ISSN 2777-0834 PERSEPSI KEMUDAHAN DAN PERSEPSI MANFAAT TEKNOLOGI INFORMASI MENJADIKAN GEN Z LEBIH BERANI BERPENDAPAT DALAM DUNIA MAYA Ibnu Harris1. Dewi Kumalasari2 Program Studi Manajemen. Fakultas Bisnis. Universitas Universal ibnu@uvers. ABSTRAK The background to this research is that generation Z is a generation that is familiar with the use of digital and communication technology, such as social media, so it does not rule out the tendency for generation Z to become brand evangelists. This research contributes to extracting information in creating effective communication with Generation Z who are often considered to stutter in public, thereby further empowering them with appropriate technological interactions. The method used in this research is a quantitative approach with a total of 107 respondents from generation Z in Batam City. Respondents in this study were selected using a non-probability sampling method with purposive sampling technique. The research data were analyzed using Structural Equation Modeling (SEM) assisted by the IBM Amos version 26 application. The results of this research reveal that perceived usefulness influences the tendency of Generation Z in Batam City to become brand evangelists, while perceived ease of use has no influence. Keywords: Perceived Usefulness. Perceived Ease of Use. Brand Evangelist. Generation Z. PENDAHULUAN Pada abad ke-21, era dimana digitalisasi berkembang pesat menjadikan teknologi tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kemajuan teknologi merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari, karena teknologi akan selalu mengalami kemajuan sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan demikian setiap individu juga sangat mudah memperoleh berbagai informasi dan fenomena yang terjadi di belahan dunia manapun (Hendro Setyo Wahyudi & Mita Puspita Sukmasari, 2. Kemajuan teknologi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat dan dampaknya berubah seiring dengan Kecanggihan internet kini memungkinkan seluruh informasi dan peristiwa dunia tersebar langsung melalui jaringan tanpa batas (Nurlaila Suci Rahayu Rais dkk. , 2. Di era globalisasi, teknologi telah mencapai tingkat kecanggihan yang mampu membuka mata setiap orang yang peka terhadap perkembangannya. Jika teknologi digunakan secara bijak dan tepat, maka teknologi dapat berperan penting dalam kemajuan negara (Suhadi et al. , 2. Perkembangan teknologi dalam kehidupan dimulai dari hal-hal sederhana dalam perilaku Vol. 4 No. November 2024 ISSN 2777-0834 sehari-hari hingga mencapai tingkat pemenuhan kebutuhan dan kepuasan baik sebagai individu maupun makhluk sosial. Tidak dapat dipungkiri bahwa penyebab awal era globalisasi yang begitu cepat menyebar dari perkiraan awal adalah karena pesatnya perkembangan teknologi, seperti penerapan internet, e-commerce, media sosial, intranet dan lain sebagainya. perlahan mulai mendobrak batas fisik antar negara. Generasi Z adalah mereka yang lahir setelah tahun 1995 dan cenderung merupakan individu yang terbiasa dengan teknologi karena sejak lahir mereka sudah terpapar dengan teknologi digital yang canggih (Robert Zorn, 2. Generasi Z memiliki beberapa perilaku atau karakter yang cukup khas yang terbentuk melalui faktor geografis dan sosial ekonomi. Salah satu ciri utama Generasi Z adalah penggunaan dan keakraban mereka dengan teknologi, komunikasi, dan media digital saat ini (Sirajul Fuad Zisa et al. , 2. Generasi Z tidak segansegan menunjukkan betapa kreatif dan inovatifnya mereka dengan perkembangan teknologi saat ini, yang diiringi dengan perasaan semangat dan produktivitas terhadap kemajuan teknologi saat ini. Perilaku Generasi Z dapat diidentifikasi dalam empat aspek utama yang didasari oleh keyakinan bahwa Generasi Z adalah generasi yang mencari kebenaran (McKansey, 2. McKansey menjelaskan pada poin pertama Generasi Z disebut dengan AuThe Undefinisi IDAy yang dimaksud Generasi Z adalah generasi yang menghargai setiap individu tanpa memberikan label tertentu. mereka mencari identitas diri yang membuat mereka sangat terbuka terhadap pemahaman bahwa setiap orang mempunyai keunikan yang berbeda-beda. Pada poin kedua. Generasi Z dikenal sebagai AuThe CommunaholicAy, yaitu generasi yang sangat inklusif dan tertarik untuk terlibat dalam berbagai komunitas dengan memanfaatkan teknologi untuk memperluas manfaat yang ingin diberikannya. Poin ketiga. Generasi Z dikenal dengan sebutan AuThe DialoguerAy yang meyakini pentingnya komunikasi dalam menyelesaikan konflik, dimana perubahan dapat terjadi melalui AukomunikasiAy yang baik. Gen Z disebut The Dialoguer, artinya