Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP) Volume 5. Nomor 2. September 2024. ISSN 2721 - 4311 DOI: https://doi. org/10. 30596/jisp. Kritik Pemerintah Pada Lagu AuGugatan Rakyat SemestaAy Karya Feast. Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough Government Criticism of the Song AuGugatan Rakyat SemestaAy by Feast. A Critical Discourse Analysis Using Norman Fairclough's Approach Mohammad Syafa Frima1. Mayasari2. Fardiah Oktariani Lubis3* 1,2,. Ilmu Komunikasi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Singaperbangsa Karawang. Indonesia *E-mail: mayasari. kurniawan@fisip. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna sebuah lagu sebagai alat kritik, dengan fokus pada lagu "Gugatan Rakyat Semesta" yang mengajak masyarakat untuk mengkritisi pemerintahan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis wacana kritis Norman Fairclough, yang mencakup tiga dimensi analisis: tekstual, diskursif, dan sosiokultural. Secara tekstual, elemen bahasa seperti struktur kalimat, kohesi, koherensi, dan kata kunci dianalisis untuk melihat bagaimana bahasa digunakan tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai instrumen untuk menentang kekuasaan dan ideologi. Pada dimensi diskursif, proses produksi lagu oleh Feast dan penerimaannya oleh publik dikaji, terutama dalam konteks demonstrasi mahasiswa di Indonesia pada tahun 2022. Sementara itu, dimensi sosiokultural menelaah kondisi sosial-politik yang lebih luas yang melatarbelakangi terciptanya lagu ini, termasuk kebijakan pemerintah yang merugikan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: . Secara tekstual, lagu ini berisi ajakan kepada masyarakat untuk menggulingkan pemerintah yang dinilai merugikan. Secara diskursif, produksi dan perilisan lagu terkait erat dengan aksi demonstrasi mahasiswa, dan konsumsi publik menunjukkan dukungan terhadap aksi tersebut. Secara sosiokultural, lagu ini muncul dari ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan negara dan masyarakat. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam memahami bagaimana karya seni musik, khususnya lagu, dapat berperan sebagai alat kritik dalam konteks sosial-politik. Kata Kunci: Kritik. Pemerintah. Lagu. Analisis Wacana Kritis. Norman Fairclough Abstract This research aims to examine the meaning of a song as a tool for criticism, focusing on "Gugatan Rakyat Semesta," which encourages critique of the government. Using a descriptive qualitative method and Norman FaircloughAos critical discourse analysis, the study employs three dimensions of analysis: textual, discursive, and sociocultural. Textually, the song's linguistic elements such as sentence structure, cohesion, coherence, and key terms are analyzed to explore how language functions not only as communication but also as a tool to challenge power and ideology. The discursive dimension investigates the songAos production process by Feast and its reception by the public, particularly during the nationwide student protests in Indonesia in 2022. The sociocultural analysis looks at the broader social conditions surrounding the song, including political events and policies that negatively impacted The findings reveal: . Textually, the song calls for societal uprising against a corrupt and damaging . Discursively, the songAos production and release were closely tied to the 2022 protests, with public reception reflecting this context. Socioculturally, the song reflects a broader dissatisfaction with harmful governmental policies. This study contributes to the understanding of how music, particularly protest songs, can serve as a powerful instrument of social and political critique. Keywords Criticism. Government. Song. Critical Discourse Analysis. Norman Fairclough Cara citasi : Frima. Mohammad Syafa. Mayasari. & Lubis. Fardiah Oktariani. Kritik Pemerintah Pada Lagu AuGugatan Rakyat SemestaAy Karya Feast. Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough. Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP) Vol 5 No 2 September 2024, 230-242. Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 5. Nomor 2. September 2024 : 230-242 PENDAHULUAN Musik memiliki efek powerfull pada manusia (Basit, 2. Seseorang dapat tiba-tiba menangis ketika mendengar musik mellow, menjadi alat pembakar semangat buruh dalam demonstrasi, dan bahkan pada kebudayaan tertentu menjadi bagian dari ritual ibadah (Kinasih et al. , 2. Musik akan selalu ada dalam kehidupan karena hampir setiap hari manusia bersinggungan dengannya. Musik selain dipandang sebagai sebagai karya sastra juga dapat dipandang sebagai komunikasi massa (Komalawati, 2017. Sulistioyuwono et al. , 2. Bagaimana musik bekerja sebagai media massa dapat dilihat dari unsur-unsur komunikai massa. Musik selain sebagai sebuah seni juga merupakan hasil dari komunikasi massa karena mampu dinikmati oleh khalayak luas. Komunikator adalah produser, label atau musisi adalah pencipta, pesan adalah musik, komunikan adalah khalayak yang mendengar, dan channel adalah bagaimana lagu disalurkan lewat variasi media baik fisik atau digital. Begitu besar musik dinikmati, namun tidak sedikit yang hanya mengonsumsinya sebagai hiburan tanpa mengerti AopesanAo dibaliknya. Hal ini terjadi karena kecenderungan masyarakat untuk mengonsumsi karya sebagai hiburan semata. Hal ini memunculkan musisi yang juga berpikiran selaras. Mereka mengikuti trend musik yang sedang happening, kemudian masuk ke ranah tersebut tanpa memiliki ciri khas atau fokus genre, dengan harapan mendapat animo masyarakat. Melihat keadaan saat ini, sebenarnya masih ada musisi-musisi yang berkarya tanpa fokus pada materil dan popularitas. Tidak menjadikan ketenaran dan keuntungan sebagai main goal mereka. Tujuan mereka umumnya menciptakan musik sesuai kehendak, sebebas-bebasnya. Tipe musisi ini memiliki ideologi tersendiri dalam melihat sudut pandang realitas yang menjadi inspirasi karya. Musisi ini dikenal dengan istilah indie. Musik indie digunakan sebagai alat untuk menyampaikan aspirasi, pendapat, dan kritik umumnya pada pemerintah. Muatan musiknya digunakan untuk menyentuh perhatian publik dengan tema-tema umum seperti kondisi sosial, kesejahteraan, lingkungan, korup pemerintah, dan kegelisahan rakyat lain (Tahlia & Abrian, 2. Pada tahun 1980-an musik indie menjadi simbol dari gerakan flower generation yang hadir sebagai bentuk perlawanan dan protes pada budaya konsumerisme dari kapitalis barat yang melanda Amerika Serikat. Rakyat Amerika mengkritisi cara pandang kapitalis barat yang dinilai hanya mementingkan uang dan kekuasaan. Ketidakstabilan negara pada saat itu menciptakan banyak kejahatan seperti, rasisme kulit hitam, materialisme, kemiskinan. Frima. Mohammad Syafa. Mayasari. & Lubis. Fardiah Oktariani. Kritik Pemerintah Pada Lagu eksploitasi pada berbagai bidang, perang Vietnam, dan hak sipil yang banyak dipangkas. Warga Amerika melakukan protes dengan berbagai cara, salah satunya flower generation yang menggunakan medium seni musik indie sebagai penyampai aspirasi. Feast adalah band asal Jakarta bergenre alternative rock, termasuk band indie karena langkahnya dalam memproduksi karya secara mandiri. Beranggotakan Baskara Putra . okal dan synthesize. Adnan Satyanugraha Putra . Dicky Renanda Putra . , dan Fadli Fikriawan Wibowo . Dalam bermusik Feast sering kali menggunakan katakata tajam untuk menunjukkan protes pada pemerintah. Pemilihan kata, simbolisme, dan metafora yang digunakan pada liriknya mewakili realitas sosial, terutama kondisi sosiokultural di Indonesia. Feast tidak ragu menggunakan kata yang berkonotasi negatif untuk melambangkan suatu pihak tertentu. Kritik-kritiknya mengangkat kembali isu yang mungkin terlupa atau malah tidak ter-notice khalayak. Ini dapat terjadi karena bentuk kebebasan berekspresi Feast yang mengusung ideologi indie. Salah satu lagu Feast yang di dalamnya mengandung lirik terhadap pemerintah adalah AuGugatan Rakyat SemestaAy. Lagu ini ditulis oleh seluruh personil Feast dengan mengangkat tema politik yang terjadi di Indonesia. Menceritakan karakter fiksi Ali bersama teman dan rakyat pendukung yang berusaha menurunkan pemerintahan yang Lagu ini dirilis berdekatan dengan berbagai permasalahan yang terjadi di Indonesia pada tahun 2022. Terlebih, berdekatan dengan rangkaian demo yang dilakukan mahasiswa di seluruh Indonesia. Sehingga, menciptakan kesesuaian diantara lirik dan kejadian yang terjadi. Membuat lagu ini sangat menarik untuk dibedah dengan alat analisis wacana kritis. Analisis yang digunakan adalah analisis wacana kritis yang ditawarkan oleh Norman Fairclough. Versi ini digunakan karena dalam prosesnya Fairclough memfokuskan penelitian pada bahasa, kekuasaan, dan ideologi, teks dan konteks di baliknya, bahasa multidimensioanl, kritik hegemoni, dan pendekatan kritis dan transformasial (Jayanti. Lele, 2. Lagu AuGugatan Rakyat SemestaAy mengandung keseluruhan poin yang dapat dianalisa sehingga, nantinya dapat ditemukan berbagai hal yang membangun lagu Analisis wacana kritis Norman Fairclough memiliki tiga dimensi yaitu tekstual, diskursif, dan sosiokultural. Tekstual akan melihat lirik pada bentuk formal bahasa, diskursif melihat bagaimana lagu diproduksi dan dikonsumsi, dan sosiokultural melihat secara luas konteks di luar lagu. Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 5. Nomor 2. September 2024 : 230-242 METODE PENELITIAN Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bertujuan bukan hanya untuk menguji hipotesis, tetapi juga untuk menemukan hipotesis baru. Metode ini memungkinkan peneliti untuk menemukan potensi dan masalah, memahami makna serta keunikan objek yang diteliti, menganalisis proses dan interaksi sosial, serta memahami perasaan individu. Selain itu, metode ini juga digunakan untuk mengonstruksi fenomena, memastikan keabsahan data, dan mempelajari sejarah perkembangan suatu fenomena. Oleh karena itu, penelitian kualitatif dapat dimulai dari masalah, potensi, atau hanya keingintahuan untuk memahami suatu hal. Analisis data dilakukan dengan menggunakan tiga dimensi analisis wacana kritis Norman Fairclough, yaitu dimensi tekstual, diskursif, dan sosiokultural (Fauzan, 2. Dimensi Tekstual: Pada dimensi ini, lirik lagu dianalisis melalui kajian linguistik yang mencakup tata kalimat, kohesi dan koherensi, diksi . osa kata, kata kunci, dan ideolog. , interpretasi, identitas, dan intertekstualitas. Analisis ini bertujuan untuk memahami strategi bahasa dan membedah ideologi serta makna kontekstual yang terkandung dalam lirik lagu. Dimensi Diskursif: Pada dimensi ini, penelitian mengkaji proses produksi dan konsumsi lirik lagu. Analisis meliputi latar belakang penciptaan lagu oleh Feast, proses produksi, dan relevansi waktu perilisan lagu dengan situasi sosial di Indonesia. Proses konsumsi dianalisis melalui interpretasi dari komentar netizen di media sosial yang menunjukkan kesesuaian dengan pesan yang disampaikan oleh lagu. Dimensi Sosiokultural: Dimensi ini melihat konteks sosial-politik yang lebih luas. Analisis situasional melihat hubungan antara lirik lagu dengan kondisi spesifik saat Analisis institusional mencakup peran Sun Eater . abel rekama. dan Universitas Indonesia, di mana personel Feast mengenyam pendidikan, sebagai institusi yang mendorong kritik sosial. Analisis sosial mengkaji faktor-faktor eksternal seperti pandemi, korupsi, dan kebijakan pemerintah yang menjadi latar belakang lagu. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari data primer berupa lirik lagu dan wawancara dengan penggemar Feast yang disebut 'Kelelawar'. Sementara itu, data sekunder meliputi dokumen, liputan media, website, audio, video, dan catatan lainnya. Teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumentasi, yang tidak secara langsung berhubungan dengan objek penelitian, tetapi menganalisis berbagai dokumen relevan. Frima. Mohammad Syafa. Mayasari. & Lubis. Fardiah Oktariani. Kritik Pemerintah Pada Lagu Teknik analisis data menggunakan metode deskriptif untuk menguraikan dan menjelaskan temuan penelitian secara mendetail. HASIL DAN PEMBAHASAN Setelah melalui rangkaian penelitian, maka ditemukan bahwa lagu AuGugatan Rakyat SemestaAy adalah refleksi dari keadaan Indonesia yang terjadi pada tahun 2022. Analisis Tekstual Level tekstual fokus untuk mengungkap struktur dan strategi bahasa yang digunakan dalam menciptakan makna serta memengaruhi penafsiran sosial. Pada level ini diketahui materi lagu berisi ajakan kepada pendengar untuk menggulingkan pemerintah. Ini dibuktikan dari hasil analisis linguistik pada bentuk formal lagu seperti tata kalimat, kohesi dan koherensi, ideologi . ata kunci dan konotas. , identitas, dan intertekstualitas yang menggambarkan keadaan pemerintah yang dikudeta oleh rakyat. Pada analisis tekstual bagian tata kalimat, terdapat banyak bentuk klausa di sepanjang lagu yang menggambarkan pihak pemerintah yang merugikan rakyat dan rakyat yang mencoba merubah keadaan. Salah satu contohnya terdapat pada lirik Ausudah siapkah kau Aotuk ciptakan esok hariAy, yang merupakan klausa aktif, di mana . ubjek - AukauA. kemudian bertindak (AuciptakanAy predika. dan menghasilkan (AuesokAy - obje. Penggalan lirik ini menggambarkan sebuah imperatif dari Feast pada kesiapan rakyat untuk membuat perubahan lebih baik bagi pemerintahan yang buruk. Pada analisis tekstual bagian kohesi dan koherensi, pada contoh lirik Ausudah siapkah kau Aotuk ciptakan esok hariAy dan Aukau kepung kastil yang berpura-pura peduliAy, kata AukauAy dirujuk Feast