PROGRES PENDIDIKAN Vol. No. Januari 2026, pp. p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348. DOI: 10. 29303/prospek. MEDIA SOSIAL SEBAGAI PARTNER PERENCANAAN PEMBELAJARAN GURU DI SEKOLAH DASAR NEGERI TATAH MESJID 2 Nida Helnisa. Arta Mulya Budi Harsono. Ahmad Suriansyah Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Lambung Mangkurat. Indonesia Informasi Artikel Riwayat Artikel: Diterima: 11-11-2025 Direvisi: 28-12-2025 Dipublikasikan: 31-01-2026 Kata-kata kunci: Guru Media sosial Perencanaan pembelajaran Sekolah dasar ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penggunaan media sosial sebagai partner perencanaan pembelajaran guru di Sekolah Dasar Negeri Tatah Mesjid 2. Dengan pendekatan studi kasus, penelitian ini mengumpulkan data melalui kegiatan wawancara dengan kepala sekolah dan guru sebagai subjek penelitian, observasi terhadap kegiatan penggunaan media sosial oleh guru dalam membuat perencanaan pembelajaran, dan studi dokumen aktivitas guru terkait penggunaan media sosial dalam melakukan perencanaan Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial, terutama aplikasi TikTok, dapat memudahkan guru dalam mencari informasi perencanaan pembelajaran yang relevan. Penerapan media sosial dalam pembelajaran dapat meningkatkan kualitas proses belajar mengajar, kreativitas, dan hasil belajar siswa, serta meminimalisir tantangan dan hambatan yang dihadapi. Penelitian ini menyarankan agar guru dapat memanfaatkan media sosial sebagai alat bantu dalam perencanaan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah dasar. Temuan penelitian ini berkaitan pada pentingnya optimalisasi literasi digital guru melalui pemanfaatan media sosial sebagai mitra perencanaan pembelajaran, guna mendorong inovasi pedagogik dan pemerataan kualitas pendidikan di sekolah dasar. This is an open access article under the CC BY-SA license. Penulis Korespondensi: Nida Helnisa. Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat. Jl. Brigjend Hasan Basri. Kayu Tangi. Banjarmasin. Indonesia. Email: nidahelnisa206@gmail. PENDAHULUAN Media sosial merupakan program internet yang memfasilitasi pemakainya dalam melakukan komunikasi, kolaborasi, dan berbagi berbagai jenis informasi seperti teks, gambar, video, ataupun suara secara interaktif dan juga memungkinkan para penggunanya menjadi pembuat sekaligus penikmat konten (Qadir, 2. Media sosial adalah wadah bersosialisasi yang dilakukan secara online sehingga memperoleh banyak informasi dari media sosial, apalagi di dunia pendidikan sekarang sangat banyak informasi yang kita bisa dapat dari media sosial seperti instagram, facebook, youtube, dan lain sebagainya, sehinga dapat belajar melalui beragam media sosial (Mubarok et al. , 2. Bagi masyarakat di seluruh dunia termasuk di Indonesia, penggunaan media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Penggunaan media sosial semakin meningkat setiap harinya karena perkembangan dan inovasi teknologi yang semakin pesat. kehidupan sekarang media sosial menjadi suatu kebutuhan dasar teknologi oleh masyarakat Indonesia Journal homepage: http://prospek. id/index. php/PROSPEK A p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 (Rahman et al. , 2. Pendidikan memiliki ikatan kuat dengan media sosial, yang dapat didefinisikan sebagai platform digital yang dirancang untuk memfasilitasi aktivitas sosial bagi setiap individu pengguna (Sihombing et al. , 2. Karena itu media sosial sangat dapat dimanfaatkan oleh guru atau pendidik sebagai sarana dalam meningkatkan karakter dan kualitas dari peserta didik dengan memadukan inovasi pembelajaran yang diperoleh dari media sosial ke dalam perencanaan pembelajaran. Idealnya penggunaan media sosial secara umum memiliki dampak positif dan negatif seperti pemaparan oleh Yuhandra et al. dampak positif dalam penggunaan media sosial adalah dapat memelihara pertalian dengan keluarga atau saudara yang jauh, sebagai sumber belajar dan mengajar karena kita dapat browsing dan belajar ilmu pengetahuan yang baru dan dapat satu langkah lebih maju saat memulai pembelajaran di dalam kelas, sebagai media penyebaran informasi karena hanya dalam waktu beberapa