mereka terbuka terhadap berbagai pemikiran individu dan senang berinteraksi dengan orang dan kelompok yang berbeda. Keempat. Generasi Z dijuluki AuThe RealisticAy yang artinya Generasi Z lebih praktis dan analitis dalam mengambil keputusan dibandingkan generasi sebelumnya. Dengan ini dapat dikatakan Generasi Z lebih cenderung idealis. menikmati kemandirian dalam belajar dan mencari informasi tentang sesuatu sehingga mereka tertarik untuk mengambil kendali lebih besar atas keputusan yang Gambar 1. Hasil Sensus Penduduk 2020. Sumber: Badan Pusat Statistik Vol. 4 No. November 2024 ISSN 2777-0834 Berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang merilis Sensus Penduduk Tahun 2020 (SP2. , laporan SP2020 menunjukkan mayoritas penduduk Indonesia terdiri dari Generasi Z dan Generasi Milenial. Generasi Z yang lahir dengan rentang tahun mulai dari 1995 menyumbang sekitar 27,94% dari keseluruhan populasi masyarakat di Indonesia. Generasi ini termasuk dalam usia produktif yang dapat menjadi peluang untuk mempercepat pertumbuhan baik ekonomi maupun telekomunikasi. Dengan berkembangnya teknologi saat ini berupa media sosial, generasi Z sangat mudah mengakses media sosial terkini, berbeda dengan dulu yang semuanya masih Generasi Z diyakini tidak pernah mengenal dunia tanpa internet dan teknologi dan dalam banyak hal, mereka berada di garis depan dalam membentuk masa depan internet dan teknologi itu sendiri. Misalnya dulu orang yang ingin berbelanja akan pergi ke toko konvensional yang ingin dikunjunginya, namun generasi Z tidak. Generasi Z yang mulai melek teknologi tidak akan ambil pusing dan memilih jalur yang ribet, mereka tinggal mendownload saja. aplikasi media sosial yang memiliki kegunaan untuk membeli barang atau jasa yang ada, maka mereka akan leluasa berbelanja dengan lebih praktis dan mudah. Dengan demikian, secara tidak langsung generasi Z hidup sebagai pengguna teknologi yang mahir dan juga waspada terhadap kemajuan teknologi. Dalam teori adopsi teknologi yaitu TAM atau Technology Acceptance Model yang dikemukakan oleh Davis pada tahun 1989, terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi seseorang dalam menggunakan teknologi berupa media sosial, salah satunya adalah persepsi kegunaannya. Kegunaan yang dirasakan merupakan tingkat keyakinan konsumen bahwa penggunaan suatu sistem dapat meningkatkan kinerja, selain itu pengguna mempunyai persepsi terhadap kegunaan teknologi berupa media sosial dalam meningkatkan kinerjanya (Fred D. Davis, 1. Selain manfaat yang dirasakan, ketika menggunakan teknologi berupa media sosial, pengguna juga akan lebih tertarik jika media sosial tersebut dapat dengan mudah dipahami dan digunakan. Sejauh mana suatu teknologi dapat dengan mudah dipahami dan digunakan merupakan faktor kedua dalam teori TAM, yaitu persepsi kemudahan penggunaan (Fred D. Davis, 1. Kedua faktor inilah yang menjadi faktor utama dalam teori penerimaan penggunaan teknologi atau Technology Acceptance Model (TAM) (Putu Ayu Mira Witriyanti Wida et al. , 2. Hubungan antara teknologi berupa media sosial dengan Generasi Z serta persepsi kemudahan dan persepsi manfaat menciptakan hubungan yang cukup erat. Hal ini menjadi alasan kuat mengapa seseorang dari Generasi Z sangat berpeluang menjadi brand evangelist. Brand evangelist diperkenalkan ke publik pada tahun 1991 oleh Kawasaki. Brand evangelist adalah perpanjangan dari komunikasi mulut ke mulut yang positif. Meskipun komunikasi dari mulut ke mulut tidak selalu didasarkan pada sudut pandang persuasif, brand evangelist adalah cara persuasi karena seorang evangelist bertindak sebagai juru bicara yang tidak dibayar atas nama merek apa pun (Samuel K. Doss, 2. Brand Evangelism adalah suatu konsep yang menggambarkan tingkat keterlibatan aktif konsumen dan dukungan terhadap suatu merek, termasuk aktivitas seperti membeli produk merek tersebut, menyebarkan pesan-pesan positif tentang merek tersebut, tidak merekomendasikan merek pesaing dan membujuk orang lain untuk memperhatikan merek tersebut (Becerra . EP, 2013 ). Brand Evangelism merupakan salah satu jenis komunikasi pemasaran yang melibatkan konsumen dalam suatu merek, dimana konsumen mengembangkan hubungan yang erat dan Vol. 4 No. November 2024 ISSN 2777-0834 relasional dengan merek tersebut. Jika seseorang ingin menjadi brand evangelist, maka ia perlu memahami secara mendalam tentang merek tersebut (Yan. , 2. Dapat dikatakan bahwa memiliki brand evangelist merupakan salah satu bentuk pemasaran yang efektif. Berdasarkan kajian materi yang dihimpun oleh Neil Patel (Neil Patel, 2. di situs majalah online Forbes, brand