eISSN 0000-0000 & pISSN 0000-0000 org/10. 63822/ib. Vol. No. Juni Tahun 2025 Hal. JournalHomepage: https://ojs. id/index. php/ib Praktek Pelaksanaan Wudhu dan Shalat serta Makna dalam Kehidupan Sehari-hari Rusdiana1. Zulfa R. Aluf2. Mahbubi3 Program Studi Pendidikan Agama Islam. Fakultas Agama Islam. Universitas Nurul Jadid1,2,3 Email Korespodensi: rusd7190@gmail. INFO ARTIKEL ABSTRACT Histori Artikel: Fiqih merupakan salah satu cabang ilmu dalam agama Islam yang mengatur berbagai aspek kehidupan umat Muslim, termasuk dalam pelaksanaan Dua ibadah yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari adalah wudhu dan shalat. Wudhu merupakan ritual penyucian diri sebelum melaksanakan shalat yang memiliki tata cara dan syarat-syarat tertentu. Dalam fiqih, wudhu tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan pembersihan fisik, tetapi juga sebagai sarana untuk menyucikan hati dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Artikel ini bertujuan untuk membahas tata cara wudhu yang benar sesuai dengan ajaran fiqih serta maknanya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, artikel ini juga akan menjelaskan tentang shalat sebagai bentuk ibadah yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim, yang memiliki aturan dan syarat yang harus dipenuhi agar sah. Melalui pemahaman yang mendalam tentang fiqih wudhu dan shalat, diharapkan pembaca dapat mengaplikasikan tata cara tersebut dengan benar dan meresapi maknanya dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman yang baik mengenai kedua ibadah ini akan memperkuat kualitas ibadah serta memperdalam penghayatan spiritual dalam menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim. Katakunci: Wudhu. Shalat. Tata Cara Wudhu. Makna Wudhu. Ibadah. Copyright A 2025 The Author. This article is distributed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. s 11 Praktek Pelaksanaan Wudhu dan Shalat serta Makna dalam Kehidupan Sehari-hari (Rusdiana, et al. PENDAHULUAN Wudhu, sebagai bentuk pembersihan diri, memiliki makna yang sangat mendalam dalam kehidupan seorang Muslim. Wudhu bukan hanya sekadar aktivitas pembersihan fisik, tetapi juga merupakan upaya untuk menyucikan hati dan pikiran dari hal-hal yang tidak baik. Dalam ajaran Islam, bersih tidak hanya berarti fisik, tetapi juga hati yang bersih dari dosa. Oleh karena itu, wudhu menjadi simbol penyucian diri baik secara lahir maupun batin, agar seorang Muslim dapat melaksanakan ibadah dengan khusyuk dan penuh kesadaran. Tata cara wudhu yang benar sangat penting untuk dipahami oleh setiap Muslim, terutama bagi para remaja yang mulai belajar tentang kewajiban-kewajiban ibadah. Setiap langkah dalam wudhu memiliki makna tersendiri dan tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Mulai dari niat, mencuci tangan, membasuh wajah, hingga mengusap kepala dan kaki, semua dilakukan dengan urutan yang tepat dan sesuai dengan petunjuk yang diajarkan dalam Al-QurAoan dan Hadis. Dengan memahami tata cara wudhu yang benar, umat Islam tidak hanya memperoleh kesucian fisik, tetapi juga mendapatkan pahala dan keberkahan dari Allah SWT. Setelah melakukan wudhu, seorang Muslim dapat melaksanakan shalat, ibadah yang menjadi tiang Shalat adalah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap Muslim dewasa, baik pria maupun wanita, sebanyak lima kali dalam sehari. Shalat memiliki tata cara yang terstruktur dan sangat jelas, yang meliputi gerakan-gerakan fisik, seperti berdiri, ruku, sujud, hingga duduk, yang dilakukan dengan tujuan untuk menunjukkan ketaatan dan penghambaan seorang hamba kepada Allah SWT. Shalat bukan hanya sekadar aktivitas fisik, tetapi juga merupakan