menit setelah kejadian kita telah bisa menikmati informasi tersebut, dapat memperluas jaringan pertemanan karena dengan menggunakan media sosial kita bisa berkomunikasi dengan siapa saja dan menjadi teman, media sosial juga dapat digunakan dalam pengembangan keterampilan karena pengguna media sosial bisa belajar cara beradaptasi dan bersosialisasi dengan orang banyak, untuk sarana komunikasi karena adanya media sosial membuat penggunanya dapat melakukan komunikasi dengan pengguna lain diseluruh penjuru dunia, sebagai ruang promosi oleh para pelaku bisnis karena membuat para pengusaha kecil dapat mempromosikan produknya dengan biaya yang terjangkau serta ramah dikantong. Selanjutnya dampak negatif yang bisa timbul dari penggunaan media sosial dengan berlebihan yaitu, menurunnya kinerja oleh individu misalnya karyawan perusahaan dikarenakan apabila seseorang asik melihat media sosial tanpa kenal waktu pada saat bekerja dapat menyebabkan berkurangnya waktu kerja atau waktu mereka dalam belajar, mengakibatkan timbulnya perilaku seseorang yang hanya mengedepankan kepentingan dirinya sendiri dan membuatnya tidak peka terhadap lingkungan sekitar mereka dikarenakan terlalu banyak menghabiskan waktu dalam menggunakan media sosial, menjadi susah bergaul dengan orangorang di lingkungan sekitar karena timbul rasa malas belajar berkomunikasi secara nyata dan menjadikan orang yang aktif dalam media sosial ketika bertemu secara lansung adalah orang yang pendiam dan cenderung menutup diri, munculnya tindak kejahatan dalam media sosial biasanya kejahatan ini dikenal dengan nama cyber crime dan sangat banyak macamnya seperti: hacking, cracking, spaming, dan lainnya, pornografi karena dengan kemampuan penyampaian informasi yang dimiliki internet menyebabkan pornografi merajalela. Dengan adanya dampak positif dan negatif dalam penggunaan media sosial maka sebagai pengguna media sosial kita harus bijak dan beretika yang baik, sehingga dalam menggunakannya dapat menambah wawasan, pengetahuan, keterempilan, dan dampak yang positif. Apalagi sebagai seorang guru atau pendidik di era sekarang kita dapat menggunakan media sosial sebaik mungkin sebagai alat untuk menunjang kualitas, kreativitas, dan profesionalitas sebagai seorang guru dalam mengajar dan merancang perencanaan pembelajaran. Temuan di lapangan menunjukkan bahwa penggunaan media sosial oleh guru dalam merancang pembelajaran sejalan dengan dampak positif seperti yang dipaparkan di atas. Fakta di lapangan guru di SDN Tatah Mesjid 2 menggunakan media sosial dalam membuat perencanaan pembelajaran merasa sangat terbantu dan memudahkan dalam mencari informasi, memperdalam ilmu pengetahuan serta pemahaman mengenai pembaharuan dalam dunia Pendidikan, mendapatkan ide atau referensi kegiatan belajar, dan ice breaking yang menjadi gaya guru masa kini dalam mengajar. Karena penggunaan media sosial sangat membantu dan memudahkan guru di SDN Tatah Mesjid 2 sehingga sering digunakan dan menjadi partner guru dalam membuat perencanan pembelajaran, walaupun dalam pelaksanaanya di sekolah terkadang jaringan internet tidak stabil sehingga dalam menggunakannya memerlukan proses menunggu yang agak Penelitian-penelitian terdahulu oleh Wahyuningsih et al. yang berisikan tentang bagaimana peran seorang guru dalam mengedukasi peserta didiknya untuk bijak dalam menggunakan media sosial dengan kegiatan yang positif dan memanfaatkan media sosial untuk mempermudah dalam berbagi informasi antar guru serta dalam pemanfaatanya untuk menunjang pembelajaran apabila dilakukan secara daring. Selain itu, juga ada penelitian oleh Ananda . yang berisikan bagaimana dampak media sosial dalam mempengaruhi koneksi dan proses belajar siswa di sekolah dasar, penelitian ini juga memaparkan tentang konten-konten yang diakses oleh siswa dan pengarunya baik dari segi positif dan negatif serta solusi yang dapat digunakan untuk meminimalisir dampak negatif yang terjadi. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu tersebut, belum ada studi yang memaparkan tentang penggunaan media sosial sebagai partner perencanaan pembelajaran guru di sekolah dasar. Secara ideal, merancang perencanaan pembelajaran dilakukan melalui platform akademik yang terstruktur dan difasilitasi oleh pelatihan resmi dari dinas atau instansi terkait. Akan tetapi, kondisi empiris di SDN Tatah Mesjid 2 menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dari kondisi ideal tersebut. Guru menggunakan media sosial sebagai sumber inspirasi dan rujukan dalam membuat perencanaan pembelajaran, khususnya platform TikTok yang dianggap lebih mudah, bergam, dan relevan dengan gaya mengajar masa kini. Walaupun demikian, pemanfaatannya masih bertumpu pada inisiatif PROGRES PENDIDIKAN. Vol. No. Januari 2026: 95 - 102 PROGRES PENDIDIKAN p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 pribadi guru tanpa pendampingan pedagogik digital yang sistematis maupun pelatihan formal. Ini menciptakan celah baru dalam pengetahuan mengenai bagaimana media sosial dapat dimanfaatkan oleh guru untuk menjadi teman yang dapat membantunya dalam mempermudah pekerjaan dalam melakukan perencanaan pembelajaran, menggali informasi mengenai issue pendidikaan, menambah referensi dalam kegiatan pembelajaran, bebagi informasi dan untuk memudahkannya mendapatkan pengetahuan baru dengan lebih cepat walaupun belum ada tersedia pelatihan khusus dari dinas atau instansi terkait. Penelitian ini menawarkan kebaruan berupa penggunaan media sosial sebagai partner perencanaan pembelajaran guru di sekolah dasar, yang belum pernah dilaporkan sebelumnya. Berbeda dari studi terdahulu yang menggunakan media sosial sebagai media edukasi dan dampak media sosial terhadap pendidikan, penelitian ini mengungkap bagaimana penggunaan media sosial oleh guru sebagai partner dalam membuat perencanaan pembelajaran untuk tetap terbaru dan sesuai dengan gaya guru masa kini dalam mengajar walaupun dengan sarana dan prasarana yang seadaanya, sehingga memberikan kontribusi serta menambah pengetahuan baru bagi literatur Pendidikan di Indonesia. Perkembangan teknologi digital mendesak guru untuk mampu beradaptasi dalam merancang kegiatan pembelajaran yang kreatif, variatif, inovatif dan sesuai dengan keperluan abad ke-21. Kriteria kompetensi guru seperti yang telah tercantum dalam undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, ada 4 kompetensi guru, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi social. Lalu dalam salah satu indikator yaitu komptensi pedagogik adalah meningkatkan kemampuan pedagogik digital. Guru bukan hanya harus mampu membuat media pembelajaran yang menarik, tetapi juga harus bisa menggunakan internet untuk mengembangkan materi ajar serta menggunakan media sosial dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah (Sitompul, 2. Media sosial, yang semula digunaakan sebagai tempat berkomunikasi dan hiburan, sekarang berpotensi besar sebagai sumber inspirasi, kolaborasi, serta menjadi wadah berbagi ide dalam membuat perencanaan pembelajaran. Namun, pemanfaatannya oleh guru sekolah dasar masih belum optimal dan cenderung jarang. Oleh karena itu, penelitian ini menjadi penting untuk mempelajari bagaimana media sosial dapat berperan sebagai partner dalam perencanaan pembelajaran guru, sehingga mampu meningkatkan efektivitas, inovasi, dan profesionalisme guru dalam menyiapkan proses belajar yang bermanfaat bagi peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses dan hasil dari bagaimana penggunaan media sosial sebagai partner perencanaan pembelajaran guru di sekolah dasar. Penelitian ini juga memberikan pemahaman tentang bagaimana media sosial dapat digunakan guru untuk membantunya mempermudah dalam melakukan perencanaan pembelajaran. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk seluruh pembacanya berupa pengetahuan baru mengenai penggunaan media sosial dalam merancang perencanaan pembelajaaran, sebagai bahan refleksi dan motivasi dalam merancang perencanaan pembelajaran yang sesuai dengan era genarasi masa kini sehingga dapat meningkatkan keefektifan kegiatan belajar mengajar di sekolah dasar. Lebih lanjut, penelitian ini juga menganalisis bagaimana penerapan dan dampak penggunaan media sosial bagi guru dalam melakukan perencanaan pembelajaran. METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan desain studi kasus. Studi kasus adalah proses untuk mencari pengetahuan dengan menyelidiki dan memeriksa fenomena yang terjadi dalam kehidupan nyata, terutama ketika batas antara fenomena dan kehidupan nyata tidak jelas. Studi kasus menggunakan berbagai sumber data sebagai alat pencarian dan bukti, serta bertujuan memberikan penjelasan menyeluruh tentang kelompok, individu, program, atau masyarakat yang diteliti dan pengumpulan data untuk studi kasus dapat berupa dokumen, arsip, wawancara, dan observasi (YinURobert K, 2. Oleh karena itu, penelitian ini juga menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi sebagai prosedur pengumpulan Desain ini dipilih karena penelitian ini bertujuan mengeksplorasi fenomena secara mendalam dalam konteks terbatas mengenai penggunaan media sosial sebagai partner perencanaan pembelajaran guru di sekolah dasar. Dengan pendekatan deskriptif kualitatif, peneliti dapat menggambarkan kondisi apa adanya secara rinci. Partisipan Penelitian dilaksanakan di SDN Tatah Mesjid 2 yang berlokasi di Jl. Tatah Mesjid No. 17, di Desa Tatah Mesjid. Kecamatan Alalak. Kabupaten Barito Kuala. Provinsi Kalimantan Selatan. Pemilihan sekolah secara purposive berdasar pada kesesuaian dengan tujuan penelitian, yaitu karena sekolah teresebut belum memadai dari segi sarana dan prasarananya akan tetapi para guru sebagai tenaga pendidik di sekolah tersebut dapat melakukan berbagai cara dalam kegiatan pembelajaran agar peserta didik mereka tidak tertinggal dan tetap mendapatkan pembelajaran yang sesuai dengan inovasi pendidikan di era sekarang. Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun 2025 dengan partisipan penelitian meliputi 1 orang kepala sekolah, 3 orang guru kelas, dan 2 orang siswa kelas 5 serta 2 orang siswa kelas I. Partisipan tersebut dipilih karena Helnisa, et al. Media Sosial Sebagai . p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 mereka terlibat dalam penggunaan media sosial dalam melakukan perencanaan pembelajaraan dan juga merasakan bagaimana dampak media sosial terhadap kegiatan belajar mengajar di sekolah. Pengumpulan Data Teknik yang digunakan untuk pengumpulan data penelitian ini dilakukan dalam tiga metode, yaitu wawancara, observasi, dan studi dokumen. Triangulasi teknik ini bermaksud untuk menggali data secara mendalam dan menyeluruh serta untuk memastikan keakuratan temuan. - Wawancara: Peneliti mewawancarai guru dan kepala sekolah untuk menggali informasi mengenai penggunaan media sosial, persepsi mereka tentang efektivitas, dan kendala yang dihadapi saat penggunaan media sosial di sekolah dasar dalam pembelajaran. Poses wawancara dilakukan dengan semi-terstruktur dengan panduan pertanyaan terbuka seputar penggunaan, penerapan, dan dampak penggunaan media sosial dalam pembelajaran. Setiap partisipan diwawancarai dengan durasi waktu 15 hingga 20 menit dengan cara direkam dan juga ditulis. - Observasi: Observasi dilakukan secara nonpartisipatif, yaitu peneliti melihat langsung di kantor guru dan kelas untuk mengamati kegiatan penggunaan media sosial oleh guru tanpa terlibat dalam aktivitas yang sedang diamati. Melalui observasi, peneliti mendapatkan gambaran emperis mengenai pelaksanaan program yang terdiri dari tahapan menjelajah informasi di media sosial, menimbang efektivitas penerapan, penerapan di kelas. Observasi dilakukan selama dua kali pertemuan dengan waktu sekitar satu jam. - Studi Dokumen: Peneliti melakukan studi dokumen dengan menelaah berbagai sumber visual yang berkaitan dengan pelaksanaan program seperti dokumentasi saat kegiatan belajar mengajar dan dokumentasi foto yang merekam aktivitas penggunaan media sosial dalam melakukan perencanaan Dokumen-dokumen ini dianalisis untuk melengkapi temuan dari wawancara dan Analisis Data Teknik yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini menggunakan tahapan dari Matthew B. Miles dan A. Michael Huberman. Teori oleh Miles dan Huberman lebih menekankan pada proses analisis data kualitatif yang terdiri dari lima tahap: yaitu pengumpulan data, pengurangan data, pengelompokkan data, penampilan data, dan pengambilan kesimpulan (Miles et al. , 2. Berikut adalah tahap-tahap