untuk menunjuk rakyat yang memperjuangkan perubahan. Kemudian, lirik berikutnya Aududuki atap hijau dan mereka kabur lari, di mana kata AumerekaAy merujuk langsung pada pihak pemerintah yang dikritik. Kohesi dan koherensi tercipta dari kejelasan hubungan antar lirik yang merujuk satu tema yang sama dan berkelanjutan. Kejelasan pihak yang mengkritik dan dikritik juga dapat dilihat secara eksplisit pada tiap-tiap lirik yang berhubungan secara struktural. Pada analisis tekstual bagian ideologi, pada contoh lirik Autak ada waktu yang benar-benar tepatAy dan Auciptakanlah sendiriAy, mengindikasikan ideologi progresif dan otonomi rakyat yang mandiri untuk menciptakan perubahan. Dalam ideologi progresif, terdapat dorongan untuk bergerak ke arah yang lebih baik tanpa harus menunggu sebuah kondisi tertentu. Perubahan dapat terjadi ketika tiap-tiap individu mampu mengambil inisiatif dan bertindak tanpa menunggu sebuah keadaan benar-benar ideal atau benar-benar rusak. Dengan menciptakan sendiri AowaktuAo Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 5. Nomor 2. September 2024 : 230-242 yang tepat tersebut artinya masyarakat akan melakukannya sekarang. Masyarakat membentuk masa depan yang lebih baik sesuai dengan visi dan misi mereka bersama dan bukan lagi pemerintahan yang terbukti tidak mampu melakukannya. Pada contoh lirik lain AuKAnyamanan hanya dipinjamkan sementaraAy. AuTunjukkan bahwa kaulah yang pegang pArcayaAy. AuTunjukkan bahwa kaulah yang punya kuasaAy. AuTunjukkan gemuruh gugatan rakyat semestaAy, lirik-lirik ini memiliki indikasi kuat pada ideologi demokrasi yang menekankan partisipasi aktif rakyat dalam proses pengambilan keputusan, bukan otoritas otonom atau absolut. Peringatan bahwa hak dan kebebasan dapat dicabut jika tidak digunakan dengan baik, mencerminkan prinsip menjaga sistem inklusif dan hak asasi manusia. AuKenyamanan hanya dipinjamkan sementaraAy, kedudukan nyaman sejatinya berasal dari rakyat, masyarakat memberi tanggung jawab ke pemerintah untuk menjalankan kehidupan bernegara yang baik, seharusnya bertanggung jawab dan mempertahankan kesejahteraan rakyat sebagai prioritas. Feast mengingatkan bahwa pemerintah adalah bawahan rakyat yang mungkin AodicopotAo kapan saja. AuTunjukkan bahwa kaulah yang pegang percayaAy, menyorot pentingnya kepercayaan dan legitimasi dimiliki Rakyat memberikan kepercayaan memimpin ke pemerintah, karenanya pemerintah harus membuktikan bahwa mereka dapat dipercaya dan bekerja atas kepercayaan rakyat sebagai dasar kekuasaan. AuTunjukkan bahwa kaulah yang punya kuasaAy diartikan sebagai pemerintah yang seharusnya tidak lupa bahwa kekuasaan mereka berasal dari rakyat. Mereka bertanggung jawab untuk memanfaatkan kekuasaan dengan memenuhi kebutuhan dan kepercayaan rakyat, bukan kepentingan pribadi. Feast mengingatkan kekuasaan berasal dari rakyat karena itu rakyatlah yang berkuasa. AuTunjukkan gemuruh gugatan rakyat semestaAy menyorot suara kolektif rakyat yang merasa kecewa terhadap pemerintah dan melakukan gugatan. Pada analisis tekstual bagian identitas, pada salah satu lirik Autanpa parasit yang makan lebih dari babiAy, kata AuparasitAy digunakan untuk menggambarkan pihak pemerintah yang mengambil keuntungan dari apa yang seharusnya mereka kontribusikan, representasi nomina pada sifat yang tepat untuk menggambarkan kriteria negatif pemerintah. Meskipun babi secara mandiri adalah makhluk hidup, tetapi di lirik ini penggunaan AubabiAy secara figuratif menyorot sifat tamak yang dimiliki pemerintah. Metaforis ini menjelaskan lebih jauh spesifikasi AuparasitAy sehingga tercipta dimensi pemahaman yang lebih mendalam pada sifat yang diangkat. Pada contoh lirik lain. AuTanpa kaki yang bersepatu semahal sapiAy, lirik Aubersepatu semahal sapiAy menggambarkan nilai kemewahan dan kemakmuran yang dimiliki, sepatu dapat diinterpretasikan sebagai barang sederhana yang digunakan di kaki, namun untuk barang sederhana yang AodiinjakAo perlu nilai tinggi sebagai harganya, menggambarkan tingkat konsumsi yang tidak wajar atas biaya negara. Lirik Frima. Mohammad Syafa. Mayasari. & Lubis. Fardiah Oktariani. Kritik Pemerintah Pada Lagu lanjutan. AuMulut semanis minuman berkarbonasiAy menjadi identitas sifat pemerintah yang memiliki kemampuan memengaruhi dan memanipulasi opini publik dengan cara yang menarik dan menggoda, meskipun pada kenyataannya hanya sedikit janji-janji yang dipenuhi. Metafora ini menyorot perilaku komunikasi publik yang terjadi pada struktur sosial yang sering dijumpai