sarana untuk berkomunikasi dengan Allah, mengungkapkan rasa syukur, memohon ampunan, dan meminta petunjuk-Nya. Seperti halnya wudhu, shalat juga memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi agar sah dan diterima oleh Allah SWT. Salah satu syarat utama dalam shalat adalah wudhu yang sah. Artinya, sebelum melaksanakan shalat, seorang Muslim harus memastikan bahwa dirinya dalam keadaan suci dari hadas kecil dan besar. Wudhu yang benar dan sesuai dengan tuntunan fiqih menjadi syarat utama agar shalat yang dilaksanakan dapat diterima oleh Allah SWT. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk memahami dengan baik tata cara wudhu dan shalat agar ibadah yang dilakukan tidak sia-sia. Pentingnya pemahaman tentang wudhu dan shalat juga berkaitan dengan peningkatan kualitas spiritual seorang Muslim. Ibadah tidak hanya dilihat dari segi fisik semata, tetapi juga harus diperhatikan aspek Dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal yang bisa mengganggu kekhusyukan ibadah, mulai dari kesibukan duniawi, gangguan pikiran, hingga kebiasaan buruk yang sering kali mempengaruhi hati. Oleh karena itu, ibadah seperti wudhu dan shalat berfungsi sebagai alat untuk membersihkan hati dan jiwa, menyucikan diri dari dosa, dan mendekatkan diri kepada Allah. Setiap gerakan dalam shalat, seperti rukuk, sujud, dan tahiyyat, mengandung makna yang mendalam, yang mengingatkan umat Muslim untuk selalu rendah hati, berserah diri, dan mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. Meskipun tata cara wudhu dan shalat terlihat sederhana, namun banyak umat Muslim yang terkadang masih melupakan beberapa syarat atau melakukan langkah-langkahnya dengan tidak sempurna. Hal ini sering terjadi karena kurangnya pemahaman tentang fiqih wudhu dan shalat, serta ketidaktahuan tentang betapa pentingnya ibadah tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pendidikan tentang fiqih wudhu dan shalat harus diberikan sejak dini, terutama bagi siswa-siswi di tingkat madrasah tsanawiyah (MTS), agar mereka bisa menjalankan ibadah dengan benar dan sesuai dengan ajaran agama. Dalam konteks pendidikan agama Islam di MTS, materi fiqih tentang wudhu dan shalat menjadi bagian yang sangat krusial untuk dipelajari. Melalui pengajaran yang benar dan sistematis, diharapkan siswa dapat memahami tidak hanya cara melaksanakan wudhu dan shalat dengan baik, tetapi juga menghayati makna a 12 Praktek Pelaksanaan Wudhu dan Shalat serta Makna dalam Kehidupan Sehari-hari (Rusdiana, et al. dan tujuan dari kedua ibadah tersebut. Materi fiqih ini tidak hanya membahas tata cara, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti kebersihan, ketakwaan, kedisiplinan, dan rasa syukur kepada Allah SWT. Sebagai umat Islam, kita diwajibkan untuk melaksanakan shalat secara tepat waktu dan dengan tata cara yang benar. Shalat yang dilakukan dengan penuh kesadaran, dimulai dengan wudhu yang sah dan benar, akan menjadi amal ibadah yang diterima di sisi Allah. Sebaliknya, jika salah satu dari syarat atau tata cara tersebut tidak diperhatikan, maka shalat kita bisa saja tidak diterima, meskipun kita sudah melakukannya dengan penuh rasa ingin mendekatkan diri kepada-Nya. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk terus belajar dan meningkatkan pemahaman tentang fiqih wudhu dan shalat agar ibadah yang dilaksanakan bisa memberikan manfaat yang maksimal. Sebagai penutup, wudhu dan shalat bukan hanya ibadah yang bersifat formalitas, tetapi memiliki makna yang dalam dalam kehidupan seorang Muslim. Keduanya merupakan sarana untuk menjaga kebersihan fisik dan batin, serta untuk selalu mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Oleh karena itu, pemahaman yang benar mengenai tata cara dan makna wudhu serta shalat sangat penting untuk membentuk karakter seorang Muslim yang taat, disiplin, dan selalu mengedepankan kesucian dalam setiap aspek kehidupannya. METODOLOGI Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif untuk menggali pemahaman dan praktik wudhu serta shalat pada siswa MTS kelas 7. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk memahami lebih dalam tentang tata cara wudhu dan shalat yang diajarkan di madrasah, serta makna yang terkandung di dalamnya bagi para siswa. Penelitian ini berfokus pada pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi untuk memperoleh informasi yang komprehensif terkait dengan pemahaman fiqih dalam konteks kehidupan sehari-hari. Subjek penelitian ini adalah siswa MTS kelas 7 yang sedang mempelajari materi fiqih terkait dengan wudhu dan shalat. Pemilihan kelas 7 sebagai objek penelitian didasarkan pada pertimbangan bahwa pada usia ini, siswa sudah mulai belajar tentang tata cara ibadah yang benar sesuai ajaran Islam. Selain itu, guru agama Islam yang mengajar materi fiqih juga dilibatkan untuk memberikan pandangan terkait dengan pendekatan pengajaran yang diterapkan di madrasah. Pemilihan subjek ini bertujuan untuk menggali persepsi siswa dan guru mengenai pemahaman dan pelaksanaan ibadah wudhu dan shalat, serta tantangan yang dihadapi dalam mempraktikkan ajaran fiqih ini. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan dengan siswa dan guru agama Islam untuk menggali pemahaman mereka tentang tata cara wudhu dan shalat, serta bagaimana mereka mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Wawancara ini bersifat terbuka dan fleksibel, sehingga responden dapat memberikan jawaban secara mendalam dan menggambarkan pengalaman mereka dengan jelas. Selain itu, observasi dilakukan untuk mengamati secara langsung pelaksanaan wudhu dan shalat oleh siswa, baik di dalam maupun di luar kelas. Observasi ini berguna untuk melihat apakah siswa sudah melaksanakan tata cara yang benar sesuai dengan fiqih yang diajarkan. Studi dokumentasi juga dilakukan untuk mengumpulkan informasi dari buku ajar, materi pembelajaran, dan tugas-tugas yang diberikan kepada siswa. Dokumentasi ini membantu untuk memahami materi yang diajarkan oleh guru dalam konteks fiqih wudhu dan shalat, serta memberikan gambaran tentang sejauh mana siswa menerima dan memahami materi yang diberikan. Data yang terkumpul melalui teknik- a 13 Praktek Pelaksanaan Wudhu dan Shalat serta Makna dalam Kehidupan Sehari-hari (Rusdiana, et al. teknik ini kemudian dianalisis dengan pendekatan analisis isi, di mana peneliti mengidentifikasi tema-tema yang muncul dari wawancara, observasi, dan dokumentasi. Peneliti akan mengkategorikan data tersebut berdasarkan topik-topik tertentu yang relevan, seperti tata cara wudhu, pemahaman tentang shalat, tantangan dalam mempraktikkan ibadah, dan peran guru dalam pengajaran. Keabsahan dan keandalan data dijaga dengan cara triangulasi, yaitu membandingkan data dari berbagai sumber . awancara, observasi, dan dokumentas. untuk memastikan konsistensi dan validitas informasi yang diperoleh. Selain itu, peneliti juga melakukan pemeriksaan data secara berulang untuk memastikan tidak ada bias dalam pengumpulan dan analisis data. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana siswa MTS kelas 7 memahami dan mempraktikkan tata cara wudhu dan shalat, serta kontribusi fiqih terhadap pembentukan karakter mereka sebagai individu Muslim yang taat dan disiplin. HASIL Penelitian ini bertujuan untuk menggali pemahaman dan praktik wudhu serta shalat pada siswa MTS kelas 7, yang merupakan materi penting dalam pembelajaran fiqih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas siswa MTS kelas 7 sudah memiliki pemahaman dasar mengenai tata cara wudhu dan shalat, meskipun ada beberapa kesenjangan dalam pelaksanaannya. Penelitian ini juga menemukan bahwa pemahaman yang diperoleh siswa lebih banyak dipengaruhi oleh pengajaran guru agama, media pembelajaran yang digunakan, dan kebiasaan yang diterapkan di rumah masing-masing siswa. Dari hasil wawancara dengan siswa, sebagian besar mengungkapkan bahwa mereka memahami pentingnya wudhu dan shalat dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk ibadah yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim. Namun, dalam praktiknya, tidak semua siswa melaksanakan wudhu dan shalat sesuai dengan tata cara yang benar. Beberapa siswa mengaku sering terburu-buru dalam berwudhu dan tidak memperhatikan langkah-langkahnya dengan seksama. Hal ini terutama terjadi pada siswa yang berangkat ke sekolah dalam keadaan terburu-buru atau yang merasa waktu untuk shalat terbatas karena padatnya Mereka menyatakan bahwa dalam keadaan terburu-buru, mereka kadang melewatkan beberapa langkah dalam wudhu, seperti tidak membasuh kaki dengan benar atau tidak menyempurnakan niat wudhu. Siswa juga mengungkapkan bahwa mereka sering kali merasa kurang yakin dengan cara shalat yang Beberapa siswa mengaku bahwa mereka merasa bingung ketika harus melakukan gerakan tertentu, seperti ruku, sujud, dan duduk di antara dua sujud. Meskipun mereka telah mempelajari tata cara shalat dalam pelajaran fiqih, kesulitan untuk mengingat urutan gerakan yang tepat terkadang mengganggu kekhusyukan dalam shalat. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pemahaman teoritis tentang shalat sudah ada, pengaplikasiannya dalam praktik sehari-hari masih memerlukan bimbingan dan latihan lebih lanjut. Di sisi lain, hasil wawancara dengan guru agama Islam di MTS menunjukkan bahwa pengajaran materi fiqih wudhu dan shalat dilakukan dengan pendekatan yang sistematis. Guru mengajarkan tata cara wudhu dan shalat berdasarkan petunjuk dalam Al-QurAoan dan Hadis, dengan penekanan pada pentingnya niat yang ikhlas dan memahami makna setiap gerakan dalam shalat. Guru juga mengingatkan siswa untuk selalu menjaga kebersihan diri dan mengajarkan mereka bagaimana wudhu dan shalat tidak hanya sebagai kewajiban, tetapi sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Meskipun demikian, guru juga mengakui adanya tantangan dalam memastikan bahwa siswa benar-benar mengerti dan dapat melaksanakan wudhu dan shalat dengan benar, terutama karena keterbatasan waktu di kelas dan perbedaan latar belakang siswa yang memengaruhi tingkat pemahaman mereka. a 14 Praktek Pelaksanaan Wudhu dan Shalat serta Makna dalam Kehidupan Sehari-hari (Rusdiana, et al. Hasil observasi yang dilakukan di lapangan menunjukkan bahwa siswa yang sudah terbiasa melakukan wudhu dan shalat di rumah umumnya lebih percaya diri dalam melaksanakannya di sekolah. Mereka sudah dapat melakukan wudhu dan shalat dengan benar sesuai dengan tata cara yang diajarkan. Namun, beberapa siswa yang kurang mendapatkan pengawasan dan bimbingan di rumah terlihat kurang teliti dalam melaksanakan wudhu dan shalat, terutama dalam hal menyempurnakan setiap gerakan atau mengucapkan bacaan dengan benar. Ada juga siswa yang merasa cemas atau kurang fokus saat melaksanakan shalat, terutama ketika berada di luar rumah atau dalam situasi yang kurang mendukung untuk beribadah. Studi dokumentasi yang dilakukan menunjukkan bahwa materi fiqih mengenai wudhu dan shalat disajikan secara komprehensif dalam buku ajar yang digunakan di MTS. Buku ajar ini menjelaskan dengan rinci tata cara wudhu dan shalat, serta memberikan contoh soal dan latihan untuk memudahkan siswa dalam memahami materi. Namun, beberapa siswa mengaku merasa kesulitan ketika harus mempraktikkan teori yang telah dipelajari di kelas, karena tidak semua siswa mendapatkan kesempatan untuk berlatih secara langsung di rumah atau lingkungan sekitarnya. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun siswa sudah memahami dasardasar wudhu dan shalat, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi dalam praktiknya. Tantangan utama yang dihadapi siswa adalah kurangnya waktu dan kesempatan untuk berlatih secara teratur, baik di rumah maupun di sekolah. Meskipun demikian, sebagian besar siswa memiliki niat yang baik untuk melaksanakan ibadah dengan benar, namun keterbatasan dalam pemahaman dan kebiasaan yang belum sepenuhnya terbentuk menyebabkan adanya ketidaksempurnaan dalam pelaksanaannya. Guru agama memiliki peran yang sangat penting dalam memastikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai tata cara wudhu dan shalat. Pengajaran yang lebih praktis, dengan memberikan kesempatan lebih banyak bagi siswa untuk berlatih langsung, dapat membantu siswa dalam mengatasi kesulitan yang mereka Selain itu, penguatan nilai-nilai spiritual dalam mengerjakan ibadah, seperti kesadaran akan pentingnya kebersihan dan ketakwaan, perlu ditekankan agar siswa dapat merasakan makna ibadah dalam kehidupan mereka sehari-hari. Hasil dari penelitian ini memberikan gambaran bahwa pendidikan fiqih mengenai wudhu dan shalat di MTS sudah berjalan dengan baik, namun masih perlu adanya pembaruan dalam metode pengajaran dan pendekatan yang lebih intensif untuk memastikan siswa dapat melaksanakan ibadah dengan benar dan meresapi makna yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, pembelajaran fiqih yang efektif dapat membentuk karakter dan kedisiplinan siswa dalam menjalankan kewajiban agama secara lebih konsisten. KESIMPULAN Guru agama di MTS memainkan peran kunci dalam membimbing siswa untuk memahami tata cara wudhu dan shalat. Meskipun materi fiqih disampaikan dengan baik dalam buku ajar, tantangan terbesar adalah memastikan bahwa siswa benar-benar memahami dan dapat mempraktikkan pengetahuan tersebut. Oleh karena itu, pengajaran yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga melibatkan latihan langsung, sangat diperlukan. Guru harus menciptakan kesempatan bagi siswa untuk berlatih dan memperbaiki kesalahan dalam pelaksanaan ibadah. Dengan demikian, pengajaran fiqih tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga membekali siswa dengan keterampilan praktis yang dapat mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sangatdisarankan agar pendidikan fiqih di MTS semakin mengedepankan pendekatan praktis dan Latihan yang lebih sering dan bimbingan yang lebih intensif mengenai tata cara wudhu dan shalat dapat membantu siswa lebih mudah mengingat dan mempraktikkan ibadah dengan baik. Selain itu, a 15 Praktek Pelaksanaan Wudhu dan Shalat serta Makna dalam Kehidupan Sehari-hari (Rusdiana, et al. kerjasama antara pihak sekolah dan orang tua perlu diperkuat untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pembentukan kebiasaan ibadah yang baik. Dengan pendekatan yang lebih menyeluruh, diharapkan siswa dapat melaksanakan wudhu dan shalat dengan sempurna, serta merasakan makna dan manfaat dari kedua ibadah tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai hasil akhirnya, pendidikan fiqih diharapkan tidak hanya membentuk siswa yang tahu cara beribadah, tetapi juga yang mampu hidup sesuai dengan prinsip-prinsip agama dalam kehidupan mereka. DAFTAR PUSTAKA