. 3 Fungsi Sampan Leper Pada Masyarakat Pekan Arba Fungsi Ekologi Masyarakat Pekan Arba tidak hanya semata- mata memikirkan dirinya sendiri dalam mencari cara agar tetap dapat beraktivitas ke daerah seberang. Dalam hal ini, mereka juga memikirkan cara agar tidak merusak lingkungan. Artinya, masyarakat mencari cara agar tetap dapat beraktivitas ke daerah seberang tanpa merusak biotik maupun abiotik yang mereka miliki. Akhirnya, masyarakat Pekan Arba berhasil beradaptasi dengan lingkungannya dengan menciptakan alat transpotasi untuk ke daerah seberang. Alat transportasi tersebut dinamakan sampan leper. Sampan leper diciptakan dengan bentuk yang telah disesuaikan dengan alamnya, berbentuk datar atau leper. Penciptaan sampan leper dengan bentuk tersebut tidak hanya berfungsi mempermudah gerakan sampan, melainkan berfungsi dalam menjaga ekologi. Mobilitas sampan leper yang di atas air ketika pasang dan di atas lumpur ketika surut sebagai bukti, bahwa tanpa ada merubah biotik maupun abiotik, masyarakat tetap dapat beraktivitas ke daerah seberang menggunakan sampan leper. Fungsi Ekonomi 385 | P a g e Maulana. A et. Vol 4. 2-2024 Sampan leper pada awalnya hanya dimiliki oleh masyarakat Pekan Arba. Dengan begitu, hanya masyarakat Pekan Arba yang dapat melakukan aktivitas ke daerah seberang, namun kenyataannya aktivitas di daerah seberang tidak hanya dibutuhkan oleh masyarakat Pekan Arba saja, melainkan masyarakat di luar Pekan Arba juga membutuhkan sampan leper untuk keberlangsungan aktivitas mereka. Seiring waktu, kebutuhan untuk menggunakan sampan leper semakin meningkat. Melihat hal ini, masyarakat Pekan Arba menjadikan sampan leper sebagai peluang kerja dengan menawarkan jasa untuk ke seberang menggunakan sampan leper saat pasang maupun surut. Pekerjaan tersebut, masyarakat Pekan Arba biasa menyebutnya penambang sampan leper. Sampan leper menjadi mata pencaharian utama bagi sebagian masyarakat Pekan Arba. Saat ini, terdapat pelabuhan di salah satu bagian pinggir sungai Pekan Arba yang menjadi tempat naik / turunnya penumpang sampan leper. Biasanya dari pelabuhan Pekan Arba menuju Tanjung Siantar memiliki tarif Rp. 000 / orang . epuluh ribu per oran. Selain itu, sampan leper juga dapat membawa motor, sembako, kayu ataupun sebagainya yang memiliki tarif relatif, tergantung berat dan besarnya yang berkisar Rp. 000 Ae Rp. epuluh ribu sampai tigapuluh rib. Gambar 6. Contoh Barang Yang Dibawa Sampan Leper. Dokumentasi: Ahmad Maulana. Pekan Arba, 5 Maret 2024. Penggunaan sampan leper dapat membawa apa saja asalkan sesuai dengan besar dan kekuatan dari sampan tersebut. Sampan leper dapat membawa barang- barang dengan ukuran yang cukup besar seperti kayu, lemari, motor, bahkan sampan leper juga menjadi jawaban ketika ada keadaan darurat seperti orang meninggal dan orang lahiran. Selain itu, tidak jarang masyarakat Pekan Arba bahkan di luar daerah Pekan Arba yang mengambil foto pra nikah . dengan menggunakan sampan leper. Foto pra nikah dengan menggunakan sampan leper memiliki tarif yang relatif, berkisar Rp. 000 Ae Rp. ima puluh ribu sampai seratus rib. Masyarakat memandang alam Pekan Arba dan sampan leper sebuah kekayaan yang mereka miliki. Fungsi ekonomi lainnya dalam keberhasilan masyarakat Pekan Arba menyelesaikan masalah terkait dengan lingkungannya, pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir menyelenggarakan perlombaan sampan leper yang dinamakan Festival Pacu Sampan Leper. 386 | P a g e Maulana. A et. Vol 4. 2-2024 Penyelenggaraan Festival Pacu Sampan Leper berdampak pada ekonomi masyarakat Pekan Arba, yang dimana dalam perlombaan tersebut terdapat hadiah berupa sapi untuk yang juara 1, uang bagi juara 2 dan 3, serta sembako bagi peserta yang mengikuti festival tersebut. Selain itu, dengan adanya kegiatan tersebut dapat meningkatkan ekonomi masyarakat setempat dengan membuka usaha kecil- kecilan yang ditujukan kepada wisatawan/ Dalam hal ini, sampan leper memiliki banyak manfaat terutama bagi masyarakat Pekan Arba dalam perekonomian mereka. Manfaat ekonomi yang dimaksud adalah membantu masyarakat Pekan Arba dalam meningkatkan perekomiannya melalui jumlah uang yang dihasilkan dari semua aktivitas yang terjadi akibat adanya kegiatan menggunakan sampan leper. Fungsi Sosial Fungsi sosial pada sampan leper diawali pada pembuatan sampan leper. Pembuatan tersebut, pada umumnya masyarakat Pekan Arba melakukannya dengan bergotong royong atau bekerja sama. Pembuatannya yang memerlukan pengetahuan, biasanya akan diturunkan dari generasi ke generasi melalui gotong royong tersebut. Selain itu, pada kegiatan sehari- harinya dalam menambang sampan leper akan bergantian satu per satu dalam menunggu penumpang. Gambar 