evangelist melakukan beberapa langkah agar karyanya berhasil, antara They start movements. Brand evangelist memulai pemasarannya dengan membiasakan diri dan merasa nyaman dengan perasaan tidak nyaman itu sendiri. Mereka akan terus menyuarakan 'merek' yang mereka sukai secara emosional dengan lantang dan jelas. Mereka membeli iklan seperti iklan Instagram atau iklan TikTok bukan atas dasar 'peraturan' atau 'kontrak' dengan suatu merek, malah sebaliknya mereka menggunakannya secara sukarela dan sebagai wadah bagi mereka untuk mengiklankan merek yang mereka Brand evangelist juga menggunakan personal branding sebagai wadahnya dalam menjalankan tugasnya sebagai brand evangelist. They explain. Brand evangelist menjelaskan merek yang mereka sukai dengan susah payah dan tepat. Faktanya, brand evangelist adalah salah satu bentuk pemasaran konten yang berjalan dan berbicara dalam kehidupan nyata. They inspire. Brand evangelist menanamkan pesan pemasaran dengan penuh semangat, mereka menarik perhatian lebih dari sekedar video atau cuplikan viral, konten panjang atau kampanye yang beredar di media sosial. Sebab, ketika mereka memasarkan suatu produk, semuanya sudah dicerna sebagai pengalaman pribadi mereka terhadap suatu merek, mereka tidak terjebak oleh pengaturan atau aturan pemasaran perusahaan yang kaku dan hanya menguntungkan satu pihak saja. Di sisi lain, cara kerja brand evangelist bisa sesederhana mereka mengakses media sosial seperti Facebook. Instagram atau Twitter dan menuliskan pengalaman positif mereka dalam menggunakan suatu brand yang nantinya akan dibaca oleh masyarakat. Jika melihat fenomena yang salah satu contohnya adalah generasi Z yang berkomentar pada suatu rubrik yang disediakan di media sosial seperti Tiktok. komentar-komentar positif mengenai suatu brand yang mereka sukai, membuat konten video yang berisi masukan dan komentar mereka terhadap produk yang mereka sukai, akan terlintas di benak mereka. AuApa yang membuat mereka begitu tertarik dengan brand tersebut hingga rela membuat video yang memujinya? produk, padahal produk tersebut bukan satu-satunya merek yang laku?Ay Fenomena ini bisa disebut dengan brand evangelism, dimana seorang brand evangelist mencintai suatu merek secara emosional bahkan sampai fanatik dan mempunyai perasaan khusus terhadap merek tersebut, baik kualitas produk yang ditawarkan, gayanya, pelayanan yang diberikan kepada pelanggan sehingga mereka akan dengan tulus dan sukarela membagikan pengalamannya di setiap kesempatan, baik melalui media sosial maupun tatap TINJAUAN PUSTAKA Technology Acceptance Model (TAM) Technology Acceptance Model merupakan teori yang pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan oleh Fred Davis pada tahun 1989 (Nerry Kristina & Ibnu Harris, 2. TAM merupakan teori yang digunakan untuk menjelaskan mengapa dan bagaimana seseorang menggunakan teknologi. TAM memiliki 5 . variabel utama yang digunakan untuk Vol. 4 No. November 2024 ISSN 2777-0834 memprediksi penerimaan pengguna, antara lain persepsi kegunaan, persepsi kemudahan penggunaan yang akan mempengaruhi sikap terhadap pengguna, niat perilaku untuk menggunaka. , dan penggunaan aktual yang dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 2. Technology Acceptance Model (TAM). Sumber: Davis, 1989 Pada tahun 1996. Vekantesh dan Davis memodifikasi model penerimaan teknologi ini untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Modifikasi yang dilakukan oleh Vekantesh dan Davis adalah dengan menghilangkan satu variabel dari enam variabel yaitu sikap terhadap penggunaan. Gambar 3. Technology Acceptance Model (TAM). Sumber: Venkatesh & Davis, 1996. Persepsi Kegunaan (Perceived Usefulnes. Davis . mendefinisikan persepsi kegunaan sebagai tingkat keyakinan pengguna bahwa sistem akan memberikan manfaat untuk meningkatkan kinerjanya. Kegunaan yang dirasakan adalah ukuran bagaimana pengguna suatu teknologi yakin bahwa teknologi tersebut akan membawa manfaat bagi orang-orang yang menggunakan teknologi tersebut. Variabel kegunaan yang dirasakan mempengaruhi kegunaan sebenarnya, sikap, niat dan struktur pengguna teknis. Kegunaan yang dirasakan dapat dibagi menjadi dua kategori (W. Chin & Todd, 1. , yaitu: Usefulness dengan estimasi satu faktor, yang meliputi beberapa dimensi, di antaranya: Menjadikan pekerjaan lebih mudah . akes job easie. Bermanfaat . Menambahkan produktivitas . ncrease productivit. Mempertinggi efektivitas . nhance effectivenes. Mengembangkan kinerja pekerjaan . mprove job performanc. Usefulness dengan estimasi dua faktor, yang meliputi beberapa dimensi, di antaranya: Vol. 4 No. November 2024 ISSN 