Pada bagian intertekstualitas diketahui bahwa lagu ini hanya menceritakan sepenggal perjuangan karakter fiktif bernama Ali, dari keseluruhan cerita yang tertuang dalam album Abdi Lara Insani. Album inilah yang menceritakan kisah karakter Ali sedari awal perjuangan hingga Ali digambarkan sebagai seseorang yang digadang-gadang akan membuat perubahan baik di pemerintahan, namun ketika sampai kedudukan tinggi segala mimpi-mimpi tentang perubahan itu hilang dan ia berubah menjadi pemimpin yang otoriter -bahkan lebih buruk dibanding pemerintahan yang diturunkan olehnya. Berdasarkan Baskara selaku salah satu penulis album, karakter Ali terinspirasi dari karakter AoBentoAo karya Iwan Flas. Menurut Baskara. Ali adalah representasi dari Bento ketika masih menjadi orang baik sebelumm akhirnya berubah menjadi seperti figur yang dilawannya. Secara musikal, lagu ini terinspirasi dari lagu berjudul AuUprisingAy karya Muse. Muse sendiri sering mengeksplorasi tema sosial dan politik dalam karyanya, tidak terkecuali lagu AuUprisingAy yang terinspirasi situasi sosial politik pada tahun 2009 di Amerika Serikat. Pada saat itu terjadi krisis hipotek di Amerika Serikat yang menyebabkan ketegangan politik dan ekonomi hingga terjadi krisis keuangan global. Lirik lagunya mencerminkan semangat perlawanan dan panggilan untuk berdiri bersama melawan ketidakadilan, seperti yang tercermin dari salah satu liriknya AuThey will not force us, they will stop degrading usAy yang merujuk pada pemerintah dan mengajak pendengar untuk memperkuat tekad untuk tidak lagi diperbudak oleh kekuatan yang otoriter dan korup. Gagasan besar dari lagu ini menjadi inspirasi penulisan AuGugatan Rakyat SemestaAy yang bisa di lihat dari kesesuaian dan keselarasan motif besarnya. Analisis Diskursif Pada level Diskursif, bagian analisis produksi diketahui pada proses pembuatannya. Baskara sebagai vokalis menciptakan istilah Aogugatan rakyat semestaAo yang berarti keadaan ketika tidak ada seorang pun yang mempercayai pemerintah. Seluruh personil Feast tanpa terkecuali ikut ambil bagian dalam penulisannya. Diproduseri oleh Dicky Renanda Putra . Adrianus Aristo Haryo . Baskara Putra . , dan Wisnu Ikhsantama, seorang produser dibalik rekaman musisi-musisi terkenal saat ini seperti Hindia. Reality Club. Glaskaca. Lightcraft dan Penggarapan lagu AuGugatan Rakyat SemestaAy kembali ke bentuk natural dari gaya bermusik Feast yang didominasi suara riff, membantu pendengar mengikuti melodi dan lirik Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 5. Nomor 2. September 2024 : 230-242 dalam lagu dengan jelas, namun tetap fokus pada bagian-bagian penting dari komposisi lagu. Tempo medium menuju cepat yang selaras dengan kronologi dramatis tentang perubahan yang diceritakan dalam lagu, pengisahan cerita dibantu kekuatan tempo untuk meningkatkan energi dan intensitas, sehingga menciptakan momen klimaks yang mengesankan. Dengan tempo ini Feast mengarahkan pendengar untuk merasakan ketegangan, kegembiraan, dan semangat yang hadir tidak hanya naratif dari lirik tetapi juga dari pengalaman mendengarkan. Terdapat suara marching yang identik dengan tema pertunjukkan militer atau patriotik, sejalan dengan semangat patriorisme yang dibangun. Adnan Satyanugraha Putra dan Dicky Renanda Putra sebagai gitaris, serta Fadli Fikriawan Wibowo sebagai bassists menggunakan efek distorsi yang erat kaitannya dengan genre musik agresif atau revolusioner seperti punk, rock, dan heavy metal, yang secara historis ada untuk mengkritik sistem politik dan sosial. Baskara Putra sebagai vokalis tidak bernyanyi dengan melodis dan penuh alunan, melainkan lebih seperti nyanyian anthem atau mars yang menghentak dan menggebu-gebu sebagai penekanan emosi dan energi pada apa yang ingin disampaikan di lagu ini, selain itu hal ini dimaksudkan untuk mengimbangi instrumen lain yang keras dan energik sehingga menghasikan keseimbangan. Bangunan musik AuGugatan Rakyat SemestaAy tidak asing bagi pendengar lama Feast karena pernah ditulis pada tahun 2015. Menurut Dicky Renanda Putra sebagai gitaris sekaligus komposer utama, lagu ini sudah memiliki dasar dan terbentuk sejak lama, terdapat pergeseran chord dan penambahan part baru dalam versi AuGugatan Rakyat SemestaAy, serta aransemen lama diubah dengan aransemen baru yang modern. Secara penulisan AuGugatan rakyat semestaAy adalah penggubahan AuMantrabreakerAy yang menjadi basis dasarnya, perbedaan ada pada kematangan dari versi 2015 terdahulu, di mana rekaman dilakukan hanya