7. Kerja Sama Antar Penambang Sampan Leper Dalam Menurunkan Barang Bawaan Penumpang. Dokumentasi: Ahmad Maulana. Pekan Arba, 26 April 2024. Fungsi sosial lainnya juga terlihat pada sistem bergantian para penambang untuk menunggu penumpang. Sistem bergantian dalam menunggu penumpang menjadi aturan/ norma bagi mereka agar seluruh penambang mendapatkan keadilan. Selain itu, terdapat sistem gotong royong yang mereka lakukan, terlihat pada saat sampan bermuatan barangbarang berat, penambang lainnya langsung sigap untuk membantu menurunkan barangbarang tersebut. Dalam lingkungan sampan leper terdapat kelompok, yang dinamakan Persatuan Penambang Sampan Leper. Lahirnya kelompok ini, hasil dari berkembangnya keberadaan sampan leper. Keberadaan sampan leper saat ini semakin meluas karena memiliki masalah yang sama yang dialami oleh Pekan Arba, yaitu daerah Tanjung Siantar dan Junjangan. Dengan adanya persatuan tersebut, ditujukan kepeda seluruh penambang ataupun pengguna sampan leper agar semakin terjaga hubungan dengan baik dan solid. Salah satu contohnya 387 | P a g e Maulana. A et. Vol 4. 2-2024 terlihat jika salah seorang dalam kelompok tersebut mengalami kemalangan, anggota kelompok lainnya langsung sigap untuk menjenguknya. Fungsi Budaya Keberhasilan yang dicapai oleh masyarakat Pekan Arba dalam menciptakan sampan leper menjadi sebuah kegiatan yang dinamakan Festival Pacu Sampan Leper dan diselenggarakan oleh pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir. Kegiatan tersebut pertama kali diselenggarakan pada tahun 1994 dan menjadi acara tahunan kabupaten dengan dihadiri oleh perwakilan tiap- tiap daerah yang ada di Kabupaten Indragiri Hilir. Kegiatan ini sebagai cara pemerintah dalam mewadahi masyarakat untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan yang mereka miliki. Fungsi sampan leper terhadap budaya juga terlihat dari macam bentuk pada linggi atau Linggi atau tangkong merupakan salah satu bagian dari sampan leper yang berada di depan. Bentuk pada linggi atau tangkong sebagai simbol bagi masyarakat Pekan Arba yang memilik makna tertentu. Gambar 8. Tangkong Atau Linggi Sampan Leper Berbentuk Kepala Burung. Dokumentasi: Ahmad Maulana. Pekan Arba, 26 April 2024. Tidak hanya terdapat keunikan pada bentuk bawah sampan leper yang datar. Sampan leper juga memiliki keunikan pada bentuk linggi atau tangkongnya yang memiliki beragam bentuk, seperti kepala burung, kepala ular atau hewan- hewan lainnya. Hal ini bertujuan untuk keindahan pada sampan leper dan sebagai simbol bahwa masyarakat berhasil menghadapi kendala untuk beraktivitas yang disebabkan oleh lingkungannya. Linggi atau tangkong yang berbentuk burung diartikan oleh masyarakat Pekan Arba sebagai kebebasan dalam aktivitas keseharian mereka tanpa harus takut dengan kodisi pasang maupun surut selama menggunakan sampan leper. Selain itu, linggi atau tangkong yang berbentuk ular, masyarakat Pekan Arba mengartikan sampan leper sebagai obat dari permasalahan yang dialami oleh mereka. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang berjudul AuSampan Leper Sebagai Adaptasi Ekologi Estuari Pada Masyarakat Pekan Arba. Kecamatan Tembilahan. Kabupaten Indragiri Hilir, 388 | P a g e Maulana. A et. Vol 4. 2-2024 Provinsi RiauAy dapat ditarik kesimpulan yaitu sampan leper menjadi teknologi yang diciptakan melalui adaptasi terhadap lingkungan estuari dan memiliki fungsi dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Pekan Arba. Adaptasi yang dilakukan masyarakat Pekan Arba berawal dari sampan pucai, lalu merubah bentuk sampan pucai menyerupai ikan cempakul, hingga pada tahun 1985 masyarakat Pekan Arba berhasil menciptakan sampan leper . Sampan leper menjadi jawaban dari permasalahan yang dialami oleh masyarakat Pekan Arba terkait lingkungannya dan memiliki fungsi terhadap beberapa aspek. Pertama fungsi ekologi, masyarakat beradaptasi dengan membuat teknologi yang dinamakan sampan leper, tanpa merusak lingkungannya . iotik maupun abioti. Kedua fungsi ekonomi, seiring perkembangan waktu, sampan leper dijadikan sebagai peluang kerja bagi masyarakat Pekan Arba dengan menawarkan jasa ke daerah seberang dengan upah yang telah ditetapkan. Ketiga fungsi sosial, sistem bergantian yang menjadi aturan dalam penambang sampan leper. Selain itu, terdapat kelompok sampan leper yang bernama Persatuan Penambang Sampan Leper sebagai bentuk solidaritas dan menjaga hubungan antar sesamanya. Keempat fungsi budaya, penyelenggarakan festival pacu sampan leper dan menjadi acara tahunan. Selain itu, sampan leper memiliki keunikan pada salah satu bagiannya yaitu linggi atau tangkong yang memiliki berbagai macam bentuk kepala hewan dengan makna tertentu. REFERENSI