analisis kesesuaian media sosial sebagai partner perencanaan pembelajaran guru di sekolah dasar berdasarkan teori Miles dan Huberman: Tahap pertama yaitu pengumpulan data yang relevan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen terkait kegiatan di sekolah dasar. Selanjutnya, peneliti menyeleksi dan menyederhanakan data yang diperoleh dan hanya menyimpan data yang sesuai dengan fokus penelitian. Analisis difokuskan pada penggunaan media sosial oleh guru sekolah dasar dalam melakukan perencanaan pembelajaran yang bertujuan agar kegiatan belajar mengajar di sekolah dasar tidak ketinggalan zaman dan dapat mengikuti gaya masa kini dalam kegiatan belajar mengajar. Proses ini memastikan hanya data yang relevan dengan indikator yang dianalisis lebih lanjut, seperti penggunaan, penerapan, dan dampak penggunaan media sosial oleh guru dalam membuat perencanaan pembelajaran. Data yang sudah disaring kemudian dikelompokkan ke dalam beberapa kategori, yaitu: . penggunaan media sosial oleh guru, . penerapan penggunaan media sosial dalam pembelajaran, . dampak penggunaan media sosial bagi guru, siswa, dan dalam pembelajaraan. Setelah data dikategorikan, data tersebut disajikan dalam bentuk narasi deskriptif untuk memperjelas hubungan antar kategori dan menunjukkan keterkaitan antara proses pelaksanaan dengan hasil yang dicapai. Penyajian ini memudahkan peneliti menafsirkan pola dan kecendrungan yang muncul selama kegiatan berlangsung, baik dari wawancara, observasi, maupun studi dokumen. Pada tahap akhir, peneliti menyusun kesimpulan dan memverifikasi temuan yang didapat. Peneliti juga menilai sejauh mana peran media sosial dalam membantu mewujudkan pembelajaran yang menarik, interaktif, dan kolaboratif pada siswa di sekolah HASIL DAN PEMBAHASAN Penggunaan Media Sosial oleh Guru Penggunaan media sosial dari hasil observasi dan wawancara didapatkan bahwa, guru sering menggunkan media sosial dan dalam menjelajah dan menyaring sebuah informasi di media sosial guru memerlukan waktu sekitar 15 sampai 30 menit. Guru menggunakannya hampir setiap hari saat ada waktu luang untuk bersantai, sambil melihat-lihat informasi terbaru tentang dunia luar di media sosial guru juga sering melihat konten menggenai kegiatan pembelajaran. Oleh karena kemajuan teknologi informasi dan komunikasi menghasilkan adanya media sosial yang dalam penggunanya tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari karena keberadaanya dalam kehidupan manusia membuatnya semakin mengakar di semua aspek dan kalangan tak terkecuali profesi guru dalam bidang pendidikan. Sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Rahma et al. yang menyatakan bahwa media sosial menjadi salah satu sumber PROGRES PENDIDIKAN. Vol. No. Januari 2026: 95 - 102 PROGRES PENDIDIKAN p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 utama dalam mengakses berita dan informasi terkini yang dapat tersebar dengan sangat cepat dan mudah untuk digunakan. Media sosial berperan sangat penting dalam dinamika sosial masyarakat, melalui platformplatform seperti Facebook. Twitter. Instagram, dan lain sebagainya yang memfasilitasi komunikasi yang cepat dan mudah antar individu di seluruh dunia tanpa terkendala oleh jarak geografis. Jenis Media sosial yang digunakan oleh guru adalah Instagram. Facebook. Tik Tok. WhatsApp, dan You Tube. Semua media sosial tersebut tidak digunakan secara bersamaan, melainkan digunakan guru dalam menjelajah dan berbagi informasi secara fleksibel tergantung fungsi dan tujuannya. Berdasarkan fungsi dan tujuan penggunaan media sosial menurut Qadir . media sosial memiliki banyak jenis yang terbagi menjadi beberapa golongan, seperti Facebook. Linkedln, dan Twitter adalah Jejaring Sosial (Social Networkin. yang digunakan untuk membangun hubungan personal dan professional. Sedangkan Instagram. YouTube. TikTok, dan WhatsApp adalah media berbagi konten (Content Sharing Platform. yang memungkinkan pemakainya untuk berbagi foto, video, atau dokumen. Tetapi dalam intensitas penggunaan, yang paling sering dan paling disukai guru untuk digunakan adalah TikTok, karena menurut guru TikTok lebih mudah dalam penggunaanya dan konten