dengan sesi jamming di studio, sedangkan versi terbaru menggunakan studio yang lebih AoproperAo ditambah efisiensi DAW . igital audio workstatio. setelah mini album Uang Muka. Namun, dalam lagu ini Feast tidak ingin menghilangkan nuansa yang hadir pada versi 2015 yang menjadi identitas ikonik di album Earth03. AuGugatan Rakyat SemestaAy mencapai kesuksesan yang cukup tinggi pada beberapa platform musik terkemuka seperti Spotify yang telah didengarkan sebanyak hampir 3 juta kali, merupakan streaming terbanyak dalam mini album Abdi Lara Insani dan masuk pada jajaran atas lagu Feast Pada platform YouTube, music video-nya telah ditonton sebanyak 1,1 juta kali dengan ribuan komentar, yang juga menjadi MV dengan penonton tertinggi di mini album Abdi Lara Insani. Prestasinya juga diapresiasi ketika Feast menerima penghargaan prestisius atas Frima. Mohammad Syafa. Mayasari. & Lubis. Fardiah Oktariani. Kritik Pemerintah Pada Lagu pencapaian musik pada Anugerah Musik Awards ketika Abdi Lara Insani memenangkan nominasi AoAlbum Rock TerbaikAo pada tahun 2022. Pada analisis konsumsi terdapat banyak komentar berisi relevansi materi di dalam lagu dengan kejadian demonstrasi yang sedang terjadi. Latar belakang perilisan memiliki hubungan dengan rangkaian aksi demonstrasi mahasiswa pada 28 Maret hingga 11 April 2022. Demonstrasi ini dilakukan dengan berbagai tuntutan seperti penolakan penundaan pemilu 2024, penolakan wacana tiga periode Joko Widodo. UU Cipta Kerja, harga bahan pokok tinggi, konflik agraria, dan janji kampanye yang tidak terwujud. Ini dibuktikan dari analisis pada produksi . esesuaian perilisan dan muatan lagu dengan aks. dan analisis pada konsumsi . esamaan referensi dengan Salah satu contoh Komentar @nopantrisaputra3572 di tayangan music video AuGugatan Rakyat SemestaAy, menggambarkan kritik yang tajam kepada pemerintah, menyoroti penggunaan kekerasan pada mahasiswa yang melakukan demonstrasi dengan gas air mata, dan perilaku otoriter dalam menangani protes. Dalam lagu AuGugatan Rakyat SemestaAy. Perilaku korupsi dan penjilat kursi jabatan yang berorientasi hanya pada kekuasaan dan tidak mengutamakan kepentingan rakyat. Ketidaksediaan Aoberjabat tanganAo adalah ungkapan kesenjangan yang curam antara penguasa dan rakyat yang dilayani. Terdapat juga maksud upaya pembungkaman suara kritis dari masyarakat. Komentar ini mencerminkan kegelisahan mendalam pada kondisi pemerintahan Indonesia, mirip dengan apa yang diperjuangkan Feast dalam lagu AuGugatan Rakyat SemestaAy. Analisis Sosiokultural Pada analisis Sosiokultural, diketahui beberapa keadaan sosial politik yang memiliki hubungan dengan perilisan lagu. Pada analisis situasional diketahui perilisan lagu dilatarbelakangi aksi demonstrasi mahasiswa yang terjadi pada 28 Maret hingga 11 April 2022 yang hadir sebagai efek dari wacana perpanjanagan kekuasaan Presiden Joko Widodo menjadi tiga periode. Wacana tiga periode telah muncul pada tahun 2019, anggota DPR dari Partai Nasdem menginginkan perubahan pada masa jabatan Presiden Indonesia menjadi 3x5 tahun. Kemudian. Ketua Fraksi Partai Nasdem. Johnny G. Plate juga menginginkan perpanjangan masa jabatan Presiden yang diungkap saat MPR melakukan penggodokan usulan Amandemen UUD Selain itu, terdapat serangan buzzer untuk menaikkan tagar tiga periode yang berlangsung cukup lama hingga beberapa saat sebelum pemilu dilaksanakan. Wacana penundaan pemilu 2024 yang pertama kali secara eksplisit dan tersorot media terjadi pada Januari 2022. kemukakkan oleh Menteri Investasi Bahlil Lahadalia pada sela rapat kerja komisi 6 DPR. Lalu, tiga Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 5. Nomor 2. September 2024 : 230-242 ketua umum partai politik yaitu Zulkifli Hasan (PAN). Airlangga Hartanto (Golka. , dan Muhaimin Iskandar (PKB) juga mendukung wacana penundaan pemilu 2024. Kemudian. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan juga mendukungnya. Pada Maret 2022, kumpulan perangkat desa yang tergabung dalam Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) juga berkomentar senada. Masifnya isu penundaan pemilu 2024 membuat ahli politik dan masyarakat awam mengimplikasikan wacana ini dengan perpanjangan masa jabatan Presiden Joko Widodo menjadi 3 periode. Pada 28 Maret 2022, gelombang demonstrasi mahasiswa pertama terjadi atas isu ini. Mahasiswa secara kolektif menghimpun partisipasi dari berbagai kampus. Mahasiswa dari berbagai almamater berkumpul di kawasan Patung Wijaya atau Patung Kuda. Jakarta Pusat. Masa aksi membentuk Aliansi Badan Eksekutif Indonesia disingkat BEM SI. Mahasiswa dari latar belakang berbeda ini memiliki kepedulian kolektif mengenai ide penundaan pemilu 2024, namun selain itu ada beberapa isu yang menjadi tuntutan mereka. menuntut pemerintah menolak dan memberikan pernyataan sikap terhadap penundaan pemilu 2024 atau masa jabatan 3 periode . menunda dan mengkaji ulang UU IKN dan dampak lingkungan, ekologi, kebencanaan, ekonomi, hukum, sosial, dan politik . menuntut kestabilan harga, ketersediaan bahan pokok dan permasalahan ketahanan pangan . mengusut tuntas mafia minyak goreng dan evaluasi kinerja menteri terkait . menyelesaikan konflik agraria . menuntut janji-janji kampanye di sisa masa jabatan. Pada 8 April, tiga hari sebelum aksi demonstrasi kedua berlangsung. Feast merilis lagu AuGugatan Rakyat SemestaAy di Youtube dan platform streaming musik seperti Spotify dan Joox. Relevansi akan topik, konteks, dan waktu yang tepat menjadi pertimbangan untuk merilis lagu. Pada 11 April 2022 terjadi demonstrasi susulan. Masih diprakarsai oleh BEM SI dengan tidak kurang dari 1000 mahasiswa dari 18 kampus di seluruh Indonesia yakni: Undip. UNY. UNRI. PNJ. IT-PLN. UNJ. STIE SEBI. STIE Dharma Agung. STIS Al Wafa. IAI Tazkia. AKA Bogor. Unand. Unram. PPNP. UNS. STIEPER. Unsoed dan SSG. Mereka berkumpul di sekitar Kompleks Gedung MPR/DPR. Jalan Jenderal Gatot Subroto. Jakarta. Perubahan lokasi setelah diupload-nya pidato Presiden Joko Widodo perihal kepastian pemilu 2024 lewat kanal Youtube Sekretariat Presiden pada 10 April 2022. Setelah perilisan video pidato, mahasiswa berganti tujuan menuju gedung DPR memastikan agar mereka melaksanakan konstitusi dengan benar. Selain berlokasi di Jakarta, demonstrasi mahasiswa juga terjadi di berbagai tempat berbeda di Indonesia. Gedung DPRD Sulawesi Selatan. Kantor Gubernur Jawa Tengah. Gedung DPRD Majalengka, dan Gedung DPRD Sukabumi. Frima. Mohammad Syafa. Mayasari. & Lubis. Fardiah Oktariani. Kritik Pemerintah Pada Lagu Pada analisis institusional, label rekaman Sun Eater sebagai label indie yang mendukung kebebasan berekspresi. Perbedaan label indie dengan major label dalam konteks kritik pada keadaan sosial politik sering kali berhubungan dengan perspektif, tujuan, dan konteks di balik musik sendiri. Pertama, pada fokus dan pendekatan. Label indie menekankan keaslian, kreativitas, dan inovasi bebas. Musisi dalam label indie dihargai karena gaya unik dan keberanian Pada major label, kritik cenderung tidak menjadi inti materi lagu tetapi hanya bagian kecil di dalamnya. Major label fokus pada komersial, kualitas produksi profesional, dan daya tarik Musik akan kembali lagi dinilai berdasarkan seberapa baik diterima pasar luas. Kedua, pada ekspektasi terhadap produksi. Label indie memproduksi karya musisinya dengan hasil lebih AorawAo dan minimalis. Kritik mungkin lebih menghargai kejujuran dan keintiman dalam produksi yang sederhana dan sesuai visi musisi. Sedangkan, pada major label produksinya dibuat secara matang, detail, dan profesional, bahkan menggunakan teknologi-teknologi terbaru dalam dunia musik. Kritik mereka malah mungkin akan tertuju pada evaluasi seberapa baik produksi mendukung kualitas dan daya tarik musik, bukan pada keadaan sosial. Ketiga, konteks budaya dan Label indie mempertimbangkan konteks sosial, politik, budaya, komunitas, dan keunikan musisi dengan segmentasi khusus. Sedangkan, major label fokus pada bagaimana musik dapat bersaing di pasar mainstream, popularitas, dan strategi pemasaran. Keberhasilan komersial dan daya tarik global adalah fokus besar. Keempat, pendekatan pada keuntungan. Label indie mengukur kesuksesan berdasarkan pengaruh dalam komunitas tertentu dan pencapaian artistik yang independen dari kesuksesan komersial besar. Sedangkan, major label mengukur kesuksesan dari penjualan album, chart tangga lagu, dan popularitas mainstream yang dapat diukur dengan standart tertentu yang diberlakukan masing-masing major label. Latar belakang personil yang merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) berdampak pada bagaimana musik mereka dekat dengan isu sosial dan politik. Anggotanya telah belajar dalam lingkungan yang kritis akan keadaan sosial, sehingga memiliki pemahaman mengenai berbagai isu yang memengaruhi masyarakat. Pendekatan ini mencerminkan pengalaman pendidikan mereka dan observasi pada keadaan sosial, juga mencerminkan tujuan pendidikan mereka yaitu untuk mendorong perubahan sosial yang positif lewat kesadaran publik. Tempat