2777-0834 Kemanfaatan Menjadikan pekerjaan lebih mudah . akes job easie. Bermanfaat . Menambahkan produktivitas . ncrease productivit. Efektivitas Mempertinggi efektivitas . nhance effectivenes. Mengembangkan kinerja pekerjaan . mprove job performanc. Media Sosial Media sosial merupakan media online dimana penggunanya dapat dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan membuat konten yang mencakup blog, jejaring sosial, wiki, forum, dan dunia virtual (Cahyono, 2. Blog, jejaring sosial, dan wiki adalah bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh orang-orang di dunia. Media sosial juga dapat didefinisikan sebagai sekelompok aplikasi berbasis internet yang dibangun berdasarkan ideologi dan teknologi serta memungkinkan terciptanya pertukaran konten buatan pengguna (Carr & Hayes, 2. Sejarah media sosial dimulai pada tahun 70an, ketika ditemukan sistem papan buletin dengan saluran telepon yang terhubung ke modem yang memungkinkan manusia berkomunikasi dengan manusia lain melalui surat elektronik atau mengunggah dan mengunduh perangkat lunak. Pada tahun 1995 lahirlah situs GeoCities yang memiliki layanan penyewaan penyimpanan data website sehingga website dapat diakses dimana saja. Pada tahun 1997 hingga 1999 muncul media sosial pertama yaitu Sixdegree. Classmates. serta situs untuk membuat blog pribadi yaitu Blogger. Hingga tahun 2002, 2003 hingga saat ini bermunculan berbagai media sosial yang masing-masing memiliki kelebihan dan kegunaan yang berbeda-beda. Kini, media sosial juga telah menjadi alat atau aktivitas pemasaran digital bagi perusahaan-perusahaan yang ingin memasarkan atau menjual produk perusahaannya. Menurut Andreas dan Michael . , media sosial terbagi menjadi enam jenis, yaitu proyek kolaboratif, blog dan mikroblog, konten, situs jejaring sosial, dunia permainan virtual, dan dunia sosial virtual. Generasi Z Generasi Z adalah mereka yang lahir pada tahun 1995-2010 (Priporas et al. , 2. Perubahan dinamis merupakan salah satu ciri generasi Z. Setiap generasi memiliki cara pandang, pengalaman, dan cara masing-masing dalam menghadapi perubahan dunia, khususnya permasalahan perekonomian saat ini (Stack, 2. Generasi muda ini paling peka terhadap kemajuan teknologi dalam kehidupannya, termasuk dalam pembelian barang dan jasa (Ibnu Harris, 2. Generasi milenial memiliki pendidikan, pengetahuan, keterampilan dan pengalaman yang cukup luas, namun generasi Z memiliki wawasan yang lebih luas dibandingkan generasi milenial (Kristina et al. , 2. Generasi Z merupakan generasi yang paling unik dan merupakan generasi yang beragam dan canggih secara teknologi (Amarendra Pratap Singh & Jianguanglung Dangmei. Generasi ini memiliki cara berkomunikasi dan media sosial yang informal, individual dan sangat konsisten dalam kehidupannya. Generasi Z disebut generasi Do-It-Yourself. Dalam penelitian yang dilakukan Dan Schawbel . , generasi Z lebih memilih menciptakan lapangan kerja untuk dirinya sendiri, dapat dipercaya dan toleran. Generasi Z cenderung tidak Vol. 4 No. November 2024 ISSN 2777-0834 sabaran, berpikir instan, kurang ambisius dibandingkan generasi sebelumnya, memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap teknologi, bersifat individualistis, mandiri, suka menuntut dan merasa menjadi generasi paling maju (Generational White Paper, 2. Ciri-ciri generasi Z seperti yang dijelaskan oleh Max Mihelich . adalah mempunyai rasa kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan sekitar, mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap sumber daya alam. Amanda Slavin . juga menjelaskan bahwa generasi Z senang didengarkan oleh orang-orang disekitarnya, berapapun usianya yang masih muda. Teknologi telah masuk sebagai bagian dari jati diri mereka, mereka dikenal cerdas dalam bidang teknologi namun belum memiliki keterampilan dalam memecahkan suatu masalah dan melihat situasi dan kondisi, menaruhnya dalam konteks, menganalisa dan mengambil keputusan (Joseph Coombs, 2. Brand Evangelist Brand evangelist adalah individu yang secara sukarela menyebarkan informasi, ide, dan perasaan positif terhadap suatu merek (Doss, 2. Evangelist sendiri berasal dari kata Yunani yang berarti pembawa kabar baik (Meiners et al. , 2. Seorang penginjil merek sering kali menunjukkan keinginan yang kuat untuk mempengaruhi perilaku konsumsi. Istilah brand evangelist mencerminkan komitmen seseorang dalam mendukung suatu merek dan meyakinkan orang lain untuk membeli merek tersebut juga. Brand evangelist adalah kecintaan konsumen terhadap merek yang sangat dikagumi dan keinginan aktif atau kuat untuk membeli merek tersebut. Menurut