yang tersedia lebih beragam. Sesuai dengan pendapat oleh Adistri et al. bahwa TikTok mendapatkan nilai tambah bagi penggunanya karena mampu menyajikan solusi yang sederhana dan mendapatkan inspirasi dalam berbagai aspek kehidupan. TikTok menyediakan hiburan dan banyak sumber informasi seperti edukasi, inspirasi gaya hidup, dan panduan praktis sehari-hari. Sehingga dengan kecerdasan konten yang relevan membuktikan bahwa TikTok dapat memberikan rasa dinamis dan efektif oleh para penggunanya. Hasil penelitian oleh Fajriani & Hidayat . juga menunjukkan bahwa platform TikTok sangat memberikan pengaruh besar dalam proses pembelajaran, terutama kemampuan siswa dalam memahami materi pembelajaran dan dalam meningkatkan keterampilan kreatif dan kolaboratif siswa. Guru menggunakan media soosial bertujuan untuk memperdalam pemahaman tentang kebijakan pembelajaran baru dari pemerintah maulai tentang kurikulum merdeka, deep lerning, coding, juga mencari referensi ice breaking, rekomendasi kegiatan pembelajaran, permainan untuk siswa, model pembelajaran, pengembangan materi ajar, ragam modul ajar, dan metode evaluasi. Tujuan utama guru menggunakan media sosial untuk menjelajah ragam informasi tersebut agar kegiatan mengajar yang dilakukan dapat mengikuti perkembangan zaman dan mencegah adanya ketimpangan proses belajar siswanya dengan siswa di sekolah lain yang lebih maju. Oleh tujuan itulah media sosial dianfaatkan guru untuk pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan masa kini. Dikarenakan kompetensi guru yang dinamis, yang selalu berkembang mengikuti dengan keperluan siswa dan tuntutan zaman, agar tetap berkualitas di era society 5. 0 dilakukan dengan mengintegrasikan teknologi dalam segala aspek kehidupan, sehingga sangat penting bagi guru untuk mampu mengikuti perkembangan teknologi (Parwati & Pramartha, 2. Penggunaan media sosial oleh guru dalam melakukan perencannaan pembelajaran dilakukan oleh guru secara langsung. Dalam membuat perencanaan pembelajaran menggunakan media sosial guru memiliki beberapa tahapan, dimulai dari proses menjelajah informasi, lalu memilah informasi sesuai topik yang diinginkan dan dibutuhkan juga menimbang keefektifan serta dampak dalam penerapannya, kemudian mempelajari informasi yang sudah didapatkan dan ditetapkan, baru setelah itu diintegrasikan kedalam perencanaan pembelajaran yang sedang dirancang, serta dalam membuat perencanaan pembelajaran guru tidak bisa asal-asalan agar pembelajaran dapat memberikan manfaat dan dampak yang baik bagi siswa. Perencanaan pembelajaran memegang peran yang sangat penting dalam aspek pendidikan yaitu menjadi penentu juga pemberi arah terhadap tujuan yang ingin dicapai. Dengan perencanaan pembelajaran yang matang, kegiatan belajar mengajar menjadi lebih terarah (Harahap & Prastowo, 2. Penerapan Penggunaan Media Sosial dalam Pembelajaran Penerapan penggunaan media sosial dalam pembelajaran di kelas tidak secara langsung bersentuhan dengan siswa, melainkan guru lah yang menjadi fasilitator dalam mengintegrasikan perencanaan pembelajaran yang telah guru pelajari mulai dari model pembelajaran, ice breaking, permainan, pengembangan materi ajar, ragam kegiatan pembelajaran dan metode evaluasi yang sudah dimasukkan ke dalam perencanaan pembelajaran. Sehingga siswa mendapatkan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan zaman sekarang melewati arahan dari guru. Hal tersebut terjadi dikarenakan adanya tantangan dan hambatan dalam pengintegrasian media sosial secara langsung kepada siswa, sehingga membuat guru lebih mengedepankan perannya seagai fasilitator untuk menunjang kegiatan pembelajaran. Berperan sebagai fasilitator guru berdampak besar dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, guru tidak hanya sebatas mengajarkan materi tetapi juga untuk membangun lingkungan yang dapat mendukung siswa untuk mengembangkan pemahaman mereka (Panjaitan & Hafizzah, 2. Model-model pembelajaran yang didapatkan dari media sosial dan sering digunakan guru adalah Problem Based Learning. Project Based Learning. Cooverative Learning. Numbered Heads Together dan lain sebagainya karena banyak lagi model pembelajaran yang bisa diperoleh melalui media sosial. Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa yang mana masalah nyata atau Helnisa, et al. Media Sosial Sebagai . p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 autentik sebagai peran utama dalam proses pembelajaran (Nicholus et al. , 2. Project Based Learning adalah model pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan siswa merancang dan membuat proyek atau produk sesuai dengan materi yang diajarkan (Adilah, 2. Cooverative Learning merupakan model pembelajaran instruksional yang mana siswa belajar di dalam kelompok kecil terstruktur dan anggotanya saling bergantung satu sama lain dalam mencapai tujuan pembelajaran (Zhou & Colomer, 2. Numbered Heads Together merupakan model pembelajaran yang mana setiap siswa dalam kelompok kecil mempunyai nomer dan guru memberikan pertanyaan lalu memanggil nomer secara acak untuk menjawabnya (Hardini & Handayani, 2. Model pembelajaran membantu guru untuk lebih konsisten dan cepat dalam melakukan tahaap pembelajaran sesuai dengan tujuan dan capaian pembelajaran (Abuhassna & Alnawajha, 2. Karena itulah, guru memakai model pembelajaran dalam mengajar agar pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Untuk ice breaking yang digunakan guru berupa tepuk fokus, nyanyian buka tutup, tepuk semangat, tepuk good job, dan lain sebagainya. Penerapan ice breaking memungkinkan terciptanya pembelajaran yang efektif dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, ice breaking dapat meningkatkan antusiasme dan keterlibatan yang lebih aktif dalam pembelajaran. Guru juga dapat menggunakan ice breaking untuk menguatkan hubungan sosial antar siswa dan memperbaiki interaksinya (Lena et al. , 2. Permainan juga beragam, berupa permainan jauh dekat tangkap, tembak dor, sambung pulpen, memory run, dan lain Pengembangan materi ajar dengan kegiatan pembelajaran seperti metode eksperimen yang dapat mempermudah siswa dalam memahami sebuah materi. Sesuai dengan pendapat oleh Permatasari et al. menggunakan metode eksperimen dalam kegiatan belajar mengajar sangat efektif dalam peningkatkan hasil belajar siswa. Tantangan dan hambatan penerapan penggunaan media sosial dalam pembelajaran adalah jaringan internet yang belum stabil di daerah tersebut, tidak memungkinkannya menugaskan siswa untuk membawa smartphone ke sekolah karena tidak semua siswa mempunyai smartphone akibat masih keterbatasan ekonomi, dan daya listrik sekolah juga belum memadai untuk penggunaan LCD Proyektor segingga guru belum dapat mengintegrasikan secara langsuung konten yang didapat dari media sosial di dalam kelas. Sejalan dengan Anar et al. bahwa bersamaan dengan perkembangan penggunaan teknologi yang semakin pesat, kendala utama dalam penerapannya di sekolah dasar ialah adanya kesenjangan dalam menjangkau teknologi di antara siswa karena tidak semua siswa mempunyai smartphone dan akses untuk Oleh karena itu, untuk menanggulanginya biasanya guru lebih sering mengakses media sosial dari rumah karena jaringan internetnya lebih stabil, melakukan print out gambar terkait kegiatan pembelajaran agar siswa dapat melihat bentuk visual dari materi yang sedang dipelajari dan apabila ingin menggunakan LCD Proyektor harus melakukan koordinasi dengan semua warga sekolah untuk tidak menggunakan listrik sementara waktu saat digunakanya LCD Prroyektor. Dampak Penggunaan Media Sosial bagi Guru. Siswa, dan dalam Pembelajaran Penggunaan media sosial sebagai partner guru dalam membuat perencanaan pembelajaran memberikan dampak yang besar bagi guru, siswa, dan dalam proses pembelajaran. Bagi Guru, penggunaan media sosial mempermudah dalam mengakses dan mencari informasi mengenai pembelajaran, mempercepat dalam proses penyusunan modul ajar, menambah wawasan mengenai metode dan model pembelajaran, meningkatkan kreativitas, dan juga dapat meningkatkan motivasi mengajar, serta menambah pengetahuan guru tentang trend pembelajaran masa kini. Implementasi penggunaan media sosial oleh guru dalam perencanaan pembelajaran bagi siswa dampaknya adalah meningkatnya motivasi belajar karena pembelajaran lebih menarik, kegiatan yang disajikan membantu mempermudah