para personil menuntut ilmu juga menjadi latar belakang kekritisan mereka. Universitas Indonesia yang terkenal sebagai salah satu perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia telah ikut serta pada banyak aktivitas kepedulian pada isu-isu sosial dan politik. Tidak hanya aktivisme yang bersifat langsung. Universitas Indonesia lewat BEM juga kerap membuat postingan di sosial media dengan tujuan mengkritik kebijakan-kebijakan Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 5. Nomor 2. September 2024 : 230-242 Lewat berbagai postingannya. BEM Universitas Indonesia tidak hanya mengingatkan mahasiswa Universitas Indonesia tetapi juga masyarakat luas. Contoh postingan di akun Instagram BEM Universitas Indonesia @bemui_official ketika mengkritik Presiden Joko Widodo sebagai AoKing of Lip ServiceAo karena kerap mengumbar janji namun tidak pernah ditepati dan karikatur Ketua DPR RI Puan Maharani berbadan tikus karena disahkannya Perppu Cipta Kerja menjadi UU. Ketika masih berstatus menjadi mahasiswa, personil Feast juga sering terlibat dalam berbagai kegiatan aktivisme. Pengalaman mereka dalam menyuarakan aspirasi demi perubahan positif menjadi titik awal inspirasi untuk menciptakan lagu-lagu Feast saat ini. Sudut pandang yang mendalam sebagai seorang aktivis yang membawa banyak keluh kesah pribadi dan masyarakat tentu memiliki pengaruh pada penulisan materi lagu mereka. Latar belakang label indie yang bebas dan lingkungan perkuliahan yang dekat dengan isu sosial politik, ditambah kebiasaan instansi yang kritis untuk melihat apa yang salah dalam kebijakan pemerintah, tentu berdampak pada bagaimana Feast menganut kebebasan dalam Kebebasan itulah yang membuat materi di dalam lagunya banyak bermuatan kritik tidak hanya pada pemerintah tetapi juga isu-isu sosial di masyarakat Indonesia. Pada analisis sosial diketahui beberapa kejadian dan isu yang melatarbelakangi perilisan lagu ini diantaranya pandemi Covid-19, penurunan ekonomi, korupsi pejabat publik pada berbagai bansos untuk menanggulangi pandemi, angka pengangguran meningkat, wacana penundaan pemilu 2024 dan tiga periode Presiden Joko Widodo. Ada juga isu lain seperti UU IKN, harga bahan pokok tinggi, konflik agraria, dan janji kampanye Presiden yang tidak terwujud. Semua hal tersebut berdampak langsung dan tidak langsung pada bagaimana AuGugatan Rakyat SemestaAy tercipta sebagai sebuah karya yang mengkritik berbagai kebijakan pemerintah. SIMPULAN Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa lagu "Gugatan Rakyat Semesta" karya Feast berfungsi sebagai kritik terhadap pemerintah melalui tiga level analisis. Pada level tekstual, lagu ini secara linguistik mengandung ajakan kepada pendengar untuk menggulingkan pemerintah yang dianggap merugikan rakyat. Hal ini terlihat dari analisis tata kalimat, kohesi, koherensi, dan diksi yang mencerminkan ideologi kritis. Pada level diskursif, perilisan lagu terkait erat dengan aksi demonstrasi mahasiswa yang berlangsung dari 28 Maret hingga 11 April 2022. Analisis menunjukkan bahwa waktu perilisan lagu yang tepat, serta materi lagu yang relevan dengan tuntutan aksi, memperkuat hubungan antara kedua peristiwa tersebut. Selain itu, khalayak yang mengonsumsi lagu memiliki kesamaan referensi dengan isu-isu yang diperjuangkan dalam aksi tersebut. Frima. Mohammad Syafa. Mayasari. & Lubis. Fardiah Oktariani. Kritik Pemerintah Pada Lagu Pada level sosiokultural, penelitian menemukan bahwa perilisan lagu ini dipengaruhi oleh berbagai kondisi sosial-politik. Secara situasional, perilisan lagu bertepatan dengan aksi demonstrasi mahasiswa, di mana lagu ini didaur ulang dan dirilis pada momen yang strategis. Dari segi institusional, personel Feast yang berlatar belakang pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik serta dukungan dari label indie Sun Eater memungkinkan ekspresi kritik politik tanpa intervensi komersial. Secara sosial, beberapa isu nasional seperti pandemi, korupsi, pengangguran, dan wacana penundaan pemilu turut melatarbelakangi demonstrasi dan perilisan lagu ini. Kesimpulannya, lagu ini menjadi bagian dari dinamika sosial-politik yang kritis terhadap kebijakan pemerintah. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada para rekan yang tidak dapat disebutkan satu per satu, karena telah memberi dukungan serta bimbingan selama penelitian. Kemudian, para peneliti yang menjadi rujukan penulis, sehingga hasil penelitiannya mampu dimanfaatkan untuk kemajuan ilmu pengetahuan. DAFTAR PUSTAKA