Scarpi . , brand evangelism berasal dari bahasa psikologi yang berarti konsumen dan hubungan antara daya tarik emosional mereka. Brand evangelist adalah istilah yang mengacu pada upaya bisnis untuk membuat pelanggan mereka percaya bahwa mereka adalah perusahaan yang lebih baik dan lebih dapat dipercaya (Hogan et al. , 2. Brand evangelist cenderung menunjukkan ketidaksukaan terhadap merek lain, meskipun mereka memiliki produk yang sama atau referensi merek yang bertentangan (Park et al. , 2. Dalam konsep pemasaran brand evangelism, brand evangelist merupakan bagian pemasaran yang mempunyai potensi besar untuk menarik Pemasaran dengan menggunakan brand evangelist adalah jenis pemasaran dari mulut ke mulut yang lebih tradisional, yang dapat menghasilkan konsumen yang sangat percaya pada barang, jasa, atau merek tertentu sehingga mereka dapat dengan bebas meyakinkan orang lain untuk membeli dan menggunakannya. Brand evangelist bekerja sebagai sukarelawan yang mendukung perusahaan dan secara aktif menyebarkan hal-hal positif tentang merek tersebut. Dapat disimpulkan, brand evangelism merupakan sebuah konsep pemasaran dimana terjadi komunikasi antar individu yang mempercayai suatu produk atau jasa tertentu agar orang lain menggunakannya. Menurut Becerra . , indikator-indikator dalam brand evangelism, diantaranya: Adanya keinginan untuk membeli suatu merek . rand purchase intention. Ada kecenderungan untuk memuji merek . ositive brand referral. Ada kecenderungan untuk memberikan pernyataan yang kurang baik kepada merek pesaing . ppositional brand referral. Vol. 4 No. November 2024 ISSN 2777-0834 Kerangka Konseptual Penelitian Gambar 4. Kerangka Konseptual Penelitian. Sumber: Data diolah, 2024 Hasil Penelitian Terdahulu Penelitian yang dilakukan oleh Sri Vandayuli Riorini dan Christine Catur Widayati . dalam penelitiannya yang berjudul AuBrand Relationship and Its Effect Towards Brand Evangelism to Banking ServiceAy menggunakan teknik purposive sampling dengan sampel terpilih sebanyak 200 orang yang merupakan nasabah suatu bank. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh hubungan merek, kepercayaan merek, identifikasi merek, keterlibatan merek, komitmen merek terhadap brand evangelist pada sektor perbankan. Hasil dari penelitian ini adalah seluruh variabel yaitu kepercayaan merek, identifikasi merek, keterlibatan merek, komitmen merek dan hubungan merek berpengaruh positif atau signifikan terhadap penginjilan merek. Dari penelitian tersebut, peneliti juga menemukan bahwa komitmen merek merupakan variabel yang paling dominan dalam mempengaruhi penginjilan Hasil penelitian yang dilakukan oleh Samuel K. Doss dan Deborah S. Carstens . dalam penelitiannya yang berjudul AuBig Five Personality Traits and Brand EvangelismAy, telah menjelaskan Model Lima Besar Teori Kepribadian (The Big Five Personality Trait. mengenai brand of evangelism. Dalam penelitiannya, teknik pengumpulan data diolah dengan menyebarkan kuesioner. Selanjutnya. Samuel dan Deborah menganalisis bagaimana masingmasing dari Lima Besar Sifat Kepribadian, termasuk ekstraversi, keterbukaan, kesadaran, neurotisme, dan keramahan, berhubungan dengan jenis evangelism itu sendiri. Kanyawee Pornsrimate dan Anon Khamwon . dalam penelitiannya yang berjudul AuHow to Convert Millennial Consumer to Brand Evangelists Through Social Media Micro-InfluencersAy, telah membantu membangun pola pemasaran baru yang mempertimbangkan keberadaan generasi milenial. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menyebarkan 300 kuesioner. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengonsep proses membangun hubungan antara konsumen khususnya generasi Vol. 4 No. November 2024 ISSN 2777-0834 milenial dengan merek melalui media sosial atau influencer. Penelitian yang dilakukan oleh Ibnu Harris . yang berjudul AuAnalisis Technology Acceptance Model (TAM) Terhadap Tingkat Penerimaan E-Learning di Kalangan Mahasiswa (Studi Empiris di Universitas Internasional Batam dan UPBJJ-UT Bata. , menganalisis Model Penerimaan Teknologi pada Mahasiswa lingkup akademik (Perguruan Tingg. dengan metode pengumpulan data berupa purposive sampling dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini dapat dikatakan menguji faktor-faktor yang mempengaruhi nyaman dan mudahnya mahasiswa terhadap teknologi e-learning dengan Technology Acceptance Model (TAM). Dengan hasil akhir menunjukkan bahwa tidak semua faktor eksternal dari model TAM mempunyai hubungan yang signifikan atau positif dengan salah satu variabelnya yaitu niat menggunakan . ntention to us. Penelitian yang dilakukan oleh Sahil Koul dan