pemahaman, siswa menjadi lebih aktif dan antusias, dan pembelajaran menjadi lebih kontekstual serta relevan. Dalam pembelajaran, dampak implementasi penggunaan media sosial oleh guru membuat pembelajaran lebih variatif dan inovatif, penyampaian materi lebih mudah dan komunikatif, mendorong pembelajaran kolaboratif, dan dapat membantu guru menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswa. Media sosial dalam penggunaanya sebagai partner perencanaan pembelajaran guru memiliki dampak yang sangat baik disamping dapat meningkatkan kualitas diri guru sebagai seorang pendidik, peserta didik juga menjadi sangat antusias, senang dan menjadi termotivasi dalam mengikuti pembelajaran. Dengan adanya media sosial dan digunakan sebagai partner perencanaan pembelajaran guru membuat pembelajaran menjadi tidak monoton dan lebih menarik serta guru dapat menerapkan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan trend masa kini yang dapat diterapkan di kelas. Media sosial memiliki pengaruh besar dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di era globalisasi. Manfaat yang ditawarkan dapat memberikan kontribusi signifikan kepada pendidikan, terlebih dalam mengakses informasi, berinteraksi, dan mengembangan keterampilan digital (Putri Isyara et al. , 2. Guru yang dapat berinovasi, memfasilitasi, dan memotivasi akan memberikan dampak positif yang signifikan bagi siswa dan dalam kualitas Pendidikan dan guru penting memiliki peran proaktif dan adaptif dalam membuat lingkungan belajar yang efektif dan bermakna berbasis teknologi (Kurniyati et al. , 2. Seorang guru penting dalam memiliki kemampuan PROGRES PENDIDIKAN. Vol. No. Januari 2026: 95 - 102 PROGRES PENDIDIKAN p-ISSN: 2721-3374, e-ISSN: 2721-9348 literasi digital yang baik agar dapat mengintegrasikan penggunaan teknologi ke dalam kegiatan pembelajaran, seperti kemampuan menelusuri, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi digital secara tepat dan efektif. Degan adanya kemampuan literasi digital guru yang baik, dalam proses pembelajaran guru dapat meminimalisir dampak negatif dan mengoptimalisasikan dampak positif dalam penggunaan media SIMPULAN Melalui hasil dari kegiatan penelitian studi kasus, yaitu wawancara, observasi, dan studi dokumen peneliti menyimpulkan, penggunaan media sosial oleh guru dalam membuat perencanaan pembelajaran dapat memudahkan dalam menjelajah informasi mengenai perencanaan pembelajaran yang ingin diketahui, terutama melalui aplikasi TikTok karena kecerdasan dan tersedianya konten yang relevan. Penerapkan penggunaan media sosial dalam pembelajaran dapat meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dan dengan mengedepankan peran guru sebagai fasilitator sangat berdampak besar dalam meningkatkan pemahaman, aktivitas, kreativitas, dan hasil belajar siswa, serta dapat meminimalisir tantangan dan hambatan yang dihadapi. Dampak besar penggunaan media sosial bagi guru dapat mempermudah, mempercepat, menambah wawasan, dan meningkatkan kreativitas guru dalam menyusun perencanaan pembelajaran, dan dalam implementasinya kepada siswa dapat meningkatkan motivasi, keaktifan, dan antusis dalam kegiatan belajar, serta dalam pembelajaran membuatnya menjadi lebih variatif dan inovatif. Walaupun demikian, adanya batasan dalam penelitian ini dikarenakan meneliti pada jumlah partisipan yang terbatas, dilaksanakan hanya pada satu lokasi sekolah, dan singkatnya jangka waktu yang digunakan dalam kegiatan observasi, wawancara, dan studi dokumen, serta dominan berfokus pada platform TikTok. Batasan tersebut menyebabkan hasil penelitian belum sepenuhnya memaparkan penggunaan media sosial sebagai partner guru dalam merancang perencanaan pembelajaran sehingga belum bisa disamaratakan dengan lingkup sekolah dasar lain dalam kondisi berbeda. Karena itu, saran untuk keberlanjutan penelitian ini libatkanlah lebih banyak narasumber, lokasi penelitian, dan waktu penelitian, serta lakukan eksplorasi mendalam pada platform lain. Melalui saran tersebut diharapkan hasil penelitian yang diperoleh menjadi lebih lengkap sehingga dapat menjadi pembaharuan dalam analisis kemampuan guru membuat perencanaan DAFTAR PUSTAKA