Ali Eydgahi . dalam penelitiannya yang berjudul AuUtilizing Technology Acceptance Model (TAM) for Driverless Car Technology AdoptionAy, mengkaji persepsi kegunaan teknologi pada mobil driveless, persepsi kemudahan penggunaan teknologi pada mobil driveless, pengalaman mengemudi, usia dan niat menggunakan mobil tanpa supir. Metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan menyebarkan survei online . Hasil dari penelitian ini adalah terdapat hubungan positif antara persepsi kegunaan teknologi pada penggunaan mobil tanpa supir, persepsi kemudahan penggunaan teknologi pada mobil tanpa supir dan niat menggunakan mobil tanpa supir. Terdapat juga hubungan negatif antara pengalaman berkendara dan usia saat menggunakan mobil tanpa supir. Hipotesis Penelitian H1 : Kegunaan yang dirasakan pada teknologi berpengaruh terhadap kecenderungan generasi Z untuk menjadi seorang brand evangelist. H2 : Kemudahan Penggunaan yang Dirasakan pada teknologi berpengaruh terhadap kecenderungan generasi Z untuk menjadi seorang brand evangelist. Gambar 5. Model Penelitian. Sumber: data diolah, 2024 METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Indonesia, tepatnya di Kota Batam secara online dengan menyebarkan kuesioner online dengan Google Form. Penelitian ini dilakukan dengan periode Vol. 4 No. November 2024 ISSN 2777-0834 mulai dari bulan Februari 2024 hingga Juni 2024. Gambar 6. Hasil Sensus Penduduk Kota Batam Tahun 2020 Sumber: BPS Populasi dan Sampel Penelitian Populasi penelitian ini adalah kelompok generasi Z yang berdomisili di Kota Batam Indonesia yang berjumlah 324. 462 jiwa yang diperoleh dari hasil sensus BPS mengenai jumlah penduduk Kota Batam tahun 2020 secara keseluruhan yaitu 1. 396 jiwa . apat dilihat pada Gambar . dikalikan dengan persentase pembangkitan. Z pada tahun 2020 sebesar 27,12%. apat dilihat pada Gambar . Gambar 7. Hasil Presentase Sensus Penduduk Kota Batam Menurut Generasi Tahun Sumber: BPS Kriteria responden dalam penelitian ini antara lain berjenis kelamin laki-laki atau perempuan dengan rentang tahun lahir 1995-2010, memiliki aplikasi media sosial, pernah memberikan review terhadap produk yang dibeli dari media sosial, dan merupakan penggemar suatu brand. Vol. 4 No. November 2024 ISSN 2777-0834 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan data primer yang diperoleh dari jawaban kuesioner yang disebarkan kepada minimal 100 responden melalui Google Form. Skala pengukuran dalam metode ini adalah skala Likert dengan 4 poin untuk menangkap data penelitian lebih akurat karena kategori pada poin ketiga atau ragu-ragu . etral atau undecide. mempunyai arti ganda sehingga beresiko menimbulkan akibat yang dapat menghilangkan banyak hal terkait data penelitian dan mereduksi informasi (Jogiyanto Hartono, 2. Teknik Analisis Data Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan alat pengolahan data berupa Structural Equation Modelling (SEM) dibantu dengan aplikasi IBM AMOS versi 26 dalam melakukan analisis data serta pengujian atas HASIL DAN PEMBAHASAN Convergent Validity Hasil pengukuran validitas konvergen dapat diobservasi dalam tabel di bawah ini. Tabel 1. Convergent Validity Variabel Perceived Usefuln (PU) Indikator Loadings PU_1 PU_2 PU_3 PU_4 PU_5 Perceived Ease PEOU_1 of Use PEOU_2 (PEOU Brand BE_1 Evange BE_2 BE_4 (BE) Sumber: data diolah, 2024 AVE Terlihat pada tabel bahwa sebagian besar indikator mempunyai nilai outer loading lebih dari 0,7 yang berarti mempunyai validitas konvergen yang baik. Namun indikator persepsi kegunaan dengan indikator PU_3 dan PU_5 mempunyai nilai outer loading dibawah 0,7 atau lebih dari 0,5 sehingga mempunyai validitas konvergen yang cukup baik (W. Chin, 1. Jika nilai AVE setiap variabel lebih dari 0,5 berarti syarat validitas konvergen yang baik telah terpenuhi dan konstruk telah menjelaskan 50% atau lebih variasi pada setiap Vol. 4 No. November 2024 ISSN 2777-0834 instrumen penelitian. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pernyataan-pernyataan dalam kuesioner yang mewakili setiap variabel memenuhi kriteria dan syarat, yaitu setiap konstruk mempunyai nilai korelasi antar indikator yang valid untuk digunakan dalam proses pengolahan data selanjutnya. Discriminant Validity Tabel 2. Discriminant Validity PEOU Sumber: Data diolah, 2024 PU_1 PU_2 PU_3 PU_4 PU_5 PEOU_1 PEOU_2 BE_1 BE_2 BE_4 Dapat dilihat pada Tabel 2, melalui uji cross-loading yaitu dengan membandingkan korelasi antara indikator dengan konstruknya dan konstruk indikator lainnya, bahwa korelasi masing-masing indikator dari variabel yang diteliti yaitu persepsi kegunaan, persepsi kemudahan, brand evangelist dengan konstruknya lebih tinggi dibandingkan korelasi dengan konstruk indikator lainnya, hal ini dapat membuktikan bahwa konstruk indikator lainnya Hal ini juga dapat membuktikan bahwa konstruk tersebut dapat memprediksi ukuran bloknya lebih baik dibandingkan blok lainnya, sehingga syarat validitas diskriminan Uji Reliabilitas Tabel 3. Uji Reliabilitas Variabel Perceived Usefulness Perceived Ease of Use (PEOU) Brand Evangelist Cronbach Alpha Composite Reliability Sumber: Data diolah, 2024 Vol. 4 No. November 2024 ISSN 2777-0834 Dari hasil observasi pada tabel di atas, seluruh variabel mempunyai nilai Cronbach alpha lebih dari 0,7 sehingga masing-masing variabel mempunyai nilai reliabel untuk Diikuti dengan nilai reliabilitas komposit lebih dari 0,7 yang membuktikan bahwa seluruh variabel mempunyai nilai reliabilitas yang tinggi. Dapat disimpulkan bahwa pernyataan-pernyataan dalam kuesioner yang mewakili masing-masing variabel telah memenuhi syarat dan dapat diandalkan untuk digunakan dalam proses pengolahan data selanjutnya. Uji Koefisien Determinasi (R. Tabel 4. Koefisien Determinasi (R. Variabel R-Squared Brand Evangelist Sumber: Data diolah, 2024 Dapat dilihat pada tabel 4 bahwa besarnya pengaruh variabel persepsi kegunaan dan persepsi kemudahan penggunaan terhadap brand evangelist adalah sebesar 0,237638 atau sebesar 23,7%. Artinya 76,3% merupakan variabel eksternal selain yang diteliti yang mempengaruhi brand evangelist. Pengujian Hipotesis Pengujian hipotesis penelitian merupakan langkah prosedur statistik yang bertujuan agar membantu peneliti dalam membuktikan hasil pengolahan data yang telah diteliti mengetahui apakah hipotesis diterima ataupun ditolak. Hasil pengujian hipotesis penelitian dengan uji boostrapping dapat diobservasi pada tabel berikut. Tabel 5. Pengujian Hipotesis PercieveEaseOfUse E BrandEvangelist PercieveUsefulness E BrandEvangelist PercieveEaseOfUse E PercieveEaseOfUse1 PercieveEaseOfUse E PercieveEaseOfUse2 PercieveUsefulness E PercieveUsefulness1 PercieveUsefulness E PercieveUsefulness2 BrandEvangelist E BrandEvangelist1 BrandEvangelist E BrandEvangelist2 BrandEvangelist E BrandEvangelist4 PercieveUsefulness E PercieveUsefulness3 PercieveUsefulness E PercieveUsefulness4 PercieveUsefulness E PercieveUsefulness5 Sumber: Data diolah, 2024 P value ,033 ,003 *** *** *** *** ,027 *** *** Dari tabel 5, dapat dijelaskan bahwa hubungan varibel Percieve Usefulness memiliki Vol. 4 No. November 2024 ISSN 2777-0834 signifikasi di bawah 0,005 terhadap variabel Brand Evangelist. Sedangkan varibel Percieve Ease of Use tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap terbentuknya variabel Brand Evangelist. Hal ini dapat disimpulkan bahwa menurut responden dalam penelitian ini yang menjadikan faktor utama seseorang dapat memiliki kemauan melakukan komentar ataupun menilai sesuatu produk atau jasa di dunia maya adalah sebuah persepsi mengenai kegunaan dari teknologi yang digunakan, bukan persepsi kemudahan penggunaan teknologi tersebut. Ini juga bisa diasumsikan bahwa generasi z tidak mengalami kesulitan dalam menggunakan teknologi, khususnya media sosial. Mereka akan berusaha menguasainya sebuah teknologi jika mereka dirasakan ada memberikan keuntungan bagi mereka. Gambar 8. Model Penelitian sesudah modifikasi dalam AMOS Graphic Kegunaan yang dirasakan pada teknologi berpengaruh terhadap kecenderungan generasi Z untuk menjadi seorang brand evangelist Perceived usefulness memiliki pengaruh terhadap kecenderungan generasi Z di Kota Batam untuk menjadi brand evangelist (H. Berdasarkan pernyataan ini, maka H1 diterima. Hasil ini didukung dengan penelitian Cherly Ramadany dan Sherly Artadita . dan Arfi Agustian Wardana. Edy Purwo Saputro. Muhammad Wahyuddin dan Novel Idris Abas . Dalam uji hipotesis penelitian (H. ini, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden yang terlibat telah merasakan manfaat dari media sosial yang menyebabkan mereka cenderung menjadi seorang brand evangelist, di mana seorang brand evangelist akan menyebarkan merek yang mereka gemari kepada orang lain. Kemudahan Penggunaan yang Dirasakan pada teknologi berpengaruh terhadap kecenderungan generasi Z untuk menjadi seorang brand evangelist Perceived ease of use memiliki pengaruh terhadap kecenderungan generasi Z di Kota Batam untuk menjadi brand evangelist (H. Berdasarkan pernyataan ini, maka H2 diterima. Hasil ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Indri Adhani. Yuli Susilawati dan Ruswianti . yang mengungkapkan terdapatnya pengaruh tentang bagaimana persepsi kemudahan dalam menggunakan teknologi yang dirasakan generasi Z sehingga mereka akan mengkomunikasikan merek tersebut kepada orang di sekitarnya. Dalam uji hipotesis penelitian (H. ini, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden yang terlibat telah merasakan kemudahan dari media sosial yang menyebabkan Vol. 4 No. November 2024 ISSN 2777-0834 mereka cenderung dapat menjadi seorang brand evangelist, di mana seorang brand evangelist akan menyebarkan merek yang mereka gemari kepada orang lain. Keterbatasan Penelitian Berdasarkan uji koefisien determinasi yang telah dilakukan dalam penelitian ini, kedua variabel independen, yaitu perceived usefulness dan perceived ease of use hanya mempengaruhi variabel dependen, brand evangelist sebesar 23. 7%, hal ini menjadikan bahwa masih ada 76. 3% variabel lain selain perceived usefulness dan perceived ease of use yang memiliki probabilitas dalam mempengaruhi variabel brand evangelist. Implikasi Penelitian Implikasi Teoritis Implikasi teoritis dari penelitian ini ialah diketahui bahwasannya variabel perceived usefulness dan variablel perceived ease of use berpengaruh terhadap kecenderungan generasi Z di Kota Batam untuk menjadi seorang brand evangelist. Peneliti berharap bahwa penemuan hasil penelitian ini mampu memberikan kontribusi, sumbangsih dan dampak positif bagi peneliti selanjutnya, serta peneliti berharap penelitian ini mampu memperluas kajian literatur yang dibutuhkan terkait faktor-faktor yang mampu mempengaruhi seorang generasi Z di Kota Batam untuk menjadi seorang brand evangelist. Implikasi Praktis/ Kebijakan Manajerial Penelitian ini menunjukkan jika perceived usefulness . ersepsi manfaa. dan perceived ease of use . ersepsi kemudaha. mempengaruhi kecenderungan generasi Z di Kota Batam dalam menjadi seorang brand evangelist. Penelitian ini diharapkan mampu menjadi referensi kepada perusahaan-perusahaan ataupun pemasar yang memasarkan sebuah merek atau produk yang target pemasarannya adalah seorang generasi z di Batam untuk menargetkan media sosial yang mereka gunakan dalam memasarkan atau menjualkan produk perusahaan tersebut. Kegunaan dari seorang pemasar atau perusahaan yang memiliki seorang brand evangelist adalah pemasar atau perusahaan akan mendapatkan pelanggan loyal dengan cara yang lebih efisien, salah satunya adalah si pemasar atau perusahaan tidak akan terlalu banyak menghamburkan biaya untuk pemasaran dalam menarik pelanggan, karena seorang brand evangelist akan dengan antusias dan semangat menyebarkan produk atau merek yang mereka gemari sesuai dengan pengalaman mereka menggunakan produk dari merek perusahaan atau pemasar tersebut. Dengan kemudahan dan manfaat yang mereka terima, maka ini akan menjadi potensi untuk seorang generasi Z menjadi seorang brand evangelist. KESIMPULAN Hipotesis pertama yaitu Perceived Usefulness terbukti berpengaruh terhadap kecenderungan generasi Z di Kota Batam untuk menjadi Brand Evangelist sehingga rumusan masalah pertama dalam penelitian ini telah terjawab yang kemudian sejalur dengan tujuan pertama penelitian ini yakni mengetahui bahwasannya perceived usefulness berpengaruh terhadap kecenderungan generasi Z di Kota Batam untuk menjadi seorang brand evangelist. Hipotesis kedua yaitu Perceived Ease of Use terbukti berpengaruh terhadap Vol. 4 No. November 2024 ISSN 2777-0834 kecenderungan generasi Z di Kota Batam untuk menjadi Brand Evangelist sehingga rumusan masalah kedua dalam penelitian ini telah terjawab yang kemudian sejalur dengan tujuan kedua penelitian ini yakni mengetahui bahwasannya perceived ease of use berpengaruh terhadap kecenderungan generasi Z di Kota Batam untuk menjadi seorang brand evangelist. Saran Berdasarkan hasil penelitian, peneliti mengemukakan beberapa keterbatasan peneliti dalam melakukan penelitian, sehingga keterbatasan ini dapat dijadikan saran yang diharapkan kedepannya dapat menjadi sumbangsih untuk peneliti lain maupun penelitian selanjutnya. Berikut saran dari penelitian ini: Peneliti selanjutnya diharapkan dapat meneliti beberapa variabel independen selain perceived usefulness dan perceived ease of use, sehingga dapat menghasilkan koefisien determinasi yang lebih baik. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat meneliti populasi selain generasi Z, misalnya generasi milenial dikarenakan berdasarkan Hasil Presentase Sensus Penduduk Kota Batam Menurut Generasi Tahun 2020, generasi milenial menduduki tingkat terbanyak disusul oleh generasi Z, dan berdasarkan penelitian Kanyawee Pornsrimate dan Anon Khamwon pada tahun 2021, selain generasi Z, generasi milenial juga cukup berpotensi menjadi seorang brand evangelist. DAFTAR PUSTAKA